Bab 1

Seorang bocah berumur tiga tahun, hidupnya sangat miris, tidak seperti anak seusianya. Hidup di lingkungan yang tak layak, minim dengan pendidikan, atau kurangnya didikan dari orang tua.

Oliver Reynald, bocah laki-laki berumur tiga tahun, sudah merasakan kejamnya dunia. Tinggal bersama pamannya Rusic yang seorang pecandu, pemabuk, penjudi, bahkan pencopet. Untuk menyambung hidupnya. Terkadang dia--Rasic Hernadez meminjam uang pada rentenir dengan jumlah uang yang sangat besar. Sehingga Oliver, sering mendapatkan siksaan dari sang paman. Jika ia tidak menuruti kemauan sang paman.

Bocah sekecil itu, tidak mampu melawan kekuatan besar dari pamannya. Untuk membalas pun ia tidak mampu. Dan hanya diam yang menjadi pelindungnya saat ini.

Orang-orang yang berada di sekitar lingkungan pun tak mampu menolongnya, karena Rasic mengancam akan membunuh mereka. Jika diantara mereka membantu Oliver.

Terkadang, Oliver ingin seperti anak kecil lainnya. Disayang oleh keluarga mereka. Tapi itu semua mustahil Oliver dapatkan. Karena dia tidak tahu siapa orang tuanya. Yang hanya dia tahu, ibunya sudah berada di sisi Tuhan, setelah melahirkan dirinya.

Oliver di asuh oleh pamannya Rasic, yang tak lain adalah kakak dari mendiang ibunya.

Rasic sendiri pun, tidak pernah menyayangi Oliver, ia selalu berbuat kejam, mendoktrin pikiran Oliver. Dengan tontonan yang tidak pantas di tonton untuk seusianya.

Tak sampai disitu, Rasic mengajarinya mencopet. Berkelahi dengan teman seusianya, jika ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan Oliver, dan terkadang Oliver mendapatkan pelecehan seksual dari wanita jalang yang sering menemani pamannya di malam hari.

Seperti saat ini, Rasic menyuruh Oliver diam, duduk di bangku yang sudah disediakan oleh pamannya. Untuk menyaksikan bagaimana pamannya bercinta dengan wanita jalang itu.

"Duduk di bangku itu!" perintah Rasic. Tanpa adanya penolakan.

"T–tapi paman," Oliver ingin sekali menolak, tapi Rasic mengeluarkan pisau untuk menggores paha mungil Oliver.

"Turuti perkataanku atau kau ingin pisau ini menancam di pahamu!"

Tak ada kata lain yang harus di pilih Oliver. Ia mengangguk menuruti semua permintaan pamannya.

Tak lama, wanita jalang itu datang mengenakan baju superminim. Memperlihatkan lekuk tubuhnya.

Sekilas, wanita itu menoleh ke arah Oliver, tersenyum padanya. "Sayang kau yakin, kita akan melakukan malam panas di depan bocah itu!" tunjuk wanita jalang,  memandang Oliver penuh nikmat.

"Yes, dia akan tetap disini! Melihat aku melucuti pakaianmu satu-satu dan membuatmu mengerang namaku!" Rasic mencium wanita itu penuh nafsu di depan Oliver, yang menunduk tidak berani melihat permainan liar mereka.

Rasic yang tahu Oliver menunduk. Berteriak meminta Oliver mendongakan kepalanya, di ikuti ancamannya.

"Angkat kepalamu dan lihatlah! Bagaimana aku menyiksa wanita ini! Atau kau mati saat ini juga di tanganku!"

Oliver takut mendengar ancaman dari Rasic, ia pun mendongakan kepalanya. Menyaksikan pamannya mencumbu wanita itu. Bahkan menyiksa wanita itu, penuh kekejaman.

Tinggal bersama pamannya membuat sikap Oliver kecil menjadi lebih tertutup. Bahkan pria kecil itu cendrung menyendiri. Tidak seperti bocah kecil seusianya yang selalu bermain- main bersama teman- temannya.

Di tambah lagi Rasic sang paman selalu meracuni otaknya, dengan menceritakan sang ibu yang mati di tangan pria kaya. Membuatnya menanam rasa dendam pada keluarga kaya itu.

•••

Dua puluh empat tahun kemudian.

Oliver Reynald tumbuh menjadi seorang pria tampan, dingin, dan kejam.

Tumbuh di kalangan yang sangat buruk membuat sejati Oliver sangat lah kejam. Pria itu selalu menghabisi siapa saja yang berani menganggu ketentramannya.

Seperti sekarang ini. Oliver tak segan- segan menyanyat Bahkan menghabisi orang itu dengan cara menusuk tubuh bagian perut berkali- kali. Dan setelah ia menikam korbannya. Mayat dari sang korban ia biarkan begitu saja, tidak peduli jika polisi melacak dirinya.

Sejauh ini polisi pun tidak pernah mencari atau melacak keberadaannya, seperti ada seseorang yang dengan sengaja melindungi Oliver dari kejauhan.

"Dasar lemah! Baru begitu saja sudah mati," ucap Oliver, berdesis sambil menyungingkan senyumannya.

Setelah menghabisi orang itu. Oliver pun kembali ke tempat tinggalnya selama ini.

Kawasan yang disebut sebagai tempat para hidung belang mencari kehangatan. Baru saja Oliver menginjakan kaki. Salah satu jalang menyapanya.

"Kau kemana saja? Rasic mencarimu sejak tadi," ucap wanita jalang itu, menanyakan Oliver.

Dengan tatapan dingin Oliver hanya menyunggingkan senyuman, tanpa membalas perkataan jalang itu. Berjalan melewati tanpa menoleh sedikitpun.

"Dasar pria dingin! Untung saja tampan, jika tidak? Sudah aku pastikan wajahmu aku injak- injak dengan heelsku!" ucap wanita itu, kesal dengan sikap Oliver yang dingin.

Back to Oliver.

Kini Oliver berada di dalam kamarnya, merebahkan di atas ranjang kecil. Sesekali ia menghela nafasnya, kasar.

Tak berselang lama ada seseorang masuk ke dalam kamarnya. "Apa dengan begini kau bisa membalaskan dendam pada ibumu, hah!"

"Ck...! Kau selalu saja menyuruhku balas dendam! Tapi kau sendiri tidak memberitahuku dimana orang itu berada," jawab Oliver, terkekeh mendengar pertanyaan dari sang paman.

Rasic Adam Cliffort, pria paruh baya berumur lima puluh empat tahun keluarga satu- satunya yang di miliki oleh Oliver saat ini.

Pria paruh baya itu selalu menuntut Oliver untuk membalaskan dendam untuk sang adik. Akan tetapi, melihat keponakannya tidak bergerak dan mencari keberadann pria yang diduga telah menghabisi nyawa adik perempuannya.

"Sudah berapa kali aku katakan padamu, Oliver. Pergilah ke kota dan bekerjalah disana, maka kau akan menemukan pria yang telah menghabisi nyawa ibumu!"

"Kau pikir semudah itu mencari seseorang, hah! Kenapa bukan kau saja yang mencarinya, malah kau menyuruhku untuk mencari pria itu, sialan!" ucapnya, membalas perkataan Rasic.

"Brengsek! Kau mengataiku sialan! Setelah aku merawatmu dan membesarkanmu seperti ini! Anak tidak tahu diri, enyahlah kau!"

Rasic mengambil kerah baju Oliver, membangunkan ia dari atas ranjang. Membenturkan tubuh keponakannya ke dinding dengan begitu keras.

Tak sampai disitu, Rasic memukul wajah tampan Oliver sehingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah kental.

'Bugh!

'Bugh!'

'Bugh!'

"Anak tidak tahu di untung! Kau berani melawanku, hah! Sekarang kau rasakan ini." Rasic terus memuku Oliver, tak ada ampun. Emosinya meluap, marah.

Berbagai pukulan, tendangan, tinjuan. Rasic berikan pada Oliver, tapi tak ada satu pun Oliver membalas pukulan, tendangan bahkan tinjuan yang diberikan dari sang paman.

"Ck...! Percuma saja kau memukulku, paman. Kau tidak akan pernah mendapatkan apapun yang kau inginkan. Dan aku beritahu satu hal padamu, dendammu sangatlah tak beralasan!"

"Brengsek! Kau memang bocah kecil keparat, Oliver! Seharusnya aku tidak membawa dan merawatmu. Jika nyatanya kau tidak ingin membalaskan dendam ibumu." Rasic sudah sangat geram dengan sikap Oliver yang tak pernah mau menuruti perintahnya. Dan hasilnya mereka bertengkar saling memukul. Sampai terkadang kedua pria beda usia hampir saling melenyapkan satu sama lain.

Bab 2

Pertikaian antara paman dan keponakan berlangsung lama. Oliver yang terpancing emosi memukul Rasic. Hingga menimbulkan luka lebam di wajah pria tua itu.

"Aku sudah muak denganmu! Sejak dari kecil kau selalu memukulku jika aku tidak menurut perintah sialanmu, sekarang aku bukanlah anak kecil yang selalu kau tindas, aku tahu apa yang harus aku lakukan tanpa kau suruh! Berhentilah memerintahku atau aku yang akan menjait mulut sialanmu itu!" ujar Oliver, geram terhadap Rasic.

Setelah puas, Oliver bangu dari tubuh sang paman. Meninggalkan pria tua yang sudah tak berdaya atas pukulan Oliver.

"Keparat! Jika bukan karena aku. Kau sudah membusuk di neraka!" ujar Rasic, membalas perkataan Oliver.

Oliver berhenti, lalu ia membalikan tubuhnya. Menatap Rasic, mencemooh sambil berdesis. "Cih...! Aku juga tidak berharap diselamatkan oleh pria pencundang seperti dirimu yang hanya tahu balas dendam tapi sendirinya tidak bisa membalas semua perbuatan pria itu pada ibuku, kau pria yang tidak bisa diandalkan Rasic, lebih baik aku tidak mengenalmu sebagai pamanku!"

Oliver pun pergi meninggalkan sang paman. Pergi dari tempat terkutuk itu, dengan membawa dendam yang sudah mendarah daging dalam dirinya.

Ia berharap kepergiannya dapat bertemu dengan keluarga yang telah menghabisi ibunya. Walaupun pria itu berada di ujung dunia Oliver akan mencarinya dan membuat pria itu membayar atas kematian sang ibu.

Setelah Oliver keluar dari tempat tinggalnya selama ini, ada seseorang yang memperhatikan Oliver. Gadis yang diam- diam mencintai pria dingin itu.

"Oliver, kau mau kemana?" tanya gadis itu bernama Maria.

Sekilas Oliver hanya melirik, tidak menggubris pertanyaan Maria.

"Oliver aku bertanya padamu! Kau mau kemana? Kenapa kau membawa tas? Apa kau ingin meninggalkanku?"

"Diamlah Maria! Kau tidak perlu tahu kemana aku pergi."

"Apa aku tidak ada artinya buatmu? Kau meninggalkan aku begitu saja. Tanpa memberitahuku!" ujar Maria. Sendu.

"Aku akan kembali setelah urusanku selesai." tanpa melihat wajah Maria, Oliver pergi meninggalkan wanita itu.

Sementara Maria menatap kepergian Oliver, ada rasa kecewa dalam dirinya di tinggal pria yang di cintai tanpa memberitahu kemana Oliver pergi.

••••

Oliver memutuskan untuk mencari pria yang sudah menjadi penyebab kehancuran hidupnya selama ini. Ia bertekad pergi ke kota besar dengan menggunakan motornya.

Perjalanan dari Dakota menuju Los Angeles memakan waktu 24 jam yang akan Oliver tempuh.

Untungnya Oliver membawa sejumlah uang yang cukup banyak untuk membiayai hidupnya di kota besar, dan memungkinkanya untuk bertahan hidup sebelum mendapatkan pekerjaan disana.

Untuk tempat tinggal mungkin Oliver akan tinggal dengan salah satu sahabatnya, sebelum ia mendapatkan flat untuk di tinggalinya selama berada di Los Angeles.

Hari pun mulai berganti malam. Sudah hampir seperempat perjalanan Oliver tempuh. Kini, ia sedang mengis bahan bakar untuk motornya dan beristirahat sejenak mengisi tenaga tubuhnya.

Untung saja di tempat pengisia bahan bakar terdapat mini market, disana Oliver membeli beberap makanan instans untuk disantap. Samar- samar ia mendengar seseorang sedang bercerita tentang orang yang dicarinya selama ini.

"Apa kau sudah mendengar berita kali ini?" kata seorang pria bertanya pada temannya.

"Berita apa?"

"Apa kau tidak tahu? Putri bungsu dari salah satu keluarga berpengaruh di negara ini sedang mencari seseorang khusus untuk melindungi putri bungsunya."

"Maksudmu? Putri bungsu dari keluarga Franklyn!"

"Siapa lagi kalau bukan keluarga pengusaha itu! Kau tahu keluarga Franklyn akan membayar mahal jika bisa menjaga putri bungsu kesayangan Franklyn."

"Tapi sayangnya aku tidak berminat!" ucap pria itu, menimpali ucapan temannya yang membahas keluarga Franklyn.

"Kenapa kau tidak berminat! Pria di luar sana berbondong- bondong melamar pekerjaan itu. Tapi kau–!" tunjuk teman pria itu. "Kau itu pria aneh! Aku saja ingin sekali melamar, tapi sayangnya aku tidak punya keahlian bela diri, seperti dirimu."

"Ck...! Sudahlah tidak usah membahas lagi. Lebih baik fokus saja bekerja."

Setelah perbincangan kedua pria itu. Mereka kembali bekerja. Dan datanglah Oliver yang tersenyum penuh arti.

Oliver menghampiri mereka yang sibuk di kasir. Melayani para pengunjung yang datang.

Setelah sekian lama mengantri Oliver membawa barang belajaannya untuk di hitung.

"Good evening, sir! Apa tuan ingin menambah lagi barang belanjaannya?" tanyanya, ramah.

"Tidak!" ujar Oliver.

Kasih mini market pun mulai menghitung setelah mendengar Oliver tidak ingin menambah barang belanjaannya.

Setelah menghitung totol barang belanjaan. Dan menyebutkan total belanjaan. Oliver mengeluarkan lembaran dollar dan memberikan pada kasir.

"Bolehkah aku bertanya?" kata Oliver.

"Apa yang ingin anda tanyakan, tuan?"

"Aku mendengar pembicaraan kalian tadi. Apa aku boleh pekerjaan apa yang dibutuhkan oleh keluarga itu?"

"Oh, tuan ingin melamar menjadi bodyguar?"

"Bodyguard?" tanya Oliver lagi.

"Ya tuan, keluarga Franklyn sedang mencari bodyguard untuk putri bungsunya. Dan gaji yang di tawarkan sangatlah besar! Jika saja saya bisa bela diri mungkin saya akan melamar pekerjaann itu!"

Dengan seulas senyuman tipis tanpa ada yang menyadari, Oliver tertarik dengan pekerjaan itu. Ia pun bertekad untuk melamar pekerjaan untuk menjadi bodyguard putri bungsu Franklyn.

Lalu, Oliver meminta pria itu untuk memberitahu alamatnya.

"Bisakah kau memberitahu dimana alamatnya?"

"Tuan mau melamar di sana?" tanya pria itu, sedikit tidak percaya.

"Ya, aku akan melamar menjadi bodyguar!

"Tunggu sebentar tuan. Aku akan mengambil kertas dan pulpen."

Pria itu pun membubuhkan alamat itu dan memberikannya pada Oliver.

Sementara Oliver tersenyum senang. Ia sudah mendapatkan target yang dicarinya. Hanya tinggal menunggu saatnya yang tepat untuk membalas semuanya pada keluarga sialan itu.

Setelah mendapatkan alamatnya. Oliver langsung menancapkan gas. Mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata- rata.

••••

Hari mulai berganti, setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Oliver tiba di Los Angeles dan kini ia berada di salah satu flat tempat sahabatmya tinggal.

"Aku pikir kau tidak jadi datang?" tanya sahabat Oliver, melihatnya di luar.

"Ck...! Apa kau akan tetap membiarkanku berdiri terus di depan flatmu!"

"Ah... Hampir saja aku lupa! Masuklah, anggap rumahmu sendiri!"

Oliver masuk ke dalam. Setelah mendapat izin dari sahabatnya dan duduk di sofa kecil.

Sekilas Oliver mengamati setiap ruangan flat milik sahabatnya. Tidak ada yang buruk dan cukup untuk menumpang selama beberapa hari kedepan.

Namun, sahabat Oliver sejak tadi melihat pergerakan matanya. "Seperti yang kau lihat. Flatku memang kecil tapi percayalah tempat ini sangat nyaman untuk di tempati. Penghuni- huni disini pun tidak pernah rusuh dan mencampuri urusan orang lain," ujar sahabat Oliver bernama Justin.

Pria bertatto dan penuh piercing di bibir dan telinganya. Menjelaskan pada Oliver tentang kenyamanan flat yang di tempati Justin saat ini.

"Bukankah itu bagus! Tidak ada satu orang pun mengusik kedamaianmu!"

"Memang tidak ada. Tapi sayangnya flat ini sangat sepi. Jarang ada yang mau dengan flat kumuh seperti ini. Mereka yang tinggal di flat ini hanya bertahan satu bulan saja."

"Sangat bagus! Aku suka dengan flatmu. Apa kau bisa menyewakan satu flat disini?" tanya Oliver. Meminta Justin untuk menyewa tempat tinggak Oliver di Los Angeles.

"Aku akan bicara pada pemiliknya lusa."

"Okay! Aku akan menunggu!

Oliver pun kembali terdiam. Memikirkan caranya agar ia bisa menjadi bodyguard dan membalas dendamnya.

Justin melihat sahabatnya pun bertanya pada Oliver. Tidak seperti biasanya Oliver terdiam. "Whats wrong dude!"

"Hanya sedikit lelah! Bisakah aku kau membiarkan aku beristirahat sebentar," kata Oliver. Dengan sebuah alasan menutupi sesuatu yang sedang di rencanakannya.

"Beristirahatlah! Aku akan keluar sebentar! Jika kau menginginkan sesuatu katakan saja!"

"Pergilah! Dan bawakan aku minuman!" pinta Oliver. Hanya itu yang diingingkannya.

"Okay, aku akan membawanya!"

Justin keluar dari flatnya. Entah pergi kemana. Mungkin ada pekerjaan yang harus dilakukan sahabatnya itu.

Selepas kepergian Justin. Oliver tidak benar- benar tidur. Memikirkan, bagaimana ia sampai kesana tanpa ada satu orang pun yang curiga atau mengetahui niat busuknya. Akan tetapi, berpikir secara logika. Mana mungkin pria itu tahu tentang dirinya, sedangkan pria itu hanya mengenal ibunya saja. Bukan dirinya.

Lantas, Oliver pun tersenyum setelah mendapatkan sebuah ide untuk rencananya.

"Sebentar lagi semuanya akan terbayar lunas. Dan aku pastikan kau akan mati di tanganku!"

Bab 3

Oliver memutuskan untuk keluar, hanya untuk mencari udara segar. Berjalan- jalan sekitaran tempat itu. Mungkin membawa moodnya kembali membaik.

Dengan menggunakan hoddie hitam dan jeans panjanh serupa dengan warna hoddie yang digunakan Oliver. Menambah ketampanannya berkali- kali lipat.

Baru saja Oliver keluar dari dalam flat milik sahabatnya. Seorang wanita memperhatikan dirinya. Dengan tatapan kagum dan menggoda.

Oliver tidak peduli pada wanita itu. Tidak berminat membalas tatapan mata menggoda dari wanita yang tengah menatapnya.

Akan tetapi. Siapa sangka wanita yang berada di depan flat sahabatnya menegur dan menyapa Oliver. "Hai, apa kau orang baru di flat itu?"

Oliver tak menggubris sapaan dan pertanyaan dari wanita itu, tanpa menoleh atau berhenti.

"Cih! Dasar pria aneh!" lanjut wanita itu, setelah sapaan dan pertanyaannya tidak di balas oleh Oliver.

Namun, satu yang membuatnya wanita itu penasaran dengan Oliver, sikap cueknya membuat wanita bernama Oline ingin tahu siapa Oliver sebanarnya.

••••

Setelah berada di luar flat sahabatnya, Oliver memutuskan untuk berjalan- jalan tak jauh dari sana. Sekaligus mencari makanan untuk mengisi perutnya.

Oliver tidak membawa motor kesayangannya. Ia ingin melihat- lihat seputaran kota besar ini. Lingkup kota yang merupakan pusat dari pefilman dunia.

"Not bad!" ujar Oliver setelah berjalan lumayan jauh dari flat sahabatnya.

Kemudian Oliver terus berjalan mencari cafe atau kedai untuk mengisi perutnya.

Tetapi, siapa sangka ada seseorang menabraknya, dan membuatnya terjatuh.

"Shit!" umpat Oliver.

"Oh, i'm so sorry! Aku tidak sengaja!" ucap orang yang menabrak Oliver.

Oliver tidak menyangka yang menabrak dirinya adalah seorang wanita berparas cantik dan membuat Oliver kagum dengan kecantikan wanita itu.

"Apa kau tidak punya mata!" Oliver tersadar dari lamunannya. Dan ia menatap wanita itu, tajam.

"Hah! Tuan, aku tidak punya waktu untuk meladeni dirimu! Dan maaf jika aku membuatmu terjatuh, tapi sepertinya kau tidak mengalami luka!" ucap wanita itu.

"Sialan!" umpat Oliver, tidak terima ucapan wanita itu.

Wanita yang menabrak Oliver terus menoleh kebelakang. Tidak mendengar ucapan terakhir pria yang di tabraknya.

"Oh shit!" umpat wanita itu, melihay tiga orang berbadan besar mengejarnya.

Wanita itu pun berlari tanpa membangunkan Oliver yang tengah melihatnya berlari menjauh.

Terdengar suara teriakan meneriaki nama wanita itu, lantang. Memanggil nama wanita itu dengan sebuatan nona muda.

"Nona muda, berhenti!" ucap salah satu pria berbadan besar itu.

"Berpencar! Jangan sampai tuan besar marah dan menghukum kita!" ujar pria berbadan besar lainnya. Meminta temannya berpencar.

Akan tetapi, salah satu dari mereka menghampiri Oliver dan bertanya padanya. "Tuan, maafkan nona muda yang telah menabrak anda! Jika terjadi sesuatu atau anda terluka, anda bisa datang dan meminta tanggung jawab pada tuan besar," ucapnya menyerahkan kartu nama.

"It's okay!" balas Oliver mengambil kartu nama itu. Tanpa membaca.

Lantas, Oliver memasukan kartu nama ke dalam saku celananya. Dan pergi dari jalanan itu.

••••

Kedai D'Orion.

Sekitar lima belas menit dari tempat Oliver di tabrak. Kini, ia berada di sebuah kedai.

Oliver memasan makanan untuk mengisi perutnya yang lapar dan segelas bir.

Hanya sekitar lima belas menit makanan dan minuman yang dipesan Oliver datang. Ia pun langsung menyantap makanannya tanpa menunggu lama.

Teringat sesuatu yang diberikan oleh pria berbadan tegap tadi, Oliver merogoh saku jeans hitamnya. Disela- sela menyantap makanan.

Betapa terkejutnya saat membaca kartu nama itu. Tersenyum penuh arti, seakan Tuhan memberikannya izin untuk membalaskan dendamnya.

"Tanpa perlu mencari. Tuhan, telah membukakan pintu untukku," desis Oliver. Bersmirk.

"Well, sepertinya aku memang harus kesana. Dan tujuan yang sudah aku susun rapi."

Oliver pun melanjutkan makanannya. Dengan senyuman yang sulit di artikan oleh orang- orang yang melihatnya.

Setelah ia menghabiskan makanannya. Oliver pun membayar dan segera pergi dai kedai itu. Bersiap, untuk esok hari pergi ketempat orang yang membuatnya seperti ini.

••••

1 hari kemudian.

Oliver bangun lebih awal pukul enam pagi. Hanya untuk mendatangi pria itu.

Ya, Oliver sudah memikirkan matang dan menuntaskan semua dendamnya. Dengan mendatangi kediaman Franklyn sebagai awal rencana yang sudah dibuatnya.

Sekitar tiga puluh menit, Oliver sudah siap dengan pakaian rapi dan siap berangkat menuju kekediaman Franklyn.

Perjalan dengan menggunakan motor kesayangannya. Tidak membuat Oliver kesusahan mencari alamat tersebut.

Hanya memakan waktu kurang dari satu jam, Oliver sampai di kediaman Franklyn. Melihat betapa megahnya mansion keluarga yang dianggap menjadi penghancur hidupnya.

Di luar mansion Franklyn terdapat lima penjaga, Oliver mematikan mesin motornya dan menghampiri kelima penjaga itu.

"Morning, apa benar di sini tempat kediaman keluarga Franklyn?" tanya Oliver, berpura- pura bersandiwara.

"Ya, benar."

"Bisakah aku bertemu dengan pemilik mansion ini?" tanya Oliver lagi. Masih dengan kepura- puraannya.

"Maaf, anda siapa?"

"Kemarin saya mendengar bahwa tuan rumah sedang mencari bodyguard untuk putrinya, dan maksud kedatangan saya kemari ingin melamar menjadi bodyguard."

Penjaga mansion itu pun melihat penampilan Oliver dari atas hingga bawah. Tak ada kekurangan satupun, cocok jika menjadi bodyguard nona mudanya.

Lantas, penjaga itu membuka gerbang dan menyuruh Oliver masuk ke dalam. Dan menunggu sang tuan rumah untuk menemuinya.

Tak berselang lama, pria paruh baya yang masih gagah turun dari tangga bersama wanita yang terlihat masih cantik walau umurnya sudah tidak lagi muda.

Ya, pria itu adalah Lucas Samuel Franklyn bersama istri tercintanya Ashley Gabriella Franklyn yang tersenyum ramah pada Oliver.

"Maaf menunggu lama. Ada apa anda mencari saya?" tanya Lucas.

Oliver tidak menjawab langsung, ia nampak menahan emosinya. Namun, ia berusaha untuk tidak gegabah dalam bertindak. Mencoba untuk tidak menghajar pria tua di depannya.

"Oh, ya maaf. Ke datangan saya kemari ingin menjadi bodyguard untuk putri anda," ujar Oliver. Menyampaikan maksud ke datangannya.

"Apa kau tahu pekerjaan yang kau inginkan?" tanya Lucas. Menatap Oliver lekat.

"Ya tuan, saya tahu pekerjaan yang akan saya lakukan. Dan saya siap untuk menjaga dan melindungi putri anda dua puluh empat jam penuh."

"Apa kelebihanmu? Aku tidak ingin putriku dalam bahaya untuk kesekian kalinya."

"Tuan, saya tidak perlu menjelaskan tentang kelebihan yang saya miliki. Saya hanya ingin menunjukan bahwa saya pantas untuk menjadi bodyguar putri anda," jelas Oliver.

"Kau tahu anak muda. Banyak pria yang ingin menjadi bodyguard putriku. Tapi nyatanya pria- pria itu hanya beralibi. Tujuan utamanya adalah memikat putriku. Aku suka pria semacam itu, apa kau paham!" terang Lucas. Ia sudah sangat lelah menghadapi pria- pria dengan sengaja menyamar menjadi bodyguard hanya untuk mendapatkan putrinya.

"Tuan tenang saja! Saya memang tidak ada keinginan untuk mendekati putri anda. Saya murni ingin bekerja dengan tuan Franklyn." ucap Oliver, meyakinkan Lucas.

Akan tetapi, Ashley yang sejak tadi diam. Memperhatikan wajah Oliver yang tidak asing baginya. Seperti mengenal seseorang. Tapi ia lupa siapa orang itu.

Tidak ingin ambil pusing, Ashley pun mengiyakan. Tanpa berpikir panjang. "Kau bisa menjadi pengawal pribadi putriku mulai besok." timpal Ashley. Tanpa berunding dengan Lucas– suaminya.

Lucas terkejut mendengar penyataan istrinya. Ia tidak mengerti, kenapa sang istri bisa langsung menerima pria muda di depannya. Tanpa melihat keahlian yang dimiliki.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED