"Buka jilbabnya!"
"Baik, Tuan."
Seorang pria yang mendapat perintah dari bosnya langsung saja melaksanakan titah untuk melucuti jilbab yang tersemat di kepala wanita yang tengah tak sadarkan diri. Wanita itu masih saja menutup mata lantaran bahaya tengah di depan mata. Semuanya karena bius yang masih bereaksi di tubuhnya.
Jilbabnya telah terlepas, memperlihatkan mahkota hitam yang terurai begitu cantik. Begitupun dengan baju dan celana panjangnya yang kini hanya tersisa kaos dan celana dalam saja. Kedua pria di hadapannya sontak menelan ludah melihat ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
"Sekarang kamu keluar, tunggu di lobby."
"Baik, Tuan Smith."
Sekarang tersisa mereka berdua saja di dalam kamar hotel. Sebelum menjalankan aksinya untuk berkelana pada kenikmatan dunia, pria yang dipanggil Smith itu mengambil potret wanita itu dengan ponsel pintarnya. Satu lengkungan senyum menyeringai sebelum akhirnya Smith juga membuka setelan jas hitam serta kaos yang melekat di tubuh atletisnya. Ia melemparkannya ke lantai dengan hasrat yang telah sampai di ubun-ubun. Tak sabar untuk segera bertempur dengan segala yang ada di tubuh sang wanita.
Belaian dan sentuhan mendarat dengan mulus di pipinya yang halus. Seluruh wajah pun telah diciumnya, membuat perlahan tersadar mengerjapkan mata. Lantas kelopak mata itu terbuka memperlihatkan sorot yang indah. Sesaat tatapannya bingung di mana dia berada. Langsung saja Smith menindihnya tanpa kata. Mencengkram kedua tangannya penuh nafsu bersiap menjelajah di atas dua menara yang konon bisa mengeluarkan mata air.
Tak Smith pedulikan teriakan minta tolong dari makhluk lemah yang berstatuskan istri orang itu. Namun tetap saja Smith tak fokus karena wanita itu memberontak kuat diiringi tangisan minta dilepaskan.
"Hmm ... hmmm ...,"
Smith membekap mulut wanita itu untuk tak mengeluarkan suara. Hembusan nafas dari keduanya saling menyatu karena jarak yang begitu dekat.
"Diam! Percuma saja kamu berteriak, kamar hotel ini kedap suara. Jadi jangan buang tenagamu, lebih baik nikmati saja permainanku!" ucap Smith pelan dengan menghapus air mata yang terus mengalir darinya.
"Tolong ... jangan lakukan ini padaku ...."
Rengekan wanita itu justru membuat Smith merasa tertantang. Dalam hati ia mencemoohnya karena wanita itu begitu bodoh tak ingin dibawa pada kenikmatan duniawi. Padahal tugasnya hanya diam saja, biarkan Smith yang memberikan gelora nikmat dengan beberapa kecupan di tubuhnya yang nyatanya begitu menggoda.
Merasa leher jenjangnya tak dapat diraih karena terus memberontak, langsung saja Smith menghirup aroma di belahan dada sang wanita. Wangi tubuhnya yang alami membuat Smith ingin menuntaskan sesegera mungkin. Lantas ia meninggalkan jejak merah di sana dengan bibirnya. Menenggelamkan wajahnya di antara dua gundukan taman surga.
Bugh!
Pusaka Smith mendapatkan tendangan dari wanita itu. Membuatnya bangun dan meringis kesakitan, kilat matanya mengeluarkan amarah melihat wanita yang segera terduduk memeluk lutut. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Nampak wanita itu begitu ketakutan.
Plak!
Tanpa rasa kasihan, Smith mendaratkan tamparan pada wanita itu dengan tangan kekarnya. Meninggalkan bekas merah di wajahnya yang sembab oleh air mata.
Lagi. Smith menamparnya yang kedua kali, buah dari kemarahannya yang tak dapat dielakkan lagi. Saat hasrat yang sedang naik-naiknya, tiba-tiba sesuka hati wanita itu menendangnya di kala lengah. Kurang ajar.
"Dasar bodoh! Kamu tinggal nikmati saja tapi bersikap diam saja tak bisa?" hardik Smith.
"Tolong ... jangan lakukan itu padaku, tolong ...,"
Smith tersenyum mengejek mengangkat sebelah mulutnya. "Serahkan dulu seluruh tubuhmu, baru bisa bebas."
Wanita itu mengangkat wajahnya. "Jika tak mau melepaskanku, siksa saja aku sepuasmu, aku lebih ridho ketimbang kamu menyentuh tubuhku!" teriaknya.
Dari sekian wanita yang melayaninya, Smith tidak pernah mendapat penolakan seperti ini. Meski sebelumnya ia tahu, dengan wanita ini aksinya tidak akan semulus biasanya. Dalam hati Smith merutuk pada anak buahnya, karena tak becus dalam memberikan obat bius.
Smith menarik nafas dan mengeluarkannya dengan kasar. Lain hati, sisi prikemanusiaannya merasa iba melihat wanita itu begitu terpukul. Walau bagaimana pun, ia dilahirkan dari rahim seorang wanita, dan ibunya berhijab sama seperti wanita di hadapannya. Meski pada kenyataannya, Smith seringkali menodai banyak perempuan dan mencampakkannya sesuka hati.
"Siapa namamu?" tanya Smith sedikit melunak.
"Madina."
Tanpa menoleh Madina menyebut namanya. Tubuhnya masih bergetar menahan ketakutan. Ia tak menyangka dalam hidupnya akan mendapatkan sejarah menghinakan. Entah bagaimana ceritanya ia bisa berada di hotel ini bersama lelaki biadab yang hampir memperkosanya. Ingatannya cukup buntu untuk memperjelas beberapa jam ke belakang. Terakhir, ia berada di rumah sakit untuk mengecek kehamilannya, bukan tempat terkutuk ini.
"Jika kamu masih punya hati tolong keluarkan aku dari sini," pinta Madina kemudian.
Smith menarik nafas panjang. "Boleh saja. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, setelah ini hidupmu tidak akan baik-baik saja. Kalau mau aman, bersenang-senanglah denganku satu jam saja."
"Dengan kamu memperlakukan hal ini padaku hidup saya sudah tidak baik-baik saja. Jadi jangan tawari hal laknat apa pun lagi. Sudah cukup kamu memperlakukanku bak sampah." Madina bersungut penuh amarah.
Smith malah tertawa lebar melihat kemarahan Madina. "Hei ... kamu pikir aku sudah menodaimu? Jika dengan perbuatanku tadi membuatmu merasa telah jadi sampah maka kamu terlalu sok suci. Aku hanya menawarkan kebaikan, tetapi rupanya kamu belum paham."
"Tidak ada kebaikan di atas sebuah dosa. Yang kamu lakukan padaku benar-benar salah!"
Smith menepis lengannya dan beringsut turun menuju sopa. "Ah, sudahlah, aku tak butuh ceramahmu. Pakai kembali bajumu."
Entah mimpi apa semalam sampai Madina harus berhadapan dengan situasi seperti ini. Tak mau berlama-lama dengan lelaki itu, Madina meraih kembali pakaiannya yang tergeletak di atas ranjang. Lantas ia berjalan menuju toilet dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Sementara Smith hanya menyunggingkan senyum tipis dengan menggelengkan kepala melihat tingkah wanita itu yang menurutnya aneh.
Guyuran air dari shower pada tubuh Madina seolah bukan hanya menghilangkan jejak air liur lelaki tadi, tetapi juga menghilangkan kotoran yang menimpa harga dirinya. Tangisnya pecah lagi di dalam sana. Mewakili kemarahan, kesedihan, dan kebingungan yang bergejolak dalam isi kepala.
Apa yang harus Madina jelaskan pada suaminya jika pulang nanti. Apa lagi saat sekarang Madina melihat ke cermin, nampak bekas merah tercetak jelas di belahan dadanya. Lagi, anak sungai mengalir lagi dari sudut matanya. Menangisi kebodohannya.
Jika saja ia tidak pingsan tadi, mungkin harga dirinya masih utuh. Tiada lagi lelaki mana pun yang bisa leluasa melihat tubuhnya kecuali Adnan—suami tercintanya. Namun begitu Madina masih selamat dan dikatakan beruntung, karena tubuhnya belum sepenuhnya diambil oleh lelaki tadi. Meskipun tidak bisa dinikmati, tetap saja tubuh Madina sudah dilihatnya secara jelas. Dan itu sangat memalukan.
Smith yang sudah rapi dengan setelan jas hitamnya, berdiri saat Madina keluar dari toilet dengan mengenakan pakaiannya lagi. Wajah wanita itu nampak ditekuk, Smith paham perasaan dan pikirannya. Model wanita sepertinya memang tidak mudah melabuhkan hati atau hasrat pada sembarang lelaki. Namun Smith tak peduli.
"Mau diantar?" tawar Smith basa-basi.
Madina menatap nyalang setelah menyambar tasnya di atas nakas. Lekat ditatapnya secara tajam seolah akan menghabisi. "Tidak perlu!"
"Lagi-lagi kamu menolak tawaran baikku. Ingat Nona Madina ... tawaranku mengandung negosiasi yang sangat menguntungkan. Sekali lagi saya tawarkan, jika kamu mau diantar, maka selanjutnya hidupmu aman. Tetapi jika tidak, lihat saja nanti kelanjutan hidupmu!"
"Terserah." Madina melenggang keluar melewati Smith tanpa peduli ucapannya yang terdengar seperti ancaman.
Jam menunjukan pukul delapan malam, sepasang mata teduh tak beranjak dari penantiannya di dekat jendela. Setia melihat langit hitam dan gerbang yang akan terbuka karena kedatangan istri tercinta. Berkali-kali melihat notifikasi ponsel dari sang istri, tetapi tak ada satu pun pesan yang dikirimkannya sekadar untuk menghilangkan cemas dalam dada. Tak biasanya.
Terakhir jam sepuluh pagi tadi istrinya mengabari jika akan pergi ke restoran bertemu dengan beberapa pengurus butik yang di kelolanya, untuk menitipkan bahwa selama sepekan ke depan Madina tidak bisa mengontrol karena akan ada acara. Acara yang sangat dinantikan Adnan. Ia akan pergi ke Paris untuk merayakan ulang tahun pernikahannya yang keenam sekaligus memberi hadiah istimewa pada Madina yang sedang mengandung anak ketiga.
Kebahagiaan memang terus menyertai Adnan dalam pekan ini. Selain proyek di perusahaan lancar dan tidak ada kendala, hatinya juga disuguhkan dengan kabar gembira bahwa Madina telah positif garis dua. Meskipun keluarga berharap anak yang lahir kali ini adalah laki-laki, tetapi Adnan tidak begitu mempermasalahkan, meskipun hati kecil sangat berharap demikian. Baginya, dengan keluarga rukun serta sehat, itu adalah hal termahal yang tidak semua orang bisa membelinya.
Deru mobil membuyarkan penantian, seutas senyum tercipta begitu manis di bibir sana. Bersyukur karena kepulangan Madina yang dirindukan.
Saat memasuki pintu rumah, baru kali ini sepasang kaki itu ragu untuk melangkah menyambut wujud rindu. Kejadian yang dialaminya hari ini seolah membunuh dan membabat habis rasa percaya dirinya pada harapan rumah tangga sejahtera sampai surga bersama Adnan. Takut ... itulah singkat kata yang dirasakannya saat ini.
"Kamu habis dari mana, Madina?" seloroh Adnan sesaat setelah membukakan pintu kamar.
Madina terkesiap kaget karena suaminya belum tidur. Meskipun tahu, ini belum terlalu malam.
"M-mas? Assalaamu'alaikum, Mas. Maaf aku terlambat pulang ...,"
Adnan menautkan alis saat Madina mencium punggung tangannya. Dingin sekali. "Wa'alaikumsalaam, bidadari Mas yang cantik ini, tapi kenapa tangannya dingin? Kamu sakit?"
Entah ini karena ketakutannya yang berlebihan, atau karena baru saja mandi. Madina bingung harus menjawab yang sejujurnya atau menunggu waktu.
"T-tidak, Mas. Mungkin dari AC mobil."
"Kalau kamu tidak enak badan, istirahat saja. Aku juga sudah makan tadi di kantor. Anak-anak juga sudah tidur sama Bi Murti, tadi sempat tanyain kamu," jelas Adnan, membuat Madina semakin merasa bersalah pada anak-anak dan suaminya.
"Iya, Mas."
"Kamu sudah makan?"
Madina mengangguk. Meski terakhir ia makan adalah tadi siang saat di restoran. Bayang-bayang perlakuan pria brengsek tadi teramat cukup membuatnya kenyang, bukan kenyang perut, melainkan kenyang pikiran yang terus disuguhi kebingungan dan rasa takut.
Lantas mereka berdua masuk ke kamar, dan Adnan menguncinya dari dalam. Sepasang tangan berbulu dan kekar itu melingkar di perut sang istri, begitu nyaman memeluknya dari belakang dengan mendaratkan dagu di pundak bidadarinya. Makhluk ciptaan Tuhan yang menurutnya sangat lemah lembut. Mampu menentramkan hati yang gundah gulana dengan sekali kerjapan memandangnya.
"Kalau Mas malam ini lagi mau, kamu bagaimana?"
Begitulah Adnan. Selalu meminta izin jika ingin haknya sebagai suami ditunaikan. Perlakuannya yang manis dan sikapnya yang hangat dengan segala perhatiannya, lagi-lagi menghadirkan rasa bersalah pada benak Madina.
"Emm ... aku kurang enak badan, Mas."
Menghindar. Itulah sikap yang saat ini sedang dilakukan Madina pada suaminya. Bertolak belakang dengan perasaan yang menggebu ingin meminta perlindungan. Jujur, ingin sekali Madina menangis di dada bidang sana, mencurahkan segala yang terjadi dan memohon maaf karena tak bisa menjaga harga diri. Namun semuanya hanya bayang semu, Madina tak punya nyali sekadar untuk menatap tatapannya. Tak yakin jika Adnan seratus persen akan mempercayainya.
"Aku mau istirahat, Mas."
Madina beranjak ke toilet untuk mengambil air wudu. Lagi ia termenung di depan cermin. Tangisnya membuncah kembali sesaat ingatan jahanam itu muncul lagi di kepala. Ia tak berani memberikan tubuhnya malam ini pada Adnan lantaran ada bekas merah di tengah dadanya. Tak bisa dibayangkan jika sampai Adnan melihatnya.
"Maafkan aku, Mas, maaf ...."
Adnan merasa Madina berbeda hari ini. Tidak biasanya Madina menolak ajakannya, padahal sudah cukup lama ia tak memadu kasih lagi karena kesibukan masing-masing. Terakhir ia melakukannya seminggu yang lalu.
Denting jarum jam terasa begitu keras menusuk pendengaran di keheningan malam. Sudah cukup lama istrinya berada di toilet. Entah apa yang dilakukannya sampai harus menyita waktu di sana. Membuat lelaki berkulit sawo matang itu khawatir.
Tok tok tok!
"Madina? Kamu kenapa lama sekali, Sayang?"
Hening. Tak ada jawaban. Sudah lama juga Adnan tidak mendengar gemericik air. Sebenarnya apa yang dilakukan sang istri.
"Mad—"
Pintu terbuka saat Adnan akan memanggilnya lagi. Ia menelisik wajah sang istri yang basah, begitu pun rambutnya. Kedua matanya merah seperti habis menangis. Yang menjadi perhatian Adnan kali ini adalah pipi istrinya yang merah seperti bekas ditampar. Ia tadi tak begitu melihatnya karena terhalangi oleh jilbab. Berbeda dengan sekarang yang nampak jelas.
Sigap, Adnan meraih Madina ke dalam pelukan. Ia yakin istrinya sedang tidak baik-baik saja. Ditahan sebagaimana pun, hakikat seorang wanita adalah rapuh di hadapan suaminya, maka runtuhlah anak sungai yang sedari tadi bergemuruh dalam dada. Madina menangis sejadi-jadinya di pelukan sang imam sambil terus meracau minta maaf.
Adnan tak tahu maksud minta maaf yang diucapkan istrinya. Yang jelas, ia ingin Madina tenang terlebih dulu dengan puas menangis di tubuh pelindungnya. Jujur, dengan istrinya terluka seperti ini, terluka pula dirinya. Karena Adnan menganggap ia dan Madina adalah dua sayap yang di mana satu sayap terluka maka terlukalah keduanya.
Adnan akan buat perhitungan pada seseorang yang telah menampar dan membuat sedih istrinya seperti ini.
"Tidurlah, tenangkan dirimu, tapi janji besok kamu harus menjelaskan semuanya sama Mas." Adnan mengusap rambut Madina dan mengecup keningnya.
Madina hanya mengangguk dengan isak yang masih tersisa. Mereka berdua beranjak ke atas ranjang setelah mematikan lampu. Tidak ada lagi percakapan setelah itu, Adnan pun mulai mendengkur halus berselimutkan mimpi. Sementara Madina, tak bisa tidur sama sekali. Sedari tadi pikirannya diliputi kegelisahan.
Sampai akhirnya notifikasi masuk di ponselnya. Setelah diraih benda pipih itu, alangkah terkejutnya saat mendapati nomor yang tidak dikenal mengirimkan sebuah foto dirinya bersama pria brengsek tadi tengah berpelukan.
Madina menutup mulut. Betapa malu dirinya saat melihat tubuhnya tanpa busana. Ia hanya memakai singlet saja. Ternyata pria tadi sebelum menindih tubuhnya telah mengambil foto yang dimodifikasi seolah-olah sama-sama mau. Terlihat tangan Madina memeluk pria itu begitu juga sebaliknya. Padahal Madina tidak ingat sama sekali. Dasar picik.
[Bagaimana? Kita serasi bukan?]
Satu pesan masuk membuat darah yang mengalir mendidih di ubun-ubun. Madina benar-benar marah.
Pagi mulai beranjak meninggalkan malam, sayup-sayup terdengar isakan dari seseorang di atas sajadah sana. Adnan mengucek penglihatannya lantas menghidupkan lampu. Ternyata waktu sudah menunjukan pukul lima pagi, dan itu artinya telah masuk waktu subuh.
Tak biasanya Madina tidak membangunkan. Biasanya bidadarinya itu akan membangunkannya dengan kecupan mesra dan mengajaknya sembahyang bersama. Tetapi ia lebih memilih melanjutkan tangis yang belum usai.
Ada apa sebenarnya denganmu, Madina?
Adnan mengangsurkan kedua kaki pada lantai dan berjalan ke toilet untuk mengambil air wudu. Madina yang tahu suaminya sudah bangun langsung menggelar sajadah di depannya. Menyiapkan sarung, koko, serta kopiah.
Setelah merenung semalaman di atas sajadah, akhirnya Madina mendapat keberanian. Tekadnya sudah bulat, usai suaminya salat nanti, Madina akan berkata yang sejujurnya terkait kejadian kemarin. Ia tak mau suaminya tahu dari orang lain. Itu akan lebih rumit.
"Mas salat saja, aku sudah," pungkas Madina saat suaminya sudah berada di depan, siap melaksanakan kewajiban. Ia hanya mengangguk dilanjutkan dengan takbir.
Di belakangnya, Madina mengamati dengan seksama setiap gerakan suaminya. Anak sungai mengalir lagi, tak bisa membayangkan akan seperti apa reaksi Adnan setelah Madina jujur nanti. Apakah bisa menjadi makmum di belakangnya lagi atau justru ... ah, Madina tak mampu untuk meneruskan segala kemungkinan yang terjadi nanti.
Harapannya adalah satu, Adnan mempercayai semua perkataannya.
Pria kebanggaannya itu mengucap salam ke kanan dan ke kiri sebagai penutup salat. Lantas berbalik menghadap sang istri, mengulurkan tangan untuk diciumnya. Madina yang sedari tadi menunggunya selesai langsung meraih tangan sang suami. Seperti biasa, ia pun mendapat kecupan dari Adnan di keningnya. Begitu lama. Madina berharap, ini bukanlah kecupan terakhir.
"Mas?"
"Iya, Sayang?"
Sejenak Madina terdiam, tapi tetap dilanjutkannya. "Aku mau bicara sesuatu. Ada yang harus aku jelaskan padamu sebelum kamu mengetahui dari orang lain, tapi sebelumnya aku minta kamu percaya padaku, Mas."
Adnan menarik nafas, seulas senyum tersirat untuk bidadarinya yang matanya begitu sembab dan merah. "Curahkanlah semuanya, Madina. Mas tahu kamu sedang ada masalah. Telinga Mas siap mendengar apa pun yang akan kamu utarakan, dan kamu jangan khawatirkan rasa percaya Mas padamu, selamanya akan tetap utuh, Madina."
Madina menunduk. Ia tahu suaminya akan bilang mempercayainya, tapi tidak dengan pengkhianatan. Karena Adnan sangat pantang dikhianati. Itu semua sebab orang tuanya yang memiliki sejarah saling mengkhianati. Hingga akhirnya mereka bercerai dan memilih jalan masing-masing. Meninggalkan jejak trauma pada diri Adnan yang menjadi saksi di setiap rangkaian sejarah kelamnya.
Maka dari itu dalam pernikahan, Adnan ingin menjadi lelaki sebaik-baiknya. Jauh dari pengkhianatan yang akan menoreh luka pada kedua puterinya.
"Janji kamu harus percaya, Mas,"
"Iya, Mas pasti percaya. Sebentar, Mas punya sesuatu untuk kamu,"
Beranjak Adnan berdiri. Ia mengambil sesuatu dari dalam laci. Sebuah kado yang ia pesan secara khusus.
"Ini untukmu, bukalah."
"Apa ini, Mas? Bukannya tanggal pernikahan kita empat hari lagi?"
Lantas Adnan mencolek hidung Madina yang mancung. "Hari ini adalah hari ulang tahun kamu. Mas saja ingat, masa kamu lupa?"
Terharu. Madina menutup mulut saat sebuah kalung brilian ada dalam genggamannya. Madina tidak pernah meminta, tapi saat di mall seminggu yang lalu Madina pernah menunjuk kalung seperti ini dan mengatakan 'bagus' pada Adnan, tetapi bukan berarti ingin memilikinya.
Kemudian Adnan membuka mukenah dan memakaikan kalung tersebut di leher sang istri. Cantik sekali. Berharap Madina kembali ceria dan berhenti menangis.
"Terima kasih, Mas,"
"Sama-sama, Sayang. Sekarang cerita sama Mas, ada masalah apa sampai kamu terus-terusan nangis? Dan semalam kamu tidur di sini?"
Madina hanya menunduk, menyembunyikan bulir-bulir yang jatuh. Melihatnya serapuh ini membuat hati Adnan terenyuh. "Sebenarnya ada apa denganmu, Madina? Semalaman kamu pasti sudah banyak mengadu pada Yang Maha Kuasa, sekarang giliran Mas untuk mendengar keluh kesahmu."
Bukannya bicara, Madina malah semakin terisak. Ia hanya bingung harus mulai dari mana sisi pembicaraan yang pas agar suaminya percaya. Ia benar-benar takut Adnan tidak mempercayai dan malah menuduhnya mengkhianatinya. Sungguh, kehilangan kepercayaan dan cintanya lebih ditakuti saat ini.
Baru saja Madina akan membuka suara, sebuah dering telvon berbunyi dari ponsel milik Adnan yang terletak di atas ranjang.
"Sebentar,"
Adnan beranjak meraih benda pipih miliknya. Nama sang kakak tertulis jelas di layar sana. Segera ia menggeser ikon hijau untuk mengangkat panggilan.
"Iya, Mbak Felin? Kenapa tumben pagi-pagi telvon?" tanya Adnan langsung pada inti.
"Adnan? Barusan ada yang kirim foto sama Mbak. Apa Madina ada di sana?" seloroh Felin di seberang sana.
Adnan menautkan alis. Bingung dengan pertanyaannya. "Iya Madina ada di sini. Terus foto? Foto apa, Mbak?"
Glek.
Madina langsung mendongak dengan kedua mata yang membulat. Dadanya bertalu-talu bersamaan dengan rasa cemas. Jangan sampai foto yang dimaksud Mbak Felinda adalah foto yang dikirim pria brengsek itu semalam padanya. Jika benar, berarti pria jahanam itu memang berniat menghancurkan rumah tangganya dengan Adnan.
"Kamu cek sendiri ponselmu, Nan. Mbak gak mau jelasinnya, mau jalan langsung ke rumahmu sama Mama sekarang."
Tut. Tut. Tut.
Adnan hanya menggeleng dengan tingkah mbaknya yang membuat penasaran. Lantas segera memeriksa notifikasi untuk melihat apakah ada foto masuk yang dimaksud Mbak Felinda.
Madina segera menghampiri Adnan yang mematung dengan pandangan tertuju pada layar ponsel. Bahkan untuk menyentuh tubuh suaminya saja Madina takut. Ternyata pria itu benar-benar memporakporandakan rumah tangganya.
"Mas? Aku bisa jelasin, Mas."
Selangkah Madina mundur saat melihat tatapan suaminya saat ini. Tangan yang biasa mengelus segala gundah di hati itu tengah meremas penuh amarah pada ponselnya. Kemudian diperlihatkan tepat di depan wajah Madina?
"Lihat ini? Apa kurangku padamu, Madina? Sampai harus mencari sentuhan menjijikan dari pria lain?" bentak Adnan.
Luruh. Luruh sudah air matanya lagi. Ini yang Madina takutkan, suaminya tahu dari orang lain. Ternyata ia kalah cepat untuk menjelaskan dari mulutnya sendiri.
"Mas ... maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu,"
"Tidak bermaksud? Lalu ini apa, Hah?!"
PRANG!!
Adnan membanting ponselnya sendiri. Rasanya sangat muak jika terus berlama-lama menatap kemesraan istrinya dengan pria selain dirinya. Tak menyangka, di balik perangai lembut Madina tersimpan sifat yang sangat tercela. Ia bukan hanya menodai agama, selain membuat kotor tubuhnya, Madina telah mencoreng muka Adnan dengan penuh kesadaran. Sekaligus mengotori bahtera pernikahan yang selama ini begitu bersih tanpa cela.
Melihat Adnan yang murka, Madina langsung bersimpuh di kakinya. Ia tahu derai air mata yang tak terhitung bulirnya sudah tak akan bisa mengembalikan rasa empati suaminya. "Mas, aku mohon percayalah. Ini yang sejak kemarin menjadi kesedihanku. Aku sama sekali tidak sadar dan tidak mengenali pria itu. Aku dijebak, Mas."