Sampul Novel Beyond the Song

Beyond the Song

9.0 / 10.0
Aku menyembunyikan identitas asliku sebagai monster di balik rupa manusia. Namun, ketenanganku terusik ketika lagu mematikan Siren memicu beruntunnya kasus bunuh diri misterius. Situasi kian rumit saat Kenneth, seorang pemburu, hadir dan menyeretku masuk ke dunia supernatural yang penuh bahaya. Demi melindungi orang terdekat, aku harus bertindak walau rahasia besarku terancam terbongkar. Ironisnya, aku justru terpikat pada Kenneth, pria yang ditakdirkan memburu kaumku.
Ringkasan Beyond the Song
Aku menyembunyikan identitas asliku sebagai monster di balik rupa manusia. Namun, ketenanganku terusik ketika lagu mematikan Siren memicu beruntunnya kasus bunuh diri misterius. Situasi kian rumit saat Kenneth, seorang pemburu, hadir dan menyeretku masuk ke dunia supernatural yang penuh bahaya. Demi melindungi orang terdekat, aku harus bertindak walau rahasia besarku terancam terbongkar. Ironisnya, aku justru terpikat pada Kenneth, pria yang ditakdirkan memburu kaumku.
Baca Selengkapnya

Beyond the Song Bab 1

Bila menutup mataku, bisakah aku berpura-pura bahwa ini semua adalah dongeng yang pada akhirnya akan selalu berakhir bahagia? Ketika Heroin bertemu dengan Pangeran atau pahlawan, atau apa pun itu, dan berakhir di pelaminan yang membahagiakan? Bahwa seluruh kesulitan itu akan dibayar dengan akhir bahagia yang pasti?

Sayangnya, hidup tidak semudah itu.

Hidup bukan tentang seseorang yang lahir dan menandatangani kontrak bahagia di akhir hayat. Tidak. Terkadang mereka akan mati bahkan sebelum dilahirkan, atau beberapa saat setelah mereka melihat dunia, tetapi belum sempat mengucap sepatah kata, atau ... bersatu dengan ombak dan lautan. Seperti yang saat ini sedang ditayangkan di televisi.

Rokok yang kunyalakan hanya tersisa setengah. Cerutunya jatuh ke lantai, tetapi aku hanya menghisapnya sekali. Perhatianku terlalu fokus pada orang-orang malang yang melompat dari tebing, atau kapal-kapal yang karam di lautan.

Terlalu banyak kematian di lautan dalam satu bulan terakhir.

Reporter berita di televisi tengah menjelaskan kronologi kejadian dan hasil wawancara dengan kepolisian setempat, ketika Aiden meraih daguku dan membawaku dalam ciuman yang menuntut. Tangannya meraih remot dan mematikan televisi, membuat ruangan yang hening itu semakin hening.

Dia berhenti menciumku, tetapi aku masih bisa merasakan desah napasnya di ujung bibir.

"Jangan buang waktu kita dengan berita duka itu, Vynnia!"

Aku tertawa kecil. "Terlalu banyak kematian, Aiden. Terlalu dekat."

"Benarkah?" Dia bergumam skeptis.

Aiden bukanlah orang yang akan berduka. Dia bukan orang yang akan berdiri di pemakaman dan berbicara baik tentang kenalannya yang meninggal dunia. Apalagi berita yang melibatkan orang-orang yang tidak pernah ditemuinya. Satu-satunya hal yang akan menarik perhatiannya hanyalah ketika peristiwa itu membawa dampak pada bisnisnya.

Aku tidak menyalahkannya. Sebagian besar manusia memang demikian.

Tamak. Egois. Rakus.

Mereka akan memakan apa pun yang menguntungkan mereka. Mereka akan menghancurkan apa pun yang menghalangi jalan mereka.

Aiden Russ adalah bukti nyata dari semua dosa besar yang dapat dimiliki manusia.

Tidak masalah. Itu hanya akan membuat segala hal lebih baik, karena aku tidak perlu merasa bersalah pada akhirnya.

Aku dengan lembut meraih dagunya, merasakan lembutnya kulit dagu yang setiap pagi dicukur rapi, merabanya dengan ujung jari hingga berhenti di bawah bibirnya.

Aiden tersenyum.

Aku menggumamkan nyanyian.

Dengan perlahan, aku bangkit dari tempat dudukkku. Rokok yang masih tersisa setengah itu terjatuh ke lantai. Terlupakan. Masih dengan gumam nyanyian yang memabukkan. Aiden meraih tanganku, lantas menciumi buku-buku jariku dengan lembut. Ekspresinya secara perlahan berubah seolah-olah aku baru saja mencekokinya dengan sloki-sloki vodka. Matanya kehilangan apa yang disebut manusia dengan kesadaran. Hanya terfokus padaku. Mendamba. Mabuk. Terpana. Kehilangan dirinya.

Aku tersenyum.

Aku bisa memerintahkannya untuk menggorok lehernya sendiri, lantas dia akan berlutut dan melakukannya dengan senang hati.

Dengan perlahan, aku mendorongnya ke sofa dan duduk di pangkuannya. Secara perlahan menciumi dagu, pipi, dan ujung hidungnya. Lelaki itu hanya mendesahkan napas tanpa mampu mengatakan apa pun.

"Aiden," gumamku. Nyanyianku menggema. "Kau mencintaiku?"

Jantungku berdebar terlalu kencang. Aku memerlukan ini. Aku ingin dia meleleh dan menggumamkan kata-kata cinta yang memabukkan.

"Ya."

Tanganku mengepal di bahunya. "Kalau begitu, berikan aku kekayaanmu, Aiden."

Ketika pada akhirnya, aku pergi dengan segepok uang dan mobil baru, aku tahu kemampuanku sama sekali tidak memudar. Kemampuan untuk membuat manusia, terutama laki-laki bertekuk lutut padaku. Pada nyanyianku.

Siren.

Kata itulah yang pertama kali muncul di google pencarianku sepuluh tahun lalu, ketika aku pertama kali menyadari nyanyianku dapat membuat orang-orang mabuk dan pada akhirnya dengan senang hati melakukan apa pun untukku. Saat ini, usiaku 24 tahun dan aku menggunakan nyanyianku untuk hidup.

Dalam mitologi Yunani, di cerita Odissey, Siren digambarkan dengan sesosok wanita setengah burung yang hinggap dan tinggal dikarang-karang yang terjal. Mereka akan bernyanyi dan menggoda para pelaut untuk membawa kapal mereka menuju karang-karang dan tenggelam.

Dongeng lain mengatakan Siren adalah manusia setengah ikan. Hampir sama dengan para putri duyung, tetapi ketika putri-putri duyung itu digambarkan dengan kecantikan yang tiada tara dan mutiara-mutiara, Siren tetaplah makhluk kejam yang akan menenggelam para pelaut dengan nyanyian memabukkan mereka.

Darimana pun legenda itu berasal Siren adalah makluk kejam dan jahat yang akan menggoda manusia menuju kematiannya.

Aku adalah makluk terkutuk yang akan membawa manusia pada kehancurannya.

Tanganku mencengkram stir mobil hingga buku-buku jariku memutih.

Aku tidak menyukainya.

Pemikiran itu segera menghilang ketika aku akhirnya sampai di bengkel milik Petra.Petra tertegun ketika aku datang dengan mobil baru. Rekan satu kelasku saat SMA itu tertawa. Rambutnya yang kecoklatan dan kotor oleh oli itu digelung ke atas. Dia cantik. Lebih cantik dariku, tetapi Petra tidak pernah menggunakan kecantikannya untuk memikat pria. Meski begitu, tidak sedikit pria yang terpikat olehnya.

Pria-pria malang yang bodoh itu ditolak mentah-mentah.

"Kau hanya berkencan tiga hari dengan Aiden, dan kau sudah dibelikan mobil."

Aku mengangkat bahu. "Aku meminta."

Petra tergelak. Namun tawanya segera berhenti ketika seorang lelaki menepuk bahunya. Pria itu tinggi dan kekar, mungkin mencapai 190 centimeter dengan bisep yang lebih besar dari pahaku. Entah kenapa, aku tidak bisa mengalihkan pandangan darinya ketika mata kami bersirobok. Mata biru yang membuatku seolah sedang melihat ke arah lautan di tengah hari.

Indah. Terlalu indah.

Namun, seindah apa pun dirinya, tidak ada manusia yang benar-benar sempurna.

Di balik mata yang terlihat begitu indah itu, aku bisa merasakan kekejaman di baliknya, seolah mata yang indah itu telah melihat terlalu banyak. Seolah dirinya telah melalui terlalu banyak hal. Mungkin, bekas luka memanjang di pipi kirinya itu menyimpan berbagai ksiah yang terceritakan.

"Hei!"

Suara baritonnya mengejutkanku. Namun sebelum aku sempat mengira dia berbicara denganku, lelaki itu telah memfokuskan pandangannya pada Petra. Dia menunjuk ke arah tangan kanannya, dan kami secara reflek menunduk.

Anak kecil? Delapan tahun, kurasa. Gadis kecil yang tersenyum lebar. Matanya berkilat dengan kelicikan anak kecil yang nakal.

Aku menatapnya lagi, kemudian pada anak kecil itu lagi, sebelum kembali padanya. "Putrimu?" Gadis itu tidak memiliki mata yang indah seperti lelaki asing ini, tetapi siapa tahu, kan? "Pasti sulit untuk memiliki putri ketika kau masih muda. Pernikahan dini?"

"Bukan." Lelaki itu menggeram kesal. "Aku menemukan anak ini berlarian di taman. Aku baru datang di kota ini. Aku tidak tahu dimana kantor polisi dan orang akan mengira aku menculiknya bila aku membawanya sendiri."

"Orang memang senang berpikiran buruk, tetapi hei, mungkin tidak semua, buktinya, aku mengira kau ayahnya."

"Tidak membuat segalanya lebih baik."

"Kurasa." Aku mengulurkan tangan padanya. "Vynnia." Ketika dia hanya menatapku, aku menambahkan, "Kane. Dia Petra Young. Anak pemilik bengkel ini, tetapi secara teknis, dia sudah mengelolanya secara penuh."

Lelaki itu meraih tanganku. Oh! Tangannya begitu kasar dan aku bisa merasakan bekas-bekas luka yang menonjol. Dia kemudian menjabat tangan Petra. "Kenneth."

"Hanya Kenneth?" Kenneth tidak menjawab. "Okay, Ken Doll."

Matanya menatapku tajam. "Jangan!"

"Apa yang kau lakukan di sini? Menikmati pantai?"

Kenneth mendengus, tetapi belum sempat dia menjawab, gadis kecil licik itu melarikan diri setelah menyambar dompet Kenneth.

Oh sial!

Bukan dompet Kenneth yang dia ambil yang menjadi masalah, tetapi gadis itu lari ke arah jalan raya, dengan mobil-mobil yang melaju kencang. Sebagian dapat menghindarinya, tetapi satu mobil yang mengarah pada anak kecil itu tidak menurunkan kecepatannya.

Kenneth berusaha menyelamatkan anak itu dengan berlari ke jalanan, tetapi itu hanya akan membuat mereka berdua tertabrak. Petra berteriak di sebelahku.

"Sial." Aku menggeram. Aku tak suka menggunakan nyanyianku seperti ini, tetapi aku tak punya pilihan lain. "Lihat ke jalanan dan hindari mereka!"

Suara decit rem menggema. Mobil itu tidak memiliki cukup waktu untuk mengeram, sehingga dia membanting setir dan terpelanting menuju mobilku dengan suara yang kencang. Menghancurkan kedua mobil itu. Akan tetapi, aku tidak memiliki waktu untuk khawatir tentang mobilku.

Hal itu karena Kenneth menatapku tanpa berkedip. Anak kecil yang ketakutan itu ada di tangan kiri, sementara di tangan kanannya, tato-tato mulai memudar.

Mulutku mendadak terasa kering.

Aku pernah mendengar orang-orang sepertinya.

Pemburu.

Sial. Itu menjelaskan semuanya.

Postur tubuhnya, lukanya, mata seterang lautan tengah hari yang seolah telah melihat terlalu banyak hal, tangan kasar itu.

Ketika Kenneth berjalan ke arahku dengan gadis kecil di tangannya, matanya tidak berhenti menatapku.

"Kau tadi bertanya, kenapa aku ke kota ini, kan?" tanyanya sembari berhenti tepat di depanku. Aku mengepalkan tangan hingga buku jariku memutih. "Aku mencari burung-burung."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Beyond the Song

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Delapan tahun lalu, ibu tiriku menikah dengan ayah yang tampan namun tak bertanggung jawab. Ayah lebih sering menghilang daripada mengurus keluarga, membuatku hanya tinggal berdua dengan ibu tiriku yang kaya raya. Aku diperlakukan seperti anak sendiri, tapi kebiasaannya mengenakan pakaian seksi perlahan mengganggu pikiranku. Di saat yang sama, aku masih menyimpan perasaan untuk Rania, teman SMA yang ingin kudekati lagi. Namun, kehadiran ibu tiri yang terlalu perhatian itu membuat segalanya menjadi rumit. Antara cinta masa lalu dan godaan yang tak terduga, aku harus memilih jalan yang tepat sebelum semuanya berantakan.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Demi keselamatan buah hatinya, Neva rela bertahan melewati penderitaan batin dan tekanan konstan. Kisah perjuangan penuh pengorbanan ini memperlihatkan ketegaran seorang wanita dalam menghadapi peliknya dinamika hubungan yang menjerat hidupnya.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Menjebak Ivander dalam pernikahan paksa rupanya menjadi penyesalan terbesar bagi Nada. Meski begitu, cara ekstrem ini adalah satu-satunya jalan agar ia bisa mendampingi pria yang dahulu pernah ia hancurkan hidupnya. Terbelenggu rasa bersalah, Nada kini bertekad menebus dosa masa lalu lewat pengabdiannya sebagai istri. Namun, mampukah ketulusan Nada melunakkan dinginnya kebencian Ivander, ataukah perjuangannya meraih maaf justru berujung sia-sia?
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Rencana kejutan ulang tahunku hancur saat memergoki kekasihku berselingkuh dengan pria kaya. Setelah dihina karena miskin, takdirku berbalik ketika pelayan keluarga terkaya mengungkap bahwa aku adalah pewaris sah Grup Nelson. Kini, berbekal kekayaan tanpa batas, aku siap membalas dendam. Saat mantan kekasihku bersujud memohon maaf, aku mengabaikannya dan melangkah ke dunia mewah. Bagiku, uang melimpah hanyalah deretan angka yang siap kuhabiskan.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.3
Sekembalinya dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang dipercaya bisa memberi keawetan muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku dan rambutku dipotong untuk dililitkan di patung itu. Namun, aku menyembunyikan rahasia bahwa aku pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, konsekuensi mengerikan muncul ketika kulit ibu mulai ditumbuhi bercak biru bersisik dan dia mulai berganti kulit layaknya seekor ular.
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki sangat geram karena ditolak mentah-mentah oleh pria yang dijodohkan dengannya. Alasan klasik bahwa mereka tidak saling kenal membuat Yuki berang hingga mengatai calon suaminya itu sebagai lelaki tua yang menjengkelkan. Namun, kekesalan tersebut tidak bertahan lama. Sebuah senyum licik merekah di wajah Yuki saat sebuah ide brilian muncul di benaknya. Ia pun menyusun rencana cerdik untuk memberi pelajaran bagi pria yang telah menolaknya tersebut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED