Bab 1

Kehidupan rumah tangga Vee dan Damar sangat bahagia meski tanpa kehadiran seorang anak diantara mereka. Mungkin, Tuhan masih belum mempercayai mereka untuk memiliki seorang anak. Atau, mungkin, Tuhan punya rencana lain dibalik itu semua. 

Kebahagiaan mereka terusik ketika satu hari Damar--suami Vee--pulang membawa seorang gadis muda yang diakui oleh Damar sebagai pembantu baru rekomendasi kakak perempuannya untuk membantu pekerjaan Vee di rumah. Mereka ingin keduanya fokus untuk mendapatkan keturunan sebagai generasi penerus keluarga. Namun, sangat disayangkan. Kehadiran pembantu itu bukan membuat rumah tangga Vee tentram. Justru,  kehadiran Sumi--pembantu itu telah membuat rumah tangganya hancur berantakan.

Awalnya, Damar hanya ingin bermain-main saja dengan Sumi--pembantu barunya. Akan tetapi,  justru dia terjebak oleh permainannya sendiri dan berbalik menyukai Sumi. Entah apa yang dilakukan oleh pembantu itu hingga Damar tergila-gila dan menuruti apa pun keinginan perempuan muda itu. 

***

"Sayang, ini Sumi--pembantu baru yang akan membantumu mengurus rumah," ucap Damar memperkenalkan seorang gadis muda yang berdiri menunduk di sampingnya. 

"Kok kamu gak bilang sebelumnya kalau mau ambil pembantu, Mas?" tanya Vee melirik gadis itu dengan tatapan tidak suka.

"Bukan begitu sayang. Aku hanya kasihan melihatmu pulang kerja masih harus mengurus rumah. Kalau kamu terus begini, kapan kita bisa program punya anak," jawab Damar beralasan. 

Ucapan Suaminya itu benar. Sudah melewati lima tahun mereka berumah tangga. Akan tetapi, Tuhan masih belum juga memberikan mereka keturunan. Padahal, keduanya tidak memakai pengaman atau apa pun. Vee selalu tidak nyaman setiap kali ada pertemuan keluarga dari pihak Damar--suaminya. Karena, mereka akan menanyakan kehamilan pada Vee. 

Pada akhirnya, Vee pun menyetujui kehadiran pembantu muda itu di rumah kediaman mereka. Meski dia harus menepis segala prasangka buruk yang akan terjadi pada rumah tangganya pasca kehadiran Sumi--pembantu baru itu. 

"Berapa usiamu, Sumi?" tanya Vee menatap Sumi tanpa berkedip. 

"Dua Puluh satu tahun, bu," jawab gadis muda itu menunduk takut melihat tatapannya. 

"Masih muda sekali. Di mana sebelumnya kamu bekerja?" sambung Vee masih menatap Sumi yang mulai tidak nyaman. 

"Jujur, ini pertama kalinya Sumi bekerja, Bu. Karena, Bude mengajakku bekerja di kota. Selama ini, hanya tinggal di kampung bersama simbok dan bapak," jawabnya lagi. 

Vee mengerutkan keningnya. Dia tidak habis pikir, mengapa kakak iparnya memberikan pembantu yang belum ada pengalaman bekerja. Vee ingin menyuruh Damar--suaminya mencari pembantu yang berpengalaman supaya dia tidak perlu mengajarkan lagi. Akan tetapi, keputusan suaminya itu sudah bulat. Menerima Sumi bekerja di rumah mereka meski dia tidak setuju. 

"Sudahlah, Vee. Masa karena persoalan dia belum berpengalaman lantas kita harus mengembalikan Sumi pada keluarganya? Kau kan bisa mengajarinya pelan-pelan bagaimana mengurus rumah tangga. Aku tidak mau tahu, Sumi akan tetap di sini meski kau tidak menyetujuinya," ucap Damar sedikit kesal padanya. 

"Tapi, Mas. Sumi itu belum ..." ucapannya terhenti karena Damar langsung menyuruhnya diam. 

Vee memakai alasan yang membuat dirinya tidak bisa lagi menolak keinginan suaminya itu. Vee merasa tidak berdaya jika Damar sudah menyinggung soal kehamilan yang sangat ditunggu bukan hanya oleh keluarga besarnya, melainkan juga keluarga besar suaminya. Dia hanya bisa diam ketika suaminya terlihat kesal karena ketidaksukaan melihat kehadiran Sumi. 

"Ingat, Vee. Mama dan papa sudah ingin menimang cucu dari keturunanku. Jangan mempersulit aku dengan pertanyaan keluarga besar kita hanya karena persoalan keturunan. Kali ini, ikuti saja perintahku. Mengerti!" ucap Damar menahan kesal pada Vee--istrinya. 

"Huft. Baiklah, Mas. Aku akan menuruti ucapanmu kali ini. Tapi, jangan salahkan aku jika satu hari kau menyesalinya. Sumi, kau bisa menempati kamar belakang. Setelah itu istirahatlah. Besok, baru kau mulai bekerja," perintah Vee pada gadis itu. 

"B-baik, Bu. Terima kasih atas kebaikan hati ibu dan bapak karena telah menerimaku bekerja di sini. Sumi berjanji, akan bekerja dengan baik," ucapnya sebelum meninggalkan ruang tamu. 

Vee tidak menghiraukan ucapan gadis itu. Dia lebih fokus melihat perubahan sikap suamijya yang terlihat berbeda kala menatap Sumi. Entah mengapa, hati kecilnya berpikir, rumah tangga mereka tidak akan baik-baik saja setelah kehadiran pembantu baru di rumahnya. Dia pun memberi ultimatum akan melihat hasil kerja Sumi dalam satu bulan ke depan, dan segera memecat pembantu itu jika dia tidak bisa mengikuti dengan benar arahan yang diberikan.

"Ingat, Mas. Aku akan melihat pekerjaannya dalam satu bulan ke depan. Jika dia tidak bisa mengikuti aturanku, maka, dengan sangat terpaksa, Sumi aku pecat," ucap Vee kesal. 

"Iya, Istriku sayang. Kau boleh memecatnya jika dia tidak bisa bekerja dengan baik. Aku hanya minta, kau melihat hasil kerja gadis itu, dan memberinya kesempatan," jawab Damar memeluk Vee erat. 

"Apa kau tidak menyadari kecemburuan bercampur rasa curiga dengan kehadiran Sumi di dalam rumah tangga kita?  Terlebih, dia masih muda. Aku bisa melihat cara kamu menatap pembantu baru itu sangat berbeda, Mas."

Vee hanya bisa berkata dalam hati melihat bagaimana suaminya menatap pembantu baru itu dengan tatapan memuja. Terlebih postur tubuh Sumi yang terlihat bongsor dan pakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Akan tetapi, dia berusaha untuk sabar dan mengikuti perkataan suaminya. Karena, biar bagaimanapun juga, suaminya adalah seorang kepala rumah tangga yang perkataannya harus dituruti. Meskipun, hal itu bertentangan dengan hati nuraninya dan juga kepekaannya sebagai seorang perempuan. 

***

Tanpa terasa, enam bulan terlewati semenjak kehadiran Sumi dalam rumah tangga keduanya. Vee mengakui, gadis itu cepat menangkap apa yang diajarkan selama ini. Dia pun mulai menerima kehadiran gadis itu. Semanjak Sumi hadir, rumah pun terlihat sangat rapi. Dia pun tidak perlu pulang lebih awal untuk membersihkan rumah dan memasak untuk suaminya. Karena, Sumi sudah mampu melakukan semua dengan baik. 

Vee merasa, ada yang berubah dalam diri suaminya. Hal itu mulai dia rasakan semenjak kehadiran Sumi--pembantu baru di rumah mereka. Berapa hari belakangan, dia selalu meminta Vee untuk berangkat terlebih dahulu ke kantor. Padahal, biasanya, mereka selalu berangkat bersama. Namun, kali ini, dengan alasan akan langsung menemui klien, suaminya menyuruhnya memakai taxi untuk pergi ke kantor. 

"Tumben sekali, Mas. Biasanya, mas ke kantor dulu sebelum menemui klien. Tapi, mengapa beberapa hari ini sepertinya rutinitas itu berubah. Apa itu kebijakan baru di kantormu?" tanya Vee penasaran.

"Mas juga tidak paham, Sayang. Hanya menjalankan perintah atasan saja. Mungkin, mereka ingin lebih efisien saja. Apa kau tidak percaya dengan suamimu ini, Vee?" tanyanya yang masih terlihat bermalasan di ranjang mereka. 

"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu, Mas. Aku akan bilang Sumi untuk menyiapkan sarapan untukmu," kataku sambil berlalu keluar kamar. 

"Sumi ..." panggilku saat melihatnya akan ke kamar. 

"Iya, bu," jawabnya lalu mendekatiku. 

"Siapkan sarapan untuk bapak, dia berangkat agak siang nanti," kataku.

"Baik, bu," jawabnya terlihat gembira. 

Tentu saja, Vee merasa aneh melihat tingkah laku pembantu yang baru enam bulan berada di rumah mereka. Nampak sekali perubahan wajah Sumi ketika dia mengatakan suaminya akan berangkat lebih siang darinya. Akan tetapi, Vee berusaha menepis kecurigaan dan memilih untuk berangkat karena taxi yang dia pesan sudah menunggunya. Seandainya saja Vee bisa lebih peka atas perubahan suami dan pembantu barunya itu, mungkin, perselingkuhan itu tidak akan pernah terjadi. Dan, rumah tangga mereka masih baik-baik saja. 

"Kenapa perasaanku mendadak tidak enak ya, ada apa ini," kataku dalam hati. 

***

Setelah mengetahui Vee--istinya sudah berangkat. Damar pun segera bangkit dari ranjang lalu keluar menuju dapur di mana saat itu Sumi--pembantunya tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya. Tentu saja, hal itu tidak dia sia-siakan. Damar yang telah tergoda kemolekan tubuh pembantunya itu pun kembali menggodanya. Berharap, kejadian beberapa waktu lalu akan terulang kembali dan membuat dirinya merasakan kepuasan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya dengan sang istri.

Dia telah menyukai pembantu itu saat pertama kali kakak perempuannya menyuruh dirinya membawa gadis itu untuk dijadikan pembantu di rumah kediamannya bersama Vee. Selama ini, dia berpikir, Vee adalah segalanya. Namun, semenjak kehadiran Sumi, pikiran itu berubah. Secara diam-diam, Damar selalu memperhatikan saat Sumi tengah melakukan aktifitas yang membuat sesuatu dalam dirinya ingin memiliki gadis itu.

Kesempatan itu datang ketika Vee harus kerja lembur selama beberapa hari hingga membuat Damar hanya berada di rumah itu berdua saja dengan pembantunya. Mulanya, Sumi menolak. Namun, dengan iming-iming akan menambah gaji dan membelikan apa pun yang Sumi inginkan. Akhirnya, gadis lugu itu pun luluh dan mau mengikuti kemauannya. 

Semenjak saat itu, Damar ketagihan mencicipi tubuh Sumi setiap kali ada kesempatan. Seperti pagi ini. Dia sengaja beralasan pada Vee dengan mengatakan harus menemui salah satu klien penting. Beruntung, Vee percaya perkataannya dan segera berangkat tanpa bertanya apa pun lagi. Setelah memastikan istrinya itu berangkat, Damar segera keluar kamar dan berpura-pura menanyakan keberadaan Vee pada Sumi. 

"Ibu sudah berangkat 'kan, Sumi?" tanya Damar menatap Sumi ganas.

"Sudah, Pak," jawab Sumi tersenyum malu.

"Harus berapa. kali aku mengingatkanmu, Sumi. Kau boleh memanggilku dengan sebutan Mas Damar jika Vee sudah berangkat. Apa kau mau aku hukum, Sumi?" ucapnya berpura-pura marah pada pembantunya itu.

Damar langsung melihat perubahan wajah Sumi yang ketakutan. Hal itu membuat dirinya gemas melihat wajah polos Sumi yang membuat dirinya merasakan gairah. Terlebih, minggu lalu, dia berhasil. merayu dan mendapatkan kepuasan dari pembantunya itu.

"M-maafkan Sumi, Pak. Eh, maksudku, Mas. Hanya saja, Sumi. belum terbiasa memanggil dengan sebutan Mas Damar. Rasanya, masih canggung," jawab Sumi terlihat malu-malu. 

"Lain kali, jangan diulangi lagi, Sumi. Kau harus memanggilku Mas jika Vee tidak ada di rumah. Mengerti!" ucapnya menekankan perkataannya. 

"Mengerti. Mas mau sarapan sekarang atau nanti. Biar Sumi siapkan dulu," tanya pembantu itu padanya. 

"Aku tidak mau apa pun. Cukup memakanmu saja, itu sudah membuatku merasa kenyang," jawab Dana menyeringai.

"Jangan begitu, Mas. Nanti, kalau ibu tiba-tiba pulang dan melihat mas seperti ini, Sumi bisa dipecat," jawabnya memasang wajah sedih. 

"Kau tidak perlu khawatir, Sumi. Dia tidak akan berani memecatmu. Aku yang akan membela dan mempertahankan di rumah ini. Sudahlah, jangan bahas Vee di saat kita sedang berdua. Aku tidak mau kau membuatku kehilangan selera," jawab Damar pada gadis itu. 

"Lalu, apa selera mas sekarang?" tanya Sumi mulai berani. 

"Aku ingin mengulang kejadian waktu itu, Sayang. Kau menakjubkan dan sangat memuaskan diriku. Mau kan, Sumi?" bisiknya di telinga gadis itu. 

"Ah, Mas. Sumi geli ..." ucapannya yang justru membuatnya semakin berani menyentuh gadis itu. 

"Aku akan menikahimu, Sumi. Asal, puaskan aku," katanya lagi.

Tanpa perlawanan, dia kembali mendapatkan keinginan dan memuaskan hasrat kelelakiannya pada Sumi. Tentu saja, dengan sedikit rayuan yang membuat gadis itu terlena dan pasrah ketika dia menarik tangannya masuk ke dalam kamar pembantu yang berada di belakang. 

Sementara itu, Sumi--pembantu yang terlihat lugu di mata Damar, ternyata hanya tengah memainkan siasat untuk memuluskan rencananya menyingkirkan Vee dari kehidupan majikan laki-laki dan memiliki dia seutuhnya. Dia terus memainkan peran sebagai gadis kampungan yang nampak lugu. Tapi, dia sudah meminta bantuan simboknya yang berada di kampung mencari bantuan seorang dukun ilmu hitam untuk melancarkan rencana memiliki Damar.

"Nikmati tubuhku, Mas. Setelah itu, kau akan masuk dalam perangkap, dan aku, akan memilikimu selamanya. Menyingkirkan istri sombongmu untuk selamanya dalam hidupmu. Kau lihat saja nanti, seluruh hartamu akan menjadi milikmu. Aku akan memberimu seorang anak untuk lebih memuluskan rencana ini. Ah, tidak sabar ingin menjadi Nyonya Damar."

Bab 2

Di sela rehat, Vee membicarakan rencana perjalanan dinasnya ke luar kota. Dia berharap Damar akan melarangnya pergi supaya mereka bisa menghabiskan waktu berdua seperti dulu. Akan tetapi, harapan Vee tidak menjadi kenyataan. Justru, suaminya itu terlihat senang ketika dia mengabarkan rencana kepergiannya.

"Mas, besok aku ke Palembang selama satu minggu. Kau tidak apa kan aku tinggal?" tanyaku malam itu. 

"Mendadak sekali, Sayang," ucapnya menatapku. 

"Ada masalah di kantor cabang, dan pimpinan memintaku untuk menyelesaikannya. Tapi, kalau mas tidak mengijinkan, aku akan minta orang untuk menggantikan," kataku lagi. 

"Jangan, jangan lakukan itu. Aku mengijinkanmu pergi," ucapnya lagi. 

"Sepertinya, mas senang ya aku pergi. Biasanya mas selalu melarangku," ucapku curiga. 

"Bukan begitu, nanti apa kata pimpinan jika kau selalu menolak perintahnya, bisa-bisa kau dipecat. Lagi pula ada Sumi di sini yang mengurusku," ucap Mas Damar tak sengaja menyebut nama itu. 

"Owh, jadi posisiku sudah digantikan oleh Sumi--pembantu itu. Kenapa nggak sekalian saja dia gantikan aku sebagai istrimu, Mas!" kataku marah. 

"Sayang, bukan begitu maksudku ..." jawab Mas Damar merasa bersalah.

"Sudahlah, aku mau istirahat. Selamat malam, Mas!" kataku menyela ucapannya dan langsung memejamkan mata.

"Vee, aku tidak bermaksud ..." ucapannya tertahan karena aku memotong perkataannya.

"Tidurlah mas, besok kau pun harus ke kantor," sahutku sambil memiringkan badanku memunggunginya. 

Kecurigaanku semakin besar karena ucapan suamiku. Entahlah, terlalu banyak hal tidak aku ketahui belakangan ini. Terlebih. semenjak kehadiran asisten rumah tangga kami--Sumi, yang dibawa olehnya ke rumah ini. Vee merasa suaminya sudah banyak berubah. Padahal dulu, Damar tidak pernah ingin jauh darinya, dan ingin selalu ingin bersama.

"Aku tidak akan tinggal diam, Mas. Akan ku cari tahu perubahan dirimu ini. Perasaan seorang istri tidak akan pernah salah. Kau menyembunyikan sesuatu dariku," kataku dalam hati.

Vee mencoba memejamkan mata dan tidak ingin memikirkan hal yang membuat dirinya resah. Namun, semakin dia ingin tidur, matanya tidak bisa lagi terpejam. Dia juga menyadari, Damar--suaminya tidak ada di kamar.

"Kemana mas Damar? Tidak biasanya dia keluar selarut ini. Apa dia ..."

Vee bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu pelan-pelan supaya tidak terdengar oleh siapapun. Namun, dia tidak juga menemukan suaminya di manapun juga.

"Sejak kapan mas Damar sering keluar malam? Kemana dia, mengapa dia tidak membangunkan aku?" tanya Vee bingung.

===

Keesokan paginya, aku berangkat tanpa pamit pada Mas Damar yang masih tertidur. Hati ini masih tidak terima dengan perkataannya semalam. Bergegas aku keluar kamar dan memanggil Sumi yang sedang membersihkan meja di ruang tamu rumahku.

"Sumi, kalau bapak bangun dan mencari, katakan padanya ibu sudah berangkat pagi-pagi sekali," ucap ku padanya. "Jangan sampai lupa pesanku ini," lanjutku lagi.

"Baik, bu, hati-hati di jalan," jawabnya sambil membawakan koperku ke dalam taxi.

Sebelum memasuki taxi yang akan membawaku ke bandara, kembali ku sampaikan pesan dan juga peringatan padanya untuk sadar diri tentang siapa dirinya di rumah kami.

"Selama aku pergi pastikan kebutuhan bapak kau layani dengan baik. Satu hal lagi, ingat posisimu di sini hanya seorang pembantu, mengerti!" kataku menegaskan. 

"Mengerti, bu ..." jawabnya seperti menahan amarah atas ucapanku.

Aku bergegas masuk ke dalam taxi dengan perasaan yang tidak menentu. Perintah pimpinan tidak bisa kutolak demi karier di masa depan. Sedangkan di sisi lain, seperti berat meninggalkan Mas Damar hanya berdua dengan Sumi--asisten rumah tanggaku di rumah. 

"Apa aku batalkan saja kepergianku dan mengatakan pada Kevin tentang masalah yang tengah kuhadapi saat ini? Tapi, nanti dia akan menertawakan dan menganggapku tidak profesional," kataku dilema.

Akhirnya, Vee menghubungi bos sekaligus sahabatnya. Dia tidak menceritakan secara gamblang kejadian yang menimpa keluarganya. Namun, tanpa diberitahu, bos nya mengerti. 

"Selesaikan pekerjaan di Palembang dulu, setelah itu, biar aku yang eksekusi. Kau bisa pulang terlebih dahulu dan menyelesaikan permasalahan keluarga mu," ucap sang bos.

"Terima kasih atas pengertiannya, Bos," ucap Vee.

Vee pun berusaha menyelesaikan permasalahan yang terjadi di kantor cabang milik Kevin--bos sekaligus sahabatnya. Sebenarnya, bisa saja dia meminta Kevin mengirim orang lain untuk menggantikannya sementara waktu. Namun, Vee tidak ingin dianggap tidak profesional. Dia pun tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan apa yang sudah diperintahkan.

"Akhirnya, selesai juga pekerjaanku di sini. Saatnya memberi kejutan pada suamiku dan juga Sumi--asisten rumah tangga yang berlagak seperti seorang majikan."

Vee pun bersiap pulang. Tetapi, dia tidak akan langsung pulang ke rumah, melainkan memilih tinggal di sebuah hotel untuk menyelidiki tentang perubahan sikap Damar padanya.

***

"Ingat posisimu di rumah ini,Sumi!"

Ucapan Vee padaku saat membantunya memasukan koper yang berisi pakaian ke dalam bagasi taxi yang akan membawanya pergi membuat hatiku kesal dan rasanya ingin sekali menampar wajahnya. Akan tetapi, aku menyadari, belum saatnya dia mendapatkan kekerasan dariku yang statusnya masih asisten rumah tangga, belum menjadi nyonya Damar.

"Sombong sekali perempuan itu. Lihat saja, jika aku sudah berhasil mendapatkan Damar, kau akan ku tendang dari sini. Aku juga akan meminta Damar mengusir dan tidak memberinya nafkah lagi," ucap Sumi kesal. "Aku harus mengatakan hal ini pada Damar. Sebaiknya aku membangunkan dia saja.

Sumi bermaksud memasuki kamar majikannya untuk membangunkan majikan laki-laki sekaligus kekasihnya. Akan tetapi, teriakan tukang sayur menggagalkan semuanya, dan dia memilih keluar untuk menghindari kecurigaan para asisten rumah tangga komplek perumahan itu.

"Pagi, Sumi ... Makin glowing saja kau semenjak tinggal di rumah Bu Vee dan Pak Damar," sapa Inem--pembantu sebelah rumah majikannya.

"Ah, bisa saja kau, Nem," jawab Sumi tersipu malu.

"Serius, kamu makin cantik. Apa sih rahasianya? Biar pacar makin lengket," tanya Inem penasaran.

"Aku hanya pakai pembersih wajah biasa saja. Ngapain pake perawatan, mahal ..." jawab Sumi.

"Wah, gak percaya aku tuh. Mana mungkin hanya pakai pembersih wajah bisa glowing gitu. Kasih tau rahasianya lah, jangan pelit gitu, Sumi," ujar salah satu dari mereka terlihat iri.

Pagi itu memang diawali dengan kekesalan Sumi pada Vee--majikannya. Akan tetapi. mendengar pujian Inem, membuat mood nya naik kembali. Dia pun membagikan tips dan menceritakan tentang salah satu produk yang membuat kulitnya semakin bersih.

"Pantas sekarang Pak Damar jarang keluar dan berkumpul dengan majikan kita di komplek ini. Rupanya ada yang glowing hingga dia enggan berkumpul, hahaha," sindir Inem tanpa disadari oleh Sumi.

Sumi bertekad akan memikat majikannya dan membuat Damar bertekuk lutut di kakinya. Membuat Vee kehilangan suaminya dan dia yang akan menggantikan posisinya.

"Kau akan kehilangan suamimu, Nyonya Vee …"

Bab 3

"Bram, aku bisa minta bantuan?" tanyaku pada Bram melalui sambungan telepon.

"Tentu saja. Apa yang bisa dibantu, Vee?" tanya Bram padaku. "Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" ucapnya padaku.

"Bukan itu. Pekerjaanku baik-baik saja. Aku justru sedang di luar kota mengurus masalah di kantor cabang," jawabku padanya. "Aku hanya minta, tolong kau awasi Mas Damar selama aku pergi?" ucapku dengan nada serius.

Nada bicara Bram langsung berubah serius ketika aku mengatakan untuk mengawasi suamiku padanya. Tidak biasanya aku mengucapkan permintaan aneh padanya. Terlebih mengawasi suamiku sendiri.

"Ada apa sebenarnya? Apa kalian ada masalah hingga kau memutuskan untuk pergi dari rumah?" tanya Bram.

"Tidak, kami baik-baik saja. Aku pergi ke Palembang dalam rangka tugas kantor. Mas Damar cuma berdua saja dengan Sumi--asisten rumah tangga kami," jawabku padanya. "Aku hanya merasa ada sesuatu yang terjadi, namun belum menemukan bukti," lanjutku.

"Baiklah, aku akan membantumu. Kau selesaikan saja tugasmu di sana. Jangan khawatir, aku pasti akan melaporkan jika terjadi hal yang mencurigakan," ucapnya menenangkan.

"Terima kasih, Bram. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, sudah ada panggilan untuk masuk ke dalam pesawat,"kataku menutup telepon.

"Kau hati-hati selama di sana. Jaga kesehatan dan pola makan. Terus kabari aku," kata Bram mengingatkanku.

"Ah, seharusnya suamiku--Dana yang mengucapkan hal itu. Tapi, justru Bram--sahabatku yang begitu perhatian mengingatkanku.

Baru saja aku menutup telepon, satu pesan masuk. Rupanya Mas Damar. Aku membaca pesan yang berisi kekesalannya karena pergi tanpa pamit.

["Rupanya kau sudah tak menghargai aku sebagai suamimu, hingga pergi tanpa pamit. Baiklah, semoga sukses."]

Aku hanya membaca tanpa berniat membalasnya. Malas berdebat, terlebih masih teringat ucapannya semalam yang mengatakan Sumi yang akan melayaninya. 

"Aku tidak akan tinggal diam jika terbukti ada sesuatu yang terjadi di antara kalian," ucapku lirih sambil terus berjalan memasuki badan pesawat.

===

Mas Damar terus menghubungi selama aku di Palembang. Dia meminta maaf atas perkataannya malam itu. Sementara aku,  hanya menanggapinya dengan sikap dingin.

"Sayang, maafkan. Mas salah karena perkataan malam itu. Mas tidak bermaksud membandingkan dirimu dengan Sumi--asisten rumah tangga kita," ucapnya melalui sambungan telepon. 

"Sudahlah mas, lupakan saja. Jaga dirimu selama aku tidak ada di rumah. Aku harus tidur, besok ada pertemuan penting dengan kepala cabang," kataku lalu menutup telepon. 

Aku merasa tak ada ketulusan ketika mas Dana mengucapkan hal itu. Perasaan seorang istri tak pernah salah, perubahan sikap Mas Damar selama beberapa bulan belakangan ini menjadi bukti untukku mencurigainya. 

"Kepercayaan diriku padamu mulai luntur, Mas. Apa aku bisa mempercayai setelah apa yang kau ucapkan malam itu? Membandingkan istri yang menemanimu dari bukan siapa-siapa menjadi orang yang diperhitungkan? Tidak semudah itu aku akan percaya jika sampai terbukti kecurigaanku," kataku mencoba untuk tenang.

***

"Sudah melepas rindu dengan istrimu, Mas?" tanya Sumi masih tergolek di ranjang.

"Kau cemburu, Sumi?" tanya Damar tersenyum.

"Ngapain harus cemburu kalau nantinya dia tetap akan kau tinggalkan, Mas? Aku kan hanya tinggal menunggu saat itu tiba," jawab Sumi dengan sombongnya.

"Sudahlah, jangan bicarakan istriku di saat seperti ini. Sekarang aku hanya ingin berduaan saja denganmu mumpung Vee masih di luar kota," ucap Damar. "Senyum dong, masa cemberut gitu," lanjutnya.

"Aah, Mas gitu ..." sahut Sumi manja.

***

Entah, setan apa yang telah membuat Damar memutuskan menjalin hubungan terlarang dengan Sumi yang notabene adalah pembantu baru di rumah kediamannya.

Dia tidak ragu lagi memperlihatkan kemesraan dan perhatian pada Sumi demi mendapatkan kepuasan batin yang selama ini sudah jarang dia dapatkan dari Vee--istrinya yang sangat sibuk bekerja beberapa bulan belakangan.

Damar sudah lupa akan semua janji pernikahan yanv diucapkan di hadapan Tuhan untuk tetap setia pada istrinya. Kehadiran Sumi yang terlihat begitu menggoda sejak pertama dia melihatnya di rumah kediaman sang kakak. Damar yang terkenal setia di kalangan teman-temannya, kini tidak ubahnya singa kelaparan yang haus akan kasih sayang. 

Terlebih, selama pernikahannya dengan Vee yang sudah menginjak tahun ketiga, mereka belum dikaruniai momongan. Hal itu membuat dirinya frustrasi karena mendapatkan berbagai pertanyaan dari keluarga besarnya.

Dirinya sudah mendambakan kehadiran seorang anak yang bisa menjadi perekat hubungan suami istri antara dirinya dan Vee. Namun, hingga detik ini, istrinya tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. 

Dia tahu dirinya bersalah karena melakukan perselingkuhan. Terlebih, dia melakukannya dengan pembantunya sendiri. Sumi yang selalu saja menggoda dengan sikap manja dan segala perhatian yang diberikan, membuat Damar lupa diri. 

"Mas, bagaimana jika nanti Sumi hamil? Apa mas akan bertanggung jawab?  Sumi takut, Mas akan meninggalkanku begitu saja," ucapnya merajuk. 

"Kau kan tahu, aku sangat mendambakan kehadiran seorang anak selama beberapa tahun ini. Jika dirimu hamil, tentu saja aku akan bertanggung jawab dan menikahimu, Sumi. Untuk masalah Vee, kau jangan khawatir. Itu urusanku," jawabnya menenangkan Sumi. 

"Terima kasih, Mas. Sumi bahagia sekali karena Mas sangat perhatian dan membuatku bahagia. Sumi berharap mas tidak akan berubah dan tetap seperti ini jika satu saat hubungan kita akan diketahui oleh istrimu," ungkap Sumi pada Damar yang memeluknya. 

"Lebih baik kita tidak usah membahas soal Vee. Seharusnya, kau memberiku kebahagiaan dan kepuasan. Terlebih, tidak setiap hari kita bisa sebebas ini," ucap Damar pada Sumi. 

Mereka kembali larut dalam kemesraan dan berharap tidak akan pernah berakhir. Akan tetapi, itu tidak mungkin terjadi. Sebab, setelah Vee kembali dari Palembang, Sumi akan kembali menempati posisinya sebagai seorang pembantu dalam rumah itu. Dan dia juga harus kuat melihat kemesraan Damar dengan Vee. 

"Bagaimana caraku menyingkirkan Vee dari kehidupan Mas Damar untuk selamanya? Aku tidak mau dia menjadi penghalang kebahagiaan kami nantinya," ucap Sumi dalam hati. 

Pagi menjelang. Sumi pun bersiap untuk memulai aktivitas dengan membersihkan seluruh rumah. Setelah itu, dirinya menunggu tukang sayur yang biasa lewat di dalam komplek perumahan itu.

Dia memakai baju dan perhiasan terbaik ketika melihat beberapa pembantu di lingkungan komplek itu sudah mengerumuni tukang sayur. Sumi berjalan mendekati mereka yang langsung menatap penuh rasa kagum atas perubahan yang terjadi padanya. 

"Sumi, apa Bu Vee masih membutuhkan seorang pembantu lagi untuk membantu meringankan pekerjaanmu di sana?" tanya Inem yang iri dengan apa yang dipunya oleh Sumi.

"Kelihatannya belum. Lagipula, mereka kan hanya hidup berdua tanpa ada anak. Jadi, belum banyak pekerjaan, dan aku masih bisa menanganinya sendiri," ucap Sumi sedikit menyombongkan diri.

"Apa kamu tidak takut hanya tinggal berdua dengan majikan laki-laki di rumah itu? Sementara, majikan perempuan tidak ada dirumah?" tanya Inem kepo. 

"Untuk apa takut? Lagipula, Pak Damar tidak melakukan apa pun padaku. Dia sangat baik dan perhatian," jawab Sumi lugas. 

"Awas, hati-hati,  nanti kau bisa jatuh cinta dengan majikan laki-lakimu yang tampan itu," sambung Odah tertawa. 

"Hahaha, itu tidak akan mungkin terjadi. Aku ini hanya seorang pembantu, jadi tahu diri akan posisi diriku sekarang. Sudah ah,  nanti Pak Damar mencari. Dia bisa marah jika ketahuan aku suka bergosip di luaran. Bye semua," ucap Sumi sombong. 

Semua pembantu komplek hanya menatap Sumi tidak percaya. Mereka meragukan ucapannya yang tidak mengakui kedekatan antara majikan dan pembantu. Karena, pernah tanpa sengaja, Inem memergoki saat majikan laki-laki mencium Sumi di satu pagi. 

"Sepertinya, sebentar lagi kita semua akan mendapatkan tontonan menarik di komplek ini, " ucapnya tersenyum jahat. 

"Tontonan?  Apa disini akan ada layar tancap seperti dikampungku dulu?" sahut Odah. 

"Kita tinggal tunggi waktunya saja," ucap Inem.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED