Beberapa menit yang lalu Arsen baru saja melepas kangen dengan istrinya yang paling cantik, manis dan manja yakni bernama Aylona Shanum.
Ya meskipun hanya lewat ponsel tak apalah yang penting sedikit banyak ia berharap rasa rindu itu bisa terobati. Meski dalam kenyataannya rasa rindu itu tidak berkurang namun malah semakin kian bertambah saja.
Sang istri mengaku sangat merindu, ia pun sebenarnya sama. Aylona begitu antusias ketika sang suami memberi kabar bahwa seminggu lagi sang suami akan menemuinya pulang.
Hari ini adalah jadwal keberangkatan Arsen pulang, rasanya ia sudah tak sabar lagi ingin bertemu secepatnya dengan sang istri. Membayangkan bagaimana wajah sang istri nanti ketika bertemu saja sudah membuatnya senyum-senyum sendiri.
Sebelum Arsen benar-benar naik pesawat Aylona mengatakan tentang mimpi serta firasat buruk tentang dirinya.
Pria itu mana peduli, Arsen adalah tipe pria yang tak percaya pada hal-hal demikian apalagi itu sekedar mimpi yang artinya hanya bunga tidur bukan?
Namun saat ia sudah berada di dalam pesawat, kita lihat apa yang terjadi.
Awalnya semua berjalan seperti biasa. Namun beberapa saat kemudian suasana berubah menjadi riuh entah karena hal apa, Arsen tak begitu mempedulikannya.
Sejenak ia melepaskan headset yang terpasang di telinganya, namun tak lama setelah itu ia pakai kembali.
Pria muda yang saat ini tengah berbusana setelan jas berwarna biru tua itu terlalu menikmati alunan musik favorit yang sedang ia dengarkan sehingga menganggap kericuhan tadi bukan suatu hal yang penting.
Namun tiba-tiba saja,
Bom!!
Terdengar suara ledakan yang maha dahsyat sampai membuat telinga Arsen berdenging, matanya pun refleks terpejam karena saking terkejutnya.
Sebelum kegelapan menelan dia secara sempurna, samar-samar ingatan demi ingatan terindah dengan istrinya Aylona berputar acak di otaknya.
Ingin sekali ia meraih ponsel lalu menelpon Aylona sekarang juga tapi apa daya tubuhnya saat ini tak mampu digerakkan lebih tepatnya seperti mati rasa.
Entah di mana ia letakkan benda pipih yang selalu ada di genggamannya itu, suasana yang sebelumnya terdengar riuh oleh jeritan orang-orang mendadak sepi gelap dan tiada cahaya.
****
Hah ... hah ... hah.
Napas seorang pria muda terengah-engah. 'Astaga mimpi apaan aku tadi,' monolognya.
Arsen kembali teringat pada mimpinya tadi, bukannya ia sedang di dalam pesawat lalu pesawat itu kecelakaan dan ia ikut hancur di dalamnya.
'Kupikir aku sudah mat- aish syukurlah hanya mimpi,' monolog Arsen kembali sambil mengusap peluh yang mengucur deras di pelipisnya.
Telapak tangannya masih setia mengusap-usap bagian tubuh lebih tepatnya dada yang masih saja kembang kempis karena mimpi buruknya itu.
Ia jadi teringat dengan istrinya. "Lho kok aku sudah ada di depan rumah ya?"
Mendadak ia menjadi amnesia, ia lupa mendarat pukul berapa, jam tangannya juga sepertinya tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan terus ia ke sini tadi naik apa?
"Ah aku tak peduli lagi, yang terpenting aku harus masuk rumah dulu, istriku pasti khawatir karena aku sudah telat berapa jam saja ini," ucapnya pada diri sendiri.
"Kok aneh sih, jamku apa baterainya habis apa rusak ya ini?"
Lagi-lagi Arsen bingung, ia jadi orang yang linglung.
"Oh astaga apa yang sudah terjadi padaku?" batinnya frustrasi.
Dari pada semakin bingung Arsen memutuskan untuk memencet dengan cepat bel rumahnya, tak lama pintu kokoh itu terbuka menampilkan Aylona dengan wajah kaget seperti melihat hantu saja.
"Arsen?" Suaranya nyaris seperti berbisik.
Terimakasih sudah mampir baca, koment dan likeny please 🤧🙏🙏😊
Lagi-lagi Arsen bingung, ia jadi orang yang linglung.
"Oh astaga apa yang sudah terjadi padaku?" batinnya frustrasi.
Dari pada semakin bingung Arsen memutuskan untuk memencet dengan cepat bel rumahnya, tak lama pintu kokoh itu terbuka menampilkan Aylona dengan wajah kaget seperti melihat hantu saja.
"Arsen?" Suaranya nyaris seperti berbisik.
Namun semua tak berlangsung lama karena Aylona kembali pada mode normalnya, wanita cantik itu memberikan pertanyaan panjang untuk Arsen yang tiada ubahnya seperti kereta.
Berhubungan pria tampan itu sudah sangat lelah untuk sekedar mendengarkan atau menjawab seribu pertanyaan dari sang istri, ia langsung membungkam saja bibir tipis berwarna pink itu dengan kecupan maut andalannya.
Setelah melakukan aksinya tadi Arsen dengan santai melenggang menuju kamar, masih ia dengar suara dari sang istri yang masih mengomel atas kelakuan ajaibnya tadi, tanpa sadar si tampan tersenyum meski samar.
Sesampainya di kamar pribadi miliknya dengan Aylona, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Rasanya sungguh penat, entah apa yang sudah terjadi padanya sampai ia merasa begitu linglung hari ini.
Seusai mandi Arsen melihat istrinya yang cantik dan tengah hamil itu sudah tertidur. Perlahan ia mendekat ikut merebahkan diri di sisi lain tepatnya di belakang tubuh Aylona.
Sebenarnya ia takut untuk tidur, takut mimpinya datang lagi.
'Sungguh menakutkan,' batinnya sambil bergidik ngeri.
Si tampan mencoba melingkarkan tangan kekarnya pada perut Aylona yang sudah membuncit, ah sungguh tak tega melihatnya membawa beban seperti ini setiap hari.
Namun lagi-lagi ia dibuat bingung dengan sikap Aylona yang terperanjat karena pelukannya itu.
Arsen sebenarnya ingin berbagi cerita tentang linglungnya ia hari ini pada Aylona. Namun, ia urungkan niatnya karena ia takut malah semakin membebani pikiran si cantik.
Flashback
"Bae ... kamu kapan pulangnya sih! Aku dan calon baby kita sudah kangen nih," ucap manja Aylona wanita cantik bertubuh mungil, istri kesayangan Arsen.
Arsen Abraham atau yang biasa akrab disapa Arsen adalah pengusaha muda yang sukses meski usianya baru menginjak dua puluh lima tahun.
"Sabar ya, semingguan lagi aku sudah pulang kok dan kita akan segera ketemu," ucap pria berparas tampan, berpostur tubuh tidak begitu tinggi tapi tidak pendek juga di seberang telepon.
Aylona menetap di Jakarta, sedangkan Arsen beberapa minggu ini berada di Batam. Dua pasangan muda ini sudah dua bulan menjalani hubungan jarak jauh karena pekerjaan sang suamilah yang menuntut mereka mau tak mau harus LDR-an.
Waktu bergulir dengan begitu cepat, hari yang ditunggu-tunggu pun akan segera tiba.
"Kamu jadi naik pesawat, Bae?" tanya wanita cantik dan manis secara bersamaan itu pada suaminya.
"Iya ... kenapa, hm?" jawab singkat Arsen dengan suara khasnya yang selalu terdengar lembut di pendengaran Aylona.
"Ya, enggak apa-apa. Kenapa enggak naik kereta saja sih kayak biasanya, aku hanya sedikit khawatir," ungkap si cantik jujur akan hal yang mengganjal pada hatinya saat ini.
"Kalau naik pesawat kan jauh lebih cepat nyampenya Bae, lagi pula aku sudah enggak tahan ingin cepat ketemu kamu sama si utun," jawab Arsen dengan segala kerinduan yang membuncah dalam hatinya.
"Hm aku juga ingin cepat ketemu kamu tapi a-aku ... beberapa hari ini mimpiin buruk tentangmu Sen, aku jadi takut kalau jadi beneran," ucap terbata Aylona seraya memainkan ujung kedua telunjuknya seolah si lawan bicara bisa melihat tingkahnya saat ini.
Umur Aylona ini setahun lebih tua dari Arsen jadi terkadang dia panggilnya pakai nama saja.
"Eits .... Ibu hamil enggak boleh berpikir macam-macam yang bikin stres loh. Itu hanya bunga tidur Bae, yang penting kamu doain yang baik- buat aku, ok!"
"Sepertinya aku akan segera terbang. Eh bukan maksudku akan naik pesawat dulu nih, Sayang."
"Tunggu sebentar, Sen," interupsi dari sang istri.
"Ada apa, hm?" jawab pria yang sesekali memandangi jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangannya.
Tunggu sebentar Sen," interupsi dari sang istri.
"Ada apa, hm?" jawab pria yang sesekali memandangi jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangannya.
"Aku harap kita bakal terus sama-sama. Temenin aku tidur lalu besar in anak kita bareng, please stay with me?" ucap memohon wanita yang tengah hamil tujuh bulan itu.
"Yes Baby, aku janji. Apa sih yang enggak buat istri manisku ini, kamu harus tahu aku akan selalu bucinin kamu selamanya. Ya sudah ya ... bay, see you."
Arsen kemudian memutus sambungan teleponnya yang sesaat tadi terhubung dengan sang istri.
Lima jam meleset dari perkiraan Aylona, harusnya Arsen sudah sampai di jam tujuh sore tadi namun sudah hampir tengah malam ini tiada kabar darinya, membuat khawatir ia saja.
Tepat pukul dua belas malam bel pintu berbunyi nyaring, nyaris membuat wanita ini jantungan karena berbunyi secara tiba-tiba.
"Ah itu pasti si kunyuk Arsen, bikin orang khawatir saja huh!" gerutu si cantik sambil masih mengusap dadanya yang masih berdetak kencang.
"Iya Arsen, tunggu in bentar!" teriak Aylona yang berjalan dengan tertatih karena perutnya yang sudah semakin membesar.
"Kok tengah malam ini baru sampek sih, harusnya kamu sampek dari lima jam lalu loh. Kenapa juga enggak kabarin aku dulu, bikin khawatir orang saja dan lagi kamu naik apa kok aku nggak dengar suara kendaraan berhenti?" tanya Aylona tiada jeda dan panjang seperti kereta pada sosok lelaki yang diyakininya adalah sang suami. Jangan lupakan tingkahnya yang celingukan karena mencari kendaraan yang mengantar Arsen.
Cup!
Tiba-tiba si tampan membungkam bibir yang tak mau berhenti berbicara itu dengan sebuah kecupan kilat.
"Kenapa tiba-tiba, eh," ucap Aylona pelan jangan lupa dengan sikapnya yang salah tingkah akibat ulah dari sang suami.
"Karena kamu bawel," ucap si pria sembari mengusak rambut Aylona.
Pipi chubby-nya pun merona semerah buah tomat sungguh menggemaskan. Sembari menyentuh bibirnya sendiri ia merasakan sebuah sensasi seperti ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya.
Tapi ada satu hal berbeda yang si cantik rasakan. Bibir itu, ya bibir yang biasanya terasa hangat namun kali ini yang ia rasakan itu adalah kecupan yang terasa begitu dingin, entah karena memang ini tengah malam atau karena apa si cantik tak tahu.
Apalagi kedatangan Arsen tadi disertai angin yang lumayan kencang yang membuat bulu kuduk meremang.
Setelah berhasil mengambil kecupan tiba-tiba pada sang istri, Arsen menyelonong masuk ke dalam rumah lalu melenggang menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
"Eh, tungguin aku," ucap Aylona bernada manja.
Wanita itu bergegas mengunci pintu lalu berlari kecil menyusul sang suami ke kamar pribadi mereka.
Sesampainya di kamar Arsen memasuki kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur itu juga untuk melakukan ritual membersihkan diri.
Hanya lima belas menit waktu yang dibutuhkan Arsen untuk menyelesaikan ritualnya akhirnya si tampan keluar dari kamar mandi.
Dada bidangnya yang terekspos putih semakin terlihat seksi ketika buliran bening air mengalir melewati sela-sela di sana, jangan lupakan handuk putih pendek yang setia menutupi daerah privatnya.
Si tampan berjalan menuju lemari besar yang terletak di samping ranjang tidur lalu membukanya. Tak menghabiskan waktu lama piyama tidur berwarna hitam itu sudah terpasang apik di tubuh kekar Arsen.
Selanjutnya apa lagi kalau tidak ikut berbaring di samping sang istri, memeluk pinggang itu sampai pagi tiba.
Aylona sedikit terperanjat saat merasakan sentuhan dingin melingkar di bagian pinggangnya.
"Kenapa tubuhmu dingin sekali, apa kamu sakit?" ucapnya dengan posisi mereka masih saling berpelukan.