Bab 1

Semilir angin malam menerpa rambut panjang seorang gadis yang saat ini tengah berjalan di tengah kegelapan, matanya yang bulat dan terlihat tajam kini menatap lurus ke arah depan.

Dia segera memasang tudung yang tersambung pada jubahnya agar wajahnya tidak bisa dilihat dengan jelas. Gadis itu memperhatikan sebuah gerbang yang berada cukup jauh di depan sana.

Terlihat puluhan pria bertelinga runcing dengan tombak dan panah tengah berjaga di depan pintu gerbang Nirthina, tempat yang menjadi hunian para peri. Mereka tinggal di Nirthina, mempunyai aturan dan hukum mereka sendiri.

Sudut bibir gadis bernama Le Delleraz itu sedikit tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman yang teramat tipis.

Delleraz mendongakkan kepalanya untuk menatap rembulan yang terlihat memancarkan cahayanya hingga kulit putih pucat Delleraz kini menjadi bersinar diterpanya.

"Ini waktunya," gumam Delleraz kemudian melangkahkan kakinya keluar dari gelapnya hutan.

Delleraz berjalan dengan tenang, menyusuri hamparan rumput hijau yang terasa basah. Kakinya terus melangkah membuatnya semakin mendekat pada gerbang Nirthina.

"Berhenti di sana!" terdengar suara lantang dari salah satu prajurit membuat Delleraz menghentikan langkah kakinya.

"Apa yang kau lakukan di sini? Sudah malam, tidak ada yang boleh bertamu ke Nirthina di malam hari. Kecuali jika kau sudah memiliki janji dengan Ratu Shanley!"

Delleraz menatap semua prajurit yang kini berdiri beberapa meter di hadapannya, para prajurit peri itu terlihat begitu waspada dengan senjata di tangan mereka.

"Aku tidak memiliki janji," ucap Delleraz dengan suara yang terdengar begitu lembut tetapi tegas secara bersamaan.

"Kalau begitu pergilah dari sini," usir prajurit-prajurit itu membuat bibir Delleraz sedikit berkedut mendengarnya.

"Aku akan pergi setelah mendapatkan apa yang ku inginkan."

Para prajurit itu saling menatap satu sama lain ketika Delleraz melangkah sedikit mundur sembari menurunkan tudung yang menutupi kepalanya. Kini mereka semua bisa melihat mata berwarna coklat gelap milik Delleraz dan wajahnya yang bisa dikatakan sempurna.

"Siapa kau? Pergilah dari sini!" tanya mereka merasa penasaran.

"Kalian pasti mengetahui namaku, apa......ini pertama kalinya kalian melihat wajahku?" Delleaz tersenyum tipis kemudian merentangkan kedua tangannya.

Tiba-tiba saja sebuah cahaya berwarna kemerahan muncul dari kedua telapak tangannya membuat para peri itu begitu terkejut melihatnya.

"Dia penyihir itu!"

"Dia Le Delleraz! Jangan biarkan dia masuk ke dalam Nirthina, dia pasti ingin melakukan kejahatan!"

Prajurit-prajurit itu langsung melemparkan tombak mereka ke arah Delleraz, puluhan anak panah juga mulai dilepaskan. Delleraz hanya diam dan tetap berdiri di tempatnya sebelum ia melepaskan cahaya yang berada di tangannya.

Kraak.

Kraak.

Puluhan anak panah dan tombak itu mengambang di udara kemudian patah begitu saja ketika cahaya yang Delleraz lepaskan menyelimutinya. Peri-peri itu terbelalak kaget, mereka menatap Delleraz dengan penuh kewaspadaan.

Tanpa mengatakan apapun, Delleraz langsung melompat ke udara dan berputar di sana. Ia mengambil serbuk berwarna hitam dari dalam tas kulit yang ia kenakan, serbuk itu berubah menjadi asap ketika terkena oleh angin. Asap itu langsung membuat para peri penjaga terbatuk-batuk ketika menghirupnya.

"Arghh! Apa ini?"

"Jangan sampai dia berhasil masuk!"

"Di mana penyihir itu? Aku tidak melihat apapun!"

Suara panik dari para peri itu terdengar selama beberapa saat karena mereka tidak bisa melihat dengan jelas di mana keberadaan Delleraz, asap itu benar-benar berhasil menutupi pandangan mereka hingga pada akhirnya mereka semua ambruk ke tanah dan kehilangan kesadaran.

Delleraz kembali menginjakkan kakinya di atas tanah, ia menatap datar puluhan peri penjaga yang sudah tidak sadarkan diri.

"Kalian akan bangun dalam kegelapan besok pagi," gumam Delleraz lalu berlajan menuju ke depan pintu gerbang, ia mencoba untuk membukanya, tetapi tidak bisa karena sihir peri yang melindunginya.

Delleraz mengambil nafasnya dalam-dalam, dia sudah mempelajari banyak hal. Delleraz tidak akan berani ke Nithina jika tidak dengan persiapan yang matang. Delleraz menggenggam akar yang menjuntai di depan pintu gerbang itu sembari merapalkan sesuatu dengan begitu cepat.

Hanya dalam waktu sekejap, pintu gerbang itu terbuka lebar untuknya. Tidak ingin membuang kesempatan, Delleraz segera masuk. Keindahan hutan Nithina langsung terlihat di depan matanya, di setiap pepohonan terdapat rumah untuk para penduduk Nirthina.

Di sana tampak begitu bercahaya dan juga hijau, menunjukkan kesuburan tanahnya. Hal itu membuat siapapun yang memandangnya akan merasa damai dan tenang. Delleraz membawa langkah kakinya melewati rumah demi rumah penduduk Nirthina, tidak ada siapapun yang melihatnya.

Semua peri telah terlelap di dalam rumahnya masing-masing, Delleraz tahu bahwa pada larut malam seperti sekarang ini tidak akan ada lagi peri yang berada di luar rumah. Mungkin itu adalah peraturan dari sang ratu, atau memang sebuah kebiasaan yang membuat hutan Nirthina begitu senyap ketika malam hari.

Delleraz segera bersembunyi di balik salah satu pohon saat ia sudah sampai di tengah-tengah hutan Nirthina. Di sana terdapat satu pohon berukuran begitu besar yang dijaga oleh puluhan prajurit di sekitarnya.

Di batang pohon itu terdapat sesuatu yang begitu berharga dan dibutuhkan oleh para peri.

"Permata Damanta," gumam Delleraz dengan mata yang berbinar melihat betapa indahnya permata itu.

Delleraz menatap para prajurit yang terus berlalu lalang di depan pohon itu, dia tidak akan bisa menyelinap dan mengambil permata Damanta begitu saja karena permata itu dijaga dengan ketat selama 24 jam.

Bagaimana tidak? Permata Damanta sudah seperti kehidupan dan nyawa bagi para peri, permata itu memberikan kesuburan dan cahaya di dalam hutan Nithina. Permata Damanta juga memberi energi serta kekuatan untuk mereka. Para peri bahkan menjulukinya sebagai permata kehidupan, dan Delleeaz akan mengambil kehidupan itu dari mereka.

Delleraz segera mengeluarkan serbuk hitam yang masih tersisa dari dalam tasnya, ia menggenggam serbuk itu erat-erat sebelum keluar dari tempat persembunyiannya.

Para prajurit tersentak kaget melihat kedatangannya.

"Berhenti di situ!"

Delleraz tidak menghiraukannya, gadis itu malah berlari membuat para prajurit peri langsung memanahinya. Delleraz segera melemparkan serbuk yang ia genggam ke arah prajurit itu kemudian berguling untuk menghindar dari puluhan anak panah yang sudah sempat mereka lepaskan.

"Arghh! Uhuk uhuk," mereka semua terdengar batuk dan tentunya merasa sesak nafas.

"Satu."

"Dua."

"Tiga."

Tepat dihitungan ketiga, para penjaga itu ambruk begitu saja membuat Delleraz buru-buru melompat tinggi agar bisa mengambil permata Damanta.

Delleraz mulai memasang sarung tangan berwarna hitam agar kulitnya tidak langsung bersentuhan dengan permata Damanta, ia tersenyum saat melihat permata yang begitu berharga itu kini berada tepat di depan matanya.

Delleraz menatap permata itu lekat-lekat sebelum mengambilnya dari batang pohon membuat cahaya di hutan Nirthina langsung redup seketika, bahkan tumbuhan yang tadinya terlihat hijau langsung berubah layu dan menghitam seperti habis terbakar.

"Ada apa ini?!"

"Permatanya!"

Suara keributan mulai terdengar membuat Delleraz segera memasukkan permata Damanta ke dalam tas kulit yang ia selempangkan di balik jubah setelah membungkusnya dengan selembar kain berwarna hitam.

"Ada pencuri!" teriak para prajurit peri yang kini berdatangan dari segera arah, hal itu membuat Delleraz terkurung di tengah-tengah mereka.

"Dia penyihir itu!"

Delleraz berdiri dan menatap mereka semua dengan waspada.

"Tangkap dia!"

Puluhan anak panah dan tombak dilepaskan ke arahnya, dapat Delleraz lihat para penduduk Nirthina yang keluar dari rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi saat ini.

"Sial," Delleraz mengumpat pelan karena tidak menyangka bahwa hutan Nirthina akan langsung kehilangan cahaya ketika ia mencabut permata Damanta dari batang pohonnya sehingga kini ia langsung ketahuan dan dikepung oleh para prajurit peri.

Delleraz langsung mengeluarkan pedang yang selalu ia bawa, dengan cepat ia menangkis setiap anak panah yang melesat ke arahnya. Delleraz melompat dan mengarahkan sihirnya untuk menghalau para prajurit peri agar tidak bisa menyerangnya dengan pedang mereka yang begitu panjang dan tentunya tajam.

Tiba-tiba saja sosok gadis dengan tubuh yang memancarkan cahaya datang dan langsung melepaskan anak panah ke arahnya. Mata Delleraz melebar melihatnya, ia segera menghindar dan menangkis dengan pedang andalannya hingga anak panah itu terbelah menjadi dua.

"Jangan biarkan penyihir itu membawa permataku!"

Bab 2

Shanley adalah seorang ratu yang memimpin hutan Nirthina dan semua peri yang berada di dalamnya. Shanley terlihat begitu murka, netranya yang berwarna putih seperti salju terlihat begitu tajam menatap Delleraz.

Melihat kedatangan Shanley tentunya membuat Delleraz semakin waspada, ia terus bergerak menangkis dan membalas serangan para prajurit peri sembari mencari cara agar bisa melarikan diri dari hutan Nirthina dalam keadaan masih bernyawa.

Delleraz berputar dengan pedang yang mengayun cepat sehingga benda tajam itu berhasil mengenai tubuh beberapa peri.

"Arghh!"

Suara desingan pedang dan teriakan mulai memecah keheningan hutan Nirthina. Mata Delleraz memicing, ia segera menghunuskan pedangnya ke arah belakang, dan benar saja, ada seorang peri yang berniat untuk menebasnya.

Delleraz mencabut pedangnya dengan cepat kemudian kembali bergerak secepat mungkin, beruntung keahliannya dalam berpedang bisa melindunginya di saat sedang terdesak seperti sekarang ini. Tidak salah ia mempelajari berbagai senjata untuk melindungi dirinya agar dia tidak hanya mengandalkan sihirnya.

Melihat beberapa prajuritnya yang sudah mati dan juga kewalahan membuat Shanley menggeram marah.

Shanley segera melesat cepat dengan pedang yang sudah terangkat tinggi, pedangnya terlihat memancarkan cahaya membuat Delleraz langsung melompat. Bukannya lari, Delleraz malah melesat ke arah yang berlawanan dengan Shanley membuat keduanya seperti akan bertabrakan.

Prang!

Dua benda logam itu kini bertemu sehingga menimbulkan suara desingan yang begitu memekakkan telinga.

Delleraz menangkis setiap serangan anak panah dan tombak yang mengarah kepadanya disela-sela pertarungannya dengan Shanley. Wanita peri itu menyerangnya dengan amarah, Shanley terlihat sangat lihai memainkan pedangnya membuat Delleraz tidak bisa menganggap enteng gadis bertelinga runcing itu begitu saja.

Prang!

Pedang milik Shanley hampir saja menghunus jantung Delleraz, namun Delleraz berhasil menahannya dengan menggunakan pedangnya sekuat tenaga.

Netra keduanya kini saling bertemu, Shanley menatapnya tajam seolah sangat ingin membunuh dan mengulitinya hidup-hidup.

"Dasar pencuri," desis Shanley yang mana membuat Delleraz tersenyum miring.

"Katakan itu pada ibumu," sahut Delleraz kemudian menendang perut Shanley membuatnya terpelanting.

"Arghh!"

Punggung Shanley membentur pohon dengan keras, ia sampai terbatuk-batuk sembari memegangi perutnya.

Melihat para prajurit yang ingin kembali menyerangnya membuat Delleraz segera berlari sekencang mungkin sembari sesekali melompat. Delleraz tidak mungkin menghadapi Shanley dan semua prajuritnya, dia bisa kewalahan atau bahkan mati di Nirthina.

Delleraz berlari cepat dengan pedang yang sudah ia sarungkan, tangannya bergerak meraba tasnya. Di sana ada bungkus permata Damanta dan juga bungkus serbuk hitam miliknya.

"Ini serbuk terakhir," gumamnya kemudian menggenggamnya erat.

Delleraz menoleh ke belakang, terlihat para prajurit peri dan juga Shanley yang juga mengejarnya.

Tanpa pikir panjang lagi, Delleraz segera melompat kemudian melemparkan serbuk hitam itu ke udara.

"Apa itu?"

"Menghindar!" teriak Shanley bersamaan dengan asap hitam yang mulai menyelimuti mereka.

Beberapa prajurit langsung berjatuhan karena menghirup asap itu.

Delleraz menatap pintu gerbang di depannya, pintu itu terlihat bergerak ingin menutup dirinya sendiri. Dan Delleraz yakin bahwa Shanley yang mengendalikan pintu gerbang itu dengan sihirnya.

"Kau tidak akan bisa mengurungku di Nirthina!"

Delleraz merapalkan sihirnya membuat tubuhnya kini memancarkan cahaya berwarna kemerahan, pintu gerbang Nirthina langsung terbuka lebar kembali membuat Delleraz tersenyum miring karena nyatanya sihir Shanley tidak sekuat sihirnya.

"Selamat tinggal Shanley," Delleraz menoleh ke belakang untuk memberikan senyuman kepada Shanley.

Wanita peri itu terlihat tidak menyerah untuk mengejarnya, Shanley kembali mengeluarkan busur panahnya kemudian membidik Delleraz yang berlari depannya.

Wusshhh!

Anak panahnya meluncur dengan cepat, namun tiba-tiba saja Delleraz berguling lalu menaiki seekor kuda berwarna putih yang muncul tanpa diduga-duga.

"Arghh kembalikan permataku Le Delleraz!" teriak Shanley penuh kemarahan.

Kuda yang ditunggangi oleh Delleraz berlari begitu cepat membuat rambut panjang Delleraz berkibar ke sana-kemari, terlihat sangat indah. Wajahnya yang sempurna tampak begitu dingin, cahaya rembulan membuatnya terlihat bersinar. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpukau jika tidak mengetahui siapa dirinya.

"Lebih cepat lagi, Orla. Aku masih merasakan kehadiran mereka, para peri itu pastinya mengejarku," bisik Delleraz kepada kudanya.

Sesekali ia menoleh ke belakang, walaupun para peri itu tidak terlihat, tetapi Delleraz tahu bahwa mereka tidak akan melepaskan dirinya begitu saja. Shanley dan para prajurit Nirthina pasti masih mengejarnya.

Tiba-tiba saja Orla berhenti bahkan hampir melompat membuat Delleraz tersentak kaget dan langsung kembali menatap ke arah depan.

Matanya sedikit melebar melihat sosok serigala bertubuh besar dengan bulu berwarna hitam legam dan mata merah seperti darah kini berdiri menghadangnya.

"Menyingkir dari jalanku, Laccuan Holt," suara Delleraz terdengar sangat tenang, begitu juga dengan wajahnya.

Sosok serigala itu terdengar menggeram kemudian merubah wujudnya menjadi seorang pria manusia berwajah menawan dan tubuh kekar yang sempurna. Terlihat pahatan di perut kotak-kotaknya, rahang tegasnya tampak begitu pas dengan matanya yang tajam.

Pria itu adalah Laccuan Holt, seorang pemburu yang selama tiga bulan ini selalu mengejar-ngejar Delleraz dan mencari keberadaannya. Delleraz tidak tahu siapa yang memerintahkan Laccuan Holt, yang jelas dia harus menghindar karena pria itu berbahaya.

Laccuan Holt pemburu brutal yang bisa melakukan apa saja demi uang ataupun harta.

"Akhirnya kita bertemu lagi, Delleraz."

Suara berat yang sudah cukup lama tidak didengar lagi oleh Delleraz kini kembali masuk ke dalam telinganya.

Delleraz menatapnya dingin, "Kau tidak akan bisa menangkapku, aku bukan buruan yang tepat."

"Tentu saja aku bisa," Laccuan tersenyum tipis untuk sesaat sebelum ia mengernyit karena mendengar suara tapak kaki puluhan kuda yang berasal dari arah belakang Delleraz.

"Apa lagi yang sekarang kau lakukan?" tanya Laccuan namun hanya mendapatkan senyuman sinis dari Delleraz.

"Aku tidak memiliki urusan denganmu."

Delleraz menoleh ke belakang, kini terlihat puluhan kuda yang ditunggangi oleh para prajurit peri dan juga Shanley. Mereka memacunya dengan cepat ketika melihat Delleraz yang berhenti di tengah luasnya padang rumput.

"Sekarang para peri, apa yang sudah kau curi dari mereka?"

Delleraz kembali menatap Laccuan Holt, "Kau pasti tahu apa yang sudah ku curi dari peri-peri itu."

"Jangan sampai dia lolos lagi!"

"Panah!"

Teriakan Shanley terdengar nyaring, puluhan anak panah segera dilepaskan oleh para prajurit peri ke arah Delleraz.

Melihat Laccuan yang tidak kunjung menyingkir dan sepertinya benar-benar akan menangkapnya membuat Delleraz segera membaca sihirnya sembari mengusap kepala Orla.

Matanya menatap netra milik Laccuan Holt lekat-lekat seolah akan menenggelamkannya. Bahkan Delleraz tidak mempedulikan puluhan anak panah serta tombak yang menghujaninya, sihirnya membuat semua senjata itu menjadi tidak berguna karena semuanya hancur di udara sebelum mengenai dirinya.

"Arghh serang dia!"

Shanley terlihat sudah siap dengan pedangnya, ia memacu kudanya secepat mungkin agar mendekat kepada Delleraz.

Laccuan hanya tersenyum melihat kabut hitam yang menyelimuti tubuh Delleraz, sepasang sayap yang begitu kokoh dan besar muncul secara tiba-tiba di kedua sisi tubuh Orla.

Wusshhh!

Ayunan pedang Shanley tentunya meleset karena Orla yang langsung membawa Delleraz terbang tinggi.

Delleraz tersenyum penuh kemenangan kemudian mengeluarkan permata Damanta dan mengangkatnya tinggi untuk memperlihatkan kepada Laccuan dan juga Shanley bahwa dia berhasil mencuri permata Damanta yang sangat berharga untuk para peri.

"Aku pasti akan membunuhmu Le Delleraz!" teriak Shanley sembari terus berusaha memanah Delleraz yang sudah terbang tinggi bersama dengan Orla dan perlahan menjauh, menghilang dari pandangan mereka.

Laccuan hanya diam di tempatnya membuat Shanley menatapnya tajam.

"Kau! Kenapa kau membiarkannya kabur begitu saja? Kenapa kau tidak langsung menangkapnya?"

"Aku tidak memiliki urusan dengannya," sahut Laccuan Holt lalu kembali merubah wujudnya menjadi sosok serigala.

Laccuan Holt berlari dengan cepat meninggalkan Shanley dan para prajuritnya yang tampak kalang kabut karena Delleraz berhasil kabur membawa permata Damanta.

Laccuan tidak akan menangkap Delleraz untuk para peri itu, dia memiliki tugas dari orang lain, dan dia diperintahkan untuk bisa menangkap Delleraz hidup-hidup. Tugas yang sangat sulit, menangkap gadis itu tidaklah mudah. Namun dia adalah Laccuan Holt, dia menyukai tantangan dan dia tidak pernah melepaskan buruannya begitu saja. Dia akan terus mengejar Le Delleraz sampai bisa mendapatkannya.

Bab 3

Shanley kembali dengan perasaan marah dan juga takut, melihat hutan Nirthina yang gelap membuatnya tidak bisa tenang. Shanley merasa bersalah terhadap para penduduk Nirthina karena tidak bisa kembali dengan membawa permata Damanta dan mayat Delleraz.

Shanley benar-benar baru kali ini berhadapan langsung dengan seorang penyihir bernama Le Delleraz, dan ia sangat terkejut karena ternyata Delleraz memang sehebat itu. Bukan hanya sihir, namun Delleraz juga pandai bertarung, hal itu membuat Shanley merasa kalah telak.

Ternyata kabar angin tentang kehebatan Le Delleraz bukanlah isapan jempol semata, Shanley bahkan bisa merasakan kuat dan hitamnya energi di dalam tubuh Delleraz.

Gadis peri berambut putih itu melangkahkan kakinya cepat menuju ke arah goa di mana tempat ibunya berendam. Shanley berdiri di pinggir danau yang berada di sana dengan rasa resah dan penasaran yang ia rasakan.

Belum sempat ia memanggil ibunya, sosok wanita berambut panjang dan mata yang tajam sudah muncul kepermukaan. Luciana menatap sang putri yang terlihat berantakan seperti baru saja bertarung.

"Ada apa Shanley?" tanya Luciana tanpa keluar dari dalam air.

Sudah hampir seratus hari ia berendam di dalam air danau yang ia yakini begitu suci dan bisa menambah energi ke dalam tubuhnya.

Shanley menggigit bibir bawahnya pelan, dia merasa takut akan kemarahan ibunya. Namun Shanley tidak bisa berbohong karena cepat atau lambat Luciana pasti akan langsung mengetahui tentang hilangnya permata Damanta dari Nirthina.

"Permata Damanta berhasil dicuri," ucap Shanley membuat mata Luciana terbelalak.

"Apa maksudmu Shanley?! Katakan dengan benar!" suara Luciana terdengar meninggi membuat Shanley segera duduk bersimpuh di atas tanah.

"Permata Damanta dicuri oleh seorang penyihir bernama Le Delleraz, ibu. Sekarang ini, jika ibu keluar dari goa, maka ibu akan melihat hutan Nirthina yang gelap dan mati."

"Bagaimana bisa itu terjadi?! Bukankah permata itu dijaga dengan ketat? Bagaimana bisa seorang penyihir mencuri permata Damanta?!"

Luciana benar-benar terlihat murka, amarahnya semakin membesar saat mendengar pencuri itu adalah seorang penyihir.

"Penjagaan memang ketat, tapi penyihir itu sangat lihai. Aku sudah mencoba untuk mengejarnya, aku bahkan sempat bertarung dengannya tapi-"

"Dia berhasil mengalahkanmu?!" potong Luciana membuat Shanley segera menggelengkan kepalanya cepat.

"Bukan begitu ibu, tapi dia kabur. Penyihir itu cepat dan gesit, ini memang salahku karena tidak bisa menghentikannya."

Shanley menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap wajah ibunya.

"Ini semua memang salahmu! Kau ingin membiarkan para penduduk Nirthina yang merupakan rakyatmu hidup sengsara? Kau ingin membuat para peri kehilangan sebagian energi?"

"Tidak ibu, aku berjanji akan mengambil permata itu kembali. Akan ku pastikan penyirih itu mati di tanganku."

Luciana melayangkan tatapan tajam kepada Shanley.

"Itu harus! Kau harus bisa mengambil permata itu, aku akan segera menyelesaikan pertapaan ini secepatnya. Siapa sebenarnya penyihir bernama Le Delleraz itu? Baru kali ini aku mendengar namanya."

"Aku juga tidak tahu siapa dia, yang aku tahu dia adalah seorang penyihir yang tiba-tiba saja muncul dan membuat kekacauan. Sudah tiga bulan lebih, dia bahkan pernah menyerang perkampungan manusia yang masih menjadi wilayah Raja Godwin. Le Delleraz juga mampu mengutuk selir Raja Godwin, dan kekacauan terakhir yang ia buat, dia mencuri permata kita, permata Damanta."

Luciana mengernyit mendengar cerita Shanley, dia benar-benar tidak pernah mengenal seorang penyihir bernama Le Delleraz, dia bahkan tidak pernah mendengar namanya. Selain itu, Luciana merasa sangat terkejut karena mendengar bahwa masih ada penyihir sehebat itu saat ini.

"Dia pasti memiliki tujuan tertentu, penyihir itu tidak akan melakukan sesuatu tanpa adanya tujuan."

"Ibu, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan," ucap Shanley sembari mengangkat pelan kepalanya.

"Apakah ibu benar-benar tidak mengenalnya?"

"Aku bahkan tidak pernah mendengar namanya, ada apa?"

Shanley tertegun untuk sejenak sebelum kembali membuka suara.

"Secara tidak langsung, dia mengatakan bahwa ibu adalah pencuri saat aku sedang bertarung dengannya. Apa yang sudah ibu curi darinya?"

🦋🦋🦋

Orla mendarat tepat di tengah-tengah hutan Sheridan, bersamaan dengan itu, sayap Orla langsung menghilang dari tubuhnya. Delleraz melompat turun, ia tersenyum menatap Orla kemudian mengelus lembut kepalanya.

"Terima kasih karena sudah datang tepat waktu, tunggulah di sini," ucapnya kepada Orla yang memang mengerti dengan perkataannya.

Delleraz segera melangkahkan kakinya menyusuri hutan Sheridan yang tampak begitu gersang, semua pohon yang berada di sana mati, tidak ada tumbuhan hijau yang terlihat. Tanah yang dipijak oleh Delleraz bahkan tampak retak dan berwarna hitam.

Hutan itu selalu terlihat gelap walaupun di siang hari, entah mengapa cahaya tidak bisa menembusnya. Delleraz menaiki gunung yang berada di hutan itu dengan mudahnya, ia terus melompat dan berlari hingga menemukan sebuah rumah kayu dua tingkat yang berukuran cukup besar.

Burung gagak mulai berbunyi nyaring melihat kedatangannya, bisa Delleraz lihat adanya kabut hitam yang menyelimuti rumah itu, hanya para penyihir sakti dan orang-orang berilmu tinggi yang bisa melihatnya. Kabut itu berfungsi untuk menyembunyikan rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, lebih tepatnya tempat dia bersembunyi dari dunia.

Delleraz merapalkan mantra yang dapat membuatnya menembus kabut hitam itu, pintu utama rumah tersebut seketika terbuka lebar seolah mempersilahkannya untuk segera masuk.

Delleraz buru-buru masuk ke dalam membuat pintu langsung kembali tertutup rapat, namun Delleraz sama sekali tidak merasa terkejut. Ia mengedarkan pandangannya, di ruang utama tidak terlihat siapapun. Delleraz segera membawa langkah kakinya menyusuri lorong yang cukup panjang hingga ia sampai di depan sebuah pintu, sihir yang melindungi pintu itu tentunya lebih kuat dari pada sihir yang digunakan untuk melindungi rumahnya.

Belum sempat membacakan mantra untuk membukanya, pintu tersebut sudah terbuka secara perlahan menimbulkan bunyi yang khas.

Kini terlihat tangga yang memanjang ke bawah, tangga itu akan membawanya ke ruang bawah tanah. Tanpa ragu, Delleraz menuruni undakan tangga satu persatu karena ia tahu bahwa ia sudah ditunggu saat ini.

"Kau berhasil, Delleraz?" suara seorang pria yang begitu ia kenali langsung terdengar.

"Tuan tahu aku akan berhasil."

"Aku senang mendengarnya, Delleraz. Kau memang dapat di andalkan, aku tahu mencuri permata Damanta dari para peri bukanlah hal yang mudah. Tapi kau bisa melakukannya," Rusalka terlihat begitu senang menyambut kedatangan Delleraz yang membawa keberhasilan.

Delleraz tidak menunjukkan ekspresi apapun, dia memang selalu terlihat dingin bahkan di hadapan teman-temannya sekalipun. Namun gadis berambut ikal bernama Rusalka itu tentunya mengerti dan sangat paham dengan sikapnya, karena mereka sudah bersahabat sedari kecil, mereka selalu bersama-sama walaupun dengan sifat yang sangat berbeda.

"Perlihatkan permata Damanta kepada kami semua, Delleraz" perintah Jordan, pria yang dipanggil dengan sebutan 'Tuan' oleh Delleraz dan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.

Delleraz segera mendekat membuat mereka semua kini berdiri mengeliling meja bundar yang di atasnya terdapat sebuah wadah. Di dalam wadah itu terdapat air yang mengeluarkan cahaya berwarna kehijauan serta abu hitam yang begitu pekat.

Tanpa mengatakan apapun, Delleraz merogoh permata Damanta yang ia bungkus dengan kain hitam. Terlihat cahaya berwarna hijau yang memancar bahkan sebelum kain itu di buka.

Bibir Delleraz sedikit berkedut melihat raut wajah Shawn, Nolan, Sardes dan juga Rusalka yang terlihat menegang saat dirinya mulai membuka kain tersebut.

Kini permata Damanta yang begitu berharga bisa mereka lihat secara nyata, mereka semua tentunya mengagumi permata tersebut. Bukan karena bentuknya, tetapi karena energi yang berada di dalamnya. Para penyihir itu bisa merasakan kuatnya energi yang dimiliki oleh permata Damanta.

"Para peri itu pasti akan memburumu, Delleraz. Permata yang kau curi ini memiliki energi yang sangat kuat," ucap Sardes dengan mata yang tidak lepas dari permata Damanta yang masih dipegang oleh Delleraz.

"Karena energinya lah kita mengincar permata ini, Delleraz tidak akan diperintahkan mencuri permata biasa," sahut Nolan membuat Delleraz tersenyum kecil.

"Tuan bisa memegangnya," Delleraz menadahkan tangannya di depan wajah Jordan, dapat ia lihat mata Jordan yang tampaknya berbinar.

Jordan segera mengambil alih permata tersebut dari tangan Delleraz.

"Permainan kita baru saja dimulai, permata ini adalah langkah awal," Jordan meletakkan permata Damanta ke dalam wadah sehingga cahayanya langsung tertahan di dalam sana.

"Ku kira permainan kita sudah dimulai sejak kita menyerang Mallacht," ucap Rusalka membuat Shawn menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak, Rusalka. Itu bukan permulaan, tapi itu adalah peringatan agar mereka berhati-hati."

"Delleraz, kau ingin ke mana?" tanya Sardes melihat Delleraz melangkah menjauh.

"Aku akan ke kamarku untuk beristirahat, aku mengantuk. Penyihir juga perlu tidur," jawab Delleraz tanpa menoleh sama sekali.

Rusalka menghembuskan nafasnya panjang kemudian kembali menatap permata Damanta.

"Delleraz tidak pernah berubah."

Delleraz keluar dari ruang bawah tanah kemudian menaiki undakan tangga. Di lantai dua rumah itu terdapat kamar Delleraz, Rusalka, dan juga Sardes, serta beberapa ruangan yang dibiarkan kosong.

Gadis itu masuk ke dalam kamarnya, di dalam sana hanya terdapat satu buah ranjang berukuran sedang yang berada tepat di samping jendela kaca. Ada juga lemari kayu serta meja dan kursi yang di atasnya terdapat banyak sekali tumpukan buku.

Delleraz melepas jubahnya lalu menggantungnya. Ia duduk di tepi ranjang, matanya menatap ke arah luar jendela, hanya ada kabut tebal dan beberapa burung gagak yang ia lihat. Burung-burung itu terus bergerak mengitari rumah, mereka adalah penjaga yang akan memberitahu kepada mereka jika ada seorang penyusup yang mendekat atau bahkan menyelinap.

Gadis itu menurunkan sedikit bajunya, memperlihatkan bahunya yang mulus. Tangannya bergerak meraba dada kirinya, di sana terdapat bekas luka membuatnya tersenyum miris.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED