Dina menatap keluar jendela, memperhatikan tetesan hujan yang menderas dari langit kelabu.
Suara gemuruh dari kejauhan seolah membenarkan suasana hatinya yang sedikit galau sore itu.
Bekerja sebagai desainer di kota besar memang menjadi impiannya sejak dulu, tapi ada sesuatu yang terasa kurang.
Ada lubang kecil di hatinya yang tak pernah terisi, seolah-olah ia meninggalkan sesuatu yang penting di masa lalu.
Sambil mengaduk kopi yang sudah mulai dingin, Dina mencoba mengalihkan pikirannya ke pekerjaan yang menumpuk di mejanya. Namun, pikirannya terus melayang ke masa lalu, ke sebuah kampung kecil di pinggiran kota, tempat ia tumbuh besar.
Di sanalah ia menghabiskan masa kecilnya bersama seorang sahabat yang selalu membuatnya tertawa-Arga. Sosok laki-laki yang dulu lebih sering membuat masalah daripada menyelesaikannya.
"Dinaaa, kamu kenapa ngelamun lagi?" Suara lantang dari telepon di meja kerjanya memecahkan lamunannya. Dina tersentak, buru-buru mengangkat telepon itu.
"Ya, Ma?" jawab Dina dengan nada lelah.
"Kamu tuh, kalau di rumah nggak usah kebanyakan mikir! Kerja boleh, tapi jangan lupa istirahat. Kamu kelihatan capek terus," ujar ibunya dari ujung telepon. Dina tersenyum tipis, merasa hangat mendengar perhatian ibunya.
"Iya, Ma. Dina cuma lagi banyak proyek aja," jawabnya sambil menghela napas pelan. Ibu selalu tahu bagaimana membuatnya merasa lebih baik, bahkan dari kejauhan.
Setelah menutup telepon, Dina memutuskan untuk keluar sebentar, mencari udara segar yang mungkin bisa menghilangkan kepenatannya. Ia mengenakan jaket dan mengambil payung yang tergantung di dekat pintu.
Saat membuka pintu, hujan sudah mulai mereda, meninggalkan aroma tanah basah yang selalu membuatnya bernostalgia.
Tanpa tujuan yang jelas, Dina berjalan menyusuri trotoar yang basah, pikirannya terus melayang ke masa-masa bersama Arga. Mereka adalah duo yang tak terpisahkan, seperti gula dan kopi. Arga selalu berhasil membuatnya tersenyum, bahkan di hari-hari tersulitnya. Tapi, waktu memang tak berpihak pada mereka.
Setelah lulus SMA, mereka memilih jalan hidup yang berbeda-Dina ke kota besar untuk mengejar karir, sementara Arga tetap di kampung, meneruskan bisnis keluarganya.
Langkah Dina terhenti di depan sebuah kafe kecil yang baru dibuka. Di depannya, sebuah papan tulis menampilkan tulisan yang membuatnya tersenyum lebar: "Kopi Gratis untuk Mereka yang Patah Hati."
"Lucu juga," gumamnya sambil membuka pintu kafe itu.
Suara lonceng kecil menyambutnya ketika ia melangkah masuk. Kafe itu kecil tapi nyaman, dengan aroma kopi segar yang langsung memenuhi hidungnya
Sambil melihat-lihat, matanya tertuju pada seorang pria yang duduk di sudut, sibuk dengan laptopnya. Ada sesuatu yang familiar pada sosok itu, meskipun dari belakang. Rambutnya sedikit acak-acakan, dengan jaket kulit yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya.
"Hmm... siapa ya?" pikir Dina sambil memperhatikan pria itu. Tapi ketika ia melangkah lebih dekat, matanya membelalak kaget.
"Arga?!" serunya tanpa sadar. Pria itu langsung menoleh, dan seketika senyum lebarnya muncul.
"Dina! Ya ampun, lama nggak ketemu!" Arga berdiri, memeluk Dina dengan hangat. Dina tertawa, merasa nostalgia tiba-tiba menyeruak begitu kuat di dalam hatinya.
"Apa kabar? Ngapain kamu di sini?" tanya Dina sambil melepaskan pelukan mereka.
"Bisnis keluarga, perlu ekspansi ke kota. Jadi, aku mutusin buat pindah ke sini sementara," jawab Arga sambil tersenyum. "Kamu gimana? Udah jadi desainer terkenal ya sekarang?"
"Ah, nggak juga. Masih berjuang aja," jawab Dina sambil tersenyum malu.
Mereka pun duduk, memesan kopi, dan mulai mengobrol panjang lebar tentang kehidupan masing-masing. Dina merasa seperti kembali ke masa lalu, saat segala sesuatunya begitu sederhana dan penuh tawa. Arga, dengan gayanya yang santai dan sedikit konyol, masih sama seperti dulu.
Bahkan, beberapa kali Dina tertawa hingga lupa betapa stresnya hari-hari terakhir ini.
Namun, di tengah tawa dan cerita, ada sedikit rasa canggung yang tak terelakkan. Dina menyadari bahwa ada sesuatu yang telah berubah.
Mereka bukan lagi remaja yang bisa bebas dari tanggung jawab. Ada beban dan masa lalu yang kini membentang di antara mereka.
Setelah beberapa waktu, Arga menatap Dina dengan serius. "Din, aku ada sesuatu yang pengen aku omongin dari dulu."
Dina mengerutkan kening, merasa sedikit gugup.
"Apa?"
Arga terdiam sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Kamu ingat nggak, pas kita SMP dulu, aku pernah bilang sesuatu ke kamu?"
Dina tertawa kecil, berusaha mengurangi ketegangan. "Yang mana? Kamu banyak ngomong waktu SMP, Ga."
"Yang waktu itu... di lapangan basket, waktu kita habis main hujan-hujanan," kata Arga, menunduk sedikit malu.
Dina berusaha mengingat. Perlahan, bayangan masa lalu muncul di benaknya. Ia ingat mereka basah kuyup karena main di tengah hujan, tertawa tanpa peduli dunia. Lalu, di bawah naungan pohon besar, Arga mengatakan sesuatu yang tak pernah ia lupakan.
"Aku suka kamu, Dina."
Dina tersentak dari lamunan. "Arga, kamu masih ingat itu?"
Arga mengangguk sambil tersenyum kikuk.
"Ya, aku masih ingat. Dan... aku masih suka kamu."
Tawa Dina tiba-tiba terhenti. Ia terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Di satu sisi, ada perasaan senang yang tak bisa ia pungkiri. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ga, itu udah lama sekali. Kita udah banyak berubah. Aku... nggak tahu harus bilang apa," ucap Dina dengan hati-hati.
Arga menatapnya dengan lembut, namun ada tekad dalam matanya.
"Aku tahu. Tapi aku nggak mau kita berpisah lagi tanpa aku mencoba. Aku hanya ingin tahu, apakah ada sedikit perasaan di hatimu, yang mungkin sama seperti perasaanku?"
Dina terdiam. Ia menatap wajah Arga, mencoba menemukan jawaban di dalam hatinya.
Ada perasaan hangat yang mulai tumbuh, tapi juga rasa takut yang mengikutinya. Apa yang akan terjadi jika mereka mencoba? Dan apa yang akan mereka lakukan jika gagal?
Namun sebelum ia bisa menjawab, pelayan datang membawa kopi mereka, memecah suasana yang tiba-tiba menjadi tegang. Dina mengambil kopinya, menghirup aroma kuat yang sedikit menenangkannya.
"Arga, kita baru ketemu lagi. Mungkin kita bisa mulai dari awal lagi, sebagai teman. Kita lihat saja ke mana ini membawa kita, oke?" kata Dina akhirnya, tersenyum kecil.
Arga mengangguk pelan, meskipun terlihat sedikit kecewa. "Oke, Din. Aku bisa terima itu. Asal aku bisa tetap ada di dekatmu."
Percakapan mereka beralih ke topik-topik yang lebih ringan setelah itu, namun di balik setiap kata, ada ketegangan yang tak bisa sepenuhnya hilang. Dina mencoba menikmati momen itu, meskipun pikirannya terus kembali ke apa yang baru saja Arga katakan.
Saat mereka berpisah di depan kafe, Dina merasa ada sesuatu yang baru tumbuh di dalam hatinya. Sebuah benih perasaan yang mungkin sudah ada sejak lama, tapi baru sekarang mulai menyadarinya.
Ia tahu, pertemuannya dengan Arga kali ini bukanlah kebetulan. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang bermain di antara mereka, sesuatu yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.
Namun untuk saat ini, Dina hanya ingin menikmati perjalanan ini, langkah demi langkah, tanpa terburu-buru. Lagi pula, siapa yang tahu apa yang akan terjadi esok hari? Terkadang, hal terbaik dalam hidup adalah membiarkan takdir bermain sesuai kehendaknya, sambil tetap menjaga hati agar tidak terluka.
Dan dengan senyum di wajahnya, Dina melangkah pulang, siap menghadapi hari esok yang penuh dengan kemungkinan baru.
Di dalam hatinya, ada keyakinan bahwa apapun yang terjadi, ia akan baik-baik saja. Karena sekarang, ia tahu bahwa ia tidak sendiri.
Di suatu tempat di kota yang besar ini, ada seseorang yang selalu siap mendukungnya, meskipun mungkin butuh waktu untuk benar-benar memahami perasaan mereka.
Tapi bukankah cinta memang begitu? Penuh teka-teki, tak terduga, dan sering kali dimulai dari persahabatan yang paling tulus.
Pagi itu, Dina terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Pertemuan dengan Arga kemarin masih segar dalam ingatannya.
Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi di dalam hatinya.
Bertemu kembali dengan Arga setelah sekian lama, dan mendengar pengakuan perasaannya, membuatnya merasa seperti kembali menjadi remaja. Tapi di sisi lain, Dina adalah wanita dewasa sekarang-dengan tanggung jawab dan kehidupan yang tak lagi sederhana.
Dia memutuskan untuk memulai hari dengan sarapan ringan. Sambil menikmati roti panggang dan teh hangat, Dina membuka ponselnya, berharap ada pesan baru yang bisa mengalihkan pikirannya. Namun, tidak ada notifikasi yang menarik perhatian, kecuali satu pesan dari grup WhatsApp teman-teman lamanya.
Ternyata, ada reuni kecil yang direncanakan oleh beberapa teman sekolah mereka di kampung halaman. Dina tersenyum kecil, mengenang masa-masa sekolah yang penuh kenangan. Ia belum memberi jawaban apakah akan datang atau tidak. Tapi sekarang, setelah bertemu Arga lagi, ide untuk pulang ke kampung halaman tampak lebih menarik.
Namun, sebelum ia bisa memikirkan lebih lanjut, teleponnya berbunyi. Melihat nama di layar, Dina mengangkatnya dengan senyum.
"Morning, Rani! Ada apa nih, pagi-pagi udah telepon?" sapa Dina pada sahabatnya yang juga rekan kerja di kantor.
"Din, kamu di mana? Kita ada meeting dadakan dengan klien besar jam 10. Jangan sampai telat ya!" kata Rani dengan nada cemas.
"Ya ampun, aku lupa! Oke, oke, aku siap-siap sekarang," jawab Dina buru-buru. Dia menutup telepon dan segera bersiap, mengesampingkan dulu semua pikiran tentang Arga dan reuni yang akan datang.
Di kantor, kesibukan langsung menyambut Dina. Proyek besar yang sedang ditangani timnya membutuhkan perhatian penuh. Tapi sesekali, pikiran Dina melayang ke Arga.
Setiap kali ia teringat senyum nakal pria itu, hatinya berdebar, meskipun ia mencoba mengabaikannya. Namun, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri-ada sesuatu yang berbeda sejak pertemuan mereka kemarin.
Selepas makan siang, Dina memutuskan untuk menelepon Arga.
Ia tahu ini mungkin ide yang buruk, mengingat ia belum sepenuhnya yakin dengan perasaannya sendiri. Namun, rasa penasaran yang menggelitiknya terlalu kuat untuk diabaikan.
"Arga, kamu sibuk nggak? Aku lagi di dekat kantor, mungkin kita bisa ketemu lagi," kata Dina setelah Arga menjawab teleponnya.
"Lagi nggak terlalu sibuk sih. Kamu mau ketemu di mana?" jawab Arga dengan suara yang terdengar senang.
Dina menyebut sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kantor mereka. Kafe itu cukup tenang, tempat yang bagus untuk mengobrol tanpa gangguan. Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk berhadapan di meja, masing-masing dengan secangkir kopi di tangan.
"Gimana kerjaanmu? Pasti sibuk banget ya sekarang," tanya Arga membuka percakapan.
"Lumayan. Tapi ya gitu deh, kadang-kadang bosan juga," jawab Dina sambil tertawa kecil. "Kamu sendiri gimana? Udah betah di kota ini?"
Arga mengangguk.
"Ya, lumayan. Masih adaptasi sama ritme hidup di sini, tapi aku suka. Bisnis juga mulai jalan pelan-pelan."
Mereka berbicara tentang berbagai hal ringan, seolah menghindari topik yang lebih dalam tentang hubungan mereka. Dina merasakan kehangatan yang familiar dalam setiap kata Arga. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sebuah pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.
Ketika obrolan mereka mulai mereda, Arga memandang Dina dengan serius. "Din, kemarin kamu bilang kita bisa mulai dari awal lagi sebagai teman.
Tapi, aku cuma pengen kamu tahu, perasaanku nggak berubah. Aku masih sama seperti dulu."
Dina menatap matanya, merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Arga, aku tahu ini sulit. Aku juga nggak mau terburu-buru, apalagi setelah sekian lama kita nggak ketemu. Tapi jujur, aku masih bingung dengan perasaanku sendiri."
Arga tersenyum, meskipun ada sedikit rasa kecewa di wajahnya.
"Aku paham, Din. Aku nggak akan memaksa. Kita nikmati aja waktu yang kita punya sekarang."
Dina tersenyum lega. "Terima kasih, Ga. Kamu selalu ngerti aku."
Obrolan mereka berlanjut dengan canda tawa, mengembalikan suasana santai di antara mereka.
Arga bahkan menceritakan kejadian lucu saat ia salah jalan di kota ini, membuat Dina tertawa sampai matanya berair.
Setelah beberapa saat, Arga mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah kalung kecil dengan liontin berbentuk bintang.
"Ini buat kamu, Din. Dulu aku pengen ngasih ini pas kita lulus, tapi nggak sempat," kata Arga dengan sedikit gugup.
Dina terkejut, tidak menyangka Arga akan memberinya hadiah seperti ini. Ia mengambil kalung itu dan memandanginya sejenak sebelum berkata, "Arga, ini indah sekali. Tapi kenapa bintang?"
"Karena kamu selalu jadi bintang buatku. Walaupun kita jauh, kamu selalu ada di pikiranku," jawab Arga dengan senyum yang hangat.
Dina merasa tersentuh oleh kata-kata Arga. Ia mengenakan kalung itu, merasa sedikit lebih dekat dengan pria yang duduk di depannya.
"Terima kasih, Arga. Ini sangat berarti buatku," ucap Dina dengan tulus.
Waktu terus berlalu, dan mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah, masing-masing kembali ke aktivitas mereka. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini.
Dina merasa lebih tenang, seolah-olah sebuah beban telah terangkat dari dadanya. Ia mulai melihat Arga bukan hanya sebagai sahabat masa kecilnya, tapi sebagai seseorang yang mungkin bisa mengisi kekosongan di hatinya.
Malam itu, saat berbaring di tempat tidur, Dina merenungkan pertemuan mereka hari ini. Kalung bintang yang diberikan Arga masih tergantung di lehernya, berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Ia menyentuh liontin itu, merasakan kehangatan yang menyebar di dadanya.
"Apakah ini benar-benar takdir?" pikirnya sebelum akhirnya tertidur.
Pagi berikutnya, Dina terbangun dengan perasaan yang berbeda.
Seolah-olah hatinya mulai menerima bahwa mungkin, hanya mungkin, Arga adalah bagian dari takdir yang selama ini ia cari. Tapi perjalanan mereka masih panjang, dan Dina tahu, ini baru awal dari cerita mereka.
Pagi itu Dina merasa lebih yakin dengan perasaannya. Pertemuan tak terduga dengan Arga telah membangkitkan kenangan manis yang selama ini terkubur dalam rutinitas sehari-hari.
Meski masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, Dina tahu bahwa ia tidak perlu terburu-buru. Mungkin, seperti kalung bintang yang kini melingkar di lehernya, hubungan mereka memerlukan waktu untuk bersinar dengan sempurna.
Sambil tersenyum, Dina bersiap menghadapi hari baru, dengan keyakinan bahwa cerita hidupnya bersama Arga baru saja dimulai. Bab demi bab berikutnya masih terbuka lebar, menunggu untuk dituliskan. Dan kali ini, ia siap menyambut apa pun yang akan terjadi.
Dina keluar rumah dengan langkah ringan, siap menghadapi hari yang penuh kemungkinan. Dia merasa seolah beban di hatinya mulai terangkat, dan keyakinan bahwa hubungan mereka akan berkembang semakin menguat.
"Apapun yang terjadi nanti, aku siap menjalaninya," pikirnya.
Dina menyadari bahwa dalam hidup, tidak semua jawaban datang seketika. Terkadang, kita hanya perlu bersabar, membiarkan waktu bekerja, dan mempercayai prosesnya. Dengan semangat baru, ia melangkah menuju masa depan, di mana cerita cintanya dengan Arga baru saja dimulai, dan takdir mereka akan terungkap sedikit demi sedikit.
Hari ini, Dina siap untuk menulis bab berikutnya-dalam hidup, dan dalam cinta.
Hari-hari berlalu dengan cepat setelah pertemuan kedua Dina dan Arga.
Meski sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas kota, Dina tidak bisa mengabaikan perasaan hangat yang terus muncul setiap kali dia memikirkan Arga. Kalung bintang pemberian Arga menjadi pengingat manis bahwa mungkin, hubungan mereka memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi sesuatu yang lebih.
Tapi, seperti yang sering terjadi dalam hidup, ketika hati mulai berharap, logika pun tak mau ketinggalan untuk berperan.
Di kantor, Dina tetap fokus pada proyek-proyeknya. Setiap kali ada jeda, dia mendapati dirinya tergoda untuk memeriksa ponselnya, menunggu pesan atau telepon dari Arga.
Walaupun mereka sudah beberapa kali bertemu sejak pertemuan pertama itu, Dina masih merasa ragu untuk benar-benar membuka hatinya.
Baginya, ada terlalu banyak pertimbangan yang harus dipikirkan-apakah mereka bisa berhasil dengan semua perbedaan yang kini ada di antara mereka? Apakah perasaan yang dulu ada masih bisa bertahan setelah sekian lama?
Suatu sore, ketika Dina sedang bersiap pulang, teleponnya berbunyi. Nama Arga muncul di layar, dan seketika, Dina merasakan jantungnya berdebar lebih cepat.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengangkatnya.
"Arga, hai! Ada apa?" sapanya, mencoba menyembunyikan rasa senangnya.
"Din, kamu ada waktu malam ini? Aku pengen ngajak kamu ke tempat yang spesial," jawab Arga dengan nada antusias.
Dina tersenyum, tak bisa menahan rasa penasarannya. "Tempat spesial? Apa tuh?"
"Datang aja, nanti kamu tahu. Aku jemput ya jam tujuh?"
Dina setuju, meskipun rasa penasaran mulai menggelitik pikirannya. Malam itu, ia mempersiapkan diri dengan hati-hati, memilih pakaian yang nyaman namun tetap anggun. Ketika Arga datang menjemput, Dina langsung merasa ada sesuatu yang berbeda pada malam itu.
Mereka berkendara melewati jalan-jalan kota yang semakin ramai oleh lampu-lampu malam. Arga mengemudi dengan tenang, namun sesekali ia melirik ke arah Dina, seolah memastikan bahwa perempuan itu nyaman. Ketika akhirnya mereka tiba di tujuan, Dina terkejut melihat bahwa mereka berada di sebuah taman yang cukup luas, namun tampak sepi di malam hari.
"Aku nggak nyangka kamu bakal ngajak ke sini," kata Dina, menatap Arga dengan penuh tanya.
Arga tersenyum misterius. "Aku tahu tempat ini nggak sepopuler dulu, tapi masih indah kan?"
Mereka berjalan di sepanjang jalan setapak yang diterangi cahaya bulan.
Suara gemericik air dari sebuah kolam kecil di dekat mereka menambah suasana romantis malam itu. Dina merasa tenang, seolah-olah semua kekhawatiran yang mengganggu pikirannya menghilang bersama setiap langkah yang mereka ambil.
Setelah beberapa saat, Arga berhenti di depan sebuah bangku kayu di tepi kolam. "Aku sering ke sini waktu kecil. Tempat ini selalu jadi favoritku buat merenung," katanya dengan nada yang sedikit melankolis.
Dina duduk di sampingnya, menatap bayangan bulan yang memantul di permukaan air. "Aku ingat tempat ini. Kita pernah main di sini waktu kecil, kan?"
Arga mengangguk, tersenyum mengenang masa lalu mereka. "Iya, kita sering ke sini. Tapi dulu nggak pernah sesepi ini. Mungkin karena sekarang udah banyak tempat lain yang lebih modern."
Mereka terdiam sejenak, menikmati suasana tenang di sekitar mereka. Dina merasa ada sesuatu yang berbeda malam itu, sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di satu sisi, hatinya merasa sangat dekat dengan Arga, seolah-olah tak ada yang berubah sejak mereka kecil.
Namun, di sisi lain, logikanya terus berusaha mengingatkan bahwa ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mereka melangkah lebih jauh.
Arga menoleh dan menatap Dina dengan serius. "Din, aku bawa kamu ke sini bukan cuma untuk nostalgia. Aku pengen kita bisa bicara lebih dalam tentang perasaan kita."
Dina menahan napas, merasa perasaannya bercampur aduk.
"Arga... aku masih bingung. Semua ini terasa begitu cepat. Aku takut kalau kita terburu-buru, nanti malah menyakiti diri sendiri."
Arga menggenggam tangan Dina dengan lembut.
"Aku ngerti perasaanmu, Din. Aku juga nggak mau terburu-buru. Tapi aku juga nggak bisa terus menahan perasaanku. Aku cuma pengen tahu, apakah kita punya kesempatan?"
Dina terdiam, menatap mata Arga yang penuh harap. Bagian dari dirinya ingin segera mengatakan ya, mengikuti alur hatinya yang sudah lama tertahan. Tapi, bagian lain dari dirinya takut untuk mengambil risiko, takut bahwa hubungan ini akan merusak persahabatan mereka yang telah terjalin begitu lama.
"Arga, aku nggak tahu jawabannya. Yang aku tahu, aku juga merasa ada yang spesial di antara kita. Tapi... aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya."
Arga tersenyum, meskipun sedikit kecewa. "Aku paham, Din. Aku nggak akan memaksamu. Aku cuma pengen kita jujur satu sama lain. Kalau memang ada perasaan itu, kita coba jalanin pelan-pelan."
Dina merasa sedikit lega mendengar kata-kata Arga. Ia tahu bahwa pria ini benar-benar peduli padanya, dan itu membuatnya semakin sulit untuk membuat keputusan. Tapi ia juga tahu bahwa mereka tidak bisa terus berada di persimpangan ini selamanya.
Malam itu, mereka melanjutkan obrolan ringan, mencoba menghindari topik berat untuk sementara. Ketika akhirnya Arga mengantar Dina pulang, ada perasaan campur aduk yang menghantui Dina sepanjang perjalanan.
Di satu sisi, ia merasa senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Arga. Tapi di sisi lain, hatinya terus bergulat dengan logika yang mengingatkan akan segala kemungkinan buruk.
Sesampainya di rumah, Dina merenung di kamarnya. Ia menatap kalung bintang yang masih melingkar di lehernya, merasa perasaan campur aduk di hatinya semakin membingungkan. Apa yang sebenarnya ia inginkan? Apakah ia siap mengambil risiko untuk hubungan yang mungkin bisa merubah segalanya?
Di tengah keraguan, Dina memutuskan untuk menghubungi Rani, sahabat sekaligus rekan kerjanya yang selalu bisa memberinya perspektif baru. Dina menceritakan tentang pertemuannya dengan Arga, tentang kebingungan yang terus menggelayuti pikirannya.
"Kamu tuh sebenarnya udah tahu jawabannya, Din," kata Rani setelah mendengar cerita Dina. "Masalahnya kamu cuma takut buat ngambil langkah pertama. Aku ngerti, kamu nggak mau kehilangan persahabatan kalian, tapi nggak ada salahnya buat mencoba. Siapa tahu, ini memang jalannya."
Dina terdiam, mencerna kata-kata Rani. Mungkin sahabatnya benar. Mungkin ia terlalu takut untuk mengambil risiko, takut bahwa jika semuanya tidak berjalan sesuai harapan, ia akan kehilangan lebih dari sekadar seorang sahabat.
"Kalau kamu terus-terusan mikir, kamu nggak akan pernah tahu hasilnya. Kadang kita harus nekat, Din. Daripada nanti kamu nyesel karena nggak pernah nyoba," lanjut Rani dengan nada tegas.
Kata-kata Rani membuat Dina berpikir. Mungkin, sudah waktunya ia berhenti menunda-nunda. Mungkin, ini saatnya untuk mendengarkan hatinya dan memberi kesempatan pada perasaan yang selama ini ia simpan.
Beberapa hari setelah percakapan dengan Rani, Dina memutuskan untuk bertemu Arga lagi. Kali ini, ia yang mengajak Arga bertemu di sebuah kafe kecil yang nyaman di pusat kota. Ia ingin bicara dari hati ke hati, tanpa terganggu oleh kenangan masa lalu atau ketakutan akan masa depan.
Ketika Arga tiba, Dina sudah menyiapkan diri untuk mengatakan apa yang selama ini ia pendam. Mereka memesan minuman dan berbasa-basi sebentar sebelum Dina akhirnya memutuskan untuk berbicara.
"Arga, aku udah mikir banyak sejak pertemuan kita terakhir," kata Dina pelan tapi tegas. "Aku tahu kamu serius sama perasaanmu, dan aku sangat menghargai itu. Dan setelah mempertimbangkan semuanya, aku... aku ingin kita mencoba. Aku nggak mau terus-terusan bingung dan takut. Kalau kita memang punya kesempatan, aku mau kita jalani ini."
Arga menatap Dina dengan mata berbinar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kamu serius, Din? Kamu mau kita coba?"
Dina mengangguk, merasa lega setelah akhirnya bisa mengutarakan perasaannya. "Iya, aku serius. Tapi aku juga pengen kita jalan pelan-pelan. Aku nggak mau terburu-buru, tapi aku juga nggak mau terus-terusan di persimpangan ini."
Arga tersenyum lebar, seolah beban besar telah terangkat dari pundaknya. "Aku ngerti, Din. Aku juga nggak mau kita buru-buru. Kita nikmati aja prosesnya, apa pun yang terjadi nanti, yang penting kita udah berusaha."
Mereka saling tersenyum, merasa bahwa sebuah babak baru dalam hidup mereka telah dimulai.