Hari menjelang malam, rasa lelah mendera wanita cantik yang memiliki rambut panjang ikal berwarna coklat. Bulu matanya lentik dengan pulasan lipstik merah muda di bibirnya. Rasanya enggan untuk kembali ke rumahnya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di tempatnya berkerja dari pada harus di rumah. Rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk berteduh dan menghilangkan segala kepenatan malah bagaikan neraka.
Bekerja sebagai salah satu editor di salah satu majalah fashion memang tidak mengenal waktu. Namun, hanya di tempat kerjanya lah dia bisa tenang dari pada di rumahnya sendiri. Hubungannya dengan Indra, suaminya tidak harmonis. Indra selalu saja menyalahkannya. Suami yang seharusnya menjadi pelindung malah seperti malaikat maut.
Dengan mengendarai mobil city car berwarna putih dia melajukan mobilnya. Secara perlahan dia mengendarai mobilnya dan memang sengaja menyetir perlahan agar tidak cepat sampai di rumahnya. Namun, dia tiba-tiba menginjak pedal rem mobil. Dia merasa telah menabrak sesuatu. Jantungnya berdebar dengan begitu cepat dan secara perlahan membuka pintu mobil.
Betapa terkejutnya, Rosa saat melihat ada anjing tergelat di depan mobilnya. Tangannya bergetar, dia benar-benar tidak sengaja menabrak anjing tersebut. Dia berjongkong memegang anjing berwarna coklat itu.
"Doggy, ma–maafkan aku. Aku ga sengaja," ucapnya dengan sorot mata sedih.
Rosa merasa ada seseorang di dekatnya. Dia pun menengadahkan kepalanya melihat pria yang berdiri tegak di sampingnya. Mata Rosa terpanah saat melihat pria tampan tersebut.
"Chester..." Pria itu memegang anjingnya.
"Aku ga sengaja menabrak anjingmu," ucap Rosa merasa bersalah. "Aku bawa ke rumah sakit hewan yaa."
Pria itu menggendong anjing jenis Bullodg dan langsung pergi meninggalkan Rosa yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Rosa jadi kebingungan sendiri kenapa pria itu tidak meminta pertanggung jawabannya malah pergi begitu saja. Rosa dengan kebingungan masuk ke dalam mobilnya.
"Yaa udahlah. Mending aku pulang aja," ucapnya kembali mengendarai mobilnya.
Tak terasa Rosa sudah masuk ke dalam gerbang perumahan. Perumahan mewah yang memiliki berbagai macam fasilitas tak kalah mewahnya. Entah dia harus bersyukur atau malah menyesal telah tinggal dilingkungan rumah tersebut.
Rosa membuka pintu rumahnya di sambut dengan wajah Indra yang tak menyenangkan. Dia tidak hiraukan lagi sudah lelah baginya untuk berinteraksi dengan Indra. Indra sangat kesal Rosa malah tidak memperdulikannya.
"Rosa! Ada suami bukannya kamu tersenyum malah wajahmu kayak begitu," teriak Indra.
"Apa lagi sih! Sudahlah diam aja. Aku males ngomong sama kamu," ucap Rosa kesal.
Plak! Indra menampar pipi Rosa. Rosa memegang pipinya sambil menyunggingkan bibirnya. Sudah terbiasa dia diperlakukan kasar oleh suaminya sendiri.
"Aku mau tidur." Rosa tidak memperdulikan Indra dan berlalu pergi ke kamarnya.
Indra sangat kesal menggedor-gedor pintu kamar Rosa. Sudah 1 tahun dia dan istrinya tidur terpisah. Pernikahan mereka sudah hambar tak ada lagi kemesraan di antara mereka.
"Hei! Rosa. Aku mau bilang kalau besok Mami mau ke rumah." Indra berteriak dengan kencang di balik pintu.
Mendengar teriakan Indra tentang Ibunya yang mau datang ke rumah mereka membuat Rosa bertambah kesal.
"Kenapa lagi tuh Mami mau datang ke rumah sih. Bikin males aja," ucap Rosa kesal di dalam kamarnya.
"Yaa sudahlah. Besok aja di pikirin mending aku tidur." Rosa memilih tidur dan tidak memikirkan apapun lagi.
***
Paginya, Rosa sengaja bangun siang. Dia berharap tidak bertemu dengan Indra yang biasanya sudah berangkat kerja. Tapi, kali ini dia salah malah ada Dewi, ibu mertuanya duduk di meja makan dengan Indra. Dengan terpaksa Rosa tersenyum berpura-pura bahagia dengan kedatangan Dewi.
"Loh, Mami datang jam berapa?" tanya Rosa menyalami tangan Dewi.
"Aduh, enak banget yaa nyonya baru bangun siang. Indra istrimu memang istri yang teladan," sindir Dewi sambil melirik Rosa.
"Mami kayak ga tau Rosa aja. Dia selalu bangun siang, nyonya besar yang tidak memperdulikan apapun," ucap Indra.
"Hebat sekali kamu, Rosa. Memang istri idaman."
"Yaa begitu lah Rosa, Mi."
Rosa hanya tersenyum. Dia tidak memperdulikan ucapan Dewi dan Indra yang dengan sengaja menyindirnya.
"Makasih Mami dan Mas Indra. Kalian benar-benar baik sekali sudah berterus terang mengatakan kelakuanku. Memang aku seperti ini mau gimana lagi," ujar Rosa dengan tersenyum.
Dewi sangat kesal mendengar perkataan Rosa.
"Kapan kamu hamil?" tanya Dewi pada Rosa.
"Aku ga tau Mi. Aku sampai sekarang belum mengandung," ucap Rosa.
"Makanya kamu hamil dong. Bukannya jawab seperti itu. Kerjaanmu, kerja, kerja terus."
"Sudahlah Mi. Jangan menanyakan hal seperti itu." Indra mencoba memberi pengertian pada ibunya.
"Kamu selalu saja begitu. Kamu sudah 5 tahun menikah, tapi perempuan itu ga hamil-hamil."
"Mami sudahlah..."
"Apa jangan-jangan kamu mandul lagi Rosa? Iyakan, kamu mandul."
Rosa hanya diam mendengarkan Ibu mertuanya berkata kasar dan menghina dirinya. Sangat sakit hatinya saat Dewi bilang dia mandul, tapi semua perkataan Dewi salah. Dia tidak mandul, yang mandul itu Indra. Indra mengalami impoten tidak bisa berdiri dan ereksi.
Rosa sudah sangat kesal mendengar perkataan Dewi. Dia pun pergi begitu saja meninggalkan dapur. Jika dia lebih lama tinggal di rumah malah akan membuatnya semakin emosi.
"Tuh, lihat si Rosa malah pergi aja tanpa berpamitan sama Mami. Apa dia ga bisa menghargai Mami? Apa orang tuanya mendidik anak jadi kayak begitu! Dasar orang miskin ga punya etika, sopan santun."
"Mami, stop jangan kayak gitu sama Rosa."
Dewi sangat kesal dengan Indra yang selalu membela Rosa. Dia harus membuat putranya bercerai dari Rosa. Segala cara akan dilakukannya untuk memisahkan Indra dan Rosa.
Indra melihat kepergian Rosa dengan perasaan bersalah. Dia mengerti kalau Rosa pasti sangat sedih dengan perkataan Ibunya, tapi dia juga tidak bisa mengatakan hal yang sesungguhnya pada keluarganya. Jika dia melakukannya akan mempermalukan harga dirinya.
"Indra. Kamu cerai kan perempuan mandul itu," ucap Dewi.
"Mami, aku tidak bisa menceraikan Rosa. Aku mencintainya," ujar Indra.
"Halah, apa itu cinta? Buat apa kamu tetap menikah dengan perempuan mandul! Hanya akan menyiayiakan hidupmu saja. Sudah cari perempuan lain aja nanti Mami akan cari perempuan yang lebih baik dari pada Rosa. Rosa tidak pantas sama kamu! Kamu, anak kebanggaan Mami."
"Mami! Aku katakan sekali lagi kalau aku tidak akan pernah menceraikan Rosa sampai kapanpun!" Indra membentak Dewi.
Dewi sangat marah Indra sudah berani membentaknya. Anak yang selama ini sangat dibanggakannya malah berani melawannya. Ini semua pasti ulah Rosa yang terus menerus mempengaruhi Indra.
"Kamu berani membentak Mami, Indra! Kamu lebih membela Rosa dari pada Mami. Mami ini wanita yang melahirkan kamu. Mami mempertaruhkan nyawa Mami demi melahirkan kamu, tapi kamu malah membentak Mami. Dasar anak kurang ajar!"
Indra hanya bisa menghela napasnya. Dia sangat lelah dengan semua ini. Kenapa Ibunya begitu keras kepala?
"Hebat yaa si Rosa bisa membuat kamu membentak Mami. Kamu cerai kan Rosa atau tidak akan mendapatkan warisan dari peninggalan Papimu. Ada Harry yang bisa ambil alih toko dan show room mobil Papimu atau suami Ninda yang juga tak kalah pintarnya mengelola semuanya."
"Sudah aku katakan kalau aku ga mau menceraikan Rosa, Mi."
"Kalau kamu ga mau menceraikan Rosa. Buat dia hamil atau kamu kawin lagi aja supaya bisa punya anak."
"Mami, aku juga ga mau kawin lagi. Itu sama saja menyakiti Rosa."
Dewi terdiam. Dia tidak bisa mendesak putranya agar menceraikan Rosa. Dia tahu kalau Indra begitu mencintai Rosa. Dulu saja Indra nekat menikahi Rosa walau dia tidak menyetujuinya. Dia akan merubah taktiknya.
"Ooh kalau begitu Mami ubah saja. Rosa hamil atau kamu ga akan mendapatkan warisan."
"Mami! Jangan begitu sama aku."
"Mami sudah selesai bicara dan kamu pikirkan semuanya. Mami mau pulang dan segera kamu bereskan semuanya." Dewi berdiri dari kursinya dan melangkah pergi dari rumah Indra.
Indra hanya bisa menutup matanya. Dia memegang keningnya yang terasa begitu pusing. Dia bingung harus mengatakan apa pada Ibunya. Tiba-tiba dia memikirkan suatu rencana agar Rosa bisa hamil dan dengan kehamilan Rosa akan membuatnya mendapatkan warisan toko sparepart dan show room mobil milik keluarganya. Dia anak tertua sudah sepantasnya dia lah yang berkuasa.
Sementara itu Rosa berhenti di salah satu taman dekat rumahnya. Dia pun menangis di dalam mobil. Dia lelah dengan semua perkataan kasar ibu mertuanya. Dia tak sanggup lagi harus menahan segala kesedihan dan rasa sakit sendiri. Semua orang menyalahkannya, semua orang memendangnya rendah, bahkan orang tuanya juga memperlukannya seperti itu.
Selama 5 tahun dalam pernikahannya dengan Indra. Rosa harus menahan segala rasa sakit dan hinaan dari mertua dan adik-adik iparnya. Bukannya dia tidak bisa hamil, tapi Indra lah yang memiliki masalah dalam organ reproduksinya. Namun, semua ditutupinya demi menjaga harga diri Indra.
Selama 5 tahun hanya dua pertama pernikahannya, Indra mampu melakukan hubungan layaknya suami istri selanjutnya hanya kehampaan. Indra mengalami disfungsi ereksi atau impoten. Sudah berbagai cara dilakukannya dan Indra. Dari konsultasi ke dokter, meminum obat, sampai menjaga pola makan, kesehatan, tapi hasilnya tetap sama milik Indra tidak dapat tegang secara sempurna.
Pernah saat mereka akan melakukan hubungan suami istri, Indra hanya bisa tegang sesaat lalu kembali loyo. Keadaan Indra yang tidak bisa tegang membuat kondisi mentalnya terganggung. Indra jadi mulai sering berprilaku kasar bahkan melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Entah sudah berapa kali pipinya menjadi korban tangan Indra.
Begitu tiba di kantornya, Rosa bertemu dengan Vira yang merupakan asisten editor tempatnya bekerja. Vira memperhatikan wajah dan mata Rosa yang terlihat sembab seperti habis menangis. Dia jadi penasaran apa yang telah terjadi pada editornya.
"Ros, kamu kenapa kok tuh wajah begitu?" tanya Vira.
"Aku lagi pusing Vir," ucap Rosa.
"Pusing kenapa?"
"Biasalah si Indra sama emaknya bikin emosi."
"Kenapa lagi tuh si mandul sama mak lampir?"
"Biasalah nuduh aku yang mandul dan emaknya merasa anaknya sempurna."
"Sempurna dari mana, anaknya aja ga bisa berdiri gitu. Mengkeret aja kayak sosis dingin."
Rosa tertawa mendengar perkataan Vira. "Sudahlah kasian tuh Indra kalau kamu bilang mengkeret."
"Lah, kan kenyataan say..."
Mereka tertawa bersama. Memang Rosa merupakan kepala editor, tapi juga sahabat Vira. Vira mengetahui semua tentang Rosa begitu juga Rosa mengetahui semua hal tentang Vira.
"Ros, kenapa kamu ga selingkuh aja?" tanya Vira.
"Aku males Vir. Nanti laki-laki sama lagi kayak si Indra."
"Males sih males, tapi aku yakin masih banyak laki-laki yang lebih baik dari pada Indra. Kamu aja yang kurang beruntung dapat laki mandul."
"Mungkin sudah takdir. Dulu juga Indra berdiri kok Vir, tapi ga tau 3 tahun ini loyo."
"Memang ga gatel kamu, Ros. Kamu masih cantik, body seksi, kulit putih, mandiri, dan pintar lagi. Ayoo lah selingkuh aja biar kamu dapat kepuasan jasmani dan rohani."
"Aku ga suka yang namanya perselingkuhan. Si Indra dulu aja selingkuh aku maafin, masa aku melakukan perbuatan yang ga aku sukai."
"Sapa tau Ros. Nanti aku kenalkan sama temennya Arya yang direktur baru. Ganteng banget loh teman Arya."
"Baguslah. Kenapa ga kamu aja yang selingkuh sama Arya."
"Gila aja aku selingkuh. Jaman ku dengan perselingkuhan sudah lewat mbak bro. Mending aki fokus sama satu burung dari pada kebanyakan burung bisa jadi ndower."
Rosa kembali tertawa mendengar kata ndower. Pembicaraan Rosa dan Vira terus berlanjut membuat Rosa kembali tertawa dengan segala coletahannya Vira. Dia jadi lupa memiliki banyak masalah yang penting bisa tertawa dengan sahabat sudah merupakan rejeki yang baik.
Indra yang berada di kantornya merasa resah dan gelisah sendiri. Bagaimana mungkin dia harus merelakan toko sparepart terbesar di kotanya dan show room mobil yang dimilikinya. Dia tidak bisa konsetrasi dengan pekerjaannya memikirkan permasalahannya dengan Rosa.
Indra sangat malu dengan kondisi organ seksualnya. Dia menjadi rendah diri dan sering kasar pada Rosa. Dia mengerti kalau Rosa sering menghindar darinya padahal dia ingin hubungannya bersama Rosa bisa kembali seperti dulu, tapi bagaimana bisa memuaskan Rosa jika miliknya tidak bisa berdiri maksimal lagi. Sudah berkali-kali mencoba dan berkali-kali juga gagal. Dia frustasi hingga tidak mengendalikan emosinya sendiri.
***
Indra menunggu Rosa pulang. Ada yang ingin dikatakannya pada istrinya dan berharap Rosa mau menyetujui rencananya agar Rosa bisa hamil dan dia tidak akan lagi malu dengan segala kekurangannya. Wanita yang ditunggunya telah pulang. Dia berinisiatif untuk memeluk Rosa.
Rosa tanpa semangat berjalan masuk rumah dan berharap kalau mertuanya sudah tidur atau pergi dari rumahnya. Tak ingin dia adu pendapat dengan orang tua. Rosa terkejut saat tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Aku mencintaimu, Rosa," bisik Indra di telinga Rosa.
Rosa menghempaskan tangan Indra. Dia tidak ingin bermesra-mesraan dengan suaminya tersebut.
"Aku ingin bicara sama kamu." Indra berkata dengan lembut.
"Mau bicara apa?" tanya Rosa kesal.
"Duduklah dulu jangan bicara sambil berdiri. Aku capek sayang."
Rosa menuruti perkataan Indra. Mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Ros, kamu kan tau aku memiliki kekurangan." Indra berkata dengan hati-hati pada Rosa.
"Iya aku tau terus mau apa lagi."
"Aku ingin kamu hamil."
Rosa mengernyitkan dahinya. "Apa kamu gila? Kamu aja sakit itu bagaimana mungkin aku hamil."
"Kamu bisa saja hamil."
"Dengan cara apa?"
"Aku ingin kamu hamil dengan pria lain."
Rosa membelalakan matanya. Dia sangat terkejut dan tak habis pikir dengan pernyataan Indra yang menyuruhnya hamil dengan pria lain.
Rosa tak percaya dengan apa yang diucapkan Indra. Bagaimana mungkin dia hamil dengan pria lain?
"Kamu sudah gila Mas. Aku ga mau melakukan km itu. Kamu pikir aku wanita kegatelan tidur dengan laki-laki lain." Rosa menatap Indra kesal.
"Aku ga gila Ros. Aku ingin kamu hamil dan kita memiliki keturunan." Indra berusaha menyakinkan Rosa.
"Sekali aku bilang ga mau, yaa ga mau!" bentak Rosa.
Plak! Lagi-lagi tangan Indra melayang di pipinya. Rosa memegang pipi nya yang merah di tampar Rico. Ini kah balasan yang di dapatkan Rosa yang selama 3 tahun harus menahan sakitnya di hina, di rendahkan orang lain untuk menutupi kelemahan suaminya yang mandul.
"Kamu keterlaluan Mas," ujar Rosa sambil memegang pipinya yang terasa panas.
"Kamu harus menuruti apa keinginanku!" Indra memegang rahang wajah Rosa secara kasar.
"Aku ga mau!"
"Ooh jadi kamu ga mau, hah! Kamu harus menuruti semua keinginanku atau kamu akan menyesal telah hidup di dunia ini."
"Jadi kamu mengancam aku, Mas. Aku akan bilang tentang kamu tak bisa memberikan keturunan pada keluargamu."
"Silahkan saja. Kamu pikir keluargaku akan percaya dengan kata katamu. Yang ada mereka akan makin menghina mu." Indra menggoncangkan tubuh Rosa dengan kencang dan sangat marah.
"Kamu harus turutin semua keinginanku. Mengerti!!"
Rosa tidak habis pikir kenapa Indra begitu tega padanya. Menyodorkan tubuhnya demi kepentingannya sendiri dan harga diri Indra. Hatinya sangat sakit.
Rosa memilih meninggalkan Indra yang masih emosi ke kamarnya dan dia tetap dengan pendiriannya tidak akan pernah mau disuruh mencari laki laki lain agar dia bisa hamil, lebih baik dia bercerai dari pada melalukan hal berdosa seperti itu.
***
Paginya Indra sudah menunggu Rosa yang sudah bersiap-siap akan berangkat ke kantor. Rosa pergi begitu saja tanpa berpamitan pada suaminya yang seperti biasa dilakukannya. Tapi dia merasakan sangat sakit saat Indra menarik rambut panjangnya.
"Mas, lepasin. Sakit Mas," ucap Rosa sambil menahan tangan Indra.
"Kamu harus menuruti aku. Kamu harus hamil!" Indra berkata dengan wajah bengis.
Rosa semakin terluka harga dirinya. Dia harus melawan Indra dengan menyikut perut suaminya.
"Kamu harus menuruti semua keinginanku atau kamu akan melihat percetakan ayahmu bangkrut."
Rasanya sudah tak ada pilihan lagi untuk Rosa. Jika sudah menyinggung tentang keluarganya, dia tak memiliki keberanian untuk melawan Indra. Laki-laki itu akan melakukan segala cara demi tercapai dengan segala tujuannya.
"Laki-laki pengecut! Kamu beraninya sama wanita."
"Wanita sepertimu tidak bisa diajak bicara baik-baik harus ada pelajaran agar kamu mau nurut segala permintaan ku," bisik Indra tepat ditelinga Rosa.
"Lepaskan tanganmu dari rambutku."
"Kalau aku lepaskan, kamu harus mau menuruti semua keinginanku." Indra melepaskan rambut Rosa dengan kasar.
"Baiklah. Aku akan menuruti semua keinginmu, tapi harus dapat di mana?"
"Yaa pergi ke club malam. Di sana banyak laki-laki yang siap membuahimu. Tidak perlu berusah payah yang penting cairan kental pria yang akan menidurimu."
Rosa hanya menganggukan kepalanya. Dia lebih penting keselamatan dirinya sendiri dari pada akan disiksa lagi dengan kejam.
"Sudah sana kamu tidur." Indra mendorong tubuh Rosa secara kasar.
Tanpa banyak bicara Rosa segera pergi dari hadapan Indra. Dia hanya ingin berada di kamarnya sudah tak ada semangat untuknya berangkat ke kantor. Menangis menjerit sendirian tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya. Sudah badannya sakit, sakit juga hatinya.
***
Keesokan harinya, Indra menyiapkan sarapan untuk Rosa. Dia merasa bersalah pada istrinya tersebut. Membuatkan sandwich dan susu putih agar Rosa mau menurutinya. Dia tahu pasti kejadian tadi malam membuat Rosa sangat sedih, tapi mau bagaimana lagi hanya itu lah jalan satu-satunya agar mereka mendapatkan keturunan.
Indra tidak memperdulikan hal lain lagi. Yang penting baginya Rosa hamil dan dia mendapatkan harta warisan yang merupakan toko sparepart dan show room mobil. Tidak bisa dia memberikan semuanya pada Harry atau adik iparnya. Dia lah yang membuat semuanya menjadi lebih maju dan dia lah yang membuat harta kekayaan keluarga Ariseto menjadi tambah kaya.
Rosa menatap wajahnya di depan cermin. Dia berusaha untuk tetap tersenyum. Dia meringis sakit saat menyisir rambutnya yang masih sakit akibat dijambak oleh Indra. Memoleskan bedak secara perlahan di pipinya yang terasa masih sakit. Sudah dari kemarin Indra selalu menamparnya. Dia harus segera ke kantor agar terbebas dari siksaan saat berada di rumah yang membuat hidupnya sengsara. Tapi sebuat ketukan pintu membuatnya menoleh ke arah pintu saat mendengar ada yang mengetuknya.
"Ros, kamu sudah bangun? Kita sarapan bareng ya," ujar Indra dengan suara lembut.
"Iya." Rosa menjawab dengan malas.
Meskipun, Indra berkata lembut padanya, tapi baginya suara Indra bagaikan suara malaikat maut yang siap melahapnya. Dia sangat membenci suaminya tersebut. Jika saja usaha percetakan orang tuanya tidak dibantu Indra tentu dia tidak akan mau diperlakukan seperti ini.
Jika adiknya tidak membutuhkan biaya kuliah tentu saja Rosa sudah meminta cerai. Indra yang menanggung semua biaya dan modal usaha Ayahnya juga membiayai adiknya, Rully yang kuliah hukum.
Dengan langkah malas Rosa datang ke meja makan. Di sana sudah ada Indra yang tersenyum menunggunya untuk sarapan bersama.
"Nanti malam kamu harus tampil cantik dan seksi. Kamu ke salon dan beli parfum baru yang menggoda. Uangnya nanti aku kirim dan aku juga sudah mengirim uang untuk orang tua dan adikmu," ucap Indra.
"Terima kasih," jawab Rosa.
"Kamu harus mencari laki-laki yang seperti aku. Aku ga mau nantinya anakku jelek. Aku ini tampan, putih, keren, dan jangan sampai kamu salah pilih laki-laki."
"Iya. Tapi, Mas. Apa tidak ada solusi lain selain mencari laki-laki? Apa sebaiknya kita angkat anak saja?"
Indra menggebrak meja dengan kencang. Membuat Rosa terkejut. Rosa langsung menundukan wajahnya, dia takut kalau Indra udah marah akan memukulnya lagi. Indra berdiri dari kursinya berjalan mendekati Rosa dengan wajah memerah menahan marah. Tangannya mengepal membuat Rosa merasakan sesak di dalam dadanya. Dia sangat takut.
"Rosa sayang... aku ga mau ada anak angkat. Itu sama saja aku memperlihatkan kekuranganku. Kamu harus hamil dan anak itu nanti adalah anak kita. Keturunan Indra Ariseto."
"I-iya Mas." Rosa menjawab dengan ketakutan. Terlihat dari wajah Indra sudah tidak bisa diajak kerjasama lagi. Walaupun, dia merasa sangat hancur.
Rosa mengendarai mobilnya menuju kantor dengan secepat mungkin, tapi saat melewati sebuah taman. Dia melihat anjing yang waktu malam itu ditabraknya. Dia berhenti sebentar dan tersenyum saat anjing itu berlari-lari.
"Syukurlah anjing itu sudah sehat lagi," ucapnya penuh syukur.
Rosa pun melanjutkan perjalannya agar segera tiba di kantornya. Setibanya di kantor dia memanggil Vira untuk datang ke ruangannya.
"Vir, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Rosa ragu.
"Ngomong apaan? Aku siap mendengarkannya. Pasti masalah di mandul lagi kan."
Rosa menganggukan kepalanya. Dia menceritakan tentang keinginan Indra yang menginginkan anak.
"Gila! Si Indra sudah stress. Sumpah gila banget dia," pekik Vira tak percaya.
"Udah gila, iblis lagi," ujar Rosa.
Rosa kembali menceritakan kalau dia harus hamil dengan pria lain jika tidak usaha keluarganya akan hancur. Vira mengerti dan mengajak Rosa nanti malam pergi ke club bersamanya dan akan mengenalkan teman Ryan pada Rosa. Rosa berharap semuanya berjalan dengan lancar walau batinnya tersiksa.