Sampul Novel WARISAN CINTA DAN DENDAM DARI MASA LALU

WARISAN CINTA DAN DENDAM DARI MASA LALU

8.1 / 10.0
Pengkhianatan memisahkan Suti dan Jodi Bimantara. Kini, Jodi memimpin Cartwright Corporation dengan dingin dan memaksa Suti menikahinya demi menuntut balas. Di tengah pusaran konflik tersebut, kutukan siluman ular yang bersemayam dalam tubuh Suti terancam bangkit kembali. Sementara itu, Peter Jansen menyamar sebagai Clark untuk membalas dendam pada klan Van Den Berg, yang kini mengancam keselamatan Laura.

WARISAN CINTA DAN DENDAM DARI MASA LALU Bab 1

“Suti…bangun, cepat sudah siang. Apakah kamu tidak sholat subuh? Ayo segera bangun!”

Aku tersentak dan duduk linglung, menoleh kiri kanan dalam kegelapan kamar yang tak berujung. Sebelum akhirnya sudut netraku menangkap pergerakan orang lain dalam selimut lurik di atas tempat tidurku.

“Ouch! Brengsek” aku mengumpat dalam hati. Ternyata hari masih terlalu larut untuk menjalankan rutinitas pagiku.

Aku yang melihat banjir besar dengan air kotor bergulung-gulung disekitarku serta tanpa sengaja netraku menatap begitu banyak ikan yang sebentar bermunculan ke permukaan dan tak lama kemudian tenggelam lagi. Aku yang semula merasa di tepian tiba-tiba ikut terseret, timbul tenggelam dalam arus deras sungai kotor dan berombak besar itu.

“Bagaimana bisa?” batinku bertanya-tanya. Ketika aku sudah tak mampu bernafas dengan baik dalam kubangan itu, ada dua ikan hitam besar menyelusup dari bawah air dan menyodorkan siripnya untuk kujadikan pegangan serta membimbingku ke pinggiran dengan selamat.

Tanpa sengaja ku melihat ikan-ikan tadi yang terseret arus, berlompatan menyelamatkan dirinya keluar dari air. Ada yang hidup pun banyak yang mati diterjang arus air deras itu.

“Hei!” aku menjerit. Ketika kesadaranku mencapai sempurna. Bukankah sinar mata mereka mirip seseorang. Ya….seseorang yang mencuri hati dan perasaanku beberapa hari ini.

Dan “heeemfh” bukankah yang membangunkanku dari mimpi tak bertepi tadi mas Mujib, teman satu kelasku. “Bagaimana bisa?” Jeritku dalam hati. “Itu sangat-sangat tidak mungkin?”

Di kampus.

“Pagi Suti!” sapaan dari Padmi nyaring terdengar.

“Pagi”.

“Bagaimana, sudah ada judul yang akan kamu ajukan ke pak Fadli?”

Aku hanya mengerjap kebingungan dengan pertanyaan itu. Situasi yang sama dengan minggu kemarin.

“What the hell situation?” bagaimana bisa aku menjawabnya sedangkan aku tak punya gambaran apapun di otak kecilku ini. Betul-betul buntu.

Kulihat sebelah Padmi ada kak Ester yang telah siap dengan berkas-berkas proposal dan siap untuk diajukan. Betapa nelangsanya perasaan ini.

Tergesa kudekati mereka yang menunggu giliran untuk konsultasi di depan pintu kantor. Gumaman tidak jelas kulontarkan seiring dengan hembusan napas besar, sekedar pelepas rasa gusar atas ketidak mampuanku dalam menentukan judul yang sederhana pun.

“Ouh dunia yang kejam”, batinku bersuara lagi. Berkali-kali kugelengkan kepala seolah mengusir penat dan lelah yang berhari-hari ini kurasakan, semenjak aku mengalami mimpi yang aneh kemarin.

Hari ini sama dengan berlalunya alur cerita yang tak usai, ku lalui dengan berbagai macam perjalanan yang berbeda, tapi aku masih tetap disini berdiri di sisi ketidak berdayaanku atas kesulitan seperti hari-hari kemarin.

Ketika kudengar celetukan dari kak Ester yang seolah mengerti dengan kebingunganku.

“Meskipun bingung, aku tetap mengajukan judul penelitian ini. Dan aku berusaha untuk merealisasikannya dalam sebuah tesis”.

Aku tersentak, sebelum akhirnya menjawab, “punya rekomendasi judul buatku, tidak?” tanyaku penuh antusias.

“Ada, tapi keluarkan idemu dulu, kamu mau meneliti apa?”

“Eehhmmmm, apa ya?” sekilas pikiranku melayang ke berbagai macam permasalahan yang selama ini kuhadapi ketika menjalani praktek kerja lapangan.

Dan “bingo!” ide itu melintas begitu saja di otak ku.

“Bagaimana dengan The Difference achievement between the student with the English background and those who don’t have any background?”

“Oke, tampaknya bagus. Tapi jangan hanya mengajukan satu, kuatirnya nanti ditolak. Coba buat judul yang lain juga”.

“Hadeeww, keluhku. “Aku nyerah deh kak, mana mungkin otak minimalisku ini punya alternative judul yang lain. Bagaimana kalau kak Ester saja yang buatkan?”

“Kamu itu, Suti…..Suti. Tetap saja dari dulu”, ditoyornya kepalaku pelan.

Sedangkan aku hanya cengengesan. Meskipun dengan berat hati kak Ester tetap membuatkanku dua judul yang bagus sambil menjelaskannya panjang lebar.

Aku hanya manggut-manggut seolah mengerti padahal tidak sama sekali. Karena semenjak mimpi itu, kepalaku selalu terasa berat seolah ribuan karung goni bersarang di atasnya. Sungguh muak aku dengan rasa ini.

***

Dengan langkah mantab ku menuju ruang sidang, ada tiga dosen yang siap membabat habis thesis ku. Gemetar rasa tubuh ini, “ketakutan? Tentu saja”.

Aku merasa seperti anak kucing yang tersiram air, ringkih dan lemah. Namun semuanya berjalan dengan lancar, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh dosen penguji, kujawab dengan argumen-argumen yang mengena. Hingga desahan napas lega keluar dari bibir mungilku. Saat dosen pengujiku berkata,

“Baiklah kamu boleh meninggalkan tempat ini, tunggu hasilnya di depan ruangan!”

“Terima kasih pak”, angguk ku sopan.

Tepat jam lima sore pengumuman itu kuterima dengan suka cita, begitu juga dengan teman-teman yang kebetulan satu sesi denganku. Gurat-gurat kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Tuntas sudah tugas kami, usai sudah beban berat yang kami rasakan selama ini. Tertebus dengan satu kata “lulus”.

Saat ku melompat-lompat kegirangan di sudut lantai dua dekat ruang sidang. Dia lewat, pria yang selama ini mengisi hari-hari serta mimpiku. Aku terhenyak ketika secara tidak sengaja netraku bersirobok dengannya. Pun saat dia melengos kesamping dan menghembuskan napasnya keras, serta rahangnya mengetat sempurna.

“Apakah dia masih marah?” batinku. Aku pun menunduk ketika dia lewat di depanku bagai angin lalu. Seolah tak menganggap aku tak ada. “Mengapa apa salahku?”

(satu bulan yang lalu)

“Suti, ada tamu tuh”, anak ibu kos ku memanggil dari balik kelambu kamar.

“Siapa, mbak?”

“Gak tahu, katanya sih teman satu kelas mu”.

“Sudah mbak tanya, namanya siapa?” jawabku dengan mengerjap-ngerjapkan mata jenaka.

“Mana tahu lah, kayaknya sih bukan teman satu kelasmu deh. Kalau iya kan aku tahu dan kenal semua”.

“Laki-laki apa perempuan”, tanyaku lagi dengan rasa malas.

“Laki-laki, cepat temui sana. Kayaknya dia sudah tidak sabar. Tuh lihat saja ekspresinya. Kebingungan dan gelisah”.

“Hah! Perasaan aku tidak janjian dengan seseorang. Apalagi teman satu kampus. Jangan-jangan seperti kemarin?” perasaanku kebat-kebit tak karuan membayangkan kejadian kemarin.

Ketika ada sesorang yang mengaku kenal denganku bahkan meng-klaim dirinya kekasihku. Serta edannya lagi dia berkata “kekasih dari masa laluku”.

“Gawat!” di saat hubunganku dengan mas Hendri tidak berjalan dengan mulus. Karena hadirnya ‘Selly’ gadis ganjen dari kelas pagi. Yang terus merangsek dan memporak-porandakan hubungan kami. Apalagi saat netraku secara tidak sengaja melihat gadis itu bermanja-manja di lengan Hendri seusai jam kuliah berlangsung. Sangat mesra.

Sementara dia yang mengaku sebagai kekasihku membalasnya dengan tersenyum manis, seolah memberi si ganjen itu sejuta harapan.

“Dasar pelakor tak tahu malu!” hardik ku dalam hati.

Mataku memerah, tanganku mengepal. Ingin saat itu juga ku cakar-cakar wajah cantiknya itu. Ku tendang dengan jurus silat ku. Sehingga dia tersungkur dan berdarah-darah. Tapi apalah dayaku. Ini lingkungan kampus dan aku tidak boleh bertindak sembrono. Atau nama baik Hendri tercoreng dari mahasiswa terbaik dan instansi tempat dia bekerja.

“Yaah…dia ambil kuliah sore karena paginya harus bekerja sebagai seorang teknisi mesin di perusahaan penerbangan. Pernah sedikit dia mengungkap jati dirinya, jika kuliah yang saat ini dijalaninya hanya sebagai prasayarat untuk menuju ke jenjang jabatan yang lebih tinggi. Aku maklum”.

Kutemui Hendri di ruang tamu kos. Dia tampak gelisah berkali-kali melihat jam tangannya. Aku yang tidak nyaman dengan perilakunya mendengkus kasar dan bertanya,

“Ada apa Hend?”

“Bisa kah kamu menemuiku nanti malam di hotel Horizon?”

“Untuk apa, bukannya kita ada mata kuliah nanti malam?”

“Eem ini penting bagiku. Kantor mengadakan acara family gathering dan yang masih bujangan diminta untuk membawa calon istrinya”.

“Apakah itu wajib?”

“Harus Suti aku tidak mau dipermalukan dengan kesendirianku ini”, pintanya penuh harap.

“Baiklah”.

“Aku akan menjemputmu, okay”.

“Tidak perlu, katakan saja dimana nanti acaranya akan diselenggarakan”.

“Di aula Anggrek, lantai dua”.

“Heem”.

***

Sebulan kemudian, semenjak peristiwa itu.

Hinggar binggar malam pentas seni wisuda, masuk ke telinga. Ika, sahabatku, sudah manggut-manggut goyang kiri kanan mengikuti irama lagu kegemarannya, seandainya saja tak ku ikat pinggangnya dengan selendang tari yang kubawa dari tempat kos siang tadi, mungkin dia sudah jingkrak-jingkrak seperti orang kesetanan.

Netraku melirik setiap pergerakan bestie ku ini.

“Wow”, sungguh tak punya lara sedikitpun dalam hidupnya. Bahagia terus sampai tua! Padahal baru sebulan yang lalu dia putus dengan sang pujaan hati yang arema itu. Tapi anehnya tak sedikit pun rasa sedih tercetak di wajah semi Arabnya nan cantik menawan.

Kutoleh kan pandangan ke penjuru aula serta kesetiap sudut ruangan nan remang-remang, tapi tak kutangkap siluet “Hendri, dimana dia?” batinku. Ketika rasa lelah merasuk ke dalam raga dan jiwaku, aku hanya mampu menunduk dan menyimpan tangis dalam hati.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi WARISAN CINTA DAN DENDAM DARI MASA LALU

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Pasca panggilan video terakhir, suami Kayra lenyap tanpa jejak, meruntuhkan dunianya dan memaksanya menghidupi kedua buah hati sendirian. Di masa sulit ini, Damar hadir. Sang ipar menaruh dendam akibat skandal masa lalu yang melibatkan rahasia saudara kembar Kayra. Sempat menolak mengakui darah daging dari relasi itu, Damar akhirnya luluh melihat kemiripan sang bayi. Akankah takdir baru bersama Damar ini menjadi akhir dari penderitaan panjang Kayra?
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania, pengacara pemberani yang mempertaruhkan nyawa demi keadilan, kerap berseteru dengan rival masa kecilnya yang dingin, Yudi. Walau menentang perjodohan, takdir mengikat mereka dalam pertunangan rahasia yang diatur orang tua. Di tengah konflik perasaan benci dan cinta, bahaya besar mengintai saat Tania nekat melawan Wijaya, konglomerat kejam dalang kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia menikah dengan Seno Bagaskara, seorang pria kaya raya. Di kediaman megah keluarga suaminya, ia harus beradaptasi tinggal bersama para ipar. Namun, di balik kemewahan itu, bahaya mengintai. Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno serta suami dari iparnya memendam hasrat terlarang padanya. Kini, ia terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi situasi rumit ini?
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali dengan membawa wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menawarkan janji pernikahan palsu demi menikahi perempuan itu. Sebagai putri bangsawan sekaligus menantu dari dinasti konglomerat, aku menolak menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan ini, aku akan memastikan dia jatuh miskin tanpa sisa.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menebus adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari rela menjual kesuciannya pada Keyko Khayang Gumelar seharga 100 juta rupiah. Di tengah kemalangan itu, ia tanpa sengaja bertemu dengan duda tampan bernama Damian di supermarket. Kini, Daiva berada di persimpangan jalan ketika Keyko dan Damian sama-sama berjuang memenangkan hatinya. Siapa pria yang akan dipilih Daiva untuk menemani masa depannya dan melepaskannya dari bayang-bayang masa lalu?
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Pasca dikhianati saudara angkat dan tunangannya sekembalinya dari desa, Sabrina memilih membalas dendam lewat Charles, paman sang mantan. Walau Charles sempat menolak perasaan setelah malam intim mereka, Sabrina berhasil memicu harga diri pria itu hingga terikat selamanya. Kini berstatus sebagai bibi mantannya, Sabrina yang kerap diremehkan ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar. Ia membuktikan diri bukan pemburu harta, melainkan pemilik takhta yang sesungguhnya.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED