Sampul Novel Sakit Ini Lebih Dari yang Kau Pahami

Sakit Ini Lebih Dari yang Kau Pahami

9.6 / 10.0
Kehidupan Seren Ayandra hancur akibat dendam dan kepura-puraan Arden Valez, pria keras yang didera trauma masa lalu. Meski awalnya dikuasai kebencian, kini Arden dirundung penyesalan mendalam karena takut kehilangan Seren. Di sisi lain, meski telah terluka, Seren selalu kembali pada sosok yang menjadi badai sekaligus rumah baginya. Di tengah rasa bersalah, dua jiwa yang rapuh ini berusaha saling menyembuhkan lewat ikatan cinta yang tidak sempurna namun nyata.

Sakit Ini Lebih Dari yang Kau Pahami Bab 1

Hujan baru saja berhenti ketika langkah sepatu pria itu terdengar di koridor marmer yang panjang. Dentingnya berat, teratur, dan dingin-seolah setiap pijakan mengirimkan gema peringatan kepada siapa pun yang cukup berani menatapnya terlalu lama.

Arden Valez.

Nama itu sudah cukup membuat siapa pun di lingkungan bisnis internasional menggigil. Ia bukan hanya kaya. Ia berkuasa. Pria itu bukan sekadar pemilik perusahaan Valez Group-sebuah imperium yang mencakup properti, senjata, dan perdagangan laut-tapi juga simbol ketakutan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bisa mengubah hidup seseorang... atau mengakhirinya.

Namun sore itu, di antara aroma tanah basah dan sisa embun yang menempel di kaca besar ruang kantornya, pria itu terlihat tidak sedang memikirkan kekuasaan. Tatapan matanya kosong menatap kota di bawah sana-metropolis yang berdenyut dalam kebisingan.

Tangannya menggenggam segelas bourbon, namun belum disentuh. Jari-jarinya yang panjang, dingin, dan berurat menatap pantulan dirinya di kaca-mata kelam, rahang kaku, dan ekspresi yang sulit diartikan.

Semuanya terasa begitu sunyi.

Sampai suara ketukan lembut memecah diam.

Tok. Tok. Tok.

"Masuk," suaranya berat, dalam, tanpa intonasi.

Seorang pria paruh baya melangkah masuk, menunduk sopan.

"Tuan Valez, orang yang Anda minta sudah tiba."

Arden menoleh setengah, cukup untuk menatapnya sekilas. "Suruh dia menunggu di ruang bawah."

"Baik, Tuan."

Setelah pintu tertutup, Arden menegakkan tubuhnya, menghela napas panjang, lalu meletakkan gelas bourbon itu di meja kaca. Tangannya terulur ke arah laci, mengambil selembar foto yang warnanya sudah sedikit pudar.

Wajah di foto itu membuat rahangnya menegang.

Seren Ayandra.

Perempuan yang dulu ia anggap hanya alat. Sebuah permainan dalam strategi kekuasaan. Ia yang memulai semua ini-dan kini, bertahun-tahun setelah kehilangan gadis itu, Arden mulai memahami makna kehilangan yang sesungguhnya.

Ia menatap foto itu lama, lalu menutup matanya.

Di sisi lain kota, di sebuah rumah sederhana di tepi sungai kecil, Seren sedang menjemur cucian sambil mengusap sisa air di pipinya. Hujan yang turun sejak subuh membuat udara lembap, tapi setidaknya sinar matahari sudah mulai muncul dari balik awan kelabu.

Sudah tiga tahun sejak ia pergi dari kehidupan yang dulu.

Tiga tahun sejak ia meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pria bernama Arden Valez.

Kini hidupnya tenang-atau setidaknya terlihat begitu. Ia bekerja di sebuah klinik kecil milik yayasan amal, membantu anak-anak korban konflik. Hidupnya sederhana, tapi cukup.

"Seren, tolong ambilkan berkas pasien pagi tadi," suara lembut seorang perempuan memanggil dari ruang depan.

"Ya, Ibu!" jawabnya cepat, menyeka tangannya pada kain lalu berlari kecil masuk ke dalam.

Langkahnya ringan, tapi ada getaran aneh dalam dadanya hari itu. Sejak pagi, entah mengapa, pikirannya gelisah. Seperti ada sesuatu yang mendekat, sesuatu yang lama, gelap, dan berbahaya.

Ia tak tahu bahwa pada saat yang sama, di menara kaca raksasa itu, seseorang sedang memerintahkan orang-orangnya untuk menemukan dirinya.

Malam hari, kota kembali tenggelam dalam cahaya lampu. Jalanan basah berkilau memantulkan sinar merah lampu lalu lintas. Di lantai tiga puluh delapan, ruang pertemuan Valez Group masih menyala terang.

"Tuan, tim kami sudah melacak lokasi yang Anda minta," ujar pria berpakaian hitam di hadapan Arden.

Arden duduk di kursinya, tubuh tegapnya membungkuk sedikit ke depan. "Dan?"

"Dia ada di pesisir utara. Hidup dengan identitas baru atas nama Seren Alvarine. Kami temukan melalui catatan medis."

Sekilas, sesuatu bergetar di mata pria itu. Antara keterkejutan, rasa bersalah, dan ketakutan yang tak ingin diakuinya. "Berapa lama kau tahu ini?"

"Baru dua hari, Tuan."

"Dan kau baru melapor sekarang?"

"Tuan, kami memastikan dulu identitasnya-"

"Pastikan dia tidak tahu kalau aku mencarinya," potong Arden dingin. "Belum saatnya."

"Baik, Tuan."

Begitu pria itu keluar, Arden memijit pelipisnya. Nafasnya berat. Satu sisi dirinya ingin segera pergi menemuinya-memastikan Seren benar-benar hidup, memohon maaf, dan mungkin... memulai sesuatu yang baru. Tapi sisi lain tahu bahwa bagi Seren, kehadirannya hanya berarti luka lama yang kembali berdarah.

Arden meneguk bourbonnya habis-habisan, menatap langit malam di balik kaca.

Ia tidak tahu, bahwa pada detik yang sama, Seren sedang menatap bintang yang sama dari balkon kecil rumahnya, menggenggam kalung yang sudah berkarat-kalung yang pernah diberikan pria itu padanya bertahun-tahun lalu.

Pagi berikutnya.

Klinik tempat Seren bekerja mulai ramai. Anak-anak berlarian, tawa mereka memenuhi udara. Seren menunduk membantu seorang bocah laki-laki mengikat tali sepatunya.

"Kau tahu, kamu hebat hari ini. Tidak menangis waktu disuntik," ujarnya lembut.

Anak itu tersenyum lebar. "Bu Seren, kalau aku sembuh, aku bisa main bola lagi?"

"Tentu saja bisa," jawab Seren sambil tersenyum-senyum yang menenangkan, tapi menyimpan luka di baliknya.

Namun sebelum ia sempat berdiri, sebuah suara berat terdengar di belakangnya.

"Masih suka menenangkan orang lain, bahkan setelah kau sendiri tidak pernah sembuh?"

Tubuh Seren menegang. Ia membeku. Tangannya gemetar sebelum ia perlahan menoleh.

Dan di sana, berdiri pria yang tak pernah ia pikir akan muncul lagi dalam hidupnya.

Arden Valez.

Pria itu mengenakan jas hitam, berdiri tegap di ambang pintu dengan tatapan kelam yang sama seperti dulu. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya sekarang-rasa lelah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Kenapa kau di sini?" suara Seren serak, pelan.

"Aku datang untuk menjemputmu," jawab Arden tanpa ekspresi.

"Menjemput?" ia tertawa getir. "Setelah tiga tahun kau bahkan tidak mencari tahu apakah aku masih hidup?"

Arden menatapnya lama, lalu berjalan mendekat satu langkah. "Kau pikir aku tidak mencari? Aku hanya tidak cukup berani untuk menemukanmu."

"Kau tidak berani, atau kau tidak peduli?"

Pria itu diam.

Tatapan mereka bertemu, tajam, namun dipenuhi sisa emosi yang belum pernah padam sepenuhnya.

Seren menunduk, menahan gemetar di tangannya. "Pergi, Arden. Hidupku sudah baik-baik saja tanpa kau. Aku tidak mau mengulang semuanya lagi."

"Aku tidak ke sini untuk mengulang. Aku datang karena aku ingin menebus," katanya pelan, nyaris berbisik.

"Menebus?" Seren tersenyum miris. "Kau tidak bisa menebus sesuatu yang sudah mati."

"Kalau begitu biarkan aku menghidupkannya kembali."

"Cukup." Seren melangkah mundur. "Kau tak tahu seberapa dalam luka yang kau tinggalkan."

"Aku tahu, Seren. Karena aku juga berdarah karenanya."

Keheningan menguasai ruangan. Hanya suara detak jam dan napas yang tertahan.

Lalu, tanpa kata lagi, Seren berbalik dan pergi, meninggalkan pria itu berdiri di antara suara anak-anak yang kembali tertawa tanpa tahu bahwa dunia dua orang dewasa itu baru saja runtuh lagi.

Sore menjelang.

Hujan turun kembali, seperti mengulang awal kisah mereka. Seren berjalan cepat di sepanjang jalan becek, menutupi kepala dengan tasnya. Tapi langkah di belakangnya mengikuti.

"Seren, tunggu!"

Ia berhenti mendadak, memutar tubuh dengan mata berapi. "Apa lagi yang kau mau?"

Arden berdiri beberapa meter darinya, rambutnya basah, jas hitamnya menempel di tubuh. "Aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin bicara."

"Bicara tidak akan mengubah apa pun."

"Tapi setidaknya biarkan aku menjelaskan."

"Menjelaskan? Tentang apa? Tentang bagaimana kau menghancurkan hidupku? Tentang bagaimana aku kehilangan semua orang karena permainan kotormu?"

Arden tidak menjawab. Hujan mengguyur makin deras, tapi keduanya tetap berdiri, terperangkap dalam badai yang mereka ciptakan sendiri.

"Aku butuh waktu," ucap Seren akhirnya, suara bergetar. "Kau tidak bisa tiba-tiba muncul setelah tiga tahun dan berpura-pura seolah semuanya bisa diperbaiki."

"Aku tidak berpura-pura," jawab Arden lirih. "Aku tahu aku tidak layak. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu terus hidup dalam luka yang aku buat. Aku ingin memperbaikinya, entah bagaimana."

Seren memandangnya lama. "Kau selalu bicara seolah dunia akan tunduk padamu, Arden. Tapi aku bukan dunia yang bisa kau kuasai."

"Tidak. Kau dunia yang membuatku ingin berhenti berkuasa."

Seren terdiam. Kata-kata itu menembus dinding hatinya yang selama ini ia bangun begitu tinggi.

Ia memalingkan wajah, menatap langit kelabu di atas mereka. Air matanya bercampur hujan. "Kau terlalu telat."

"Tidak pernah terlalu telat kalau aku masih bernapas," sahut Arden.

Hening lagi.

Sampai akhirnya Seren melangkah pergi tanpa menoleh.

Dan Arden membiarkannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tahu bahwa kekuasaan, uang, bahkan ketakutan manusia lain-tidak ada yang bisa membuat perempuan itu kembali padanya kecuali waktu.

Malam itu, Seren duduk di ranjang, memandangi lampu kecil di meja.

Di tangan kanannya masih ada kalung berkarat itu.

Ia tidak tahu kenapa, tapi setelah bertahun-tahun berusaha membuang semua kenangan, ia masih menyimpannya.

Mungkin karena bagian kecil dalam dirinya belum sepenuhnya bisa membenci.

Dan di tempat lain, di ruang kerjanya yang dingin dan sunyi, Arden menatap foto yang sama seperti malam-malam sebelumnya.

Namun kali ini, ada satu hal yang berbeda-di matanya, untuk pertama kali dalam bertahun-tahun, ada harapan.

Harapan kecil yang berbahaya.

Bahwa mungkin, hanya mungkin... Seren masih akan memaafkannya.

Atau setidaknya, mau mendengarkan sebelum segalanya terlambat.

Karena di dunia Arden Valez yang penuh kekuasaan dan dosa, satu-satunya hal yang tidak bisa ia kendalikan adalah waktu.

Dan waktu kini sedang berlari cepat, menuju pertemuan yang akan menentukan segalanya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Sakit Ini Lebih Dari yang Kau Pahami

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Ibu tiriku menikah dengan ayah 8 tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu tiriku, aku di anggap anaknya sendiri, tetapi kebiasaan Ibu berpakaian Sexy sangat menggangguku. AKu menyukai seorang gadis, dia teman SMA ku dulu, Nama nya Rania. AKu sangat menyukainya, tetapi Ibu tiriku?...
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an meminta cerai setelah tiga tahun pernikahan. Ia memohon kepada sang istri agar diizinkan memiliki anak lagi dengan mantan kekasihnya itu sebagai pendonor sel penyelamat. Di balik janji setianya untuk kembali setelah proses medis selesai, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang telah menanti kedatangan Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menguak sisi kehidupan tersembunyi yang jarang dibahas. Di balik topeng kesucian, terdapat luka mendalam, dilema, serta kerinduan emosional yang rumit. Melalui penyampaian yang realistis dan eksplisit, Anda diajak merenungkan jati diri di tengah kegelapan demi meraih titik terang. Sebuah bacaan penuh makna tentang pencarian hakikat hidup dan cinta yang berliku, siap memberikan sudut pandang baru yang mendalam bagi pembacanya.
Sampul Novel Hijrah Cinta Sang Casanova
8.0
Sejak pandangan pertama, Bobby terpikat oleh Claudia. Namun, masa lalunya sebagai casanova membuat Claudia enggan membuka diri. Walau ramah karena Bobby pernah menolong menantunya, Claudia tetap merasa terganggu. Sebaliknya, sang mertua, Sultan, mendukung Bobby agar Claudia segera mengakhiri masa jandanya. Saat hati Claudia akhirnya luluh dan bersedia menikah, badai masa lalu serta kehadiran sosok misterius datang menguji kesetiaan cinta mereka.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Cyra Alesha, mahasiswi berumur dua puluh tahun, harus membanting tulang sebagai pekerja paruh waktu di kota besar. Nasib buruk menimpanya saat ia terlibat kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam itu tanpa ragu merendahkan harga diri Cyra dan menyiksanya dalam penderitaan. Meski terus tersakiti oleh perlakuan sang pewaris tunggal, Cyra malah terpikat oleh pesona pria itu. Akankah ia tetap bertahan atau memilih memberontak untuk lepas?

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED