Drttt... drtt... drtt...
"AKBP Orlando Atmanegara, harap ke Timor Kupang Pati secepatnya. Ada bandeng 810 mengambang di rawa-rawa."
"Medan Demak?"
"Kemungkinan besarnya seperti itu. Makanya saya menugaskan Anda untuk mendapatkan laporan kongkritnya. Segera kabari saya setelah bandeng dibawa ke Rembang Solo untuk di lakukan otopsi."
"Siap 86!"
Orlando menutup percakapan via ponsel pintarnya, untuk segera melaksanakan tugas-tugas yang sudah menantinya. Sejak mengabdikan diri menjadi seorang aparat negara ini, hidup matinya memang sudah ia serahkan pada Allah dengan segala resiko yang mengikutinya. Dalam menangani semua resiko berat sehubungan dengan pekerjaannya sebagai seorang polisi, ia selalu bersikap pasrah dan wallahu a'lam bish- shawabi. Yang penting ia selalu bersikap professional dan amanah. Selebihnya ia menyerahkan semuanya pada kuasa Allah Subhanawata'ala.
Orlando merapatkan jaketnya. Tengah malam seperti ini cuaca begitu dingin merasuk hingga ke tulang. Dia membawa serta dua orang anak buahnya untuk membantunya memeriksa keadaan mayat yang diduga telah meninggal dunia akibat aksi pembunuhan. Hujan rintik-rintik mulai memercikan air pada jaket parasutnya. Keadaan di rawa-rawa ini pun semakin lama menjadi semakin hening dan mencekam. Orlando kian menyusupkan kedua lengannya dalam-dalam ke saku jaketnya. Mencoba mencari sedikit kehangatan di sana.
Dari jarak sekitar tiga ratus meter, dia melihat dua orang anak buahnya yang lain sedang menyeret sesosok tubuh kedaratan. Dari jarak sejauh ini saja Orlando tahu kalau korbannya itu pastilah seorang wanita. Karena roknya terlihat begitu panjang hingga menutupi mata kakinya. Tubuh itu menelungkup. Tergeletak dengan kedua lengan tertekuk bagaikan boneka kain yang dilemparkan sembarangan oleh pemiliknya.
"Apakah kantong jenazah sudah disiapkan? Kita akan langsung tandu saja jenazah ini dan membawanya ke Rembang Solo untuk diotopsi oleh Pak Raju. Sete—"
Uhukkk... uhukkk...
Mereka berlima sangat kaget. Karena sesosok tubuh yang mereka kira sudah meninggal itu tiba-tiba saja terbatuk-batuk hebat. Orlando dan Bripda Sahat segera mengangkat tubuh lemah korban dan membaringkannya ke tanah. Setelah korban batuk-batuk tadi, kembali tubuh itu terlihat diam dan tidak lagi bergerak mau pun bersuara.
Orlando mendekatkan telinganya ke dekat mulut dan hidung si korban dan merasakan apakah ada udara di pipinya. Ia juga memperhatikan apakah apakah dada si korban bergerak atau tidak.
Karena tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan, Orlando pun mulai memeriksa nadinya selama sekitar sepuluh detik. Karena masih juga tidak ada reaksi, Orlando memutuskan untuk melakukan resusitasi jantung paru-paru atau cardiopulmonary resuscitation, yang biasa di kenal dengan istilah CPR. CPR adalah tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali.
Orlando memencet hidung korban sampai tertutup, dan meniupkan dua detik napas buatan. Usai meniupkan dua napas, Orlando menekan dada korban sebanyak 30 kali. Orlando coba menerapkan teknik 30 kompresi dan 2 napas sambil menunggu reaksi korban. Saat ia melihat dada korban mulai naik, ia kembali mengulangi prosedur tersebut hingga korban kembali terbatuk-batuk dan memuntahkan air rawa-rawa dari mulutnya.
Orlando perlahan mencoba mengangkat kepala korban kearah lutut. Rambut hitam legamnya seketika memercikkan air di celana panjangnya. Kulitnya tampak begitu pucat seperti tidak lagi dialiri oleh darah. Saat memegang belakang kepalanya, ada benjolan sebesar telur ayam di sana. Tetapi semakin lama Orlando rasanya semakin mengenal sosok wanita yang tergolek lemah dalam lengannya ini.
Walaupun dalam keadaan babak belur dan pakaian compang-camping tidak karuan, Orlando jelas mengenalinya. Bahkan Orlando yakin satu Indonesia raya juga mengenalnya. Dia adalah Candramaya Daniswara. Mantan penjaja cinta kelas atas yang akhirnya dinikahi oleh pengusaha tampan dan mapan Nayaka Bratadikara.
Dalam pekerjaannya sebagai seorang polisi, Orlando selalu saja bersinggungan dengan penjahat mulai dari kelas kakap sampai dengan kelas teri. Para penjaja cinta sesaat mulai dari tarif ratusan ribu sampai ratusan juta sudah sering dihadapinya. Tetapi seburuk-buruknya mereka, tidak ada yang menandingi buruknya wanita yang saat ini tergolek lemah dilengannya.
Maya, demikian wanita ini biasa dipanggil, telah menjalani professinya menjadi seorang wanita panggilan sejak ia tamat SMA. Keadaan keuangan keluarganya yang di bawah standard sementara ia mendambakan kehidupan glamour telah memaksanya memilih jalan yang salah. Karena yang dipunyainya hanyalah kecantikan tanpa ada isi sama sekali. Maka kehidupan malamlah yang dipilihnya sebagai jalan pintas menuju cita-citanya yang ingin menjadi seorang sosialita kaya papan atas.
Sewaktu kedua orang tuanya memintanya untuk berhenti melakukan kegiatan maksiat, ia malah mengancam ibunya agar bisa menghidupinya seperti ini, baru ia akan berhenti menjual diri. Jika ibunya tidak bisa memberikannya kemewahan dan kenyamanan seperti yang ia rasakan saat ini, maka ia meminta ibunya untuk menutup mulut dan matanya sekaligus kalau ibunya malu mempunyai anak seperti dirinya. Oleh karena itulah Orlando mengatakan bahwa Maya ini adalah seburuk-buruknya manusia dari manusia buruk lainnya.
Bahkan saat dia belum resmi bercerai pun, ia sudah main gila dan menjadi istri simpanan seorang politisi terkenal negeri ini. Saat istri sah sang politisi melabraknya, Maya malah membiarkan dirinya di hajar oleh istri sang politisi sebelum akhirnya ia melalukan visum dan menuntut istri sang politisi dengan tuduhan penganiayaan berencana. Maya baru mau mencabut tuntutannya setelah sang politisi menceraikan istri sahnya sebagai imbalan karena telah mencabut tuntutannya. Begitulah kejamnya manusia tidak berhati yang memiliki nama begitu indah, Candramaya Daniswara ini. Iblis pun sepertinya kalah sadis dengannya.
Orlando memperhatikan mata wanita itu mulai membuka perlahan. Tetapi sorot matanya tampak begitu kosong dan tidak bersemangat. Seingat Orlando, Maya ini tidak pernah memperlihatan tatapan rapuh seperti ini. Maya itu sangat licik dan banyak akalnya. Wanita itu terlihat merintih dan berupaya mencoba menarik kerah baju Orlando seolah-olah hendak meminta pertolongan. Orlando meletakkan lengan kekarnya di sekeliling tubuh sekal Maya dan mengangkatnya masuk ke dalam mobil. Sorot mata Maya terlihat ketakutan, kesakitan dan kebingungan.
Jika kebanyakan tubuh wanita itu kecil dan mungil maka tubuh Maya adalah kebalikannya. Tubuhnya sangat berlekuk seperti jam pasir. Maya bertubuh cenderung montok dan sintal. Tubuhnya menjanjikan kenikmatan dan kehangatan. Tidak heran memang jika menilik professinya sebelumnya. Panjang dan tebalnya rok yang dikenakannya melipat gandakan berat tubuhnya. Orlando mengangkat tubuh wanita itu setinggi dadanya, ia kemudian mendengus tidak nyaman saat air bercampur lumpur menetes dan membasahi pakaiannya.
"Saya akan segera membawa Anda ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut Bu Maya. Saya sama sekali tidak mengira saat seharusnya Anda sedang berpelesiran di Hawai dengan salah seorang penyokong hidup Anda yang lainnya, ini Anda malah saya temukan berpelesiran di rawa-rawa seperti ikan hampir mati yang menggelepar-gelepar didaratan. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Anda Bu Maya?"
"Saya—saya tidak tahu. Saya— Saya tidak ingat. Tolong saya, Pak." Mata Maya kini terlihat liar penuh dengan kengerian. Dia tampak sangat ketakutan sekarang. Hembusan udara dingin tengah malam telah membuat tubuh dalam dekapannya ini merintih dan menggigil kedinginan. Orlando segera meraih selimut yang berada dibelakang jok mobilnya untuk menutupi bagian depan tubuh Maya. Akibat basahnya pakaiannya, semua lekuk tubuhnya terlihat menempel bagaikan kulit kedua.
Kepala wanita ini kian terkulai di bahu Orlando, napasnya terasa begitu dingin dan lemah menerpa dagunya.
"Anda akan membawa saya kemana, Pak?" Dengan suara serak dan lemah Maya berupaya bertanya. Sepertinya ia ketakutan akan dibawa pergi olehnya. Maya hari ini bertingkah sangat aneh. Setelah memanggilnya dengan sebutan Bapak, alih-alih memanggilnya pak polisi seperti biasanya. Dia juga selalu menyebut dirinya sendiri dengan sebutan saya. Padahal Maya selalu menyebut dirinya sendiri dengan kata gue. Satu hal yang paling aneh lagi adalah, dia terlihat takut padanya. Padahal Maya yang biasanya tidak pernah takut dengan laki-laki manapun juga. Malah semakin banyak laki-laki, semakin senanglah dia. Insting Orlando mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah disini. Wanita selalu saja takut terhadap orang asing. Padahal dari pengalamannya sebagai seorang penegak hukum, kasus pembunuhan wanita pelakunya itu seringkali justru orang yang mereka kenal dekat. Misalnya suami atau kekasih mereka.
"Kita akan kerumah sakit untuk mengobati luka-luka anda, Bu Maya. Supaya anda lebih cepat sembuh dan pulih seperti semula."
"Maya? Anda memanggil saya Maya. Siapa itu Maya?" Orlando melihat Maya tampak semakin kebingungan.
"Sudahlah, mungkin Anda masih bingung karena keadaan Anda yang sedang terluka seperti ini. Istirahatlah atau tidurlah sebentar kalau bisa. Saya harap setelah Anda menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Anda pasti akan segera pulih seperti sedia kala." Setelah mengatakan hal itu, Orlando merasa wanita yang berada dalam dekapannya ini mulai rileks dan tubuhnya juga sedikit lebih memberat. Ia kembali tertidur sepertinya. Setelah menidurkan Maya dalam posisi menyamping dibaris kedua mobilnya, Orlando segera meluncurkan mobilnya menuju kerumah sakit.
===================
Dia mendapati dirinya terbangun dalam mimpi buruk yang mengerikan dan menakutkan. Saat matanya terbuka pandangan pertamanya tertuju pada sosok pria berseragam aparat negeri ini yang saat ini juga balas menatapnya tajam. Seorang pria tampan berkulit terang dengan wajah cantik dan menarik. Sangat sulit menggambarkan pria bermata tajam dengan rahang kebiruan dan tubuh yang begitu besar dengan kata-kata cantik. Tetapi dia memang lelaki tampan yang cantik. Bulumatanya bahkan tampak begitu lentik seperti kepunyaan wanita pada umumnya. Wajah cantik tapi keras dan muramnya itu dilengkapi dengan hidung mancung lurus dan mulut merah yang lebar. Hanya tatap matanya yang sepertinya tidak disukai nya. Mata itu tampak janggal, sinis dan sedikit benci kepadanya mungkin?
"Apakah saya sudah mati?" Ia bertanya seolah-olah pada dirinya sendiri. Sekujur tubuhnya rasanya tidak ada bagian yang tidak sakit. Jarum infus terlihat menusuk tangan kirinya. Bernafas normal pun rasanya ia sulit. Lebih dari semua itu, lehernya terasa seperti bengkak parah. Dia bahkan kesulitan untuk menelan salivanya sendiri. Tubuhnya bahkan tidak bisa berhenti bergetar. Dia ini sebenarnya kenapa?
"Tidak Bu Maya. Anda belum saatnya untuk mati. Gemetar itu tidak lama lagi juga akan berhenti sendiri. Hal seperti ini memang sering terjadi pada kasus-kasus seperti anda." Sahut pria berseragam polisi ini datar. Ia pria yang rasa-rasanya pernah ia lihat dalam mimpinya sepertinya.
"Kasus-kasus seperti saya? Kasus apa? Saya kenapa dan anda siapa?" Ia bingung dengan banyaknya rentetan kejadian yang memenuhi benaknya. Dia sama sekali tidak ingat apa-apa. Pikirannya kosong bagaikan ruang gelap hampa yang sama sekali tidak terisi apa-apa. Dia mulai takut! Mengapa isi benaknya hanya berupa lembaran hitam dan kosong. Dia sama sekali tidak mengingat apa-apa. Dia bahkan tidak mengingat dirinya sendiri!
Perubahan emosi yang terjadi diwajah babak belur Maya diperhatikan dengan seksama oleh Orlando. Entah mengapa dia merasa air muka Maya ini sangat berbeda dengan Maya yang keras dan sombong seperti biasanya. Maya yang ini tampak rapuh dan sedikit lugu mungkin.
Orlando mengibaskan pikirannya sendiri. Lugu adalah kata yang amat sangat jauh dari seorang Candramaya Daniswara. Telah menjadi wanita penghibur di usia delapan belas tahun dan dua tahun menjadi istri seorang Nayaka Bratadikara, lugu adalah kosa kata yang amat sangat tidak cocok untuknya bukan?
"Anda tidak ingat kepada saya Bu Maya? Saya ini AKBP Orlando Atmanegara. Kita bahkan baru saja bertemu seminggu yang lalu di salah satu cafe saat anda menyanyi dengan riang dan gembira. Anda tidak ingat, Bu Maya?"
Masih segar dalam ingatan Orlando pertemuan mereka minggu lalu di salah satu cafe mewah yang kebetulan disinggahinya sekedar untuk melepas kepenatan akibat tekanan dalam pekerjaannya. Dan disana dia melihat Maya menyanyi dan menari heboh di panggung utama. Tubuhnya yang hanya di tutupi sekedarnya membuat para pengunjung pria tampak menelan saliva dan menahan hasrat. Itulah gambaran seorang Candramaya. Dan sepertinya sang pemilik nama telah melupakan jati dirinya sendiri.
"Siapa Maya?"
Ada moment kebisuan yang membuatnya ketakutan. Pria berseragam polisi ini tidak segera menjawab pertanyaannya. Ia sendiri berusaha berpikir keras untuk mengingat nama itu. Tetapi yang ada hanyalah kekosongan. Dia kembali gemetaran dan ketakutan saat tidak mengingat satu kejadian pun, apapun!
"Mengapa saya tidak bisa mengingat apa-apa. Bahkan nama saya sendiri pun saya tidak ingat. Pak polisi, tolong saya!!! Saya takut!! Saya bahkan tidak tahu apa yang tengah terjadi pada diri saya sendiri, saya takut!!!"
"Tidak apa-apa Bu Maya. Tidak apa-apa. Jangan takut. Ada saya disini. Sudah menjadi tugas saya untuk melindungi setiap warga negara dibumi pertiwi ini. Jangan takut."
"Apakah saya sudah gila Pak Polisi? Saya tidak mengingat diri saya sendiri tetapi saya ingat hukum Archimedes. Bunyi hukum Archimedes adalah akibat adanya gaya apung, berat beda di dalam zat cair akan berkurang, sehingga benda yang diangkat di dalam zat cair akan lebih ringan daripada benda yang diangkat di darat. Seakan benda berkurang bila benda dimasukan ke zat cair atau air. Saya juga ingat kalau Afinitas elektron adalah jumlah energi yang dibebaskan ketika atom menangkap elektron untuk mencapai kestabilannya. Sedangkan Azas Black adalah besarnya kalor yang di lepaskan oleh benda yang suhunya lebih tinggi besarnya sama dengan besar kalor yang di terima oleh benda bersuhu lebih rendah bila benda-benda tersebut saling berhubungan sehingga mencapai keseimbangan suhu atau Qlepas sama dengan Qterima.
Jadi kalau saya tidak gila, saya ini kenapa?" Ia kembali menatap bapak polisi ganteng cantik itu dengan ekspresi kebingungan yang begitu kentara.
"Mungkin Anda sedang kerasukan roh para ilmuwan dalam disiplin ilmu fisika, Bu Maya."
"Saya tidak menyangka selain bertugas sebagai seorang aparat, ternyata Anda merangkap sebagai seorang cenayang juga Pak AKBP Orlando Atmanegara."


"Saya sudah menghubungi suami Anda yaitu Bapak Nayaka Bratadikara. Tetapi beliau mengatakan bahwa dia sudah tidak ingin mendengar kabar apapun lagi dari Anda karena beliau sudah mendaftarkan gugatan perceraian terhadap Anda sebulan yang lalu.
Saya juga sudah menghubungi kedua orang tua Anda, Bapak Candra Daniswara dan ibu Kartika Daniswara. Tetapi mereka juga mengatakan bahwa mereka tidak mau bertanggung jawab lagi terhadap semua tindakan ehm maaf tidak bermoral Anda selama ini. Jadi saya harap Anda mengerti kalau Anda merasa heran kenapa hanya Anda satu-satunya pasien di rumah sakit ini yang tidak pernah di kunjungi oleh keluarga mau pun kerabat. Saya minta maaf, saya tidak bisa berbuat banyak untuk Anda." Orlando berusaha merangkai kalimat sehalus mungkin untuk Maya. Tetapi tetap saja rasanya terdengar cukup menyakitkan saat tidak ada seorang pun yang ingin menjenguknya alih-alih membawanya pulang.
"Te—terima kasih karena Anda sudah bersusah payah untuk berusaha menghubungi orang-orang terdekat yang masih memiliki hubungan dengan diri saya. Tidak apa-apa kalau mereka semua tidak menginginkan saya. Kita kan tidak bisa memaksa orang untuk mencintai atau membenci kita bukan? Hanya saja saya merasa bingung mengapa mereka semua menolak saya. Apakah sebelumnya saya begitu jahat sehingga tidak termaafkan oleh mereka semua Pak AKBP?"
Maya merasa begitu merana saat orang-orang terdekatnya menolaknya sampai sebegitu rupa. Sebenarnya apa sih salahnya? Sayang sekali pada saat ini dia tidak bisa mengingat apa-apa, sehingga dia tidak tahu sebesar apa kesalahan yang pernah ia perbuat dulu.
Tetes demi tetes air matanya mulai menganak sungai. Sesungguhnya Maya begitu ketakutan dalam menghadapi masa depannya. Kehilangan ingatannya saja sudah membuatnya begitu merana, ini ditambah lagi orang-orang terdekatnya pun menolak kehadirannya. Maya begitu gamang dalam menghadapi hari-hari berikutnya tanpa siapapun yang bersedia membantunya.
Maya melihat sang AKBP sepertinya akan segera pergi dan kembali meninggalkannya dalam keheningan yang menakutkan karena ia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri.
"Tolong Pak Polisi, ja—jangan pergi." Bisik Maya ketakutan sambil menegang lengan pria itu erat-erat seperti berpegangan pada pelampung penyelamatnya.
"Jangan pergi, please." Maya melihat wajah pria yang begitu maskulin akibat bakal cambang yang baru tumbuh sehari itu sedikit melembut. Tetapi tatapan matanya berbanding terbalik dengan sikap lembutnya. Raut wajahnya tampak seperti mengejek dan merendahkannya. Maya memang amnesia, tapi itu bukan berarti dia kehilangan kemampuan untuk sekedar membaca air muka seseorang.
"Saya tidak tahan melihat air mata wanita. Teruslah menangis dan saya akan pergi." Desisnya pelan.
"Ba—baiklah saya tidak akan menangis. Saya akan tertawa saja agar Anda merasa betah disini menemani saya. Hahahaha..."
Maya mencoba tertawa diantara derai airmatanya. Tetapi air matanya tidak mau bekerjasama dengan tawanya. Air matanya masih saja mengalir deras dan sang AKBP pun kembali memaki pelan. Polisi itu meraih tubuhnya beserta dengan selimutnya sekaligus ke dalam pelukannya. Mengayunkannya maju mundur perlahan dengan pelukan yang begitu kuat dan menenangkan.
Maya seketika merasa begitu tenang. Perlahan ia meletakkan kepalanya pada lekukan kokoh bahu Orlando. Untuk pertama kalinya memperhatikan detail wajah maskulin namun cantik itu.
"Bolehkah saya meminjam cermin? Saya sangat ingin melihat wajah saya sendiri, kalau Anda tidak keberatan." Orlando pun berlalu dari kamar bernomor 156 itu. Ia mencari perawat dan minta dipinjamkan sebuah cermin. Saat Orlando kembali dan memberikan sebuah cermin bulat sederhana ke tangannya, Maya mengangkat cermin itu tepat ke wajahnya.
"Rasanya aneh sekali saat kita tidak bisa mengenali wajah sendiri." Maya berguman pelan.
"Anda tidak punya alasan untuk mengeluh." Orlando menjawab datar. Bahkan dalam keadaan babak belur saja kecantikan Maya masih tidak bertandingi.
"Menurut Anda begitu? Mengapa?" Orlando melihat Maya menatap cermin tanpa sedikitpun ada rasa puas diri di dalamnya. Maya yang sebenarnya adalah type wanita yang amat sangat percaya diri dan sadar akan kecantikannya yang di atas wanita rata-rata. Tetapi sikapnya saat ini sangat berbanding terbalik dengan Maya yang biasanya.
"Mengapa begitu?"
"Karena menurut orang-orang di negri ini, Anda itu memiliki paras yang amat sangat cantik Bu Maya." Orlando melihat Maya terlihat seperti orang yang kebingungan.
"Begitu? Mengapa saya sama sekali tidak melihat alasannya." Maya kemudian membuat ekspresi lucu. Memonyongkan bibirnya dan memendelikkan matanya berkali-kali. Tawa terlihat muncul yang seketika kembali tersaput kesedihan.
"Saya bukannya ingin memancing pujian. Tapi saya merasa wajah ini biasa-biasa saja. Saya—saya tidak mengenali wajah saya sendiri. Bagaimana ini? Bagaimana?" Mata segelap onyx itu mulai bermozaik dan bersiap-siap akan mengeluarkan air mata.
"Jangan! Anda sudah tahu bahwa saya tidak suka melihat air mata wanita. Atau saya akan pergi!"
"Iya iya... Saya—saya tidak akan menangis. Saya akan kembali tertawa saja. Hahhahaha..." Maya kembali mencoba tertawa di antara kabut air mata yang tergenang dalam bening matanya.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Anda, Bu Maya? Siapa yang sangat menginginkan kematian Anda sampai ia tega mencekik Anda dan membuang tubuh Anda kerawa-rawa? Apakah Anda sedikitpun tidak mengingatnya?"
"Sayangnya tidak Pak Polisi. Pikiran saya kosong. Saya bahkan tidak dapat mengingat nama saya sendiri. Seperti apakah dulu kepribadian saya Pak Oolisi? Apakah akhlaq saya sangat buruk sampai-sampai suami dan orang tua kandung saya pun tidak mau lagi mengenal saya? Tolong beritahu saya agar saya tahu kelak bagaimana saya harus bersikap."
Maya melihat polisi itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyerahkan ponsel kepadanya.
"Begini saja, Anda silahkan lihat saja berita mengenai diri Anda sendiri di internet. Anda bisa melihat you tube, search google dengan hanya mengetikkan kata Candramaya Daniswara Bratadikara. Coba saja. Dari sana Anda tentu akan mendapatkan sedikit gambaran tentang bagaimana kepribadiaan Anda yang sebelumnya."
Dengan tidak sabar Maya pun segera googling tentang jati diri dan kehidupannya yang sebelumnya. Wajahnya semakin lama terlihat semakin memucat saat membaca kata-kata yang tertera disana. Apalagi saat ini melihat you tube dan melihat tingkah liarnya berikut pakaian minimnya. Maya tidak sanggup melihat wajahnya sendiri ada disana. Ia malu!
"Pantas saja kalau suami saya dan kedua orang tua saya membuang saya. Kelakuan dan akhlaq saya ternyata naudzubillah min zalik buruknya." Orlando memperhatikan wajah Maya yang terlihat antara sedih, malu dan juga serba salah. Dia sendiri sebenarnya juga bingung. Mengapa Maya yang amnesia ini tingkahnya sangat berbanding terbalik dengan saat dia sadar sepenuhnya. Orlando yakin, kalau sikap Maya berubah menjadi manis dan baik seperti saat terkena amnesia begini, orang-orang pasti akan lebih suka kalau ia amnesia saja selamanya.
Tok! Tok! Tok!
Setelah Orlando menjawab masuk, Maya melihat ada seorang lelaki tampan lainnya dan seorang wanita paruh baya berhijab memasuki ruangan tempat ia dirawat.
"Maaf, Bapak dan Ibu ini siapa ya? Maafkan saya saat ini tidak begitu baik ingatannya." Maya melihat kedua orang yang wajahnya mirip itu sedikit tertegun mendengar kata-katanya. Mereka masih terdiam saat Orlando lah yang memecahkan kebisuan mereka berdua.
"Mereka ini ibu mertua dan suami Anda, Bu Maya. Ini adalah Ibu Khadijah Bratadikara dan Bapak Nayaka Bratadikara."
Mendengar kata-kata Orlando, Maya seketika berusaha bangkit dari tidurnya dan menyalami tangan suami dan ibu mertuanya. Maya bukan hanya menyalami biasa. Ia bahkan mencium pungung tangan suami dan ibu mertuanya. Lagi-lagi Maya melihat suami dan ibu mertuanya terdiam. Maya merasa mungkin mereka berdua sudah begitu muak dengan sepak terjangnya di luaran selama ini. Sehingga mereka memilih untuk mendiamkannya saja.
Maya berusaha bangkit dari posisi duduknya. Dia mencoba turun dan bersimpuh di hadapan suami dan ibu mertuanya. Maya tahu walaupun ia akan segera bercerai dari suaminya, tetapi ia belum minta maaf secara pribadi secara layak dengan mereka berdua. Maya merasa ini adalah saat yang paling tepat baginya untuk meminta maaf atas semua kelakuan bejatnya yang rasa-rasanya agak mustahil untuk dapat di maafkan. Tetapi yang paling penting adalah dia sudah mencoba. Masalah mereka berdua mau atau tidak memaafkannya, biarlah itu menjadi urusan mereka.
"Maya memohon maaf yang sedalam-dalamnya pada M—Mas Nayaka Bratadikara dan ibu Khadijah atas semua kelakuan buruk Ma—Maya selama ini. Maya tidak bisa lagi merangkai kata untuk memohon maaf pada Mas Naya, maaf kalau saya salah mengucapkan nama Mas, dan Ibu. Maya benar-benar menyesal Mas, Ibu.
Mas Naya dan ibu jangan salah tafsir. Maya melakukan ini bukan karena Maya ingin Mas mencabut gugatan perceraian. Itu sama sekali tidak terlintas dalam pikiran Maya. Menurut Maya, memanglah sudah sepantasnya Mas menceraikan seorang istri yang tidak baik seperti Maya ini. Maya amat sangat mengerti. Yang Maya inginkan saat ini hanyalah meminta maaf pada Mas Naya dan ibu." Dua orang di depannya seperti baru tersadar dari ketertegunan saat melihat Maya yang sedang bersimpuh dengan susah payah. Cairan infusnya pun sampai dicabut dari tempatnya dan dipegang oleh Maya.
"Sudah Maya, sudah. Kita lupakan saja semua masa lalu kita. Ibu sudah memaafkan kamu dari jauh-jauh hari. Astaga, ibu tidak pernah bermimpi melihat kamu memanggil Nayaka dengan sebutan Mas dan meminta maaf pada ibu. Maya yang seperti ini membuat ibu sangat senang, Nak. Maya seperti berubah menjadi pribadi yang baru."
Ibu Khadijah membantu Maya bangkit dan mendudukkannya kembali ke ranjang. Bu Khadijah juga kembali menggantungkan cairan infusnya pada tempatnya.
Maya kembali terisak pelan saat ibu mertuanya juga membantunya kembali berbaring di ranjang rumah sakit. Ibu mertua yang baiknya seperti ini bagaimana mampu ia sia-siakan selama ini? Ia jahat sekali selama ini rupanya.
Pandang mata Mata pelan-pelan bertemu dengan suaminya. Sedetik kemudian Maya menundukkan wajahnya dengan pipi memerah. Dia malu karena dipandangi oleh suaminya sendiri. Suami yang sudah begitu sering ia sakiti jiwa raganya.
"Saya sudah mendengar semua keadaan kamu dari dokter yang merawat kamu juga dari bapak polisi ini. Seperti yang sudah kamu ketahui, saya telah mendaftarkan gugatan perceraian kita sejak sebulan yang lalu. Karena keadaan kamu yang seperti ini dan juga pihak keluarga kamu juga tidak mau menerima kamu kembali, saya hanya bisa menawarkan ini." Suaminya mengeluarkan sebuah amplop tebal dari balik jas nya.
"Ini ada uang kontan sebanyak dua ratus juta. Ambil saja buat kamu selama kamu belum bisa ehm bekerja. Setidaknya kamu bisa hidup layak sementara dengan uang ini. Setelah pengadilan memutuskan perceraian kita, saya akan memberikan harta gono gini yang amat sangat kamu inginkan itu. Mengerti kamu, Maya?"
Maya terdiam. Dia tahu dia telah banyak berbuat kesalahan. Dan dia tidak ingin lagi menambah beban suami dan mertuanya ini dengan menanggung biaya hidupnya. Selama iya memiliki panca indera lengkap, insya Allah ia akan berusaha menghidupi dirinya sendiri. Iya yakin, selama ia mau berusaha, pasti Allah akan melancarkan usahanya.
"Terimakasih atas niat baik Mas Naya yang ingin membantu Maya. Tetapi maaf Maya sudah tidak bisa lagi menerima kebaikan Mas. Biarlah mulai hari ini Maya akan berusaha berdiri di atas kaki Maya sendiri dengan uang yang insya Allah halal. Mas cukup doakan saja agar Maya tambah kuat dalam menjalani cobaan ini hidup ini ya, Mas? Bagaimana pun juga kita berdua dulu pernah saling mencintai satu sama lain. Ini, Mas simpan saja lagi uang ini. Maya bukannya tidak membutuhkannya Mas, tetapi Maya hanya ingin mulai berdikari sendiri. Bantu saja Maya dengan doa ya Mas?" Maya tiba-tiba saja merasakan tangan kanan suaminya mengelus puncak kepalanya perlahan.
"Kalau saja kamu dulu semanis ini dalam bersikap, Mas tidak akan pernah mau mengajukan gugatan perceraian kepengadilan, sayang. Apakah kamu ingin Mas mencabut gugatan itu, Maya?" Mata Maya terbelalak mendengar tawaran suaminya.
"Jangan Mas. Bukankah tadi sudah Maya katakan kalau Maya bukannya ingin mencari simpati dan mementahkan kembali keinginan Mas untuk menggugat cerai Maya. Maya murni hanya ingin meminta maaf saja. Mas Naya berhak mendapatkan istri yang jauh jauhhhh lebih baik dari Maya." Sahut Maya tegas.
"Tumben lo dikasih duit kagak mau kakak ipar? Lagi banyak duit ya lo habis jualan sama politisi itu?" Maya menatap nanar seorang pria berambut gondrong lainnya yang baru saja masuk dan menatapnya dengan raut wajah yang begitu melecehkan. Menilik wajahnya yang begitu mirip dengan suaminya dan panggilan kakak ipar padanya, Maya langsung tahu kalau laki-laki ini adalah adik iparnya.
Mereka yang ada di dalam ruangan cuma bisa menunggu letupan amarah Maya. Maya yang dulu pasti akan langsung membalas kata-kata adik iparnya dengan tak kalah pedas. Tapi kali ini, berbeda. Maya sama sekali tidak membalas kata-kata penuh provokasi adik iparnya. Dia hanya diam, tetapi air matanya mulai berlelehan. Orlando menarik nafas panjang, sepertinya ini sudah saatnya dia turun tangan. Maya sudah terlihat makin tertekan.
"Jika Anda semua sudah tidak ada keperluan lagi disini. Silahkan menunggu di luar saja. Biarkan Bu Maya beristirahat dulu."
Orlando mengusir tamu-tama Maya secara halus.
"Khusus buat Anda saudara Thoriq. Kita ini laki-laki, jangan suka bersikap playing victim seperti seorang perempuan. Hanya karena Anda tidak bisa mendapatkan kakak ipar Anda yang begitu Anda dambakan, maka Anda membalas dendam dengan cara mengata-ngatainya hanya karena dia sedang amnesia." Tukas Orlando datar. Ia tahu kalau selama ini Thoriq memang suka membuntuti Maya ke mana-mana. Ia pernah beberapa kali memergokinya.
"Benar begitu, Thoriq?" Nayaka terlihat mengepalkan kedua tangannya. Dia terlihat tidak percaya kalau adiknya ternyata juga menginginkan istrinya.
"Gue hanya mengatakan kebenaran kok, Bang. Mbak Maya juga menggoda pria-pria setiap weekend di club."
"Dan mengapa Anda selalu ada di setiap kakak ipar Anda ada di club? Anda bukan secret admirernya bukan?"
Orlando hanya berbicara santai saja, namun wajah Thoriq sudah berubah menjadi merah padam. Kini mereka tahu bahwa Orlandolah yang benar karena Thoriq bahkan tidak bisa membantah kebenaran kata-katanya.


"Jadi Anda mau tinggal di mana sekarang? Pihak rumah sakit telah menyatakan kalau Anda sudah sembuh dan bisa berobat jalan saja, kecuali untuk kasus amnesia Anda. Karena khusus untuk penyakit Anda yang satu itu hanya bisa di sembuhkan oleh waktu. Sementara pemerintah kita tidak mungkin menanggung biaya yang tidak urgent lagi sifatnya. Di negeri ini bukan hanya Anda yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Saya harap anda mengerti."
Suara datar-datar tegas polisi yang menolongnya beberapa hari yang lalu memasuki pendengarannya.
Sebenarnya Maya sendiri juga bingung dia mau tinggal di mana sekarang. Karena menurut cerita suaminya, setelah suaminya itu mengajukan gugatan cerai, ia langsung pindah ke rumah mewah yang dibelikan oleh sang politisi yang telah menjadi penopangnya beberapa waktu yang lalu itu. Berarti satu-satunya tempat bernaungnya hanyalah rumah yang dibelikan oleh selingkuhannya itu. Tetapi kini Maya bertekad untuk tidak lagi menjalin affair dengan suami orang. Dia ingin menjadi Maya yang baru. Maya yang seperti hati nuraninya katakan saat ini, telah telah melakukan kesalahan di masa lalu. Dan ia tidak ingin meneruskan kesalahannya itu. Makanya kemarin ia meminta Orlando untuk tidak memberitahukan hal apapun pada Pak Siswoyo Soeryo Soemarno, selingkuhannya.
Menyebut kata selingkuhan saja, lidah Maya terasa kelu. Maya mengetahui semua hal ini dari penyelidikan Orlando sendiri. Karena menurut Orlando, Pak Siswoyo sampai menyewa detektif swasta untuk mencari keberadaannya yang seharusnya ada di Hawai saat ini.
Menurut penyelidikan pihak kepolisian, Pak Siswoyo dan Maya akan berpelesiran ke Hawai. Tetapi mereka akan berangkat sendiri-sendiri dari tanah air demi menghindari gosip dan kejaran wartawan. Bagaimana pun Pak Siswoyo saat ini masih berstatus sebagai suami orang. Istimewa usia Pak Siswoyo sendiri bahkan lebih tua beberapa tahun dari ayah kandungnya sendiri. Kedekatan mereka berdua pasti akan menjadi cibiran banyak orang. Kedua anak Pak Siswoyo bahkan berusia jauh lebih tua dari usianya sendiri. Maya sungguh menyesal dan malu saat mengetahui betapa buruknya perangainya di masa lalu.
"Anda tidak mendengarkan kata-kata saya, Bu Maya?!" Orlando mulai kesal karena Maya seperti menganggap pertanyaannya seperti angin lalu belaka. Maya terkesiap. Ia tidak sadar kalau lamunannya telah membuatnya mengabaikan polisi muda didepannya ini.
"Oh maaf Pak Polisi. Saya-saya juga sedang berpikir ini mau tinggal dimana. Tetapi satu yang pasti, saya tidak akan kembali lagi pada pak Siswoyo." Jawab Maya tegas.
"Atau Bu Maya ingin merealisasikan keinginan Bu Maya seminggu sebelum kejadian ini kepada saya?" Suara dalam sang polisi seperti menyiratkan sesuatu. Maya mengerutkan keningnya. Berusaha mengibgat-ingat. Memangnya apa keinginan yang ingin ia realisasikan seminggu yang lalu? Tetapi lagi-lagi, pikirannya kosong. Ia tidak bisa mengingat apapun.
"Maaf Pak Polisi. Bapak sendiri kan tahu kalau saya sedang mengalami amnesia sekarang. Tolong ingatkan saya apa yang ingin saya realisasikan dengan bapak seminggu yang lalu kalau Bapak tidak keberatan."
Maya melihat Orlando menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar. Sepertinya apa yang akan dikatakannya pasti adalah berita tidak enak untuk di dengar. Sepertinya ia harus mempersiapkan hatinya.
"Anda meminta saya untuk menjadi penopang Anda yang berikutnya karena Anda bilang bahwa Anda sudah bosan melayani, maaf bandot tua seperti Pak Siswoyo." Mata Maya nyaris keluar dari rongganya saat mencerna kata-kata sang polisi.
"Astaghfirullahaladzim. Saya tidak mungkin mengatakan hal yang begitu tidak bermoral seperti itu!" Desis Maya ngeri.
"Kalau Anda tidak percaya, saya bisa memperdengarkan potongan percakapan kita berdua waktu itu. Saya ini seorang polisi Bu Maya. Jadi saya tahu kalau berbohong itu sudah termasuk tindak pidana. Dan semuanya itu termaktub dalam pasal 220 KUHP tentang pemberitahuan atau pengaduan palsu tentang suatu peristiwa pidana, atau pasal 317 KUHP tentang memfitnah seseorang atau melakukan peristiwa pidana dengan tujuan menyerang kehormatan dan nama baik seseorang.
Jadi Bu Maya, saya tidak mungkin berbohong. Sekarang saya akan perdengarkan saja pembicaran kita seminggu yang lalu." Orlando terlihat mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol play.
Mengapa anda memandangi saya?
Maya menajamkan pendengarannya. Itu memang suaranya. Suara itu sama persis dengan suaranya saat ini.
Karena Anda juga memandang saya, Bu Maya. Jadi kata kenapa Anda memandangi saya itu tidak tepat. Karena pada dasarnya kita berdua itu saling memandangi.
Maya mengenali suara Orlando disini. Cara bapak polisi ini mengungkapkan fakta memang juara. Lugas dan tepat.
Oke kalau begitu saya akan langsung pada inti persoalan saja. Saya tertarik pada ketampanan feminin dan kemaskulinan tubuh Anda. Saya ingin menawarkan Anda kesempatan pertama untuk menjadi penopang saya berikutnya. Apakah Anda bersedia, Pak Polisi ganteng?
Kenapa?
"Karena saya sudah bosan melayani bandot tua seperti Pak Siswoyo.
Maya memejamkan matanya dan merasa selebar wajahnya memanas seketika. Ternyata ia memang setidak tahu malu itu! Astaghfirullahaladzim.
Anda rela melepaskan seorang Siswoyo Soerya Soemarno yang kaya raya demi seorang polisi seperti saya? Anda serius Bu Maya? Lagi pula Anda juga belum resmi bercerai dengan Pak Nayaka Bratadikara, bukan?
Rekaman itu jeda sesaat. Mungkin saat itu ia sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan Orlando.
Anda juga tidak kalah kaya dengan Pak Siswoyo bukan Pak AKBP Orlando Atmanegara? Saya sudah menyelidiki kehidupan pribadi Anda. Anda adalah anak seorang pengusaha besar Bernardo Atmanegara yang memiliki saham besar dalam bidang telekomunikasi dan perkapalan. Ibu anda adalah Diajeng Sri Rahma Kartaprawira, priyayi orang kaya lama di Solo sana. Ibu anda memiliki berhektar-hektar tanah, sawah dan agro bisnis yang saat ini di handle oleh orang-orang kepercayaan ibu Anda bukan?
Saya juga tahu kalau Anda memasuki ranah militer karena keinginan ayah anda pada mulanya. Setelah lulus kuliah, Anda masuk DikTuk dan kemudian Anda melanjutkan pendidikan ke AKPOL bukan? Saya tahu kalau Anda ini polisi kaya sudah dari sananya, bukan polisi gendut karena hasil korupsi dan gratifikasi.
Anda juga cuma punya satu orang adik perempuan yang bernama Sri Ajeng Gisella Atmanegara yang tentunya suatu hari akan menikah juga bukan? Nah, pada saat ibu Anda sudah tiada dan adik Anda sudah menikah. Saya adalah jadi satu-satunya pemilik hati anda beserta semua aset-aset anda bukan? Percayalah saya selalu melakukan investigasi menyeluruh sebelum memutuskan akan menjadi milik siapa nantinya.
Maya sampai menutup telinganya sendiri saking tidak tahan mendengar kata-kata jahat yang meluncur keluar begitu saja dari bibirnya di masa lalu, yang tanpa di saring terlebih dahulu.
"Jangan suka lari dari kenyataan Bu Maya. Kita tidak bisa mengubah kebenaran hanya karena kita tidak menyukainya. Belajarlah untuk menerima kenyataan. Saya bahkan bisa melemparkan setumpuk bukti jika Anda terus saja tidak mengakui tingkah laku amoral Anda dimasa lalu. Meskipun saya sedikit bingung apakah seminggu yang lalu bisa di kategorikan sebagai masa lalu. Dengarkan saja semuanya hingga usai. Baru ibu bisa menuduh saya bohong atau tidak. Saya tidak suka jika kejujuran saya di pertanyakan."
"Saya minta ma-maaf. Saya sungguh-sunguh minta maaf Pak Polisi." Sahut Maya lirih. Dia sunguuh tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana lagi.
"Maaf hanya berguna jika Anda memintanya pada Allah. Karena pada kami, maaf itu hanyalah berupa kata-kata pengalihan kesalahan tanpa makna. Sia sia. Dengarkan lagi kata-kata Anda sendiri. Dan lepaskan kedua tangan Anda dari telinga Anda. Saya ingin Anda mendengar dengan jelas setiap patah kata yang Anda ucapkan dari mulut Anda sendiri."
Kalau saya menerima tawaran Anda, pasti akan banyak sekali hati laki-laki di luar sana yang akan patah bukan, Bu Maya?
Halah, patah hati bagaimana? Anda terlalu serius dalam mengartikan sebuah kata kerja cinta Pak Polisi. Cinta itu kan hanya permainan kata-kata. Kalimat itu bisa disederhanakan dalam satu kata, seks. Titik.
Terdengar jeda lagi yang dilatar belakangi oleh denting peralatan makan yang saling beradu. Jelas sekali kalau saat itu mereka berdua memang bertemu dicafe. Suara musik samar-samar juga terdengar dalam rekaman itu.
Kalau saya bersedia menjadi penopang Anda berikutnya, apa persyaratan Anda, Bu Maya?
Kembali terdengar jeda. Maya tahu waktu itu dia pasti berpikir dulu sebelum memberikan jawaban yang menguntungkannya.
Saya menjalani hidup ini dengan pragmatis. Mirip seperti permainan catur. Saya akan menjalankan setiap strategi saya dengan hati-hati. Saya akan membuang pion kecil yang sudah tidak berguna, dan saya tidak akan membuka pemikiran saya terhadap kekasih-kekasih saya. Intinya selama Anda menyenangkan dan menguntungkan saya, saya akan dengan senang hati menjadi hak milik exclusive Anda. Tetapi bila saya sudah bosan dan menemukan penopang potensial yang lain, maka saya akan meninggalkan anda. Simple.
Anda sangat kejam, Bu Maya.
Itu harus. Untuk wanita dalam posisi seperti saya. Dan apa persyaratan dari Anda Pak AKBP?
Jeda kembali sebelum suara bariton itu menjawab tegas.
Persyaratan saya hanya satu. Kejujuran mutlak dari pasangan saya.
Itu sulit Pak AKBP. Saat saya bersikap jujur pada Anda. Saya yakin Anda akan merasa sangat tidak nyaman karenanya, Percayalah. Jadi bagaimana Pak AKBP Orlando Atmanegara, bersediakah Anda jadi penopang hidup saya selanjutnya?
Beri saya waktu Bu Maya. Setelah Anda resmi bercerai dengan Pak Nayaka, saya akan memberitahukan jawaban saya. Tetapi kalau saat ini, maaf saya tidak berminat menjalin hubungan sembunyi-sembunyi, apalagi dengan perempuan yang masih sah statusnya sebagai istri orang. Saya bukan type laki-laki yang tidak bermoral seperti itu. Permisi.
Lo sombong banget polisi kurang belaian. Gue doain, semoga lo kelak akan mendapatkan jodoh perempuan jahat seperti gue, agar seumur hidup lo, lo akan selalu terkenang akan manisnya sifat gue!!
Rupanya ia marah saat Orlando menolak tawarannya kala itu. Makanya ia menggunakan kosa kata lo gue. Dia ternyata sebejat itu dulu. Masya Allah. Maya sampai tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun saking speechless nya.
Tidak masalah. Doa dari orang seperti a
Anda, saya khawatir itu tidak akan di jabah oleh Allah Subhanawaata'ala.
Klik.
Rekaman itu terputus. Rasa malu Maya sudah tidak terkatakan lagi. Dia sekarang bahkan tidak sanggup untuk menatap wajah Orlando tanpa membayangkan kata-kata tidak bermoralnya tadi. Maya merasa dia sudah tidak memiliki muka lagi untuk menatap wajah Orlando.
"Sepertinya sekarang saya harus menjawab penawaran Anda minggu lalu. Saya akan menjadi penopang sementara Anda di karenakan dua hal. Pertama, penjahat yang mencoba membunuh Anda belum berhasil kami ditangkap. Jadi Anda memerlukan seseorang untuk melindungi diri Anda. Kedua, Anda saat ini sedang dalam keadaan psikis dan fisik yang kurang baik, sementara Anda tidak punya tempat untuk pulang yang aman. Jadi saya akan menawarkan diri menjadi penopang Anda sampai salah satu dari alasan itu gugur, yaitu mana yang dulu kami capai. Tertangkapnya sang penjahat atau kembalinya pemikiran Anda, sehingga Anda bisa membantu kami memburu penjahatnya.
Tapi untuk itu semua pasti tidak ada hal yang gratis. Anda harus melakukan beberapa hal untuk saya. Deal, Bu Maya?"
Maya memandangi wajah tampan Orlando dari balik tirai air mata. Hatinya begitu sakit saat mendengar tawaran yang sebenarnya adalah merupakan perwujudan dari kalimat halus daripada hinaan ini. Dia memang saat ini sedang amnesia dan tidak punya apa-apa dan siapa-siapa yang akan melindunginya. Akan tetapi dia tahu kalau dia tidak sendirian. Dia masih punya Allah, tempatnya bergantung dan meminta. Dia punya Al-Qur'an sebagai petunjuk kehidupan walaupun ia sedang kehilangan arah akibat penyakit amnesianya saat ini. Dia tidak sudi menukar harga dirinya hanya demi lembaran uang belaka.
"Dengar ya Bapak AKBP Orlando Atmanegara yang terhormat, seburuk-buruknya saya, saya ingat bahwa harkat dan martabat saya sebagai seorang wanita itu adalah di atas segala-galanya. Saya tidak mungkin menukar harga diri saya hanya demi harta dan lembaran rupiah dari Anda."
Walaupun wajahnya tampak basah oleh air mata, tapi air muka Maya terlihat begitu murka. Meskipun ingatannya tidak dalam kondisi yang baik, tetapi Maya tahu, ada suatu kesan melecehkan yang selalu saja coba ditutupi oleh Orlando atas nama professionalitas pekerjaan. Tetapi saat Orlando mengatakannya secara langsung hinaaan demi hinaan didepan matanya seperti ini, entah mengapa hatinya terasa bagaikan dicubiti.
Tidak sakit seperti dipukuli memang, tetapi sangat terasa bekas-bekas pedihnya. Walaupun sebenarnya Maya amat sangat marah dan tersinggung, tetapi sedapat-dapat nya ia menahan lidahnya. Maya tahu orang yang dihina sebenarnya memungut pahala cuma-cuma tanpa perlu bersusah payah melakukan usaha. Tetapi menahankan pedihnya itu yang sangat susah luar biasa.
Mendengar sebegitu sengitnya jawabannya, Maya melihat Orlando hanya tersenyum tipis. Tidak tampak perubahan emosi yang berarti di raut wajahnya.
"Sepertinya Anda telah salah dalam menafsirkan kata-kata saya. Dengar ya Bu Maya, beberapa hal yang ingin saya minta dari anda maksudnya adalah Saya ingin Anda berguna saat tinggal dirumah saya. Saya tinggal bersama dengan ibu dan adik perempuan saya. Jadi selama anda tinggal bersama kami, maka Anda harus membayar dengan cara menjadi ART ibu saya. Anda dapat membantu Ceu Esih, ART saya yang lain dalam merawat kebersihan rumah ki-kami. Jadi di sini saya minta anda melayani ibu dan adik saya, bukan untuk melayani saya. Mengerti Bu Maya? Anda berasumsi terlalu jauh kalau merasa bahwa saya itu menginginkan hal-hal yang berbau asmara dengan Anda. Saya tidak suka barang bekas pakai yang sudah di cicipi banyak orang. Wanita seperti Anda itu bukan type saya. Mengerti Bu Maya?"
Orlando melihat mata Maya kembali berkaca-kaca. Maya hanya menggangguk tetapi tidak mau memandang wajahnya. Maya terlihat shock saat mendengar kata-kata pedasnya. Tetapi memang begitulah dia adanya. Dia memang tidak jago ngeles seperti Fatah atau ahli strategi seperti Badai. Dia ya Orlando yang lurus dan apa adanya. Apa yang ada di pikirannya, itu lah yang akan dikatakannya. Lain di bibir lain di hati itu tidak ada dalam kamus hidupnya.
"Ayo sekarang kita berangkat kerumah saya, karena setelah ini saya harus kembali ke Mabes."
"Saya tidak bilang kalau saya mau ikut dengan Bapak bukan? Jadi kalau Bapak ingin pergi ke Mabes ya pergi saja. Saya tidak ingin menahan Bapak lebih lama lagi disini. Tidak pantas wanita bekas pakai seperti saya ini mencuri waktu anda yang begitu berharga bukan Pak AKBP?"
"Ternyata walau Anda sedang menderita amnesia, keketusan mulut Anda tidak berubah juga rupanya?" tukas Orlando dingin.