Bab 1

Pagi yang cerah dan tembusan cahaya matahari tepat di jendela kamar milik seorang gadis yang berhasil membangunka seroang gadis yang masih betah dalam mimpinya itu.

Ia adalah Amelia Abraham Leonard. Seorang gadis yang biasa di panggil oleh Amel itu memiliki umur sekitaran 25 tahun dan memiliki postur tubuh tinggi, kuning langsat, dengan alis tebal.

Pagi ini Amel sedang terburu buru. Pasalnya hari ini adalah hari dimana ia akan bekerja sebagai sekretaris di perusahaan terbesar yang berada di kotanya.

Dan hari ini sudah menunjukkan pukul 8.30 yang artinya ia sudah sangat terlambat untuk pertama kalinya. Dengan langkah tergesa-gesa ia langsung berjalan menuruni satu persatu tangga yang berada di rumahnya.

Terpancar senyum indah dari seorang wanita paruhbaya yang sedang sibuk untuk mempersiapkan sarapan.

Tanpa pikir panjang, Amel langsung melangkahkan kakinya menuju tepat dimana kearah dimana seorang wanita yang sangat berharga bagi dirnya itu.

“Mama! Amel berangkat ya!” pamit Amel kemudian mencium pipi kanan dan pipi kiri mamanya.

“Kamu nggak sarapan lagi?” tanya Luna-mama dari Amel.

Amel dengan sigap menggeleng dengan mengecek beberapa barang bawaannya. “Enggak deh ma,” ujar Amel.

“Hati-hati ya!”

Amel mengangguk mantap kemudian menyalami tangan mamanya.

***

Amel menginjak rem mobil miliknya tepat di depan sebuah perusahan yang tugasnya adalah menciptakan dan menerbitkan buku dari penulis yang mempunyai beberapa bakat.

Dengan langkah tergesa-gesa ia masuk ke dalam perusahaan tersebut karena ia tau ia sudah sangat terlambat untuk masuk kedalam kantor apalagi ia adalah seorang pegawai yang bisa dibilang sangat baru.

Amel menghela nafasnya secara kasar kemudian ia langsung mengetuk pintu ruangan dari seorang direktur yang tak lain adalah seorang yang memiliki perusahaan ini.

“Tok!”

“Tok!”

“Tok!”

Suara ketukana pintu yang berasal dari jari-jemari Amel.

“Masuk!” terdengar sebuah suara yang berasal dari dalam ruangan.

Tanpa pikir panjang Amel langsung melangkahkan kakinya menuju masuk kedalam ruangan dari direktur utama yang akan bekerja sama dengan dirinya selama ia bekerja di perusahaan besar yang ternama ini.

“Maaf Pak, Saya telat,” ujar Amel merasa tak enak kepada seorang pria yang sedang duduk di bangku kebesarannya tanpa ada niatan sama sekali untuk melihat Amel.

Mendengar ucapan Amel, Pria tersebut langsung membalikan badan dan melihat tepat ke arah dimana Amel sedang berdiri.

Betapa terkejutnya Amel saat melihat seorang pria yang berbalik badan tersebut adalah seorang pria yang tak asing bagi Amel.

Ia adalah Alexander Gernion Abraham seorang laki-laki yang bisa dipanggil oleh Alex itu merupakan seorang yang dulunya pernah masuk kedalam hati Amel dan mengisi hari-hari Amel.

Alex tak jauh berbeda dengan Amel. Melihat seorang wanita yang dulunya pernah menjadi bagian dari hidupnya itu dan kini takdir mempertemukan lagi.

Alex menghela nafasnya kemudian ia menatap wajah Amel dengan serius menatap wajah seorang wanita yang dulunya pernah menjadi bagian hidup dari dirinya.

“Lo kok bisa disini?” tanya Alex dengan serius.

“Kan gue yang akan menjadi sekretris penggati lama lo sementarar,” ujar Amel yang masih menampakan tampang yang masih terlihat bingung dengan semua scenario yang di ciptakan oleh tuhan untuk dirinya itu.

Alex menggeleng cepat kemudian ia langsung berdiri dari sebuah bangku kebanggaanya. Ia berdiri tepat ke arah dimana Amel berdiri.

“Nanti lo temui saya di kantin yang berada di perusahaan ini!” pesan Alex kemudian pergi dari hadapan Amel.

Setelah mendengar ucapan Alex, Amel melihat punggung Alex yang semakin lama semakin menghilang dari hadapannya.

Ia masih tak menyangka dengan semua kejadian yang menimpa ia barusan. Lagi-lagi ia bertemu dengan seseorang yang sangat ingin ia lupakan. Tapi kali ini berbeda skenario yang diberikan oleh tuhan berbeda dengan apa yang diharapkan. Kali ini ia dipertemukan dengan seorang mantan yang bisa dibilang adalah mantan terindah nya.

berperan sebagai seorang pegawai yang akan bekerja sama dengan dirinya itu.

“Lo?” Tanya Amel dan Alex secara bersamaan.

“Lo kok bisa disini?” terdengar suara dari keduanya secara bersamaan.

***

Saat ini Amel dan Alex sedang berada di sebuah meja yang berada di kantin perusahaan. Kantin tersebut terlihat sangat sepi karena semua pegawai pada sibuk dengan urusan pekerjaannya masing-masing.

Situasi diantara mereka hening diam dan mencekam. Tak ada satupun dari mereka yang memilih untuk membuka mulut untuk mengakhiri situasi yang sangat mencekam ini.

“Hmm.” Alex berdehem seraya minum coffecino kesukaanya yang di pesan oleh dirinya tadi.

Amel menatap Alex dengan tatapan tak percaya. Ia kira setelah Alex berdehem akana membuka suara. Eh tak ternyata pikiranya salah tidak ada sedikitpun yang keluar dari mulut Alex untuk membuka suara dari mulutnya.

“Ngomong kek,” batin Amel yang sudah muak dengan semua keadaan.

Kemudian Amel langsung menyedot es cappucino nya seraya menggigit sedotan dari minuman nya karena jujur ia sangat tidak suka dengan keadaan yang saat ini sedang melanda dirinya itu.

“Lo gimana kabar lo?” tanya Alex yang memilih untuk membuka mulut.

Amel melepaskan gigitan sedotan nya kemudian menatap wajah Alex penuh Arti.

“Seperti yang lo lihat sekarang,” jawab Amel.

Alex menggauk emngiyakan omongn Amel yang memberik seoerti pengertian bahawa ia sngata mengert dengan ucapan Amel.

Situasi kembali hening. Entah mengapa mereka merasa baik satu maupun sama yang lain situasi ini terasa begitu canggung bagi mereka mungkin karena akibat mereka sudah lama tidak bertemu.

“Canggung kan?” tanya Alex yang sedikit diiringi dengan sedikit kekehan.

Sedangkan Amel, ia lebih memilih untuk menampilkan deretan giginya kemudian ia sedikit terkekeh dengan ucapan yang barusan di ucap oleh seorang laki-laki yang berada di hadapanya itu.

“Iya.” Jawab Amel singkat, jelas dan padat.

Alex terlihat sedikit mengangguk kemudian langsung meminum minuman nya. Tanpa Alex sadari bibirnya celemotan setelah meminum minuman cappucino dan tentu saja mengundang gelak tawa Amel.

“Lo itu masih sama ya sama-sama celemotan,” Ujar Amel seraya menghapus sisa noda yang berada di bibir Alex. Dan tentu saja membuat mata mereka bertatap satu sama lain tentu saja membuat jantung satu sama lain menjadi berdetak tak menentu.

Tatapan mereka tak jelang beberapa lama, ya bisa dibilang hanya bisa dihitung beberapa detik saja. Karena satu sama lain langsung mengalihkan pandanganya.

Amel langsung menjauhkan tangannya tepat di bibir Alex. Rasanya Amel ingin sekali mengutuk dirinya yang tanpa sadar menyentuh bibir Alex.

“Maaf. Reflesk,” Gumam Amel dengan canggung.

Alex menggaguk canggung di depan Amel.

“Iya gak papa,” gumam Alex dengan nada yang sedikit canggung.

“Gue pamit ya,” ujar Alex seraya megambil ancnag-amcang berdiri.

Amel sedikit tersenyum kepada Alex.

“Iya.”

Alex langsung pergi dari hadapan Amel. Namun tiba-tiba dia langsung berbalik badan dan langsung mendatangi kembali tepat dimana Amel sedang duduk.

“Oh iya. Anggap aja kita tidak saling mengenal dan tidak pernah terjadi apa apa!” u

Amel mengangguk mengiyakan omongan Alex. “Iya.”

Bab 2

***

Saat ini Amel dan Alex sedang berada di sebuah restoran yang bernuansa langit dan terlihat sangat sepi. jam sekarang sudah menunjukan waktunya untuk makan siang, tapi tetap saja Restoran tersebut masih sangat sepi. Sama persisi ketika beberapa tahun silam.

Dari 8 tahun yang lalu mereka berdua memang sering mengunjungi restoran tersebut. Ya, walaupun terlihat sangat sepi. Tapi di sebuah tempat inilah menjadi saksi bisu dimana mereka berdua bisa bertemu dan menjadi bagian dari hidup merekaa berdua.

“Kita kesini mau ketemu sama klien?” tanya Amel dengan menampakkan wajah bingung nya. Jujur saja ia sedari tadi sangat bingung dengan kelakuan Alex yang seenak jidatnya menyeret dirinya dan membawa dirinya untuk pergi ke tempat ini.

Bukanya menjawab pertanyaan dari Amel, Alex justru langsung pergi tepat ke arah diamana ia akan memesan beberapa menu dan minuman yang tak pernah ia makan dan Amel.

Amel menatap punggung Alex dengan tatapan yang sangat kesal. Dari dulu Alex memang tak berubah dari beberapa tahun silam, ia tetap sama dengan seorang Alex yang dikenal oleh Amel bebrapa tahun silam. Seorang Alex yang tak bisa ditebak dengan segala perubahan sifatnya yang terkadang mengesalkan tapi terkadang sangat care dengan kehidupan Amel.

Tak butuh waktu lama, kini Alex sudah datang dengan membawakan dua buah es krim rasa coklat dan vanila kesusakan Amel.

Tanpa pikir panjang Alex langsung menyodorkan satu buah mangkok es krim kepada Amel.

“Ini buat lo. Rasa vanilla kesukaan lo,” Ujar Alex dengan menampakan senyuman khas miliknya.

Amel menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh seorang pemuda yang sedang memberikannya sebuah es krim. Ia sungguh tak menyangka bahwa seorang pria yang sedang bersama dengan nya iatu masih mengingat makanan kesukaan dirinya.

“Ternyata masih ingat,” batin Amel.

“Lo, nggak mau sama es krimnya? Ya udah gue kasih sama yang lain aja.” Suara dari Alex yang berhasil membangunkan Amel dari lamunannya.

Tanpa pikir panjang Amel langsung mengambil es krim kesukaan nya tepat di tangan seorang pemuda yang tak lain adalah Alex.

Hening, itulah yang terjadi. Situasi kembali hening karena mereka semua sibuk dengan acara makan es krimnya masing-masing.

Hingga pada alhirnya sebuah kehehingan pun berakhir dengan seuara dehemana Alex.

“Lo masih ingat tempat ini kan?” tanya Alex tiba-tiba.

Amel menyuapkan satu sendok es krim kesukaanya ke dalam mulutnya.

“Ingat. Tempat ini kan bersejarah banget bagi kita,” jawab Amel kemudian melanjutkan aktivitas makanya.

“Yups. Tempat ini adalah sebuah tempat yang sangat bersejarah bagi kita. Tempat pertama kali gue menemukan lo ditempat ini.”

Ah sial! Amel hampir saja mati tersedak dari es krim yang sedang dimakannya akibat mendengar ucapan dari seorang pria yang sedang berhadapan dengan dirinya itu.

“Tunggu. Pertama kali? Bukanya kita pertama kali ketemu sewaktu lo pindah di depan rumah gue dan jadi tetangga gue?”

Alex menggangguk.

"Dulu..."

FLASHBACK

Seorang gadis sedang sedang duduk di sebuah kafe yang sangat sepi dengan bernuansa laut dan malam hari. Ia duduk dengan sebuah kue ulang tahun yang tepat berada di depan matanya.

Ia adalah Amel. Seorang gadi introvert yang tidak percaya dengan siapapun. Seorang gadis yang merasa dunia ini tidak ada yang abadi untuk dirinya. karena ia percaya pada akhirnya semua akan meninggalkan dirinya seorang diri.

Ini adalah hari pertama dimana Amel keluar rumah selain ia berangkat ke sekolah. Itupun karena tepat dimana hari ulang tahunya yang ke 17 tahun.

Tak ada satupun dari orang yang dia kenal ataupun keluarganya yang mengigat ulang tahunya. Kini hanya ada sebuah tetesan air mata yang menjadi saksi atas bertambah usianya yang ke 17 tahun.

Jari-jemarinya langsung mencari seuah korek yang akan ia gunakan untuk memasang 2 buah ilin yang berbentuk angka.

Mulutnya mulai menyanyikan sebuah lagu sebagai ucapan hari ulang tahunya.

Happy birthday to me

Happy birthday to me

Happy birthday, happy birthday,

Happy Birthday to me

Setelah menyanyikan sebuah lagu, Amel langsung meniup lilin dengan tetesan air mata yang turun dari pelupuk matanya.

Kali ini pertama kalinya untuk dia menangis. Menangis bukan karena apa-apa tapi Karena ini adalah hari ulang tahunya yang ke tujuh belas dengan semua ini ia sungguh tak menyangka bahwa ini adalah hari yang bersejarah bagi dirinya.

Tanpa Amel dari seorang pria yang seumuran dengan dirinya sedang memperhatikan dirinya dari kejauhan. Ia adalah Alex.

Menjadi seorang introvert bukanlah sebuah kehendak semua manusia. Termasuk Amel. Tapi keadaan lah yang memaksakan nya untuk menjadi seorang introvert.

“Plak!”

“Plak!”

“Brang!”

Suara tamparan, tangisan diiringi dengan suara pecahan aset rumah sudah terbiasa terdengar di telinga seorang gadis.

Ia adalah seorang gadis yang bisa di bilang dengan gadis broken home. Setiap hari hanya tangis dan pecahan assert rumahnya saja yang terdengar di telinganya. Dan biasanya itu semua terjadi pada saat mamanya pulang di tengah malam dengan kondisi yang berpengaruh minuman keras.

Ia sama sekali gak ada niatan untuk melerai ataupun untuk menghentikan sebuah perkelahian tersebut. Karena jujur ia sangat bingung dengan kondisi semua ini. Ia hanya bisa menangis di pojokan kamar nya dengan menutup kedua telinganya.

Takut? Cemas? Begitulah yang terjadi dengan Amel. Ia sungguh tak tau kenapa bisa hidupnya seperti ini. Hingga sebuah suara yang terdengar begitu jelas ditelinga Amel yang berasal dari suara seorang wanita yang tak asing bagi Amel.

“Aku capek dengan semua ujian hidup! Aku seperti ini cuman mau cari kesenangan? Memang salah? Salah!” terdengar suara wanita yang tak asing bagi Amel dengan pengaruh minuman keras.

“Tapi kenapa kamu berkhianat? Kamu nggak kasihan dengan Amel? Enggak!”

“Aku nggak butuh anak itu! Anak dari kamu!”

“Yang kamu butuhkan hanya laki-laki itu kan? Iya!”

“Kalau iya emang kenapa!”

“Plak!” terdengar suara yang berasal dari tangan seorang pria yang lain adalah tangan dari ayah Amel.

“Cukup! Cukup! Aku nggak mau sama kamu! Mulai sekarang kita pisah! Dan aku akan pergi dari rumah ini!”

Mendengar ucapan dari mamanya. Amel langsung keluar dari kamarnay dan mememohon kepada sang mama untuk tidak pergi meninggalkan dirinya seorang diri.

“Mama…mama… jangan pergi ninggalin Amel… Hiks…Hiks.” Isak tangisan Amel yang mengiringi permohonan dirinya.

Seorang wanita yang terlihat cukup muda tersebut langsung memegang tangan Amel memberi pengertian.

“Mama… nggak… bisa sayang… mama nggak bisa Bethan sama orang yang seperti papa kamu. Papa kamu tempramental dan mama nggak sanggup untuk menahan semua itu… hiks… hiks..”

Seorang laki-laki yang berperan sebagai papa Amel langsung menarik tangan Amel dengan kasar.

“Gak usah kamu hiraukan dia lagi! dia sudah mendapatkan seorang pengganti papa!”

Amel menggeleng cepat. “Nggak mungkin pa! mama nggak mungkin seperti itu… hiks..hiks…”

Terlihat jelas di depan mata Amel, seorang wanita yang sangat berharga bagi dirinya pergi dari rumah dengan membawa beberapa barang yang mungkin adalah sebuah barang bawaan yang berupa koper.

Amel mencoba untuk menahan sang mama agar tidak pergi. Namun sayang sekuat apapun ia mencegah ia tak akan bisa untuk mencegah sang mama karena tangannya yang sengaja ditahan oleh papahnya.

tanya Amel yang masih belum mengerti dengan apa yang diucapkan oleh seorang pria yang berada di hadapnya.

***

Bab 3

Seorang laki-laki yang berperan sebagai papa Amel langsung menarik tangan Amel dengan kasar.

“Gak usah kamu hiraukan dia lagi! dia sudah mendapatkan seorang pengganti papa!”

Amel menggeleng cepat. “Nggak mungkin pa! mama nggak mungkin seperti itu… hiks..hiks…”

Terlihat jelas di depan mata Amel, seorang wanita yang sangat berharga bagi dirinya pergi dari rumah dengan membawa beberapa barang yang mungkin adalah sebuah barang bawaan yang berupa koper.

Amel mencoba untuk menahan sang mama agar tidak pergi. Namun sayang sekuat apapun ia mencegah ia tak akan bisa untuk mencegah sang mama karena tangannya yang sengaja ditahan oleh papahnya.

“Mah…Mah…Hiks…Hiks…jangan pergi…hiks…”

“Pah… tahan mamah pah! Hiks…hiks…hiks”

Bukanya menahan papah Amel malah menarik tangaan Amel menuju ke luar untuk melihat sang mamah yang pergi.

“Buka mata kamu! Kamu lihat! Kamu lihat kan mamah kamu itu nggak pergi sendirian. Pacarnya sudah ada nungguin! Jadi jangan kamu buang-buang air mata berharga kamu hanya untuk perempuan seperti dia!”

Deg… jantung Amel seakan berhenti berdetak dan ia merasa seakan dunia miliknya akan cepat berakhir. Setelah semua apa yang ia lihat di depan matanya yang terjadi.

Seorang wanita yang sudah melahirkan dirinya ke dunia ini pergi dengan seorang pria yang tak dikenal oleh Amel.

“Dan kamu tahu itu adalah mantan pacar dari mama kamu! Sadar Amel! Hapus air mata kamu! Kita nggak butuh seorang wanita yang seperti itu…”

Amel menghapus jejak air matanya. Ia langsung berdiri dari tempat duduknya kemudian sigap memeluk tubuh seorang pria yang tak lain adalah papanya sendiri.

“Sekarang hanya ada kamu dan papah di rumah ini. Jadi kita harus saling menguatkan….” Terdengar yang begitu jelas bergetar seperti menahan sebuah isakan tangis.

Amel hanya diam dan menangis tepat di pelukan sang papah. Ia hanya bisa melakukan seperti itu. malam ini tepat di hari ulang tahun ketujuh belas tahun ia kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi dirinya.

Sang papa langsung melepas dekapaanaya dari Amel.

“Sekarang kamu masuk ke kamar! Lupakan apa yang telah terjadi hari ini!”

Amel mengangguk kemudian ia langsung menuju masuk kedalam kamarnya.

***

Hari ini adalah hari tepat diamana Amel akan memasuki sekolaha tepat di kelas 12. Yang artinya di hari ini ia akan ,menjadi seorang kakak kelas untuk adik-adik kelasnya.

Dengan langkah yang tergesa-gesa Amel langsung turun dari tangga untuk pergi berangkat dengan berusaha mobil yang tak lain adalah sebuah mobil yang mungkin adalah pemberian terakhir dari mamanya.

Satu perhatiana yanag menita aperhaatainaya yaitu meliaat sanag papah sedang berada di meja makan.

“Kamu nggak sarapan Mel?’ tanya sang papah dengan menggunakan sebuah roti oles kesukaannya.

Amel langsung pergi dari hadapan sang papah dengan mata yang sembab akibat kejadian semalam yang membuat dirinya menangis dengan sesegukan.

“Enggak deh pah. Amel buru-buru,” ujar Amel dengan memeriksa beberapa barang yang akan ia bawa.

“Bukanya masih pagi. Sarapan aja dulu,” ujar sang papahnya.

“Amel berangkat dulu yap ah. Assalamualaikum,” ujar Amel seraya mencoba untuk menyalami tangan papahnya dengan lembut.

“Tunggu!” teriak sang papah yang berhasil membuat Amel membalikan badan menghadap sang papah.

“Kenapa pah?” tanya Amel degana menampakana tanpang heranya.

“Kamu naik apa kesana?” tanya sang papah dengan menampakan wajah tampang seriusnya.

“Pakai mobil yang diberikan mama,” jawab Amel dengan polos.

“Jangan pakai mobil itu! pakai mobil apa aja!”

Amel menatap wajah sang papah dengan tatapan mengintimidasi jujur saja ia sungguh tak mengerti maksud dar seorang pria yang sedang berbicara dengan dirinya itu.

“Emang kenapa pah?” tanya Amel yang belum mnegrti maksud dan taujuan dari papahnya.

Terlihat seorang pria yang tidak muda tersebut langsung berdiam dan menghampiri Amel. Kemudian ia langsung menarik nafasnya secara kasar dengan menepuk pundak Amel penuh arti.

“Mobil ini ingin papah jual Karena papah tak ingin semua barang peninggalan mamaha kamu masih berada dirumah ini. karena jujur melihat itu hanya bisa meninggalkan sisa luka di hati papah. Ini keputusan papah dan papah harap kamu mengerti dengan semua ini,” ujar sang pria tersebut memberikan sebuah pengertian dengan Amel.

Amel menatap wajah sang papah dengan penuh Arti. Jujur saja ia sangat tidak tega dengan sebuah ekspresi yang tertera begitu jelas diraut seorang wanita yang sedang berada di hadapanya itu.

Ia mencoba menghembuskan nafasnya secara kasar. jujur saja ia sangat mengerti dengan kondisi papanya yang mungkin

“Sekarang papah minta kamu untuk memberikan kunci mobilnya ke papah,” tambah sang papah Amel.

Amel mengangguk mengerti kemudian ia langsung membuka ransel nya dan langsung memberikan sebuah benda kecil yang tak lain aldaha kunci mobil kepada sang papah.

“Nih pah,” ujar Amel dengan berat hati. Jujur sebenarnya ia sungguh tak ingin memberikan mobil tersebut kepada sang papanya karena itulah pemberian terakhir yang diberikan mamahanay kepada dirinya sebelum semua akehiduaan berubah total.

Sedangkan papah Amel, ia langsung mengambil kunci tersebut seraya mengelus pucuk kepala Amel dengan penuh kasih sayang.

“Kamu nggak papa kan sayang? Papah janji akan menggi mobil kamu dengan mobil yang canggih. Dan untuk sementara ini kamu pakai mobil papah,” jelas Rendi-papah Amel.

Amel mengaguk kemudian ia langsung memberikan sebuaha sneyumana kepada paphanay dengan penuh Arti. Sebuah senyuman yang mungkin orang mengira adlaah senyumana kebahagia tapi itu adlaah sebuaha senyumana yang mungkin adalah sbeuah kekeceaaan yang menggabrakan diirnya.

Itulah salah satu kelebihan yang miliki oleh Amel. Ia pandai menyembunyikan kesedihannya dan kekecewaannya di depan orang banyak bahkan orang tuanya sendiri. Sehingga banyak orang yang mengira diirnya baik-baik saja. Padahal di dalam hatinya hanya ia dan tuhan lah yang tau tentang semua itu.

“Amel naik angkot aja deh pa,” ujar Amel tak enak karena ia tahu jika ia menggunakan mobil milik papanya maka papanya tidak punya kendaraan lain. Sedangkana mobil pemeroan mamanya tak mungkin akan digukana oleh papahnya. Janganakana mengukananya melihat sebuaha barang peninggaan dar mamahanya saja sudha tak ingin buktinay sekarang aja langung dibuang oleh papahnya.

“Kenapa? kan bis apakaia mobil papah.”

Amel menggeleng. “Nanti kalau Amel pakai mobil papah, nanti papah berangkat kerja pakai apa?”

Terukir sebuah senyuman yang begitu tulus dari seorang pria yang tak lain adalah Rendi papah amel sendiri. “Kalau masalah papah kamu enggak usah khawatir. Papah bisa kok naik angkutan umum.”

“Biar Amel aja yang pergi naik angkutan umum. Papah nggak usah antar Amel.Kan papah hari ini ada meeting.”

“Enggak! Ya udah kalau gitu papaha natar aja kamu ya,” ujar Rendi memberikan saran.

“Nggak usah pah! Sekolah Amel jauh banget dari kantor papah. Nanti papah mutar balik lagi.”

“Papah nggak terima penolakan! Pokoknya kamu tunggu disini papah mau mengambil kunci mobil dulu ya,”

saat ini sedang mencoba untuk melupakan seorang wanita yang dulunya sangat ,menjadi bagian dari hidup mereka.

“Sekarang papah minta kamu untuk memberikan kunci mobilnya ke papah,” tambah sang papah Amel.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

TAKDIR

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED