“Rhea?” Mario menghampiri Rhea yang tengah membuat list apa saja yang harus disiapkan untuk ulang tahun nanti.
Ia lalu menoleh kepada Mario. “Iya, Mario? Ada apa?” tanyanya kemudian. Perempuan tangguh—ditinggal pergi oleh sang kekasih saat dirinya tengah mengandung Kaisan tiga tahun yang lalu.
Mario kemudian duduk di samping perempuan itu sembari mengulas senyumnya. “Aku nggak bisa ngasih hadiah yang mewah untuk Kaisan. Modal usahaku masih butuh banyak dan hanya bisa kasih ini buat dia.”
Mario memberikan kotak kado berukuran cukup besar kepada Rhea untuk Kaisan. Anak kecil itu akan berulang tahun ketiga tahun satu minggu yang akan datang.
Sebagai ibu yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi anaknya itu, Rhea hendak merayakan acara ulang tahun anaknya di sebuah hotel mewah.
Perempuan itu lantas terkekeh pelan. “Ya udah sih, nggak ngasih juga nggak apa-apa. Yang penting nanti kamu hadir di sana, sebagai ayahnya.”
Mario lalu mengulas senyumnya. “Bahkan aku belum berani lamar kamu karena belum punya apa-apa. Sudah dua tahun padahal, aku ada di sini.”
Rhea lalu mengusapi lengan lelaki itu dengan lembut. “Yang penting kamu masih mau menemani aku dan Kaisan juga udah deket banget sama kamu. Bahkan menganggap kamu sebagai ayah kandungnya.”
“Aku senang, Rhea. Tapi, ada rasa tidak enak hati juga karena belum bisa jadi ayah yang baik buat Kaisan.”
Perempuan itu hanya menghela napasnya. Ia lalu menyimpan kado tersebut di atas tempat tidurnya.
“Udah, jangan terlalu memikirkan hal itu. Selama dua tahun ini aku nggak pernah minta kamu buat lamar aku. Yang penting kamu ada di sini, udah buat aku nyaman.”
Mario lalu mengulas senyumnya. “Terima kasih, Rhea. Oleh karena ini, aku selalu jatuh hati pada kamu.”
Rhea membalas senyum itu.
Tok tok tok!
“Permisi, Non. Ada telepon dari sekolahnya Kaisan.” ART yang bekerja di rumah Rhea masuk ke dalam kamar memberi tahu ada panggilan telepon dari sekolah Kaisan.
Rhea lalu menyambungkan telepon yang ada di ruang tengah itu ke telepon di dalam kamarnya.
“Selamat siang, saya dengan ibunya Kaisan.”
“Selamat siang, Ibu. Mohon maaf mengganggu waktunya. Apakah Ibu bisa ke sekolah sekarang juga? Anak Ibu, Kaisan tadi bertengkar lagi dengan teman satu kelasnya.”
“Apa? Ya ampun. Kaisan kenapa lagi. Baik, Bu. Saya segera ke sana.” Rhea lalu menutup panggilan tersebut.
“Ada apa, Rhea? Kaisan kenapa lagi?” tanya Mario tampak cemas.
Rhea menghela napas kasar. “Kaisan … berantem lagi sama teman kelasnya. Aku ke sekolah dulu. Kamu, lagi nggak ada kerjaan, kan? Tolong tulis nama-nama yang mau diundang ini, yaa.”
Mario mengangguk. “Beres!”
Rhea lalu menerbitkan senyumnya. “Thank you!” ucapnya lalu segera beranjak dari duduknya dan mengambil kunci mobil untuk menjemput anaknya yang lagi dan lagi bertengkar dengan teman satu kelasnya.
Lima belas menit kemudian, Rhea tiba di sekolah anaknya itu. Lalu masuk ke dalam kelas yang mana anak kecil yang sudah dipukul oleh Kaisan tengah menangis histeris.
“Sayang. Kamu kenapa lagi, heum? Kenapa temannya dipukul?” Rhea memegang kedua tangan anaknya itu sembari mengusapi rambutnya.
“Biasalah, Bu. Anak kecil kadang kalau diganggu pasti akan marah. Tapi, kali ini Kaisan benar-benar marah. Gaftan selalu mengganggunya, makanya Kaisan memukul wajahnya Gaftan.” Bu Ira memberi tahu kronologinya.
Rhea lalu memejamkan matanya sekejap dan menatap Kaisan lagi. “Minta maaf ya, Nak. Mami tidak pernah mengajarkan kamu untuk memukul teman kamu. Tidak boleh ya, Nak. Sekarang minta maaf!” titah Rhea dengan suara lembutnya.
Kaisan hanya menggeleng. Tidak berucap apa pun hanya melirik pada Gaftan yang masih menangis.
“Bu. Orang tuanya Gaftan juga dipanggil? Saya mau tanggung jawab dan meminta maaf,” ucap Rhea bertanya kepada Bu Ira.
“Masih di jalan, Bu. Ibunya katanya tidak bisa datang. Nanti ayahnya yang datang kemari.”
“Oh, iya. Biasanya, kalau dengan ayahnya tidak akan seribet dengan ibunya.” Rhea meringis pelan.
Bu Ira terkekeh pelan. “Ibunya Gaftan memang jarang mengantar dia ke sekolah, Bu. Yang sering mengantarnya ke sekolah itu ayahnya. Berangkat dan pulang pasti ayahnya yang menjemput.”
Rhea manggut-manggut dengan pelan. Ia lalu mengusapi pucuk rambut Gaftan dengan lembut. “Maafin Kaisan ya, Sayang. Nanti Tante beliin es krim. Mau?”
“Gaftan alergi susu, Bu. Jangan diberi jajanan seperti itu.”
Rhea mengerutkan keningnya. Ia lalu menoleh dengan cepat kepada Gaftan dan menatapnya dengan lekat. Lalu menatap Kaisan lagi. Ada kesamaan dari wajah kedua anak itu.
“Ngomong-ngomong, karena Kaisan baru satu bulan sekolah di sini, dan saya selalu memikirkan ini. Mohon maaf sebelumnya. Tapi, wajah mereka hampir mirip, yaa. Saya pikir, Ibu masih terikat saudara dengan orang tuanya Gaftan.”
‘Dan ternyata Ibu Ira juga merasakan hal yang aku rasakan juga. Mungkinkah anak ini ….’ Rhea berucap dalam hatinya.
“Bu Rhea?” Bu Ira menepuk pundah Rhea karena terlihat melamun.
Perempuan itu lantas menoleh kepada Bu Ira. “Kalau boleh tahu, nama orang tua Gaftan siapa ya, Bu?” tanyanya kemudian.
“Ibu Tari dan Pak Brandon, Bu.”
Detik itu juga, Rhea membolakan matanya serta menutup mulutnya lantaran terkejut kala tahu dan yang dia kira tadi memanglah benar.
“Itu dia, papanya datang.” Bu Ira menunjuk Brandon yang baru saja tiba dan langsung memeluk anaknya itu sembari mengusapi pucuk kepalanya.
Rhea tidak ingin menoleh. Tidak mau melihat lelaki yang sudah hampir empat tahun lamanya ini menghilang darinya.
‘Kenapa? Kenapa harus dipertemukan lagi dengan manusia bodoh itu?’ ucapnya dalam hati.
“Jangan menangis lagi ya, Nak. Ada Papa di sini. Cuma kegores kukunya sedikit, tidak apa-apa. Anak jagoan nggak boleh nangis, oke?” ucap Brandon dengan suara lembutnya.
Rhea menggenggam erat tangan Kaisan seraya menekan dadanya yang terasa sesak. Ingin mengeluarkan air matanya, namun masih ia tahan.
“Gaftan-nya jahat, Om. Ganggu aku terus,” ucap Kaisan dengan suara khas anak kecil.
Brandon lalu menoleh pada Kaisan. Betapa terkejutnya ia kala melihat wajah tampan anak itu.
“Bu Rhea, Pak Brandon. Saya permisi dulu sebentar, yaa.”
Brandon lantas membolakan matanya. “Rhea?” ucapnya pelan.
Detik itu juga, Rhea langsung menggendong anaknya tanpa mau menoleh pada Brandon. Tidak ingin lelaki itu mengenali anaknya.
“Rhea, tunggu!” Brandon menahan tangan Rhea dan menggenggamnya dengan sangat erat.
“Lepas!” ucap Rhea dengan tegas. Ia lalu mengibaskan tangannya yang digenggam oleh Brandon tadi.
Brandon menatap wajah Kaisan yang tengah digendong oleh Rhea. Hidung dan matanya tidak bisa mengelak kalau anak kecil itu adalah anaknya.
“Kenapa kamu menyembunyikan ini dari aku, Rhea?” tanya Brandon meminta penjelaan kepada Rhea tentang anak yang digendong oleh perempuan itu.
“Rhea, jawab!” Brandon meminta Rhea untuk menjawab pertanyaannya tadi.
Mata itu lantas menatap nyalang wajah Brandon yang tengah menatap wajah Kaisan. Dari matanya terpancar darah yang mengalir darinya.
“Usianya pasti sudah tiga tahun. Seumuran dengan Gaftan karena mereka satu sekolah. Katakan dengan jujur, Rhea. Dia … anak aku, kan?” tanyanya dengan mata menatap lekat wajah Rhea.
Perempuan itu lantas tersenyum campah. “Bahkan, usia pernikahan kamu dengan Tari saja sudah memasuki empat tahun. Kapan, kita ketemunya? Apa pernah, kita bertemu setelah kamu menikahi perempuan pilihan orang tua kamu itu? Nggak pernah, Brandon.”
Rhea lalu menelan salivanya dengan pelan. “Aku tahu ini konyol. Tapi, sepertinya kamu telah salah menilaiku yang katanya baik. Orang tua kamu tidak salah memilih Tari yang mereka jadikan sebagai menantunya. Karena aku tidak sebaik dia.
“Aku … bukan hanya kamu hanya saja yang menjadi pacarku saat itu, Brandon. Karena aku tahu, hubungan kita nggak akan lancar setelah kamu memberi tahu ada yang harus kamu lakukan demi orang tua kamu itu. Ya. Saat itu juga aku mencari pengganti kamu, bermain gila di belakang kamu dan ini hasilnya.”
Rhea memilih untuk menjelekkan namanya daripada harus mengakui Kaisan sebagai anak Brandon. Ia lalu mengusap air mata yang turun tanpa diminta.
“Aku selingkuh dari kamu sebelum kita mengakhiri hubungan itu. Dia bukan anak kamu, tapi anak dari ayah yang selama ini selalu menemani aku. Jangan salah paham, Brandon. Dia bukan anak kamu. Jalani saja hidup kamu dengan istri juga anak kamu.”
Rhea kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Brandon juga anaknya itu. Berjalan dengan langkah lebarnya sembari menggendong anak semata wayangnya itu.
“Mami kenapa nangis?” tanya Kaisan dengan lembut.
“Heuh? Nggak kok, Nak. Mami kelilipan bulu mata Mami. Perih, makanya keluar air mata.” Rhea lalu mengusap air matanya sembari mengulas senyumnya.
Lagi, Brandon berhasil menarik tangan Rhea setelah memasukkan Gaftan ke dalam mobilnya.
“Brandon, cukup! Ak—“
“Aku tidak percaya dengan ucapan kamu tadi, Rhea. Kamu tidak akan pernah melakukan hal itu. Kamu pun tahu aku melakukan ini semu—“
“Brandon! Apa yang kamu tahu dari diri aku? Hanya karena selama dua tahun itu aku tidak pernah mengkhianati kamu, kamu tidak percaya dengan semua fakta yang sebenarnya?” Rhea menyela ucapan Brandon.
“Oke! Oke. Kalau memang saat itu kamu selingkuh di belakang aku, sekarang aku mau tanya. Kapan, waktu kosong kamu untuk mengkhianati aku saat itu?”
Rhea terdiam. Tidak mampu menjawab pertanyaan yang membuatnya merasa dijebak. Ia hanya bisa menelan salivanya dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari mantan kekasihnya itu
“Rhea. Siapa, orang yang sudah mengisi hidup kamu selama ini? Aku senang, kamu sudah mendapat pengganti aku, aku senang. Tapi, aku hanya minta, jawab pertanyaanku dengan jujur. Aku tidak butuh pengakuan, hanya ingin tahu saja.”
Brandon mengadahkan kepalanya menahan air mata yang ingin keluar dari sudut matanya. Melihat Rhea setelah empat tahun lamanya perempuan itu selalu bersembunyi, ada rasa rindu yang hadir dalam dirinya. Ingin memeluk perempuan itu, tapi tidak sanggup.
Dia sudah bukan siapa-siapanya lagi. Hanya sebatas kenangan yang pernah hadir dalam hidupnya saat itu. Hanya bisa mengingat kebahagiaan yang pernah lewati bersama kala itu.
“Tidak perlu pengakuan atau apa pun itu, itu artinya kamu tidak perlu tahu tentang semuanya, Brandon. Aku bukan wanita baik-baik. Aku bukan wanita yang bisa kamu jamin kalau aku tidak punya niat jahat kayak gitu.”
Brandon lalu meraih pundak Rhea dengan tangan bergetar. Menekan pundak itu dan meremasnya pelan. Menundukkan kepalanya sembari menyusut hidungnya dan mengusap air matanya.
“Om kenapa nangis?” tanya Kaisan yang tengah duduk di kursi mobil.
Brandon lalu menatap Kaisan dengan tatapan lekatnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap Rhea kembali.
“Kamu masih berbohong, Rhea. Aku siap bertanggung jawab dan memberikan semua kebutuhan dia.”
Rhea terkekeh pelan lalu menatap Brandon lagi. “Hei! Kamu siapa, mau memberikan semua kebutuhan anak aku dan bertanggung jawab? Kita memang pernah melakukan itu. Tapi, dia bukan anak kamu. Jangan sembarangan memutuskan hanya karena kita pernah menjalin hubungan, Brandon. Dia … bukan anak kamu.”
Brandon menyunggingkan senyum tipis lalu membuang muka dengan pelan. Kembali menatap Rhea kembali dan menghela napasnya dengan panjang.
“Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya, Rhea. Kenapa harus kamu sembunyikan? Hanya karena tidak mau membuat aku merasa bersalah karena sudah memilih menikah dengan pilihan orang tuaku?”
Rhea menggeleng. “Nggak. Jangan kepedean, Brandon. Aku udah bilang ke kamu tadi. Dia bukan anak kamu! Sudah aku tegaskan sekali lagi. Dia, bukan anak kamu. Dia anak aku. Dia orang asing bagi kamu. Jangan pernah menemui aku lagi. Pertemuan kita cukup sampai di sini saja. Kaisan akan aku pindahkan sekolahnya.”
Brandon kembali menyunggingkan senyum lirih. “Kalau kamu tidak merasa, kenapa harus memindahkan dia dari sekolah ini? Karena sudah mencakar wajah Gaftan? Kurasa bukan itu alasannya.”
Rhea menelan saliva dengan pelan. Menundukkan kepalanya dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari mantan kekasihnya itu.
“Rhea ….”
“Hei!”
Mario yang sedari tadi menerbitkan senyumnya lantas memudar kala melihat Rhea yang rupanya tengah berbincang dengan Brandon.
“Daddy!” seru Kaisan lalu meraih bahu Mario. Memeluknya karena senang, Mario datang kemari.
Rhea menghela napasnya panjang. “Kamu dengar sendiri kan, dia memanggil Mario apa? Daddy! Kaisan … anaknya Mario, bukan anak kamu.” Dengan suara bergetar, perempuan itu memberi tahu ayah dari Kaisan.
Mario hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia lalu menggendong Kaisan yang sedari tadi memintanya untuk digendong.
“Nice to meet you, Brandon!” ucap Mario dengan pelan.
Brandon terdiam. Menatap Mario yang terlihat canggung saat bertemu dengannya.
“Sejak kapan, kalian menjalin hubungan?” tanya Brandon ingin tahu. Matanya menatap bergantian wajah Rhea dan Mario yang berdiri bersampingan.
Mario menoleh kepada Rhea yang tengah menatapnya. “Sejak … elo nikah, sama Tari,” jawabnya sembari mengulas senyum. "Apa kabar, Brandon?" tanya Mario basa basi sembari menerbitkan senyum kepada lelaki itu.
Brandon tersenyum campah. “Jawaban kalian berbeda. Dari sini aja udah ketahuan, kalau kalian emang menyembunyikan sesuatu, dari gue!"
Deg!
Jantung Mario langsung berdebar usai mendengar ucapan Brandon yang menyatakan jika jawabannya dengan Rhea tidak sama.
‘Haah? Gue salah ngomong kah? Brandon nanya apa sebelumnya?’ ucapnya dalam hati sembari melirik Rhea yang terdiam membeku bagai tengah berada di tengah-tengah kutub es.
Mario lalu menghela napasnya dengan panjang. “Bro! Lagi ngapain di sini?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Daddy. Tadi aku cakar pipinya Gaftan karena dia ganggu aku terus,” kata Kaisan mengajak bicara papanya.
“Gaftan?”
“Anaknya Brandon,” ucap Rhea. “Dia, berantem sama anaknya Brandon. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang mesti dibahas. Kamu nggak bawa mobil?” tanyanya kepada Mario.
“Nggak. Sengaja mau jemput kamu ke sini. Aku pikir, masalahnya cukup besar karena nggak pulang-pulang. Makanya jemput ke sini,” jawabnya lalu mengulas senyumnya.
“Bro! Balik duluan, yaa.” Mario menepuk sebanyak dua kali bahu lelaki itu kemudian masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Rhea dan juga Kaisan.
“Tadi, Brandon nanya apa?” tanya Mario sembari melajukan mobilnya.
Rhea lalu menoleh dengan pelan kepada Mario. “Tentunya nanya Kaisan anaknya siapa,” ucapnya lemas.
“Dan kamu tidak mau memberi tahu yang sebenarnya? Bukan maksud aku tidak menganggap Kaisan anak aku, jangan salah paham dulu, oke.”
Rhea terkekeh melihat kepanikan Mario yang mengkhawatirkan dirinya salah paham. “Nggak. Aku nggak mau ngasih tahu Brandon. Untuk apa? Aku masih mampu merawatnya dengan baik. Dia juga nggak minta pengakuan, hanya ingin tahu yang sebenarnya aja.”
Mario manggut-manggut dengan pelan. “Ya udah, jangan dipikirin. Brandon nggak akan minta kamu balik lagi sama dia juga.”
“Kalaupun iya, memangnya kamu mau?”
“Oh, tentu tidak!” Mario menjawab dengan sangat cepat.
Rhea lantas tertawa pelan mendengar ucapan Mario tadi.
“Mami kenapa?” tanya Kaisan yang tengah meminum sebotol susu kedelai miliknya.
Rhea lalu menoleh kepada sang anak. “Dan ternyata, anaknya Brandon juga alergi susu sapi. Gen ayah, memang benar-benar kuat, yaa?”
“Oh, yaa? Aku pikir, Kaisan doang yang alergi susu sapi. Ternyata anaknya Tari juga. Ya. Gen ayah memang sangat kuat. Mungkin karena itu juga, Brandon bisa merasakan kalau Kaisan adalah anaknya.”
Rhea menelan saliva dengan pelan. “Tapi, aku nggak mau mengakui itu. Selama ini, aku yang merawatnya. Bukan dia.”
Mario mengusapi rambut kekasihnya itu dengan lembut. “Nggak usah dianggap, Sayang. Kalau nggak mau, yaa nggak usah. Lagi pula, kalian hanya baru ketemu tadi.”
Rhea lalu menatap Mario dengan tatapan lekatnya. “Kamu … cemburu?”
Mario menggelengkan kepalanya cepat. “Nggak lah. Ngapain cemburu sama suami orang. Kalau kamu ngobrolnya sama berondong, baru … cemburu.”
Rhea mengatup bibirnya menahan tawa atas ucapan kekasihnya itu. “Brondong tampan yang mau sama aku itu cuma kamu doang, Mario.”
Pria itu terkekeh pelan. “Karena aku, mencintai kamu apa adanya. Dari dulu, sampai sekarang. Rela kabur dari Eropa juga demi kamu. Dan kamu juga mau menunggu aku sampai sukses lagi dengan usaha aku yang dimulai dari nol ini.”
Perempuan itu lantas mengulas senyumnya. “Ke rumah Indi dulu, yuk!”
Mario menganggukkan kepalanya. “Oke! Ke mana pun kamu ingin pergi, aku siap mengantar.”
Rhea kembali menerbitkan senyumnya. Selama dua tahun ini, Mario selalu berusaha membuat Rhea tertawa, bahagia dan menuruti semua keinginan perempuan itu. Hal yang bisa Mario lakukan untuk Rhea, akan selalu ia lakukan.
Meski kadang sering tidak enak hati karena menganggap dirinya menumpang hidup di rumah Rhea. Sebab setelah kaburnya dia dari Eropa, ia tinggal di rumah perempuan itu dan tidur dalam satu ranjang yang sama.
Hanya belum terikat dalam pernikahan, keduanya sudah tinggal bersama dalam satu atap yang sama. Meski Rhea tidak mempermasalahkan itu, tetap saja Mario merasa dirinya seperti bajingan yang menumpang hidup di rumah Rhea.
Sampai akhirnya mereka pun tiba di rumah Indi.
“Rheaaa!!”
Setelah Mario datang ke Indonesia, pikiran aneh Indi sudah hilang dan mau memeluk para sahabatnya lagi.
“Rhea. Tahu nggak, gue hamil lagi dong?” ucap Indi memberi tahu sembari mengusapi perutnya yang sedikit membuncit itu.
“Lho, kok udah gede? Baru ketahuan apa gimana?” tanya Rhea yang tak kalah hebohnya dengan Indi.
“Udah tiga bulan, Rhe. Biasalah. Laki gue nggak berhenti naikin gue tiap hari. Ketahuannya karena Damian mabuk lagi. Katanya sih, kembar. Makanya udah keliatan buncit.”
“Woaah! Bakalan punya anak kembar dong. Jadi pengen.”
Indi memutar bola matanya pelan. “Ngasih kode nggak kira-kira. Ya udah sih, Mario. Kalau nunggu elo sukses dulu, bakalan bulukan entar. Yang ada nanti kecolongan lagi, brojol duluan sebelum dinikahi.” Indi menganggukkan kepalanya menasihati Mario.
Pria itu kemudian menghela napas kasar. “Nggak enak sama orang tuanya Rhea lah, Ndi.”
“Heh! Sebenarnya elo serius nggak sih, sama Rhea? Jangan cuma mau nemplok doang, lo. Nikahin juga! Udah dua tahun lho, Mario.”
Rhea lalu mengusapi tangan Indi. “Gue belum kasih tahu elo, yaa? Kartu identitas Mario dan semuanya masih disita orang tuanya. Dia nggak punya apa pun sementara syarat nikah harus ada identitas resmi. Elo mau Mario dipenjara, kalau bikin identitas palsu?”
Indi lantas menganga lalu mengatup bibirnya lagi. “Pantesan. Gue pikir, udah selesai karena udah pulang ke sini. Katanya udah dipecat jadi anggota keluarga bangsawan elo itu. Kenapa masih disita sih, Mario? Heran deh, gue!”
“Karena mereka belum memutuskan, Indira Pramestiiii! Baru gue doang yang kabur. Itu pun karena bantuan dari laki elo. Dijemput Diego dan Manda di bandara.”
Indi manggut-manggut pelan. “Begitu rupanya. Ribet banget, yaa. Kalau berurusan sama yang begituan. Anak gue nggak usah kenal sama orang-orang bangsawan kayak gitu deh.”
“Bapaknya miliarder. Nggak jadi masalah,” ucap Rhea kemudian.
“Nggak, bodo amat. Gue mau yang lokal aja.”
Rhea geleng-geleng kepala sembari mengulas senyumnya. “Oh ya, Ndi. Ternyata, Kaisan satu sekolah sama Gaftan, anaknya Brandon.”
“What?!” Indi lalu menghela napas kasar. “Usia kandungan elo waktu itu enam bulan, si Tari empat bulan. Beda dua bulan doang. Ya jelas bakalan satu sekolah. Rumahnya dekat dong, yaa? Tapi, baru ini kalian ketemu?”
Rhea menganggukkan kepalanya. “Anak gue baru masuk sebulan yang lalu, Ndi. Mau gue pindahin aja ke sekolah lain.”
Indi menghela napas panjang. “Rhea. Kalau elo pindahin Kaisan ke tempat lain, malah bikin Brandon makin curiga. Ketahuan banget kalau elo pengen jauhin anaknya dari dia.”
“Dia bukan anak Brandon, Indi. Kaisan anak gue.”
“Heem. Kumat!” Indi lalu mengusapi lengan sahabatnya itu. “Jangan sembunyi terus, Rhe. Move on. Elo nggak akan bisa bahagia, kalau masih galau karena orang gila satu itu. Kasihan Mario. Udah rela kabur dari Eropa, tapi elo masih cinta sama bocah laknat itu.”
“Gue udah nggak cinta, Indi!” tegas Rhea kemudian.
“Kalau udah nggak cinta, apa namanya kalau masih nangis saat lihat Kaisan tidur?”