"Wah. Uang Abang banyak sekali." Perempuan yang
memakai dress di atas lutut berwarna merah menyala itu menatap takjub
tumpukan uang di atas meja.
Seorang laki-laki yang duduk di samping perempuan itu
tersenyum bangga. "Iya, dong, Reta Sayang."
"Mana warnanya biru dan merah semua lagi. Nggak ada
yang ijo," ucapnya centil. Tangannya memegang tumpukan uang itu lalu mengipaskannya
pada wajah.
Reta menatap laki-laki di sampingnya. "Abang dapat dari
mana uang sebanyak ini?"
Mengembuskan asap rokok yang baru dihisapnya ia menjawab,
"Mertua Abang baru saja tanahnya kena pelebaran jalan tol. Baru cair tua
Bangka itu dan dapat banyak uang."
"Kok bisa, Bang? Yang dapat uang, kan mertua
Abang?" Laki-laki itu memang mempunyai seorang istri, bahkan dua orang
anak. Akan tetapi kelakuannya masih suka keluar dengan perempuan lain.
Hadi. Pria tinggi kurus dan cungkring itu tersenyum pongah.
"Istri Abang, kan dapat bagian pastinya, Sayang. Abang pakai saja uangnya
dengan alasan mau usaha." Lihatlah wajah laki-laki tamak dan tidak tahu
malu ini.
Mata perempuan bernama Reta itu membulat lucu. "Emang
Abang mau usaha apa?"
Hadi mematikan Putung rokoknya pada asbak. Ia duduk
mempersempit jarak di antara keduanya. Tangan kirinya merangkul bahu Reta yang
terekpose. "Dengar. Uang ini untuk kamu."
Lihatlah wajah bahagia Reta. "Beneran, Bang?"
"Iya dong. Semua ini untuk Reta seorang. Cinta Abang
yang sangat sexi dan cantik ini," ucap Hadi sembari menjawil dagu
Reta.
Reta tersenyum malu dan manja. Akan tetapi wajah perempuan
itu berubah sesaat kemudian. "Abang bohong ah."
Kening Hadi mengerut. "Kok bohong. Enggak dong."
"Katanya cinta sama Reta. Tapi tadi masih saja sebut
istri untuk yang di rumah."
Hadi tersenyum. Ia menyukai Reta yang cemburu padanya.
"Iya iya maaf, Sayang. Abang cuma keceplosan tadi. Tapi cinta Abang sama
kamu itu tidak bisa ditandingi."
"Ah Abang," ucap Reta manja yang membuat Hadi
tertawa.
Hadi memegang dagu Reta, menarik pelan dan membuat keduanya
saling bertatapan. Ia tersenyum simpul. "Reta, Sayang. Kita main,
yuk!"
Reta menunduk, ia mengangguk menahan senyuman. "Hayuk,
Bang."
Jam menunjukkan pukul empat. Para pekerja pabrik
berbondong-bondong keluar karena sudah waktunya pulang. Termasuk Hadi yang saat
ini tengah mengambil motor di parkiran.
Sebelum menyalakan mesin motor, ia memeriksa penampilannya
pada kaca spion. Sedikit membentuk rambutnya menyerupai jambul ala penyanyi
beken Syahrini.
"We, Di. Ayo pulang!" Seorang teman menepuk
pundaknya, membuat Hadi berjingkat karena terkejut.
Hadi menoleh. "Nanti dulu. Mau ngopi dululah."
Teman Hadi yang bernama Fairuz itu menggeleng. "Kau
ini, pulang kerja bukannya ke rumah nemuin anak istri malah keluyuran. Ngopi di
rumah, kan lebih enak. Gratis pula."
Hadi mengibaskan tangannya di depan wajah. "Halah. Kau,
kan memang suami takut istri," ejek Hadi.
"Eh, denger, ya. Kita sebagai laki-laki juga berhak
memanjakan diri di luar. Bagaimana? Ikut tidak?"
Fairuz menggeleng. Tahu betul apa yang dimaksud Hadi dengan
memanjakan diri itu. "Nggak usahlah. Aku mau pulang saja. Istriku pasti
khawatir kalau aku tak pulang-pulang," tolaknya dengan senyuman.
"Halah. Pulang sana kau ke ketiak istrimu."
Gerakan tangan mengusir itu pertanda Hadi sudah merasa jengkel dengan Fairuz.
Mengeluarkan motor dari parkiran, Hadi segera keluar dari
lingkungan pabrik. Sebuah warung yang terletak di pojokan luar pabrik bagian
belakang menjadi tujuannya.
Seorang perempuan dengan baju merah dengan panjang lengan
hanya sepundak yang dipadukan rok span coklat di atas lutut tersenyum ketika
melihat dirinya.
"Bang Hadi akhirnya datang juga," ucap perempuan
itu dengan manja. Langkahnya tampak gemulai menghampiri Hadi yang baru saja menstandarkan
motornya.
"Pasti dong, Reta Sayang. Kan Mas sudah kangen sama
kamu," balas Hadi yang menjawil dagu perempuan dengan bibir berhias
pewarna merah menyala.
Pemandangan itu dilihat semua orang yang ada di warung,
mereka hanya geleng kepala melihat laki-laki yang sudah mempunyai istri tetapi
kelakuannya seperti anak remaja.
"Bang Hadi mau kopi atau teh?" Reta merangkul
lengan Hadi ketika keduanya memasuki warung.
"Seperti biasa, Sayang."
"Siap." Hadi bergabung dengan penikmat kopi yang
lainnya. Ia menyapa yang ada di sana satu per satu.
Saat kopi sudah tiba, tidak lupa bermain mata dengan
perempuan bernama Reta.
***
Hadi memarkirkan motornya di pelataran rumah bersamaan
dengan azan magrib yang berkumandang. Sayup-sayup ia mendengar tangis dari
dalam rumah.
Laki-laki itu menghela napas dalam. "Pasti si bontot
yang nangis. Pasti Matun belum mandi juga. Ini nih yang bikin males pulang.
Suami pulang istri masih kucel. Mana bau lagi. Beda banget sama Reta yang
selalu menyambutku dengan cantik dan wangi."
Suara tangis semakin kencang terdengar, ia segera masuk dan
menemui sang istri. Benar saja. Daster lusuh menghiasi dengan rambut yang
diikat asal. Dalam gendongan istrinya anak mereka menangis.
"Dek. Rio kenapa?" tanyanya saat ia mendekat,
tidak terlalu dekat karena ia tidak betah dengan aroma sang istri.
Matun menoleh. "Bang, baru pulang?" Perempuan itu
mendekati suaminya dan meraih tangan untuk bersalaman.
Mau tidak mau Hadi pun menerimanya. Kening Matun terlipat
kala merasakan sesuatu, ia menatap suaminya penuh tanya. "Bang. Kok tangan
Abang bau parfum perempuan?"
Untuk sesaat Hadi terkejut, dalam hati ia menduga pasti
parfum Reta yang tertinggal. Namun, secepat itu ia memasang senyum.
"Mungkin parfum orang-orang kantor nempel di tangan Abang pas waktu kami
berjabat tangan. Tadi Abang bertemu mereka waktu mau pulang. Tahu sendiri orang
kantor parfumnya bagaimana, wanginya masya Alloh. Kalau ada orang kantor nih,
ya. Orangnya belum ada tapi baunya udah kecium, kalau udah lewat dan orangnya
udah nggak ada, baunya masih aja ketinggalan. Nggak laki nggak perempuan.
Maklum. Parfum mahal kali, ya?"
Matun ikut tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Jadi
Rio kenapa, Dek?"
"Susunya habis, Bang," ucap Matun.
Hadi menatap anaknya. "Bagaimana kalau kita sudahi saja
susunya Rio?"
Matun memandang suaminya terkejut. "Tapi, Bang—"
"Apa-apa, kan sekarang mahal. Coba kita siasati saja
bagaimana." Matun hanya diam, ia memandang putra bungsunya dan mencoba
menenangkan.
"Abang mau mandi dulu, ya. Magrib dulu. Habis itu biar
Abang yang gendong Rio."
Matun mengangguk. "Cepetan ya, Bang. Matun belum mandi
soalnya." Hadi tersenyum dan mengangguk. Ia memasuki kamar untuk mengambil
handuk.
"Lihat. Jauh sekali, kan bedanya. Parfum Reta saja
masih nempel di tanganku sampai rumah. Matun mah bikin ngelu,"
gerutu Hadi lirih. Tidak ingin istrinya mendengar.
Saat keluar dari kamar ia teringat anak pertamanya.
"Pendi mana, Dek?"
Matun yang masih mencoba menenangkan Rio menoleh sebentar.
"Ke masjid, Bang." Setelah mendapat jawaban Hadi segera menuju kamar
mandi.
Matanya membulat kala melihat baju kotor yang masih direndam
dalam bak besar. "Apa saja, sih yang dilakukan Matun di rumah? Sampai baju
saja belum dicuci?" Ia memegang dahinya sembari menggeleng.
Tidak mau ambil pusing, Hadi segera membersihkan dirinya.
Membasuh agar wangi Reta hilang meskipun sebenarnya ia tidak rela. Hanya saja,
ia tidak ingin Matun curiga.
***
Sepiring nasi dan ayam bumbu kecap serta tumis kangkung di
hadapannya, Hadi segera bersiap untuk menyantap makan malam.
Selain bau dan kucel juga gemuk, ini yang Hadi sukai dari Matun.
Tidak dipungkiri kalau masakan istrinya itu memang enak. Matun pun tahu selera
makannya.
Meskipun masakan Reta juga enak, tapi ia akui Matun lebih
jago. Daging tebal ia gigit, masuk ke mulut dan dikunyahnya.
"Bang. Abang sudah selesai belum?" teriak Matun
dari luar.
Hadi yang masih menikmati makanannya mendengus seketika.
"Sebentar ya, Dek!" teriaknya balik.
"Nggak tahu apa lagi enak-enak makan? Ganggu
saja." Ia masih menikmati makanannya. Bagi Hadi makan tanpa dinikmati
tidak bisa tenang.
Di lain sisi, Matun masih mencoba untuk menenangkan anak
bungsunya. Seorang perempuan dengan celana kulot datang mendekat.
"Nangis mulu, Tun?" Dia Niswa, kakaknya Matun.
Matun mendongak, "Iya, Mbak. Susunya abis."
"Dibuatkan lah, Tun."
Matun hanya tersenyum dan berucap tidak enak hati. "Rio
lagi dicoba lepas susu, Mbak."
Niswa yang mendengar terkejut. "Kenapa buru-buru. Belum
dua tahun juga." Matun hanya tersenyum, tidak mungkin mengatakan yang
sebenarnya.
Pandangan Niswa jatuh pada pakaian Matun. "Kamu belum
mandi, Tun."
Lagi-lagi Matun tersenyum. "Belum, Mbak."
"Hadi mana?"
"Tadi katanya mandi, Mbak. Mungkin sekarang salat
magrib."
"Hadeh," ucap Niswa. "Sini Rionya, kamu mandi
dulu sana. Udah gelap gini masih belum mandi." Niswa berusaha meraih Rio
dari gendongan Matun.
"Tapi, Mbak nggak capek emang?" Pasalnya, kakaknya
ini juga baru saja pulang kerja dari sift pagi. Meskipun pulangnya lebih
dulu dari Hadi, tapi Matun tahu kalau kakaknya baru saja membereskan rumah.
"Sudah. Timbang gendong ini." Rio sudah beralih
gendongan pada Niswa. "Wes. Ndang mandi sana."
Matun mengangguk. "Terima kasih, Mbak." Matun
segera masuk ke rumah untuk membersihkan diri.
Ia melihat suaminya yang makan sambil nonton tivi. Matun
menggeleng, tidak habis pikir dengan sang suami yang asyik makan. Akan tetapi,
perempuan itu berpikir positif. "Mungkin kelaparan dan lelah setelah
bekerja," ucapnya lirih.
Matun pun meninggalkan ruang tengah dan mengambil handuk di
dalam kamar, ia sedikit menghela napas kala melihat handuk bekas suaminya yang
tergeletak di atas ranjang.
Matun mengangkatnya. "Yah. Jadi basah, kan." Menoleh
pada bahu Matun berteriak! "Bang. Kalau selesai pakai handuk handuknya
digantung. Biar ranjangnya nggak basah."
"Iya." Di tempatnya hadi memutar bola matanya
malas. Meletakkan piring bekas makan, ia keluar dari rumah.
Melihat kakak iparnya yang sedang menggendong Rio. Hadi
mendekat. "Rionya anteng, Mbak?"
Niswa menoleh, "Iya." ucap Niswa. Hadi hanya
menyengir memperlihatkan giginya.
"Nih, tarok sana di dalam." Niswa memberikan Rio
pada Hadi. "Rio belum ada dua tahun. Jangan diputus dulu susunya.
Kasihan."
Tanpa kata Hadi hanya mengangguk, lalu segera masuk untuk
meletakkan Rio di kamar. Setelahnya ia memasuki area dapur, mendekati bak
cucian untuk ia cuci.
Matun yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat
suaminya. "Bang. Abang istirahat saja dulu."
"Nggak papa. Kamu pasti juga capek ngurus rumah
seharian. Biar aku bantu dikit-dikit." Matun tersenyum. Ia bersyukur
suaminya mau membantu.
"Terima kasih, Bang." Hadi mengangguk. Setelah
istrinya pergi, Hadi meliriknya sekilas.
"Hanya untuk formalitas, biar nggak dikatain suami
tega," ucapnya sembari menggilas pakaian dengan kaki.
Formalitas
***
"Rio, Sayang," panggil seseorang saat Matun
mengajak anak bungsunya bermain di depan rumah.
"Main apa, Sayang? Hem?"
"Main mobil-mobilan, Tante." Sugi. Kakak ipar
Matun datang dengan anak perempuannya.
Dalam keluarga Makijan, semua rumah anaknya baris dan saling
berdempetan. Dari arah selatan adalah rumahnya, ke utara di sampingnya rumah
sang kakak yang bernama Tami, sebelahnya lagi rumah Niswa.
Ketiga bangunan itu saling berdempetan. Sebelah utara rumah
Niswa ada gang kecil sebagai akses ke belakang di mana orang tua mereka
tinggal.
Sebelah utara gang kecil itu adalah rumah kakak laki-laki
Matun yang bernama Fidun, anak kedua dari Makijan dan suami dari sugi.
Matun masih mempunyai kakak perempuan lain, namanya Maria
yang kini tinggal bersama suaminya di desa sebelah. Ia juga masih mempunyai adik
laki-laki yang bernama Eko—belum menikah dan masih tinggal bersama orang tua
mereka.
Sugi memandang ke arah rumah Matun. "Sepi amat, Tun.
Pada ke mana?"
"Pendi ikut Pak ke sawah tadi. Katanya mau cari yuyu.
Kalau Bang Hadi ke rumah temennya."
Sugi hanya mengangguk dengan mulut berbentuk huruf O.
"Tun. Ikut, yuk!"
Matun menatap bingung. "Ke mana?"
"Kita makan bakso. Gimana?"
Matun terkekeh. "Mas Fidun baru gajian, ya?"
Memang. Kakak dan kakak iparnya yang satu ini sering sekali mengajak dia atau
Pendi makan di luar kalau baru saja gajian. Dan semua itu dibayari.
Terkadang, jika tidak sempat keluar maka Pendi akan diberi
uang saku.
Sugi mengibaskan tangan di depan wajah. "Ah, enggak.
Lagi pengen aja. Gimana? Kamu ajak Rio, aku ajak Ratna. Pandi ikut Pak ke
sawah, kan?"
Matun tampak menimang. "Udah, ayok."
"Ya udah. Aku ganti pakai celana dulu sama ambil
gendongan Rio, Mbak."
"Iya."
"Titip Rio dulu." Matun memasuki rumah, ia
mengganti daster lusuhnya dengan celana bahan agar mudah saat berjalan.
"Yuk, Mbak."
"Cepet banget."
"Timbang ganti ini." Matun menggendong Rio dan
Sugi menggandeng putrinya. Mereka berjalan ke arah jalan besar untuk makan
bakso langganannya.
Memang. Di desa ini belum banyak yang memiliki motor.
Sebagian besar pun masih sejenis motor Supri untuk para suami bekerja. Jadi,
berjalan adalah kebiasaan para istri di sini untuk bepergian.
"Capek nggak, Tun gendong Rio yang segede ini?"
Matun tersenyum. "Capek pasti, Mbak. Tapi mau bagaimana
lagi?"
"Gantian sini kalau capek."
"Eh, nggak usah, Mbak. Nanti aja."
"Bener?" Matun mengangguk. Keduanya kini berjalan
di samping pabrik keramik. Di sinilah suami Matun Hadi bekerja.
Pabrik ini termasuk besar dengan bayaran yang lumayan. Belum
lagi kalau tanggal merah tetap masuk, maka gajinya sama saja dua hari kerja.
Kadang, Matun bingung dengan keadaan. Suaminya yang bekerja
di pabrik keramik besar kenapa hidupnya masih begini-begini saja. Masih mending
kakak-kakaknya yang hanya bekerja di pabrik lain.
Fidun. Kakaknya yang kedua hanya bekerja di pabrik roti
biasa. Lalu suami dari kakak ketiga—hanya bekerja di pabrik karton kecil.
Ah, kalau kakaknya Niswa, kan memang suami istri bekerja
semua. Tidak heran. Akan tetapi, kakaknya Fidun. Hanya sang suami yang bekerja
tetapi kehidupannya terlihat mapan.
Matun melirik kakak iparnya itu. "Mbak,"
panggilnya. Sugi hanya menoleh dengan gumaman.
"Maaf, ya. Matun mau tanya."
"Tanya apa?" Kening Sugi terlipat.
"Sebelumnya Matun mau minta maaf. Kalau dilihat-lihat,
Mbak sama Mas Fidun tuh mapan. Bisa beliin anak ini itu. Mbak kerja juga?"
Sugi terkekeh. "Mbak mah ibu rumah tangga biasa. Yang
kerja cuma masmu saja." Matun mengangguk.
"Tapi kenapa Matun bisa beda sama Mbak, ya?"
tanyanya lirih.
"Beda gimana?"
Matun menghela napas. "Lihat Matun, Mbak. Baju kucel,
kalau Pendi minta uang jajan Matun sering nggak bisa kasih."
Mereka berhenti dengan Matun yang menatap Sugi dalam.
"Bagaimana sih, Mbak mengelola uang?"
Sugi tersenyum. "Ya dikelola. Beli sesuatu yang diperlukan,
yang bener-bener butuh. Untungnya masmu itu makannya nggak rewel, apa aja
masuk. Makan seadanya aja. Ya ... sesekali beli ayam atau daging buat nyenengin
anak-anak," ucapnya menatap Ratna yang Sugi gandeng.
"Beli ayam nggak setiap hari, Mbak?"
Lagi-lagi Sugi tertawa kecil. "Iya enggaklah. Makan
ayam setiap hari mau jadi apa. Nggak punya tabungan bisa-bisa. Ya seenggaknya
seminggu sekali lah. Kalau beli daging aja nggak barang mesti sebulan
sekali."
Matun mengerjap. Sesuatu menyadarinya. Selama ini mereka
kalau makan selalu menu yang bisa dikatakan mewah. Jika bukan ayam, maka segala
jenis ikan menjadi santapannya.
Itu pun bukan hanya dua atau tiga potong tiap hari. Lebih
dari lima potong karena sekali makan suaminya itu menghabiskan satu ikan utuh.
"Makan yang adanya itu bagaimana, Mbak."
"Ya seadanya aja. Masmu paling suka sambel-sambelan.
Daun ketela, singkong, lembayung, krai, kecipir. Itu paling suka masmu.
Anak-anak biasanya aku sediain telur. Kita mah yang orang tua ngalah aja,"
jelas Sugi.
Matun merenung. Makanan seperti itu, Hadi pasti akan
mengomel. Katanya, sedari kecil udah makan yang beginian, masak pas gede
setelah kerja sendiri makannya masih beginian. Matun menghela napas sangat
dalam.
"Sudah ah, ayok. Nggak makan bakso ini nanti."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sebuah warung bakso di pinggir jalan besar yang terkenal
enak menjadi tujuannya. Sayangnya, karena terkenal akan rasa yang enak mereka
harus mengantre terlebih dahulu.
"Pesen minumnya tiga, Mas." Mereka memilih tempat
duduk di bagian sudut warung. Tempat ini hanya ditutupi banner besar
untuk menghalangi pandangan dari orang yang lalu lalang di jalan raya.
Alhasil, masih bisa mereka lihat yang berseliweran di jalan.
"Lek Hadi," ucap Ratna. Hal itu mengejutkan kedua
orang dewasa di sana.
"Lek Hadi?" tanya Sugi pada anaknya.
Gadis kecil itu menoleh pada sang ibu, mengangguk lalu
menunjuk ke arah jalan Raya. Sugi dan Matun mengikuti arah pandang yang ditunjuk
Ratna.
Di seberang jalan, terlihat Hadi bersama seorang perempuan
berpakaian minim tengah mengobrol. "Itu, kan suamimu Hadi, Tun?"
Matun mengangguk. "Sama siapa dia, Tun?" tanya
Sugi.
Matun menggeleng. "Enggak tahu, Mbak."
Sesaat kemudian mata Matun membola karena terkejut.
Bagaimana tidak, sekarang dua orang itu berboncengan dengan mesra. Perempuan
itu memeluk Hadi erat ketika berada di boncengan, lalu keduanya pergi sebelum
Matun sempat memanggil suaminya.
"Mbak. Kok perempuan tadi mesra banget sama Bang Hadi.
Dia siapa, Mbak?"
"Mbak juga nggak tahu. Coba nanti tanya sama
suamimu." Perasaan Matun menjadi gelisah. Melihat suaminya tadi mereka
seperti pasangan saja.
"Mbak. Kita pulang saja, ya. Matun udah nggak selera
makan," ucap Matun tidak enak hati.
Sugi menimang. Ia pun mengangguk mengerti perasaan adik
iparnya. "Kita bungkus saja, ya?" Tidak ada bantahan dari Matun.
Pikirannya hanya tertuju pada sang suami dan perempuan berpakaian minim yang
dibonceng suaminya.
***
Matun-mondar mandir di depan rumah menunggu suaminya pulang.
Rio dan Pendi saat ini berada di rumah kakaknya Fidun. Entah kenapa tadi sang
kakak mengajak kedua anaknya, seperti tahu akan ada sesuatu.
"Ke mana Bang Hadi? Kok nggak pulang-pulang, sih?"
gerutunya. Berjalan ke utara lalu balik lagi ke selatan.
Suara motor yang ia kenali membuat Matun mengalihkan
pandangan, ia melihat suaminya yang baru saja datang.
Matun turun dari teras, menghampiri Hadi yang menstandarkan
motornya. "Bang. Abang dari mana?"
Bukannya menjawab Hadi malah mengulurkan tangannya.
"Suami pulang bukannya cium tangan malah dikasih pertanyaan," ucap
Hadi.
Lagi-lagi Matun segera mencium punggung tangan suaminya.
Cepat-cepat karena ia tidak ingin membuang waktu. "Abang tadi dari
mana?"
"Kan tadi pas pergi udah bilang mau ke rumah
temen." Hadi berjalan memasuki rumah.
"Bang. Tadi Adek melihat Abang boncengan sama
perempuan. Pakaiannya seksi. Kalian boncengan dengan mesra." Hadi sempat
mematung mendengar ucapan istrinya.
"Dia adik temennya Abang. Tadi minta tolong anterin ke
suatu tempat," ucapnya memberi alasan. Hadi meraih minuman untuk ia teguk
guna menghilangkan rasa gugup yang dirasa.
"Kenapa nggak minta anter sama kakaknya saja? Temen
Abang itu."
Hadi menghela napas dalam, memutar otak mencari jawaban.
"Istrinya teman Abang hamil besar. Nggak mungkinlah ditinggal."
Alasan Hadi masuk akal. Akan tetapi, Matun masih saja merasa
gelisah. "Tapi, Bang. Abang sama perempuan tadi kelihatan mesra
sekali."
"Dek," panggil Hadi dengan nada yang sedikit
keras. "Abang tidak suka, ya ditanya-tanya kayak gini. Abang ini baru
pulang, capek. Kamu malah bikin Abang pusing?"
"Matun, kan hanya tanya, Bang. Kok Abang marah?"
tanya Marun dengan suara lirih.
"Ah sudahlah. Abang mau mandi," ucap Hadi sembari meninggalkan
Matun.
Matun hanya bisa membanting tubuhnya pada kursi. Menarik
napas dalam untuk melepaskan rasa bingung karena belum mendapat jawaban pasti.