“Kau sudah sadar?” suara dingin dan juga sinis menyapa indra pendengaran Yesha ketika memasuki ruang makan.
“Kau sudah pulang?” bukannya menjawab, Yesha justru bertanya balik.
Yesha benar-benar terkejut dengan keberadaan sosok Rezvan di ruang makan. Berdasarkan ingatan dari pemilik tubuh, Rezvan seharusnya berada di luar kota hingga dua hari ke depan.
Ya, Yesha telah bertransmigrasi atau dilahirkan kembali ke tubuh seorang wanita bersuami duda dengan tiga orang anak beberapa jam yang lalu.
Yesha menghampiri meja makan dan duduk di samping Ravindra—anak bungsu Rezvan. “Bukankah kau masih pulang besok lusa?”
“Apakah ucapanku yang terakhir merupakan candaan untukmu?” Rezvan mengabaikan ucapan Yesha dan kembali mengingatkan wanita itu mengenai apa yang sudah ia katakan sebelumnya kepada Yesha.
Tujuannya pulang dengan cepat bukan karena mengkhawatirkan wanita itu, tetapi untuk memastikan wanita itu tidak mati di rumahnya. Ia tidak ingin rumahnya dijadikan tempat untuk bunuh diri.
“Maksudmu?” tanyanya tidak mengerti.
Meski Yesha memiliki semua ingatan pada pemilik tubuh, tetapi saat ini ingatan yang masuk ke kepalanya hanya ingatan-ingatan yang sangat jelas dan kuat. Untuk hal-hal kecil, Yesha tidak menemukannya pada ingatan pemilik tubuh.
Rezvan menatap tajam Yesha. Membuat wanita itu seketika bergidik ngeri. Tidak pernah ia melihat tatapan setajam itu di kehidupan sebelumnya.
“Bukankah aku sudah memperingatimu sebelumnya? Aku tidak melarangmu untuk bunuh diri, tetapi tidak di rumahku! Ini adalah yang terakhir, tidak ada lagi yang ketiga kalinya.”
Ini adalah yang kedua kalinya wanita itu mencoba untuk bunuh diri. Sebelumnya wanita itu memotong urat nadinya yang beruntung berhasil diselamatkan. Dan sekarang wanita itu mencoba bunuh diri dengan meminum banyak obat tidur sekaligus yang membuatnya hampir overdosis, bersyukur Hanna menemukan wanita itu dengan cepat dan memangil dokter sehingga nyawa wanita itu bisa terselamatkan.
Rezvan tidak masalah jika Yesha ingin bunuh diri hinga meninggal, tetapi tidak di rumahnya. Namun Rezvan tidak ingin ada berita yang keluar dari rumahnya atas kematian Yesha.
“Itu tidak akan terjadi lagi. Aku berjanji!” ucap Yesha cepat dan mantap.
Ia bukanlah pemilik tubuh, jadi ia tidak akan melakukan hal-hal bodoh untuk menghabisi nyawanya sendiri hanya karena masalah sepele. Karena ia sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya meninggal. Jadi tidak akan pernah ada percobaan bunuh diri untuk yang ketiga kalinya atau selanjutnya.
Rezvan sedikit terkejut dengan nada tegas Yesha menjawab ucapannya. Selama ini wanita itu selalu menanggapi kata-katanya dengan suara pelan dan lirih. Tidak pernah sakalipun berkata tegas dan mantap.
“Baguslah kalau begitu.” Rezvan masih berkata dengan nada datar dan tajam, mengabaikan perubahan pada diri Yesha “Jika sampai hal ini terulang kembali, aku sendiri yang akan membunuhmu.”
Rezvan tidak peduli apakah wanita itu berubah atau tidak. Sejak awal ia tidak pernah menyukai istrinya itu. Yang ia inginkan hanyalah agar Yesha tidak pernah mencoba untuk bunuh diri di rumahnya lagi.
Yesha hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan Rezvan.
“Anak-anak, ayo kita berangkat!” Rezvan bangkit dari dudukya diikuti oleh Raka dan Revan.
“Kalian berangkat sekarang?” tanya Yesha.
Namun Rezvan dan kedua anak kembarnya mengabaikan ucapannya dan pergi meninggalkan ruang makan. Meninggalkan dirinya bersama Ravindra di ruang makan.
Yesha tidak terkejut dengan sikap Rezvan dan anak kembarnya yang mengabaikan dirinya. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh, Rezvan dan anak kembarnya memang mengabaikan Ravindra. Hanya saja ia tidak habis pikir kenapa ada seorang ayah yang tega mengabaikan darah dagingnya sendiri.
Yesha tersentak dari pikirannya kala Ravindra turun dari kursi dan meninggalkan ruang makan tanpa mengatakan satu kata pun.
Yesha menghela napas pelan sebelum melanjutkan sarapannya sembari memikirkan berbagai macam cara untuk membuat suami dan ketiga anak tirinya bisa menerima kehadirannya.
Walau di kehidupan sebelumnya ia belum menikah, tetapi Yesha tidak akan menyerah dan berusaha untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan ketiga anak tirinya.
*
*
*
Yesha meninggalkan area pemakaman dan segera menuju ke tempat detektif swasta, di mana ayahnya di kehidupan sebelumnya sering meminta bantuan.
Yesha keluar dari taksi yang berhenti di sebuah gedung berlantai dua. Sesaat ia menatap gedung di hadapannya sebelum membuka pintu yang langsung disambut oleh seorang wanita muda yang sangat ramah dan sopan.
Wanita itu mengajak Yesha ke lantai dua di mana ruang kerja Zaidan setelah ia mengatakan keinginannya untuk bertemu sang detektif.
Di dalam ruangan, Zaidan duduk di sofa panjang berwarna biru yang terbuat dari kain beludru. Zaidan bersandar di sandaran sofa sambil membaca koran dengan kaki bersilang. Zaidan menurunkan koran yang dibacanya dan mengalihkan pandangannya kepada Yesha dan juga karyawannya yang segera pergi meninggalkan mereka berdua.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Zaidan setelah mempersilakan Yesha duduk.
“Saya ingin Anda mencari tahu semua tentang Yesha Altezza dan Rezvan Wibisana,” ucap Yesha langsung ke intinya. Ia tidak takut Zaidan memandangnya aneh karena mencari informasi mengenai dirinya sendiri karena saat ini Yesha telah menyamar.
“Saya ingin informasi sedetail mungkin dari ke dua orang ini. Saya ingin mendapatkan informasi mereka berdua secepatnya. Jika bisa, dalam dua hari saya sudah mendapatkannya. Untuk masalah biaya saya akan membayar berapa pun. Anda tinggal sebutkan saja berapa biayanya.”
Walau Yesha tahu tentang pemilik tubuh dan suaminya melalui ingatan pemilik tubuh, tetapi ingatan itu hanya memberinya sedikit informasi. Ia ingin mengetahui semua tentang pemilik tubuh dan suaminya mulai dari keluarga, teman, pergaulan dan segalanya. Berjaga-jaga supaya tidak ada orang yang bisa memanfaatkan dirinya seperti di kehidupan sebelumnya.
Sebenarnya bisa saja ia bertanya kepada Hanna dengan alasan jika ia kehilangan ingatan akibat overdosis percobaan bunuh diri. Namun Yesha tidak ingin mengambil risiko. Ia lebih merasa aman jika menyewa seorang detektif swasta. Dengan begitu, ia bisa mengetahui semua informasi sekecil apapun tentang latar belakang Rezvan dan pemilik tubuh.
“Baiklah. Anda tidak perlu menunggu dua hari. Saya berjanji malam ini juga informasi atas dua orang itu akan saya kirimkan ke email Anda.” Zaidan berkata dengan percaya diri.
Baginya, hal seperti ini adalah masalah kecil dan tidak perlu baginya untuk membuang-buang waktu.
“Terima kasih, Detektif. Saya akan menunggu informasi dari Anda.” Yesha menyerahkan secarik kertas bertuliskan alamat emailnya. “Anda bisa mengirimkan informasi ke alamat ini.” Yesha menyodorkan sebuah cek kosong. “Isilah berapa biaya yang Detektif perlukan.”
Zaidan mengambil kertas dan cek itu tanpa sungkan. “Saya berjanji malam nanti, paling lambat pukul sepuluh malam Anda akan menerima semua informasi yang Anda butuhkan.”
“Sekali lagi terima kasih, Detektif. Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Ya. Silakan.” Zaidan memberi isyarat dengan tangannya.
Yesha bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan ruangan. Saat di lantai satu, ia kembali bertemu karyawan wanita tadi dan tersenyum kepadanya sebelum meninggalkan kantor Zaidan dan kembali pulang.
Yesha yang baru keluar dari taksi seketika dikejutkan dengan suara seorang pria yang memanggil namanya.
“Yesha!”
***
Tubuh Yesha kaku seketika. Hatinya memaki tiada henti. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang paling tidak ingin ia temui, apalagi dalam waktu dekat.
Dengan cepat Yesha menuju pintu pagar rumah untuk menghindari Raefal. Namun gerakan Raefal lebih cepat. Pemuda itu mencengkeram lengannya dan membawanya ke dalam dekapan pemuda itu.
“Lepaskan aku!” ucap Yesha sedikit berteriak dan mencoba melepaskan diri dari dekapan Raefal. Namun laki-laki itu justru mendekap Yesha dengan lebih erat lagi.
Berdasarkan ingatan pemilik tubuh, Raefal adalah adik Rezvan dan juga orang yang dicintai oleh pemilik tubuh. Yesha benar-benar tidak mengerti kenapa mereka bisa berakhir seperti ini jika mereka berdua—pemilik tubuh dan Raefal—saling mencintai.
“Aku tidak akan melepaskanmu.”
Raefal menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yesha. Dan itu membuat Yesha semakin berusaha keras untuk melepaskan diri dari Raefal.
Yesha tidak ingin orang-orang melihat dirinya dipeluk oleh orang lain dan membuat mereka salah paham. Dan yang paling penting, ia tidak ingin Rezvan menganggapnya wanita yang tidak bermoral karena sebagai seorang wanita bersuami, ia dengan santainya berpelukan di depan rumah mereka dengan adik iparnya.
Walaupun bukan dirinya yang memeluk pria itu lebih dulu, tetapi tetap saja orang tidak akan mau tahu kebenarannya. Karena apa yang mereka lihat, itulah yang mereka percayai.
Yesha menghentikan aksinya untuk lepas dari cengkeraman Raefal setelah berusaha keras tetapi tetap tidak berhasil. Ia hanya bisa pasrah dan menunggu kesempatan Raefal melonggarkan pelukannya untuk bisa kabur.
Raefal yang mendapati Yesha tidak memberontak pun menghela napas lega dalam hatinya.
“Aku dengar kamu mencoba bunuh diri dengan meminum obat tidur hingga overdosis,” nada bicara Raefal terdengar sedih dan khawatir. “Tapi sekarang aku bersyukur kamu sudah sehat dan baik-baik saja.”
Yesha mengernyit bingung.
Bagaimana Raefal bisa tahu jika dirinya mencoba bunuh diri?
Siapa yang telah memberitahunya?
Yesha yakin jika Rezvan tidak mungkin akan memberitahu Raefal. Karena laki-laki itu tidak peduli dengannya. Jadi sangat mustahil Rezvan akan memberitahu Raefal.
“Aku tahu aku salah,” lanjut Raefal sebelum Yesha sempat membuka mulut untuk bertanya dari mana pemuda itu tahu. “Tidak seharusnya aku memaksamu secepat mungkin untuk menceraikannya.”
Dalam ingatan pemilik tubuh, sebelum pemilik tubuh mengakhiri hidupnya, Raefal memang sering meminta dirinya untuk menceraikan Rezvan dan berlari ke pelukan Raefal. Namun entah kenapa pemilik tubuh justru memilih untuk menghabisi nyawanya sendiri.
“Seharusnya aku bisa bersabar lebih lama lagi, tetapi aku tidak sanggup melihatmu tersiksa setiap hari di rumah itu,” lanjut Raefal. “Aku tahu kamu juga sulit untuk menghadapi ini semua. Karena itulah aku ingin kamu secepatnya menceraikannya agar kita bisa segera bersama.”
Yesha memutar mata mendengar omong kosong Raefal.
Raefal melepaskan pelukannya dan mencengkeram kedua lengan bagian atas Yesha. “Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, oke? Jadi berhentilah menghindariku.” Raefal frustasi menghadapi Yesha yang hanya diam saja. “Yesha, katakan sesuatu!”
Yesha meringis kesakitan karena cengkeraman Raefal semakin kuat. “Raefal, sakit.”
Raefal segera melepaskan cengkeramannya dari lengan Yesha.
“Maafkan aku, Yes. Aku tidak bermaksud menyakitimu.” Raefal berkata dengan panik dan juga khawatir.
Yesha segera menjauh beberapa langkah ke belakang setelah Raefal melepaskannya. Ia tidak ingin Raefal kembali memeluknya.
Yesha dapat melihat dengan jelas sorot mata terluka Raefal. Namun tidak ada simpati sedikit pun di benaknya. Sebab Yesha yang dikenal Raefal berbeda dengan Yesha yang sekarang. Karena Yesha yang dikenal oleh Raefal sudah mati.
Mereka memang memiliki nama yang sama, hanya berbeda nama belakang saja. Walau begitu, kepribadian mereka berdua pun sangat jauh berbeda. Ia tidak mungkin akan berpura-pura menjadi pemilik tubuh.
Yesha menatap Raefal. “Raefal, mari kita akhiri hubungan kita.”
“Tidak!” Raefal berteriak cepat. “Kamu sudah berjanji kepadaku jika kamu akan menceraikan Rezvan dan kita akan bersama. Maafkan aku karena selalu mendesakmu hingga membuatmu tertekan. Aku berjanji aku tidak akan mendesakmu lagi dan akan sabar menunggumu. Jadi kumohon jangan pernah berkata ingin mengakhiri hubungan kita, Yes.”
Yesha menggeleng pelan. “Maafkan aku. Sepertinya aku harus menarik kembali kata-kataku. Aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini.”
“Kamu tidak bisa melakukan itu kepadaku, Yesha!” nada suara Raefal sedikit meninggi.
Ia tidak terima Yesha mengakhiri hubungan mereka begitu saja. Lagi pula Yesha sudah berjanji akan meninggalkan Rezvan dan kembali kepadanya.
“Maafkan aku, Raefal, tapi aku ingin mengakhiri hubungan kita.” Mana mungkin Yesha akan meninggalkan Rezvan dan memilih Raefal. Walau mereka saudara, tetapi Raefal tidak setampan Rezvan. Yesha tidak ingin meninggalkan orang setampan Rezvan demi laki-laki di hadapannya.
Yesha tidak peduli orang akan mencibir dirinya karena menyukai orang dari fisiknya. Lagi pula ia menikah sekali seumur hidup, jadi ia tidak ingin menghabiskan hidupnya tinggal bersama orang jelek. Walau suaminya tidak mencintai dirinya, setidaknya biarkan ia tinggal dan melihat laki-laki tampan seumur hidupnya.
Raefal menghela napas dan berkata dengan pelan, “Sepertinya kamu sangat tertekan dengan permintaanku tampo hari. Lebih baik sekarang kamu istirahat dan menenangkan diri. Aku akan sabar menunggumu.”
“Kamu tidak perlu menungguku.”
Raefal mengabaikan ucapan Yesha dan mendekati wanita itu, tetapi dengan cepat Yesha menghindar dari jangkauan Raefal.
Perasaan kecewa terpancar jelas di mata Raefal kala mendapat penolakan dari orang yang dicintainya. “Baiklah. Aku pulang dulu.”
Yesha tidak mengatakan apa-apa yang membuat Raefal semakin kecewa dan juga sedih. Ia segera pergi dari hadapan Yesha, berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir beberapa meter dari rumah Rezvan.
Yesha menghela napas lega dan segera memasuki pagar. Ia tidak ingin berdiam diri lebih lama karena takut Raefal akan kembali lagi dan memeluk dirinya.
Di rumah, ia disambut oleh Hanna yang mengkhawatirkan dirinya. Yesha hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Ketiga anak tirinya juga sudah pulang dan makan siang saat ia bertanya kepada Hanna.
Yesha meminta Hanna untuk menyiapkan makan siangnya. Sejak keluar dari tempat Zaidan tadi, perutnya terasa lapar. Usai makan, Yesha kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Mungkin karena dirinya baru saja ditransmigrasikan ke tubuh Yesha Altezza, sehingga ia merasa lelah setelah bepergian selama setengah hari.
Yesha merasa prihatin dengan kehidupan pemilik tubuh. Sebagai nyonya rumah Wibisana, ia tidur di kamar terpisah dengan suaminya. Dan lagi, kamar yang ia tempati begitu kecil untuk seorang nyonya rumah.
Yesha tidak habis pikir dengan cara berpikir ke dua orang itu—Rezvan dan pemilik tubuh. Jika mereka tidak saling menyukai, kenapa mereka masih mempertahankan pernikahan mereka dan saling menyakiti?
Bukankah lebih baik mereka berdua berpisah dan mencari kebahagiaan masing-masing?
***
Para pelayan yang ada di dapur menatap kedatangan Yesha dengan terkejut. Pasalnya selama menjadi nyonya rumah, Yesha tidak pernah sekali pun melangkahkan kaki ke dapur.
Yesha mengabaikan tatapan tidak percaya para pelayannya. Karena tujuan utamanya ke dapur adalah memasak makan malam untuk suami dan ketiga anak tirinya.
“Kalian lakukan saja apa yang menjadi tugas kalian. Mulai saat ini, aku yang akan memasak makan malam untuk suami dan ketiga anakku,” ucap Yesha tegas dan tidak dapat dibantah ketika Hanna mencegah dirinya untuk memasak.
“Baik, Nyonya,” jawab para pelayan secara bersamaan.
Para pelayan yang berada di dapur segera mengerjakan tugas mereka masing-masing.
“Hanna, apakah kamu tahu makanan kesukaan Rezvan dan anak-anak?” tanya Yesha.
“Ya. Tuan suka sekali makan masakan kari, tuan muda Raka dan Revan suka rendang dan berbagai macam olahan ayam goreng. Kalau untuk tuan muda Ravindra sendiri, dia tidak pemilih dan memakan apa yang dimasak.”
Yesha mengangguk pelan. “Kalau begitu bantu aku menyiapkan bahan-bahannya.”
Hanna segera menyiapkan semua bahan-bahan yang diminta oleh Yesha.
Ada pepatah yang mengatakan jika hal utama dalam hidup seseorang itu adalah perutnya, jika perut kenyang, maka apapun akan menjadi mudah. Jadi hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengisi perut suami dan ketiga anaknya terlebih dahulu. Dengan begitu, maka ia akan dengan mudah untuk meluluhkan hati mereka berempat.
Lagi pula memasak bukanlah hal yang sulit bagi dirinya. Di kehidupan sebelumnya, ia suka sekali memasak. Tidak jarang ia pun membantu ibunya memasak.
“Hanna, tolong panggil tuan dan anak-anak,” perintah Yesha saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
“Baik, Nyonya.” Hanna bergegas meninggalkan dapur untuk memanggil Rezvan dan ketiga tuan mudanya.
Yesha tersenyum lebar menatap masakan yang sudah selesai ia buat. Dengan bantuan Nanda, Yesha membawa masakannya ke meja makan. Senyum lebar menghiasi wajahnya untuk menyambut Rezvan dan ketiga anaknya. Dengan cekatan Yesha menyiapkan makanan di piring mereka masing-masing sebelum mengambil duduk di samping Ravindra.
Terkejut?
Tentu saja. Tidak hanya Rezvan, ketiga anaknya pun terkejut dengan tindakan Yesha. Pasalnya selama ini wanita itu tidak pernah melayani mereka, karena surat perjanjian yang sudah mereka tandatangani bersama. Meski begitu, tidak ada perubahan ekspresi di wajah Rezvan. Masih seperti biasanya, selalu memasang wajah datar.
Berbeda dengan Raka dan Revan. Ekspresi terkejut sekaligus heran jelas tergambar di wajah mereka yang menatap Yesha. Sementara Ravindra, meski anak itu terkejut, tetapi ia tetap memasang wajah datar, sama seperti ayahnya.
“Ayo kita makan!” ajak Yesha.
Raka dan Revan memasang senyum mencibir. Bagi mereka berdua, Yesha adalah sosok wanita munafik.
“Sungguh wanita yang munafik,” ucap Raka pelan, tetapi masih dapat di dengar oleh mereka semua.
Pada awalnya Yesha memang baik kepada mereka bertiga, dan ketiganya pun menyambut Yesha dengan suka cita saat ayahnya menikahi Yesha yang begitu baik. Namun semua kebaikan Yesha di mata ketiga anak-anak itu, terutama Raka dan Revan, hancur ketika mereka tidak sengaja melihat Yesha berpelukan dengan paman mereka saat mereka pulang sekolah.
Sejak saat itu mereka membenci Yesha dan selalu mengeluh kepada Rezvan untuk berpisah dengan Yesha karena mereka tidak suka memiliki ibu tiri yang suka berselingkuh seperti istri kedua ayahnya, ibu Ravindra.
Tentu saja Rezvan tidak menuruti keinginan anaknya begitu saja. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan sebelum menceraikan Yesha. Apalagi mereka baru menikah, jika ia sampai bercerai dengan Yesha, Rezvan takut berita itu bisa mempengaruhi perusahaannya dan membuat orang-orang yang bekerja sama dengan perusahaannya akan memutus kontrak kerja sama mereka.
Yesha tidak memasukkan ke hati dengan tanggapan suami dan ketiga anak tirinya. Ia tahu mereka tidak menyukai dirinya, jadi wajar saja mereka tidak memberikan respon apapun atas tindakannya. Namun Yesha yakin, lambat laun suami dan ketiga anaknya akan luluh dengan apa yang ia lakukan.
“Ravindra, bagaimana masakan bunda? Enak?” Yesha mengabaikan ucapan si kembar dan bertanya kepada Ravindra yang baru saja menelan suapan pertamanya.
Di balik wajah datarnya, Rezvan tertegun mendengar makan malam yang mereka makan adalah masakan Yesha. Sementara Raka dan Revan kembali menatap Yesha dengan terkejut. Dan seketika itu juga, si kembar memuntahkan makanan di mulut mereka.
“Raka, Revan, ada apa?” Yesha terkejut dan panik secara bersamaan dengan apa yang terjadi kepada Raka dan Revan.
Si kembar menatap Yesha dengan tatapan sengit. Mereka berpikir sikap baik Yesha hanyalah kepura-puraan. Dan itu membuat mereka sangat membenci Yesha.
“Kami tidak sudi memakan masakan yang kau buat,” ucap Raka setelah meminum segelas air putih.
“Papa, ayo kita makan di luar,” pinta Revan yang sudah tidak memiliki nafsu makan lagi.
Meski kedua anak kembarnya terkesan tidak sopan karena membuat kegaduhan di meja makan, tetapi Rezvan tidak sanggup untuk memarahi mereka berdua. Ia terlalu sangat mencintai kedua anaknya itu.
“Kalian mau kemana?” tanya Yesha cepat ketika Rezvan dan si kembar bangkit dari duduknya.
“Bukan urusanmu,” jawab Rezvan datar dan dingin.
Pria itu menggenggam masing-masing tangan Raka dan Revan, meninggalkan ruang makan untuk makan di luar.
Yesha menghela napas pelan. Ia menatap Ravindra yang menyantap makanannya dengan tenang.
“Ravindra, bagaimana? Apa kamu menyukai masakan yang bunda buat?” tanya Yesha kembali sembari menatap Ravindra, mencoba untuk melupakan apa yang baru saja terjadi.
Ravindra menganggukkan kepala sebagai jawaban. Bagi Ravindra, makanan apapun enak. Ia tidak pilih-pilih dalam makanan, karena bagi Ravindra, bisa makan saja dirinya bersyukur.
Yesha tersenyum lebar mendapati jawaban Ravindra, meski hanya sebuah anggukan. “Jika begitu makanlah yang banyak. Besok bunda akan memasakkan makanan lainnya yang enak untukmu.”
Walau Ravindra jauh lebih pendiam daripada si kembar, tetapi Ravindra adalah anak yang mudah mengekspresikan perasaannya. Sama seperti kedua kakak kembarnya.
“Terima kasih,” ucap Ravindra lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Yesha.
Yesha memeluk Ravindra dan tersenyum lebar. “Sama-sama, Sayang.”
Mereka berdua menyantap makan malam dalam diam.
Usai makan malam, Ravindra segera meninggalkan meja makan dan memasuki kamarnya. Sementara Yesha memilih untuk ke kamar Rezvan. Membiarkan pelayan yang membersihkan meja makan serta kekacauan yang dilakukan oleh Raka dan Revan.
Malam ini Yesha memutuskan akan tidur bersama Rezvan. Mereka adalah pasangan suami istri, tidak ada salahnya tidur di tempat tidur yang sama. Sambil menunggu kepulangan Rezvan dan si kembar, Yesha membaca informasi yang sudah dikirimkan oleh Zaidan pada pukul enam sore tadi. Namun sebelum ia selesai membaca informasi tentang Rezvan, ia dikejutkan dengan suara menggelegar milik pria itu.
“Apa yang kau lakukan di kamarku?!”
***