Bab 1

Sebastian Winata membanting ponselnya pada kursi mobil yang kosong di sebelahnya. Pria itu tampak marah setelah mengakhiri sesi panggilan bersama seseorang beberapa menit yang lalu. Rahangnya tampak menggeras, menandakan jika pria itu sedang dalam kondisi kesal yang luar biasa.

Pria yang akrab disapa Tian itu lalu keluar dari dalam mobilnya, bersandar pada pintu mobil, lantas tangan kirinya merogoh saku pada mantel cokelat miliknya. Mengambil sebatang rokok dan sebuah korek api dari dalam sana. 

Pria berahang tegas itu tampak tenang menghisap benda yang mengandung zat adiktif yang berupa nikotin sembari memasukkan tangan kirinya ke dalam saku mantel. Mencari ketenangan sebelum ia kembali pada pelariannya bersama wanita-wanita  penghibur di dalam kelab malam yang ia datangi beberapa kalinya ini. 

Namun belum sempat Tian menghabiskan satu batang rokoknya, iris matanya menangkap seseorang yang terlihat begitu familiar. Seorang gadis memakai seragam sekolah yang sama dengan tempat ia mengajar. 

'Ayuna Larissa?' Ujar Tian dalam hatinya ketika melihat salah satu siswinya keluar dari dalam club malam sembari menghitung beberapa lembar uang. 

Tian segera membuang putung rokoknya. Melangkah sedikit tergesa mendekati siswinya itu. 

Mencengkeram tangan kanan siswinya itu tiba-tiba saja, lalu membalikkan tubuh gadis itu dengan cepat. Bola mata Tian melebar ketika melihat beberapa bekas kemerahan yang tercetak jelas disekitar leher siswinya itu. 

Jadi rumor itu adalah kebenaran?

Sebuah rumor yang mengatakan jika Ayuna bekerja sebagai pelacur. 

Tian memang baru dua minggu bekerja sebagai guru disalah satu sekolah menengah atas yang populer di Jakarta. 

Awalnya ia tidak percaya dengan rumor yang menyebutkan bahwa Ayuna adalah seorang pelacur. Karena gadis itu tampak seperti siswinya kebanyakan. Tidak memakai riasan apapun di wajahnya dan bersikap sewajarnya. Bahkan Ayuna termasuk dalam siswi yang pintar. Hanya saja gadis itu lebih pendiam daripada siswi yang kerap kali menggoda dirinya. 

Tapi melihatnya malam ini dengan bekas kemerahan yang disebut kissmark itu, Tian menarik pemikiran baiknya tentang gadis ini. 

"Jadi kau benar-benar menjual diri, Ayuna?" ujar Tian dengan nada dinginnya. Malam ini ia sudah kesal, ditambah lagi melihat dengan mata kepalanya sendiri kelakuan dari salah satu siswinya ini. Pria itu semakin geram. 

"P-pak Tian," ujar Ayuna sedikit bergetar ketika melihat yang mencengkeramnya adalah guru baru di sekolahnya. Ia tak menduga jika akan bertemu Pak Tian malam ini. 

Tian sedikit menarik Ayuna agar lebih dekat dengannya, terlihat sekali bagaimana sorot mata kecewa pada pria itu. 

"Apa rumor itu benar jika kau adalah seorang pelacur?" ucap Tian terdengar menghina pada sebutan yang ia ucapkan. 

Hati Ayuna mencelos mendengar bawa gurunya sendiri menyebutnya sebagai pelacur. 

"Itu bukan urusanmu, Pak! Ku mohon, bisakah kau lepaskan aku sekarang juga?" ujar Ayuna sembari meronta agar Tian melepaskan dirinya. 

Melihat Ayuna yang memberontak tanpa sadar pria itu membentaknya. 

"Kau pandai dan masih punya masa depan, Ayuna Larissa! Bagaimana bisa kau menjajakan diri seperti ini?" pekik Tian yang tak habis pikir dengan siswinya ini. 

Ayuna justru tersenyum remeh mendengar bentakan gurunya itu. 

"Uang! Aku butuh uang!" balas Ayuna tak kalah keras. "Nilai 100 tidak akan membuatku kenyang, Pak!" ujar gadis muda itu sekali lagi sembari menatap sinis ke arah Tian. 

"Apa?" pekik Tian yang terkejut dengan ucapan Ayuna. 

"Sekarang lepaskan aku, Pak Tian. Aku punya urusan," balas Ayuna yang kembali lagi meronta ingin pergi. 

Namun bukannya membiarkan Ayuna lepas begitu saja, Tian justru menarik Ayuna ke arah mobilnya. Ia tak menyangka jika siswinya ini rela menjual diri demi uang? Apakah tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia pilih? Hah, Tian benar-benar marah. 

"Ikut aku!" ujar Tian dengan surat berat, datar, dan dinginnya. 

"P-pak! Tunggu! Kau ingin membawaku ke mana?" pekik Ayuna yang hanya pasrah, Tian membawanya kemana. 

~~~~~

"Akhh.." ringis Ayuna ketika Tian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Pria itu membawanya ke sebuah apartemen mewah. Menyeretnya dengan paksa meskipun sudah beberapa kali memberontak. 

Ayuna melihat tak ada raut wajah hangat yang biasa guru itu berikan saat mengajar di kelasnya. Hanya tatapan dingin, tajam dan datar yang ia berikan saat ini. 

Jantung Ayuna berdegup kencang dan mulai memundurkan tubuhnya menjauh saat ia melihat jika gurunya itu mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. 

"P-pak Tian. A-anda mau apa?" ujar Ayuna yang mulai ketakutan, terlebih lagi ketika Tian sudah membuang kemejanya. Memperlihatkan cetakan perut berotot dan dada bidangnya. Sial, seharusnya ia lari saja ketika mobil gurunya ini berhenti didepan lobby apartemen. 

Tian tersenyum miring ketika melihat bagaimana siswinya ini bertanya sok polos seperti itu. Pria itu menaikkan kaki kanannya yang masih berbalut celana kainnya ke atas ranjang. Tubuhnya perlahan mendekat pada jalang kecil ini. Jalang kecil? Hm, bukankah itu sebutan yang bagus bagi Ayuna. 

"Kau seorang pelacur bukan? Maka sekarang layani aku seperti pekerjaanmu itu," ucap Tian ketika tepat berada di depan Ayuna yang sudah tidak bisa memundurkan tubuhnya lagi. 

Mata Ayuna terbelak mendengarnya. "Apa?"

"Kenapa kau terkejut seperti itu, Ayuna?" balas Tian dengan seringaian di wajah tampannya. "Bukankah kau terbiasa melayani banyak pria?" Ujar Tian sekali lagi menatap remeh. 

Ayuna semakin ketakutan dibuatnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya.

"T-Tunggu, pak! Kau salah-... Hmppff." Namun belum selesai Ayuna berbicara, bibirnya sudah dibungkam oleh pria yang ada di hadapannya saat ini. 

Tian menarik tengkuk Ayuna dan meraup bibir siswinya itu. Memberinya lumatan dan ciuman yang terkesan kasar. Tak hanya itu bahkan tangan kanan pria itu sudah lancang bergerilya sampai menelusupkan pada seragam sekolah milik Ayuna. Meremas benda kenyal yang masih tertutup bra milik siswinya itu. 

Ayuna terkejut ketika Tian meremas dadanya tiba-tiba saja. Wanita itu berusaha melepaskan diri dari gurunya sendiri. Berusaha menolak segala sentuhan yang Tian berikan. 

"Le-Lepaskan aku, Pak! Ku mohon," ujar Ayuna dengan suara yang sudah serak dan disertai mata yang berkaca-kaca ingin menangis saat ini. 

"Kau mau uang bukan? Maka puaskan aku malam ini," desis Tian sebelum melumat kembali bibir siswinya sendiri yang terasa begitu manis. Sial, gadis ini memang luar biasa, bahkan tubuhnya terasa pas dalam kukungannya. 

Tian tersenyum remeh saat melihat ada beberapa bekas kissmark yang tercetak jelas di leher putih milik siswinya itu. Tian mengakui jika siswinya ini cantik meskipun tak memakai riasan apapun. Namun sayang sekali jika ternyata Ayuna justru mengobral dirinya. Cantik-cantik tapi murahan itulah kesan Tian pada Ayuna saat ini. 

Saat Tian sudah berada dalam puncak gairahnya dan ingin bermain lebih. Tiba-tiba saja mendapat dorongan keras dari gadis di bawahnya itu sampai ia nyaris terjatuh dari ranjang. 

Tian pun menatap nyalang ke arah Ayuna. "Kau menolakku?" ucap pria itu dengan wajah yang mulai menggelap. Merasa terhina. 

"Pak, maaf. Aku tak bermaksud mendorongmu," ujar Ayuna yang sudah terlihat kacau sekali. Ia memang tak sengaja mendorong Tian karena pria itu sudah mulai menyentuh bagian selatannya. 

Menggeram marah, lantas Tian kembali mendekat ke arah Ayuna. Kini ia memperlakukan siswinya sendiri itu dengan kasar. Menindih Ayuna di bawahnya dengan posisinya terduduk di atas kedua paha milik Ayuna. 

Ayuna ini memberontak lagi, namun Tian menahan kedua pergelangan tangannya di setiap sisi kepalanya. 

"Kau benar-benar jalang kecil yang luar biasa, Ayuna! Kau suka dipaksa rupanya," ucap Tian begitu menyeramkan saat ini. 

Dada Ayuna rasanya sesak sekali. Apa ia akan diperkosa oleh gurunya sendiri malam ini? 

"P-pak Tian! Tunggu-.." 

Tak mendengarkan ucapan siswinya itu, tanpa aba-aba Tian merobek seragam sekolah milik Ayuna hingga memperlihatkan bra merah muda yang gadis itu gunakan. Kesan pertama saat Tian melihatnya adalah ia begitu takjub dengan cetakan jelas dua benda kenyal itu. Terlihat pas dan minta di sentuh. Namun pancaran gairah dari Tian seakan lenyap ketika melihat sebuah luka memar yang cukup besar di bawah dada kiri milik siswinya itu. 

"Ada apa dengan tubuhmu, Ayuna? " Ujar Tian terlihat panik ketika melihat luka lebam kebiruan yang ada di perut atas sebelah kiri milik Ayuna.

Bab 2

Tian segera menurunkan dirinya, terlihat khawatir dengan luka milik Ayuna. 

Namun Ayuna memilih diam, hingga membuat Tian merasa jenggah sendiri. 

"Siapa yang memukulmu hingga seperti ini?" teriak pria itu frustasi melihat luka yang ada pada tubuh siswinya itu. 

Akhirnya air mata dan sesak yang Ayuna tahan sedari tadi tumpah juga, gadis itu menangis keras. Menumpahkan segera rasa sesak yang menghujam jantungnya. 

Melihat rapuhnya gadis di hadapannya kini tak kuasa bagi Tian untuk tidak memeluknya. Pria itu mengucapkan maaf berkali-kali, merasa menyesal dan bodoh atas tindakannya yang tak bisa dikontrol itu. 

Malam ini, untuk pertama kalinya Ayuna mencurahkan segala kepedihan hati dan hidupnya. Bagaimana perjalanan hidupnya hingga harus keluar masuk kelab malam. Bagaimana dirinya menahan rasa sesak ketika tak memiliki teman ataupun menahan hinaan yang selalu ia terima dari teman-temannya.

"Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal memperlakukanmu seperti tadi," ujar Tian yang terlihat malu sekaligus menyesal atas tindakannya beberapa saat lalu. 

Ia tak menyangka jika beban hidup siswinya itu sekeras ini. Tian benar-benar merutuki kebodohannya yang hanya mengedepankan emosinya tanpa ingin mendengar penjelasan dari Ayuna. 

Ayuna menggeleng pelan, penampilan wanita itu sudah jauh lebih baik. Ia memakai kemeja milik Tian karena seragamnya yang sobek. 

"Tidak apa-apa, Pak Tian. Lagipula yang kau katakan juga tak sepenuhnya salah. Aku memang seorang pelacur," ucap Ayuna sembari mencoba tersenyum. Menerima nasibnya jika ia harus bekerja di kelab malam milik ayah tirinya sendiri. Menjadi pelacur di sana untuk mendapatkan uang dan biaya rumah sakit ibunya yang sedang sakit. 

Tian menggeleng cepat. Tidak setuju dengan ucapan gadis itu. 

"Tidak! Kau hanya tak punya pilihan," ucap Tian. "Mengapa kau tak melaporkan ayah tirimu itu ke kantor polisi?" ujar Tian sekali lagi ketika mengingat bagaimana jahatnya ayah Ayuna. Menjadikan anak sendiri sebagai pelacur, ingin sekali Tian marah saat ini. 

Ayuna tertawa kecil.

"Lalu bagaimana dengan pengobatan ibuku, Pak? Aku sudah bekerja paruh waktu namun biaya rumah sakit ibuku yang semakin mahal. Hanya dengan bekerja bersama ayah tiriku, aku bisa membayar biaya pengobatan ibu."

Bibir Tian mengatup rapat, matanya hanya bisa menatap Ayuna dan segala beban yang harus gadis itu terima pada usianya yang baru 18 tahun itu. 

"Jangan memasang wajah iba seperti itu, Pak. Rasanya tak nyaman sekali karena orang-orang selalu memandangku rendah dan jijik," ujar Ayuna sembari terkekeh pelan. 

Gadis muda itu pun mulai mengambil seragamnya dan memasukkan ke dalam tas miliknya. 

"Aku harus ke rumah sakit menemani ibuku, Pak. Besok ibu harus menjalani kemoterapi, aku harus segera membayar pengobatannya," ujar Ayuna. 

"Mau ku antar?" Ujar Tian menawarkan diri. 

Ayuna menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa-.." Ucapan Ayuna terhenti ketika ia tak menemukan sesuatu yang paling penting di dalam tasnya. 

"Ada apa Ayuna?" ujar Tian yang melihat keresahan di wajah bulat milik Ayuna. 

"Uangku hilang, Pak!" pekik Ayuna yang mencari di mana uang bayarannya hari ini. Namun ternyata nihil. Gadis itu begitu panik, membongkar semua isi tasnya namun tak ada hasil. Uang itu hilang entah ke mana. Mungkin terjatuh saat Tian menariknya di depan kelab tadi. 

"Benar-benar tidak ada?" tanya Tian memastikan.

Ayuna menggeleng lagi. "Aku harus pergi Pak, aku harus kembali ke kelab untuk mencari pelanggan baru!" ucap gadis itu sembari melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen milik Tian. 

Mata Tian terbelak mendengarnya. 

"Tunggu!" pekik Tian di saat Ayuna ingin membuka pintu kamarnya. 

Ayuna menoleh, "Ada apa, Pak?"

"Aku bisa memberimu uang itu," ujar Tian. 

Mata Ayuna memicing. "Pak Tian menyuruhku menghutang?" tanyanya. 

Tian menggeleng cepat. "Tidak bukan seperti itu!" 

Pria itu tampak mengigit bibirnya, sedikit ragu untuk mengucapkan keinginannya.

"Kau tidak perlu bekerja memuaskan pria, Ayuna. Aku bisa memberimu uang untuk pengobatan ibumu," ujar Tian pada akhirnya. 

Berbalas sebuah gelenggan kembali, lantas Ayuna berujar, "Terimakasih atas tawarannya Pak, tapi aku tidak bisa menerima pemberian seseorang secara cuma-cuma."

"Kalau begitu biarkan aku yang menjadi pelangganmu malam ini," sahut Tian dengan cepat. 

"Pak!" pekik Ayuna yang begitu terkejut dengan ucapan gila gurunya ini malam ini. 

Tian mendekatkan tubuhnya, meraih salah satu tangan indah milik Ayuna. Membawanya menuju ke bagian selatannya yang terasa sesak saat ini. 

"Hanya dengan berciuman dan menyentuhmu sedikit saja kau sudah membangunnya Ayuna. Kau ingin menyiksaku yang sudah terangsang seperti ini?" ujar Tian yang sebenarnya sedari tadi menahan mati-matian efek luar biasa yang di berikan gadis itu padanya. 

Jantung Ayuna kembali berdegup kencang, ia merasakannya. Sesuatu yang keras dan tegang di balik celana kain milik Sebastian. 

"T-Tapi aku hanya bisa-.."

"Tidak masalah. Meskipun hanya sekedar blow job, aku akan membayarmu dua kali lipat dari bayaranmu biasanya," ujar Tian sembari menatap pada gadis itu. 

~~~~

Kini Tian tengah menikmati apa yang siswinya itu berikan. Sebuah service yang mampu membuatnya melayang. Ini adalah pertamakali bagi Tian merasakan nikmat yang tiada tara, merasakan bagaimana hormon androgennya mencapai puncak dengan cepat. Bahkan permainan Ayuna jauh dari kata lihai dan justru terkesan kaku daripada wanita jalang selalu berusaha memuaskannya. 

Kenikmatan yang Tian dapat malam ini melupakan fakta jika ponselnya bergetar sejak tadi. Hingga sebuah pesan muncul di notifikasi layar ponselnya. 

'Maafkan keegoisanku tadi, Pi. Aku akan pulang besok. Kita berbaikan ya? Ngomong-ngomong aku sangat merindukan menghabiskan malam panas bersamamu, suamiku.'

Isi pesan yang diterima oleh Sebastian Winata.

Bab 3

Tak ada wanita yang mau dicap sebagai murahan, meskipun ia adalah seorang jalang sekalipun. Termasuk seorang gadis muda yang kini tengah berada dalam dekapan hangat lengan kekar seorang pria tampan yang berstatus sebagai gurunya sendiri. Bahkan nafas pria itu terdengar terengah-engah dicerukan lehernya saat ini. 

Jika semesta tak memberikan beban hidup seberat ini padanya, Ayuna tidak akan pernah mau mengambil jalan tengah yang terlihat hina seperti ini. Menyerahkan mahkotanya pada gurunya sendiri. Ck, takdir gila macam apa yang ia jalani saat ini? 

Berawal dari pernikahan sang ibu dengan seorang pria. Kehidupan Ayuna rasanya mulai jungkir balik. Dulu, yang awalnya ia sama sekali tak merasa kesulitan dalam meminta apapun, kini berubah sejak 3 tahun terakhir. Sang ayah tiri nyatanya telah membohongi ibunya. Menjual butik milik sang ibu demi membangun sebuah kelab malam. 

Ayuna tidak menyalahkan sang ibu karena salah memilih pria. Namun, Ayuna lebih menyalahkan takdir yang tak ada manis-manisnya sama sekali kepada dirinya. Mengapa Sang Pencipta sepertinya suka sekali melihat ia sengsara? 

Bagaimana tidak, setelah mendapatkan uang dari menjual butik milik sang ibu. Ayah tirinya melupakan mereka. Ibunya harus kembali berjuang sendiri untuk bertahan hidup seadanya. Hingga 2 tahun yang lalu, Ayuna menemukan sang ibu pingsan di dapur dan mendapatkan vonis jika sang ibu menginap kanker paru-paru. 

Mencoba pekerjaan paruh waktu, namun hasilnya sama sekali tak bisa membantunya. Ia baru 16 tahun saat itu, banyak lowongan pekerjaan yang menolaknya karena terlalu muda. Hingga Ayuna memberanikan diri mendatangi sang ayah tiri. Awalnya cacian dan makian yang ia terima. Namun Ayuna tak menyerah, hingga sang ayah tiri menawarkan hal gila padanya. Bekerja layaknya seorang jalang. 

Bisa dikatakan beruntung atau tidak, karena Ayuna hanya boleh melayani pelanggan dengan batasan tertentu saja. Ia tidak pernah melayani pelanggan sampai ke inti. 

Namun, melakukan hal seperti itu juga tak mudah terlebih lagi ia sama sekali tidak tahu. Menonton film blue saja ia tak pernah.

Seringkali Ayuna mendapatkan paksaan untuk melakukan hal lebih. Bahkan ada beberapa pelanggan yang memukulnya atau bahkan menendangnya jika ia tak mau.

Pada akhirnya mahkota milik Ayuna hilang juga. Semenjak malam itu, malam di mana ia tertangkap basah oleh sang guru. Kegilaan kedua dalam hidupnya di mulai. 

Bagaimana ia tergiur dengan ucapan Tian setelah ia memuaskan pria itu. 

'Mulai saat ini, kau tidak perlu bekerja lagi di kelab malam milik ayah tirimu. Aku yang akan membiayai seluruh kebutuhan hidupmu. Asal kau bersamaku.'

Awalnya Ayuna berpikir jika Sang Pencipta sedang baik padanya dan ia akan diadopsi. Namun kenyataannya ia hanya dijadikan pelarian oleh pria itu. Pelarian sebagai pemenuh kebutuhan biologisnya. Bahkan status Ayuna juga berubah saat ini, dari wanita jalang menjadi wanita simpanan. Atau orang-orang biasa menyebutnya sebagai pelakor. 

~~~~~

Setelah saling terdiam masing-masing untuk mengistirahatkan diri dari kegiatan menguras tenaga mereka beberapa waktu yang lalu. Akhirnya suara berat itu kembali terdengar. 

"Ku masuki sekali lagi ya? Akan aku bayar lebih," ujar Tian sembari menatap penuh harap pada gadis yang ada di sampingnya ini. 

Entah sihir apa yang pria itu berikan padanya, Ayuna hanya menganggukkan kepala. Memberi lampu hijau pada sang guru untuk kembali mencari kenikmatan pada kegiatan mereka. 

Mungkin orang-orang menyebutnya tolol dan bodoh. Namun, jika boleh jujur. Ayuna sangat menyukai bagaimana otot bisep, perut kotak, dan paha keras milik pria itu berada di atasnya. 

Katakan saja jika Ayuna sudah gila. Karena sangat menyukai bagaimana pria itu mengerang nikmat di atasnya. 

Bahkan pelukan hangat yang selalu pria itu berikan rasanya membuatnya tenang dan ia merasa dilindungi meskipun Ayuna sangat sadar jika apa yang ia lakukan adalah kesalahan besar. 

Yang awalnya hanya sekedar coba-coba sekarang berubah menjadi sebuah rutinitas yang bahkan tak bisa Ayuna hitung sudah ke berapa kalinya ia dan Tian berbagi peluh seperti ini. 

~~~~~

Ronde kedua setelah pulang sekolah pun akhirnya selesai juga satu jam yang lalu. Pria yang berusia 7 tahun di atasnya itu terlihat sexy dengan rambut basah serta tubuh tegapnya yang hanya dibalut handuk melingkar di pinggangnya. 

"Pak Tian, ingin ke mana?" ujar Ayuna ketika melihat Tian baru saja keluar dari kamar mandi. Sedangkan Ayuna, ia masih bergulung bersama selimut tebalnya.

Tian tersenyum sejenak ketika mendapati sang gadis sudah bangun dan kini sedang menatapnya. Ia berjalan mendekat ke arah gadis yang sudah 7 bulan ini menjadi tempatnya memuaskan hasrat dan menghilang penat. Bahkan Tian sudah tidak pernah bermain dengan jalang manapun setelah ia bersama dengan Ayuna.

Pria berahang tegas itu menundukkan kepalanya, mengecup bibir Ayuna sekilas lalu mengusap lembut pipi tembam gadis itu. 

"Kau sudah bangun?" ujarnya sembari tersenyum simpul.

Ayuna hanya menganggukkan kepalanya. "Ingin ke mana?" Ujar gadis bergigi kelinci itu sekali lagi. 

"Aku harus ke bandara. Sarah pulang malam pulang ini," ujar Tian dengan sorot mata yang tersimpan kerinduan di sana. Tentu saja, mana ada suami yang tidak rindu dengan istrinya sendiri.

Entah mengapa mendapat jawaban dari Tian kali ini membuat Ayuna menekuk wajahnya. Muncul rasa tidak rela di ulu hatinya, padahal ini bukan pertama kalinya Tian mengatakan akan menjemput sang istri. 

Melihat perubahan pada wajah Ayuna, lantas Tian pun menangkup ke dua pipi bulat itu. 

"Hey, jangan menekuk wajahmu seperti itu." Balas Tian jadi merasa bersalah.

Sedangkan gadis dihadapannya itu hanya membalas dengan senyum tipisnya. "Aku kira Pak Tian akan menginap malam ini."

Tian terkekeh pelan, mengecup bibir milik gadis manis yang sudah menjadi bagian dari dirinya itu cukup lama. 

"Aku juga rindu istriku, babygirl." Ujar Tian setelah melepaskan ciuman itu.

Ayuna hanya terdiam di tempatnya, memperhatikan bagaimana sang guru tengah bersiap dengan pakaiannya. Satu kalimat Tian yang seakan menamparnya, jika dirinya hanya pelarian pria itu. Hanya tempat pria itu singgah, bukan tempatnya untuk menetap.

Tian sudah rapi dengan pakaian formalnya. Menghampiri Ayuna sejenak dan mengecup kening gadis yang masih saja diam itu.

"Aku pulang dulu ya. Jangan kemana-mana dan jangan lupa kerjakan PR-mu." Ujar pria itu yang kemudian langsung keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari gadis yang sedari tadi mencoba mati-matian rasa sesak yang seharusnya tak boleh ada dalam hatinya.

Tak lama setelahnya, ponsel Ayuna berbunyi. Muncul sebuah notifikasi di akun m-banking miliknya jika ada uang masuk ke dalam rekeningnya. Pria itu benar-benar membuktikan ucapannya, membayarnya lebih. Dan bahkan jauh lebih banyak dari apa yang ayah tirinya berikan dulu. Kini ia tak kesulitan membayar perawatan sang ibu. Tak kesulitan dalam mencari makan hingga biaya sekolahnya. Bahkan Tian memberikan akses apartemen mewah milik pria itu pada dirinya. 

Ayuna mengusap wajahnya dan tersenyum miris pada dirinya sendiri, perasaan yang seharusnya tak boleh ada kini seakan mengusai seluruh akal warasnya. Tujuh bulan bersama dan nyaris menghabiskan waktu bersama di setiap malam nyatanya sudah menimbulkan benih-benih rasa ingin memiliki lebih dari seorang Ayuna.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED