***
"Ah, ini terasa enak, Leon. Aku mau keluar."
"Tahan, sayang. Sebentar lagi."
Suara-suara lenguhan itu terdengar sangat jelas memenuhi kamar pribadi Leon Hale, seorang aktor ternama yang sedang naik daun.
Leon Haley yang masih terbius dengan kenikmatan itu pun tak akan pernah menyangka bahwa di balik pintu kamarnya sedang ada seseorang yang mematung sambil menahan tangisannya.
Ya, seseorang itu adalah Anastasia Noire, kekasihnya sekaligus calon tunangannya yang sudah ia kencani selama lima tahun.
Anastasia tentu saja tak percaya dengan pesan asing yang masuk ke ponselnya yang mengatakan kalau Leon, kekasihnya ternyata mengkhianatinya. Hari ini seharusnya ia ada syuting iklan di Paris, tapi semua jadwalnya mendadak dibatalkan dan karena Anastasia merasa sedih, ia memutuskan datang ke apartemen mewah milik kekasihnya.
"Ini tidak mungkin, kan? Suara itu hanya halusinasiku?" gumam Anastasia menyakinkan dirinya. Ia dengan sekuat hati membuka pintu kamar itu dan berharap suara-suara aneh yang ia dengar tadi hanya sebuah ilusi.
Anastasia menggenggam gagang pintu dengan tangan yang gemetar. Hatinya berdebar tak karuan saat ia berdiri di depan kamar yang seharusnya kosong. Leon Hale, pria yang selama ini membuat hatinya berdebar, seharusnya sedang ada pemotretan hari ini. Tapi kenapa suara-suara itu terdengar dari dalam?
"Aku mungkin hanya berhalusinasi," bisik Anastasia lagi kepada dirinya sendiri, mencoba meredam kecemasan yang kian mencengkeram. Namun, rasa penasaran dan kekhawatiran yang lebih besar mendorongnya untuk membuka pintu itu. Pelan, ia memutar gagang pintu dan mendorongnya sedikit demi sedikit.
Saat celah pintu terbuka cukup lebar, mata Anastasia membelalak tak percaya. Ia merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak saat pemandangan di hadapannya perlahan menjadi jelas. Di sana, di tengah ruangan yang remang, di atas ranjang yang seharusnya menjadi tempat istirahat suci bagi mereka kelak yang akan menjadi sepasang suami-istri, malah digunakan Leon dan seorang wanita lain bercinta dengan begitu intens. Tubuh mereka polos, menyatu dalam kegilaan yang tak tertahankan.
Tangan Anastasia gemetar semakin kuat. Nafasnya tercekat, tidak mampu untuk mengeluarkan suara, bahkan sekadar memanggil nama Leon. Hatinya seperti dihancurkan menjadi serpihan kecil yang tidak mungkin bisa disatukan lagi.
Tapi, ketika wanita itu memiringkan wajahnya sedikit, identitasnya terungkap jelas di bawah sinar lampu yang temaram. Anastasia merasa dunianya runtuh seketika. Wanita itu bukan orang asing. Ia adalah Elora Viviana-kakak tirinya, orang yang selama ini menjadi duri dalam hidupnya dan selalu terang-terangan iri padanya.
"Elora..." suaranya bergetar, hampir tidak terdengar, tetapi cukup untuk membuat kedua orang di atas ranjang tersentak. Leon langsung memandang ke arah pintu dengan keterkejutan di wajahnya, sementara Elora hanya menatap Anastasia dengan tatapan penuh kemenangan.
"Anastasia!" Leon berseru, buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Wajahnya berubah pucat pasi, seakan-akan darah di tubuhnya seketika menghilang. "Ini... ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
Air mata menggenang di pelupuk mata Anastasia, tapi ia menolak untuk membiarkannya jatuh. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan mereka-terutama di depan Elora. "Tidak seperti yang aku pikirkan?" Anastasia mengulangi kata-kata itu dengan nada sinis, suaranya sarat dengan rasa sakit dan pengkhianatan. "Lalu apa? Apa yang terjadi di sini, Leon? Jelaskan padaku, karena dari yang kulihat, semua sudah sangat jelas."
Leon terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa menundukkan kepala, menghindari tatapan tajam Anastasia. Ia tidak menyangka kalau kekasihnya itu akan datang malam ini, bukankah Anastasia sedang berada di Paris?
Elora, sebaliknya, tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Malah, ia tersenyum kecil, menampakkan kepuasan tersendiri.
"Aku sudah menduga suatu saat kamu akan menemukan ini," ucap Elora dengan suara manis yang beracun. "Seharusnya aku mengundangmu lebih awal, Anastasia. Kamu bisa ikut bergabung dengan kami, mungkin? Kekasihmu itu lebih bahagia denganku dan bisa jadi dirinya sendiri, aku bisa memuaskannya. Sedangkan kamu... hanya wanita yang menjadi beban baginya!"
Kata-kata Elora bagaikan racun yang menusuk hati Anastasia lebih dalam. Ia mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak melayangkan tamparan pada wanita yang pernah ia panggil saudara. "Kamu sungguh tidak tahu malu, Elora! Nikmati saja, aku tak peduli," katanya dengan suara dingin. "Dan kamu, Leon, aku pikir kamu adalah pria yang berbeda. Tapi ternyata kamu sama saja seperti yang lain, bahkan lebih buruk."
Leon mendekat, mencoba meraih tangan Anastasia. "Anastasia, tolong dengarkan aku. Aku-"
"Jangan sentuh aku!" Anastasia mundur, menjauh dari Leon. "Aku muak denganmu! Aku muak dengan semua kebohongan ini! Dan aku muak disentuh oleh tangan kotormu!" Ia menatap keduanya dengan tatapan yang menyala penuh kebencian, meskipun air matanya sudah tak terbendung lagi. "Kamu bisa memiliki Leon, Elora. Kamu bisa memiliki semuanya. Aku tidak peduli lagi!"
Setelah itu, Anastasia berbalik dan berlari keluar kamar. Tangisannya pecah begitu ia melewati pintu, mengisi koridor panjang yang sepi. Setiap langkah yang ia ambil terasa begitu berat, seolah-olah ada beban besar yang menghimpit dadanya.
Leon berusaha mengejarnya, tapi Elora menahannya. "Biarkan dia pergi," bisik Elora sambil mengelus lengan Leon dengan lembut. "Dia hanya perlu waktu untuk menerima kenyataan. Lagipula, kita tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Aku sudah memberimu kepuasan yang tidak pernah dia berikan padamu."
Leon menghela nafas panjang, menatap pintu yang baru saja ditinggalkan Anastasia. Ada sesuatu di hatinya yang terasa salah, tetapi ia menepis perasaan itu, memilih untuk memeluk Elora lebih erat, seakan-akan dengan melakukannya, ia bisa melupakan semuanya.
Namun, jauh di dalam hatinya, Leon tahu bahwa ia telah membuat kesalahan yang tidak mungkin bisa diperbaiki. Tapi, memang benar yang Elora katakan, selama lima tahun ini, Anastasia selalu menolaknya jika ia menginginkannya di atas ranjang, alasan Anastasia itu sungguh kolot, perempuan itu hanya ingin melakukannya setelah mereka berdua resmi menikah.
"Leon, kamu mau melanjutkannya lagi?" bisik Elora dengan suara menggoda.
Leon tersenyum menyeringai, keduanya pun larut dalam lenguhan yang panjang malam itu.
***
Sementara itu, Anastasia terus berlari, mencoba melarikan diri dari kenyataan yang baru saja menghancurkan hidupnya. Tetapi sekeras apa pun ia berlari, rasa sakit itu tetap mengikutinya, menghantuinya setiap detik. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi hari esok, tidak tahu ke mana harus pergi, atau siapa yang bisa ia percaya.
Satu hal yang ia tahu dengan pasti, adalah bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Leon Hale, yang ia anggap adalah malaikat hidupnya, ternyata berubah jadi iblis seperti keluarganya. Ia pikir, saat ayahnya tak lagi peduli padanya, Leon adalah jawaban Tuhan yang ia inginkan. Nyatanya, Leon Hale adalah pria kedua yang menyakitinya!
Dan saat Anastasia ingin masuk ke dalam mobilnya, ia terkejut dengan seorang pria yang sedang terbujur lemah dengan luka lebam-lebam. Tanpa pikir panjang dan rasa takut, ia menghampiri pria asing itu.
"Tuan, apakah anda masih sadar? Aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Anastasia.
Pria asing itu menggelengkan kepalanya lemah, "J-jangan... b-bawa aku ke tempatmu."
Anastasia mengernyitkan keningnya, awalnya ia akan menolak, namun ada beberapa pria yang bertubuh tinggi besar yang sedang berlari ke arahnya. Ia langsung memapah tubuh pria asing masuk ke mobilnya, ia tahu pria asing itu dalam bahaya!
"Aku akan mengobatimu sementara di apartemenku."
***
***
Di dalam mobilnya, Anastasia Noire menggenggam erat setir, mencoba fokus pada jalan di depan, tetapi pikirannya terus-menerus kembali ke kejadian sebelumnya. Malam ini banyak hal yang tak terduga, semuanya adalah kemalangan baginya.
Pria terluka yang ia temukan tadi kini tergeletak di jok belakang mobilnya, tak sadarkan diri. Anastasia tidak tahu siapa pria itu atau mengapa dia diserang, tetapi ia tahu bahwa dirinya sekarang ikut terseret dalam sesuatu yang besar. Ia merasa matanya harus selalu waspada-dan ternyata, kekhawatirannya terbukti benar.
Saat melihat ke kaca spion, jantung Anastasia berdegup kencang. Di belakangnya, sebuah mobil hitam besar muncul, melaju dengan kecepatan tinggi. Wajahnya memucat saat menyadari bahwa mobil itu tak lain adalah mobil yang tadi dipakai oleh para pria berbadan besar yang dilihatnya.
"Sial," gumam Anastasia sambil mengetuk-ngetuk setir dengan cemas. "Mereka mengejarku."
Mobil hitam itu semakin mendekat, nyaris bersanding dengan mobilnya. Tanpa pikir panjang, Anastasia menekan pedal gas lebih dalam, berharap bisa memperlebar jarak antara dirinya dengan pengejarnya. Namun, mobil besar itu tidak menyerah, malah semakin agresif. Mereka memepet mobil Anastasia, membuatnya kehilangan kendali sejenak.
"Kalian tidak serius, kan?" gumam Anastasia, merasa panik namun mencoba tetap tenang. Tapi, tidak ada waktu untuk panik. Mobil hitam itu menabrak bagian samping mobilnya dengan keras. Anastasia menggertakkan giginya, merasakan getaran kuat yang menjalar dari benturan itu. Mobilnya sedikit oleng, tetapi ia berhasil menguasai setir lagi.
"Sial!" umpat Anastasia, kali ini suaranya lebih keras. "Kalian merusak mobil hasil kerja kerasku! Jangan main-main denganku!"
Amarah mulai menyala di dalam dirinya, menggantikan ketakutan yang tadi sempat menghantuinya. Anastasia bukan tipe wanita yang mudah ditundukkan, dan mereka sudah menekan tombol yang salah. Dengan kecepatan tinggi, ia memutar kemudi, mengambil jalur lain untuk mencoba mengacaukan mobil pengejarnya.
Mobil hitam itu tampaknya tidak menyangka Anastasia akan melakukan manuver secepat itu. Mereka sedikit terlambat untuk bereaksi, memberi Anastasia cukup waktu untuk menambah kecepatan. Mobilnya melesat di antara kendaraan lain yang lebih lambat, seperti peluru yang meluncur tanpa ragu.
"Ayo, kita lihat seberapa bagus kalian mengemudi!" teriak Anastasia dengan penuh determinasi. Ia membuat belokan tajam di persimpangan, nyaris membuat mobilnya berputar. Tapi ia dengan cekatan mengendalikan mobilnya, memanfaatkan jalanan sempit yang penuh belokan untuk memperlambat pengejarnya.
Mobil hitam itu terus mengejarnya, tapi mereka kesulitan menyesuaikan dengan kecepatan Anastasia. Sesekali, mobil mereka mendekat, tapi Anastasia selalu berhasil menarik diri dengan gerakan yang tak terduga. Keahlian mengemudinya tampak tak tertandingi, seperti ia telah menjadi satu dengan mesin yang dikendarainya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, Anastasia akhirnya melihat gedung apartemennya muncul di kejauhan. Ia menarik napas lega, namun tetap waspada. Mobil pengejarnya masih berada di belakang, meski kini jaraknya sedikit lebih jauh.
"Sedikit lagi," bisik Anastasia pada dirinya sendiri. Ia tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk meloloskan diri.
Dengan satu tarikan napas panjang, ia menambah kecepatan sekali lagi, kali ini melebihi batas yang biasanya ia anggap aman. Mobil hitam itu berusaha mengejar, tapi Anastasia membuat satu gerakan terakhir-belokan tajam ke kanan, hampir tanpa mengurangi kecepatan.
Pengejarnya tak sempat bereaksi. Mobil hitam itu terlalu cepat, mereka tidak bisa mengikuti tikungan tajam Anastasia dan kehilangan kendali, menabrak pembatas jalan dengan keras. Suara benturan dan suara kaca pecah terdengar di belakangnya, tapi Anastasia tidak berhenti. Ia terus melaju, tidak memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk mendekat.
Beberapa saat kemudian, ia akhirnya sampai di gedung apartemennya. Napasnya masih tersengal saat ia menghentikan mobilnya di tempat parkir. Dengan cepat, ia mematikan mesin dan langsung menoleh ke jok belakang. Pria asing yang terluka itu masih tak sadarkan diri, tetapi napasnya masih terdengar, meski lemah.
Anastasia menghela napas lega. Tidak ada waktu untuk berdiam diri. Ia harus membawa pria ini ke tempat yang aman.
"Demi Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya sambil membuka pintu mobil dengan cepat. Tanpa banyak berpikir lagi, ia bergerak ke bagian belakang, membuka pintu dan dengan cekatan mengangkat tubuh pria itu. Meski berat, Anastasia tidak ragu sedikit pun. Ia menggunakan seluruh tenaganya untuk menggendong pria itu, memastikan kepalanya tidak terantuk sesuatu.
Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju pintu apartemennya. Setiap detik terasa berharga, dan Anastasia tahu bahwa ia tidak bisa membuang waktu lebih lama.
Ketika akhirnya berhasil membuka pintu, ia segera masuk dan meletakkan pria itu di atas sofa yang ada di ruang tamu. Anastasia menghela napas panjang, merasakan lelah yang luar biasa setelah semua yang terjadi. Namun, ia tidak membiarkan rasa lelah itu menguasai dirinya. Ada hal yang lebih penting sekarang-pria ini.
"Aku tidak tahu siapa kamu, atau apa yang kamu lakukan hingga membuatmu terluka seperti ini," kata Anastasia sambil menatap pria itu. "Tapi satu hal yang pasti, kita berdua terlibat dalam sesuatu yang besar. Aku membantumu karena aku juga sedang terluka dan sakit hati malam ini dan aku tidak mau kamu mendapatkan kemalangan, jika kamu kubiarkan tergeletak di jalanan tadi."
Ia menatap pria itu sekali lagi, memastikan dia masih bernapas. Setelah itu, Anastasia beranjak ke kamar mandi, mencari kotak P3K untuk mengobati luka-lukanya. Meskipun ia bukan seorang dokter, Anastasia tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pria ini.
Ketika akhirnya menemukan apa yang dibutuhkannya, Anastasia kembali ke ruang tamu. Ia duduk di samping pria itu dan mulai membersihkan luka-lukanya dengan hati-hati. Meskipun rasa takut dan cemas masih menghantuinya, Anastasia bertekad untuk melindungi pria ini-siapa pun dia-dan mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Semoga kamu cepat sadar, aku pergi tidur," ucap Anastasia sambil beranjak pergi.
***
Maximilian membuka matanya perlahan. Rasa nyeri yang tajam menghantam kepalanya, membuat pandangannya sedikit kabur. Cahaya lembut dari lampu di sudut ruangan memancar, memberi sedikit kehangatan di sekelilingnya. Butuh beberapa saat bagi matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya, dan ketika akhirnya bisa melihat lebih jelas, ia merasakan jantungnya berdetak kencang.
Ruangan itu asing baginya. Dindingnya berwarna pastel, dengan dekorasi layaknya seorang wanita elegan. Sejauh yang bisa ia lihat, ruangan itu adalah sebuah apartemen mewah. Ia berbaring di atas sofa yang empuk, dengan selimut tipis menutupi tubuhnya.
Maximilian berusaha mengumpulkan pikirannya. Ada sesuatu yang tidak beres. Kepalanya berdenyut, membuat setiap usaha untuk mengingat kembali apa yang terjadi menjadi perjuangan tersendiri. Ia menggerakkan tubuhnya sedikit, mencoba duduk, namun langsung menahan napas saat rasa sakit menghantam tulang rusuknya.
"Ugh," erangnya pelan. Rasa sakit itu bukan hanya dari tulang rusuk, tapi hampir di seluruh tubuhnya. Pukulan, tendangan, dan entah apa lagi yang menimpanya sebelum ini. Memori tentang kekerasan itu datang perlahan, seperti potongan-potongan gambar yang samar. Ia mengingat wajah-wajah para penculik itu, suaranya yang mengancam, dan bagaimana mereka membawanya ke suatu tempat yang gelap dan bau.
Maximilian menutup matanya sejenak, mencoba mengingat lebih jelas. Mereka menangkapnya-itu jelas. Tapi bagaimana ia bisa sampai di tempat ini? Ia ingat saat para penculik itu lengah, dan ia memutuskan untuk mengambil kesempatan yang ada. Ia kabur, meski tubuhnya penuh luka, meski kesadaran hampir hilang. Langkahnya terseok-seok, tetapi adrenalin yang menderu dalam tubuhnya memberinya kekuatan untuk terus bergerak.
Lalu, ada seorang wanita. Samar-samar, ia bisa mengingatnya. Wanita itu datang entah dari mana, menolongnya saat ia hampir jatuh. Wajahnya sulit diingat dalam keadaan setengah sadar seperti itu, tapi ia ingat nada suaranya-lembut, penuh kekhawatiran. Mungkin, wanita itulah yang membawanya ke tempat ini.
Maximilian membuka matanya lagi, kali ini dengan lebih tenang. Ia memandang ke sekeliling ruangan, mencoba mencari petunjuk lebih lanjut. Ada meja kecil di samping sofa, dengan segelas air di atasnya. Sebuah mantel tergantung di balik pintu. Di atas meja lain di sudut ruangan, ada beberapa buku dan sebuah ponsel.
"Di mana aku?" gumamnya pelan, suara serak akibat rasa sakit yang masih terasa di tenggorokannya. "Aku harus segera menghubungi Bryan," gumamnya.
Prang!
Segelas air jatuh saat tak sengaja dan beberapa detik kemudian, ia mendengar langkah kaki yang ringan mendekat. Pintu terbuka sedikit lebih lebar, dan seorang wanita muncul dari baliknya. Wajahnya tampak terkejut, namun dengan cepat berubah menjadi ekspresi khawatir. "Kamu sudah sadar?"
***
***
"Kamu sudah sadar?" tanya Anastasia.
Maximilian mematung melihat wanita asing di depannya. Senyum yang baru ia lihat di dunia, seperti senyuman yang menenangkan.
"Bisa mendengarku kan?" sebuah suara lembut terdengar dari sampingnya.
Maximilian mengalihkan pandangannya dan melihat seorang wanita berdiri di dekatnya, tampak lega melihatnya sadar. Wanita itu mendekat, dan sebelum Maximilian bisa berkata apa-apa, ia merasakan tangan halus menyentuh dahinya, memeriksa suhu tubuhnya. Sentuhan itu membuat Maximilian kaget. Tubuhnya menegang, namun bukan karena sakit.
Sebelum ia sempat menyadari apa yang sedang terjadi, wanita itu menarik tangannya kembali dan meletakkan punggung tangannya di pipinya. "Kamu kelihatan sedikit pucat, apa ada yang sakit?" tanyanya, suaranya lembut namun terdengar penuh kekhawatiran.
Maximilian tertegun. Tangannya seharusnya menepis atau menarik diri dari sentuhan wanita itu, tapi tidak ada reaksi alergi atau rasa tidak nyaman yang biasa ia alami saat disentuh wanita lain. Kulitnya tidak terasa panas atau gatal, seolah sentuhan itu tidak berbahaya sama sekali. Ia bahkan tidak merasa risih, meski wanita itu telah menyentuh wajahnya tanpa permisi.
"Apa yang...?" Maximilian bergumam pelan, mencoba memahami situasi. Kenapa ia tidak bereaksi? Ia menatap wanita itu dengan sorot mata penuh kebingungan.
Wanita itu mengerutkan kening, lalu menggerakkan tangannya ke arah kening Maximilian lagi, seolah berniat memeriksa suhu tubuhnya sekali lagi. Kali ini, sebelum tangannya sampai ke kening pria itu, Maximilian refleks meraih pergelangan tangannya, menghentikan gerakan tersebut. Sentuhan itu menghentikan napasnya sejenak.
"Aku baik-baik saja," ucap Maximilian cepat, suaranya lebih tegas daripada yang ia niatkan. "Kamu yang menolongku? Siapa kamu?"
Wanita itu mengangguk pelan, tatapannya tetap lembut meski matanya menyiratkan sedikit keterkejutan. "Namaku Anastasia Noire. Aku menemukanmu terluka parah dan membawamu ke apartemenku. Kamu butuh istirahat."
Maximilian melepaskan pegangan pada pergelangan tangannya, membiarkan wanita itu menarik tangannya kembali. Ada sesuatu yang aneh di sini, pikirnya. Selama ini, ia selalu memiliki masalah dengan sentuhan fisik dari wanita. Alergi yang aneh dan tak dapat dijelaskan oleh medis membuatnya hampir tidak pernah bersentuhan langsung dengan seorang wanita. Tapi dengan Anastasia, semuanya terasa berbeda. Sentuhan itu seolah-olah tidak membawa efek apa pun pada tubuhnya, selain rasa hangat yang samar.
"Apa yang terjadi padaku?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Anastasia. Matanya tetap terpaku pada wanita itu, berusaha mencari jawaban dalam ekspresi wajahnya.
Anastasia tampak ragu sejenak sebelum menjawab. "Aku tidak tahu pasti. Kamu sudah tergeletak di dekat mobilku, bagaimana tubuhmu? Apa masih sakit? Kamu lebam dan para preman itu mengejar mobilku sampai merusaknya."
Maximilian mengerutkan kening, masih bingung dengan apa yang terjadi. "Dan kamu bisa meloloskan dari kejaran para preman itu?"
Anastasia tertawa kecil, "Iya. Mereka kalah dariku. Aku hebat, bukan?" tanyanya dengan percaya diri.
Maximilian menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari kejujuran dalam mata wanita itu. Tidak ada tanda-tanda kebohongan, hanya kepedulian tulus. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Mungkin ini hanya kebetulan. Mungkin tubuhnya sudah cukup terbiasa dengan rasa sakit sehingga tidak bereaksi seperti biasanya.
Namun, di dalam hatinya, Maximilian tahu ini lebih dari sekadar kebetulan. Ada sesuatu tentang Anastasia yang berbeda. Wanita ini, dengan caranya yang sederhana dan sikapnya yang perhatian, entah bagaimana telah menembus pertahanan yang selama ini ia jaga rapat-rapat. Dan itu membuatnya takut, sekaligus penasaran.
"Aku tidak ingat banyak tentang kejadian tadi malam," kata Maximilian, pura-pura mencoba mengalihkan perhatiannya dari pikiran yang mengganggu.
"Tapi tubuhmu sangat kuat karena kamu masih bisa bertahan dengan luka yang seperti ini," balas Anastasia. "Apa perlu aku memanggil dokter? Atau kamu mau aku hubungi keluargamu?"
Maximilian menggelengkan kepalanya, "Aku boleh pinjam ponselmu?"
"Ah, tentu!" balas Anastasia, ia beranjak dari duduknya untuk mengambil ponselnya di kamar, tak lama wanita itu langsung memberikan ponselnya. "Ini pakai saja, ini ponsel yang tidak aku pakai. Tapi nomornya masih aktif dan sebentar lagi aku mau pergi ke luar karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kamu tunggu di tempatku saja, ya! Aku hanya pergi sebentar."
Maximillian hanya mengangguk datar dan tanpa ekspresi. Ia beranjak dari kursinya dan mencoba mencari tempat aman untuk menghubungi Bryan, asistennya.
***
Anastasia duduk di ruang tunggu studio rekaman, mengayunkan kakinya dengan gelisah. Tangannya yang biasanya tenang kini menggenggam tas kecil di pangkuannya dengan erat. Perasaannya bercampur aduk antara khawatir dan marah. Sudah lebih dari setengah jam ia menunggu untuk bertemu dengan Rafael Draven, produser rekaman yang dulu dengan antusias mengambilnya di bawah sayapnya, membawa karier musiknya ke puncak popularitas. Namun, kali ini, Rafael memintanya datang dengan nada yang jauh dari antusiasme biasanya.
Pintu studio akhirnya terbuka, dan seorang asisten masuk. "Tuan Draven sudah siap menemui Anda, Nona Noire."
Anastasia mengangguk singkat dan bangkit dari kursinya. Jantungnya berdegup kencang saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang familiar itu, namun suasananya terasa sangat berbeda dari yang biasanya.
Rafael berdiri di dekat meja besar yang penuh dengan peralatan rekaman, tangan bersedekap di dada. Wajahnya yang biasanya ramah kini tampak serius, bahkan sedikit dingin.
"Anastasia, duduklah," katanya tanpa senyum, menunjuk kursi di depan meja.
Anastasia mengikuti arahannya, duduk dengan punggung tegak dan menatap Rafael dengan penuh tanya. "Ada apa, Rafael? Kenapa kamu memanggilku? Bukannya kita sedang dalam proses rekaman untuk full album kedua? Aku sangat antusias karena album ini semua lagunya adalah hasil ciptaanku."
Rafael menarik napas dalam, seolah-olah sedang mencari kata-kata yang tepat. "Itulah yang ingin aku bicarakan denganmu, Anastasia."
Anastasia merasakan jantungnya semakin cepat. "Apa maksudmu?"
Rafael menatapnya dengan mata yang tajam, tatapannya seperti pedang yang menusuk langsung ke hatinya. "Aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan proyek album kedua ini. Dan lebih dari itu, aku juga akan memutuskan kontrakmu dengan label."
Kata-kata Rafael menghantam Anastasia seperti palu godam. Tubuhnya membeku di tempat. "Apa?" ucapnya dengan suara bergetar. "Kamu... kamu tidak mau memproduseri albumnya? Dan memutus kontrak? Tapi kenapa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Kamu bilang kontraku seumur hidup, kan?"
Rafael tidak segera menjawab. Ia berjalan ke arah jendela besar di ruangan itu, menatap ke luar dengan wajah yang tegang. "Bukan soal kamu melakukan kesalahan, Anastasia," jawabnya dengan suara yang lebih rendah. "Ini soal masa depan. Industri ini berubah dengan cepat, dan aku harus membuat keputusan yang terbaik untuk label dan karierku."
Anastasia mengerutkan kening, merasa semakin bingung dan marah. "Apa maksudmu? Aku adalah artis dengan penjualan album terbaik di label ini! Bahkan albumku terjual jutaan copy. Kamu yang selalu bilang kalau aku memiliki potensi besar, bahwa aku adalah masa depan industri ini!"
Rafael menoleh, matanya bertemu dengan mata Anastasia, kali ini tanpa emosi. "Benar, tapi itu dulu. Sekarang aku punya penyanyi baru, yang aku yakin akan jauh lebih bersinar daripada kamu."
Kemarahan mendidih di dalam dada Anastasia. Ia bangkit dari kursinya, tatapannya penuh dengan kemarahan dan rasa sakit. "Penyanyi baru? Siapa penyanyi itu yang menurutmu bisa menggantikan aku?"
Tepat pada saat itu, pintu ruangan terbuka lagi. Anastasia menoleh dengan cepat, dan apa yang dilihatnya membuat darahnya berhenti mengalir.
Elora Viviana masuk ke dalam ruangan, menggandeng tangan Leon Hale dengan senyum penuh kemenangan di bibirnya. Rambutnya yang panjang dan bergelombang tergerai indah, seolah-olah ia baru saja keluar dari pemotretan. Matanya yang bersinar penuh dengan keangkuhan saat ia melihat langsung ke arah Anastasia.
"Aku adalah penyanyi itu," kata Elora dengan suara manis yang penuh kepalsuan. "Aku yang akan menggantikanmu, Anastasia."
Anastasia merasakan duniannya runtuh seketika. "Elora...?" Ia hampir tidak bisa berkata-kata. "Leon? Apa yang kalian lakukan di sini?"
Leon tersenyum miring, matanya menyiratkan kepuasan yang mengerikan. "Ini adalah dunia nyata, sayang. Dan di dunia ini, yang kuatlah yang bertahan. Elora memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi bintang, dan aku ada di sini untuk memastikan dia mendapatkan apa yang dia inginkan."
Kemarahan dan kekecewaan menyatu menjadi satu di dalam diri Anastasia. "Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? Aku percaya padamu, Leon!"
Elora tertawa kecil, suaranya terdengar seperti lonceng yang memekakkan telinga. "Oh, Anastasia, kamu terlalu naif. Dunia ini tidak berputar di sekelilingmu. Kamu hanyalah wanita yang Leon manfaatkan untuk menaikkan namanya di industri hiburan ini."
Rafael berdiri di tempatnya, memperhatikan pertengkaran itu dengan ekspresi tak terbaca. Anastasia menoleh padanya, berharap ada sedikit simpati dari pria yang dulu begitu memujanya. Namun, yang ia lihat hanyalah wajah yang dingin, seolah-olah ia sudah lama memutuskan dan tak ada lagi yang bisa dikatakan.
"Kamu tahu, Rafael, aku tidak pernah menyangka kamu bisa sekejam ini," kata Anastasia, suaranya bergetar dengan amarah yang ditahan. "Aku pikir kita adalah tim."
Rafael hanya mengangkat bahu. "Ini bukan soal kekejaman, Anastasia. Ini soal bisnis."
Anastasia menatapnya tajam, sebelum akhirnya berbalik dan menatap Elora serta Leon. "Kalian tidak akan bertahan lama dengan cara seperti ini," katanya dengan suara penuh kepastian. "Karma akan datang, dan ketika itu terjadi, aku akan ada di sana untuk melihat kalian jatuh."
Elora hanya tersenyum angkuh, tidak terpengaruh oleh ancaman itu. "Kami tidak perlu takut pada karma, Anastasia. Kami memiliki semua yang kami butuhkan untuk menang. Dan kamu? Kamu hanyalah sampah yang akan dibuang dan aku adalah bintang yang sesungguhnya."
Dengan hati yang hancur, Anastasia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menolak untuk menangis di depan mereka. "Kalian boleh mengambil apa yang kalian inginkan sekarang, tapi ingat ini: aku akan kembali, dan saat itu terjadi, kalian akan menyesal pernah meremehkanku."
Anastasia pergi dengan langkah yang anggun, hatinya patah. Semua yang ia raih hancur dalam sekejap.
"Aku akan membuat kalian hancur!"
***