Sampul Novel Cinta masa kecil

Cinta masa kecil

9.0 / 10.0
Terpisah jarak dan ambisi setelah masa kecil yang indah, takdir mempertemukan Dina dan Arga kembali di kota besar. Dina kini berjuang sebagai desainer gigih, sedangkan Arga telah menjadi pengusaha sukses yang sangat kaya. Meski kehidupan mereka kini jauh berbeda, perasaan lama yang sempat terpendam perlahan mulai bersemi kembali. Di tengah keraguan akan masa lalu, mereka harus mencari tahu apakah ikatan masa kecil tersebut merupakan jodoh sejati mereka.

Cinta masa kecil Bab 1

Dina menatap keluar jendela, memperhatikan tetesan hujan yang menderas dari langit kelabu.

Suara gemuruh dari kejauhan seolah membenarkan suasana hatinya yang sedikit galau sore itu.

Bekerja sebagai desainer di kota besar memang menjadi impiannya sejak dulu, tapi ada sesuatu yang terasa kurang.

Ada lubang kecil di hatinya yang tak pernah terisi, seolah-olah ia meninggalkan sesuatu yang penting di masa lalu.

Sambil mengaduk kopi yang sudah mulai dingin, Dina mencoba mengalihkan pikirannya ke pekerjaan yang menumpuk di mejanya. Namun, pikirannya terus melayang ke masa lalu, ke sebuah kampung kecil di pinggiran kota, tempat ia tumbuh besar.

Di sanalah ia menghabiskan masa kecilnya bersama seorang sahabat yang selalu membuatnya tertawa-Arga. Sosok laki-laki yang dulu lebih sering membuat masalah daripada menyelesaikannya.

"Dinaaa, kamu kenapa ngelamun lagi?" Suara lantang dari telepon di meja kerjanya memecahkan lamunannya. Dina tersentak, buru-buru mengangkat telepon itu.

"Ya, Ma?" jawab Dina dengan nada lelah.

"Kamu tuh, kalau di rumah nggak usah kebanyakan mikir! Kerja boleh, tapi jangan lupa istirahat. Kamu kelihatan capek terus," ujar ibunya dari ujung telepon. Dina tersenyum tipis, merasa hangat mendengar perhatian ibunya.

"Iya, Ma. Dina cuma lagi banyak proyek aja," jawabnya sambil menghela napas pelan. Ibu selalu tahu bagaimana membuatnya merasa lebih baik, bahkan dari kejauhan.

Setelah menutup telepon, Dina memutuskan untuk keluar sebentar, mencari udara segar yang mungkin bisa menghilangkan kepenatannya. Ia mengenakan jaket dan mengambil payung yang tergantung di dekat pintu.

Saat membuka pintu, hujan sudah mulai mereda, meninggalkan aroma tanah basah yang selalu membuatnya bernostalgia.

Tanpa tujuan yang jelas, Dina berjalan menyusuri trotoar yang basah, pikirannya terus melayang ke masa-masa bersama Arga. Mereka adalah duo yang tak terpisahkan, seperti gula dan kopi. Arga selalu berhasil membuatnya tersenyum, bahkan di hari-hari tersulitnya. Tapi, waktu memang tak berpihak pada mereka.

Setelah lulus SMA, mereka memilih jalan hidup yang berbeda-Dina ke kota besar untuk mengejar karir, sementara Arga tetap di kampung, meneruskan bisnis keluarganya.

Langkah Dina terhenti di depan sebuah kafe kecil yang baru dibuka. Di depannya, sebuah papan tulis menampilkan tulisan yang membuatnya tersenyum lebar: "Kopi Gratis untuk Mereka yang Patah Hati."

"Lucu juga," gumamnya sambil membuka pintu kafe itu.

Suara lonceng kecil menyambutnya ketika ia melangkah masuk. Kafe itu kecil tapi nyaman, dengan aroma kopi segar yang langsung memenuhi hidungnya

Sambil melihat-lihat, matanya tertuju pada seorang pria yang duduk di sudut, sibuk dengan laptopnya. Ada sesuatu yang familiar pada sosok itu, meskipun dari belakang. Rambutnya sedikit acak-acakan, dengan jaket kulit yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya.

"Hmm... siapa ya?" pikir Dina sambil memperhatikan pria itu. Tapi ketika ia melangkah lebih dekat, matanya membelalak kaget.

"Arga?!" serunya tanpa sadar. Pria itu langsung menoleh, dan seketika senyum lebarnya muncul.

"Dina! Ya ampun, lama nggak ketemu!" Arga berdiri, memeluk Dina dengan hangat. Dina tertawa, merasa nostalgia tiba-tiba menyeruak begitu kuat di dalam hatinya.

"Apa kabar? Ngapain kamu di sini?" tanya Dina sambil melepaskan pelukan mereka.

"Bisnis keluarga, perlu ekspansi ke kota. Jadi, aku mutusin buat pindah ke sini sementara," jawab Arga sambil tersenyum. "Kamu gimana? Udah jadi desainer terkenal ya sekarang?"

"Ah, nggak juga. Masih berjuang aja," jawab Dina sambil tersenyum malu.

Mereka pun duduk, memesan kopi, dan mulai mengobrol panjang lebar tentang kehidupan masing-masing. Dina merasa seperti kembali ke masa lalu, saat segala sesuatunya begitu sederhana dan penuh tawa. Arga, dengan gayanya yang santai dan sedikit konyol, masih sama seperti dulu.

Bahkan, beberapa kali Dina tertawa hingga lupa betapa stresnya hari-hari terakhir ini.

Namun, di tengah tawa dan cerita, ada sedikit rasa canggung yang tak terelakkan. Dina menyadari bahwa ada sesuatu yang telah berubah.

Mereka bukan lagi remaja yang bisa bebas dari tanggung jawab. Ada beban dan masa lalu yang kini membentang di antara mereka.

Setelah beberapa waktu, Arga menatap Dina dengan serius. "Din, aku ada sesuatu yang pengen aku omongin dari dulu."

Dina mengerutkan kening, merasa sedikit gugup.

"Apa?"

Arga terdiam sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Kamu ingat nggak, pas kita SMP dulu, aku pernah bilang sesuatu ke kamu?"

Dina tertawa kecil, berusaha mengurangi ketegangan. "Yang mana? Kamu banyak ngomong waktu SMP, Ga."

"Yang waktu itu... di lapangan basket, waktu kita habis main hujan-hujanan," kata Arga, menunduk sedikit malu.

Dina berusaha mengingat. Perlahan, bayangan masa lalu muncul di benaknya. Ia ingat mereka basah kuyup karena main di tengah hujan, tertawa tanpa peduli dunia. Lalu, di bawah naungan pohon besar, Arga mengatakan sesuatu yang tak pernah ia lupakan.

"Aku suka kamu, Dina."

Dina tersentak dari lamunan. "Arga, kamu masih ingat itu?"

Arga mengangguk sambil tersenyum kikuk.

"Ya, aku masih ingat. Dan... aku masih suka kamu."

Tawa Dina tiba-tiba terhenti. Ia terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Di satu sisi, ada perasaan senang yang tak bisa ia pungkiri. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Ga, itu udah lama sekali. Kita udah banyak berubah. Aku... nggak tahu harus bilang apa," ucap Dina dengan hati-hati.

Arga menatapnya dengan lembut, namun ada tekad dalam matanya.

"Aku tahu. Tapi aku nggak mau kita berpisah lagi tanpa aku mencoba. Aku hanya ingin tahu, apakah ada sedikit perasaan di hatimu, yang mungkin sama seperti perasaanku?"

Dina terdiam. Ia menatap wajah Arga, mencoba menemukan jawaban di dalam hatinya.

Ada perasaan hangat yang mulai tumbuh, tapi juga rasa takut yang mengikutinya. Apa yang akan terjadi jika mereka mencoba? Dan apa yang akan mereka lakukan jika gagal?

Namun sebelum ia bisa menjawab, pelayan datang membawa kopi mereka, memecah suasana yang tiba-tiba menjadi tegang. Dina mengambil kopinya, menghirup aroma kuat yang sedikit menenangkannya.

"Arga, kita baru ketemu lagi. Mungkin kita bisa mulai dari awal lagi, sebagai teman. Kita lihat saja ke mana ini membawa kita, oke?" kata Dina akhirnya, tersenyum kecil.

Arga mengangguk pelan, meskipun terlihat sedikit kecewa. "Oke, Din. Aku bisa terima itu. Asal aku bisa tetap ada di dekatmu."

Percakapan mereka beralih ke topik-topik yang lebih ringan setelah itu, namun di balik setiap kata, ada ketegangan yang tak bisa sepenuhnya hilang. Dina mencoba menikmati momen itu, meskipun pikirannya terus kembali ke apa yang baru saja Arga katakan.

Saat mereka berpisah di depan kafe, Dina merasa ada sesuatu yang baru tumbuh di dalam hatinya. Sebuah benih perasaan yang mungkin sudah ada sejak lama, tapi baru sekarang mulai menyadarinya.

Ia tahu, pertemuannya dengan Arga kali ini bukanlah kebetulan. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang bermain di antara mereka, sesuatu yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.

Namun untuk saat ini, Dina hanya ingin menikmati perjalanan ini, langkah demi langkah, tanpa terburu-buru. Lagi pula, siapa yang tahu apa yang akan terjadi esok hari? Terkadang, hal terbaik dalam hidup adalah membiarkan takdir bermain sesuai kehendaknya, sambil tetap menjaga hati agar tidak terluka.

Dan dengan senyum di wajahnya, Dina melangkah pulang, siap menghadapi hari esok yang penuh dengan kemungkinan baru.

Di dalam hatinya, ada keyakinan bahwa apapun yang terjadi, ia akan baik-baik saja. Karena sekarang, ia tahu bahwa ia tidak sendiri.

Di suatu tempat di kota yang besar ini, ada seseorang yang selalu siap mendukungnya, meskipun mungkin butuh waktu untuk benar-benar memahami perasaan mereka.

Tapi bukankah cinta memang begitu? Penuh teka-teki, tak terduga, dan sering kali dimulai dari persahabatan yang paling tulus.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cinta masa kecil

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berbalik total setelah sebuah rahasia di kampusnya terungkap. Ezza, sosok suami yang dinikahinya melalui perjodohan orang tua, mendadak hadir sebagai dosen baru di tempatnya berkuliah. Kemunculan Ezza yang tiba-tiba di hadapannya memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai mempertanyakan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada motif terselubung di balik keputusan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Dunia dokterku hancur saat merawat Evelyn Santoso, pasien VIP yang menangisi tunangannya. Pria di foto itu adalah Bima, suamiku, yang ternyata bernama asli Brama Wijaya, seorang taipan kejam. Saat Brama datang, ia sama sekali tidak mengenaliku. Ia justru memeluk Evelyn dan mengucap janji setia yang biasa ia katakan padaku. Lewat tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami saat ia amnesia hanyalah aib rahasia yang kini harus ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota, pemuda malas berumur dua puluh tahun, lebih memilih menganggur dan bermain gawai meski otaknya sangat licik. Tabiat buruk ini membuat ibunya, Artisa, merasa sangat khawatir. Sebagai pekerja keras yang juga punya sisi licik, Artisa bertekad merombak total kepribadian putranya. Ia pun memilih cara ekstrem dengan mengubah wujud fisik Sota. Akankah rencana drastis sang ibu berhasil mengubah jati diri Sota melalui transformasi tubuh tersebut?
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.
Sampul Novel Pengorbanannya, Kebencian Butanya
8.0
Demi Rania, tunangannya, Baskara tega memaksaku mendonorkan sumsum tulang. Kedekatan masa kecil kami kini musnah, berganti kebencian buta darinya setelah fitnah keji Rania menghancurkanku. Akibat rekaman asusila palsu itu, Baskara menyiksaku dan menculik orang tuaku, memaksaku melihat mereka jatuh dari gedung tinggi hingga tewas. Di tengah penyakit parah yang kusembunyikan, dia justru menyuruhku mati. Tanpa ragu, aku menuruti keinginannya dan melompat ke jurang maut.
Sampul Novel Rahasia Kelam Seorang Istri
9.4
Kehidupan pernikahan Alina dan Arya kini terancam oleh bayang-bayang masa lalu Alina yang kelam. Di satu sisi, Alina sangat mencintai suaminya, namun di sisi lain ia takut rahasia lamanya akan merusak segalanya. Arya, seorang duda yang menjunjung tinggi kejujuran, mulai menaruh curiga pada kesucian masa lalu sang istri. Alina pun terjebak dalam pilihan sulit: terus bungkam atau berterus terang meski kejujuran itu bisa dianggap sebagai pengkhianatan besar bagi Arya.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED