Jihan tengah sibuk memasak seblak pesanan pelanggan setianya, kala motor sang suami memasuki halaman rumah. Dengan senyum sumringah, sang suami turun sembari menenteng sebuah kantong kresek berwarna hitam yang tak bisa memperlihatkan isi di dalamnya.
Jihan pun ikut tersenyum karena mengira isi dari kresek tersebut adalah ayam goreng crispy dari sebuah brand terkenal yang dijanjikan Rizal, sang suami untuk putranya. Setelah selesai melayani pelanggan, Jihan segera menyusul sang suami yang sudah duduk di sofa sembari memainkan telepon pintar.
"Mas." Panggilan lembut Jihan membuat sang suami memalingkan pandangan dari gawai di tanganya, Rizal menghampiri dan menggandeng tangan sang istri ke ruang makan.
"Jihan, ini ada soto ayam dari ibu. Kamu panasin ya, nanti biar buat makan Fadil," perintah Rizal yang membuat kedua alis sang istri saling bertaut, tentu saja Jihan sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, wanita itu tetap ingin menanyakan perihal janji sang suami pada Fadil, putra mereka.
"Tapi, Mas. Bukanya kamu sudah janji sama Fadil, kalau gajian ini akan belikan dia ayam goreng KFC?" Pertanyaan itu dilontarkan Jihan sembari menuang soto pemberian ibu mertuanya ke dalam mangkok.
"Ayam goreng KFC itu mahal, Jihan. Sayang uangnya, udah syukur ibuku kasih soto untuk makan Fadil. Toh itu soto juga ada ayamnya," ucap Rizal tanpa memikirkan perasaan putra mereka nanti, jika mengetahui sang ayah lagi-lagi mengingkari janji.
"Ya sudah, kalau begitu aku minta jatah bulananku saja, Mas. Hari ini kamu gajian kan?" Wanita itu menadahkan tangan, meminta haknya pada sang suami yang malah menghembuskan napas panjang.
Dengan berat hati, Rizal mengeluarkan dompetnya dari dalam saku. Seperti yang sudah Jihan tebak sebelumnya, sang suami hanya memberikan lima lembar uang merah kepada dirinya. Padahal, Rizal bekerja sebagai buruh pabrik rokok dengan gaji dua juta lima ratus ribu setiap bulanya.
"Kamu pegang itu dulu ya, kalau kurang kan kamu bisa tutupin dari hasil jualan," ujar Rizal yang kembali memasukan dompet kulitnya ke dalam saku.
Jihan mendengus kesal, memandangi uang lima ratus ribu yang berada dalam genggaman tanganya saat ini. Dan hal ini terjadi setiap bulan. Dengan kata lain, wanita itu harus berjuang sendiri untuk menutupi kebutuhan lainya.
"Mas, Fadil waktunya bayar sekolah. Uang segini mana cukup, belum lagi harus bayar listrik. Dan lihat, soto yang ibu kasih cuma setengah mangkok, itu juga tanpa ayam, Mas. Cuma ada satu kaki ayam. Warna kuahnya juga sudah keruh, pasti sudah beberapa kali dihangatkan." Jihan beranjak mengambil sendok dan mengambil sedikit kuah soto kemudian menyodorkannya pada sang suami.
"Nih kamu coba rasain?" perintah Jihan yang langsung menyuapkan kuah soto itu pada sang suami, Rizal terdiam sejenak mengecap rasa kuah yang sudah terasa sedikit asam di lidah. Pertanda jika soto yang diberikan ibunya sudah setengah basi.
"Emb, kok rada kecut ya, Han?" ucap Rizal pada akhirnya.
Jihan tersenyum kecut, dari warna dan baunya saja ia sudah tahu jika soto itu mungkin sudah dimasak dua hari yang lalu.
"Terus yang seperti ini, kamu tega kasih makan ke anak kamu?" Mata Jihan mendelik, menatap sang suami dengan penuh kekesalan.
"Sudahlah, kalau gitu kamu kasih Fadil makan sama lauk yang ada aja. Aku cuma pegang uang lima ratus ribu buat beli bensin dan rokok. Yang sejuta lima ratus diminta ibu, karena mau ada tetangga yang nikahan dan dia disuruh rewang. Katanya malu kalau nggak pakai perhiasan baru," ungkap Rizal pada akhirnya.
"Mas, harusnya kamu bisa kasih tahu ibu dong. Jangan selalu mikirin gengsi kalau kenyataanya gaya hidup beliau nggak sesuai dengan keadaan, kita punya anak dan kita juga perlu biaya hidup, Mas," debat Jihan yang sudah terlanjur kesal.
"Bunda!"
Suara teriakan dari arah pintu masuk membuat perdebatan itu terhenti. Fadil, bocah berusia delapan tahun itu menghampiri kedua orang tuanya dengan wajah berbinar karena tahu jika hari ini adalah tanggal gajian sang ayah.
"Hallo sayang, dari mana saja kamu?" tanya Rizal pada bocah yang tengah tersenyum menatap ke arahnya.
"Habis main, Yah. Oh iya, ayam KFC-nya mana? Hari ini Ayah gajian kan?"
Pertanyaan bocah itu membuat kedua orang tuanya saling melempar pandangan. Rizal mengedipkan mata sebagai kode untuk meminta sang istri memberi pengertian pada putranya. Jihan mendekat dan menekuk lutut untuk mensejajarkan tingginya dengan sang anak.
"Sayang, hari ini makan pakai telur gulung dulu ya. Bunda bikinin yang gede biar kayak paha ayam, besok setelah bayar uang sekolah kamu baru kita beli ayam gorengnya. Tadi Ayah lupa beli." Jihan memberi pengertian pada Fadil sembari menahan air matanya agar tak sampai jatuh, ini bukan pertama kalinya. Tapi setiap kali sang putra meminta sesuatu, Jihan harus selalu bisa membuatnya mengerti bahkan melupakan keinginanya itu.
Pandangan Fadil tertuju pada kuah soto yang berada di atas meja. Mata bocah itu berbinar, karena ada makanan enak meski bukan ayam goreng yang ia minta dari jauh hari sebelum sang ayah gajian. Bocah kelas dua sekolah dasar itu langsung mendekat ke arah meja makan.
"Lho ini ada soto kan, Bun?" tanya Fadil yang kembali menoleh ke arah sang bunda.
"Iya, itu soto dari nenek. Kamu makan aja," ucap Rizal yang tega menyuruh putranya untuk memakan soto setengah basi pemberian ibunya.
Jihan bergeming, setetes bulir bening telah berhasil lolos dari netra indahnya. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sang suami. Fadil kembali menoleh setelah mengaduk-aduk isi mangkok dengan sendok yang tadi digunakan Rizal untuk mencicipi kuah soto itu.
"Ayah, kok isi sotonya cuma ceker sebiji. Dan ini ... sotonya udah bau," protes bocah kecil itu menatap sang ayah dengan pandangan sendu.
Jihan yang sudah tak tahan melihat pemandangan itu langsung memeluk tubuh mungil sang anak.
"Nggak usah dimakan, kita ke depan aja yuk. Beli ayam goreng abang-abang dulu ya, besok kita beli KFC. Bunda janji!"
Jihan menggandeng tangan putranya keluar rumah tanpa peduli pada pandangan tajam sang suami. Namun, wanita itu kembali memutar badannya. Mengambil mangkok berisi soto dan membuangnya ke tempat cucian piring di hadapan sang suami secara langsung.
"Dasar istri kurang ajar, boros banget! Semua permintaan anak diturutin," umpat Rizal karena kesal melihat sang istri membuang soto pemberian ibunya yang sudah setengah basi dan tak layak makan itu.
Jihan tak peduli, wanita itu menyalakan sepeda motornya dan membonceng sang anak untuk membeli ayam crispy harga murah di depan gang.
Lima belas menit kemudian, Jihan kembali dengan menenteng sebuah kantong kresek. Wanita itu membuatkan sambal bawang kesukaan Fadil kemudian menunggui sang anak untuk makan. Nampak Fadil makan dengan sangat lahap, meski dengan lauk ayam goreng crispy murah yang hanya tebal tepungnya saja.
Rizal yang baru saja selesai mandi langsung mengambil sepiring nasi hendak ikut makan. Namun, mata lelaki itu malah melotot kala melihat apa yang tersaji di atas meja makan.
Pandangan mata tajam Rizal langsung mengarah pada sang istri yang tengah susah payah berusaha menahan tawa agar tidak pecah. Wanita itu sibuk mengunyah nasi dengan sambal bawang sembari pura-pura tak melihat wajah merah padam sang suami yang sudah tersulut emosi.
"Jihan, kamu kan tadi beli ayam crispy buat Fadil. Lalu, ayam untuk aku mana?" tanya lelaki itu pada sang istri.
Seketika Jihan menghentikan aktivitasnya mengunyah dan berganti memandang ke arah sang suami dengan tatapan tajam.
"Bukannya Mas sendiri yang bilang, kalau aku itu istri yang boros. Makanya sekarang aku coba untuk berhemat, beli ayamnya satu aja buat Fadil. Kita cukup makan dengan sambal bawang biar hemat dan uang bulanan dari kamu cukup buat makan sebulan sekalian bayar tunggakan SPP Fadil," oceh Jihan kemudian melanjutkan kembali makannya.
"Ck, kalau gitu buatin aku telur dadar saja. Masih ada kan telur di kulkas."
Permintaan Rizal membuat sang istri memutar bola matanya malas, enak saja dia mau makan pakai telur modal dagangan telur gulung dan seblak milik sang istri. Bantu modalin saja tak mau, kebutuhan dapur juga sang istri yang harus menutup dengan hasil jualanya.
"Ya nggak bisa dong, Mas. Telur itu kan modal dagangan aku, bisa bangkrut aku nanti kalau kamu jadikan lauk," ketus Jihan yang masih terlihat santai melanjutkan makanya.
"Ayah kasih Bunda uang yang banyak dong, biar Bunda juga bisa masak enak seperti nenek," sahut Fadil, bocah itu telah selesai melahap semua isi piringnya.
"Sudahlah, Mas. Makan aja pakai sambal, kalau kamu mau, itu masih ada kerupuk," ucap Jihan kemudian membawa piring kotornya ke wastafel untuk dicuci.
Dengan terpaksa, Rizal menyantap nasi dengan sambal bawang beserta kerupuk yang sudah alot karena terlalu lama tersimpan di bawah tudung saji. Sembari mengunyah, lelaki itu mengirim pesan pada kakak perempuan yang satu rumah dengan sang ibu.
Mbak, besok suruh ibu masak rendang daging. Pulang kerja aku mau makan di sana.
Usai mengisi perut, Rizal langsung masuk kamar dan merebahkan diri sembari memunggungi sang istri. Tentu saja Jihan tahu jika sang suami sedang marah, tapi wanita itu memilih cuek karena malas jika harus berdebat lagi. Tubuhnya sudah terlalu lelah setelah seharian berjualan.
*******
Keesokan harinya, Rizal berangkat bekerja tanpa sarapan terlebih dahulu. Bahkan, tanpa pamit pada anak dan istrinya. Sepertinya, lelaki itu masih merasa kesal dengan sikap Jihan kemarin.
"Kok ayah nggak pamit sama kita, Bun?" tanya Fadil yang menyadari sikap aneh sang ayah.
"Mungkin ayah lupa, kamu terusin makannya ya. Bunda ganti baju dulu, terus antar kamu ke sekolah." Ucapan Jihan langsung diangguki oleh sang anak.
Wanita itu beranjak, menuju ke kamar untuk berganti baju kemudian membuka laci yang selalu ia kunci selama ini. Jihan menghembuskan napasnya kasar, menatap laci berisi berbagai perhiasan emas yang semakin hari isinya semakin berkurang. Perhiasan itu adalah peninggalan almarhum sang ibu yang sama sekali tak diketahui oleh Rizal karena Jihan memang sengaja menyembunyikannya. Kalau tidak, mungkin Rizal sudah meminta Jihan untuk menjual semuanya.
"Bulan lalu jual kalung, sekarang jual gelang. Kalau bulan depan masih begini lebih baik cincin kawin darimu ini yang aku jual," geram Jihan kemudian memasukan gelang itu ke dalam tasnya dan kembali ke meja makan untuk menghampiri sang putra.
"Ayo, Nak. Kita berangkat sekarang, nanti kamu terlambat. Ini uang buat bayar SPP kamu ya," ujar Jihan sembari mengulurkan tiga lembar uang pecahan lima puluh ribu untuk membayar uang bayaran sekolah Fadil yang sudah menunggak selama tiga bulan.
Bocah kelas dua sekolah dasar itu mengangguk dan menyimpan uang pemberian sang bunda ke dalam tas sekolahnya.
Jihan mulai melajukan sepeda motornya menuju sekolah Fadil, hari ini ia sengaja libur berjualan karena setelah ini akan pergi ke pasar untuk menjual gelang yang sempat ia ambil sebelum berangkat. Wanita muda itu larut dalam pikiranya sendiri sampai hampir lupa jika harus berhenti di depan sekolah putranya.
"Stop, Bun! Stop!" pekik bocah kecil itu kala sekolahnya hampir terlewat, membuat sang bunda mengerem mendadak.
"Ya ampun, Sayang. Maaf ya, Bunda hampir aja lupa berhenti di sini," ucap Jihan saat sang putra mengecup punggung tangannya sebagai tanda pamit.
"Iya, Bunda, nggak apa-apa. Fadil sekolah dulu ya, Bunda hati-hati."
"Iya, nanti jangan pulang sebelum Bunda jemput kamu ya," pesan Jihan yang langsung diangguki oleh sang putra.
Jihan kembali memutar gas sepeda motornya menuju ke pasar, tujuan utamanya adalah sebuah toko perhiasan yang cukup besar. Saat hendak masuk ke dalam toko, tanpa sengaja wanita itu melihat ibu mertua dan kakak iparnya juga sedang berada di sana. Sayup-sayup terdengar obrolan kedua wanita beda usia tersebut, membuat Jihan memutuskan untuk menguping terlebih dahulu. Nampak sang ibu mertua yang tengah mencoba sebuah gelang emas.
"Rindi, lihat. Gelangnya bagus sekali kan?" Bu Inggar, mertua Jihan terdengar meminta pendapat pada anak sulungnya.
Ya, Rindi adalah anak sulung Bu Inggar sekaligus kakak Rizal. Rindi memang anak kesayangan ibunya. Wanita muda itu adalah janda anak satu yang sudah bercerai dari suaminya. Dan Rizal sangat menyayangi keponakanya itu, mungkin karena sejak dulu lelaki itu sangat mendambakan anak perempuan. Namun, apa daya. Tuhan memberikan Fadil sebagai pelengkap kebahagiaan dalam rumah tangga mereka.
"Bagus sekali, Bu. Sebenarnya Rindi juga ingin belikan Putri gelang. Tapi mau gimana, uang dari Rizal sudah dipakai untuk bayar rekreasi sekolahnya minggu depan," balas Rindi dengan wajah sendu yang sengaja dibuat-buat.
Jihan menautkan alis kala mendengar kata rekreasi. Pasalnya Putri, anak Rindi satu kelas dengan Fadil. Tapi kenapa Fadil sama sekali tak bicara soal rekreasi.
"Tenang saja, bulan depan Ibu akan minta sama Rizal buat belikan gelang untuk putri. Sekarang kita pulang yuk," ajak Bu Inggar setelah membayar gelang yang dipilihnya.
"Iya, Bu. Tapi beli daging dulu ya, Rizal kan minta dimasakin rendang," ucap Rindi mengingatkan sang ibu.
Lagi-lagi Jihan harus menahan rasa sesak di dalam hatinya kala mengetahui sang suami lebih memilih memberikan uang gajinya untuk sang ibu dan makan enak di sana tanpa mempedulikan anak dan istrinya di rumah.
"Kenapa kamu bisa lakukan semua ini, Mas. Baiklah, aku akan ikuti permainan kamu. Biar saja kamu setiap hari makan di rumah ibumu," geram Jihan dengan kedua tinju yang mengepal.
Jihan segera menghampiri Bu Inggar dan Rindi yang hendak keluar dari toko perhiasan itu.
"Ibu, Mbak Rindi." Panggilan Jihan membuat kedua wanita itu menghentikan langkah, Bu Inggar yang sedikit terkejut melihat kehadiran sang menantu berusaha untuk menetralkan ekspresinya.
"Eh, Jihan. Kamu di sini juga, mau ngapain?" tanya Bu Inggar berbasa-basi sembari menunjukan gelang yang telah melingkar cantik di pergelangan tangannya.
"Paling dia mau jual perhiasan, Bu. Eh, tapi dia kan nggak punya perhiasan. Atau jangan-jangan mau jual cincin nikahnya buat makan kali ya, Bu. Kasihan banget," ejek Rindi yang sengaja memanas-manasi Jihan.
"Iya, Mbak. Aku mau jual cincin nikah untuk makan karena nafkah untukku sudah direbut oleh ibu mertua dan kakak iparku!"
Jihan dengan sengaja mengeraskan suaranya hingga mengundang perhatian beberapa pengunjung toko emas tersebut. Beberapa ibu-ibu berbisik sembari memandang negatif ke arah Bu Inggar dan putri sulungnya.
"Kurang ajar ya kamu, Jihan. Sengaja kamu mau mempermalukan kami?" bisik Bu Inggar dengan mata melotot.
Jihan tersenyum kecut, bukan maksudnya untuk bersikap kurang ajar pada ipar dan ibu mertuanya. Namun, rasa hatinya sudah benar-benar lelah. Untuk apa menghormati mertua dan ipar yang selalu menindas, bahkan tega mengambil hak nafkahnya.
"Ibu malu? Kenapa? Apa Ibu memang merasa sudah merebut hakku dan anakku," balas Jihan kian sengit, membuat kedua wanita itu memilih untuk segera pergi sebelum bertambah malu.
Jihan menatap punggung dua wanita yang kian menjauh dari pandangan mata, kemudian memutar badan untuk kembali pada tujuan utamanya. Namun, satu pemikiran terlintas di benaknya.
"Ibu dan Mbak Rindi pasti akan bilang ke Mas Rizal kalau aku jual cincin nikah, jadi sebaiknya memang aku jual saja sekalian cincin ini biar dia nggak curiga," batin Jihan dalam hati, wanita itu memutuskan untuk menjual gelang dan juga cincin nikahnya.
Langkah kaki Jihan terayun menuju salah satu karyawan yang tampak sedang tak melayani pembeli.
"Permisi, Mbak. Saya mau jual perhiasan," ucap Jihan pada karyawan toko itu.
"Ada surat-suratnya?" Jihan mengangguk, mengeluarkan perhiasan beserta surat-suratnya dari dalam tas.
Karyawan toko tersebut segera memeriksa dengan seksama gelang dan cincin yang hendak dijual oleh Jihan.
"Semua totalnya lima juta rupiah, Mbak," cetus karyawan toko tersebut setelah selesai memeriksa dan menghitung harga emas milik Jihan.
"Baiklah, Mbak."
Jihan segera menghitung uang yang diberikan oleh karyawan toko tadi dan bergegas pergi setelah memastikan jika jumlah uang ditangannya sudah sesuai.
Wanita itu kembali memacu sepeda motornya menuju ke rumah. Jihan memutuskan untuk menyimpan terlebih dahulu uang hasil penjualan gelang tersebut ke dalam laci rahasianya dan hanya menyisakan uang satu juta hasil dari penjualan cincin nikahnya di dalam dompet. Hal tersebut sengaja ia lakukan agar Rizal tak mengambil semua uang miliknya dengan dalih Bu Inggar dan Rindi sedang membutuhkan uang.
Jam di dinding kamar Jihan telah menunjukan pukul setengah dua belas siang, pertanda ia harus segera menjemput Fadil di sekolah. Wanita itu sengaja membawa dua helm karena akan mengajak putranya untuk makan di luar. Jihan mulai melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang, dari kejauhan nampak sang putra yang sudah menunggu kedatangannya di depan gerbang.
"Halo, Sayang. Maaf ya kalau Bunda sedikit terlambat," sapa Jihan pada putra tunggalnya dan dibalas dengan sebuah senyuman oleh bocah berusia delapan tahun itu.
"Tidak apa-apa, Bun. Fadil juga baru saja keluar kelas."
Jihan segera memakaikan helm di kepala Fadil dan kembali melajukan sepeda motor maticnya menuju sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota itu. Awalnya Fadil hanya menurut. Namun, wajahnya langsung berbinar kala sepeda motor sang Bunda telah berhenti di parkiran mall tersebut. Apalagi di lantai satu jelas terlihat sebuah restoran cepat saji yang sangat diimpikan oleh Fadil.
"Lho, kok kita pergi ke sini, Bun?" tanya bocah kecil itu dengan wajah polos.
Jihan tersenyum tipis kemudian menekuk lututnya untuk mensejajarkan tinggi mereka berdua. Tangan wanita itu terulur. Menangkup kedua pipi Fadil dan menatap wajah polos yang sangat ia sayangi. Karena bagi Jihan, sang putra adalah harta paling berharga yang paling ia miliki.
"Kan kemarin Bunda sudah janji mau ajak Fadil makan di KFC. Jadi sekarang Bunda mau menepati janji dong, ayo kita makan," ajak Jihan pada putranya, bocah kecil itu tak bergeming. Seolah tak percaya jika keinginannya bisa diwujudkan oleh sang Bunda.
Sepasang ibu dan anak itu saling bergandeng tangan, masuk ke sebuah restoran cepat saji dan memesan dua nasi ayam crispy lengkap dengan minuman dan kentang goreng. Jihan menatap sendu wajah sang putra yang tengah menikmati makan siangnya dengan begitu lahap. Sebersit kesedihan kembali terasa menyayat hati. Mengingat sang suami yang seolah tak peduli pada putranya sendiri dan lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan keponakannya.
"Terima kasih ya, Bunda. Fadil sayang banget sama Bunda," ucap bocah kecil itu setelah menghabiskan seluruh isi piringnya.
Jihan teringat kembali dengan perkataan Rindi tentang rekreasi. Berniat menanyakan hal itu pada sang anak yang sama sekali tak membicarakan masalah rekreasi sekolah pada dirinya.
"Nak, Bunda mau tanya sesuatu boleh? Tapi jawab yang jujur ya." Jihan mulai memamcing pembicaraan serius antara ibu dan anak. Tentu saja Fadil langsung mengangguk karena selama ini anak itu memang tak pernah berbohong.
"Apa di sekolah Fadil ada acara rekreasi minggu depan?" tanya Jihan dengan sangat hati-hati karena tak ingin melukai perasaan putranya.
Hening.
Bocah kelas dua SD itu tak menjawab, hanya menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. Tentu saja Jihan langsung tahu jika putranya itu sedang berusaha untuk menyembunyikan sesuatu. Namun, wanita itu tak putus asa, tanganya menggenggam lembut jemari sang anak. Matanya menatap teduh ke arah dua bola mata sendu bocah kecil itu.
"Kok Fadil diam saja, ayo katakan, Nak. Bunda hanya sekedar ingin tahu saja." Jihan kembali membujuk agar putranya mau bercerita.
"I- iya, Bun. Sebenarnya minggu depan ada acara rekreasi sekolah naik kereta kelinci."
"Lalu, kenapa Fadil nggak bilang sama Bunda?"
"Kata Putri, Bunda nggak mungkin punya uang untuk bayar uang rekreasi itu. Jadi, Fadil nggak bilang karena nggak mau Bunda bingung cari uang," ucap bocah polos itu kemudian kembali menunduk.
Deg.
Hati Jihan benar-benar sakit mendengar penjelasan sang anak. Serendah itukah ia di mata keluarga sang suami. Bahkan, Putri yang notabene masih anak kecil pun bisa ikut menghina Jihan dan putranya.
Jihan segera merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Mengecupi puncak kepala putranya berkali-kali dengan penuh kasih sayang.
"Nak, Bunda punya uang kok. Ini buktinya Bunda bisa belikan kamu ayam KFC, besok Bunda kasih uang untuk bayar rekreasinya ya. Kita ikut," ucap Jihan seraya menghapus air mata yang tanpa sadar telah membasahi pipinya.
"Ya Bunda, Fadil mau. Biar si Putri itu nggak ngejekin Fadil terus."
Lagi-lagi Jihan harus menelan kepahitan. Dari cara bicara putranya barusan, terlihat jelas jika anak itu selalu mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari kakak sepupunya.
"Ya sudah, kita pesan lagi KFCnya untuk dibawa pulang ya. Buat malan malam nanti," ucap Jihan kemudian beranjak dari kursinya.
Hari sudah beranjak sore saat Jihan sampai ke rumahnya. Namun, sang suami juga belum pulang. Wanita itu hanya bisa tersenyum kecut mengingat sang suami akan pulang terlambat karena lebih dulu mampir ke rumah ibu mertuanya untuk makan enak.
Sepasang Ibu dan anak itu segera masuk ke dalam rumah kemudian bergantian untuk membersihkan diri.
Selepas maghribh, keduanya kembali duduk di meja makan untuk menyantap makan malam dengan menu ayam KFC yang mereka beli tadi siang. Sengaja Jihan membeli cukup banyak agar bisa dipanaskan untuk sarapan putranya besok pagi.
Saat tengah asyik mengunyah, sayup-sayup terdengar suara sepeda motor Rizal yang memasuki pekarangan. Sejurus kemudian, lelaki itu telah masuk ke dalam rumah. Mata Rizal melotot melihat menu makan malam yang sedang disantap oleh istri dan anaknya.
"Apa-apaan ini Jihan?"