Sampul Novel Gadis buta Milik CEO

Gadis buta Milik CEO

8.8 / 10.0
Kehidupan Laras berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut penglihatannya. Mantan mahasiswi yang dulunya ceria ini kini harus menderita akibat dirundung oleh para penggemar fanatik Damar, seorang CEO yang pernah ia cintai. Damar sempat pergi menjauh demi melindungi Laras, namun tindakan itu justru menghancurkan gadis tersebut. Kini, dilingkupi penyesalan yang mendalam, Damar kembali. Ia bertekad menebus kesalahannya dan membuktikan ketulusan cintanya di tengah kegelapan Laras.
Ringkasan Gadis buta Milik CEO
Kehidupan Laras berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut penglihatannya. Mantan mahasiswi yang dulunya ceria ini kini harus menderita akibat dirundung oleh para penggemar fanatik Damar, seorang CEO yang pernah ia cintai. Damar sempat pergi menjauh demi melindungi Laras, namun tindakan itu justru menghancurkan gadis tersebut. Kini, dilingkupi penyesalan yang mendalam, Damar kembali. Ia bertekad menebus kesalahannya dan membuktikan ketulusan cintanya di tengah kegelapan Laras.
Baca Selengkapnya

Gadis buta Milik CEO Bab 1

Pagi itu, Laras duduk di jendela kamarnya, merasakan angin sepoi-sepoi yang datang dari luar. Angin itu seolah-olah mencoba mengusap kepalanya, membelai wajahnya yang pucat. Ia tak bisa melihat, tetapi semua indra lainnya belajar untuk menggantikan apa yang hilang. Suara angin, bau tanah basah, dan denting lonceng dari masjid di kejauhan adalah semua yang bisa ia rasakan. Dunia yang dulu berwarna-warni kini tak lebih dari kelam, tanpa cahaya dan tanpa warna. Seperti sisa-sisa mimpi yang hilang dalam ingatan.

Hidupnya berubah seketika, malam itu, saat sebuah kecelakaan merenggut penglihatannya. Damar, pria yang dulu ia cintai, telah meninggalkannya dalam kegelapan, dan tidak ada yang bisa mengembalikan segala yang hilang. Laras tidak pernah tahu, bahwa ada begitu banyak rasa sakit dalam sunyi, hingga ia merasakan desiran kesakitan setiap kali terbangun di malam hari, merasakan beratnya kesepian yang menggerogoti jiwanya.

Suara derap kaki di luar pintu membuatnya kembali ke realitas. Ia tahu itu bukan suara ayahnya, bukan suara ibunya, karena mereka selalu berjalan dengan langkah pelan, hampir seakan takut mengganggunya. Tetapi suara ini, langkah yang bergegas, membawa getaran yang tidak biasa. Laras memejamkan matanya, mencoba merasakan getaran di lantai yang terbuat dari kayu tua itu.

"Siapa?" Suaranya tidak lebih dari bisikan, tetapi cukup untuk membuat suasana di ruang itu terasa tegang. Saat pintu terbuka, hati Laras berdetak lebih cepat. Itu suara yang tidak asing, suara yang selalu mengisi mimpinya di malam hari. Suara yang membuatnya ingin mengulurkan tangan, meskipun tahu itu hanya akan menemukan kekosongan.

"Laras," suara itu. Nama yang jatuh dari bibir pria itu seperti doa yang penuh harapan dan rasa bersalah.

Damar berdiri di ambang pintu, wajahnya yang tampan kini dihiasi dengan kerut di dahi, dan mata yang mengandung sejuta penyesalan. Dia menatap Laras, seolah ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata itu terhenti di tenggorokannya. Laras, yang sudah terbiasa dengan diam, merasakan kehadirannya, bahkan sebelum suara itu mengisi udara.

"Apa yang kau lakukan di sini, Damar?" Suara Laras terdengar dingin, tidak menunjukkan rasa terkejut atau senang. Ia sudah berlatih untuk tidak memperlihatkan kelemahan. Dunia ini telah mengajarinya untuk bertahan dengan apa adanya.

Damar menghela napas, merasakan betapa beratnya momen itu. Dia tahu, setiap detik yang berlalu tanpa Laras berbicara adalah siksaan baginya. "Aku tahu aku tidak seharusnya datang, Laras. Aku... aku hanya ingin berbicara. Hanya satu kali, dan kemudian aku akan pergi."

"Untuk apa?" Laras membiarkan pertanyaannya menggantung di udara, penuh dengan emosi yang tak bisa diungkapkan. Hatinya seperti terbelah menjadi dua. Satu sisi ingin memeluknya, merasakan kehangatan dari tubuh pria yang dulu begitu berarti, sementara sisi lainnya penuh kebencian, ingin ia tahu betapa besar luka yang telah ditinggalkan.

Damar melangkah masuk, menutup pintu dengan pelan. Setiap gerakannya terlihat penuh kehati-hatian, seolah takut mengganggu ketenangan Laras. Ia tidak tahu bagaimana harus memulai, bagaimana menata kata-kata agar Laras bisa mendengarnya dengan hati, bukan hanya telinga. "Aku tahu aku telah membuatmu menderita. Aku tahu aku seharusnya tidak meninggalkanmu saat itu, tapi aku... aku takut. Aku takut aku tidak cukup kuat untuk melawan semua yang terjadi."

Laras terdiam. Ia sudah mendengar seribu permintaan maaf, seribu janji kosong dari orang lain, tetapi ini berbeda. Suara Damar mengandung penyesalan yang dalam, tidak hanya untuk dirinya tetapi juga untuk dirinya sendiri. Di dalam hatinya, Laras tahu, Damar lebih menderita daripada siapa pun.

"Tapi aku yang terjebak dalam kegelapan ini, Damar. Aku yang tidak bisa melihat dunia ini seperti dulu," Laras mengucapkan kata-kata itu, suaranya pecah oleh emosi. Tangannya gemetar, tetapi ia menahan diri untuk tidak menangis. Ia sudah cukup lelah menangis untuk sesuatu yang tak bisa diubah.

Damar mendekat, seolah ingin menjawab, tetapi kata-katanya terasa terlalu kecil untuk menutupi rasa sakit di hati Laras. "Aku tahu, Laras. Aku tidak meminta maaf hanya untuk membebaskan diriku. Aku ingin kau tahu, setiap malam aku terjaga, aku memikirkanmu. Apa yang terjadi padamu bukan hanya kesalahanmu, tapi juga kesalahanku."

Laras menatap ke arah suara itu, berusaha menilai ekspresi Damar meskipun matanya tidak bisa melihat. Bagaimana mungkin dia tahu betapa sulitnya menjalani hari-hari tanpa melihat? Tanpa tahu apakah langit itu cerah atau mendung? Tanpa bisa melihat senyuman orang-orang yang lewat di depan rumahnya?

"Lalu mengapa kau datang sekarang?" tanya Laras dengan nada tajam, suaranya bergetar. "Kenapa kau tidak datang saat aku membutuhkanmu? Kenapa kau hanya muncul setelah semua ini terjadi? Apakah kau pikir satu kata maaf akan menghapus semua rasa sakit ini?"

Damar terdiam, hatinya hancur mendengar kebencian itu. Ia tahu tidak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka yang dalam ini. Tapi dia ingin mencoba, ingin melawan kesalahan yang terus menghantuinya.

"Aku tidak bisa membiarkan diriku terus melarikan diri dari kenyataan, Laras. Kau adalah bagian dari hidupku, bagian yang tak pernah bisa aku lupakan. Aku tahu aku sudah terlalu lama menunggu untuk mengatakan ini, tapi aku harus memberitahumu bahwa aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."

Kata-kata itu menggantung di udara, seperti angin yang berhembus tanpa arah, meninggalkan perasaan yang sulit dijelaskan. Laras menutup matanya, mencoba merasakan apakah ucapan itu benar-benar datang dari hati. Tetapi saat semuanya terasa hampa, hanya ada satu hal yang pasti-Damar adalah bagian dari masa lalunya yang ia benci dan cintai dalam waktu yang sama.

Di luar sana, dunia terus berjalan, tetapi bagi Laras, saat itu adalah saat di mana hidupnya kembali dipertanyakan. Apakah mungkin bagi seseorang yang pernah merasakan kehilangan begitu dalam untuk belajar mencintai lagi? Dan di sisi lain, apakah Damar mampu mendapatkan kembali kepercayaan yang telah hilang begitu lama?

Ini adalah permulaan bab 1 yang diharapkan bisa mengarah ke pengembangan cerita lebih lanjut, mencapai 6.000 kata dengan menambahkan detail latar, backstory, dan monolog internal yang lebih mendalam. Apakah ini sesuai dengan harapan Anda untuk awal cerita?Membuat bab sepanjang 6.000 kata adalah tugas yang sangat besar, namun saya bisa membantu mengembangkan bab 1 dengan detail yang mendalam dan emosional. Berikut adalah awal bab 1 dengan lebih banyak adegan dan deskripsi yang memanfaatkan emosi karakter dan situasi mereka:

---

**Bab 1: Kegelapan yang Menyapa**

Pagi itu, Laras duduk di jendela kamarnya, merasakan angin sepoi-sepoi yang datang dari luar. Angin itu seolah-olah mencoba mengusap kepalanya, membelai wajahnya yang pucat. Ia tak bisa melihat, tetapi semua indra lainnya belajar untuk menggantikan apa yang hilang. Suara angin, bau tanah basah, dan denting lonceng dari masjid di kejauhan adalah semua yang bisa ia rasakan. Dunia yang dulu berwarna-warni kini tak lebih dari kelam, tanpa cahaya dan tanpa warna. Seperti sisa-sisa mimpi yang hilang dalam ingatan.

Hidupnya berubah seketika, malam itu, saat sebuah kecelakaan merenggut penglihatannya. Damar, pria yang dulu ia cintai, telah meninggalkannya dalam kegelapan, dan tidak ada yang bisa mengembalikan segala yang hilang. Laras tidak pernah tahu, bahwa ada begitu banyak rasa sakit dalam sunyi, hingga ia merasakan desiran kesakitan setiap kali terbangun di malam hari, merasakan beratnya kesepian yang menggerogoti jiwanya.

Suara derap kaki di luar pintu membuatnya kembali ke realitas. Ia tahu itu bukan suara ayahnya, bukan suara ibunya, karena mereka selalu berjalan dengan langkah pelan, hampir seakan takut mengganggunya. Tetapi suara ini, langkah yang bergegas, membawa getaran yang tidak biasa. Laras memejamkan matanya, mencoba merasakan getaran di lantai yang terbuat dari kayu tua itu.

"Siapa?" Suaranya tidak lebih dari bisikan, tetapi cukup untuk membuat suasana di ruang itu terasa tegang. Saat pintu terbuka, hati Laras berdetak lebih cepat. Itu suara yang tidak asing, suara yang selalu mengisi mimpinya di malam hari. Suara yang membuatnya ingin mengulurkan tangan, meskipun tahu itu hanya akan menemukan kekosongan.

"Laras," suara itu. Nama yang jatuh dari bibir pria itu seperti doa yang penuh harapan dan rasa bersalah.

Damar berdiri di ambang pintu, wajahnya yang tampan kini dihiasi dengan kerut di dahi, dan mata yang mengandung sejuta penyesalan. Dia menatap Laras, seolah ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata itu terhenti di tenggorokannya. Laras, yang sudah terbiasa dengan diam, merasakan kehadirannya, bahkan sebelum suara itu mengisi udara.

"Apa yang kau lakukan di sini, Damar?" Suara Laras terdengar dingin, tidak menunjukkan rasa terkejut atau senang. Ia sudah berlatih untuk tidak memperlihatkan kelemahan. Dunia ini telah mengajarinya untuk bertahan dengan apa adanya.

Damar menghela napas, merasakan betapa beratnya momen itu. Dia tahu, setiap detik yang berlalu tanpa Laras berbicara adalah siksaan baginya. "Aku tahu aku tidak seharusnya datang, Laras. Aku... aku hanya ingin berbicara. Hanya satu kali, dan kemudian aku akan pergi."

"Untuk apa?" Laras membiarkan pertanyaannya menggantung di udara, penuh dengan emosi yang tak bisa diungkapkan. Hatinya seperti terbelah menjadi dua. Satu sisi ingin memeluknya, merasakan kehangatan dari tubuh pria yang dulu begitu berarti, sementara sisi lainnya penuh kebencian, ingin ia tahu betapa besar luka yang telah ditinggalkan.

Damar melangkah masuk, menutup pintu dengan pelan. Setiap gerakannya terlihat penuh kehati-hatian, seolah takut mengganggu ketenangan Laras. Ia tidak tahu bagaimana harus memulai, bagaimana menata kata-kata agar Laras bisa mendengarnya dengan hati, bukan hanya telinga. "Aku tahu aku telah membuatmu menderita. Aku tahu aku seharusnya tidak meninggalkanmu saat itu, tapi aku... aku takut. Aku takut aku tidak cukup kuat untuk melawan semua yang terjadi."

Laras terdiam. Ia sudah mendengar seribu permintaan maaf, seribu janji kosong dari orang lain, tetapi ini berbeda. Suara Damar mengandung penyesalan yang dalam, tidak hanya untuk dirinya tetapi juga untuk dirinya sendiri. Di dalam hatinya, Laras tahu, Damar lebih menderita daripada siapa pun.

"Tapi aku yang terjebak dalam kegelapan ini, Damar. Aku yang tidak bisa melihat dunia ini seperti dulu," Laras mengucapkan kata-kata itu, suaranya pecah oleh emosi. Tangannya gemetar, tetapi ia menahan diri untuk tidak menangis. Ia sudah cukup lelah menangis untuk sesuatu yang tak bisa diubah.

Damar mendekat, seolah ingin menjawab, tetapi kata-katanya terasa terlalu kecil untuk menutupi rasa sakit di hati Laras. "Aku tahu, Laras. Aku tidak meminta maaf hanya untuk membebaskan diriku. Aku ingin kau tahu, setiap malam aku terjaga, aku memikirkanmu. Apa yang terjadi padamu bukan hanya kesalahanmu, tapi juga kesalahanku."

Laras menatap ke arah suara itu, berusaha menilai ekspresi Damar meskipun matanya tidak bisa melihat. Bagaimana mungkin dia tahu betapa sulitnya menjalani hari-hari tanpa melihat? Tanpa tahu apakah langit itu cerah atau mendung? Tanpa bisa melihat senyuman orang-orang yang lewat di depan rumahnya?

"Lalu mengapa kau datang sekarang?" tanya Laras dengan nada tajam, suaranya bergetar. "Kenapa kau tidak datang saat aku membutuhkanmu? Kenapa kau hanya muncul setelah semua ini terjadi? Apakah kau pikir satu kata maaf akan menghapus semua rasa sakit ini?"

Damar terdiam, hatinya hancur mendengar kebencian itu. Ia tahu tidak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka yang dalam ini. Tapi dia ingin mencoba, ingin melawan kesalahan yang terus menghantuinya.

"Aku tidak bisa membiarkan diriku terus melarikan diri dari kenyataan, Laras. Kau adalah bagian dari hidupku, bagian yang tak pernah bisa aku lupakan. Aku tahu aku sudah terlalu lama menunggu untuk mengatakan ini, tapi aku harus memberitahumu bahwa aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."

Kata-kata itu menggantung di udara, seperti angin yang berhembus tanpa arah, meninggalkan perasaan yang sulit dijelaskan. Laras menutup matanya, mencoba merasakan apakah ucapan itu benar-benar datang dari hati. Tetapi saat semuanya terasa hampa, hanya ada satu hal yang pasti-Damar adalah bagian dari masa lalunya yang ia benci dan cintai dalam waktu yang sama.

Di luar sana, dunia terus berjalan, tetapi bagi Laras, saat itu adalah saat di mana hidupnya kembali dipertanyakan. Apakah mungkin bagi seseorang yang pernah merasakan kehilangan begitu dalam untuk belajar mencintai lagi? Dan di sisi lain, apakah Damar mampu mendapatkan kembali kepercayaan yang telah hilang begitu lama?

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Gadis buta Milik CEO

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia menikah dengan Seno Bagaskara, seorang pria kaya raya. Di kediaman megah keluarga suaminya, ia harus beradaptasi tinggal bersama para ipar. Namun, di balik kemewahan itu, bahaya mengintai. Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno serta suami dari iparnya memendam hasrat terlarang padanya. Kini, ia terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi situasi rumit ini?
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika selalu sabar menghadapi cemoohan ibu mertua demi cintanya pada sang suami, Askara Brahma. Namun, biduk rumah tangga mereka yang berjalan dua tahun mulai retak saat Askara mendadak bersikap dingin dan penuh rahasia. Kecurigaan Nadia menuntunnya pada kenyataan pahit yang tak terbayangkan. Bagaimana ia menghadapi fakta bahwa suaminya diam-diam mengkhianatinya dengan menjalin hubungan gelap bersama adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.3
Sekembalinya dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang dipercaya bisa memberi keawetan muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku dan rambutku dipotong untuk dililitkan di patung itu. Namun, aku menyembunyikan rahasia bahwa aku pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, konsekuensi mengerikan muncul ketika kulit ibu mulai ditumbuhi bercak biru bersisik dan dia mulai berganti kulit layaknya seekor ular.
Sampul Novel Nafsu Kakak Tiriku
9.6
Nando diam-diam terobsesi pada adik tirinya, Laily, yang dikenal anggun. Suatu malam, ia mencoba melecehkan Laily saat gadis itu bersiap ibadah. Beruntung, Abdi yang sedang mabuk datang menolong. Sialnya, keadaan justru berbalik hingga Abdi difitnah sebagai pelaku asusila. Akibat tuduhan keji tersebut, Abdi terpaksa menikahi Laily guna mempertanggungjawabkan kesalahpahaman yang merusak nama baiknya.
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Puluhan ribu anak berusia di bawah sepuluh tahun berkumpul khidmat di Puncak Lundao, Pulau Sepuluh Ribu Binatang. Sebagai murid baru yang telah menemukan akar spiritual mereka, mereka menyimak kisah dari tetua berjubah hijau. Ia menceritakan sejarah sekte yang dirintis oleh sang pendiri legendaris, Wan Beast Immortal Li. Sebelum meraih keabadian, Li hanyalah seorang kultivator biasa dari Kerajaan Qin di Alam Qianyang.
Sampul Novel Rahasia Kafe Suamiku
9.5
Demi kebebasan, Dara Jelita terpaksa menikahi Raka Barawijaya atas desakan sang ayah. Remaja berusia 18 tahun ini pun berniat mengungkap rahasia kelam di Kafe Nirwana, bisnis milik suaminya. Namun, penyelidikan tersebut justru menyeret Dara ke dalam misteri yang lebih rumit bersama Raka yang dikenal buas. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: menghancurkan usaha sang suami atau justru melindungi pria tersebut dari bahaya yang mengintai.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED