Sampul Novel The Irresistable Hostage

The Irresistable Hostage

8.8 / 10.0
Liburan Ariana di Thailand berakhir kacau saat ia terjerat utang besar yang mustahil dilunasi. Di tengah keputusasaan, ia memohon pertolongan Alejandro, pria asing berkuasa yang bersedia membayar denda tersebut. Namun, kebebasan itu ada harganya. Ariana diculik ke sebuah kapal pesiar mewah untuk dijadikan tawanan. Alejandro menuntut tubuh Ariana sebagai ganti rugi. Kini, ia sepenuhnya terperangkap dalam cengkeraman pria yang mengklaim hak milik atas dirinya.

The Irresistable Hostage Bab 1

Ariana menatap seisi bandara Suvarnabumhi, Bangkok, di sekelilingnya dengan menghirup dalam-dalam udara untuk mengisi rongga paru-parunya. Dia sangat penuh semangat.

Rasanya sungguh tak percaya jika hari ini dia bisa menginjakkan kaki di bandar udara internasional negeri gajah putih itu.

Meskipun tidak memiliki waktu untuk menjelajah negeri itu lebih jauh lagi, tapi Ariana cukup puas dan senang.

Tujuannya adalah berlibur ke Jepang dan bertemu dengan Kyoko. Singgah di Bandara Suvarnabumhi hanyalah transit.

Dengan senyum yang tak mampu ditahannya untuk terkembang di wajah, Ariana melirik tiket pesawatnya yang berikutnya.

Masih ada waktu sekitar 50 menit sebelum pesawat berikutnya akan mengantarkannya ke Fukuoka Airport.

Untuk itu, Ariana memutuskan berjalan-jalan keluar masuk toko demi toko di bandara Suvarnabumhi.

"Halo, S̄wạs̄dī txn b̀āy," sapa SPG yang tiba-tiba menghampiri Ariana ketika dia selesai membeli novel sebagai souvenir untuk Kyoko nantinya.

Bahasa yang digunakan SPG lokal itu yang adalah bahasa Thai, yang berarti 'selamat siang'. Wanita itu juga sembari menghormati Ariana dengan kedua telapak tangan disatukannya di depan dada.

Ariana yang tidak mengerti hanya mengikuti gerak tubuh SPG itu.

Setelahnya, sang SPG mengeluarkan sebuah kotak kecil mungil seukuran kotak pena, yang telah dibungkus rapi dan diberi pita pink di sudutnya. Cantik dan manis sekali.

"A gift for you," katanya lagi, kali ini dalam bahasa Inggris yang beraksen Thailand.

Ariana terheran-heran, "For me? Really?"

SPG itu mengangguk. "Free," katany lagi meyakinkan.

Arianapun menerimanya dengan senang hati. Setelah itu, dia membungkuk dengan telapak tangan disatukan di depannya, seperti gaya SPG tadi memberinya salam. "Thank you," ucapnya.

SPG tadi pun membalasnya dengan cara salamnya yang sama.

Ariana berlalu dari toko itu. Hadiah kecil yang imut tadi disimpannya di handbag yang didapatnya dari pembelian novel tadi.

Gadis itu kemudian duduk di ruang tunggu dengan santai sambil memainkan ponselnya. Beberapa menit kemudian, terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan ditumpanginya baru saja mendarat.

Ariana senang dan sudah tak sabar rasanya ingin segera menaiki pesawat menuju Fukuoka Airport. Dan dalam beberapa jam ke depan dia sudah akan bisa bertemu dengan Kyoko.

Mengeksplor Jepang sudah menjadi impiannya selama bertahun-tahun ini.

NAMUN tiba-tiba saja, terdengar suara gaduh di pintu masuk ruang tunggunya.

Beberapa petugas berseragam polisi dan petugas bandara menyisiri tempat duduk di sana. SPG yang tadi memberinya souvenir juga terlihat di antara petugas-petugas itu.

'Ada apa gerangan?' tanya Ariana dalam hatinya. Entah kenapa perasaannya menjadi tak enak.

Dan benar sja, detik berikutnya, telunjuk gadis SPG itu menunjuk ke arahnya. Serta merta empat petugas bandara dan polisi mengepungnya di tempat.

"Phlād pord mā kạb reā!" seru salah satu polisi di depannya. Wajahnya merengut tidak suka menatap Ariana.

Ariana bingung. Apa yang dikatakan polisi itu?

"Sorry, Sir. I don't understand. Do you speak Eng-"

(Maaf, Tuan, saya tidak mengerti perkataan Anda. Apakah Anda bisa berbahasa Ing-)

Tanpa menunggu kata-kata Arina, polisi itu berseru dalam bahasa Thai. "Cạb k̄heā!"

Detik itu juga dua polisi yang lain segera memegangi tangan Ariana dengan kencang.

"What the hell?" seru Ariana marah, tapi tenaganya kalah kuat.

Dan dilihatnya, Gadis SPG tadi dipanggil si polisi untuk mendekat. Setelah gadis itu mendekat, sang polisi menanyainya dalam bahasa Thailand yang tidak dimengerti Ariana.

Gadis itu mengangguk-angguk, sembari bicara dan menunjuk-nunjuk paper bag di samping Ariana duduk.

Polisi itu membukanya dengan kasar, dan mengeluarkan kotak gift dari SPG tadi. Polisi itu kemudian membentak-bentak Ariana sembari menunjuk-nunjukkan souvenir dari SPG tadi. Karena Ariana tidak mengerti dan tidak bisa menjawab, akhirnya gadis itu diseret untuk mengikuti mereka.

"What are you doing? I didn't do anything wrong!" seru Ariana marah kepada mereka. Dia juga menatap gadis SPG tadi dengan tatapan minta penjelasan. Tapi gadis SPG tadi malah mengacuhkannya seakan tidak ada kejadian apa-apa.

"Hei, you! Tell me what's going on?" seru Ariana lagi sebelum dia benar-benar keluar dari ruang tunggu.

"HELP ME! HELP ME!" kali ini Ariana berteriak. Dia sudah menjadi pusat perhatian dari tadi, tetapi tidak satupun yang berusaha menolongnya.

Akhirnya, polisi itu berhasil menyeretnya sampai di luar bandara, masuk ke dalam mobil polisi, dan mobil itu membawanya pergi dari sana.

Ariana berontak keras dan kencang, tetapi semuanya sia-sia. Dia dibawa semakin jauh dari bandara.

'Kyoko? Fukuoka? Ya Tuhan, apa yang akan terjadi denganku? Pesawatku 50 menit lagi? Tuhan, tolong akuuuu!'

Hanya itu yang pada akhirnya bisa diserukan Ariana dari dalam hatinya.

***

Mereka memandanginya dengan tatapan tajam. Kotak souvenir yang diambil dari paper bagnya ditunjuk-tunjukkan di depan wajahnya. Namun, tetap saja, tak satupun yang dimengerti Ariana.

Saat itu, Ariana telah dibawa ke kantor polisi yang tidak terbilang dekat dari bandara. Sudah dipastikan dia takkan mampu mengejar pesawatnya lagi. Dia terjebak di Bangkok, tanpa siapapun yang dikenalnya untuk dimintai tolong.

Sialnya, dia tidak bisa berbahasa Thai, dan mereka tidak bisa berbahasa Inggris!

What the hell?

Ariana ingin menangis, tetapi dia tahu itu akan percuma saja. Bagaimana caranya agar dia bisa terbebas dari kesalahpahaman ini?

Seorang polisi kembali mendatanginya dan berkata-kata dengan nada marah padanya. Lagi-lagi, kotak souvenir itu diacung-acungkan di depan wajahnya.

"Aku dapatin ini dari SPG tadi!" seru Ariana dalam bahasa Inggris, dengan nada penuh penekanan di setiap katanya. "She gives it to me! FOR FREE!"

(Dia yang memberikannya padaku! Gratis!)

Ariana perkirakan, mereka menganggapnya mencuri souvenir itu. Atau ada kesalahpahaman lain. Entahlah.

Sekuat apapun dia berkata, sesederhana apapun kalimat bahasa Inggrisnya, mereka tetap tidak mengerti.

Beberapa saat berlalu dengan Ariana semakin frustrasi, seorang laki-laki Thailand memasuki ruangan. Polisi itu menyuruh laki-laki itu duduk di hadapan Ariana.

"Good afternoon!" sapa laki-laki itu.

Ariana mendengus kasar tapi lega. Sepertinya dia diberi penerjemah. Akhirnya...

"Good afternoon! Please, tell them that there must be missunderstanding about me! I didn't steal that souvenir!" Ariana berseru menggebu-gebu.

(Selamat siang! Tolong, beritahu mereka pasti ada kesalahpahaman tentangku! Aku tidak mencuri suvenir itu!)

Dia ingin cepat kembali ke bandara dan melanjutkan perjalanannya, atau pulang ke Indonesia. Yang mana sajalah, asal dia keluar dari tempat terkutuk ini!

Namun ternyata, kesialan belum berakhir bagi Ariana. Laki-laki di hadapannya, yang menyapanya dengan bahasa Inggris, yang dianggapnya sebagai penerjemahnya malah berkata, "What? I ... sorry ... I not understand."

(Apa? Aku, maaf, aku tidak mengerti.)

Ariana menganga dan ingin rasanya membanting kursinya ke mereka semua.

"I... ehm... they," kata laki-laki itu lagi sambil menunjuk para polisi. Kemudian melanjutkan, "You..., steal. You..., arrest. If you not give money, guarantee."

Ariana berusaha keras mencerna kata-kata penerjemahnya yang tak beraturan. Pemahamannya akhirnya sampai. Katanya, para polisi itu menuduhnya mencuri souvenir itu? Dan dia akan ditangkap jika tidak bayar uang tebusan?

Apa-apaan ini? Jelas, ini bukan lagi kesalahpahaman. Ini konspirasi!

"No way!" teriak Ariana menggebrak meja, mengagetkan penerjemahnya. Semua petugas polisi di ruangan menatapnya tajam.

Ariana tak peduli. Dan dengan menggebu-gebu, Ariana berkata lagi dalam bahasa Inggris, "Aku tidak mencuri suvenir itu! Gadis itu yang kasih ke aku. Dia bilang itu gratis. Jadi, aku tak akan membayar tebusan apa-apa untuk kebebasanku. Aku tidak bersalah! Bebaskan aku!"

Mereka bergeming menatap Ariana.

Gadis itu mulai mengancam, "Kalau kalian tidak membebaskanku sekarang juga, akan kutuntut kalian ke pengadilan internasional! Konspirasi kalian akan berakhir!"

Petugas polisi masih bergeming. Penerjemahnya membisiki mereka sesuatu. Setelahnya mereka semua tertawa terbahak-bahak.

'Apa yang lucu?' teriak Ariana dalam hatinya. Diliriknya sengit si penerjemah. Bukankah dia seharusnya tidak mengerti kalimat bahasa Inggrisnya yang sulit tadi? Jadi, apa yang dikatakan penerjemahnya itu kepada polisi-polisi itu?

Ingin rasanya dia melempari wajah-wajah itu dengan petasan. Kalau perlu petasan itu dimasukkan ke mulut sombong mereka yang tertawa-tawa mengejeknya. Membayangkan petasan itu meledak di dalam mulut mereka satu demi satu sangatlah memuaskan.

Sayangnya, tak ada dari khayalannya itu yang menjadi kenyataan. Ariana tetap duduk di sana, dituduh mencuri, dan terancam hukuman.

"If you cannot give us money, you'll get ten years prison."

(Jika kau tidak bayar uang. Kau akan dapat sepuluh tahun penjara.)

Ariana mendelik tajam pada penerjemahnya. "Are you crazy? Ten years prison just for stealing a small souvenir?"

(Kau gila? Sepuluh tahun hanya karena mencuri suvenir kecil?)

Penerjemah itu mengangguk.

"I didn't steal! Now, give me my phone. I will call my family to send me money!" kata Ariana pada akhirnya sembari menengadahkan tangannya, menanti diberikan ponselnya.

(Aku tidak mencuri! Sekarang, berikan ponselku! Aku akan menelepon keluargaku dan meminta mereka mengirimiku uang.)

Dalam benaknya, dia menyusun skenario untuk berpura-pura menelepon keluarganya, meminta uang. Tetapi, tentu saja, dia juga akan membeberkan semua yang terjadi di sini. Keluarganya akan datang dengan uang untuk membebaskannya, dan juga pengacara profesional serta wartawan untuk membongkar praktik konspirasi di sini.

Skenario yang cerdik, pikir Ariana senang.

Sayangnya, penerjemahnya malah menggelengkan kepala. "They say no! You must pay now. No phone!"

(Mereka bilang, tidak. Kau harus membayar sekarang! Tidak ada ponsel!)

Apaaaa???

Ariana merasa lemas sekujur tubuhnya. Di dompetnya hanya ada sedikit uang untuk makan. Pun tabungan yang dia miliki tak seberapa. Bagaimana dia bisa keluar dari tempat ini dan pulang?

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi The Irresistable Hostage

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat kondisi hormon ini tak lagi tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta tolong kepada gurunya di ruang guru. Kejadian tak terduga itu menjadi awal mula rahasia mereka. Hubungan guru dan murid ini pun perlahan berubah menjadi jalinan asmara rumit yang sangat berisiko bagi keduanya.
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania, pengacara pemberani yang mempertaruhkan nyawa demi keadilan, kerap berseteru dengan rival masa kecilnya yang dingin, Yudi. Walau menentang perjodohan, takdir mengikat mereka dalam pertunangan rahasia yang diatur orang tua. Di tengah konflik perasaan benci dan cinta, bahaya besar mengintai saat Tania nekat melawan Wijaya, konglomerat kejam dalang kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil tanpa sengaja menemukan patung beruang di jalan dan membawanya pulang untuk dirawat dengan tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa benda mati tersebut sebenarnya adalah inkarnasi dari sosok dewa muda yang sangat kuat. Wujud beruang itu terus bertahan menemani Melinda hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang cantik. Namun, sebuah konflik menegangkan mendadak muncul dan menguji ikatan unik mereka. Akankah kisah cinta antara manusia dan dewa ini berujung pada kebahagiaan?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Kehadiran Nadia membuat jalinan cinta Raka dan Cherry terancam kandas. Raka merasa tersisih karena kekasihnya itu selalu mendahulukan sang sahabat yang berkacamata tebal. Murka pun tak terbendung kala ia sadar posisinya telah tergeser menjadi nomor dua bagi Cherry. Namun, kecemburuan hebat ini justru menuntun Raka pada sebuah titik balik hidup yang sama sekali tak terduga. Mampukah hubungan mereka selamat saat prioritas Cherry tak lagi utuh untuknya?
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjadi istri kedua miliarder Raga Dirgantara demi membalas utang budi masa lalu. Kehidupan pernikahan ini terasa sangat pahit bagi Kayla, sebab ia hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk memberikan keturunan bagi sang pengusaha sukses tersebut. Tanpa memiliki posisi nyata di mata suaminya, Kayla kini harus berjuang keras menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya sama sekali tidak dihargai dalam rumah tangga itu.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
Demi ambisinya, William yang merupakan putra bos mafia kejam rela melakukan segalanya. Namun, ayahnya yang bernama Ferdinand tewas secara tragis akibat sebuah pengkhianatan fatal. Kematian ini membuat sang istri, Rosemary, mulai menyadari sisi gelap suaminya yang selama ini tersembunyi. Kini, William bertekad membalas dendam sekaligus membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah. Meski jalannya dihalangi seorang polisi wanita, William takkan mundur hingga peluru terakhirnya habis.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED