“Ummi, boleh abi menikah lagi?” tanya Abi Fauzan sore itu.
Aku yang kala itu tengah bermain bersama buah hatiku, Aisyah sangat terkejut mendengar permintaan suamiku. Kupejamkan mata seraya menarik nafas panjang, meredam gemuruh yang ada di hati saat ini. Aku menatap lembut kepada Aisyah, Aisyah yang baru berusia 4 tahun, lalu membawanya ke dalam kamar dan memberikan beberapa mainan kesukaannya.
“Aisyah main di dalam kamar dulu ya. Ummi ingin menemui Abi sebentar, tidak apa-apa ' kan Sayang?” tanyaku menatap bola mata bulat milik putriku.
Aisyah lalu mengangguk, dan tersenyum begitu manis ke arahku, “Silakan, Ummi.”
Tak membuang waktu, aku segera beranjak keluar dari dalam kamar Aisyah, lalu menutup pintu kamarnya. Langkah kaki ini terasa berat, tetapi kupaksakan menemui kekasih halal sekaligus imamku. Dari jarak beberapa meter, dapat kulihat jika lelaki yang sudah mengucap janji suci lima tahun yang silam, tampak diam menunduk seraya memainkan jari jemarinya. Aku tahu apa yang saat ini dirasakan oleh suamiku Abi Fauzan. Ia begitu gelisa dan cemas terhadap permintaannya yang belum juga ada jawaban dariku.
Aku melanjutkan langkah menemui lelaki yang begitu kucintai, senyuman kebahagiaan selama lima tahun bersamanya tak pernah lenyap dari bibir ini.
“Maafkan ummi, Abi. Jika ummi meninggalkan Abi seorang diri tanpa pamit. Tentu Abi tahu sebabnya!” ucapku dengan senyuman manis yang tersungging di bibir.
“Abi mengerti, Ummi!” Sorot mata yang teduh lagi-lagi mampu meredam gemuruh dalam dada.
Abi Fauzan melangkah menghampiri dan berlutut di hadapanku, seraya memegang jari jemari ini dengan lembut, mengangkat dagu yang tertunduk, dan menatap mata ini penuh cinta dan kasih sayang.
“Ummi … abi tahu permintaan abi kali ini sangat sulit, abi tahu permintaan abi akan menyakiti hati Ummi. Akan tetapi, abi tidak bisa melakukan apa pun selain mengatakan semua ini kepada, Ummi. Tolong izinkan abi menikah lagi.”
Deg ….
Jantungku berdetak begitu kencang, pertanyaan yang sama telah dilontarkan oleh imamku. Aku menatap lekat wajahnya yang rupawan, terpancar senyuman yang begitu teduh di sana. Senyuman yang membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya, seraya membalas senyuman teduh itu. Aku mengusap jari jemari Abi Fauzan, “Boleh ummi tahu alasan Abi ingin menikah lagi?" tanyaku seraya menatap bola matanya yang indah.
“Abi jatuh cinta kepada seorang gadis, Ummi!” jawab suamiku dengan jujur. Ada yang retak tetapi bukan kaca melainkan hatiku yang hancur. Bagai tersayat pisau, perih dan pedih itulah yang kurasakan saat ini.
Aku tetap mempertahankan senyuman yang tersungging di bibir, permintaan suamiku kali ini memang sangat berat dan cenderung sulit untuk di iyakan. Terlepas dari semua itu, aku tetap harus berpikir positif dalam menyikapi setiap permasalahan rumah tanggaku.
“Tolong jelaskan apa yang membuat Abi jatuh cinta dengan gadis itu? Apakah Abi mencintai gadis itu hanya karena wajahnya?” tanyaku.
“Tidak Ummi, abi jatuh cinta kepada gadis itu bukan karena rupa atau karena kemolekan tubuhnya. Akan tetapi, abi mencintai, sebab akhlaknya yang mulia, serta perangainya yang sangat lemah lembut!” ungkap Abi Fauzan.
“Lalu bagaimana dengan penampilannya?” tanyaku kembali. Aku kembali menatap lekat ke arah Abi Fauzan.
“Alhamdulillah, dia wanita yang menutup auratnya,” jawab Abi Fauzan kembali.
“Baiklah jika seperti itu, Abi. Izinkan ummi bertemu dan mengenalnya dulu sebelum memutuskan permintaan Abi.”
“Baiklah … abi akan berbicara dan meminta izin ayahnya agar bisa membawa Humairah bertemu dengan Ummi.”
“Tidak, Abi! Bawa ummi bertemu dengannya beserta keluarga besarnya, di kediaman mereka. Ummi ingin berbicara dan menanyakan beberapa hal kepada Humaira di depan semua orang, tak terkecuali seluruh keluarga besarnya. Bagaimana Abi? Apakah Abi setuju?” tanyaku kepada Abi Fauzan. Abi Fauzan tampak cemas mendengar permintaanku untuk menemui gadis yang bernama Humairah, di depan keluarga besarnya.
“Apakah Ummi tidak akan melakukan hal-hal di luar batas?” Sebuah pertanyaan mengandung kecemasan.
Aku tersenyum mendengar ucapan Abi Fauzan, lalu mengusap lembut bahu kokoh suamiku.
“Abi tidak perlu cemas, jangan khawatir mengenai sikapku saat bertemu dengan keluarga Humairah. Ummi akan menjaga sikap di hadapan keluarga besar Humairah, Abi. Ummi bukan wanita yang mudah terpancing emosi, meski saat ini ummi tidak bisa memungkiri, jika permintaan Abi sungguh menyakiti hati Ummi. Namun, bukan itu poin pentingnya, sebagai seorang wanita … tentu saja ummi sakit hati. Akan tetapi, ummi juga perlu tahu dan mengenal bagaimana perangai wanita yang akan menjadi calon maduku, sebelum ummi benar -benar setuju,” ujarku pada lelakiku itu.
“Maafkan abi, Ummi. Abi tahu hati Ummi saat ini tengah sakit dan kecewa!” Abi Fauzan tertunduk dengan bahu bergetar.
Aku yang melihat suamiku menangis dalam keadaan tertunduk, hanya bisa mengusap punggungnya dengan lembut. Aku tahu suamiku saat ini pasti sangat menyesal telah meminta izin untuk menikah lagi. Namun, aku tidak menyalahkan sebab keadaan ini terjadi, suamiku Abi Fauzan adalah seorang lelaki yang sholeh menurut versiku, karena lima tahun aku hidup menjalani biduk rumah tangga bersamanya, tak sekalipun aku melihat lelakiku itu, menatap kagum ke arah wanita yang bukan mahramnya. Ia selalu menundukkan pandangan terhadap lawan jenisnya.
Entah mengapa kali ini, ia bisa jatuh cinta kepada seorang gadis, aku tak tahu apa sebabnya itu terjadi, karena sejauh yang kutahu, Abi Fauzan bukanlah lelaki yang mudah mencintai orang lain.
Dari perihal inilah, aku mulai menata hati dan pikiran, mungkin ada hal yang istimewa dari gadis itu, sehingga membuat lelaki bisa jatuh hati padanya. Hingga aku mengambil keputusan untuk mengenal wanita itu lebih dulu, sebelum mengambil langkah poligami.
Meski pada akhirnya aku akan setuju dengan poligami yang akan Abi Fauzan lakukan, tetapi sebelum itu terjadi aku harus lebih dulu menyelami perangai wanita kedua suamiku. Baik buruknya aku harus memahami semuanya. Bagiku poligami jauh lebih baik, dari pada harus terus menerus melihat suamiku berzina hati. Aku senang! Sebab Abi Fauzan mau mengatakan semua yang terjadi dengannya, karena sebagian lelaki, pasti akan menutupi semua rasa itu, jika ia mencintai seorang wanita tanpa ingin diketahui. Meski aku tak bisa mengelak, kejujurannya membuatku teramat sakit.
“Abi tak perlu meminta maaf sebab permintaan itu, ummi cukup paham mengapa Abi mengatakan dan meminta izin ummi terlebih dulu. Mencintai seseorang adalah hal yang lumrah. Meski tak bisa ummi pungkiri jika ummi senang sekaligus sedih, sebab kejujuran yang ada pada diri Abi. Ajaklah ummi bertemu dengan wanita itu, Abi. Jangan takut! Ummi tidak akan melakukan hal yang membuat Abi malu!” Aku menatap lekat sorot mata yang selalu memancarkan cinta di sana. Tak ada yang berubah dari sorot mata itu, semuanya masih sama. Hanya satu doaku dalam hati saat ini, semoga cinta itu masih sama besarnya walau nantinya akan hadir bidadari lain di hati suamiku.
“Terima kasih, Ummi. Terima kasih telah menjadi penyejuk di saat hati ini tengah gunda gulana. Jika Ummi menyetujui pernikahan abi, insya Allah abi akan berlaku adil!” Lelaki itu memeluk erat diriku yang sempat menitikan air mata pedih. Namun, aku harus tetap tegar menerima semua qodarullah yang Allah tetapkan untuk pernikahanku.
Meski hatiku saat ini tengah sakit, aku mencoba berpikir husnudzon terhadap Allah SWT, mungkin iman dan islamku tengah diuji saat ini dengan adanya permintaan poligami ini.
“Ayo kita sholat magrib dulu, Abi. Ummi ingin mengadu kepada Sang Pencipta dan meminta petunjuk atas keputusan apa yang akan ummi berikan pada Abi!” Aku menarik mesra tangan kekasih halalku, menuju mushola yang ada di dalam rumah kami. Tempat sederhana. Namun, sangat nyaman.
Tempat inilah menjadi tempat terbaikku, saat hati dan pikiranku dalam keadaan yang benar-benar down. Aku menggantungkan semua harapan pada Sang Maha Kuasa, berharap apa yang terbaik menjadi kisah hidupku.
Tak menunggu lama, aku dan Abi Fauzan beranjak lalu melangkah ke arah mushola yang ada di dalam rumah, kami berdua salat berjamaah dengan khusyu melupakan sejenak urusan dunia yang tengah membelit saat ini.
Dalam doa, kutumpahkan semua rasa sesak yang ada di hati. Aku menangis di atas sajadah yang menemaniku setiap aku melaksanakan kewajiban. Setelah puas menangis di atas sajadah ini, tepukan halus di pundak mengakhiri semua tangis ini. Aku memeluk erat lelaki yang telah membersamaiku selama lima tahun, tangisku tumpah seketika aku tak bisa menahannya lebih lama lagi.
Permintaan maaf kembali terlontar dari bibir Abi Fauzan. Ia semakin membalas pelukanku pada tubuhnya, hal itulah yang membuatku merasa tenang dikala hati dalam keadaan tidak baik-baik saja. Meski sakit, aku tetap akan tegar menghadapi cobaan ini.
“Maafkan abi.”
Perkenalkan aku adalah Khadijah, seorang perempuan yang tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan islami. Aku dibesarkan oleh seorang lelaki yang sangat hebat, lelaki yang merupakan tempatku untuk mengadu setelah Allah SWT.
Lelaki yang merupakan cinta pertamaku sebelum suamiku. Dialah Abi Arsyad seorang guru mengaji yang selalu mengajarkan nilai-nilai agamis padaku saat masih kecil hingga dewasa seperti saat ini. Saat ini, aku sudah berusia 28 tahun, aku ibu dari seorang gadis cantik yang berusia empat tahun. Gadis yang merupakan anugerah terindah, setelah pernikahan kami baru berjalan lima tahun.
Mungkin sebagian besar wanita menentang adanya poligami, jujur hati kecilku pun seperti itu. Namun, aku mencoba tetap bertahan sebab masih banyak hal yang patut dipertahankan. Masih banyak hal yang bisa diperbaiki.
Pada akhirnya, aku kembali teringat sepenggal perkataan Ayah yang tiba-tiba terlintas di benakku. Poligami diperbolehkan, asal suami yang ingin berpoligami sanggup dan adil dalam segala hal tidak berat sebelah, yang terpenting ilmu dalam poligami sudah sangat dikuasai.
Hal itulah yang membuatku meredam kembali rasa amarah yang sempat bersarang di dalam hatiku, aku ingin menyerahkan semua hal ini pada Sang Pencipta, karena kepada Allah-lah tempatku mengadu segala beban yang ada di hati ini, tempat curhat terbaik tanpa ada rasa cemas akan diketahui oleh orang lain.
Malam sudah semakin larut, aku yang saat ini tengah berada di peraduan bersama Abi Fauzan. Entah mengapa mata ini enggan untuk terpejam, aku kembali teringat permintaan Abi Fauzan yang ingin menikah lagi. Malam yang biasanya kuhabiskan dalam lelap, tak kutemui lagi. Mataku terjaga memikirkan setiap bait perkataan Abi Fauzan. Hati dilanda gelisah, aku seakan tak menemukan muara atas masalah yang tengah kuhadapi.
Kutatap lekat wajah rupawan suamiku, salah satu ciptaan Allah yang sangat indah. Entah apa yang akan terjadi denganku apabila Abi Fauzan telah menikah lagi? Aku seakan bimbang untuk mengizinkan poligami itu. Akan tetapi, aku tak akan membiarkan Mas Fauzan mencintai seorang wanita yang bukan mahramnya, karena aku tahu, meski aku melarangnya untuk melakukan poligami itu, aku tidak serta merta bisa mencegah hatinya yang telah terbagi untuk tidak mencintai Humairah lagi.
Kupejamkan mata sejenak, membiarkan air mata ini luruh membasahi pipi.
Aku terisak dengan lirih, hatiku teramat sakit. Namun, harus tetap kujalani semua takdir ini. Aku harus tetap berprasangka baik pada Allah, karena yakin dan percaya, semua ini akan ada hikmahnya. Di balik kesedihan akan ada bahagia yang menanti.
Aku mencoba meredam semua rasa sakit ini, dengan membaca kitab suci Al Quran yang ada di hadapanku. Setelah wajah ini telah terbasuh oleh air wudhu yang menyejukkan hati dan jiwa, sedikit demi sedikit kesedihanku terurai seiring dengan lantunan ayat suci Al Quran yang aku lafalkan.
Hati yang tadinya gunda dan sedih, kini kembali terasa damai setelah melantunkan kitab suci ini. Aku tersenyum seraya menutup kitab suci ini, setelah menyelesaikan bacaanku lebih dulu. Sebuah pelukan tiba-tiba mendarat di punggungku, membuat begitu terkejut. Sedetik kemudian, kecupan hangat mendarat di puncak kepala dan di kening. Aku tersenyum senang, mendapatkan perlakuan itu dari Abi Fauzan yang begitu manis dan mesra.
Kutatap lekat wajah yang masih sangat mempesona, meski ia baru saja terjaga dari tidur. Posisi kami saat ini saling berhadapan, sehingga aku dengan leluasa menatap wajah itu.
“Mengapa kau menatapku begitu lekat, Ummi?” tanya abi Fauzan. Sebuah senyuman telah tersungging indah di bibir.
“Apa Abi akan tetap melakukan hal manis ini, meski ada bidadari lain yang akan menempati sebagian ruang hati Abi?” tanyaku. Dengan mata yang masih setia menikmati setiap inci wajah kekasih halalku.
“Apakah ini penyebab Ummi terjaga malam ini? Apakah Ummi memikirkan semua sikap abi pada Ummi setelah abi menikah lagi?” tanya Abi Fauzan. Sebuah usapan lembut di punggungku.
“Apakah salah jika ummi menanyakan sikap Abi? Saat akan ada wanita lain yang menghuni sebagian hati Abi?” tanyaku kembali.
Abi Fauzan semakin tersenyum lebar, lalu membawa tubuh mungil ini ke atas pangkuannya. “Ini sudah menjadi kebiasaan Ummi, menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan kembali. Dengarkan ini baik-baik, Ummi. Abi akan berusaha bersikap seperti biasanya kepada Ummi, sebagaimana abi bersikap setiap harinya. Ummi tidak perlu cemas, abi tidak akan merubah apa pun kebiasaan abi pada Ummi baik itu cinta dan sikap abi. Abi akan berusaha , Ummi! Jika Ummi menemukan abi mulai ingkar dan melenceng , tolong ingatkan abi kembali Ummi, karena abi hanya manusia biasa!” ujar Abi Fauzan seraya mengeratkan pelukannya.
“Boleh Ummi menanyakan sesuatu lagi?” tanyaku kembali. Aku mengusap lembut jari jemari Abi Fauzan.
“Tanyakan semua hal yang ingin Ummi tanyakan, abi akan jawab semuanya.” Sebuah jawaban yang kuinginkan.
“Jika Ummi meminta Abi melupakan Humairah, apakah Abi bisa melakukan itu?” Aku merubah posisiku, kutatap lekat wajah suamiku yang tiba-tiba menunduk seiring pelukannya pada tubuh mungil ini mengendur.
“Jika itu permintaan Ummi yang sesungguhnya, abi akan berusaha melupakan Humairah meski itu sulit untuk abi lakukan!” ujar suamiku. Sebuah ucapan yang membuat hati semakin kebas, sebab rasa sakit yang tak bisa kugambarkan.
“Apakah Abi sungguh-sungguh dengan perkataan Abi yang ingin melupakan Humairah?” tanyaku. Aku sengaja menanyakan hal ini, sebab ingin tahu lebih dalam isi hati suamiku saat ini.
“Ya … sesuai permintaan Ummi. Abi akan berusaha. Akan tetapi, abi tidak tahu berapa lama waktu yang abi butuhkan untuk melupakan Humairah! ” Abi Fauzan kembali menunduk. Aku bisa menebak apa yang suamiku rasakan saat ini.
Perkataannya semakin menambah perih di dalam hati. Bak luka yang disirami air garam.
“Apa sebegitu sulitnya melupakan Humairah dari dalam hati Abi? Apa yang sulit, Abi?” tanyaku kembali.
“Entahlah, Ummi apa yang begitu sulit. Mungkin, karena Allah sendiri yang membuat hati abi jatuh cinta kepada Humairah. Hingga, abi begitu sulit untuk melupakan wanita itu. Cara melupakan Humairah mungkin hanya Allah yang bisa membuat abi melakukan itu, sebab rasa cinta ini, karena Dia yang memberi!” Abi Fauzan kembali tertunduk begitu dalam, setelah mengungkapkan semua yang ada di dalam hatinya.
Aku menarik nafas panjang, menetralkan rasa sakit yang tengah menderah. Setelah mendengar pengakuan mengenai rasa yang dimiliki untuk Humairah, aku sudah memiliki keputusan final mengenai hal ini.
“Jika rasa cinta Abi, karena Allah. Ummi akan mengizinkan Abi menikahi Humairah. Ummi akan belajar mengikhlaskan Abi bersanding dengan wanita lain!” Sebuah keputusan berat yang tengah kulakukan, tanpa sadar bahu ini bergetar menahan tangis yang begitu pilu .
“Kenapa Ummi mengizinkan abi melakukan poligami? Padahal itu menyakiti hati Ummi sendiri?” tanya Abi Fauzan dengan serius.
“Lantas, jika Abi tahu itu menyakiti ummi. Lantas, mengapa Abi meminta poligami itu?” kulihat Abi Fauzan seketika terdiam, aku tahu ia tak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.
Kuusap punggungnya dengan lembut, lalu memegang bahunya agar lelakiku itu agar menatap ke arahku.
“Aku tahu Abi tak bisa menjawab pertanyaan ummi, Abi tak perlu khawatir. Ummi ridho dan belajar ikhlas menerima qadarullah yang Allah tetapkan. Mungkin, jalan inilah yang Allah pilih untukku agar menempati surga-Nya kelak.” Kusunggingkan senyuman indah di hadapannya, agar suamiku tidak merasa cemas.
Biarlah rasa sakit ini, kutanggung sendiri. Jalan ini aku yang memilihnya, karena aku tahu tidak ada jalan lain selain mengizinkannya. Jika cerai adalah jalan terakhirnya, maka lebih baik aku tidak bercerai. Bukan karena aku bodoh yang mau saja di madu. Namun, banyak hal yang membuatku mempertahankan dari pada alasan untuk mengakhiri. Jika sebagian wanita memilih untuk bercerai saat lelakinya meminta poligami, maka pilihanku berbeda aku lebih memilih bertahan, karena keyakinan hatiku pada Allah yang begitu besar. Biarlah kujalani ini dengan ikhlas sebagai bentuk bakti kepada suami yang memang pantas mendapatkannya.
Aku mencintai suamiku, karena Allah. Biarkan dunia mengatakan aku wanita bodoh! Aku tidak peduli akan hal itu, karena rumah tangga ini aku yang menjalani, baik buruknya sudah kupikirkan lebih dulu.
“Terima kasih, Ummi. Terima kasih atas segala pengorbananmu!” Abi Fauzan kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil ini.
Tak terasa adzan subuh telah berkumandang, aku dan Abi Fauzan saling menatap, lalu menyudahi perbincangan kami tadi.
“Ayo kita menunaikan sholat subuh dulu, Bi. Tak terasa kita berbincang hingga subuh menjelang!” Aku menarik diri dari pelukan suamiku.
Tanpa berkata apa pun, Abi Fauzan melangkah menuju kamar mandi. Mengambil wudhu lalu melangkah keluar kamar menuju mushola rumah. Kami melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim dengan khusyu. Kutinggalkan sejenak urusan duniawi yang tengah dihadapi, waktunya untuk menghadap Sang Khalik.
Fajar mulai menyingsing, aku beranjak dari mushola menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk dua orang yang kusayangi, harta yang tak terhingga yang kumiliki, dialah Abi Fauzan suamiku, dan Aisyah putri kecilku yang cantik.
Aku tetap menjalani aktivitas seperti biasanya, melayani suami dengan sepenuh hati meski tahu jika hatinya saat ini telah terbagi dengan wanita lain. Terlepas dari semua itu, tak membuatku menurunkan bakti pada Abi Fauzan. Aku tetap menempatkan dia di tempat tertinggi dalam hati, tetap menghargai dan menghormatinya sebagai imamku.
Di tengah aku menyiapkan sarapan pagi, sebuah lengan tiba-tiba melingkar mesra di pinggang. Aku tetap fokus menyiapkan sarapan pagi itu, meski Abi Fauzan tetap melingkarkan tangannya di pinggang. Hingga sebuah pertanyaan terlontar di bibirnya.
“Ummi, apa ada yang bisa abi bantu?” tanya lelakiku itu.
“Ada ….” Aku berbalik menatapnya dengan lekat lalu berkata, “ Abi cukup duduk diam di sana, itu sudah membantu ummi. Sebab jika Abi berada di sekitar ummi, Abi hanya memperlambat pekerjaan ummi,” ucapku. Aku lalu menarik tangan Abi Fauzan menuju salah satu kursi meja makan, dan menyuruhnya duduk.
“Ini sih sama saja abi tidak melakukan apa pun!” gerutu abi Fauzan dengan wajah cemberut.
“Abi duduk diam di kursi itu sudah membantu ummi, kok. Jadi … Abi cukup duduk dengan manis!” jawabku disertai senyuman yang manis.
Pagi itu kami lewati dengan penuh kehangatan, hingga teriakan si kecil Aisyah mengalihkan perhatian kami berdua. Aisyah berlari ke arah kami berdua, dengan boneka kesayangan di tangannya.
“Abi, boleh Aii duduk di pangkuan Abi?” tanya Aisyah.
“ Tentu saja, sayang.” Abi Fauzan lalu mengangkat tubuh mungil Aisyah ke atas pangkuannya.
Tawa riang Aisyah menjadi melodi di pagi hari saat kami tengah berada di dapur. Mungkin, sebagian keluarga, meja makan dan dapur hanya digunakan untuk memasak dan menyantap masakan saja. Akan tetapi, tidak dengan keluarga kecilku. Hampir setiap pagi, kami menghabiskan waktu di dapur dan meja makan ini, kehangatan keluarga kecilku tercipta dan berawal di ruangan yang sederhana ini.
Keakraban yang tercipta antara suami dan anakku, menjadi salah satu poin penting agar tetap bertahan di sisi suamiku. Inilah salah satu sebab aku memilih untuk dimadu, daripada harus bercerai. Aku tak akan sanggup melihat tawa riang putri kecilku, berganti menjadi tangisan. Jika aku memutuskan untuk bercerai dari Abi Fauzan.
‘Semoga Abi Fauzan tidak berubah setelah ia memiliki istri lagi.’ Batinku seraya menatap dalam diam Aisyah dan Abi Fauzan.
Setelah menu sarapan pagi telah selesai, aku lalu menghidangkan di atas meja, dengan segelas susu coklat kesukaan Aisyah.
“Wah … nasi goreng buatan Ummi pasti enak!” teriak Aisyah dengan riang.
“Tentu saja, sayang! Nasi goreng buatan Ummi yang terenak!” ujar suamiku. Membuat senyuman tersungging dengan indah sebab, aku begitu bahagia. Saat melihat keakraban seorang Ayah dan putrinya.
“Ayo ikut sarapan bersama kami, Ummi! Kenapa Ummi hanya berdiam diri seperti itu?" tanya Aisyah. Tak lupa menarik tanganku agar duduk di kursi.
“Terima kasih, Sayang. Ummi pasti akan sarapan bersama kalian!” Aku lalu menghidangkan nasi goreng buatanku ke piring Aisyah dan Abi Fauzan. Kami menghabiskan sarapan itu dalam diam, begitu pun dengan Aisyah. Setelah memimpin doa makan, gadis kecilku tampak sudah tahu kebiasaan yang ada di rumah saat, kita akan menikmati makanan.
“Alhamdulillah …,” ujar Abi Fauzan setelah menyelesaikan sarapannya.
Saat akan meninggalkan meja makan, aku mencekal pergelangan tangannya meminta untuk duduk kembali. Sementara Aisyah, sudah sejak tadi bermain boneka di ruang tengah setelah menyelesaikan sarapannya.
kutatap wajah suamiku, masih dengan tangan yang memegang tangannya, aku tersenyum seraya berkata, “Duduklah sebentar, Abi. Ummi ingin bertanya sesuatu.”
“Apa yang ingin Ummi tanyakan?” Abi Fauzan menatapku begitu lekat
“Apakah Abi saat ini tengah sibuk?” tanyaku.
“Tidak terlalu sibuk, Ummi. Memangnya kenapa?” tanya Abi Fauzan.
“Apakah Abi bisa mengantar ummi ke rumah ayah Arsyad?” Aku menatap wajah suamiku yang tiba-tiba terkejut setelah mendengar perkataanku.
“Abi akan mengantar Ummi kesana. Akan tetapi, boleh abi tahu untuk apa Ummi ingin bertemu abi Arsyad?” tanya suamiku. Bisa kusimpulkan ada rasa cemas dan takut di sana.
“Ummi akan mengatakan niat Abi pada ayah Arsyad. Ummi ingin Ayah tahu, jika Abi hendak melakukan poligami. Ummi tidak mempunyai maksud tidak baik, Abi. Ummi hanya ingin Ayah Arsyad meridhoi keputusan Abi dan ummi, agar kelak tidak menimbulkan masalah di kemudian hari!” Raut cemas itu masih tergambar jelas pada wajah rupawab Abi Fauzan
“Abi tahu maksud, Ummi. Hanya saja….” Abi Fauzan tampak ragu melanjutkan ucapannya.
“Katakanlah, Abi. Jangan ragu, ummi akan mendengarkan Abi.” Aku mendorong kursi kayu ini agar jarak kami lebih dekat, lalu menggenggam erat tangan suamiku agar tidak ada keraguan di hatinya lagi.
“Abi tak sanggup menghadapi abi Arsyad, Ummi. Abi malu bertemu dengannya!” ungkap suamiku.
Aku tersenyum lalu mengusap lembut tangannya, “Abi sudah menentukan jalan ini. Jadi, Abi juga yang harus melewati semua rintangan yang ada di jalan itu.”
“Abi tenang saja, Ummi akan membantu Abi menjelaskan semuanya. Ummi tahu karakter ayah Arsyad, ayah Arsyad adalah lelaki bijaksana. Beliau tidak akan melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu!” Aku berusaha menyakinkan suamiku, agar mau berterus terang kepada Ayahku mengenai niatnya itu.
Terlihat Abi Fauzan menghembuskan nafas panjang, seraya menatapku begitu lekat, lalu mengusap jari jemariku dengan lembut disertai senyuman yang begitu indah.
“Baiklah! Abi akan mengantar Ummi ke rumah abi Arsyad. Ummi berkata benar, jika abi harus berani mengutarakan niat abi untuk poligami, pada abi Arsyad!” Meski ada nada keraguan, Abi Fauzan ternyata setuju untuk bertemu mertuanya.
“Kalau begitu, ummi akan bersiap-siap dulu. Ayo … Abi juga harus bersiap-siap.”Aku dan abi Fauzan melangkah menuju kamar dengan tangan yang saling menggenggam.
Sementara Aisyah, telah berada di dalam kamarnya. Menungguku di sana untuk bersiap juga.
Saat aku dan Abi Fauzan berada di dalam kamar, aku segera mempersiapkan satu stel pakaian yang akan digunakan ke rumah ayah Arsyad.Tak lupa mengambil handuk dan menyuruh suamiku masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Abi Fauzan sedang mandi, aku buru-buru melangkah menuju kamar Aisyah mempersiapkan putriku juga, karena ia akan ikut bersamaku ke rumah kakeknya.
“Hore … kita akan ke rumah Kakek. Aii senang sekali, Ummi!” Aisyah mengecup pipiku dengan tawa yang riang. Ia begitu bahagia setelah tahu kita akan berkunjung ke rumah ayah Arsyad, kakeknya.
“Ummi ….” Abi Fauzan berteriak memanggilku. Beruntung, saat ini Aisyah sudah selesai bersiap.
Aku melangkah menjauh dari dalam kamar Aisyah dan melangkah masuk ke dalam kamarku. Di dalam kamar tampak Abi Fauzan tengah bersiap.
“Ada apa Abi mencariku?” Aku melangkah menghampirinya, seraya mengambil handuk basah yang diletakkan di atas bed.
“Kebiasaan nih, si Abi. Handuk basah jangan diletakkan di sini, dong!” ujarku dengan wajah cemberut.
“Ummi cantik banget sih! Kalau lagi cemberut gini!” Abi Fauzan mengecup pipiku dengan mesra.
“Dasar mesum!” Aku mencubit gemas tangan Abi Fauzan.
“Kok, mesum sih, Ummi?” tanya Abi Fauzan. Ia menggapai tubuh mungil ini kedalam pelukannya.
“Tetaplah seperti ini, Ummi. Jangan pernah berubah.”
“Ummi tidak akan pernah merubah apa pun yang ada pada diri ummi, Abi. Akan tetapi, jika Abi merasa ummi mulai berubah, jangan tanyakan itu pada ummi. Tanyakan pada diri Abi sendiri, apa sebab ummi bisa berubah, karena perubahan sikap ummi, tergantung dari Abi memperlakukan ummi nanti, saat ada bidadari lain yang bertahta di sini!” Aku menunjuk dada kekasih halalku, dengan senyuman yang tersungging di bibir.
Kulihat Abi Fauzan tertunduk, sedetik kemudian ia mengangkat wajahnya seraya menampilkan senyuman khas miliknya.
“Abi tidak akan berubah hanya, karena seseorang. Ummi tenang saja!” ujar Abi Fauzan.
“Kita lihat saja nanti. Kalau begitu, ummi mau bersiap-siap juga, lalu ke rumah ayah Arsyad.” Aku lalu bangkit dan melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Abi Fauzan yang menatapku dalam diam.
Aku berbalik sebelum benar benar menjauh, wajah cemas itu kembali tampak di wajahnya. Membuatku menarik nafas panjang sebelum melanjutkan langkahku kembali.
“Aaakhhh ….”