Laura, seorang wanita yang berusia 23 tahun baru saja tiba di Indonesia. Kaki jenjangnya melangkah menyusuri koridor bandara ibu kota. Bak wanita berkelas, wajah ayu, rambut hitam pekat panjang yang mengurai, dengan dress yang melekat dalam dirinya menambah kecantikan dalam diri wanita itu.
Tetapi, tangan kanannya menggandeng tangan mungil seorang anak laki-laki yang mungkin berusia 4 tahun.
"Mama," panggilnya.
Membuat sang empu menoleh dan menurunkan badannya.
"Ada apa sayang?"
"Aku lapar," ujarnya dengan mencebikkan bibirnya lucu.
Laura terkekeh, wanita itu mengusap kepala sang anak. "Mari kita makan sayang," ajak Laura membuat si kecil bersorak riya.
Mata Laura melirik satu persatu toko di bandara, wanita itu mencari bakmi, makanan kesukaan sang anak.
"Reynald, kita makan di sana ya?" Ajak sang empu sembari menarik tangan laki laki mungil itu.
Laura memesankan dua porsi bakmi dengan es teh. Wanita itu lalu duduk menunggu pesanannya datang, sembari mengotak atik ponsel genggamnya dan mendengar celoteh sang anak.
Wanita itu rencananya ingin menghubungi sahabatnya namun, niatnya masih di urungkan. Ia memilih menelpon sosok pak Jaka- selaku penjaga rumahnya selama wanita itu berada di Eropa.
Tak lama. Pesanan dua bakmi itu datang membuat Laura tersenyum tipis dan mengucap terima kasih.
Beruntungnya, Reynald bukan anak yang rewel, sejak dalam kandungan dan bayi. Laki-laki itu tidak pernah merepotkan Laura, seakan mengerti keadaan mamanya yang tengah berjuang menghidupi dirinya.
Meskipun begitu, Laura tak akan membiarkan Reynald kesusahan atau bahkan kekurangan apapun. Meski kemandirian ia ajarkan sejak dini, namun Laura memberikan kasih sayang sepenuhnya. Tak heran jika Reynald tumbuh menjadi anak yang cerdas, penurut, bahkan pengertian.
"Mama, apakah kita akan bertemu papa?" tanya Reynald.
Uhuk!
Laura tiba-tiba tersedak, ia meraih es tesnya dan meneguknya dengan cepat. Wanita itu sesekali memukul dadanya dengan pelan.
Ia menoleh pada Reynald, mengingat saat laki-laki itu berusia 2 tahun setengah. Menanyakan dimana papanya, dan Laura menjawab sedang bekerja di Indonesia. Dan sejak itu, Reynald tidak pernah menanyakan lagi dimana papanya.
Namun sialnya, kini Laura kembali ke Indonesia dan anaknya menanyakannya. Membuat Laura ber kelimpungan sendiri mencari jawaban.
Laura menghela nafas pelan, ia menatap dalam Reynald dan mengatakan dengan lembut.
"Apa Reynald sekarang tidak bahagia dengan mama?" tanya Laura.
Reynald menggeleng, "Aku senang, sangat senang," jawab Reynald membuat Laura tersenyum dan mengangguk.
"Jadi, meskipun kita hanya berdua. Tidak masalah bukan?" ucap Laura dengan senyum kecilnya.
Reynald diam untuk beberapa saat dan mengangguk kecil membuat Laura mengusap rambut sang anak.
Pelan-pelan Laura menghela nafas kecil, rasanya sangat berat melihat sang anak yang sekecil itu berusaha memahami keadaannya. Laura selalu bersyukur di dalam hatinya. Reynald seolah lahir dengan kedewasaan yang tertanam sejak kecil.
Keduanya melahap bakmi sampai tandas. Lalu Laura mengajak sang anak keluar dari bandara dan memasuki mobil hitam yang ia sewa yang sudah sejak tadi menunggunya.
Tanpa Laura sadari, ada laki-laki asing yang diam sedari tadi mengawasinya. Diam-diam laki-laki itu memotret Laura lalu mengirimkan pesan pada atasannya.
Bukankah ini wanita yang kau cari?
Photo. Terkirim.
***
Laura ini kini turun dari mobil, wanita itu menghirup nafas dalam dalam. Ia menatap rumah yang di desain minimalis namun elegan itu, dengan lingkungan yang asri karna sedikit jauh dari kota. rumah ini sengaja di bangun bertahun-tahun lalu dan di jaga dan di rawat oleh pak Jaka.
Bertahun-tahun Laura mempercayakan rumah ini pada sosok tua paruh baya itu.
Laura tersenyum kecil. Rumah ini dahulunya adalah rumah sederhana warisan orang tua nya. Setelah orang tuanya meninggal. Dan tragedi malam itu.
Laura menggunakan sebagian uangnya untuk merenovasi rumah ini, karna bagaimana pun ia akan kembali ke Indonesia. Tanah kelahirannya.
"Non Laura sudah pulang?" sapa pak Jaka yang kini rambutnya penuh dengan rambut bewarna putih namun wajahnya masih segar dan semangat.
Laura tersenyum. "Sudah pak, bapak apa kabar?" tanya Laura.
"Baik non, ini den Reynald?" sapa pak Jaka.
Laura tersenyum tipis, ia memperkenalkan pak Jaka pada Reynald sebagai kakeknya.
Pak Jaka adalah orang kepercayaan ayahnya yang sampai kini setia mengabdi pada keluarga Laura. Laki-laki paruh bayah itu kini membantu membawakan koper Laura, sedangkan wanita itu menggendong Reynald yang masih canggung dan asing pada suasana rumah.
"Terimakasih pak Jaka," ujar Laura di balas senyuman tipis.
Meskipun dengan rumah minimalis. Namun rumah ini memiliki halaman yang luas sehingga kamar yang tersedia cukup banyak. Pak Jaka memang tinggal disini sejak dahulu, walaupun Laura pergi bertahun-tahun lalu namun wanita itu percaya pada pak Jaka.
Lihatlah saat ini, keadaan rumah yang rapi, kolam yang bersih, dan tanaman yang terawat.
Laura mensejajarkan tubuhnya dengan anaknya.
"Reynald, sekarang Reynald tinggal disini ya? Kita rangkai lagi semuanya dari awal," ucap Laura lalu mengecup kening Reynald.
Laura memilih kamar yang dekat dengan kolam renang, karna pemandangan jendela nya yang menuju langsung ke taman.
Kini, ia harus menghubungi sahabatnya. Karna Reynald harus masuk ke taman kanak-kanak maka Laura membutuhkan bantuan sahabatnya.
Laura tak ingin menghubungi sejak tadi, karna dirinya tahu bahwa tadi masih di jam kerja dan akan merepotkan sahabatnya. Cukuplah saat ini Laura akan memberikan kejutan pada teman-temannya dan mengatakan bahwa ia akan menetap disini.
***
Disisi lain, sosok laki-laki berwajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancungnya. Sedang memijat pelipisnya. Ia terasa pusing seharian ini. Masalah proyek yang hampir gagal membuat kepala Kendra hampir pecah.
Laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya. Memilih menatap bangunan luar dari dalam perusahaannya sejenak.
Laki-laki itu membuka jasnya, dan membuka beberapa kancing kemejanya membuat tubuh atletisnya semakin terlihat dan menambah ketampanannya.
Pintu ruangan Kendra terbuka. Menampilkan Adrian sosok sahabat sekaligus asistennya.
"Duduk lah Ken, perusahaan akan mengerjakan ulang proyek ini," tutur Adrian.
Kendra menghela nafas berat, ntah lah mengapa ia merasa cuaca ibu kota saat ini terasa panas sehingga ia mudah emosi.
"Bayangkan saja, jika proyek itu lalai dan benar-benar gagal kita bisa rugi miliaran Adrian," tekan Kendra.
Pintu terketuk lagi. Menampilkan sosok perempuan yang membawakan kopi untuk Kendra.
Adrian mengambilnya dan meletakkan di meja Kendra lalu menyuruh wanita itu pergi.
"Masih ada waktu seminggu untuk memperbaiki proyek itu," jawab Adrian sembari menepuk pundak sahabat nya itu. "Duduklah, dan minum. Tenangkan dirimu. Jangan seperti orang kesetanan," imbuh Adrian.
Kendra akhirnya kembali duduk, ia menyeruput kopi hitamnya sedikit demi sedikit membuat perasaan gundahnya sedikit hilang.
"Apa karna pesan itu kau jadi seperti ini?" tanya Adrian.
Kendra mengernyit, laki-laki itu meletakkan kopinya. "Pesan? Pesan apa maksudmu?" Tanya Kendra.
"Periksalah ponselmu," jawab Adrian.
Kendra mengambil ponselnya, ia mengecek pesan dari bawahannya yang sudah terkirim 4 jam yang lalu. Sedari tadi ia sibuk dengan pekerjaannya.
Kendra membuka room chatnya itu dan membacanya. Dia diam-diam meremas ponselnya.
"Dia kembali," gumamnya.
Tawa riang seolah memenuhi rumah minimalis milik Laura. Sejak ia mengirimkan pesan pada sahabatnya, ke empat sahabatnya langsung datang menyerbu rumahnya. Mereka bersamaan membawa makanan ringan yang begitu banyak sekaligus mainan untuk Reynald.
Reynald terlihat berbaur di pelukan teman-temannya. Laki-laki itu seperti sudah terbiasa pada mereka.
Laura memiliki banyak teman, namun sosok yang mengetahui tentang bagaimana tragedi malam itu dan bagaimana Laura berjuang hanya ke empat sahabatnya.
Bahkan saat Laura melahirkan di Eropa, teman-temannya rela mengambil cuti untuk menemaninya beberapa minggu. Wanita itu tersenyum tipis ia bangkit menuju kulkas ingin meneguk segelas air putih dingin.
"Bagaimana kabarmu Laura? Apa baik-baik saja sejauh ini?" celetuk Ezra-teman laki-laki yang paling dekat dengan dirinya.
Laura tersenyum lalu mengangguk. "Kenapa tidak?"
Ezra terkekeh. Laki-laki itu memilih duduk di meja makan mengisyaratkan Laura untuk ikut duduk, artinya ada hal yang ingin Ezra katakan jika seperti ini.
"Kenapa kau kembali ke Indonesia?" tanya Ezra.
"Aku memang merencanakan ini, jika Reynald sudah cukup besar maka aku akan kembali ke Indonesia untuk melanjutkan hidup. Tidak mungkin aku akan terus bergantung pada uang yang di berikan keluarga itu," jelas Laura.
Ezra berdehem kecil, laki-laki itu mengerti.
"Bagaimana jika dia menemukan kalian?" tanya Ezra.
"Tidak mungkin," potong Laura.
"Kau tahu, dia begitu sukses. Bahkan beberapa perusahaan di kota ini bekerja sama dengan perusahaannya. Semua perusahaan berada di bawah kuasanya. Dia pasti begitu mudah menemukanmu," balas Ezra.
Laura diam mematung membuat Ezra menatap sahabatnya khawatir. Ia tahu sebenernya Laura tidak ingin bertemu karna perasaan gadis itu tidak akan hilang pada cinta pertamanya.
Ezra hanya khawatir, Laura kembali bertemu dengan laki-laki itu dan kembali membuat hatinya hancur, atau bahkan kembali melewati kehidupan yang sulit.
"Kau tahu, sampai kini dia masih mencari mu. Aku yakin jauh dari itu dia masih mencintai mu Laura," celetuk Ezra.
Laura hanya diam, menatap meja makan itu tanpa berkutik. Ia belum siap jika harus menemui laki-laki itu.
"Apa kau masih mencintai Kendra?" tanya Ezra.
***
Kendra semakin di buat pening oleh pesan itu. Mengapa Laura menggandeng seorang anak. Apakah wanita itu sudah menikah?
Adrian terkekeh melihat Kendra yang uring-uringan. "Tidak mungkin bertahun-tahun ini kau masih jatuh cinta pada wanita itu kan?" tanya Adrian yang di balas tatapan sinis.
"Cari segala informasi tentang Laura. Aku butuh hari ini juga," telak Kendra.
Laki-laki itu langsung mengambil jas miliknya dan kunci motornya. Ia harus menenangkan pikirannya saat ini.
Ia tak ingin pusing sendirian, sehingga mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari informasi tentang Laura.
Kendra mengendarai mobilnya, membelah kemacetan ibu kota. Pikiran laki-laki itu berkelana ke berbagai memori hingga ia tak sadar meremas setir mobil miliknya.
"Arghhhhh!" Teriaknya frustasi sembari membelokkan mobilnya. Kini ia berada di pantai di mana biasanya ia dan Laura kunjungi. Ntah untuk bermain air atau sekedar singgah sembari menenangkan pikirannya.
Laki-laki itu turun dari mobil, melangkah mendekat ke arah pantai. Suasana pantai kini sangat sepi karna bersamaan dengan hari yang hampir gelap.
Kendra melangkahkan kakinya hingga telapaknya menyentuh air pantai karna dorongan ombak kecil. Ia menatap ke arah matahari yang hampir tenggelam.
Matanya memejam, ia menghirup nafas panjang. Indra penciumannya menghirup bau air yang bercampur dengan pasir, pendengarannya menangkap beberapa suara burung yang berkicau kecil dengan dengan suara ombak yang bertabrakan dengan batu pantai.
Flashback on
"Kennn!! Lihat sunsetnya begitu indahh bukan?" ujar gadis itu dengan semangat.
Ekspresi wajah yang menggemaskan, rambut panjang yang beterbangan karna angin dan mata indah yang menatap senja itu membuat Kendra sangat gemas.
Bahkan saat ini Kendra bingung, yang indah adalah sunsetnya atau gadis tercinta di depannya.
Laki-laki itu mendekat dan merapikan rambut kekasihnya. Iya mengangguk setuju sembari tersenyum simpul.
Gadis itu melangkahkan kakinya hingga menyentuh air pantai. Melebarkan kedua tangannya membiarkan angin-angin sore memeluk tubuhnya.
"Bagaimana jika kita ke pantai setiap hari, aku suka pantai," tutur gadis itu.
"Iyah sayang," jawab Kendra seadanya sembari tersenyum.
"Janji ya Kendra?"
"Iyah Laura,"
Flashback off
Mata Kendra seolah memanas mengingat kenangan itu, terlebih senyum tulus kekasihnya sebelum ia membuat wanita itu menangis lalu menghilang selama bertahun-tahun dan sampai kini ia belum bisa menemukan informasi lengkap tentang Laura.
***
Laura masih berdiskusi dengan ke empat sahabatnya bagaimana ia akan mencari uang, sedangkan perusahaan di kota ini hampir di bawah kuasa Kendra.
Sedangkan Reynald sudah tertidur sedari tadi setelah kelelahan bermain bersama Brian- sahabatnya.
"Bagaimana jika membuka toko kue? Bukankah kau pintar memasak?" putus Anaya selaku sahabatnya.
"Ide bagus!! Buka saja toko bakery," imbuh Janu yang juga merupakan sahabatnya.
Laura terdiam, sebenarnya ide itu tidak buruk. Namun membuka toko itu tidaklah mudah, ia harus membutuhkan modal yang begitu besar untuk membeli toko di tempat strategis. Belum lagi peralatan memasak dan bahan-bahannya.
Disisi lain ia juga harus menyekolahkan Reynald. Untuk sekolah Reynald. Ia sudah sepakat bersama sahabatnya akan menyekolahkan Reynald di sekolah taman kanak-kanak yang lokasinya hampir dekat dengan rumah Anaya. Jadi begitu mudah mengantar jemput bocah itu.
"Tenang saja, untuk biaya aku bisa investasi di toko mu," sambung Ezra seolah mengerti keadaan sahabatnya.
"Ada kita, kita akan membantumu," tutur Janu menambahkan di setujui semua sahabatnya.
Laura lalu menatap sahabatnya, ia tersenyum tulus. Dalam hatinya wanita itu mengucapkan berkali-kali rasa syukur di berikan sahabat seperti mereka.
"Thank you guys," jawab Laura di beri anggukan oleh keempat sahabatnya.
***
Keempat sahabatnya memilih pulang dikarenakan jam menunjukkan bahwa hari sudah larut malam.
Laura mengantar keempat sahabatnya sampai depan pagar. Tawa Laura masih menghiasi perpisahan mereka, hingga mobil-mobil sahabatnya sudah tak terlihat. Wanita itu menghela nafas berat.
Ia menutup gerbangnya dan melangkahkan kakinya masuk.
Laura menuju kamar miliknya dan anaknya. Ia menatap ke arah Reynald yang tertidur pulas.
"Andai malam itu tidak terjadi, mungkin kau bisa memilih kehidupan yang lebih baik di banding memilih hidup bersama mama," gumam Laura pelan.
Perkataan Ezra yang seolah melekat dalam pikirannya membuat Laura kembali mengingat kenangan pahit dalam hidupnya. Wanita itu duduk di depan kaca sembari memejamkan matanya. Menahan agar air matanya tidak jatuh mengalir.
Ia kembali bertanya-tanya, apakah memang selama ini perasaannya sudah hilang pada laki-laki itu.
Atau selama ini dirinya hanya denial dan berusaha menghindari perasaan itu.
Wanita itu menghela nafas berat, ia melangkah dan mematikan lampunya.
Disisi lain, Kendra yang masih menggunakan kemeja kerjanya saat ini berada di luar pagar, memantau rumah minimalis itu. Matanya menatap pergerakan Laura sedari awal. Mulai dari berpisah bersama temannya hingga wanita itu mematikan lampu kamarnya
"Kenapa harus pergi tanpa memberikan sebuah kepastian Laura?" tanya Kendra sebelum memilih pergi.
Pagi-pagi sekali Laura sudah terlihat begitu sibuk, wanita itu menyiapkan sarapan sekaligus menyiapkan anaknya untuk persiapan sekolah di hari pertamanya.
Beruntung Brian memiliki kenalan di sekolah anaknya sehingga memudahkan Reynald untuk masuk ke dalam sekolah tersebut.
Terlihat saat ini Reynald sudah rapi di meja makan dengan sereal di hadapannya. Sedangkan Laura menyiapkan dirinya untuk mengobservasi daerah yang akan di jadikan sebagai tokonya nanti.
"Reynald, dengerin mama ya? Reynald cuma boleh pulang sama berangkat sekolah sama tante dan om yang kemarin dateng kesini. Masih ingat kan wajahnya?" ujar Laura yang sudah rapi dan mengambil alih sereal anaknya.
"Inget mama," jawab Reynald.
Laura menyuapi anaknya itu. "Ingat, jika ada orang asing yang mengaku mengenal mama. Kamu harus langsung menjauh dan mencari tempat yang ramai ya?"
Reynald kembali mengangguk. Membuat Laura mengelus rambut anaknya dan mengecup pipi laki-laki itu.
Perempuan itu memberikan pesan dan wejangan yang begitu banyak. Mengingat angka kriminal di Indonesia yang semakin tinggi, dirinya begitu khawatir. Terlebih Reynald baru saja pindah dari Eropa. Tentunya membutuhkan adaptasi yang begitu lama.
Beruntungnya meski lingkungan luar Reynald selama di Eropa menggunakan bahasa Inggris. Laura tetap mengajari anaknya bahasa Indonesia sehingga laki-laki itu mahir dalam berkomunikasi menggunakan dua bahasa tersebut.
Brian tiba-tiba masuk kedalam rumah, sudah di pastikan pak Jaka membuka kan pintu untuk sahabatnya itu.
Laura tersenyum tipis lalu memberikan roti yang berisi selai coklat untuk sahabatnya sarapan.
"Terimakasih bos," ujar Brian dengan ekspresi wajah yang menggelikan.
Laura mengangguk dan terkekeh kecil. Sifat humoris sahabatnya itu tetap melekat meski kini mereka sudah berumur 23 tahun.
Laura lalu mengunci pintu kamarnya, ia sudah siap dengan tas di tangannya. Wanita itu tinggal menunggu Ezra menjemputnya.
"Non, tadi malam saya melihat laki-laki di depan pagar sedang memperhatikan rumah ini," celetuk pak Jaka setelah menyiram tanaman.
Brian yang awalnya bermain dengan Reynald langsung menoleh ke arah Laura. Keduanya tiba-tiba mematung.
"Apakah laki-laki itu cukup lama berada disini?" Tanya Brian.
Pak Jaka menggeleng. "Saya lihat sekilas saja, waktu saya mau menghampiri dia sudah pergi terlebih dahulu."
Laura tak tahu siapa laki-laki itu, wanita itu hanya diam menatap Brian dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Laura hanya berharap laki-laki itu bukan Kendra.
Dan jika memang itu Kendra, mengapa cepat sekali laki-laki itu menemukan dirinya. Apakah memang Kendra sangat berpengaruh sampai-sampai dengan mudah menemukan dirinya.
Laura hanya diam, pikirannya berkelana ntah kemana.
Brian yang melihat hal itu langsung menghabiskan potongan roti di tangannya. Ia meneguk segelas susu yang sudah di siapkan Laura.
Laki-laki itu cepat-cepat membawa Reynald ke sekolah. Setidaknya Laura memiliki waktu untuk sendiri. Untuk saat ini ia tak ingin menanyakan lebih dalam atau membahas persoalan Kendra.
Brian akan mencari tahu terlebih dahulu, dan memastikan apakah Kendra benar benar sudah mengetahui keberadaan Laura.
"Ayo Reynald, kita berangkat," celetuk Brian memecahkan keheningan membuat Laura menatap anaknya itu.
"Lets goooo!" jawab Reynald sembari turun dari kursi membuat Laura terkekeh geli.
Reynald terlihat begitu bersemangat saat bersama dengan Brian. Sikap Brian yang begitu humoris dan mampu memecahkan suasana itu membuat Reynald dengan mudah berbaur pada Brian.
"Hati-hati Brian, aku titip Reynald," tutur Laura.
Brian mengangguk sembari menggendong bocah kecil itu.
Laura mengantarnya sampai ke gerbang rumah.
"Dadahhh mamahhh," teriak anaknya dari dalam mobil.
Laura melambaikan tangannya sampai mobil itu tidak terlihat lagi akhirnya wanita itu memutuskan masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Perkataan pak Jaka seolah mengganggu pikirannya. Wanita itu menyenderkan kepalanya dan memijat pelipisnya.
***
"200 juta sudah penawaran akhir pak," ujar pemilik toko.
Ezra mengangguk. Setelah bernegosiasi cukup lama, harga paling kecil yang di berikan adalah 200 juta.
Kini Laura dan Ezra sedang berada di salah satu toko sederhana yang rencananya akan mereka beli nanti.
Laura dan Ezra melihat lokasi yang strategis untuk berjualan, toko itu juga cukup luas untuk berjualan, hanya mungkin perlu di rombak sedikit lagi untuk mempercantik toko ini.
"Bagaimana Laura? Apa kau suka?" tanya Ezra.
Laura mengangguk, wanita itu cukup puas dengan toko ini. Namun harganya yang begitu tinggi membuat dirinya berpikir ulang.
"Hanya ini satu-satunya toko yang letaknya paling strategis, setidaknya akan menghasilkan dua kali lipat di tahun pertama jika bisnisnya dapat berkembang dengan baik," imbuh pemilik toko meyakinkan.
"Aku bisa menambahkan uangnya," bisik Ezra.
Laura terkekeh. Wanita itu menggeleng. "Deal pak, saya ambil toko ini," mutlak Laura.
Akhirnya setelah dua jam menimbang-nimbang, Laura setuju untuk merubah toko ini menjadi miliknya.
Ia menyerahkan kartunya untuk di gesek dan menandatangani beberapa surat, selanjutnya ia akan mengurus lagi surat kepemilikan itu.
Setelah pemilik toko sebelumnya pulang, Ezra dan Laura masih berada di dalamnya. Keduanya mendiskusikan bagaimana cara merombak dan merubah toko itu agar menarik banyak pelanggan.
"Mengapa menolak bantuanku?" tanya Ezra.
"Aku masih memiliki cukup uang dalam kartu itu, tenang saja." Balas Laura.
Ezra hanya mengangguk. Laki-laki itu memperhatikan wanita di depannya yang tengah menggambar desain toko yang di inginkannya.
Ezra tiba-tiba teringat oleh pernyataan Brian yang tadi menghubungi dirinya.
"Brian bilang ada laki-laki asing yang memantau rumahmu," ucap Ezra.
Laura mengangguk, tangannya tetap fokus menggambar.
"Bagaimana jika itu memang Kendra?" tanya Ezra.
Laura hanya mengedikan bahunya. Seolah tak peduli, namun matanya tak berani menatap Ezra.
Laura tahu jika Ezra begitu hafal dengan dirinya jadi Laura tidak ingin Ezra khawatir melihat keadaannya yang kini sedang bimbang.
"Jangan tolak apapun yang kamu rasain, Kamu bisa membohongi orang lain. Tapi tidak untuk perasaanmu sendiri Laura," jelas Ezra.
Ezra tak ingin memperpanjang hal ini, namun sepertinya Laura benar-benar bimbang.
Ezra tak ingin hidup Laura semakin menderita. Terlebih saat ini sahabatnya itu sudah memiliki seorang anak. Yang artinya, apapun yang terjadi pada Laura akan selalu ada kaitannya pada Reynald.
Bagi Ezra cukuplah saat ini Reynald yang tumbuh seolah di paksa dewasa mengerti keadaannya yang tumbuh tanpa figur ayah.
Meskipun Laura tak pernah memaksa anaknya untuk mengerti, atau memaksa anaknya untuk lebih dewasa. Namun Reynald seolah tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dari seumurannya.
"Ingat Reynald, jangan sampai dia menjadi korban," peringat Ezra.
Ezra memperhatikan Laura yang seolah fokus namun olah tubuh wanita itu menunjukan bagaimana wanita itu terlihat begitu tidak nyaman. Ezra tahu kini Laura sangat tidak tenang.
Sahabat wanitanya itu terkadang tidak bisa memutuskan sesuatu dengan baik jika disaat-saat seperti ini.
Contohnya saja saat Laura mengiyakan permintaan keluarga Kendra untuk memindahkan dirinya yang sedang hamil ke Eropa.
***
Pemilik toko lama tadi kemudian menghampiri seorang laki-laki yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Jadi bagaimana pak?" tanya laki-laki itu.