Sampul Novel Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa

8.6 / 10.0
Madina kembali dipertemukan dengan Adnan, mantan suaminya yang dahulu mengusirnya akibat tuduhan palsu. Setelah tiga tahun berjuang sebagai kuli panggul karena ijazahnya dihancurkan, Madina kini diminta rujuk. Adnan berambisi merebut putra mereka demi mengamankan warisan, meski sempat menelantarkannya. Di tengah luka masa lalu dan hadirnya pria baru yang tulus, Adnan mencoba memulihkan nama baik Madina. Akankah Madina kembali atau memilih bangkit?

Bukan Wanita Biasa Bab 1

"Buka jilbabnya!"

"Baik, Tuan."

Seorang pria yang mendapat perintah dari bosnya langsung saja melaksanakan titah untuk melucuti jilbab yang tersemat di kepala wanita yang tengah tak sadarkan diri. Wanita itu masih saja menutup mata lantaran bahaya tengah di depan mata. Semuanya karena bius yang masih bereaksi di tubuhnya.

Jilbabnya telah terlepas, memperlihatkan mahkota hitam yang terurai begitu cantik. Begitupun dengan baju dan celana panjangnya yang kini hanya tersisa kaos dan celana dalam saja. Kedua pria di hadapannya sontak menelan ludah melihat ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.

"Sekarang kamu keluar, tunggu di lobby."

"Baik, Tuan Smith."

Sekarang tersisa mereka berdua saja di dalam kamar hotel. Sebelum menjalankan aksinya untuk berkelana pada kenikmatan dunia, pria yang dipanggil Smith itu mengambil potret wanita itu dengan ponsel pintarnya. Satu lengkungan senyum menyeringai sebelum akhirnya Smith juga membuka setelan jas hitam serta kaos yang melekat di tubuh atletisnya. Ia melemparkannya ke lantai dengan hasrat yang telah sampai di ubun-ubun. Tak sabar untuk segera bertempur dengan segala yang ada di tubuh sang wanita.

Belaian dan sentuhan mendarat dengan mulus di pipinya yang halus. Seluruh wajah pun telah diciumnya, membuat perlahan tersadar mengerjapkan mata. Lantas kelopak mata itu terbuka memperlihatkan sorot yang indah. Sesaat tatapannya bingung di mana dia berada. Langsung saja Smith menindihnya tanpa kata. Mencengkram kedua tangannya penuh nafsu bersiap menjelajah di atas dua menara yang konon bisa mengeluarkan mata air.

Tak Smith pedulikan teriakan minta tolong dari makhluk lemah yang berstatuskan istri orang itu. Namun tetap saja Smith tak fokus karena wanita itu memberontak kuat diiringi tangisan minta dilepaskan.

"Hmm ... hmmm ...,"

Smith membekap mulut wanita itu untuk tak mengeluarkan suara. Hembusan nafas dari keduanya saling menyatu karena jarak yang begitu dekat.

"Diam! Percuma saja kamu berteriak, kamar hotel ini kedap suara. Jadi jangan buang tenagamu, lebih baik nikmati saja permainanku!" ucap Smith pelan dengan menghapus air mata yang terus mengalir darinya.

"Tolong ... jangan lakukan ini padaku ...."

Rengekan wanita itu justru membuat Smith merasa tertantang. Dalam hati ia mencemoohnya karena wanita itu begitu bodoh tak ingin dibawa pada kenikmatan duniawi. Padahal tugasnya hanya diam saja, biarkan Smith yang memberikan gelora nikmat dengan beberapa kecupan di tubuhnya yang nyatanya begitu menggoda.

Merasa leher jenjangnya tak dapat diraih karena terus memberontak, langsung saja Smith menghirup aroma di belahan dada sang wanita. Wangi tubuhnya yang alami membuat Smith ingin menuntaskan sesegera mungkin. Lantas ia meninggalkan jejak merah di sana dengan bibirnya. Menenggelamkan wajahnya di antara dua gundukan taman surga.

Bugh!

Pusaka Smith mendapatkan tendangan dari wanita itu. Membuatnya bangun dan meringis kesakitan, kilat matanya mengeluarkan amarah melihat wanita yang segera terduduk memeluk lutut. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Nampak wanita itu begitu ketakutan.

Plak!

Tanpa rasa kasihan, Smith mendaratkan tamparan pada wanita itu dengan tangan kekarnya. Meninggalkan bekas merah di wajahnya yang sembab oleh air mata.

Lagi. Smith menamparnya yang kedua kali, buah dari kemarahannya yang tak dapat dielakkan lagi. Saat hasrat yang sedang naik-naiknya, tiba-tiba sesuka hati wanita itu menendangnya di kala lengah. Kurang ajar.

"Dasar bodoh! Kamu tinggal nikmati saja tapi bersikap diam saja tak bisa?" hardik Smith.

"Tolong ... jangan lakukan itu padaku, tolong ...,"

Smith tersenyum mengejek mengangkat sebelah mulutnya. "Serahkan dulu seluruh tubuhmu, baru bisa bebas."

Wanita itu mengangkat wajahnya. "Jika tak mau melepaskanku, siksa saja aku sepuasmu, aku lebih ridho ketimbang kamu menyentuh tubuhku!" teriaknya.

Dari sekian wanita yang melayaninya, Smith tidak pernah mendapat penolakan seperti ini. Meski sebelumnya ia tahu, dengan wanita ini aksinya tidak akan semulus biasanya. Dalam hati Smith merutuk pada anak buahnya, karena tak becus dalam memberikan obat bius.

Smith menarik nafas dan mengeluarkannya dengan kasar. Lain hati, sisi prikemanusiaannya merasa iba melihat wanita itu begitu terpukul. Walau bagaimana pun, ia dilahirkan dari rahim seorang wanita, dan ibunya berhijab sama seperti wanita di hadapannya. Meski pada kenyataannya, Smith seringkali menodai banyak perempuan dan mencampakkannya sesuka hati.

"Siapa namamu?" tanya Smith sedikit melunak.

"Madina."

Tanpa menoleh Madina menyebut namanya. Tubuhnya masih bergetar menahan ketakutan. Ia tak menyangka dalam hidupnya akan mendapatkan sejarah menghinakan. Entah bagaimana ceritanya ia bisa berada di hotel ini bersama lelaki biadab yang hampir memperkosanya. Ingatannya cukup buntu untuk memperjelas beberapa jam ke belakang. Terakhir, ia berada di rumah sakit untuk mengecek kehamilannya, bukan tempat terkutuk ini.

"Jika kamu masih punya hati tolong keluarkan aku dari sini," pinta Madina kemudian.

Smith menarik nafas panjang. "Boleh saja. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, setelah ini hidupmu tidak akan baik-baik saja. Kalau mau aman, bersenang-senanglah denganku satu jam saja."

"Dengan kamu memperlakukan hal ini padaku hidup saya sudah tidak baik-baik saja. Jadi jangan tawari hal laknat apa pun lagi. Sudah cukup kamu memperlakukanku bak sampah." Madina bersungut penuh amarah.

Smith malah tertawa lebar melihat kemarahan Madina. "Hei ... kamu pikir aku sudah menodaimu? Jika dengan perbuatanku tadi membuatmu merasa telah jadi sampah maka kamu terlalu sok suci. Aku hanya menawarkan kebaikan, tetapi rupanya kamu belum paham."

"Tidak ada kebaikan di atas sebuah dosa. Yang kamu lakukan padaku benar-benar salah!"

Smith menepis lengannya dan beringsut turun menuju sopa. "Ah, sudahlah, aku tak butuh ceramahmu. Pakai kembali bajumu."

Entah mimpi apa semalam sampai Madina harus berhadapan dengan situasi seperti ini. Tak mau berlama-lama dengan lelaki itu, Madina meraih kembali pakaiannya yang tergeletak di atas ranjang. Lantas ia berjalan menuju toilet dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sementara Smith hanya menyunggingkan senyum tipis dengan menggelengkan kepala melihat tingkah wanita itu yang menurutnya aneh.

Guyuran air dari shower pada tubuh Madina seolah bukan hanya menghilangkan jejak air liur lelaki tadi, tetapi juga menghilangkan kotoran yang menimpa harga dirinya. Tangisnya pecah lagi di dalam sana. Mewakili kemarahan, kesedihan, dan kebingungan yang bergejolak dalam isi kepala.

Apa yang harus Madina jelaskan pada suaminya jika pulang nanti. Apa lagi saat sekarang Madina melihat ke cermin, nampak bekas merah tercetak jelas di belahan dadanya. Lagi, anak sungai mengalir lagi dari sudut matanya. Menangisi kebodohannya.

Jika saja ia tidak pingsan tadi, mungkin harga dirinya masih utuh. Tiada lagi lelaki mana pun yang bisa leluasa melihat tubuhnya kecuali Adnan—suami tercintanya. Namun begitu Madina masih selamat dan dikatakan beruntung, karena tubuhnya belum sepenuhnya diambil oleh lelaki tadi. Meskipun tidak bisa dinikmati, tetap saja tubuh Madina sudah dilihatnya secara jelas. Dan itu sangat memalukan.

Smith yang sudah rapi dengan setelan jas hitamnya, berdiri saat Madina keluar dari toilet dengan mengenakan pakaiannya lagi. Wajah wanita itu nampak ditekuk, Smith paham perasaan dan pikirannya. Model wanita sepertinya memang tidak mudah melabuhkan hati atau hasrat pada sembarang lelaki. Namun Smith tak peduli.

"Mau diantar?" tawar Smith basa-basi.

Madina menatap nyalang setelah menyambar tasnya di atas nakas. Lekat ditatapnya secara tajam seolah akan menghabisi. "Tidak perlu!"

"Lagi-lagi kamu menolak tawaran baikku. Ingat Nona Madina ... tawaranku mengandung negosiasi yang sangat menguntungkan. Sekali lagi saya tawarkan, jika kamu mau diantar, maka selanjutnya hidupmu aman. Tetapi jika tidak, lihat saja nanti kelanjutan hidupmu!"

"Terserah." Madina melenggang keluar melewati Smith tanpa peduli ucapannya yang terdengar seperti ancaman.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Bukan Wanita Biasa

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam. Apakah pernikahan ini berjalan atas sisa cinta, atau justru menjadi ajang pembalasan dendam atas sakit hati masa lalu? Kini, sebagai suami istri, keduanya harus berkomitmen meski bayang-bayang masa lalu terus mengusik. Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, berbagai rahasia dan konflik pun mulai bermunculan, menguji kesetiaan serta keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali dengan membawa wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menawarkan janji pernikahan palsu demi menikahi perempuan itu. Sebagai putri bangsawan sekaligus menantu dari dinasti konglomerat, aku menolak menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan ini, aku akan memastikan dia jatuh miskin tanpa sisa.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Alicia Huang rela mendonorkan sumsum tulang belakang demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith. Namun, ia mengajukan syarat agar Anthony bersedia menikahinya. Anthony pun setuju dengan satu tuntutan mutlak: pernikahan mereka wajib dirahasiakan dari publik. Kini, Alicia harus menjalani hari-hari sebagai istri yang disembunyikan layaknya wanita simpanan. Akankah pernikahan kontrak penuh rahasia ini menumbuhkan benih cinta sejati, atau justru menyisakan luka mendalam bagi mereka?
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi membahagiakan Satria, ia bahkan rela memohon sambil menangis agar sang suami bersedia menikah lagi. Satria sempat menolak rencana itu karena tidak ingin melukai perasaannya. Namun, di balik pengorbanan tulus Fatma sebagai bukti cinta terakhirnya, sebuah kenyataan pahit justru terungkap. Fatma harus menerima fakta menyakitkan bahwa suaminya ternyata tidak pernah mencintainya.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Pasca dikhianati saudara angkat dan tunangannya sekembalinya dari desa, Sabrina memilih membalas dendam lewat Charles, paman sang mantan. Walau Charles sempat menolak perasaan setelah malam intim mereka, Sabrina berhasil memicu harga diri pria itu hingga terikat selamanya. Kini berstatus sebagai bibi mantannya, Sabrina yang kerap diremehkan ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar. Ia membuktikan diri bukan pemburu harta, melainkan pemilik takhta yang sesungguhnya.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu per satu orang di sekitarku tewas secara mengerikan. Mulai dari sahabat, kerabat dekat, hingga musuh-musuh yang pernah berbuat jahat kepadaku, semua berakhir tragis. Sang pembunuh berdarah dingin beraksi sangat rapi tanpa meninggalkan bukti sedikit pun. Teror mencekam ini terus berlanjut, memakan korban baru tanpa bisa dihentikan. Kini, di tengah misteri yang tak terpecahkan, nyawaku sendiri pun terancam menjadi target berikutnya dari sosok misterius yang mengintai.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED