Bab 1

“Yeayy! Giliranmu sekarang, Eve!” pekik teman-temannya bersorak.

Eve dengan santai menggelindingkan botol bekas air soda di atas alas duduk mereka. Dan botol itu berhenti di kata ‘Dare’.

“Yuhuuu! Giliranku yang kasih tantangan ke kamu, ya! Ehem, ehem!” Salah satu temannya berteriak lantang dan berdehem sebentar seolah sedang menciptakan kesan dramatis.

“Iya iyaa ... cepetan! Aku pasti bisa melakukannya, Eve gitu loh!” sesumbar Eve sambil menyilangkan lengan di depan dada.

“Kamu harus menyatakan perasaan kepada siapa pun pria yang lewat di depan kita pertama kali sejak sekarang. Oke, nggak, teman-teman?” tanya si penantang sambil meminta dukungan dari yang lain.

Kesemuanya tampak bersorak menyetujui sementara Eve terperangah menyesal.

“What? Apa-apaan itu? Perasaan dari tadi tantangannya nggak ada yang segila itu, deh! Curang, ish!” protes Eve karena merasa tantangan untuknya terlalu berisiko dan berat untuk dilakukan.

“Eiits! Gak boleh protes! Udah deal! Atau kamu mengaku kalah dan kita bubar sambil makan-makan di restoran dan kamu yang bayarin kita semua. Ya gak, gengs?” Terdengar keriuhan yang mendorong Eve untuk jangan menolak tantangan yang diberikan.

“Ish! Oke, daripada aku harus rugi banyak traktirin kalian semua, mending aku nembak cowok deh. Ya Tuhan, semoga aja cowok yang lewat pertama nanti cowok single dan ganteng,” ucap Eve sambil bersiap menerima kemungkinan terburuk sekalipun.

“Eh, tapi nanti yang ditembak cuma yang berjalan sendirian kan? Kalau dia gandeng pasangan maka ganti yang lain aja, ya?” tanya Eve kemudian. Berbagai pikiran akan kemungkinan terburuk muncul di kepalanya. “Dan yang seumuran aja sama kita pokoknya, ya? Kalau ketuaan takutnya dia udah punya istri, gila!”

“Wkwkwk. Aturannya itu pria pertama yang lewat di depan kita. Terserah deh mau itu tua atau muda, mau sendirian atau sama selingkuhannya, gak ada urusan!” Teman-temannya mencanangkan aturan yang mana membuat Eve menyesal telah menyetujui tantangan absurd tersebut.

“Sial!” rutuk Eve berkali-kali sambil dengan dada berdebar kencang menanti siapa yang akan melewati mereka pertama kali.

Evangelin Ravenwood, atau akrab dipanggil Eve, sedang mengadakan acara perpisahan setelah wisuda dari universitas. Mereka ingin menghabiskan liburan bersama di pantai sebelum masing-masing akan menjalani dunia kerja di mana kemungkinan mereka akan sulit untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama lagi.

Entah tadi siapa yang mencetuskan ide untuk memainkan permainan Truth or Dare. Karena seru, Eve tak menolak. Lagipula sejak awal sepertinya tantangan yang diberikan adalah hal biasa yang wajar seperti mengatai teman yang duduk di sebelahnya, atau makan mie dengan level pedas tertinggi. Paling tidak, itu semua masih dikategorikan tantangan yang aman.

Lalu, kenapa ketika tiba gilirannya ia harus menembak pria pertama yang lewat, tak peduli status dan usianya pula! Sungguh penuh risiko!

Dan salah satu temannya memekik saat dari kejauhan tampak ada sepasang lelaki dan perempuan berbaju couple tengah bergandengan tangan. Astaga! Ini sih sama saja dengan bunuh diri! Ia bisa langsung ditampar pasangannya kalau nekat menyatakan perasaan.

“Hei? Kalian tidak berpikir kalau aku harus nembak dia, kan?” tanya Eve sambil memutar bola mata.

Teman-temannya tampak berdiskusi dan akhirnya menganulir sepasang muda-mudi kasmaran tersebut. Eve mengembuskan napas lega.

Tak berapa lama kemudian, muncullah sesosok pria yang bahkan dari jauh saja sudah tampak sekali ketampanannya. Tubuh atletisnya menciptakan bayangan siluet yang sungguh sempurna. Pria itu mengenakan setelan yang teramat resmi dan tak begitu cocok dikenakan di area pantai, apalagi malam begitu.

Ekspresi wajahnya tampak seolah sedang mencari keberadaan seseorang. Siapa kira-kira? Eve malah bertanya-tanya dalam hati.

“Ayo, Eve! Sekarang!” titah salah seorang temannya.

Eve gemetaran selama sedetik sebelum kemudian mementapkan hati untuk melaksanakan tantangan yang telah disepakati.

Dengan langkah pasti, Eve mendekat ke arah si pria dan berdehem meminta perhatian.

“Ehemm, Pak?” sapanya seraya nyengir tak enak.

Tidak ada tanggapan. Bahkan, pria itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Apa dia tidak dengar? Eve membatin dalam diam.

Ia pun menoleh ke arah teman-temannya yang malah dengan ekspresi wajah dan lambaian tangan memaksa untuknya meneruskan aksi yang terlanjur dimulai.

“Pak. Maafkan saya, apakah Anda sedang mencari seseorang?” Akhirnya Eve memberanikan diri mencegat langkah si pria.

Pria itu masih saja memasang tampang serius dan cuek. Dan yang menjengkelkan lagi, pertanyaan Eve hanya dijawabnya dengan gelengan kepala tanpa arti.

“Apa maksudnya menggeleng, coba? Dia tidak dengar atau tidak sedang mencari seseorang? Gak jelas banget, deh!” gerutu Eve seorang diri. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang sebagian terkikik geli dan sebagian lagi masih memaksanya untuk melanjutkan aksi.

“Eh! Pak! Anda ini bisu atau tuli atau keduanya, sih? Bisa-bisanya saya udah ngomong panjang lebar nggak ada tanggapan sama sekali!” Tak kuasa menahan lagi emosinya, Eve yang tak terbiasa diabaikan itu pun meluapkan amarah terhadap si pria.

Tanpa diduga, pria itu akhirnya menghentikan langkah dan menoleh lalu menatap tajam ke arah Eve.

“Kamu bicara padaku? Siapa yang bisu dan tuli, ha?” Suara bariton yang terdengar dalam dan sangat berwibawa keluar dari bibir si pria tampan.

Eve seolah langsung mengkerut di tempatnya. Tak disangka si pria malah berjalan mendekat ke arahnya. Sorot mata tajam bak elang yang dibingkai alis tebal itu menatap lekat Eve dengan tatapan menilai dari atas ke bawah. Sungguh cara memandang yang sama sekali tidak sopan, pikir Eve semakin kesal dengan sikap pria di hadapannya itu.

“Apa sekarang giliran kamu yang jadi bisu dan tuli, hm? Gadis bodoh!” sergah si pria sambil menyipitkan mata seolah meremehkan Eve.

“Habisnya Anda diam saja seperti saya ini angin lalu—“

“Tidak selamanya orang harus menanggapi tingkah absurd para gadis labil seperti kalian, kan?” tudingnya ke arah kerumunan teman-teman Eve yang jelas-jelas memang tengah menyaksikan adu mulut yang terjadi di antara mereka.

Oh, sepertinya pria ini memang sedari awal sudah curiga bahwa ia sedang dijadikan targetnya dan teman-temannya, pantas saja sikapnya begitu menyebalkan dan tidak merespon sama sekali.

Eve tak bisa berkata-kata. Disebut gadis labil absurd bukan prestasi di depan pria tampan nan rupawan di hadapannya ini. Sungguh bukan hal yang bisa dikenang sebagai bagian dari memori liburannya kali ini.

Sambil tak lupa melempar tatapan menghunus lagi ke arah Eve, pria itu pergi dengan langkah lebarnya, menjauh dari Eve yang masih terpekur tak tahu harus bagaimana. Untung saja dia belum sempat menyatakan perasaan atas dasar tuntutan teman-temannya kepada pria tadi. Bisa malu berat kalau sampai ditolak mentah-mentah!

Dengan jengkel, Eve mengentakkan kakinya dan berbalik ke arah teman-temannya. Sebagian menghibur dan sebagian lagi malah membuatnya semakin kesal dengan berkomentar menyalahkannya,

“Kamu sih, pakai ngatain bisu dan tuli segala. Sembarangan sekali!”

“Iya! Batal deh dapat kenalan pria keren maksimal gitu! Siapa tahu dia penyelamat kamu dari status jomlo saat ini!”

Eve mendecakkan lidahnya sebal. “Keren kalau sikapnya kaku begitu mendingan aku single aja deh. Bisa sial seumur hidup kalau punya pacar sepertinya!”

Bab 2

Sekembalinya Eve ke rumah, ia langsung bersiap untuk bekerja di Vinestra Group. Itu adalah sebuah perusahaan besar di pusat kota New York di mana Eve baru saja diterima bekerja di sana setelah proses panjang interview dan tes kompetitif terlampaui. Maklum, perusahaan bonafid tersebut memang menarik banyak peminat dari para mahasiswa fresh graduate untuk melamar. Sehingga persaingan cukup ketat.

Beruntung sekali Eve turut lolos dan mendapatkan surat panggilan kerja mulai esok, hari Senin di awal bulan Juli. Anak gadis semata wayang dari pasangan muda Pak James Ravenwood dan Bu Kate Ravenwood itu berhasil memikat penilaian positif dari sang kepala bagian HRD karena berhasil meyakinkan bahwa dirinya siap dikejar target deadline dan mampu bekerja sama dengan tim.

Ia sudah mempersiapkan segala rupa yang dibutuhkan dari mulai baju kerja, menyetrikanya ulang dengan rapi bahkan selepas dari laundry. Ia ingin memastikan hari pertama bekerjanya sempurna. Bahkan tas kerja pun telah disesuaikannya. Diisinya dengan peralatan ATK yang mungkin akan dibutuhkan, lalu tentu saja tak lupa mengisi dompet beserta kotak make-upnya. Ya, seribet itu memang seorang gadis.

“Aku berangkat ya, Ma!” serunya dari belakang sambil mencium pipi sang mama yang tengah berdiri mengemasi piring bekas mereka sekeluarga sarapan.

“Sudah bawa bekal, Eve?” tegur Pak James yang juga masih duduk di kursinya, menyesap kopi.

“Sudah di tas, Pa!” sahut Eve sembari menghampiri sang papa dan mencium pipinya juga. Ia lantas berlari kecil keluar rumah menuju mobil matic berwarna biru metalik yang telah menjadi kendaraannya sejak masa kuliah.

Jam masih menunjuk pukul 06.30 tetapi Eve sudah terburu-buru sekali ingin lekas sampai di kantor. Setidaknya hari pertamanya ia tak boleh sampai telat. Lebih baik dinilai sebagai karyawan yang rajin sejak awal kan daripada harus mengantongi predikat tukang telat.

Dikendarainya mobil dengan kecepatan sedang di mana perjalanan lalu lintas pagi itu di kota New York ramai lancar. Hari Senin terkadang memang rawan kemacetan dan untuk itulah Eve sudah berjaga-jaga dengan berangkat jauh lebih awal. Namun, rupanya hanya macet sedikit yang mudah untuk terurai dan Eve bisa sampai di kantor tanpa hambatan berarti. Ia terus mendengungkan lagu kesukaannya yang melantun dari perangkat pemutar musik di dashbor mobil hingga sampai di gedung besar nan mewah tempat di mana kantornya berada.

Ia mengikuti mobil lain yang masuk ke arah parkiran basement dan mencari tempat parkir yang masih separuh kosong. Pasti karena masih banyak yang belum datang sepagi itu. Akhirnya ia pun masuk melalui pintu masuk utama gedung dan menuju ke lift untuk naik ke lantai 4 di mana ruangan untuk staff office marketing berada. Ya, ia diterima di bagian managerial marketing, menjadi bawahan langsung dari seorang manager marketing yang katanya sedang membutuhkan asisten. Ia belum bertemu dengan beliau selain hanya diberitahu bahwa namanya adalah Bu Jenny.

“Anda Nona Eve, asisten baru, ya?” tanya Bu Jenny kala wanita yang ditaksir berusia sekitar tiga puluhan itu masuk ke ruangan.

Eve segera bangkit dari kursinya dan menunduk hormat sembari menjawab takzim, “Betul, saya Eve, Bu. Salam kenal. Siap bertugas untuk membantu Anda.”

Tampak Bu Jenny mengulas senyum tipis lalu mengambil setumpuk berkas dan meletakkannya di atas meja Eve.

“Ini pekerjaan kamu. Kamu pelajari dan periksa semuanya dulu sehubungan dengan trik marketing perusahaan, lalu laporan harian, mingguan dan bulanan. Semua rekapnya ada di situ. Kalau ada yang kurang dipahami bisa tanya langsung, ya. Setelah paham semua maka kamu akan mulai saya tugaskan membuat rekap untuk bulan ini.” Bu Jenny memberikan instruksinya sambil membolak-balik tumpukan berkas itu untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

“Baik, Bu. Akan saya periksa dan pelajari dulu,” jawab Eve sambil matanya mendelik karena tak tahu kalau ia sudah harus bekerja di hari pertamanya. Bukannya seharusnya ia masih magang dulu? Bukankah magang itu artinya adalah diberikan pelatihan-pelatihan dulu? Ah, entahlah. Ia hanya berharap mampu melakukan apa pun yang ditugaskan oleh sang atasan tanpa ada kesalahan agar kesulitannya saat interview tak berakhir sia-sia belaka.

Jam demi jam berlalu dan Eve tenggelam dalam tumpukan berkas yang rupanya sangatlah rumit itu. Ada banyak sekali tipe marketing yang dijalankan oleh perusahaan itu dan ia harus segera menguasai kesemuanya. Meskipun tugasnya hanya sebagai asisten manager, mungkin ia nanti ke depannya juga akan diminta menghandle tim marketer atau apa sehingga harus mempelajarinya dengan seksama. Astaga!

Saat jam istirahat, Eve langsung merasa beban di pundaknya terangkat seketika. Ia ingin keluar dan makan siang di kantin untuk me-recharge energi serta menghalau stres di hari pertama bekerja! Segera saja ia turun ke lantai bawah dan berjalan hendak ke kantin. Namun, dari jauh ia melihat sesosok pria yang tampaknya tak asing.

“Ya ampun! Itu kok kayak ....” Dia tak sengaja memelototi pria bersetelan jas rapi dengan rambut kelimis dan wajah menawan yang tengah berjalan berpapasan dengannya. Pria itu bersama dua orang pria lain yang sedang mendengarkan instruksinya dengan wajah sangat serius.

Mungkin karena terlalu intensnya tatapan Eve, pria itu berhenti dan membalas tatapannya.

Sejenak hening meraja kala kedua pasang bola mata itu saling mencoba mengenali. Memutar ingatan ke beberapa malam lalu di mana mereka tak sengaja bertemu!

“Hei! Kamu ...?” Pria itu tampaknya juga mengingat wajah Eve.

Dan seketika Eve yang merasa dia sedang dalam bahaya itu segera berlalu pergi dari sana sambil berkata, “ Bukan-bukan, saya salah orang! Maaf!”

Ia setengah berlari dari sana karena sungguh ia tak mau dikenali sebagai gadis nekat dan gila oleh seorang yang sepertinya berkedudukan penting di Vinestra itu. “Astaga! Apa benar dunia bisa sesempit ini, Ya Tuhan!” Eve setengah memekik seorang diri sambil terus berjalan cepat ke arah kantin.

Sampai di kantin, ia hanya memesan es lemon tea dan membuka bekal makan siangnya lantas segera menyuapkan ke mulut. Ia kemudian menghubungi salah satu teman dekatnya yang ikut dalam acara ke pantai beberapa hari lalu.

“Cindy, kau pasti ingat pria yang kutembak waktu di pantai, kan? Astaga! Siapa sangka dia juga orang Vinestra! Atasanku sendiri! Ya Tuhan!” pekik Eve di ponsel saat nada sambung sudah terdengar dari seberang.

“Rupanya benar!” Sebuah suara bariton dalam mengagetkan Eve yang tengah berkonsentrasi menuturkan ceritanya melalui ponsel. Spontan ia menoleh dan matanya membeliak ngeri kala melihat sosok pria tadi rupanya sudah berada tepat di belakang punggungnya, sedang menguping pembicaraannya!

“Sudah kuduga kau gadis kurang ajar yang di pantai itu! Sedang apa kau di sini, ha? Jangan bilang kau diterima sebagai karyawan baru di perusahaanku!” Pria itu melanjutkan ucapan yang kini semakin membuat Eve terperangah kaget.

Bab 3

“P-perusahaan Anda?” tanya Eve tergagap. Tentu saja ia memang sudah mengira kalau pria itu berkedudukan tinggi. Hal itu sudah tampak nyata dari penampilan serta banyaknya karyawan yang menunduk tadi kala berpapasan dengannya di koridor.

Tapi pemilik Vinestra? Astaga! Ini sungguh bencana bagi Eve!

“Benar kamu diterima di perusahaanku? Sial!” rutuk si pria dengan tampang geram.

“Panggil kepala HRD dan suruh menghadapku secepatnya selepas jam makan siang nanti!” titah pria itu sambil kepalanya menoleh ke sisi kiri di mana berdiri seorang pria muda yang sedari tadi mengikutinya. Mungkin itu asistennya, pikir Eve mengira-ngira. Namun, ia tak sempat kalau harus menyelidiki kebenaran mengenai hal itu sebab kini pikirannya telah dikuasai kecemasan. Untuk apa pria tadi memanggil kepala HRD? Apa dia akan memecat Eve? Astaga! Benar-benar gawat!

“Tunggu! Maafkan saya untuk kesalahan waktu di pantai itu, Pak. Tapi tidak seharusnya Anda mencampur-adukkan masalah di luar perusahaan, bukan? Ini tidak adil untuk saya—“ Eve lantas coba memprotes sang atasan yang langsung mendelik ke arahnya.

“Tidak adil katamu? Aku tidak peduli apa pendapatmu! Yang jelas aku tidak akan menerima ada karyawan yang sikapnya labil dan urakan sepertimu di perusahaanku! Kemasi barangmu karena selepas istirahat nanti surat pemecatanmu akan sudah ada di atas meja!” koar pria itu dengan tegasnya.

Entah, tapi melihat kegugupan dan kecemasan yang tampak di mata gadis di hadapannya itu malah membuat Gerald Foster, yang akrab dipanggil Pak Gery, sang CEO dari Vinestra Group itu makin menikmati mengganggu dan mengancamnya. Ini seperti sebuah pembalasan kecil untuk kelakuan nekat gadis itu di malam ketika ia saat itu tengah kalut.

“Tap-tapi, Pak! Mana bisa begitu? Bahkan kalau pun Anda pemilik dari perusahaan ini pun, Anda tidak bisa berlaku seenaknya! Saya sudah menandatangani kontrak kerja dan—“

“Dan aku tetap adalah CEO di sini. Aku berhak memecat siapa pun! Camkan itu, gadis licik!” bantah Gery memotong protes dari Eve.

“Gadis licik? Apa yang telah saya perbuat? Saya cuma main-main saja di pantai dan itu bahkan sebelum saya mulai bekerja di perusahaan ini, Pak. Mengapa Anda membawa-bawanya ke urusan profesionalitas?” bidik Eve tetap mempertahankan pendapatnya bahwa ia sama sekali tidak bisa diperlakukan seperti itu.

“Entah apa yang membuatmu diterima di sini. Tapi aku yakin pasti gadis suka main-main dan labil serta nekat sepertimu ini tidak mungkin lolos ujian ketatnya secara alami!” tuduh Pak Gery kemudian.

“Ap-apa? Tolong bedakan saat bermain-main dengan teman di waktu santai dengan saat di dalam pekerjaan, Pak. Saya cukup profesional dan idealis. Asal Anda tahu saya adalah termasuk lulusan terbaik dari universitas tempat study saya. Tolong tarik ucapan Anda yang berkata bahwa saya memakai cara-cara licik untuk diterima bekerja di sini. Lagipula kalau dari awal saya tahu CEO di sini tak lain adalah pria dingin kepala batu seperti Anda juga saya akan berpikir ratusan kali dulu untuk melamar ke sini!” panjang lebar Eve membantah perkataan Gery.

Perdebatan itu masih berlanjut sampai sang asisten mencolek bahu Gery untuk mengingatkannya bahwa mereka tadinya sedang dalam perjalanan hendak menghadiri meeting para direksi.

“Pak, kita akan terlambat untuk meeting,” kata sang asisten yang langsung berhasil mengalihkan perhatian Gery dari Eve.

“Kemasi saja barangmu mulai dari sekarang, oke?” Sambil berkata begitu, Gery berbalik dan pergi ke arah di mana ruangan meeting direksi diadakan. Sungguh, ia tak percaya telah membuang beberapa menit berharganya barusan untuk melayani perdebatan sengit dengan karyawan baru yang adalah gadis tengil yang mengganggunya saat di pantai waktu itu. Tapi apa daya, memang Gery sangat tak bisa membiarkan momentum itu begitu saja. Dan sikap perlawanan Eve tadi membuatnya semakin tertantang untuk menunjukkan dominansinya terhadap gadis itu.

Sementara Eve yang ditinggalkan begitu saja kini terduduk lesu. Ia membanting sendok dan garpunya ke kotak bekal makan siangnya yang baru disuapnya sedikit. Nafsu makannya lenyap sudah. Kini ia bingung akan apa yang terjadi setelah jam istirahat usai nanti. Apa benar pria tadi akan langsung mengutus kepala HRD untuk memecatnya secara sepihak? Tapi apa bisa atasan bersikap sewenang-wenang begitu di hari pertamanya bekerja? Terlebih ini termasuk masalah pribadi di antara mereka, sama sekali bukan urusan pekerjaan. Tidak seharusnya CEO tadi mencampur-adukkannya.

“Pokoknya aku nggak akan tinggal diam. Susah payah aku melewati semua saingan dalam sesi interview kemarin. Kalau pria itu sampai membuat ulah denganku, lihat saja perlawananku. Eve yang ini pantang menyerah, Bos. Lihat apa yang bisa dilakukan oleh seorang Eve!” geramnya seorang diri sambil menusuk-nusuk irisan nugget di atas nasinya dengan garpu dalam gerakan yang begitu gemas.

Dibayangkannya bahwa yang tengah ditusuk itu adalah wajah sang CEO kulkas tadi. Sungguh sikapnya begitu menyebalkan dan sok kuasa. Mana bisa Tuhan memberinya kekuasaan sebegitu besarnya kepada pria dengan etika seburuk itu? Tidak bisa dipercaya!

Eve tersadar saat kemudian ponselnya berdering. Nama Cindy terpampang di layar dan ia segera mengangkat panggilan tersebut.

“Kok mendadak mati sih tadi? Kamu mau ngomong apa?” tanya suara di seberang sambungan.

“Ya ampun, Cindy. Pria yang waktu itu aku tembak, yang di pantai pas permainan Truth or Dare. Ingat tidak? Dia CEO di Vinestra dan barusan dia mengancam akan langsung memecatku saat ini juga!” cerocos Eve dengan suara bergetar menahan amarah.

“Apa? Kok bisa, sih? Emangnya dia masih inget sama kamu, ya? Gawat banget tuh, Eve!” Cindy ikut merasa panik. Ia tahu betul bagaimana inginnya Eve dengan pekerjaan itu. Ia juga tahu seberapa bangga orangtua Eve setelah tahu putri mereka akhirnya bisa juga menembus tes masuk ke perusahaan bonafid tersebut.

“Pokoknya aku nggak akan tinggal diam! Aku akan melawan!” kata Eve penuh tekad.

“Duh, aku nggak tahu deh harus komentar apa, tapi kamu yang kuat, ya. Aku doain dari sini, Eve. Kamu kan nggak bersalah. Coba kamu ajak ngomong baik-baik aja bos kamu itu. Ceritain kalau kamu saat itu cuma kami suruh. Kalau perlu aku bisa jadi saksi buat kamu,” usul Cindy yang juga merasa tak enak hati karena ia juga terlibat dalam permainan malam itu. Mana tahu kalau akibatnya bisa sefatal itu. Begitu banyak pria di dunia dan yang lewat di depan mereka saat itu adalah calon bos dari Eve sendiri. Ya ampun! Kebetulan yang miris untuk Eve!

“Tidak perlu! Ini jelas dia lagi menggunakan kekuasaannya untuk kesewenang-wenangan. Dan aku nggak akan sudi jadi korban dari praktik kotor penguasa seperti itu!” tekad Eve sambil tangannya terkepal.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED