Bila menutup mataku, bisakah aku berpura-pura bahwa ini semua adalah dongeng yang pada akhirnya akan selalu berakhir bahagia? Ketika Heroin bertemu dengan Pangeran atau pahlawan, atau apa pun itu, dan berakhir di pelaminan yang membahagiakan? Bahwa seluruh kesulitan itu akan dibayar dengan akhir bahagia yang pasti?
Sayangnya, hidup tidak semudah itu.
Hidup bukan tentang seseorang yang lahir dan menandatangani kontrak bahagia di akhir hayat. Tidak. Terkadang mereka akan mati bahkan sebelum dilahirkan, atau beberapa saat setelah mereka melihat dunia, tetapi belum sempat mengucap sepatah kata, atau ... bersatu dengan ombak dan lautan. Seperti yang saat ini sedang ditayangkan di televisi.
Rokok yang kunyalakan hanya tersisa setengah. Cerutunya jatuh ke lantai, tetapi aku hanya menghisapnya sekali. Perhatianku terlalu fokus pada orang-orang malang yang melompat dari tebing, atau kapal-kapal yang karam di lautan.
Terlalu banyak kematian di lautan dalam satu bulan terakhir.
Reporter berita di televisi tengah menjelaskan kronologi kejadian dan hasil wawancara dengan kepolisian setempat, ketika Aiden meraih daguku dan membawaku dalam ciuman yang menuntut. Tangannya meraih remot dan mematikan televisi, membuat ruangan yang hening itu semakin hening.
Dia berhenti menciumku, tetapi aku masih bisa merasakan desah napasnya di ujung bibir.
"Jangan buang waktu kita dengan berita duka itu, Vynnia!"
Aku tertawa kecil. "Terlalu banyak kematian, Aiden. Terlalu dekat."
"Benarkah?" Dia bergumam skeptis.
Aiden bukanlah orang yang akan berduka. Dia bukan orang yang akan berdiri di pemakaman dan berbicara baik tentang kenalannya yang meninggal dunia. Apalagi berita yang melibatkan orang-orang yang tidak pernah ditemuinya. Satu-satunya hal yang akan menarik perhatiannya hanyalah ketika peristiwa itu membawa dampak pada bisnisnya.
Aku tidak menyalahkannya. Sebagian besar manusia memang demikian.
Tamak. Egois. Rakus.
Mereka akan memakan apa pun yang menguntungkan mereka. Mereka akan menghancurkan apa pun yang menghalangi jalan mereka.
Aiden Russ adalah bukti nyata dari semua dosa besar yang dapat dimiliki manusia.
Tidak masalah. Itu hanya akan membuat segala hal lebih baik, karena aku tidak perlu merasa bersalah pada akhirnya.
Aku dengan lembut meraih dagunya, merasakan lembutnya kulit dagu yang setiap pagi dicukur rapi, merabanya dengan ujung jari hingga berhenti di bawah bibirnya.
Aiden tersenyum.
Aku menggumamkan nyanyian.
Dengan perlahan, aku bangkit dari tempat dudukkku. Rokok yang masih tersisa setengah itu terjatuh ke lantai. Terlupakan. Masih dengan gumam nyanyian yang memabukkan. Aiden meraih tanganku, lantas menciumi buku-buku jariku dengan lembut. Ekspresinya secara perlahan berubah seolah-olah aku baru saja mencekokinya dengan sloki-sloki vodka. Matanya kehilangan apa yang disebut manusia dengan kesadaran. Hanya terfokus padaku. Mendamba. Mabuk. Terpana. Kehilangan dirinya.
Aku tersenyum.
Aku bisa memerintahkannya untuk menggorok lehernya sendiri, lantas dia akan berlutut dan melakukannya dengan senang hati.
Dengan perlahan, aku mendorongnya ke sofa dan duduk di pangkuannya. Secara perlahan menciumi dagu, pipi, dan ujung hidungnya. Lelaki itu hanya mendesahkan napas tanpa mampu mengatakan apa pun.
"Aiden," gumamku. Nyanyianku menggema. "Kau mencintaiku?"
Jantungku berdebar terlalu kencang. Aku memerlukan ini. Aku ingin dia meleleh dan menggumamkan kata-kata cinta yang memabukkan.
"Ya."
Tanganku mengepal di bahunya. "Kalau begitu, berikan aku kekayaanmu, Aiden."
Ketika pada akhirnya, aku pergi dengan segepok uang dan mobil baru, aku tahu kemampuanku sama sekali tidak memudar. Kemampuan untuk membuat manusia, terutama laki-laki bertekuk lutut padaku. Pada nyanyianku.
Siren.
Kata itulah yang pertama kali muncul di google pencarianku sepuluh tahun lalu, ketika aku pertama kali menyadari nyanyianku dapat membuat orang-orang mabuk dan pada akhirnya dengan senang hati melakukan apa pun untukku. Saat ini, usiaku 24 tahun dan aku menggunakan nyanyianku untuk hidup.
Dalam mitologi Yunani, di cerita Odissey, Siren digambarkan dengan sesosok wanita setengah burung yang hinggap dan tinggal dikarang-karang yang terjal. Mereka akan bernyanyi dan menggoda para pelaut untuk membawa kapal mereka menuju karang-karang dan tenggelam.
Dongeng lain mengatakan Siren adalah manusia setengah ikan. Hampir sama dengan para putri duyung, tetapi ketika putri-putri duyung itu digambarkan dengan kecantikan yang tiada tara dan mutiara-mutiara, Siren tetaplah makhluk kejam yang akan menenggelam para pelaut dengan nyanyian memabukkan mereka.
Darimana pun legenda itu berasal Siren adalah makluk kejam dan jahat yang akan menggoda manusia menuju kematiannya.
Aku adalah makluk terkutuk yang akan membawa manusia pada kehancurannya.
Tanganku mencengkram stir mobil hingga buku-buku jariku memutih.
Aku tidak menyukainya.
Pemikiran itu segera menghilang ketika aku akhirnya sampai di bengkel milik Petra.Petra tertegun ketika aku datang dengan mobil baru. Rekan satu kelasku saat SMA itu tertawa. Rambutnya yang kecoklatan dan kotor oleh oli itu digelung ke atas. Dia cantik. Lebih cantik dariku, tetapi Petra tidak pernah menggunakan kecantikannya untuk memikat pria. Meski begitu, tidak sedikit pria yang terpikat olehnya.
Pria-pria malang yang bodoh itu ditolak mentah-mentah.
"Kau hanya berkencan tiga hari dengan Aiden, dan kau sudah dibelikan mobil."
Aku mengangkat bahu. "Aku meminta."
Petra tergelak. Namun tawanya segera berhenti ketika seorang lelaki menepuk bahunya. Pria itu tinggi dan kekar, mungkin mencapai 190 centimeter dengan bisep yang lebih besar dari pahaku. Entah kenapa, aku tidak bisa mengalihkan pandangan darinya ketika mata kami bersirobok. Mata biru yang membuatku seolah sedang melihat ke arah lautan di tengah hari.
Indah. Terlalu indah.
Namun, seindah apa pun dirinya, tidak ada manusia yang benar-benar sempurna.
Di balik mata yang terlihat begitu indah itu, aku bisa merasakan kekejaman di baliknya, seolah mata yang indah itu telah melihat terlalu banyak. Seolah dirinya telah melalui terlalu banyak hal. Mungkin, bekas luka memanjang di pipi kirinya itu menyimpan berbagai ksiah yang terceritakan.
"Hei!"
Suara baritonnya mengejutkanku. Namun sebelum aku sempat mengira dia berbicara denganku, lelaki itu telah memfokuskan pandangannya pada Petra. Dia menunjuk ke arah tangan kanannya, dan kami secara reflek menunduk.
Anak kecil? Delapan tahun, kurasa. Gadis kecil yang tersenyum lebar. Matanya berkilat dengan kelicikan anak kecil yang nakal.
Aku menatapnya lagi, kemudian pada anak kecil itu lagi, sebelum kembali padanya. "Putrimu?" Gadis itu tidak memiliki mata yang indah seperti lelaki asing ini, tetapi siapa tahu, kan? "Pasti sulit untuk memiliki putri ketika kau masih muda. Pernikahan dini?"
"Bukan." Lelaki itu menggeram kesal. "Aku menemukan anak ini berlarian di taman. Aku baru datang di kota ini. Aku tidak tahu dimana kantor polisi dan orang akan mengira aku menculiknya bila aku membawanya sendiri."
"Orang memang senang berpikiran buruk, tetapi hei, mungkin tidak semua, buktinya, aku mengira kau ayahnya."
"Tidak membuat segalanya lebih baik."
"Kurasa." Aku mengulurkan tangan padanya. "Vynnia." Ketika dia hanya menatapku, aku menambahkan, "Kane. Dia Petra Young. Anak pemilik bengkel ini, tetapi secara teknis, dia sudah mengelolanya secara penuh."
Lelaki itu meraih tanganku. Oh! Tangannya begitu kasar dan aku bisa merasakan bekas-bekas luka yang menonjol. Dia kemudian menjabat tangan Petra. "Kenneth."
"Hanya Kenneth?" Kenneth tidak menjawab. "Okay, Ken Doll."
Matanya menatapku tajam. "Jangan!"
"Apa yang kau lakukan di sini? Menikmati pantai?"
Kenneth mendengus, tetapi belum sempat dia menjawab, gadis kecil licik itu melarikan diri setelah menyambar dompet Kenneth.
Oh sial!
Bukan dompet Kenneth yang dia ambil yang menjadi masalah, tetapi gadis itu lari ke arah jalan raya, dengan mobil-mobil yang melaju kencang. Sebagian dapat menghindarinya, tetapi satu mobil yang mengarah pada anak kecil itu tidak menurunkan kecepatannya.
Kenneth berusaha menyelamatkan anak itu dengan berlari ke jalanan, tetapi itu hanya akan membuat mereka berdua tertabrak. Petra berteriak di sebelahku.
"Sial." Aku menggeram. Aku tak suka menggunakan nyanyianku seperti ini, tetapi aku tak punya pilihan lain. "Lihat ke jalanan dan hindari mereka!"
Suara decit rem menggema. Mobil itu tidak memiliki cukup waktu untuk mengeram, sehingga dia membanting setir dan terpelanting menuju mobilku dengan suara yang kencang. Menghancurkan kedua mobil itu. Akan tetapi, aku tidak memiliki waktu untuk khawatir tentang mobilku.
Hal itu karena Kenneth menatapku tanpa berkedip. Anak kecil yang ketakutan itu ada di tangan kiri, sementara di tangan kanannya, tato-tato mulai memudar.
Mulutku mendadak terasa kering.
Aku pernah mendengar orang-orang sepertinya.
Pemburu.
Sial. Itu menjelaskan semuanya.
Postur tubuhnya, lukanya, mata seterang lautan tengah hari yang seolah telah melihat terlalu banyak hal, tangan kasar itu.
Ketika Kenneth berjalan ke arahku dengan gadis kecil di tangannya, matanya tidak berhenti menatapku.
"Kau tadi bertanya, kenapa aku ke kota ini, kan?" tanyanya sembari berhenti tepat di depanku. Aku mengepalkan tangan hingga buku jariku memutih. "Aku mencari burung-burung."
Tidak ada tempat seindah rumah, tetapi tidak ada rumah untukku.
Aku menggumamkan nyanyian rendah dengan hati yang tercabik-cabik di setiap liriknya. Namun, aku tidak memiliki pilihan lain. Tanganku membeku di knob. Dingin. Terlalu dingin. Tidak ingin membukanya, tetapi juga ingin segera membukanya. Aku ingin melarikan diri, tetapi juga ingin menghambur ke dalam rumah ini.
Rumah boneka, tetapi tetaplah rumah untukku.
Begitu aku yakin efek nyanyianku telah berhasil, aku membuka pintu perlahan dan berkata, "Putri kalian pulang."
Sudut bibirku berkedut ketika seorang wanita berusia 50 tahun itu muncul dari kamar. Marie Kane. Matanya yang indah itu menatapku seolah aku adalah hadiah terindahnya. Kami tidak memiliki kemiripan. Sial. Tidak sama sekali. Dia memiliki mata lebar yang terlihat polos, sedangkan aku memiliki mata memanjang. Sepasang mata yang sekarang ini sedang populer dengan sebutan Siren Eyes, yang tanpa mereka sadari begitu akurat dengan julukannya. Mata para Siren.
Dia segera meraihku ke dalam pelukannya. Di belakangnya, suaiminya, Richard Kane, ikut menyapa. Begitu hangat. Sangat hangat dan menenangkan.
Bohong. Semua ini hanya kebohongan. Namun, bukankah kebohongan yang indah begitu mencandu? Bukankah kebahagiaan yang dapat kuwujudkan dan kontrol dengan sesuka hati begitu menggoda untuk dilewatkan. Seberapa pun buruknya kebohongan itu, aku tak bisa menghentikan diri untuk kembali ke rumah ini, bernyanyi untuk mengelabui mereka, dan lagi-lagi menerima cinta dan pelukan yang seharusnya bukan untukku.
Aku melingkarkan tanganku padanya dan menenggelamkan wajahku pada ceruk lehernya dan bersumpah-sumpah yang gagal lagi dan lagi-untuk melepaskan mereka dari jeratan nyanyianku suatu saat nanti. Menangis dalam pelukan mereka.
Maaf. Maaf. Maaf.
Kumohon maafkan orang asing ini. Kumohon biarkan aku menikmati kehangatan semu ini sedikit lebih lama.
Aku bersumpah. Aku akan menghentikan ini semua, tapi kumohon. Kumohon. Biarkan aku dicintai meskipun sedikit lebih lama.
"Vynnia. Apa semua baik-baik saja?"
Marie mengusap pipiku perlahan. Sentuhannya begitu lembut hingga aku ingin menenggelamkan diri pada telapak tangannya dan tak pernah muncul kembali. Kekhawatiran mereka padaku terdengar sangat tulus. Oh Dear God! Ini salah.
Ini adalah buah terlarang yang sangat kunikmati.
Aku tersenyum. "Semua baik-baik saja-," Aku tercekat. "Mom."
Puluhan orang sedang mati di lautan karena jenisku membunuh mereka satu persatu. Pemburu-pemburu itu, para anak dewa sialan itu, sedang berkeliaran untuk menghabisi mereka yang berbagi darah dengan para monster. Bahkan salah satu dari mereka, yang memiliki mata seterang lautan, anak Poseidon-kurasa-bertemu denganku dan menyadari identitas yang tak seorang pun ketahui. Akan tetapi, di sinilah aku, mabuk dalam cinta yang palsu.
Aku mendorong Marie lembut, lantas tersenyum pada Richard. Aku menunjukkan amplop berisi uang yang kucuri dari Aiden.
"Lihat! Aku mendapat gaji."
Aku menyerahkan uang itu seolah dengan melakukannya segala hal kejam yang kulakukan pada mereka akan termaafkan. Meskipun aku tahu, kata terima kasih dan senyum penuh syukur itu tetaplah bagian dari kepalsuan yang kupaksakan pada mereka.
Itu tidak berarti apa-apa.
Bahwa seluruh makan malam dan canda tawa itu hanyalah bagian dari benang yang kupasangkan di tangan-tangan mereka agar dapat keluarga penuh kasih sayang tak pernah kumiliki.
"Vynnia, kalau ada sesuatu yang menganggumu, kau harus bercerita pada kami, okay?"
Richard tiba-tiba berbicara ketika kami sedang menyiapkan makan malam. Suaranya begitu serius. Aku mengerutkan dahi dan ketika melihatnya ke ruang televisi, aku melihat Richard melihat televisi dengan volume rendah. Televisi yang masih saja menyiarkan berita orang-orang bunuh diri dengan melompat ke laut.
Aku ingat anak mereka yang asli mati karena bunuh diri. Aku tidak tahu benar tentang hal itu karena kali pertama aku mengunakan nyanyianku, mereka merupakan sepasang suami istri yang kehilangan anaknya. Itulah mengapa aku bisa menggunakan nyanyianku untuk mengelabui ingatan mereka. Karena pada akhirnya, nyanyianku ada untuk menarik keinginan terdalam manusia.
Aku segera mendatangi Richard dan memeluknya dari belakang.
"Aku takkan pernah melakukannya, Dad. Aku terlalu mencintai kalian untuk meninggalkan kalian dengan cara yang sama."
Richard menyentuh kepalaku dan mencium dahiku. "Janji?"
"Dengan seluruh jiwaku."
Aku bisa melihat kerutan di wajah Richard seolah memudar ketika aku menenangkannya. Ini pasti berat untuk mereka. Mereka begitu mencintai putri mereka. Itulah mengapa pikiran mereka begitu mudah untuk dikelabui. Itulah mengapa mereka begitu mencintaiku tanpa syarat. Bahkan ketika keluarga kandungku tak pernah mampu melakukannya.
Bunuh diri-bunuh diri itu pasti sangat menganggu mereka. Kejadian itu pasti membawa kenangan yang telah lama mereka kubur rapat-rapat.
Oh God! Aku ingin menghentikan pembunuhan itu bila hal itu dapat membayar semua cinta yang kuterima dari mereka.
Foto Aurelia masih terpasang rapi di dinding. Foto gadis manis yang berusia 17 tahun sebelum dia menenggak seluruh obat tidur. Aku tidak tahu alasan gadis itu melakukannya. Aku tidak pernah ingin bertanya pada sepasang suami istri baik hati ini dan membawa kesedihan pada mereka, tetapi tidak peduli apa pun yang terjadi, aku tak bisa menghilangkan rasa benciku padanya karena membuang dua orang penuh cinta kasih ini dan menenggelamkan mereka dalam duka, rasa bersalah, dan pertanyaan tanpa jawaban tentang kesalahan apa yang mereka perbuat padanya.
"Jangan menontonnya, Richard!" gumamku lembut dengan menyelipkan nyanyianku untuk mengalihkan perhatiannya. Aku meraih remot televisi dan menggantinya ke saluran olah raga.
Ponselku berkedip-kedip. Siapa yang menelepon?
Aku mengerutkan dahi.
Aiden?
Aku melirik pada Richard, dan setelah memastikan pikirannya cukup terfokus pada saluran olah raga dan Marie sedang sibuk di dapur, aku memasuki kamarku.
Nyanyianku tidak berfungsi dalam saluran telepon, sehingga aku tidak terlalu suka berkomukasi dengan telepon. Aiden juga bukan orang yang akan repot menelepon. Apa aku terburu-buru dalam menyisipkan nyanyianku padanya? Apakah dia merasa ada yang aneh karena telah membelikanku mobil dan memberiku uang? Tidak. Aku yakin Aiden sudah cukup mabuk dalam pengaruhku sehingga dia takkan merasa janggal.
"Hello, Aiden?" Tidak ada jawaban. Ini aneh. "Aiden?"
Aku bisa mendengar suara ombak yang terhempas ke tebing. Gemuruh angin malam. Samar-samar, aku bisa mendengar dengungan. Tidak! Jantungku seolah berhenti saat itu juga. Itu bukan dengungan! Itu nyanyian!
Siapa? Kenapa?
"Aiden!" Aku membentak. "Jangan berani-berani kau!"
Sial. Sial. Sial.
Kenapa nyanyianku tidak berfungsi dalam saluran telepon? Kenapa Aiden tiba-tiba saja menjadi korban para Siren itu? Tidak! Ini bukan waktunya memikirkan hal ini.
"Tidak!" Aku memohon. Aku tahu hal ini sia-sia. Aku tahu bagaimana Nyanyian itu bekerja. Aku tahu bahwa sekeras apa pun aku berusaha menghentikannya dengan kata-kata belaka, pikirannya takkan mampu mendengar. Dia hanya akan mendengarkan Nyanyian itu.
Nyanyian yang akan membawanya dalam kematian.
"Aiden, kumohon, dengar aku!"
Tidak ada gunanya. Dia sama sekali tidak mendengar.
Hal yang terjadi selanjutnya hanyalah aku yang menutup mata ketika suara lelaki itu tenggelam ke lautan terdengar. Kemudian, sambungan telepon terputus.
Petra segera mendongak ketika melihat mobilku memasuki pelataran tokonya. Aku bisa melihat kekhawatiran di matanya saat dia membersihkan tangannya dari oli dan segera mendatangiku.
"Kudengar Aiden bunuh diri."
Bunuh diri? Jauh dari itu.
"Aiden bukan orang yang akan bunuh diri tanpa alasan," jawabku sembari keluar dari mobil. Aku melirik ke arah mobil baruku. Well ... mobil yang rusak karena kecelakaan kemarin. "Polisi datang padamu?"
"Mereka hanya ingin mengecek mobilnya. Mobil itu dibeli oleh Aiden atas namamu, kan?" Aku mengangguk. Petra mengusap belakang Aku sungguh tidak ingin membuat Petra khawatir. Dia tidak seharusnya terlibat hal ini. Meski begitu, aku juga tidak ingin berbohong padanya. "Kau dari kantor polisi?"
Aku mengangguk, meskipun pada akhirnya aku menggunakan nyanyian untuk membuat mereka melepaskanku. "Mereka membuat tim penyelidikan khusus. Terlalu banyak orang yang bunuh diri dengan metode yang sama, sehingga mereka khawatir seseorang sedang melakukan manipulasi pada orang-orang ini. Kau tahu. Pembunuh Berantai atau semacamnya. Atau ada yang mengedarkan obat-obatan terlarang yang menyebabkan halusinasi. Apa pun itu, mereka curiga ada seseorang di balik ini semua."
"Tapi, Aiden bukan orang yang mudah dimanipulasi. Sial. Aiden adalah orang paling arogan dan keras kepala yang pernah kutemui. Sulit rasanya mengira dia dipengaruhi hingga mengambil nyawanya sendiri."
Aku menahan diri untuk tidak mengernyit.
Mungkin memengaruhi Aiden dengan sekadar kata-kata psikologis akan mustahil, tetapi dengan nyanyian Siren? Damn. Aiden adalah orang yang sangat mendambakan sentuhan. Dia tidak mengatakannya atau menunjukkan kecenderungan itu di cara bersikap sehari-harinya, tetapi manusia arogan itu bersetubuh seolah dia sedang menyembah tubuh pasangannya. Dia adalah manusia yang haus sentuhan. Oleh karena itulah, sangat mudah untuk menggunakan nyanyian padanya.
Sialnya. Kecenderungan itu membawa Aiden pada kematiannya.
Nyanyian itu. Ada Siren lain yang membunuhnya, tetapi tidak mungkin bagiku untuk membicarakan hal ini pada orang lain. Lagipula, aku dan Aiden baru berkencan tiga hari. Itupun terjadi karena aku berencana untuk menguras uangnya.
Kematian Aiden, dengan panggilan telepon sialan itu, atau pun tidak, bukan urusanku.
Apa yang dilakukan Siren itu pada orang-orang juga bukan urusanku. Namun, bila mereka sampai menyentuh Marie, Richard, atau pun Petra-atau pun orang-orang yang kematiannya akan membuat mereka merasa sedih-aku bersumpah akan membuatnya merasakan perlakuan yang sama dengan apa yang dia lakukan pada korban-korbannya.
Namun, pertanyaannya adalah apakah aku bisa melawannya? Diragukan. Aku tidak pernah berkelahi. Selama ini aku hanya menggunakan nyanyianku sebagai senjata. Namun, apakah nyanyian akan berpengaruh pada Siren? Kalau memang berpengaruh, bagaimana jika nyanyianku lebih lemah? Sial. Melawannya hanya akan membawaku ke dalam lubang kuburku sendiri.
"Hanya ..." Aku menggumamkan nyanyian. Aku meraih bahu Petra pelahan. Tinggi badan kami yang berbeda cukup jauh membuat Petra mendongak. "Jangan pikirkan tentang itu, Petra! Bagaimana jika kita berbicara tentang mob-"Aku tersentak ketika seseorang dengan motor besar berhenti di depan kami. Dia menggunakan helm yang menutupi seluruh wajahnya, tetapi begitu dia membuka kaca helmnya, aku tercekat. "Damn-"
Ini sama sekali tidak adil karena dia terlihat seperti pemeran utama laki-laki dalam novel favoritku keluar ke dunia nyata.
"Halo, Birdie!"
"Kehadiranmu tidak diharapkan di sini, Kendoll."
Petra mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa kalian berdua sudah memanggil satu sama lain dengan nickname?"
"Bukan begitu." Aku mendorong Petra main-main.
"Terlihat begitu." Aku memutar mata. Beruntung perhatian Petra segera teralihkan ketika seorang pelanggan memasuki bengkelnya. "Masuklah!"
Mata Kenneth sama sekali tidak meliriknya. "Terima kasih." Dia hanya menatapku dalam. "Kurasa lain kali."
Aku menggigit bagian dalam mulut. Dia pasti menuduhku melakukannya. Apalagi alasan Pemburu sialan ini mendatangiku kecuali untuk menghentikanku. Tidak. Menghentikan merupakan kata yang terlalu lembut untuk situasi ini. Dia datang untuk membunuhku.
Centaur tua yang kutemui beberapa tahun yang lalu sudah memperingatkan tentang kencerungan dan keberadaan para pemburu. Mereka adalah sekelompok bajingan arogan yang merasa jauh lebih baik karena darah dewa mengalir di tubuh mereka. Mereka tidak begitu peduli dengan apakah makhluk yang mereka bunuh benar-benar melakukan kejahatan yang mereka tuduhkan, satu-satunya hal yang mereka pedulikan adalah membunuh mereka yang mengancam kerahasiaan makluk mitologi.
Para Dewa tidak pernah lagi turun ke dunia, mereka hanyalah keturunan dari sisa-sisa Setengah Dewa. Dan-anehnya-kurasa, mereka juga tidak ingin para dewa turun ke dunia.
Apa pun konflik para makluk mitologi ini dengan dewa-dewanya, aku tidak ingin berususan dengan mereka. Aku memiliki jutaan masalahku sendiri, dan aku takkan menambah list panjang itu dengan urusan para dewa.
Ketika akhirnya Petra, aku menyilangkan tangan di dada defensif.
"Hop up! Ayo pindah! Aku ingin bicara denganmu."
"Aku tidak melakukannya."
Kenneth mengerutkan dahi, terlihat benar-benar kebingungan. Apa kemungkinan aku tidak melakukannya begitu tidak masuk akal untuknya? "Kenapa?"
Aku termenung. "Kenapa?"
"Kita bisa menggunakan mobilmu jika kau tidak nyaman naik motor."
Oh! Aku mendenguskan tawa.
"Okay, Golden Retriever. Hal yang kumaksud adalah aku tidak membunuh mereka."
"Tentu saja. Duh!"
Nadanya yang santai dan ringan mengejutkanku. "Hah?"
"Apa kau pikir aku mampu membunuh mereka?"
"Aku bisa."
"Secara mental?" Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. "Itu dia maksudku. Kau bukan satu-satunya Siren di dunia ini. Bird." Dia melirik sekitar, dan aku baru ingat, kerahasiaan sudah seperti kode etik bagi mereka. "Ayo kita bicara di tempat yang lebih ... pribadi."
"Sehingga kau bisa membunuhku?"
Aku tidak bisa melihat ekspresinya di balik helm itu, tetapi dari sorot mata dannadanya, kurasa dia tersinggung. "Tidak."
"Siapa yang tahu? Kalian para pemburu sangat menjunjung kerahasiaan. Berada di tengah-tengah keramaian seperti ini merupakan bagian dari pertahanku dari kalian."
"Smartass." Dia menggumam. Dengan nada yang lebih enggan, dia berkata, "Aku bersumpah atas nama Sungai Styx, aku takkan membunuhmu dalam pembicaraan kita hari ini. Puas sekarang?"
Aku mengerutkan dahi. "Apa itu?"
"Google it."
"Tidak. Kau jelaskan itu padaku."
Kenneth menghembuskan napas dengan kesal. Apa aku senang membuatnya kesal? Tentu saja.
Dia turun dari motor dan meraih helm full face lain yang menggantung di motornya, lantas berjalan ke arahku. Aku cukup tinggi, tetapi Kenneth lebih besar dan tentu saja lebih tingi. Ditambah lain dengan otot-ototnya. Itu bukan otot yang akan kulihat ketika aku pergi ke gym. Otot Kenneth lebih kuat. Aku tidak bisa melihat bekas lukanya karena dia menggunakan jaket dan sarung tangan, tetapi ingatan tentang bekas lukanya kemarin masih begitu jelas di otakku.
Begitu berhenti di depanku, dia memasangkan helm padaku dan menepuk kepalaku dengan tangannya yang besar.
"Bentangkan sayapmu dan letakkan pantatmu ke motorku, Birdie. Kita perlu bicara."
"Aku tidak suka diperintah. Pergilah dan tinggalkan aku Kenneth."
Aku tidak suka ketika tidak bisa membawa ekspresinya di balik helm sialan itu, tetapi Kenneth terdengar geli. "Kau bukan satu-satunya makluk yang menggunakan mulutmu sebagai senjata, Kane. Nyanyianmu tidak bekerja padaku."
"Kenapa?"
Dia meraih sikuku lembut. "Ayo bicara! Tolong!"