Part 1
"Aku menyukai tubuhmu! Namun, aku rindu tubuhku" ucap Elena bimbang. Memang benar,dia menyukai tubuh yang sekarang. Namun, ia juga rindu dengan yang lama.
"Sama, aku pun juga! aku bisa merasakan menjadi orang kaya, bisa tiup lilin sesuka hati dan bebas mengenyam pendidikan, tetapi aku juga rindu tubuh lamaku" timpal Sarah mantap, namun sama dengan Elena, terbersit kebimbangan.
Hening, mereka berdua bingung, harus bagaimana. Sama-sama menikmati hidup yang sekarang, Namun terhalang dengan apa yang seharusnya mereka perjuangkan.
Elena memecah keheningan, menyampaikan ide yang terbersit di otaknya kemarin.
"Mari kita kembali ke tubuh kita masing-masing!"
"Caranya?"
Elena menunjuk kilatan petir di langit, memberi isyarat pada Sarah atas idenya yang baru saja terlintas kemarin,dia merutuki diri sendiri, kenapa tidak dari dulu pikiran itu terlintas.
"Gila ..."
*****************
Tepat usia 23 tahun gadis cantik bernama Elena, Nanny, sang Oma Elena, mengadakan pesta besar bagi cucu tunggalnya. Betapa dirinya sangat bahagia, di usia yang sudah tak muda lagi, masih di beri kesempatan melihat cucunya bertunangan dengan cucu sahabatnya sendiri, sekaligus merayakan ulang tahun Elena yang ke 23 tahun.
Di sudut kamar yang berbeda, gadis cantik, tinggi, seksi dan semampai berdandan secantik mungkin di hari spesialnya itu. Bagaimana tidak, dia akan bertunangan dengan lelaki yang telah ia kagumi sejak lama.
"Riko pasti akan terpesona melihat kecantikanku. Wajah kearab-araban, dengan hidung mancung ditambah tubuh bak gitar spanyol, hihihi," ujar Elena pada diri sendiri. Entah sudah berapa lama dia mematut diri di depan kaca, perasaan dirinya, dia belum seperfek biasanya. Hingga akhirnya di detik-detik acara dimulai, dia baru merasa puas dengan dandanannya.
Elena memang sangat kagum dengan Riko sejak lama, Riko bagia dia adalah sosok baik, tampan, menyenangkan, terlepas dari kaya dan banyak hartanya, namun sayang, dia lelaki playboy. Tapi hal itu tak menjadikan Elena ilfill dengannya. Justru hal itu menjadikan Elena sebagai tantangan untuk diri sendiri, dia akan menjadi satu-satunya bagi Riko. Apalagi, Riko adalah sosok cerdas, termasuk lulusan terbaik di bidang akademik yang dahulu ia ikuti.
"Cantik sekali cucu Oma! Oma yakin! pasti si Riko tergila-gila sama kamu!" Nanny dari arah belakang, berucap sambil kakinya melangkah ke arah cucunya.
"Iya, kah Oma?" tanya Elena hanya sekedar memastikan.
Nanny mengelus rambut cucunya, penuh kasih sayang dan cinta yang ia miliki. Berharap di hari indah ini, Cucunya tak terlalu perduli dengan kedua orang tuamya yang sengaja tak hadirkan diri pada acara.
Ada sesuatu yang sedari tadi Elena ingin katakan. Dia ingin bertanya, kemanakah mereka berdua, kedua orangtuanya pergi? apa tak ingat dengan acara ulang tahun putrinya?
"Mama? papa? kemana Oma? Tak jadikah pulang? Mengapa sampai jam segini belum datang juga?"
Nanny terlihat ragu, haruskah ia katakan sebenarnya. Dia terdiam cukup lama hingga terkesiap saat Elena memanggil.
"Oma ..."
"Emm ... sayang! Mama dan Papa udah kirim kado buat kamu. Pasti sangat bagus, secara mereka kirim dari singapura, ya, kan?"
Raut wajah Elena yang sedari tadi ceria, kini mendadak murung. Hadiah? dari siangpura? Elena pun tahu persis, pasti kado itu bukan dari kedua orang tuanya. Melainkan dari Asisten mereka, lalu di atas nama kan Papa dan Mamanya Elena. Kecewa? pasti, ditambah lagi ingatan saat mengetahui setiap tahun, kado itu murni bukan dari kedua orang tuanya. Rasa-rasanya memang Elena tak spesial bagi mereka.
"Jangan cemberut gitu. Papa-Mama kan kerja di Singapura juga buat kamu!"
"Tak bisakah mereka sehari aja libur mengurus pekerjaan. Bukankah ini acara penting? oh, atau mungkin, pekerjaan mereka lebih penting dari Elena, Oma!" ujar Elena dengan nada kecewa.
"Sudahlah! disana kan memang perusahaan baru, jadi Mama dan Papa sibuk menata perusahaan!"
"Itu yang selalu Oma katakan. Setelah singapur, Elena yakin mereka terbang ke jepang! mana mungkin mereka ingat, masih ada anak yang butuh kasih sayang di Indonesia. Ah, sudahlah Oma. Elena ini kayak anak yatim piatu!"
"Jangan bicara begitu. Sudah, lupakan saja. Mari ke bawah, Riko sudah datang. Yuk!"
Nanny menarik tangan Elena, butuh tenaga bagi Nanny untuk menarik sang cucu, karena nyatanya Elena terasa berat langkahnya, Elena masih kecewa dan malas hanya sekedar menggerakkan kaki. Tumben, kehadiran Riko tak bisa hilangkan rasa kecewa terhadap kedua orang tuanya.
"Selamat ulang tahun! kamu sangat cantik hari ini, hampir aja aku kaget. Ternyata ada gadis cantik yang melebihi cantiknya gadis jerman!" ucap Riko menggombal, usai di depan Elena. Dia memamerkan senyum termanis seperti pada gadis-gadis lainnya.
"Terimakasih Kak!" jawab Elena dengan pipi yang tersipu malu. Sesaat dia bisa melupakan masalahnya.
"Ayo kesana! acara udah mau mulai. Ini aku juga udah bawa cincin kita! tapi masih di Mama sih"
Mereka berdua berjalan ke area halaman rumah, sengaja acara di desain di ruangan terbuka. Sesuai permintaan Elena.
Happy birthday to you, happy birth day to you nyanyian khas acara ulang tahun, terdengar kompak dari beberapa bibir para tamu undangan. Elena tersenyum bahagia, kehadirannya disambut suka cita oleh sahabat, kerabat dan kekasih hati.
"Selamat ulang tahun sayang! ini ada kado dari Om dan Tante!" ujar Selena, disamoing berdiri Robert, suaminya. Mereka berdua adalah orang tua Riky.
Selena menyodorkan kotak kecil beludru warna merah muda pada Elena.
"Untuk Elena, Tante?"
Selena mengangguk. Tak butuh waktu lama, Elena langsung membukanya. Matanya terbelalak setengah takjub dengan apa yang ia tatap sekarang ini.
"Cincin berlian?" tanya Elena terdengar memastikan
"Iya. Itu buat calon menantu Tante sama Om. Nanti dipasang saat pertunangan. Itu adalah cincin kelurga kita. Diberikan secara turun temurun. Tolong dijaga, ya!" Ucap Selena dengan nada seramah mungkin.
"
Mata Elena berkaca-kaca. Dia amat bahagia mendapati kejutan seistimewa ini. Walau di sisi lain, hatinya perih mendapati kedua orang tuanya yang lebih pentingkan pekerjaan dari pada acara penting hari ini.
Di luar gerbang, seorang gadis yang berumur sama dengan Elena, memandang penuh iri dengan apa yang ia lihat sekarang. Hari ini dia pun juga berulang tahun, sama halnya dengan Elena.
Dikedua tangannya, sedang menenteng tas besar berisi perlengkapan buat jualan, serta beberapa sayur mayur. Sarah namanya, dia iri melihat gadis cantik yang tak seberuntung dirinya bisa mengadakan acara ulang tahun, semegah dan semewah itu. Jangankan untuk acara semegah itu, buat makan sehari-hari saja, pas-pasan.
"Andai aku jadi dia, maka sangat beruntunglah aku! hari ini bisa tiup lilin dengan kue tart besar, dikelilingi barang mewah dan tentunya bisa sekolah tinggi-tinggi. Tak seperti sekarang, bahkan di ulang tahunku pun aku masih tetap harus bekerja!" Sedih Sarah melihat kenyataan yang kontras antara dirinya dengan gadis beruntung di dalam bernama Elena.
"Sarah ..." panggil wanita paruh baya di belakangnya.
Sarah menoleh, ternyata dia adalah Sayyida, ibu kandungnya. Sayyida langsung memeluk Sarah, sedari tadi berdiri dan samar-samar mendengar curahan anak perempuannya.
"Maafin Ibu,ya, Nak! ibu sampai sekarang nggak mampu berikan acara ulang tahun buat kamu!"
"Eh, Ibu. Nggak apa! lain kali pasti bisa. Asal kita terus kerja dan kerja, semangat!" ucap Sarah terdengar antusias, padahal dari hati kecilnya dia menyangkal. Sekeras apapun ia kerja jadi penjual nasi bungkus, siang-malam dan sedari dulu sampai sekarang, dia tetaplah begini-begini saja.
Sayyida menjauhkan tubuh putrinya, dia menatap dengan penuh sayang.
"Selamat ulang tahun putri Ibu yang paling cantik dan baik! semoga panjang umur dan jadi orang kaya raya, biar bisa rasakan tiup lilin pakai kue tart besar dan pastinya bisa sekolah tinggi-tinggi,"
Setelah berucap, Sayyida menghujani putrinya dengan ciuman kasih di kedua pipi. Tak lupa Sayyida juga mengecup kening Sarah cukup lama.
Sarah tak bisa menahan diri untuk tak meneteskan air mata. Mereka kemudian berpelukan bersama dalam tangis keharuan.
Tanpa Sarah dan Sayyida sadari, sepasang mata Elena menatap dengan penuh iri juga. iri, karena jarang sekali mendapat pelukan dari Mamanya, terlebih ciuman kasih sayang.
"Andai aku jadi dirinya. Beruntunglah diriku, setiap hari bisa mendapat pelukan Mama!"
"Ele! ayo segera buat permohonan lalu tiup lilinnya!" titah Nanny kepada Elena.
"Baik Oma!"
Elena memejamkan mata, tepat di depan lilin angka 23 yang menyala.
"Tuhan, aku ingin seperti dia. Bisa dapat pelukan tiap hari dari Mama!"
"Tuhan! aku ingin sepertia dia. Tiap tahun bisa tiup lilin dengan kue tart besar"
Secara bersamaan, kedua gadis itu terpejam dan membuat permohonan dalam hati.
Secara tiba-tiba, mendung hitam bergelayut di langit, menandakan hujan akan segera turun.
Rintik-rintik hujan jatuh ke bumi pesta Elena, semua orang berhamburan. Termasuk Riko, Nanny dan tamu undangan. Sedangkan, Sayyida memutuskan untuk berteduh tak jauh dari putrinya berdiri.
Tapi tidak bagi Sarah dan Elena, mereka tetap berdiri dengan mata tetap terpejam. Membayangkan permohonan nyata dalam kehidupan mereka.
Duarr ....
Petir menyambar di tengah-tengah antara keduanya, Elena dan Sarah. Petir dahsyat yang mampu membuat semua orang yang dengar akan menjerit ketakutan.
"Ele ..." teriak Nanny.
"Ele ..." Riko pun juga berteriak. Ia bergegas lari ke tubuh Elena yang tergeletak di atas tanah. Tubuhnya kotor dengan sisa sisa tart di wajah dan bajunya.
"Ele, bangun Sayang!" panggil Nanny amat khawatir.
Di lain sisi ...
Sayyida juga kebingungan,dia menepuk-nepuk pipi putrinya yang jatuh pingsan usai petir dahsyat itu.
"Sarah! bangun! jangan tinggalin Ibu sendirian! bangun sayang ..." parau Sayyida.
Part 2
Sarah dan Elena dilarikan bersama-sama ke rumah sakit, hanya berbeda ruangan saja. Siang-malam mereka selalu dijaga keluarga masing-masing, hingga kesadaran itu datang.
''Di mana aku?'' ucap Elena saat pertama kali membuka kelopak matanya.
''Sarah ... kau sudah sadar sayang?'' tanya Sayyida setengah berlari menghampiri putrinya.
''Sarah? siapa dia?'' dan kamu siapa?'' tanya Elena dengan tangan memegang rambut, dia lupa dengan seseibu yang berada di luar gerbang saat acara ulang tahunnya. Elusan Elena mendadak berhenti, saat dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan rambutnya. Rambut yang biasanya halus, lembut dan wangi, tapi kenapa ini begitu kaku?
''Kamu kenapa, Nak? apa gara-gara petir itu? tunggu disini, ibu panggilkan dokter!'' Sayyida berjalan tergopoh-gopoh keluar ruangan. Hendak menemui dokter.
Degup jantung Elena terpacu sangat kuat, dia ingat wanita yang mengaku jika dirinya adalah ibu Elena atau entahlah itu. Elena tiba-tiba merasakan firasat buruk, dengan lemah dia berdiri, mencari apa saja yang bisa dijadikan berkaca.
''Ini bukan tubuhku, ini bukan tanganku, tanganku tak sekasar ini! apa yang terjadi sebenarnya padaku? '' ceracau Elena bingung.
Dia segera berlari keluar, dan sekarang matanya tertuju pada cermin di sudut tembok itu. Dia melangkah gontai ke arah cermin. Sesampainya di sana Elena terperanjat keget sampai tak sadar tubuhnya beringsut ke belakang.
''I-ini wajah siapa? ini bukan wajahku!'' ujarnya tergagap dengan membingkai kedua pipinya. Dia menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya.
Elena ingat, itu wajah gadis dekil di depan gerbang rumahnya.
''Oh ...God!'' seloroh Elena.
''Tubuh siapa ini?''
''Di mana tubuhku?''
''Kenapa aku bisa ditubuh ini?''
"Tuhan ... kenapa aku bisa di tubuh ini!"ujar Elena lagi. Kali ini dia bertanya pada Tuhan.
Dia segera berlari, masuk ke kamar dengan langkah lesu dan bingung dengan langkah apa yang ia harus lakukan.
''Kenapa aku bisa di tubuh ini?'' entah sudah sepersekian kali Elena bertanya. Dia pun bingung, harus cari jawab dan solusi kepada siapa
Warna langit yang mulai menggelap, diiringi dengan suara sahut-sahutan klakson kendaraan menambah kemelut hati Elena. Kota ini begitu ramai, bahkan malam hari pun masih ada kemacetan, mungkin juga karena ada perbaikan jalan, pembangunan, atau yang malah lebih parah adalah kecelakaan. Pikir Elena begitu.
''Kalau jiwaku di tubuh ini, lalu? siapa yang ada di tubuhku?'' tanya hati Elena, berpikir kuat. Dia segera berbalik, ingin segera mencari tahu. Terpaksa langkahnya harus terhenti...wanita yang mengaku sebagai Ibunya sudah berada di depan matanya.
''Sarah, ayo duduk Nak!biar pak dokter periksa'' suruh Sayyida, entah sejak kapan ia sudah di kamar milik jiwa Elena.
''Sepertinya ini normal semua, Bu, mungkin Nona Sarah jiwanya hanya terguncang,'' jelas dokter sambil merapikan stetoskopnya usai periksan Elena bertubuh Sarah.
Terguncang? dia salah kalau bilang aku hanya teguncang, bahkan lebih parah dari itu. Elena seperti orang gila. Mau berteriak, kalau dia bukan si pemilik tubuh ini, tapi rasa-rasanya sangat mustahil bagi orang laon mempercayainya.
Elena memutuskan pasrah sekarang, sampai dia bisa bertemu dengan tubuhnya, Dia harus tahu tentang semua yang terjadi.
Perbincangan antara Sayyida dan dokter sepuh itu sudah usai. Elena memejamkan mata, dia menangis sejadi-jadinya detik itu dalam hati.
''Kau sudah makan Anakku?'' Sayyida bertanya pada Elena sekali lagi yang bertubuhkan Sarah.
Elena membuka kelopak mata dan menggeleng lemah, memang pada kenyataannya, dia sangat lapar. Perut yang sedari tadi pagi sama sekali belum kemasukan makanan, ditambah serangan petir yang menghancurkan jiwa dan angannya, membuat perutnya terasa melilit sampai terdengar suara cukup keras dari dalam perut.
Sayyida meringis mendengar protes perut gadis yang ia yakini putrinya. Dia berjalan medekat ke nakas, mengambil jatah makan rumah sakit. Secara perlahan, ia menempatkan pantatnya ke atas kursi yang telah disediakan di dekat ranjang pasien.
"Buka mulutmu, Sarah!"
Elena terdiam menatap, dasar hatinya mengakui jika wanita di depannya adalah sosok yang baik dan pasti penyanyang. Hatinya terenyuh mendapat perlakuan manis seperti itu. Jarang-jarang Elena merasakan, kalau sakit pun kedua orang tuanya lebih memilij pekerjaan dibandingkan temani Elena yang lemah tak berdaya di atas kasur.
"Nanti nenek ke sini Ele, sementara waktu kamu ditemani ART dulu. Jangan lupa makan dan minum obat!" peringat Ibu Elena kala itu saat ia dengan tega meninggaljan putrinya yang terbaring lemas hanya dengan ART saja.
"Aku anak Mama! bukan anak ART!" protes Elena lemah.
"Ele! jangan manja begitu. Mama banyak kerjaan. Nanti siang Mama juga harus berangkat ke Singapura, ada relasi yang harus Mama temui!"
Elena tak membalas ucapan Mamanya, bukan hanya karena malas melainkan juga karena suara klakson dari bawah halaman sana sudah mendominasi pendengaran Elena, pun juga Mamanya.
"Sudah, Mama berangkat dulu. Papamu udah panggil! bye sayang! cepat sembuh!"
Kenangan itu terngiang-ngiang dalam memori Elena. Bagaimana dia bisa lupa atapun melupakan. Disaat setiap kebanyakan anak sakit akan mendapat penuh perhatian dari Mamanya tapi bagi Elena tidak.
"Aku bisa makan sendiri!" lirih Elena namun masih bisa terdengar oleh Sayyida.
"Tumben, biasanya kalau sakit mintanya disuapin sama Ibu. Udah nggak usah malu. Ibu suapin, ya!"
Elena bertubuhkan Sarah tak bisa menolak. Dia tak kuasa menolak niat sayang seseorang pada dirinya. Elena makan suapan Sayyida. Menu sederhana namun penuh cinta.
"Ibu sangat sedih waktu lihat kamu pingsan di gerbang mewah itu. Ibu pikir lebih baik ibu saja yang tersambar petir dari pada kamu. Kamu tahu, kan? hanya kamu yang paling ngerti Ibu!" Sayyida berucap dengan mata berkaca-kaca.
"Kita akan selalu sama-sama ya Sarah. Jangn tinggalin ibu sendirian," imbuh Sayyida. Kali ini air mata jatuh perlahan ke wajah yang sudah terlihat keriput di mana-mana.
Elena tak salah dengan dugannya, benar itu wanita yang ikut menyaksikan ulang tahunnya di depan gerbang. Melihat air mata tulus itu, Elena tak kuasa juga ikut menangis.
"Mengapa kamu ikut menangis sayang? jangan nangis, ya!" sanggah Sayyida sambil berdiri, lalu memeluk Elena bertubuhkan sarah itu.
Kali ini, tangis Elena makin pecah. Dia sangat berterimakasih pada Tuhan untuk hari ini. Akhirnya, setelah sekian lama menunggu akhirnya dia bisa merasakan pelukan seorang Ibu. Walau pada kenyataannya Elena tahu kalau Sayyida bukan ibunya.
Elena tetap bahagia.
"Ibu! bolehkah aku ke luar sebentar?"
Kening Sayyida berkernyit, dia menjauhkan diri dari tubuh Sarah.
"Ngapain?"
"Emm ... mau ke musolla. Solat, tadi kan Ele ... eh, maksudnya Sarah belum solat!" ucap Elena tak sepenuhnya berbohing.
"Baiklah ... Ibu tunggu disini saja. Tapi habiskan makanmu dulu!"
*********
Elena berjalan menuju tempat resepsionis. Sesekali dia memandang ke belakang karena khawatir apabila Sayyida mendapatinya beralwanan arah dengan Musolla.
"Bu, ada pasien yang bernama Elena tidak? di rumah sakit ini? dia korban tersambar petir!"
"Tunggu sebentar!"jawab lawan bicara Elena sambil mengecek satu persatu daftar pasien di komputernya.
"Tadi ada. Tapi sekarang sudah di rujuk di rumah sakit lain atas permintaan keluarga!"
Mata Elena membulat sempurna, separah itu kah tubuhnya hingga dia harus di rujuk ke rumah sakit lain.
"Parahkah Bu?"
"Kurang tau pasti, tapi sedari tadi dia teriak-teriak nggak jelas, Maaf kata pasien , dia minta tubuhnya! mungkin efek kesamber petir, otaknya sedikit tak fokus!" ucap petugas resepsionis tak bisa mengerem pembicaraan.
Degup jantung Elena serasa terhenti. Dia yakin sekali, kalau yang di tubuhnya adalah pemilik tubuh yang Elena diami detik ini.
"Jiwaku tertukar,"
********
Semerbak bau-bauan tak sedap menusuk-nusuk hidung Elena. Terbiasa dengan bau-bau parfum yang menggetarkan jiwa, alih-alih sekarang dia harus terbiasa dengan bau yang tak ia suka, apalagi kalau bukan makhluk mati bernama jengkol.
"Ibu ... masak apa? kenapa bau sekali!" seloroh Elena lembut sambil satu tangannya mengibas-ibas ke udara, sedangkan satunya guna menutup hidung.
"Kamu ini Rah! semenjak kesamber gledek, kamu jadi agak berubah. Biasanya jengkol ini kesukaan kamu. Katamu bau jengkol itu parfum," ujar Sayyida dengan tangan tetap bekerja cepat mengaduk-aduk masakan sesekali dia mendekatkan uap masakan ke hidung guna membauinya, seolah dia chef bertaraf internasional.
Elena bergidik ngeri membayangkan rasa jengkol itu. Mencium baunya saja serasa ingin muntah. Apalagi makan?
Sudah dua hari ini Elena berada di rumah Sarah, dia ingin sekali kabur, namun Sayyida berukang kali melarang kardna masih belum takin kesehatan putrinya telah pulij seratus persen.
"Nanti Sarah ikut jualan ya?" tawar Elena berakting menamai dirinya sebagai Sarah.
"Nggak perlu. Kamu tunggu di rumah aja. Barangkali nanti si Danang kesini, kemarin dia telpon ibu, denger keaadan kamu habis kesamber petir. Katanya hari ini mau jenguk? kasihan jauh-jauh dari kost nya malah kamu cuekin,"
Danang adalah lelaki baik hati, tampan, dan rupawan. Poin pentingnya dia adalah tunangan Sarah, dan Danang pun sangat mencintai Sarah. Elena belum mengetahui ini
"Danang? siapa lagi tuh?" tanya hati Elena bingung. Namun dia tak berani bertanya kembali.
Sayyida sudah bersiap, kali ini dia hanya memasak semur jengkol di rumah buat Danang dan putrinya.
Sehari-hari dia menjual nasi bungkus di area dekat pasar, memasak dan membungkus di sana juga, sudah menjadi kebiasaan Sayyida sedari dulu.
Menurutnya, kalau memasak di sana. Kadang orang-orang akan merasa tergoda apabila mencium bau masakan Sayyida.
"Ibu pergi dulu. Jaga rumah, dan oh ya, nanti kalau ada si Danang, suruh makan aja sama semur jengkol itu. Kamu sama Danang memang pasangan serasi. Sama-sama suka jengkol, pacar kompak" Saayyida mengakhiri ucapannya dengan terkekeh geli.
Namun tidak untuk Elena. Wajahnya yang cantik, mendadak pucat pasi usai perkataan Sayyida yang sudah beejalan ke luar rumah.
"Pasangan? Danang pacar aku?"
Tanya hati Elena frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya asal, berharap pikirannya sedikit mencair.
********
Elena sudah bersiap, hari ini dia akan ke rumahnya. Elena yakin tubuhnya ada dirumah itu bersama jiwa Sarah.
Elena membuka pintu, betapa terkejutnya dia mendapati tubuhnya sudah berada di ambang pintu.
"Sarah!" ucap Elena.
"Elena!" sahut Sarah jua. Mereka menatap secara bersamaan tanpa berkedip. Terlalu syok dengan kejadian-kejadian yang baru kemarin terjadi.
"Kembalikan tubuhku!" seru Elena meninggi.
"Harusnya aku yang bilang. Kembalikan tubuhku! dasar pencuri!" tajam Sarah tak kalah meninggi dengan Elena.
Tanpa mereka sadari dua pemuda dari arah berlawanan, menatap mereka heran. Apa yang mereka maksudkan. Dua lelaki itu mendekat. Kini posisi mereka sejajar menatap pasangan masing-masing.
"Elena!" panggil Riko
" Sarah!" panggil Danang.
Secara bersamaan Elena dan Sarah menatap kedua lelaki itu kemudian Elena dan Sarah saling memandang bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Mereka sangat sadar posisi jiwa mereka yang tertukar.
Elena tak yakin lelaki di samping Riko adalah Danang, begitupun Sarah. Walau dia kemarin sesaat melihat Riko di rumah sakit, tapi Sarah tak hapal betul dengan wajah Riko. Sarah tak fokus kemarin, saking syoknya dia.
Elena bertubuhkan Sarah segera sadar lalu secara cepat menyenggol lengan Sarah yang berada di tubuhnya agar segera tersadar.
Elena berbisik pada Sarah.
"Itu Riko, calon tunanganku!" bisik Elena tepat di kuping Sarah.
"Dia Danang, juga calon tunanganku!" Sarah menimpali sangat lirih, hampir tak menimbulkan suara. Beruntung Elena masih mendengarnya.
"Cepet sana samperin Riko!" titah Elena memelotot tak santai.
Dengan berat hati Sarah menghampiri Riko, mengabaikan lelaki yang sebenarnya sangat ia cinta. Siapa lagi kalau bukan Danang seorang.
Elena sadar akan posisinya juga segera mendekat ke Danang. Rasa serba salah hinggap di hatinya, namun segera ia mantapkan hati mendekat ke Danang.
"Sarah! gimana keadaanmu? aku sangat khawatir!" seloroh Danang sambil memegang tangan Sarah Berjiwa Elena.
Elena yang tak siap, hanya bisa tersenyum kikuk serba salah. Apalagi melihat tatapan tak suka dari Sarah. Namun Elena bisa apa sekarang?
"Kamu sedang apa kesini Len? untung tadi aku mengikutimu dari belakang! dan ..." ucapan Riko terhenti dan menatapn Elena bertubuh Sarah dan Danang dengan tatapan merendahkan.
"Ngapain kamu disini? Kaum kumuh dan permukiman kumuh! kamu bisa semakin sakit. Ayo cepetan pulang!" Imbuh Riko sambil menggandeng tangan Sarah bertubuh Elena dengan lembut.
Jiwa Sarah yang tak suka dengan ucapan Riko segera menepis kasar genggaman itu.
Elena melotot tak santai melihat respon Sarah terhadap Riko. Dia tak suka jika orang yang ia cintai mendapat perlakuan kasar dari wanita lain. Termasuk tubuhnya sendiri.
"Apa-apaan sih cewek itu?" geram Elena dalam hati.
Betapapun sombongnya Riko, pada kenyataannya Elena sangat mencintai lelaki itu. Bagi Elena wajar saja Riko bersikap sedikit sombong, karena sedari kecil dia sudah berada di lingkungan sehat dan mewah.
Tatapan Sarah bertemu dengan tatapan tajam Elena. Sarah segera sadar akan kesalahannya, segera memutuskan untuk pergi. Dari belakang Riko membuntuti Jiwa Sarah yang berada di tubun Elena.
Sebetulnya mengikuti tubuh Elena sampai kesini merupakan kegiatan yang membosankan bagi Riko. Kalau bukan karena omelan sang Mama yang menyuruh Riko selalu di samping Elena, mungkin lebih baik hari ini Riko memilih menghabiskan waktunya dengan mengencani gadis-gadis cantik, atau kalau tidak mencari mangsa baru.
"Dia siapa Rah?" tanya Danang yang sama sekali tak mendapat respon jiwa Elena. Elena lebih terfokus memandang punggung Riko dari belakang. Ada perasaan yang teramat sedih karena hanya bisa menatap Riko dari Belakang.
Sekuat tenaga jiwa Elena menahan diri untuk berlari memeluk punggung Riko lalu menumpahkan seluruh air matanya. Namun, dia segera sadar jika itu hanya akan sia-sia belakan. Mana ada orang yang akan percaya dengan keadaam jiwanya yang tertukar.
"Ini semua salahku ... andai ..."gumam Elena sambil tangannya menyeka air mata yang luruh berguguran melewati pipi mulus jiwa Elena.
"Rah, kamu kenapa?"