"Jangan sekali-kali menerima free gift dari toko manapun di bandara Bangkok. Souvenir itu jebakan!"
Samar-samar, ingatan ariana menggemakan ucapan teman mamanya beberapa bulan lalu.
Argh! Kenapa dia melupakan hal sepenting itu? Tapi wajar rasanya jika lupa karena telah setengah tahun berlalu sejak cerita itu didengungkan.
Lagipula, tidak ada yang bisa disalahkan dari kejadian ini, kecuali gadis SPG tadi. Dia terlihat mengatakan hal yang bukan sebenarnya kepada petugas kepolisian. Awas saja! Setelah kelar masalah ini, dia akan buat perhitungan dengan gadis SPG tadi!
Ariana kini telah ditempatkan di dalam sel kecil yang ada di kantor polisi. Hanya ada dua sel di sana. Sel yang satu dihuni seorang pemuda, yang dia perkirakan usianya setara dengannya.
Dari tampangnya, pemuda itu sepertinya bule. Ingin Ariana mengajaknya bicara, meminta pertolongan pada pemuda itu. Tetapi, setelah dipikirkannya lagi, mana mungkin pemuda itu bisa menolongnya. Apalagi, dia pun berada dalam posisi yang sama dengan Ariana.
Ariana terduduk lesu di kursi panjang di dalam sel itu. Pikirannya menerawang, bagaimana caranya dia bisa keluar dari sini? Satu-satunya yang mungkin hanyalah bila ponselnya ada di tangannya. Sayangnya, mereka menahan ponselnya.
Terbayang hukuman 10 tahun penjara di negara yang sama sekali asing baginya. 'Tidak! Aku tidak mau!' Pilu hati Ariana menjerit.
Frustrasi dengan semua itu, Ariana berdoa dalam hatinya. 'Tuhan tolonglah aku!' Gadis itu mengucapkan kalimat yang sama berulang-ulang di dalam hatinya, sampai air matanya meleleh perlahan di pipinya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ricuh di antara polisi-polisi di sana.
Seorang pria tinggi, berbadan besar, dengan wajah menakutkan memasuki ruang kantor itu. Beberapa pria berkaos hitam dan bercelana jeans hitam mengekor di belakang pria yang juga berjas hitam-hitam ini. Mereka semua bule dan berwajah menakutkan.
Seorang polisi mendekat pada pria itu dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Inggris yang terbatas.
Pria beraura menakutkan itu tidak menggubrisnya. Dia langsung berkata tajam, dengan suara rendah dan beratnya. "Let go of my brother!" (Lepaskan adikku!)
Polisi tadi berusaha melakukan tawar menawar dengan pria itu, membuatnya marah. Dilayangkannya tatapan bengis ke wajah polisi tadi, dan langsung terdiam seluruh polisi di sana.
"Let. Him. Go!"
Dengan segera, dua polisi di sana bergegas ke arah sel pemuda tadi dan membuka gerendelnya. Pemuda itu langsung menghambur keluar ke arah pria menyeramkan itu, dan seakan bersembunyi di balik bahunya.
Ariana menatap itu semua dengan takjub. Gadis itu sempat melihat sang pria menyeramkan itu menoleh ke arah seorang pengawal di sampingnya dan berbisik, "Urus sisanya!"
Pria menyeramkan itu melangkah lagi hendak keluar. Cepat-cepat Ariana berteriak dalam bahasa Inggrisnya yang fasih. "Tolong aku! Tolonglah aku juga, please! Aku akan melakukan apapun. Please! Please! Tak ada yang kukenal di negara ini. Tolonglah aku...."
Tangisan Ariana membahana di sana. Seorang polisi cepat-cepat memukul besi sel dengan tongkatnya, menyuruh Ariana diam. Tetapi, Ariana tak peduli. Dia tak mau hidupnya berakhir di penjara Bangkok.
"HELP MEEE!" Terakhir Ariana menjerit putus asa karena pria itu tetap melangkah keluar.
Ariana terduduk dengan kedua tangannya memegangi tiang sel. Dia meratapi nasibnya. Sepuluh tahun dipenjara di negeri asing. Bagaimana nasib ayahnya jika dia tak kunjung pulang? Ayahnya harus mencarinya ke mana?
Oh, Tuhan. Tolonglah hambaMu ini...
Ariana semakin meratap. Bersamaan dengan itu, ruangan tiba-tiba kembali sunyi. Beberapa polisi yang berteriak memarahinya karena membuat gaduh terdiam seribu bahasa.
Ariana mendongak. Matanya tertangkap tatapan tajam pria itu, yang menatapnya sedalam lautan. Wajahnya memancarkan aura gelap.
Yang tak Ariana perhatikan adalah orang kepercayaan sang pria yang sibuk berbicara kepada polisi di sana. Bawahannya itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengetik beberapa saat, kemudian menunjukkannya kepada polisi itu. Setelah selesai semuanya, polisi itu menganggukkan kepala kepada petugas di sana.
Pintu sel tempat Ariana berada dibuka. Ariana melongo terpaku di tempatnya.
"You don't wanna get out of there?" tanya si pria dengan suara berat yang berbisik rendah.
(Masih tidak mau keluar dari sana?)
Ariana tersadar. Cepat-cepat dia keluar dan mengikuti langkah pria beraura dingin itu.
"Thank you. Thank you!" seru Ariana berulang-ulang pada pria menyeramkan itu sembari mereka semua menuju mobil. Biar bagaimanapun, seseram apapun pria itu, dia bagaikan dewa penyelamat bagi Ariana. Dia pasti akan membalas semua jasa pria itu. Dia pasti akan membayar uang yang telah dikeluarkannya untuk menebusnya.
Pada akhirnya, mereka meninggalkan kantor polisi bejat itu. Dua mobil telah menunggu kedatangan mereka. Satu Mercedes-Benz dan satunya Camry hitam.
Ariana menghela napas lega. Akhirnya dia bisa selamat, tidak jadi dipenjara sepuluh tahun.
Fiuuuuuuh ...
***
Pria beraura menakutkan itu menaiki Mercedes-Benz bersama dengan adiknya. Sedangkan Ariana ditempatkan di Camry hitam bersama dengan para pengawalnya.
Ariana mengira mereka akan ke bandara, karena sempat mendengar perkataan bawahan si pria tadi bahwa mereka sudah harus berangkat. Tetapi ternyata, dia bukan dibawa ke bandara, melainkan pelabuhan.
Begitu sampai di pelabuhan, Ariana melihat kedua mobil mereka memasuki lambung kapal. Setelah parkir di dalam kapal, mereka semua turun. Termasuk Ariana cepat-cepat ikut turun.
Mau ke mana mereka? Hati kecil Ariana bertanya-tanya.
Ingin dia bertanya kepada salah satu bawahan pria dingin itu, tetapi tak satupun dari mereka menyuguhkan wajah ramah kepadanya.
Akhirnya, Ariana hanya mengikuti mereka semua dalam diam dan pasrah.
Yang mencuri perhatian Ariana adalah fakta bahwa kapal yang mereka naiki itu terlihat istimewa. Lantainya licin, bersih, dan berkilau. Tidak seperti kebanyakan kapal lain yangmana lantainya kotor dan berbau. Kapal yang ini bahkan beraroma harum.
Segala yang ada di sana bersih dan kinclong. Pagar tangganya saja mulus dan memantulkan bayangan di sekitarnya. Ariana ternganga melihatnya.
Saat mereka tiba di atas, salah satu pengawal pria menyeramkan itu akhirnya membuka suara pada Ariana.
"Ikuti aku," katanya. Datar dan kaku suara si pengawal.
Ariana mengikutinya dan sampailah mereka di sebuah kamar. Si pengawal membuka pintu kamar dan mempersilakan Ariana dengan tangannya. "Ini kamarmu selama kita berlayar."
Si pengawal membalikkan badannya hendak pergi. Ariana menahannya, "Tunggu dulu! Kita akan berlayar ke mana?"
Si pengawal memandangi Ariana selama 3 detik. Barulah dia menjawab, "Ke Miami."
Miami?
MIAMI?
"No! No! No! I don't wanna go to Miami!" seru Ariana spontan.
(Tidak! Tidak! Aku tidak mau ke Miami!)
Detik berikutnya Ariana mulai berteriak lagi, masih dalam bahasa Inggris.
"Aku tidak mau ke Miami! Aku mau pulang ke Indonesia. Jakarta!" Ariana teringat bahwa kebanyakan bule lebih mengenal Bali ketimbang Indonesia. Jadi dia berseru lagi, "BALI!"
Tiba-tiba, suara berat nan rendah yang sudah menyelamatkannya tadi, terdengar dari ujung koridor. Suara itu pelan, namun penuh wibawa gelap. "You have no right to choose where you wanna go."
(Kau tidak punya hak menentukan ke mana kau hendak pergi.)
Ariana menoleh cepat ke arah sumber suara. Tatapan kesal Ariana bertemu dengan tatapan maut dewa penyelamatnya. Seketika, aura dingin dan menyeramkan melilit Ariana hingga lidahnya kelu.
Pria menyeramkan itu pun melanjutkan ucapannya dengan penuh penekanan. "I just saved you. You owe me! A lot!"
(Aku baru saja menyelamatkanmu. Kau berhutang padaku! Banyak!)
Saat mengucapkan itu, tatapan pria itu semakin kelam dan dalam, seakan mampu menembus kerangka tengkorak Ariana. Itu semua membelit Ariana hingga dia hanya mampu menggelengkan kepalanya sebagai bentuk ketidaksetujuannya.
Sang dewa penyelamatnya tersenyum sinis melihat Ariana tak mampu berkutik. Wajah kelamnya terlihat semakin menyeramkan.
Lagi, suara serak penuh aura kelam itu mendesis di depan wajah Ariana. "Of course, I can. Coz now, you are my hostage!"
(Tentu aku bisa. Karena sekarang, kau tahananku!)
***
Note: Setelah ini, percakapan bahasa Inggris-nya akan langsung ditulis dalam bahasa Indonesia. Happy reading!
Setelah mendapatkan teguran dari pria beraura dingin nan menyeramkan itu, Ariana memutuskan masuk ke dalam kamar yang telah diberikan untuknya. Cepat-cepat ditutupnya pintu itu dan dia berdiri menahan pintu dari dalam.
Napasnya menggebu marah dan kesal.
Tawanan, katanya? Huh! Kalau memang begitu, tidak lebih baik dari ditahan di kantor polisi tadi. Nasibnya masih belum berubah.
Ariana mendengus kesal dan berusaha mengatur emosinya. Saat itulah, dia baru sungguh-sungguh menatap ke sekelilingnya. Seketika, dia membelalak takjub.
Kamar yang diberikan untuknya sangatlah luas. Ini seperti presidential suit di hotel. Interior designnya pun mewah nan elegan.
Semuanya terlihat putih bersih dan berkilau. Bahkan furniturnya bergaya klasik dan sangat berkelas. Ariana berkeliling takjub melihat semua itu.
Jika ruangan di tempatnya berdiri saat ini adalah ruang tamunya, maka ruangan yang di dalamnya adalah kamar tidur. Dia masuk ke dalamnya dan menghempaskan dirinya di kasur mewah berseprai putih bersih itu dan menerawang ke langit-langit kamar.
Ya, setidaknya ditawan di tempat seperti ini masih lebih baik daripada sepuluh tahun di penjara di negara asing. Setidaknya, dia masih mempunyai kesempatan untuk bisa melarikan diri. Hal itu akan dia pikirkan nanti. Untuk sekarang, Ariana ingin menikmati kemewahan ini dulu.
Hari sudah sore saat itu. Ariana pun menuju kamar mandi dan mulai mengisi air di bathtub bermodel klasik berwarna kuning keemasan. Saat air hangat mulai memancar, Ariana menambahkan sabun bathbomb beraroma anggur yang ada di samping bathtub.
Aroma anggur yang lembut tiba-tiba terasa sangat membuai. Saat bathtub penuh dengan air, busa sabun juga ikut memenuhi bathtub.
Ariana melepas semua pakaiannya sampai ia benar-benar polos tanpa sehelai benangpun. Setelah menggelung rambut panjangnya ke atas, ia merendam dirinya ke dalam air berbusa itu. Kehangatan melingkupinya dan otot-otot tubuhnya mulai rileks.
Satu jam lebih Ariana berendam dan tertidur di dalam bathtub. Airnya juga telah mulai mendingin. Ariana terbangun dan bergegas keluar dari bathtub. Diraihnya handuk putih yang tergantung di tiang handuk.
Dia mengelap semua busa yang tersisa dan mengeringkan tubuhnya. Setelahnya, gadis berambut hitam panjang itu melangkah keluar kamar mandi, tanpa melilitkan handuknya di tubuh.
Tak disangka-sangka, pria beraura dingin menyeramkan itu berdiri di pintu kamar. Tubuhnya menjulang tinggi, semakin memancarkan aura intimidasi.
Ariana memekik kaget dan cepat-cepat menutupi tubuhnya dengan handuk yang di tangannya.
Agak terlambat memang. Pria itu telah melihat semuanya. Pun saat ditutupi handuk, Ariana hanya menutupi bagian depan saja, bukan melilitnya. Bagian samping tubuhnya dan belakang tidak tertutup.
"Kenapa kau masuk ke sini?" bentak Ariana dalam bahasa Inggris.
Pria di hadapannya itu malah tetang-terangan menelisik tubuh Ariana, dari atas sampai bawah. Dari bawah sampai atas kembali. Tetap, tiada senyum di wajahnya.
Namun, Ariana bisa menangkap bara api yang seakan terpercik di kedua matanya yang cokelat. Mata itu semakin tak bisa lepas memandang tubuhnya.
Setelahnya, kaki panjang pria itu mulai melangkah, mendekati Ariana.
Ariana terpaku di tempatnya. "Ma- mau apa kau? Jangan mendekat!"
Gadis itu mengeratkan genggamannya pada handuknya yang menutupi bagian depan tubuhnya. Justru itu semakin mempertontonkan bagian samping tubuhnya.
Lekuk pinggul Airana semakin jelas terpampang ditambah kaki jenjang Ariana, jelas menambah hasrat pria itu padanya.
Pria itu terus saja melangkah menuju ke Ariana. Pelan tapi pasti. Jarak antara mereka semakin tipis. Kedua mata pria itu berkilat-kilat penuh gairah memandangi Ariana. Hanya kilat sepatu pantofelnyalah yang mampu menandingi kilat hasrat di matanya.
Ariana tahu tubuhnya masih sangat terbuka dan terlihat di beberapa bagiannya.
Tetapi, pria itu telah berdiri di hadapannya hanya berjarak satu meter saja.
Ariana mulai bergerak mundur. Pria itu semakin maju. Sampai akhirnya Ariana terhalang dinding di belakangnya. Dia tak bisa mundur lagi.
Tanpa diduganya, pria itu malah mencengkeram rahangnya, membuat Ariana mendongak menatapnya. Tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat Ariana tak bisa bergerak selain menatap sepasang matanya yang kelam, dalam, dan dingin.
Wajah pria itu semakin mendekat pada Ariana. Dihirupnya aroma anggur dari tubuh Ariana dengan mata terpejam. Pria itu semakin dimabuk hasrat.
Ariana memberanikan diri berkata tajam pada pria itu, "Jangan macam-macam. Sekalipun kau dewa penyelamatku, aku takkan menyerahkan tubuhku padamu!"
Pria itu semakin erat mencengkeram rahang Ariana. Dia berdesis tajam seraya mengeratkan rahang kakunya. "Apa katamu? Kau sudah menjadi milikku. Aku menebusmu sangat mahal!"
"Hargaku jauh lebih mahal dari itu!" tukas Ariana berani, menatap langsung ke wajah pria itu.
Sebagai balasannya, pria menyeramkan itu mendengus ke wajah Ariana. "Kau pikir berapa harga tebusanmu tadi, hah? US $ 100.000."
Ariana terperangah. Sebesar itu? Jika dirupiahkan, sekitar 1,5 miliar rupiah? Itu sama saja setara dengan harga perusahaan ayahnya yang sedang krisis. Tetapi, tidak mungkin dia meminta ayahnya menjual perusahaan hanya untuk mengganti uang tebusannya pada pria ini.
Diteguhkannya hatinya. Dia berkata lagi pada pria mengerikan itu, dengan memasang raut galak. "Apa? Hanya segitu? Nilaiku lebih dari itu!"
"Nilaimu lebih dari itu? Hahaha, jangan mimpi kau! Kau pikir kau siapa? Tubuhmu saja bahkan hanya begini. Masih jauh dari standarku!"
Ariana tak terima dihina fisiknya. Dia menjawab dengan berani. "Itu karena kau hanya menilai dari fisik luarku saja! Kalau kau tahu inner valueku, uangmu itu takkan berarti apa-apa. Bahkan seluruh kekayaanmu pun takkan sebanding dengan nilaiku!"
"Hah! Kau berkhayal terlalu tinggi!" Kemudian, pria itu tertawa sinis.
Dan tanpa aba-aba lagi, bibir pria itu mulai menyapu telinga Ariana. Perlahan kemudian, turun ke leher gadis itu. Sebelah tangannya yang besar mulai menyentuh atas lutut bagian dalam Ariana, dan merayap naik hingga ke bagian pribadi Ariana, yang biasanya tertutup panties. Diremasnya Ariana di sana.
Ariana tercekat dan berusaha mendorong pria itu. Namun, pria itu seakan sudah kerasukan amarah yang bercampur gairah yang bergejolak. Tak dipedulikannya penolakan Ariana. Tubuh kuning langsat Ariana terlihat sangat manis dan menggoda. Pun ukuran dada Ariana yang biasa dan tidak berlebihan, juga empuk saat disentuh, semuanya begitu menggoda pria itu untuk mencicipinya.
Dengan tangan penuh tenaga yang di luar perkiraan Ariana, pria itu mendorongnya hingga terhempas ke atas kasur empuknya. Handuknya tersingkir dari atas tubuh Ariana. Kini, sepasang mata terbakar gairah itu semakin menggelap saat menatap tubuh polos Ariana.
Ditindihnya tubuh Ariana tanpa memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk melawan. Dilumatnya bibir gadis itu dengan penuh nafsu.
Ariana ingin melawan, tapi tenaga pria itu sangatlah besar. Dia tidak punya kesempatan untuk memukul pria itu sedikitpun. Sampai akhirnya tangan kasar pria itu mulai menyentuh dadanya.
Ariana seperti tersengat. Dia kembali meronta dan mendorong pria itu. Yang terjadi kemudian, malah kedua tangannya ditahan pria itu di atas kepalanya.
Gadis itu semakin susah melawan dengan kedua tangan di atas kepalanya.
Dadanya kini dengan leluasa dibelai oleh bibir pria itu. Ariana menahan rasa nikmat yang tiba-tiba melandanya.
Hingga saat akhirnya bibir itu mulai menjelajah leher Ariana, gadis itu mulai berteriak kembali. "Lepaskan aku, kau jahanam! Lepaskan aku! Jika kau lakukan ini, kau sama dengan binatang busuk!"
Mendengar makian kasar Ariana, pria itu terhenti dan menatapnya tajam. Ariana tak menyesal mengucapkan semua itu. Dia takkan menarik ucapanya lagi. Bagi gadis 22 tahun itu, akan semakin terhina dia jika membiarkan dirinya ternodai tanpa melawan sedikitpun.
Tetapi, itu pemikirannya sebelum pria itu kemudian melumat pucuk dadanya kembali. Kali ini dengan lebih rakus, membuat Ariana menggelinjang geli yang jauh lebih nikmat dari tadi. Tubuhnya seakan tersengat percikan listrik yang mengaliri sekujur pembuluh darah dan nadinya. Saat itu juga sesuatu dalam diri Ariana mulai merekah.
Rasa yang sangat asing menguasai Ariana, membuat gadis itu semakin gelisah. Tubuhnya yang ikut menikmati semua sentuhan pria itu membuatnya lebih ketakutan. Teriakannya melemah dan perlawanannya mulai surut,
Bibir pria itu masih bermain-main di dada Ariana. Rasa frustrasi melanda Ariana membuat gadis itu menangis malu.
"Hentikan! Aku akan mengembalikan uangmu. Hentikan ini!" Di sela sedu sedan tangisnya, Ariana semakin terisak.
Dalam sekejap, pria itu menghentikan aksi gilanya, dan menatap Ariana.
Hampir setiap malam dia melakukannya dengan berbagai wanita seksi di luar sana. Mereka semua menikmatinya. Bahkan meminta lagi, dan lagi. Tapi, gadis ingusan di depannya ini malah memohon agar dia berhenti? Tidakkah dia menikmatinya?
Seketika hasratnya merosot jatuh. Dia bangkit, menelisik tubuh polos Ariana sekali lagi, dan dengan rahang yang mengeras marah, pria itu melangkah cepat keluar dari kamar sialan itu.
Kelegaan melingkupi Ariana. Tetapi tangisnya semakin menjadi-jadi. Tubuh gemetarnya meringkuk di atas kasur bagaikan bergelung tanpa ada yang menjadi tempatnya bernaung.