Bab 1

Di tempat hiburan malam, Max menantang cecunguk yang menjebaknya. Ketika Max memasuki pintu yang salah. Seharusnya ia masuk ke tempat hiburan, namun ia justru masuk ke dalam club rahasia yang menjebaknya. Max diharuskan menghabiskan banyak uang di sana.

"Hanya pengusaha kaya dan berduit yang bisa masuk dan keluar dengan selamat. Apa kau berniat hanya untuk memata-matai kami? Jangan harap keluar dengan selamat kecuali kau membeli apa yang kami jual! Hehehe." Para preman itu tak tahu dengan siapa mereka berhadapan. Mafia kelas kambing.

"Saya akan membuang uang di sini! Apa yang kalian jual? Sebutkan harganya?" tanya Max sengit tak terima dianggap ingin melarikan diri karena tak memiliki uang banyak.

"Hah?! Yakin bisa beli dengan harga yang kami tawarkan? Kami menjual perempuan muda, sanggup untuk membelinya?" ejek pemilik club ilegal itu.

"Sebutkan harganya, dan berikan gadis rendahan yang paling murah, tapi akan kubayar 2 kali lebih mahal seharga gadis terbaik kalian! Uang bukan masalah untukku!" ego seorang lelaki tersentuh. Max sebagai billionaire tak akan kehabisan uang dalam satu hari. Bahkan dalam tidur pun ia tetap mencetak uang dan pundi-pundinya terus terisi dari perusahaannya serta bisnis kotornya.

"Baiklah, Tuan Sombong, akan kami urus."

"Cepat lakukan aku tak sudi berlama-lama bernafas di tempat pengap dan kotor seperti ini!" bentak Max

Max merasa terhina karena ia terjebak di tempat yang salah hingga ia harus melakukan transaksi jual beli seorang gadis yang tak pernah ia harapkan atau butuhkan. Hatinya telah lama menolak banyak perempuan.

"Maaf, Max, aku gak tau kalau pintu itu untuk masuk ke perdagangan gadis. Aku pikir pintu klub striptease." Agastara merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia lakukan. Maksud hati ingin bersenang-senang di club striptease tapi malah berakhir di tempat ilegal di kota ini. Tempat yang paling tabu dimasuki untuk orang tak berduit. Sekali masuk ke sana pantang untuk tidak mengeluarkan uang. Dan hari ini Max terjebak di dalam sana dan harus membeli salah satu dari gadis yang ditawarkan. Ini sebagai sistem keamanan mereka para penjahat berkerah putih.

"Boss, ini kesempatan untuk kita membuang gadis liar yang dijual ayah tirinya pada kita. Orang tua aslinya tak jelas. Anak itu sedikit gila! Kadang menangis kadang galak seperti kucing liar! David saja tergigit olehnya. Kita bisa jual 10 kali lipat harga primadona di sini. Kita bisa untung banyak dan tak memelihara gadis itu terlalu lama."

"Ya cepat berikan!"

"Baik bos! Laksanakan!"

Setelah menunggu 30 menit, para bajingan itu datang menyeret seorang gadis lusuh berambut panjang, berbadan kurus dan kecil. Dilemparkannya gadis itu ke kaki Max.

"Aaaahh... sakit kau jelek!" umpat gadis itu kesakitan dan menendang tulang kering cecunguk yang melemparnya.

"Awww.. gadis inii ya.. Plak!" ia memukul begitu saja gadis itu tanpa kasihan. "Silakan bawa Tuan Max! Pembayaran sudah selesai"

"Hey kau, berdiri! Kau sudah aku beli, jangan bertingkah dan berani menyentuhku! Mengerti?!" sahut Max kesal. Tanpa melihat ada darah segar disudut bibir gadis itu.

"Mengerti! Aku juga tak suka menyentuh orang jelek!"

"Bilang apa?"

"Dan aku juga gak mau deket-deket orang sombong." Gerutunya

"Ulang sekali lagi?"

"Apa tuan budek?"

"Berani kau berkata sembarangan padaku? Apa perluku tambah luka di bibirmu?" ancam Max

"Luka ini bukan yang pertama!" gadis ini masih saja sengit tak takut dengan ancaman Max.

"Jangan berlaku kurang ajar aku gak segan-segan menghukummu dengan rotan lentur yang bisa melukai kulit tipismu! Ingat itu! Kau aku beli karena terpaksa! Akan aku jadikan keset di rumahku!"

"Lepaskan saja aku, aku bukan keset!"

"Lepaskan? Lalu kau di tangkap mereka dan dijual lagi? Enak saja mereka akan untung banyak."

"Aku bisa berlari sangat kencang seperti kijang. Aku tak akan tertangkap!"

"Kau tak akan bisa kabur dariku."

"Aku akan sembunyi di kolong jembatan."

"Kau miliku sekarang! Nyawamu juga miliku!"

"Aku tak ada gunanya. Minta kembali saja uangmu pada ayahku."

"Terlihat, memang kau tak ada gunanya! Ayahmu sudah menjualmu! Artinya kau itu sampah! Mengerti?"

"Mengapa tuan membeli sampah apa tuan seorang pemulung? Cih!"

"Mulutmu itu kupastikan akan membawa banyak masalah! Park masukan dalam bagasi, aku tak sudi semobil dengan dia!"

"Baik Tuan Max."

"Huh? Ak.. aku gak mau.. aku bisa mati di dalam sana! Lepaskan! Aku akan ganti uang tuan berapa pun. Maafkan aku.. jangan di bagasi!"

"Dengan apa aku mengganti uangku? Dengan badanmu saja tak akan ada yang mau! Masuk sekarang atau kuseret di belakang mobil!"

"Kalo gitu biarkan aku mati!"

"Kalau tak mau masuk ke dalam bagasi, maka kau akan mati sekarang juga dengan tanganku! Masuk!"

Di 20 menit perjalanan menuju rumah Max menyuruh Park untuk berhenti.

"Pinggirkan mobil Park! Buka bagasinya, aku takut ia mati kehabisan udara. Lalu tutup lagi, dan lanjutkan perjalanan!"

"Laksanakan tuan."

Park pun membuka dan menemukan gadis itu tertidur dengan air mata yang masih menggenang dengan menghisap ibu jari seperti bayi.

"Bagaimana kondisinya?"

"Saya kurang pasti apa ia pingsan atau tidur, tapi ia masih bernapas. Seperti ini."

Park memberikan foto yang ia ambil baru saja.

"Park selidiki latar belakang gadis itu. Aku tak mau nanti dituduh penculikan anak dibawah umur." Max menatap foto gadis itu ada yang aneh dengan gadis itu.

"Mengapa ia seperti bayi, mengisap jempolnya dan meringkuk? Apa ia selama ini hidup di jalan?" pikir Max dalam hati.

Setelah perjalanan 45 menit sampailah di mansion yang mewah dan megah dengan pengamanan berlapis.

"Paman Austin... Letakan gadis itu di kamar belakang dekat dapur. Jauhkan dariku. Awasi dan jangan sampai kabur. Laporkan segala ulahnya!"

"Baik tuan Max."

"Park bangunkan gadis itu!"

"Sepertinya ia sulit dibangunkan tuan, sudah saya guncang. Apa ia pingsan?"

"Ini pasti akal-akalan dia saja, sudah angkat dan baringkan di kamarnya. Jauhkan dari kediamanku ya! Jangan biarkan ia di dalam rumah utama!"

"Apa pekerjaannya tuan Max?" tanya Paman Austin.

"Aku belum tahu guna dari gadis ini.. biarkan saja dulu sampai saya tahu guna gadis ini di sini."

"Siap Tuan."

Dalam benaknya Max berpikir soal gadis liar itu, sesuatu membuatnya terusik.

"Apa aku terlalu kejam ya? Bagaimana kalau ia benar-benar pingsan dan kekurangan oksigen?"

"Aaaah.. kenapa aku memikirkan gadis lusuh itu yang bahkan namanya saja aku gak tau! Matanya liar dan wajahnya konyol! Bicaranya seperti anak kecil."

Pada saat makan malam Max teringat dengan gadis liar itu, entah mengapa ia penasaran.

"Paman Austin apa gadis liar itu sudah dikasih makan?"

"Sudah tuan sepertinya ia hanya mau makan mie saja."

"Sekarang sedang apa gadis itu?"

"Sejak tadi ia bersembunyi dan ketiduran di dalam lemari. Menangis lirih kadang meraung seperti sedang terguncang. Sepertinya ia jarang tidur di kasur dan sangat takut dengan orang asing. Rambutnya kusut, badannya penuh bekas luka. Seperti anak jalanan pada umumnya."

"Panggilkan dokter dan periksa. Aku tak mau ia bawa penyakit atau mati di sini."

"Baik tuan!"

"Menyusahkan saja! Apakah Tuhan sedang menghukumku? Maksudnya apa Tuhan mengirim gadis liar itu ke rumah ini? Aku tak mau lagi disusahkan dengan mahluk bernama wanita! Apa tak sebaiknya aku kirim ke panti asuhan? Atau rumah sakit jiwa?"

Max berpikir dalam benaknya, Gara-gara Agastara kini dia memiliki beban hidup yang tak menyenangkan.

"Awas kau Agastara, karenamu aku jadi terbebani seorang gadis yang tak tahu mau aku apakan!"

Bab 2

"Tuan Max gadis itu sudah diperiksa dokter."

"Aku mau bertemu dr. Stacy di ruang kerja sekarang."

"Baik."

Paman Austin mempersilakan dr. Stacy sebagai dokter langganan di rumah ini yang sebenarnya teman dekat Max sewaktu di SMP.

"Malam Max... Apa kabar? Tumben sekali kau ada di rumah, terakhir kali aku ke sini setahun yang lalu untuk memberikan vaksin pada penghuni rumah ini. Ternyata kau mempunyai mainan baru?"

"Kabarku baik. Itu bukan mainan baruku, hanya gadis lusuh yang aku pungut dari klub ilegal. Tak tahu mau aku apa kan!"

"Hahhaa.. kau ini. Ia manusia sama seperti kita, kalau kau tanya kondisinya. Sekarang ini cukup stabil. Tapi ia kurang gizi. Dan kalau sekilas aku lihat ia banyak terguncang jiwanya."

"Dari mana kau bisa berkata seperti itu?"

"Ia suka jika aku berkata lembut, dan tak suka dipaksa. Aku biarkan ia memainkan stetoskopku, dan ia senang sekali. Dan senang dengan permen yang aku berikan. Kondisi fisiknya kuat. Tapi tidak mentalnya. Ia tak bisa dewasa sesuai umurnya."

Tak bisa dewasa? Apa maksudnya?"

"Ia tak mengerti konsep menjadi dewasa dan problematikanya. Ia juga tak banyak mengerti keadaan, yang ia tahu hanya bertahan hidup dan makan. Sepertinya banyak trauma di masa ia tumbuh menjadi remaja. Aku bisa pastikan trauma itu berasal dari keluarganya. Hingga ia terpisah dengan ibunya dan dijual itu merupakan trauma yang paling berat untuknya.

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Beri makan yang bergizi dan aku sarankan konsultasi pada Psikiater kenalanku. Ia selalu berhasil menangani gadis muda dengan mental illnes."

"Berikan saja nomornya nanti Paman Austin akan menghubunginya."

"Sudah aku berikan. Max, jangan terlalu kasar. Nanti kau memperburuk keadaannya."

"Bukan urusanmu."

"Dari bekas luka di badannya, ia sering menerima pukulan."

"Tak heran karena gadis itu bermulut tajam dan kurang ajar. Tak heran orang memukulnya."

"Max, dia masih sangat muda. Dan tak pernah di didik dewasa. Beri sedikit kasih sayang." Stacey menasehati Max dengan pendekatan yang lembut.

"Kau gila? Belum 24 jam aku mengenalnya kau suruh aku menyayanginya?"

"Aku hanya minta kau bersabar dan memperhatikannya sedikit saja."

"Lihat saja nanti."

"Baiklah aku harus kembali ke rumah sakit. Sudah kutinggal beberapa obat pada Paman Austin. Hubungi aku kalau ada sesuatu."

Dr. Stacey meninggalkan mansion dan Max kembali ke kamarnya untuk beristirahat sampai terdengar suara gaduh.

"Brak.. Bruk Brak!" suara gaduh dari belakang seperti suara benda-benda jatuh.

Lalu terdengar suara para pelayan memanggil gadis yang sedang berlari tak tahu arah.

Ia ketakutan dan berusaha melarikan diri. Tapi ia tak tahu mau ke mana. Hingga suasana menjadi kacau.

"Ada apa sih berisik sekali! " Max keluar dari ruangannya dan bertepatan gadis itu menabrak Max cukup keras hingga ia terjatuh.

"Awww... sakiit... uuhh."

"Apa yang kau lakukan hah?! Sudahku bilang jangan menginjak rumah utama! Dan kau bandit kecil berani menyentuhku!" Max menarik tangan kurus itu tinggi ke atas

"Aaahh.. aah.. sakiit.. aaah.. Aku gak sengaja namanya juga nabrak." Max menyeretnya ke teras belakang.

"Maaf tuan salah saya membiarkan ia berkeliaran. Nanti akan saya kurung di kamar," ujar Gwen.

Gwen seorang wanita yang ditugaskan oleh Max menjadi pengawal, ia masih muda, sebenarnya ia teman kecil Max.

Ia bertugas menjadi pengawal Max di masa sekolah dulu. Tugasnya hanya bersekolah bersama Max dan mengerjakan semua tugas dan melindunginya dari orang yang bermaksud jahat

"Enak saja, gak mau! Aku gak mau dikurung di kamar! Aku mau pergi dari sini!" teriak gadis itu meronta minta dilepaskan.

"Oh yaa.. aku sudah membelimu, kembalikan uangku dulu!"

"Iya.. nanti.. a..aku akan kerja.. a..akan aku cicil, dasar sombong," gerutunya

"Apa kau bilang, berani kau menghinaku? Bilang apa tadi?"

"Enggaaa..." Max mengambil ranting panjang yang menjadi penghias sudut ruangan dan memukulkannya pada betis gadis itu sebanyak 4 kali.

"Ahh.. aakkh.. sakiit.. aah.."

"Kurang? Jangan pernah tak sopan padaku! Bawa dia ke kamar dan kunci di sana tidak boleh keluar." "Baik tuan."

"Anak ini mulai menarik untuk ditundukkan, dasar kucing liar. Hmmm.. ini maksudnya mainan baru?"

***

Gwen tahu ini membuat Max semakin murka maka ia segera membawa gadis itu ke kamarnya sebelum berulah lagi.

"Tolonglah nona jangan nakal dan jangan membangkang lihat kakimu luka begini. Ayo aku obati."

"No.. no periih.. jangan. Jangan seperti ayah," teriaknya histeris

"Memangnya kenapa ayahmu?" tanya Gwen lembut.

"Ayah selalu memukul lalu memberikan obat perih.. perih sekali.. jangan diobati.. periih! Lalu ayah terlihat bahagia jika aku kesakitan."

"Baiklah hanya air dingin tidak pakai obat. Mau ya?" ia mengangguk setuju

"Sekarang coba tidur, biar kuat." Gwen mematikan lampu meja. Seketika gadis itu panik dan berteriak.

"Gelaap... tak bisa napas.. hukkhuuk.. jangan gelap."

"Baik.. baik.. Tidak akan dimatikan kok lampunya. Aku nyalakan."

"Jangan hukum aku di atas salju tanganku sering membeku sampai harus dimasak," racaunya

"Lihat selimut ini halus dan hangat, ini untukmu. Kau ini demam!" gumam Gwen sambil membungkusnya dengan selimut bergambar Frozen.

"No.. aku tunggu Ibu di sini Ayah, jangan tarik.. lepas..." ia mengigau karena demam tinggi.

"Ada apa dengan gadis ini? Apa ia ketakutan? Apa aku beritahu tuan Max? Tapi ia tak suka diganggu, apalagi dengan urusan ini. Menyentuh pun iya tak ingin. Kasihan gadis ini, sepertinya sering disiksa, tangan dan kakinya penuh bekas luka." Batin Gwen dalam hati. Ia jatuh hati pada gadis ini, ia butuh pertolongannya.

Di dalam kamar kerja Max berkutat dengan laptopnya. Tapi ia seperti orang yang gusar. Membolak-balik laporan tanpa ia baca sama sekali. Pikirannya jauh bukan di sana.

"Kenapa wajahnya bikin gemas ya, cengeng lagi. Hehehe.. Kenapa aku tak tahu nama anak itu ya? Kenapa bisa lupa bertanya padanya? Aakkh.. bodo amat dengan namanya. Untuk apa aku tahu! Sekarang harusnya aku berpikir bagaimana menyingkirkan gadis itu. Pastinya akan menambah pekerjaan saja! Mau pecah kepalaku mendengar jeritannya."

*****

Keesokan paginya, gadis itu berhasil melarikan diri ketika Gwen membawakan sarapan. Ia terus berlari menuju lorong yang kemarin belum ia lewati tak berniat berhenti lalu melihat ke belakang. Bertepatan dengan Max membuka pintu teras. Tak pelak gadis itu terbentur pintu dan terjatuh ke lantai.

"Brug!"

"Apa itu?"

"Ahh..akh.. sakiiiit.. ahh.. kepalaku.. uugh."

"Kamu lagi.. kenapa bisa di sini? Gwen! Park! Ambil tali! Ikat tangan nya gantung di paku itu!"

Dengan berat hati Park melakukannya.

"Hey lihat aku! Siapa namamu?!"

"Lepaskan akuu... Gak perlu tahu siapa namaku."

"Beraninya kau! Ceplas!" sebuah sabetan pada betis gadis itu cukup perih meninggalkan goresan merah.

"Aaahh... dasar beraninya sama keset! Lepaskan aku, aku bukan orang jahat! Aku dijual ayah tiriku untuk membayar utang judinya!"

"Aku tak peduli alasan kau dijual, yang jelas aku membuang cukup banyak uang hanya untuk gadis lusuh sepertimu!" Max memandang rambutnya yang sedikit ikal mengkilap tapi kusut.

"Aku bahkan gak sudi jadi kesetmu... Ugh!" ia menendang tulang kering Max dengan keras, walaupun ia tak memakai alas kaki tapi cukup keras

"Beraninya kau! Ceplas! Ceplas! Nanti rambutmu akan kujadikan keset kamar mandi!"

"Ahh.. aaahh..uhuukkkuuuhhhh.. jahaaat.. sakkit uhuukkkuuuww... Ibuuu.. jemput aku ikut Ibuuu.. uhuuk aku mati sajaaa."

"Hey jangan mati di sini! Ini bukan kuburan! Mati saja di hutan!"

"Hutan? Aku takut hutan... huwaaaaa!! Ayah jangan tinggal aku lagi di hutan, takuut."

"Gwen kenapa ia berteriak? Apa anak ini gila?" Max terkejut

"Engga tuan.. ia cuma ketakutan. Mungkin pernah ditinggal dihutan."

"Bawa ke kamarnya dan jangan sampai ia lepas lagi."

"Maaf Tuan, sepertinya kita butuh pertolongan psikiater segera, saya khawatir ia semakin depresi. Sebab ada yang aneh dengan kelakuannya. Ia seperti anak umur 12 tahun yang ketakutan dan sering menangis."

"Aaahh.. sangat menyusahkan! Segera hubungi nomor yang diberikan Stacey! Aku tak mau ikutan menjadi gila memelihara gadis ini!"

"Baik Tuan."

"Apa aku melukainya parah? Anak itu hanya ketakutan dikurung di kamar, dibawa ke hutan? Ayah macam apa seperti itu? Kenapa matanya sangat teduh? Rambutnya indah," pikir Max mengingat kilauannya

"Apa ia berpikir dirinya benar-benar keset? Hahah.. kok lucu? Aaah.. kenapa aku jadi memikirkannya sih! Sudah bagus tak kubunuh langsung, seenaknya saja menendangku!" Max bicara sendiri dan tersenyum-senyum sendiri. Tanpa ia sadari ia mulai memperhatikan lawan jenis.

*****

Pagi saat sarapan sudah tersaji, Max teringat dengan gadis yang menarik perhatiannya itu.

"Park apa gadis itu sudah sarapan? Apa yang dimakannya? Ia kekurangan gizi berikan makanan yang bergizi."

"Saya tanyakan dulu pada Gwen tuan Max. Tunggu sebentar." Park membuka ponselnya untuk menanyakan pada Gwen lewat chat.

"Gadis itu sudah tuan, ia sangat suka susu, mie dan roti. Tidak suka sayuran dan selalu memakan yang manis. Sekarang sedang di halaman bersama Gwen, katanya mau mengejar kupu-kupu."

"Kenapa dibiarkan? Dia tidak boleh makan mie lagi!" Max mulai perhatian secara tak langsung.

"Karena kalo dipaksa selalu berakhir mengamuk dan kejar-kejaran di kamar. Makanan berhamburan dan ingin melarikan diri dari kamar. Jadi Gwen menyerah dan memberikan apa yang menjadi kesukaannya."

"Kalian ini.. lemah sekali dengan gadis liar itu! Paksa! Jangan mau kalah! Katakan pada Gwen!

"Iya tuan, sebenarnya gadis itu sangat lembut dan manis. Kemungkinan dulu selalu dikasari dan jarang diberi makan selain mie. Dan tak mengenal kasih sayang. Sekarang ia senang tidur dengan selimut yang Gwen berikan. Katanya lembut seperti tidur dengan kelinci."

"Heheh.. kelinci? Mengapa ia terus menabrakku? Apa ia sudah mandi? Mengapa pakaiannya buruk seperti itu? Membuatku mual!" Max menatap dari kejauhan.

"Sudah mandi tuan Max."

"Gadis itu kemarin menangis histeris kini ia tertawa sambil mengejar kupu-kupu, kok bisa? Wajahnya lucu." Max ngomong sendiri.

"Itu pakaian bekas dari para pelayan tuan. Gwen belum sempat membelinya."

"Hmmm... besok pesankan salon untuk mencuci ulang rambutnya, rawat jangan seperti kelinci belom mandi! Bawakan beberapa brand baju kemari! Aku bisa gila melihatnya seperti gembel."

"Baik tuan! Akan saya sampaikan pada Gwen."

"Huwaaaaaahhh..." terdengar jeritan melengking dari arah taman belakang. Membuat Max tersedak kopi yang sedang ia minum.

"Uhuuuk! Ada apa sih? Kenapa gadis itu menjerit?"

*****

Ada apa dengan gadis itu?

Bab 3

"Huwaaaaaahhh..." terdengar jeritan melengking dari arah taman belakang. Membuat Max tersedak kopi yang sedang ia minum.

"Uhuuuk! Ada apa sih? Kenapa gadis itu menjerit?"

"Sepertinya terjatuh ketika sedang mengejar kupu-kupu."

"Apa yang terluka?"

"Dagunya terantuk batu."

"Kenapa anak itu ceroboh sekali sih! Suruh Gwen memberi laporan setiap ada masalah!"

"Baik tuan Max."

***

Pagi sekali pasukan salon dan butik sudah sampai di mansion Max memenuhi undangan Gwen untuk membersihkan dan mendandani gadis itu.

Mereka menyambut dengan gembira jika diundang oleh keluarga kaya, mereka akan memberikan pelayanan nomor satu. Harapannya mereka akan terus di percaya melayani keluarga yang paling berpengaruh di kota ini.

"Kalian sudah siap?" tanya Gwen

"Sudah Gwen.... Apa yang akan kami lakukan? Apakah nona muda manssion ini mau melakukan perawatan?"

"Bisa dibilang seperti itu. Ini gadis desa dari keluarga jauh tuan Max, tolong di dandani dan dibersihkan hingga layak tinggal di mansion ini. Berikan baju yang sesuai umurnya dan mahal sesuai selera tuan Max."

"Baik, itu sudah menjadi keutamaan pekerjaan kami. Gwen tahu beres serahkan pada kami."

"Silakan ini Nona?"

"Dia belum mau memberitahukan namanya.. Kalian bisa mulai saja. Saya tunggu di luar."

"Kau begitu cantik nona kecil , kenapa kau tak memberitahu namamu padaku?"

"Biar tuan sombong itu yang bertanya. Aku tak mau menyebutkannya jika ia tak bertanya lebih dulu."

"Nona memiliki rambut yang indah. Juga kulit yang bagus."

"Kalian mau apa?"

"Kami mau mendandani Nona, ayo kita mandi dan mencuci rambut.. akan kami bantu."

"No.. gak usah.. aku bisa sendiri! Pergi jangan sentuh aku. Ahh.. lepas."

"Biar kami bantu Nona kecil, kalau hasil kami tidak baik kami akan dimarahi oleh tuan Max.

Usaha kami bisa bangkrut tolonglah Nona.. kami mohon." Pekerja itu mendekapkan tangannya memohon dengan tatapan penuh harap di depan gadis itu, dan berhasil meluluhkan hatinya.

"Cih.. orang sombong itu lagi! Apa dia selalu galak dan jahat? Huh.. menyebalkan."

"Tidak begitu, tuan Max sebenarnya baik asalkan kita melayani dengan baik dan memberikan pelayanan yang terbaik."

"Huuh.. terus aku harus nurut dengan orang jahat itu? Gak mau!"

"Kalau nona masih sayang nyawa Nona ya lebih baik menurut," sahut pegawai salon itu sambil menunduk.

"Hah? A..apa ia bisa menghilangkan nyawaku?"

"Hanya dengan menjentikkan tangan Nona."

Dengan mulut terbuka ia menuruti petugas salon itu.

"Nona berendam di air ini yang sudah kami campur dengan bunga dan susu."

"Untuk apa?"

"Bunga agar harum dan susu agar kulitnya halus."

"Ini susu sungguhan?" Ia mulai menyukai perawatan ini, seperti bermain air dengan bunga-bunga.

"Iya ini susu sungguhan yang sudah di saring dan diberi vitamin."

"Bisa aku minum?"

"Jangan... kan sudah tercampur bunga."

"Oh iyaa."

"Rambut Nona kecil sungguh indah, ikal dan berkilau."

"Biarpun aku miskin aku selalu mencuci rambutku dengan sampo dari petugas sosial. Atau aku mencucinya dengan santan dari sisa pabrik di dekat rumah. Bibi di sana baik suka memberi santan."

"Oh.. nona kecil sering tergores ya, nanti setiap minggu aku akan ke sini menggosok badan nona kecil hingga luka goresan ini akan hilang perlahan."

"Biarkan saja, semua goresan itu punya cerita. Ini ketika aku jatuh dari carousel bersama Ibu. Dan ini jatuh dari kereta api ketika pergi bersama Ibu. Dan ini jatuh dari perosotan ketika bersama Ibu. Katanya aku anak yang tak bisa diam.. hihihi." Sejumlah luka itu memiliki memori, sepertinya tak ingin ia lupakan.

"Wajah nona kecil sangat cantik, jangan ditutupi dengan rambut. Nanti kita ikat ke belakang ya. Agar terlihat pipi yang merah merona ini."

"Baju Nona banyak di lemari sudah kami sediakan silakan dipilih saja. Ini baju tidur, ini baju rumah dan ini baju pergi. Khusus di lemari gantung untuk gaun."

"Banyak sekali untuk apa?"

"Untuk berganti ganti.

"Bajuku di rumah dulu hanya 2."

"Gaun untuk acara formal."

"Formal? Apa itu? Aku gak akan ke formal."

"Hahha.. nona ini lucu sekali. Lihat sini.. wajah Nona kecil sangat manis.. ini bedak dan ini untuk pemerah bibir. Minggu depan aku akan kemari lagi untuk melengkapi alat dandan Nona kecil."

"Untuk apa berdandan?" banyak pertanyaan di kepalanya dan terus saja ia tanyakan.

"Agar cantik."

"Untuk apa cantik?"

"Agar tuan Max sayang padamu."

"Aku tak perlu disayang siapa pun!" dengan nada sengit dan ia memasang muka kesal. Lagi-lagi karena Max, ia tak suka dengan nama itu.

"Ya sudah, jangan dirusak yaa... di rawat dengan baik."

"Botol ini apa?" tanyanya yang penuh ingin tau. Semua hal baru baginya.

"Ini untuk disemprot di badan agar wangi.. selalu dipakai sehabis mandi. Ini pelembab untuk kulit dipakai di kaki dan tangan agar kulit lembut."

"Hmm.. aku suka wangi, aku jarang wangi, jadi wangi itu enak ya bikin ngantuk.. hihihi."

Gwen masuk ke dalam kamar.

"Sudah selesai? Nona.. cantik sekali?" Gwen takjub

"Iya gadis ini bagai mutiara dalam lumpur.. di poles sekali sudah bersinar cahayanya."

Sungguh beruntung nanti kekasihnya. Cantik alami."

"Kau bekerja sangat baik."

"Kalau begitu kami pamit dulu. Terima kasih semoga Tuan Max puas dengan pelayanan kami dan bisa bekerja sama lagi."

***

"Tuan, pegawai salon dan butik sudah melaksanakan tugasnya dengan baik." Paman Austin melapor

"Pasti mereka kerja keras untuk membuatnya layak ya. Huh, pemborosan. Apa perlu mengoperasi mukanya agar layak dipandang. Hahahha. Apa aku rubah seperti Rose? Hahahha." Max tidak bisa membayangkan gadis itu dikatakan manis.

"Tak perlu tuan wajah gadis itu manis kok. Walau belum terlihat dewasa, tapi kulitnya bersinar."

"Bagaimana bisa? Kau pasti melebih-lebihkan. Sekarang ini apa Gwen yang mengawalnya?"

"Iya tuan."

"Siapa nama gadis itu sih?"

"Saya juga tak tahu, ia hanya mau jika tuan bertanya langsung."

"Anak lusuh itu berani bermain-main denganku rupanya, lihat saja nanti! Bawa kemari!"

"Baik."

Dengan wajah merengut ia menghadap Max. Max memandang gadis yang ada di hadapannya. Matanya takjub dan tak berkata kata dalam beberapa saat. Penampilannya jauh dari gadis lusuh yang pertama kali ia beli.

"Tuan! Kenapa bengong? Aku tidak mencuri apa pun ya! Baju ini juga diberikan padaku!"

"Apa yang dilakukan pegawai salon itu? Tidak ada perubahan sama sekali? Tetap jelek dan lusuh!"

"Huh? IIiissshh.. aku sudah tau percuma kucir rambut ini dan jepit ini ..Uh!" Ia menarik semua itu dan melemparnya. Wajahnya bertambah sexy dengan bagian rambut yang menutupi wajahnya.

Max menelan ludah melihat rambut itu tergerai.

"Eh.. iya..Hey.. siapa namamu? Katakan!"

"Siapa yang mau tahu?"

"Jangan kurang ajar! Jawab setiap aku bertanya! Kurang hukuman yang aku berikan huh?" Max terpancing emosi belum ada yang mempertanyakan perkataannya.

"Huh selalu mengancam! Seperti orang jahat di tempat itu!"

"Jangan samakan aku dengan siapa pun! Siap namamu? Katakan atau kau ingin aku hukum lagi?"

"Jangaaan.. namaku Ella." Tuturnya lantang dan menjulurkan tangannya sebagai mana orang berkenalan. Tapi tangannya tak di sambut oleh Max.

"Nama apa itu? Siapa keluargamu?"

"Mana aku ingat aku sejak kecil aku ditinggal ibu dan dibesarkan oleh ayah tiriku yang jahat dan aku tak ingin memiliki marganya!" mendadak Ella menjadi emosi dan loncat meninju Max. Sebuah respons yang tak lazim.

"Hey kucing kecil, berani kau melawanku?" Max menangkap tangan Ella dan menguncinya dengan sekali putar. Hingga wajah mereka berhadapan dekat sekali. Nafas Ella terengah-engah karena emosinya tersulut dari ingatannya.

"Warna matanya sungguh indah. Aneh sekali anak ini. Galak tapi sekaligus imut. Baru sekali bertemu gadis seperti ini." pikir Max

"Le..lee..lepaskaaan!" Max melepaskan hingga Ella terjerembap.

"Jangan sekali-kali kau berani menyentuhku! Dan ingat aku yang berkuasa di sini hidup dan matimu ada ditanganku. Lihat di sana ada danau berisi buaya, mau jadi makanan buaya? Jangan macam-macam! Gwen, ajarkan gadis liar ini sopan santun."

"Baik Tuan Max."

"Ugh tuan boleh aku pergi saja dari sini..? Aku akan membayarmu dengan menyicil. Aku tak akan bohong. Aku jangan dibunuh.. jangan dikasih makan ke buaya." Ella terlihat panik mendengar kata buaya itu. Ia mengulang lagi tawarannya.

"Bagaimana kau membayarnya?"

"Aku akan bekerja."

"Bekerja apa? Gadis kurus kering bisa apa? Bekerja pada siapa? Nanti kau kabur begitu saja atau mati di musim dingin!"

"Kalau gitu pada Tuan Max saja."

"Aku tak butuh pelayan, sudah banyak dan kau tak bisa jadi pelayan di sini." Max acuh

"A..aku bisa buat muka jelek untuk menghiburmu. Pasti tuan Max jarang tertawa." Max menahan tawanya ketika mendengar tawaran kerja dari Ella.

"Cobalah sebuah wajah yang jelek! Kalau aku tertawa, kau tetap boleh di mansion ini tanpa dikurung dikamar!"

"Baiklah.. akan aku coba... Ini wajah andalan aku. Hmmmm..." Ella membuat wajah yang konyol dengan mata yang jereng dan ia menggembungkan pipinya. Max hampir saja tertawa, tapi ia tahan.

"Aku kurang suka, tidak lucu sama sekali."

"Masa sih?" wajah bingung Ella semakin menggemaskan. Dan kini ia berpikir untuk mengubah muka jeleknya.

"Baiklah sekali lagi, Ella tak pernah kalah untuk membuat orang tertawa. Lihat yaa.. Huuuppp." sekali lagi Ella membuat muka lucu, kali ini benar-benar lucu dan Max tak tahan lagi untuk tertawa. Apalagi kini Ella semakin menggemaskan.

"Bhaa.hha.. baiklah... itu cukup lucu! Kau boleh di rumah belakang! Tidak boleh ke rumah utama, dan tak boleh keluar mansion!"

"Yesss... terima kasih tuan som.. eh tuan Max." Sebentar saja Ella sudah berlarian ke luar ruangan Max dengan berteriak kegirangan.

"Benar apa yang dikatakan Park, anak ini cantik dan manis. Sebentar emosinya mudah naik turun. Seperti banyak guncangan dan trauma di masa lalunya. Tapi ulahnya yang polos membuat gemas. Penasaran juga senakal dan separah apa traumanya dimasa lalu." pikir Max.

"Eh apa ini? Paaark! Ambil yang melekat di bajuku!" suara getar Max menggema

"Se..sebentar tuan, saya juga geli.. tunggu sebentar. Saya cari alat dulu."

"Park kau itu ajudan pribadiku, seharusnya melindungiku 24 jam, mengapa kau juga takut!"

"Itu kelemahan saya tuan, lebih baik berhadapan dengan musuh dan membolongi kepalanya."

"Awas anak itu! Pasti ulahnya!"

Apa yang dilakukan Ella hingga kedua pria berbadan besar dan berotot itu ketakutan dan berteriak?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED