Sampul Novel Pernikahanku, Bukan Denganmu

Pernikahanku, Bukan Denganmu

9.5 / 10.0
Lima tahun lalu di Puncak, aku merelakan penglihatanku demi menyelamatkan tunanganku. Namun, dia malah menuduh pengorbananku sebagai sandiwara. Dia lebih memedulikan sahabatnya, Amara, bahkan tega membelikannya gaun mewah serta memindahkan tempat pernikahan kami. Di hari pernikahan, dia justru meninggalkanku di altar untuk menemani Amara. Mengira aku akan terus tunduk, dia terkejut saat mencariku ke Bali dan mendapati tempat itu kosong. Aku sudah pergi ke gunung untuk menikahi pria lain.

Pernikahanku, Bukan Denganmu Bab 1

Lima tahun lalu, aku menyelamatkan nyawa tunanganku di sebuah gunung di Puncak. Insiden itu membuatku cacat penglihatan permanen—sebuah pengingat yang berkilauan, yang terus-menerus ada, tentang hari di mana aku memilihnya di atas penglihatanku yang sempurna.

Dia membalasku dengan diam-diam mengubah rencana pernikahan kami di Puncak menjadi di Bali, hanya karena sahabatnya, Amara, mengeluh di sana terlalu dingin. Aku mendengarnya menyebut pengorbananku sebagai "drama murahan" dan melihatnya membelikan Amara gaun seharga delapan ratus juta rupiah, sementara gaunku sendiri ia cibir.

Di hari pernikahan kami, dia meninggalkanku menunggu di altar untuk bergegas ke sisi Amara yang—sangat kebetulan—mengalami "serangan panik". Dia begitu yakin aku akan memaafkannya. Dia selalu begitu.

Dia tidak melihat pengorbananku sebagai hadiah, tetapi sebagai kontrak yang menjamin kepatuhanku.

Jadi, ketika dia akhirnya menelepon ke lokasi pernikahan di Bali yang kosong melompong, aku membiarkannya mendengar deru angin gunung dan lonceng kapel sebelum aku berbicara.

"Pernikahanku akan dimulai," kataku.

"Tapi bukan denganmu."

Bab 1

Sudut Pandang Binar Anjani:

Tunanganku mengubah lokasi pernikahan kami dari satu-satunya tempat di dunia yang paling berarti bagi kami, ke Bali, hanya karena sahabatnya, Amara, bilang Puncak terlalu dingin.

Aku berdiri di sana, tersembunyi di balik pot besar berisi pohon biola cantik di lobi firma investasi swasta milik Kian, dan kata-kata itu menghantamku seperti pukulan fisik. Udara serasa tersedot keluar dari paru-paruku, dan rancangan arsitektur kapel di Puncak yang kupegang erat, tiba-tiba terasa seperti tumpukan kertas tak berharga.

Selama lima tahun, Puncak adalah tempat suci kami. Itu lebih dari sekadar lokasi; itu adalah sebuah bukti. Di sanalah, di tebing berselimut salju, aku menemukan Kian, tubuhnya remuk dan tergantung pada seutas tali yang usang setelah manuver panjat tebingnya gagal total. Di sanalah, dalam upaya putus asa untuk menyelamatkannya, sebuah insiden membuatku menderita gangguan penglihatan neurologis kronis—dunia yang terkadang berkilauan dan kabur di tepinya, pengingat permanen akan hari di mana aku memilih hidupnya di atas penglihatanku yang sempurna.

Dan dia menukarnya dengan Bali. Untuk Amara.

Aku bisa melihatnya melalui dinding kaca ruang rapat, bersandar di kursinya, gambaran kesombongan yang kasual. Sahabat sekaligus rekannya, Gilang Wirawan, cerminan dunia Kian yang penuh privilese, duduk di tepi meja.

"Lo gila?" tanya Gilang, suaranya lirih nyaris tak terdengar. "Lo belum kasih tahu Binar?"

Kian melambaikan tangannya dengan acuh, fokusnya pada ponsel yang sedang ia mainkan. "Nanti gue kasih tahu. Dia bakal ngerti, kok."

"Ngerti? Kian, cewek itu punya binder. Binder yang lebih tebal dari laporan kuartal terakhir kita. Dia udah ngerencanain acara di Puncak ini setahun penuh. Itu... lo tahu... impian dia."

"Ini cuma pernikahan, Gilang, bukan peluncuran roket," desah Kian, suaranya penuh ketidaksabaran yang terasa seperti ribuan sayatan kecil. "Semua drama murahan soal gunung itu... udah basi. Lagian, Bali lebih bagus. Lebih seru buat pesta."

"Pestanya Amara," koreksi Gilang, senyum miring terukir di bibirnya. "Gue dengar dia ngeluh soal ketinggian."

"Asmanya kambuh kalau dingin," kata Kian, nadanya berubah, melembut dengan perhatian yang tidak pernah, sama sekali tidak pernah ia gunakan untukku. "Dia butuh udara hangat."

"Oh, 'asmanya'," kata Gilang, membuat tanda kutip di udara. "Asma yang sama yang nggak menghentikannya ikut pesta yacht di Kroasia?"

"Itu beda."

"Selalu beda kalau menyangkut Amara," gumam Gilang. "Jadi, lo beneran ngubah semuanya? Buat dia?"

"Gue nggak ngubah ini buat dia," bentak Kian, akhirnya mengangkat wajah dari ponselnya, rahangnya mengeras. "Gue ngubah ini karena Bali lebih asyik. Suasananya lebih bagus. Binar bakal ngerti."

Dia mengatakannya dengan keyakinan yang begitu santai. Binar bakal ngerti. Itulah kisah hubungan kami. Binar, yang bisa diandalkan, yang pengertian, yang selalu memberi dan tidak pernah meminta. Yang menyelamatkan hidupnya dan menanggung bekas lukanya, agar dia bisa terus menjalani hidupnya, tanpa hambatan.

"Dia tunangan gue. Dia cinta sama gue," lanjut Kian, senyum puas kembali menghiasi wajahnya. "Dia bakal bahagia di mana pun gue berada. Itu kesepakatannya. Dia udah buktiin itu di gunung."

Kekejaman pernyataannya sungguh membuatku sesak napas. Dia melihat pengorbananku bukan sebagai hadiah, tapi sebagai kontrak. Ikatan tak terpatahkan yang menjamin kepatuhanku.

Sebuah dering memecah udara. Wajah Kian berseri-seri saat menjawab telepon, menyalakannya dalam mode pengeras suara.

"Kian, sayang!" Suara Amara yang dibuat-buat manis memenuhi ruangan, penuh kepalsuan. "Kamu udah dapat?"

Gilang mencondongkan tubuh, matanya membelalak dengan minat yang teatrikal.

"Tentu aja udah," kata Kian, suaranya rendah dan intim, suara yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar ia gunakan padaku. "Barangnya nungguin kamu."

"Ya Tuhan, kamu emang yang terbaik. Rasanya pengen cium kamu!" pekiknya. "Yang Valentino? Yang kita lihat itu? Yang warna putih?"

Darahku terasa membeku. Yang warna putih.

"Betul sekali," Kian memastikan. "Langsung diterbangkan dari Paris."

"Delapan ratus juta, Kian! Kamu bener-bener manjain aku," serunya. "Aku janji bakal bikin ini setimpal."

"Aku tahu kamu bakal begitu," gumamnya.

Gilang bersiul pelan. "Delapan ratus juta buat gaun? Lo mau nikahin siapa, Kian, dia atau Binar?"

Kian tertawa, suara yang hampa tanpa humor. "Amara harus tampil paling baik. Dia bakal jadi bintangnya. Lo tahu kan dia serapuh apa."

Rapuh. Kata itu menggantung di udara, sebuah lelucon yang kejam. Aku teringat gaun pengantinku sendiri. Aku menemukannya di sebuah butik kecil yang elegan, gaun A-line sederhana dari sutra gading yang harganya jauh di bawah angka fantastis itu. Aku mengirimkan fotonya pada Kian, jantungku berdebar penuh semangat.

Dia hanya membalas dengan satu kata singkat: Oke.

Saat tiba waktunya membayar, dia melemparkan kartu kreditnya ke meja kasir dengan desahan kesal, seolah tagihan lima puluh juta rupiah adalah sebuah ketidaknyamanan yang luar biasa. Dia terus-terusan menelepon, mendesakku, mengeluh dia terlambat untuk main squash.

Delapan ratus juta untuk Amara. Lima puluh juta untukku.

Perhitungannya sederhana. Menghancurkan.

Pada saat itu, berdiri di belakang daun-daun layu tanaman lobi, seluruh arsitektur lima tahun hidupku bersama Kian Adhitama runtuh menjadi tumpukan puing dan debu.

Kilauan di penglihatanku semakin intens, tepi dunia menjadi kabur bukan karena kerusakan neurologis, tetapi karena air mata panas tanpa suara yang akhirnya mulai jatuh. Dia bukan hanya berselingkuh secara emosional. Dia sedang membangun kehidupan baru bersamanya, menggunakan batu bata cintaku dan semen pengorbananku.

Dan aku hanyalah fondasi, terkubur dan terlupakan.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pernikahanku, Bukan Denganmu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Jasmine Bintang, yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir, selalu dikecewakan oleh ibunya sendiri. Harapannya untuk bahagia sirna setelah menikah dengan Ardan Mahendra yang kaya raya. Alih-alih diterima, keluarga Ardan justru merendahkan fisiknya. Penderitaan Jasmine memuncak ketika Anindya, mantan kekasih suaminya, datang membongkar kepalsuan pernikahan mereka. Saat Jasmine menuntut cerai demi harga dirinya, Ardan menolak keras dan mengancam tidak akan membiarkannya pergi.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali dengan membawa wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menawarkan janji pernikahan palsu demi menikahi perempuan itu. Sebagai putri bangsawan sekaligus menantu dari dinasti konglomerat, aku menolak menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan ini, aku akan memastikan dia jatuh miskin tanpa sisa.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali beruntun di arena tak menghalangi Roderick untuk mengkhianatiku. Tunanganku itu justru asyik bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan perempuan itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick lenyap, digantikan pernyataan cinta untuk wanita lain di depanku. Dengan hati dingin, kuhubungi ayahku yang merupakan bos mafia. Aku meminta pertunangan ini dibatalkan demi mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika mengurus ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali bersama mentornya, Charli. Di sana, ia terpikat oleh Andini Wijaya, pemilik sekolah yang mandiri. Namun, hubungan mereka diuji saat mantan kekasih Andini, Junot, tiba-tiba kembali. Masalah kian rumit karena Lily, adik Andini, bertekad merebut Randika demi mendapat pengakuan dari ayah mereka, Sigit Wijaya. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan ambisi keluarga Wijaya, akankah cinta Randika dan Andini tetap bertahan?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Kehadiran Nadia membuat jalinan cinta Raka dan Cherry terancam kandas. Raka merasa tersisih karena kekasihnya itu selalu mendahulukan sang sahabat yang berkacamata tebal. Murka pun tak terbendung kala ia sadar posisinya telah tergeser menjadi nomor dua bagi Cherry. Namun, kecemburuan hebat ini justru menuntun Raka pada sebuah titik balik hidup yang sama sekali tak terduga. Mampukah hubungan mereka selamat saat prioritas Cherry tak lagi utuh untuknya?
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Pernikahan Mira Aditya dan Rafiq Jaya yang didasari perjodohan orang tua berujung duka. Mira harus menelan pil pahit setelah tahu suaminya telah menikahi cinta lamanya, Elena Faris, secara sembunyi-sembunyi. Tersisih dan terabaikan di rumahnya sendiri, Mira merasakan kepedihan yang luar biasa. Di tengah keputusasaan yang terus menyiksa batinnya, kini ia harus menentukan sikap: tetap bertahan dalam hubungan toxic ini atau melangkah pergi demi meraih kebahagiaannya sendiri.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED