“Betapa bodohnya aku, yang setiap hari disetiap desahan napasku, masih berharap dan bergantung padanya”. Gumamku sambil menunduk sedih.
“Woii, kamu mulai gila ya”, teriak Ika dekat telingaku, saat dilihatnya aku yang tengah bersedih.
“Hadeew, bisa ngak pakai teriak begitu. Aku tidak tuli tau!”
“He…..he….syukur deh, kirain udah gila. Habis ngedumel sendirian sedari tadi. Ngapain loh, mbayangin si Hendri lagi. Sudah gak usah dipikir, nikmati saja hiburan malam ini. Dugem, girl! Kapan lagi kita bisa menikmati malam pentas seni menyenangkan ini. Bentar lagi kita akan disibukan dengan pekerjaan dan karir”.
“Oh ayolah, Suti, jangan cengeng, please! Move on! Masih banyak tuh cowok-cowok yang nganggur di luar sana untuk kita gebet, okay”, rayunya lagi.
“Malas, ah! Paling sama kayak dia, nyakitin hati”.
“Kalau malas ya tidur aja sono! Bikin tai mata sebanyak mungkin!”
“Tidur di atas panggung, gila loe ya. Bisa dilempar tomat gue, sama penonton. Apalagi anak FPOK tuh, pada beringas kalau dengar lagu kesukaan mereka. Loe lihat ngak, sebelah sana! Si Yono sama Hari, haduuh, goyangannya sampai segitunya. Senggol kanan kiri, untung mereka satu kelas kalau tidak, sudah dilempar ke ruang sebelah tu anak”, aku bergidik ngeri membayangkannya.
“Udah, ngak usah dipikir. Nikmatin aja girl, malam terakhir kita di kampus nie”, kata Ika lagi sembari geleng-geleng mengikuti musik yang di panggung.
“Eh, Suti, lihat tuh, siapa yang lagi tampil. Idolamu neeek! Wuuuuuh!” teriaknya pada penyanyi yang ada di sana.
“Oh, dasar makhluk tak ber akhlak”, umpatku dalam hati.
Ketika sosok itu muncul di panggung. Cinta pertamaku di kampus. Tapi aneh, tak ada yang berkesan dalam hubungan kami yang terjalin tiga tahun.
Tahun-tahun yang penuh canda dan tawa dengan gaya berpacaran yang konvensional, jalan bersama, makan-makan dan tak pernah ada free sex selayaknya sepasang kekasih lainnya.
Aku sedikit tersenyum mengingat momen tersebut. Seolah mengerti dengan sinyal yang aku lontarkan. Jodi menatap sebentar ke arahku sebelum dia memulai pertunjukannya.
Teriakan histeris dari ciwi-ciwi jurusan Bahasa dan keuangan memenuhi ruangan mengiringi penampilannya. “Sungguh-sungguh idola sejati”.
***
Rinai hujan rintik-rintik yang seperti dicurahkan dari langit tertangkap dalam netraku. Aku menunduk semakin dalam memandangi aliran air di jalan raya. Kuhela nafas keras-keras untuk mengusir penat dan lelah tubuh ini. Tapi hal itu tak mampu mengusir rasa jengkelku setelah seharian ini, aku disibukan dengan urusan kantor.
Pikiranku menerawang ke kejadian tadi pagi, ketika menemani sang bos menemui klien di restoran hotel ‘Daun’.
“Suti, sudah kau bawa semua file yang akan kita presentasikan hari ini?”
“Sudah, pak. Semuanya lengkap”, jawabku sambil menjinjing laptop di tangan kiri.
“Ehm, baguslah”.
Kulihat dia sedikit gugup saat mengambil sapu tangan dari saku celana serta mengusap peluh yang mulai bercucuran di sekitar dahi dan dagu.
“Aku harap kau nanti tidak mengecewakannya. Orangnya sangat sulit ditebak dan pemarah. Aku dengar dari rekan-rekan sesama pebisnis bahwa ia tidak menoleransi sekecil apapun kesalahan yang dibuat oleh orang disekitarnya”.
“Kamu tahu, Suti? Beberapa hari yang lalu, Arman kena damprat beliau dan proposal kerjasama yang dia ajukan langsung dilempar di tong sampah. Gara-gara hanya berbicara sedikit belibet pada saat presentasi. Padahal dia membawa Selly, sekretarisnya yang sexy dan bahenol itu. Pun pada saat selesai presentasi dia mencoba mendekatkan diri dengan cara yang kamu tahu lah si Arman itu, dia akan menggunakan segala cara agar proyeknya goal”, jelasnya lagi panjang lebar sambil sesekali mengusap peluh di dahinya yang tampak semakin deras mengalir dari dahinya yang semakin lebar.
Aku bergidik ngeri membayangkan kata segala cara yang digunakan oleh bos ku ini.
“Tapi pak Yono, tidak akan menjual saya kepada orang ini kan?”
“Hus, ngomong apa kamu! Aku masih waras untuk tidak melakukan hal seperti Arman. Aku juga seorang ayah dan kakek dari satu cucu. Anak perempuanku dapat suami orang baik-baik meskipun mereka hidup sederhana. Suaminya yang lulusan pondok itu pekerjaanya diperoleh dengan cara halal. Bahkan aku yang setua ini belajar banyak ilmu agama dari dia”.
“Kamu tahu, Suti?” Katanya kembali. “Anak semata wayangku tak mau menerima sepeserpun bantuan yang kuberikan, walau hanya uang saku buat cucuku.”
“Dia malah berkata, “simpan saja uang itu buat ayah. Siapa tahu nanti ayah butuh buat berobat. Kami tidak membutuhkannya, nafkah dari mas Pepeng sudah lebih dari cukup”, selalu itu yang dia ucapkan. Aku sangat bersyukur sekali punya mereka. Dan aku harap kerjasama ini berhasil sehingga aku punya bonus yang banyak dari perusahaan untuk tunjangan pensiunku nanti”.
“Amiin ya rabbal alamiin”, sahutku dengan penuh semangat.
Bergegas kami menuju ruang meeting dari hotel “daun” yang terletak di lantai dua.
‘Ting’ pintu lift pun terbuka tepat di lantai yang kami tuju.
Di sudut ruangan, tampak dua orang berbadan besar serta berseragam hitam berdiri tepat depan pintu ruang yang akan menjadi tempat meeting. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, aku yakin mereka adalah bodyguard pribadi dari ‘Mr. J’.
“Eits….tunggu. Nama itu mengingatkan pada panggilan yang sering kugunakan dulu pada saat menjalin kasih dengan seseorang”.
“Ah tidak, mungkin inisialnya saja yang sama. Mana mungkin dia mau berkecimpung di dunia bisnis yang kejam ini. Dia tidak pernah serius, kan?” monologku lagi.
Aku terkesiap ketika memasuki ruangan. Kutatap lagi degup jantungku yang tak karuan.
“Kok bisa dia sih? Jadi Mr. J yang terkenal sadis itu dia”, monologku dalam batin.
Pembukaan rapat yang dilakukan oleh Andrew, asisten pribadinya terasa panjang dan lebar. Fix, dia orangnya detil dalam memaparkan apa saja yang menjadi hak dan kewajiban peserta tender kali ini. Wajah-wajah antusias dari perwakilan berbagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa hotel dan travelling memenuhi setiap sudut ruang meeting nan luas.
Sebentar netraku melirik kearah Mr. J, dia tampak dingin dan acuh. Wajah tampan dan rambut klimisnya, terasa aneh bagiku. Tatapan tajam dan membunuh miliknya, membuatku bergidik ngeri. “Apa yang membuatmu berubah, Jay?” pikirku berkata.
Kuhela napas agar mampu mengurangi kegugupan saat aku akan melakukan presentasi proposal perusahaan kami. Kulihat dijajaran kursi depan, pak Yono, mengacungkan ibu jarinya, seolah memberiku amunisi tambahan untuk mentalku yang mulai rapuh, ketika melihat Jay di depan sana.
“Semangat, Suti. Kamu harus bisa memenangkan tender ini, demi kelangsungan perusahaan dan para karyawan. Ingat mereka tergantung denganmu!” gumamku pelan.
Kubagi print out proposal kepada Andrew, sesaat dia berjalan kearah bosnya dan sedikit berbisik, kulihat Jay mengangguk tanpa ekspresi. Kurasakan kadar kegugupanku meningkat.
“Semoga presentasiku lancar, bantu aku ya Allah”, doaku pelan.
Aku mengangguk sopan, sesaat setelah presentasi panjang kulakukan. Sementara disana kulihat ‘Jay’ mengepalkan tangan kirinya. Sedangkan tangan yang digunakan untuk memegang proposal sedikit terangkat ke udara. Dag dig dug perasaan ini, hatiku semakin menciut melihat hal tersebut.
“Please, Jay. Beri kesempatan pada perusahaan kami”, netraku terpejam serta sedikit meremas kedua tanganku. “Semoga ada keajaiban”.
“Andrew!” bentaknya memenuhi ruang.
“Ya bos”.
“Buang sampah ini ke tempatnya! Bubarkan mereka, hanya buang-buang waktuku saja!”
“Siap bos”.
Aku hampir menangis melihat hal tersebut. Pun pak Yono, mulai mengelap peluh yang kembali bercucuran di dahinya. Senyum itu terlihat sedikit kecut. Aku salah tingkah memandang beliau. Netra kami beradu pandang seolah mengerti. Dia hanya angkat bahu seolah pasrah dengan takdir. Dengan secepat kilat kubereskan laptop dari meja. Sedikit berlari kuhampiri Andrew.
“Mr. Andrew, please! Tolong pertimbangkan lagi proposal perusahaan kami”.
“Hemmm, tergantung si bos, nona. Aku hanya seorang pekerja disini”.
“Jay! Eh maaf, Mr.Jay. Tak bisa kah anda meluangkan waktu barang sebentar untuk melihat proposal kami?”
Dia menoleh, serentak semua orang dalam ruangan itu menghentikan aktifitasnya. Dengan penuh kekuatiran mereka menantikan responnya.
Dia melihat wajahku sekilas kemudian memandangiku dari ujung rambut sampai sepatuku. Sejurus kemudian menatap dadaku sedikit lama.
“Ehem, itu tergantung dengan performamu, nona”, bisiknya di telingaku.
“Dasar mesum, bajingan”, kutendang dengan jurus kungfuku baru tau rasa kau. Otak miring!” tentu saja kata-kata itu hanya ada dalam pikiranku.
Sedangkan aku sedikit tersenyum dengan tingkah lakunya. “Brengsek!” umpatku pelan sebagai balasan atas tingkah lakunya.
Jay tampak santai serta melangkahkan kaki menuju keluar ruangan bersama Andrew di belakangnya. Di lorong aula, Andrew mengacungkan jempolnya ke arahku.
“Apa maksudnya?”
“Yaaah”, disinilah aku sekarang. Merenungi nasib sebagai seorang pengangguran. Tepat satu bulan semenjak presentasi brengsek itu. Aku dirumahkan, ah tidak, lebih tepatnya lagi semua karyawan ‘Dico hotel and travelling’, di pecat dengan hormat dan diberikan kompensasi sesuai dengan masa kerja masing-masing.
Sedikit menyesal, tentu saja. Karena aku tak mampu memenuhi keinginan pak Yono, untuk membawa bonus yang banyak di saat beliau memasuki purna tugasnya. Dalam acara perpisahan perusahaan aku mengucapkan beribu permintaan maaf.
Dengan bijaksananya pak Yono menasehatiku,“lebih baik begini Suti, daripada kamu menggadaikan harga dirimu demi tender yang tidak seberapa itu”.
“Maksud, bapak bagaimana? Itu tender besar loh, Pak. Harapan bos besar satu-satunya untuk menyelamatkan perusahaan dari kehancuran”.
“Maksudku kamu mungkin bisa memenangkan tender itu, tapi dengan menjual tubuhmu ke Mr. J. Memangnya kamu mau hal itu terjadi. Kamu ingin mengikuti jejak si Selly?”
Pertanyaan bosku ini membuat aku terbengong. Membayangkan punya uang banyak, mau apapun tinggal tunjuk. Kemana-mana diantar pakai mobil. Kulit tidak gosong terkena sinar matahari. “Ah, betapa menyenangkannya,” pikirku sembari menelan ludah.
Saat pikiran warasku mulai menguasai, mulutku pun mulai berkata,”idiiih, amit-amit deh Pak. Mending aku jualan krupuk dan nasi saja di alun-alun kota seperti saat kuliah dulu. Hati tentram karena hasil dari pekerjaan halal”.
“Nah, itu Suti tau”.
“Yaah, tapi saya sedikit kecewa, karena tidak bisa memenuhi harapan pak Yono”.
“Mengenai apa? Yang mau kujadikan mantu itu kah?”
“Iiih, bapak ada-ada saja ya. Memangnya masih punya stok anak laki-laki?”
“Gak ada, anaku ya hanya Dewi, itu pun sudah sold out”.
Aku tergelak,“memangnya mbak Dewi penyuka sesama jenis ya pak?”
“Hus…ngawur kamu”, di acaknya rambutku dengan sedikit kasar.
“Mbak mu Dewi itu, perempuan tulen Suti. Ngak neko-neko anaknya. Sudah ah, ngomong sama kamu, tambah ngawur saja. Cepat pergi bergabung dengan temanmu yang lain sana! Sapa tau ada info lowongan pekerjaan di tempat lain”, usirnya.
“Siap pak, doain ya, segera dapat pekerjaan lagi. Nanti kalau dapat bapak saya tarik deh, jadi manager bagian marketing sama seperti dulu”.
Beliaunya tergelak, “ngak usah, aku mau menikmati masa pensiunku dengan tenang. Serta momong cucu saja. Coba bayangkan setiap hari ditemani Dewi sama anaknya jalan-jalan pagi ke alun-alun kota sambil ngasih makan burung yang ada di sana. Menghirup udara pagi, merasakan hembusan angin dari pepohonan di sepanjang jalan. Oooh segernya, nikmat kehidupan yang siap kujalani”.
Kulihat pancaran mata atasanku yang berbinar ceria dan pipi tembemnya menggembung seolah angin itu nyata dihadapannya.
“Oalah, pak. Enak benar yang sudah memasuki usia non-produktif”, pikirku.
Anganku melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu. Banyak rekan-rekan kerjaku yang menangis terutama Dona, si cerewet itu. Dia menangis bukan karena menjadi pengangguran. Tapi karena tidak akan bertemu denganku lagi.
Susah payah aku membujuknya, tak dihiraukan, seolah lupa kalau kami masih satu kosan. Hanya terpisah oleh pintu ruang yang berbeda. Padahal setiap hari dia ribut membangunkanku jika molor. Pun sebaliknya.
“Suti, gimana donk, hubungan kita nantinya?”
“Maksudmu apa Don?”
“Dona suti Dona, bukan Don. Kamu kira aku Doni atau Don yuan gitu?”
“Iya, Dona cerewet nan centil”.
“Nah, gitu donk. Manggil jangan setengah-setengah. Bisa menimbulkan persepsi yang salah. Apalagi yang dengar orang yang tak dikenal. Bisa-bisa aku dikiranya transgender nanti”.
“Memangnya kamu perempuan tulen?” tanyaku lagi sambil mengedip-ngedipkan mata.
“Ouuh brengsek loe. Apa perlu kubuktikan nih, genderku”, tukasnya sambil mengangkat rok sepannya.
“Aduh…duh gak usah Donald. Nanti dilihat ibu kos pas lewat, malu. Dikira kita mau mesum lagi!”
“Ya sekalian saja. Biar tambah hot gossip yang menyebar di tempat kos ini”.
“Gila loe ya. Sudah-sudah topik kita apaan tadi?” tanyaku sedikit bloon.
“Haaish…ini belum tua sudah pikun duluan”, ditoyornya kepalaku pelan.
“Tentang kita, Suti. Nanti aku kangen kalau tidak bertemu denganmu setiap hari”.
“Kita kan masih satu kosan, Donald. Cuma terhalang tembok ruang saja. Masa iya, tidak bisa bertemu. Kamu aneh deh”.
“Aku mungkin pulang kampung. Si mbok sudah kangen pingin kumpul sama anak-anaknya. Jadi aku mau pamit sama bu kos. Mulai besok aku sudah tidak tinggal disini lagi”.
“Yaaah, tega kamu, Dona. Masa aku ditinggal disini sendiri sih. Kalau ada yang nyulik bagaimana?” kataku memelas.
“Biarin saja. Apalagi kalau yang nyulik kamu orangnya ganteng dan tajir, macam si Jay itu”.
“Bffuuuh, semburku keras ke mukanya”.
“Lu belum tau aja siapa yang membuat kita jadi pengangguran”, batinku.
Sedangkan Dona tertawa keras sampai terpingkal.
“Eh nie anak kesambet kali ya? tadi nangis-nangis karena mau berpisah. Sekarang tertawa-tawa kayak kerasukan setan. Amit-amit”, aku geleng-geleng kepala.
Setelah kejadian itu.
“Pulang kampung? Gengsi donk. Jadi disinilah aku sekarang, terjepit diantara para pelanggan setiaku. Yaah…para mahasiswa yang kelaparan serta para manusia pencari keringat untuk kesehatan”.
Alun-alun kota adalah tempat strategis untuku berjualan nasi pecel dan menu urap-urap serta lauk ayam goreng juga telur balinya. Aku senang tatkala para pencari kuliner pagi itu memborong beberapa bungkus untuk dinikmati sebagai menu pembuka kegiatan yang padat. Wajah-wajah puas kekenyangan merupakan pertanda bagiku untuk meraup lebih banyak rupiah.
Tepat jam delapan pagi, aku sudah menghitung penghasilanku hari ini. Dibawah pohon cemara rambut yang tumbuh rindang sepanjang tepian tempatku berjualan.
“Lima ratus ribu! Wow! Perolehan yang luar biasa. Hanya dengan modal dua ratus ribu rupiah, aku bisa menghasilkan sebanyak ini. Sebentar lagi aku bisa jadi owner restoran, nih”, batinku.
Sembari menikmati nasi empok jualan mbok Misnah, pikiranku kembali melayang ke kejadian satu tahun ini. Betapa sulitnya aku mencari pekerjaan baru, sudah kucoba melayangkan lamaran kesana kemari sesuai dengan ijasahku.
Dari yang melalui e-mail pun yang langsung kudatangi perusahaannya, tapi tak satupun diantaranya yang mau menerimaku.
“Aku heran, padahal standar kualifikasi kerja yang mereka minta sudah terpenuhi semua. Bahkan aku punya pengalaman yang lebih dari cukup. Apa yang membuat mereka menolak ku?” kugelengkan kepala berkali-kali, tak mengerti.
“Pagi, nona Suti!” aku terhenyak. Sapaan itu menarik kesadaranku ke alam nyata.
“Pa….pagi”
“Masih ingat saya?”
Kucoba melacak memoriku lagi terhadap sosok lelaki tampan gagah nan rapi di depanku ini.
“Emmm, sepertinya kita pernah bertemu, tapi dimana ya?”
“Anda betul-betul tidak mengingat saya nona?”
“Eh iya maaf, anda siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Oh my God, betul rumor yang saya dengar. Anda orangnya pelupa. Padahal yang saya tahu, nona adalah pekerja yang berprestasi di perusahaan dan banyak membawa kemajuan serta keuntungan, dulu”.
“Aah, anda bisa saja tuan….ehmm, tuan siapa namanya?” tegasku kembali.
Dia tertawa keras sebelum menjawab pertanyaan, melihat ekspresiku.
“Perkenalkan lagi, nama saya Andrew, nona. Andrew santoso, saya asisten pribadinya Mr. Jay”.
“Aha, saya ingat sekarang. Yeaah, kita pernah bertemu di acara presentasi perusahaan Dico hotel and travelling, sesaat sebelum pemutusan kontrak kerja masal”.
“Bisakah nona ikuti saya? Ada yang ingin bertemu dengan anda”.
“Siapa?” tanyaku keheranan.
“Nona lihat disana. Orang yang ada di dalam mobil Bentley hitam itu, ingin berbicara dengan anda”.
“Bos anda?” tanyaku meyakinkan lagi.
“Ya, Mr. Jay. Silahkan nona ikuti saya!” perintahnya lagi.
Aku membetulkan topi yang kukenakan sambil netraku melirik ke arah mobil seharga tiga koma enam milyar itu. Tampak disebelah pintu penumpang, ada dua bodyguard yang berjaga.
“Mau apa dia?” pikirku.
“Banyak banget musuhnya, musti pakai pengawal segala hanya bertandang ke tempat aman nan sejuk ini?”
Dengan langkah ragu ku ikuti Andrew. Sesaat kemudian salah satu pengawal yang berbadan besar itu, membukakan pintu untuk ku. Aku hanya diam termangu memandangi celana kerja berbahan mahal yang membaluti kaki panjangnya.
Aku terpesona dengan sepatu kulit berwarna coklat terang, yang berkilau menyilaukan mataku. Sedetik….dua detik hingga tak terasa hampir dua menit aku hanya terpekur di tempat yang sama.
“Masuk, sampai kapan kamu berdiri di situ!” bentaknya kasar.
Aku terhenyak, “eh…tidak nanti mobil Mr. Jay kotor”, jawabku gugup.
“Ray!” gelegarnya lagi.
“Ya bos”.
“Paksa wanita itu ke dalam mobilku. Kalau perlu gendong dia!”
“Bos yakin?”
“Sejak kapan kau menjadi tidak yakin dengan perintahku, Ray?”
Aku semakin terkejut,“tidak! Aku tidak mau dipermalukan dengan hal tersebut. Apalagi disini masih banyak pelanggan dan teman-teman pedagang seperjuanganku”.
“Bahkan disudut sana mbok Misnah memperhatikanku dari tadi. Kang Tono yang jualan cendol pun melihatku secara intens. Kuatir hal buruk akan menimpaku. Ya, persaudaran antar pencari nafkah disekitaran alun-alun kota ini memang sangat kental”. Sedetik kemudian ku ikuti kemauannya tanpa bantahan.
Selama perjalanan, aku hanya diam menikmati kegugupanku. Netraku lebih banyak memandang keluar jendela mobil. Menikmati lajunya bayangan benda-benda yang semakin tertinggal di belakang.
‘Jay’ terlihat acuh dan dingin, dia memainkan tablet yang ada ditangannya. Tak sedikitpun menoleh atau sekedar bertanya,
“Bagaimana kabarku? Setelah sekian lama tak jumpa. Ah, apalah aku ini dihadapannya?” kuhembuskan napas pelan.
“Bos, kita sudah sampai”, Bondan sang bodyguard sekaligus sopir berkata.
“Heeemm”.
“Silahkan nona”, kata Bondan sambil membuka pintu mobil di sisiku.
“Terima kasih”.
Langkah Jay yang lebar membuatku tertinggal jauh. Dua langkahku satu langkah buatnya. Sesampai di ruang tengah dari rumah megah bergaya Eropa itu, aku tertegun saat menikmati lampu Kristal yang tergantung di tengah ruangan.
Andai boleh, mungkin air liurku sudah jatuh berceceran di lantai mengkilap ini. Bagaimana tidak, aku yang notabene pengagum keindahan ini dihadapkan dengan kemewahan yang hanya ada di negeri dongeng. Sedetik….dua detik….sampai hampir lima menit, kakiku tak kunjung beranjak dari tempat semula sampai,
“Heiii, perempuan sampai kapan kamu berdiri disitu?” bentaknya kasar.
Telingaku sampai berdengung mendengarnya. Kupaksa alam khayalku kembali ke dunia nyata sambil mendengus,
“Apa?” ketusku.
“Watiii, persiapkan wanita itu untuk nanti malam!” teriaknya pada salah seorang asisten rumah tangga yang berjejer di dekat tangga lantai dua.
“Hei, apa maksudmu dengan untuk nanti malam?” sahutku keras.
Jay tidak memandangku sama sekali, dia terus melangkah menuju lantai dua, sejurus kemudian kudengar
“Blaammm’, suara pintu yang ditutup dengan keras.
Aku terlonjak sesaat sebelum kewarasanku menyapa lagi, aku pun teriak,
“Jaaaay awas saja kau kalau macam-macam denganku. Aku tidak akan melepaskanmu sampai ke akhirat pun akan kucari kamu, kuhantui kamu. Lebih baik aku mati dalam kemiskinan dari pada menjual diriku padamu, brengsek!” umpatku panjang lebar.