Sampul Novel Malam Pertama dengan CEO

Malam Pertama dengan CEO

9.7 / 10.0
Malam pernikahan Kara berubah jadi mimpi buruk saat sang suami tega menjualnya kepada CEO kaya bernama Angkasa. Dipaksa melayani pria itu selama sebulan, Kara akhirnya hamil. Sayangnya, kesalahpahaman membuat Angkasa menolak anak tersebut dan mengusirnya. Di tengah rundungan mantan suami dan mertua, Kara bangkit berjuang sendirian hingga sukses menjadi desainer. Kini, saat Angkasa kembali datang memohon maaf, bersediakah Kara memaafkan luka masa lalunya?
Ringkasan Malam Pertama dengan CEO
Malam pernikahan Kara berubah jadi mimpi buruk saat sang suami tega menjualnya kepada CEO kaya bernama Angkasa. Dipaksa melayani pria itu selama sebulan, Kara akhirnya hamil. Sayangnya, kesalahpahaman membuat Angkasa menolak anak tersebut dan mengusirnya. Di tengah rundungan mantan suami dan mertua, Kara bangkit berjuang sendirian hingga sukses menjadi desainer. Kini, saat Angkasa kembali datang memohon maaf, bersediakah Kara memaafkan luka masa lalunya?
Baca Selengkapnya

Malam Pertama dengan CEO Bab 1

"Pakai ini." Andreas mengulurkan lingerie merah. "Biar tambah panas," ucapnya kemudian sembari mengedipkan matanya.

Aku menerima lingerie, lalu tertunduk malu. Rautku pasti semerah warna lingerie.

"Aku tunggu di sini," ujar Andreas, menepuk-nepuk tempat tidur.

Dengan perasaan yang tak keruan, aku masuk kamar mandi. Melepas semua baju termasuk pakaian dalam, berganti dengan lingerie. Pantulan diri pada cermin membuatku makin tersipu malu. Belahan dada terlihat, pahaku terekspos. Lekuk tubuh ini samar terlihat.

Aku menarik napas dalam. Andreas adalah suamiku, jadi tidak perlu malu. Membayangkan malam pertama yang bakalan kami lewati, membuat degup jantung melesat cepat. Mendadak hasrat meledak sempurna.

Perlahan aku menguak pintu kamar mandi. Lagi, aku tertunduk dalam seraya melangkah ke tempat tidur. Namun, suamiku tidak ada.

"Andreas," panggilku, memindai setiap sudut kamar. "Andreas ...."

Ke mana dia? Apa mungkin dia keluar kamar? Aku meraih jubah kimono yang tersampir di kursi.

Tiba-tiba lampu kamar mati ketika kaki hendak berjalan ke arah pintu. Embusan hangat pada tengkuk dan tangan yang melingkar di pinggang membuatku terkejut setengah mati. Jubah kimono yang aku kenakan dilepas oleh Andreas, meluncur ke bawah.

"Andreas, dari mana saja?" tanyaku, memutar tubuh. Karena gelap, aku tidak bisa melihat suamiku.

Andreas tidak menjawab, dia malah membopong tubuhku ke peraduan. Mencium bibirku dengan tergesa, sementara tangan kanannya menarik lingerie hingga terlepas. Aku mendekap punggungnya dengan erat, membalas ciuman Andreas yang membara. Dia mulai menjelajah leher dan dadaku. Turun pada perut, memberikan sensasi yang bergejolak. Seperti inikah rasanya bercinta?

Sentuhan demi sentuhan dari Andreas membuatku terseret dalam letupan indah yang tidak berkesudahan. Napas kami berkejaran pada malam yang sunyi. Debaran di dada nyaris terbakar.

Akan tetapi, aku tersadar dengan aroma citrus. Seingatku parfum Andreas beraroma bunga lili. Dan, ketika tanganku menyentuh rambut---rambutnya tebal, sepertinya sedikit bergelombang. Rambut Andreas pendek ala anggota militer.

"Siapa kamu?" Aku mendorong tubuh lelaki yang tidak kukenal, menyambar selimut untuk menutupi tubuh, dan menyalakan lampu meja di samping tempat tidur.

Seorang lelaki yang tidak kukenal tersenyum lebar. "Aku?"

Aku turun dari tempat tidur, memegang erat selimut.

"Aku lelaki yang akan menghabiskan malam bersamamu," ucapnya dingin.

"Andreas!" teriakku.

"Suamimu sudah pergi."

"Tidak mungkin." Aku mengambil tas di atas meja rias. Ponselku tidak ada di dalam tas, sehingga aku menumpahkan semua isi tas di lantai. Tetapi, ponselku tidak ketemu. Aku mencari ke setiap sudut kamar dengan kebingungan.

"Kara, Andreas menjual dirimu seharga mobil dan menyewakan selama satu bulan untuk melayaniku," kata lelaki bermata cokelat itu.

"Dari mana kamu tahu namaku?" Aku merapat ke pintu, mencoba membuka pintu. Aku sangat ketakutan. "Andreas, tolong!"

Berkali-kali aku menggerakkan pegangan pintu, berharap ada keajaiban pintu bisa terbuka.

"Andreas tidak akan datang, Kara Sayang. Dia sudah meninggalkan vila."

Aku menoleh, lelaki yang tubuhnya tidak tertutup sehelai benang pun itu berjalan mendekat.

"Andreas, tolong! Andreas!" Aku berteriak dan menggedor-gedor pintu.

"Jika kamu menurut, aku tidak akan kasar dan kamu tidak akan kesakitan. Seperti tadi, kau begitu menikmati." Wajah itu menyeringai mengerikan. Kedua tangannya mencengkeram kuat pundakku.

"Lepaskan! Andreas! Tolong!"

Teriakanku percuma. Tidak bisa menembus dinding kamar. Perlawananku pun tidak bisa menyelamatkan kehormatanku.

***

Lelaki itu tidur nyenyak setelah menjamah paksa tubuh ini. Sementara aku meringkuk di atas sofa, meratapi nasib. Aku masih tidak percaya Andreas menjualku demi uang. Aku mengenal Andreas dua bulan yang lalu, dia dari keluarga terpandang, ayahnya seorang pejabat. Status Andreas duda tanpa anak, istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan empat bulan yang lalu.

Andreas sangat sopan dan ramah, itu yang membuatku jatuh hati dan menerima lamarannya. Aku yang hanya buruh pabrik dan yatim piatu tentu saja bahagia. Lelaki tampan serta pujaan para perempuan memilihku sebagai istrinya. Aku tidak berpikir dua kali, karena usiaku dua puluh sembilan tahun. Dan, yang pasti karena rasa cinta.

Aku mengusap butir air mata yang luruh di pelipis dan membasahi bantal. Masih saja mengingkari kenyataan--tidak mungkin Andreas berbuat kejam dan biadab--mungkin saja lelaki itu berbohong. Atau mungkin saja Andreas disekap di suatu tempat.

"Tidak mungkin, tidak mungkin ...." desisku.

Ingin kabur tidak bisa, jendela kaca dengan teralis besi dan pintu kayu itu cukup tebal. Tubuhku lelah dan perih, yang bisa kulakukan hanya tetap bisa terjaga sepanjang malam.

"Kara ...."

Sentuhan hangat terasa di pipi lalu di hidung. Refleks, aku terbangun. Denyut-denyut nadiku berantakan karena terkejut. Ya, Tuhan, aku terlelap. Mataku mengerjap, wajah lelaki bejat itu sangat dekat.

"Apa yang ingin kau lakukan?!" Aku langsung berdiri dan menjauh.

"Rupanya kamu kelelahan." Lelaki itu mengambil jas yang tergeletak di lantai. "Ayo, keluar, kita akan ke rumahku. Di sana kita akan memadu kasih setiap malam."

Aku menggeleng. "Tinggalkan aku."

"Oh, tidak bisa, Nona cantik. Aku sudah membeli dan menyewamu," katanya, "ngomong-ngomong mungkin kamu ingin menyimpan seprai? Usiamu sudah tidak muda lagi, tapi kamu masih perawan. Ternyata Andreas tidak berbohong."

Mataku melihat ke arah seprai, noda merah membuat dadaku sesak. Rasa pedih merayapi hati. Kedua tanganku mengepal kuat, hingga kuku-kuku menghujam.

Lelaki itu menyeretku keluar kamar, aku tersuruk-suruk mengikuti langkahnya. Cengkeramannya kuat sekali.

"Tolong, lepaskan aku." Aku mengiba. Aku tidak ingin berakhir dalam dekapan lelaki bejat itu.

"Selamat pagi, Pak Angkasa," sapa seorang lelaki yang berdiri di sisi mobil, dia kemudian membuka pintu mobil.

Aku menggigit tangan lelaki yang bernama Angkasa itu. Dia berteriak dan mengumpat. Namun, tidak membuatnya melepaskan cengkeraman. Tubuhku didorong masuk ke mobil, hampir tersungkur di jok belakang.

Mobil sedan meluncur. Pada garis batas, langit mulai terang dengan warna kemerahan. Aku telah melalui malam laknat. Aku tidak ingin melaluinya lagi. Tidak.

Aku harus bisa kabur, lari dari lelaki yang duduk di sebelahku. Mobil berhenti karena lampu merah. Aku beruntung, karena sistem autolock pada mobil sepertinya rusak, sehingga aku bisa membuka pintu mobil. Angkasa sempat meraih ujung kemejaku, tetapi tidak bisa mencegahku keluar mobil.

"Kara, kembali!"

Lampu yang berubah hijau menyelamatkan diriku. Terus berlari menyusuri trotoar jalan dengan bertelanjang kaki. Aku baru berhenti setelah sepuluh menit lari. Tidak ada Angkasa di belakangku.

Aku duduk pada bangku trotoar, telapak kaki berdarah sedikit karena tergores batu. Menyelaraskan napas yang hampir habis. Ke mana tujuanku sekarang? Menghubungi Andreas? Aku bimbang. Kalaupun dia tidak menjualku, dia pasti tidak menerima istri yang telah ternoda.

Setelah merasa cukup istirahat, aku melangkah perlahan. Aku akan pulang ke rumahku sendiri.

"Kara!"

Aku menoleh, Bu Zunaira--mertuaku--turun dari mobil. Dia memelukku.

"Kara, telah terjadi pada Andreas tadi malam. Kami mencoba meneleponmu, tetapi ponselmu tidak aktif. Kenapa kondisimu memprihatinkan begini?" Bu Zunaira melepas pelukan dan melihat diriku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Apa yang terjadi dengan Andreas, Bu?"

"Dia diculik."

"Diculik? Tapi--"

"Kita pulang dulu, ya, Nak." Bu Zunaira membimbingku masuk mobil. "Tenangkan dirimu, pasti Andreas baik-baik saja."

Aku antara percaya dan tidak. Tapi, mungkin saja bisa terjadi. Apa Angkasa yang menculik Andreas tadi malam? Bu Zunaira tampak tegang, dia memegang jemari tanganku. Sementara mobil membelah jalan raya yang mulai hidup.

"Rumah siapa, Bu?" tanyaku saat mobil merapat di rumah besar berpagar tinggi.

"Rumah petinggi polisi, dia yang membantu keluarga kita melacak Andreas. Seharusnya kalian berbulan madu, malah kemalangan yang menimpa," jawab Bu Zunaira sebelum turun dari mobil.

Aku pun ikut turun. Dua lelaki tinggi besar mendekati kami. Lalu, dengan cepat mereka mengunci tubuhku.

"Apa-apaan kalian? Lepas!" Aku memberontak, namun sia-sia. "Bu Zunaira, tolong aku."

"Tempatmu di sini, Kara," sahut Bu Zunaira sinis.

"Apa maksudmu?" Aku tidak mengerti.

"Hei, Kara, kita berjumpa lagi." Lelaki yang memakai kemeja putih muncul dari dalam rumah.

"Bu Zunaira ...." Aku memandangi mertuaku tidak percaya. Perempuan tua itu menyerahkan aku pada Angkasa.

"Terima kasih, Bu Zunaira," ujar Angkasa.

"Tentu saya dan Andreas tidak akan mengecewakan Anda, Pak Angkasa. Uang Anda tidak akan sia-sia," sahut Bu Zunaira. "Ikat saja kaki Kara, supaya tidak lari lagi. Saya permisi dulu."

Aku serasa ditusuk-tusuk ribuan pisau, Ibu mertua dan suamiku melakukan hal biadab. Mereka berdua bak malaikat, namun pada kenyataannya, mereka iblis ....

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Malam Pertama dengan CEO

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
8.4
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica harus menelan pil pahit di hari ulang tahun pernikahannya. Alih-alih merayakan momen spesial, dia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam suaminya, Rio Aditya. Rio ternyata berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa rasa cinta yang tersisa dan waktu yang kian menipis, Jessica memutuskan untuk merelakan semuanya, bersiap pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berbalik total setelah sebuah rahasia di kampusnya terungkap. Ezza, sosok suami yang dinikahinya melalui perjodohan orang tua, mendadak hadir sebagai dosen baru di tempatnya berkuliah. Kemunculan Ezza yang tiba-tiba di hadapannya memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai mempertanyakan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada motif terselubung di balik keputusan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an meminta cerai setelah tiga tahun pernikahan. Ia memohon kepada sang istri agar diizinkan memiliki anak lagi dengan mantan kekasihnya itu sebagai pendonor sel penyelamat. Di balik janji setianya untuk kembali setelah proses medis selesai, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang telah menanti kedatangan Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil diam-diam dari Jeremy, walau tahu dia hanya dimanfaatkan. Demi lepas dari cengkeraman pria kejam itu, Angela sengaja memicu kemarahannya agar diusir. Namun, pelariannya gagal setelah Jeremy menemukan tempat persembunyiannya. Saat Angela pasrah memohon dibebaskan, situasi justru berbalik karena kehadiran anak mereka. Jeremy yang semula begitu dingin kini berubah drastis, bahkan menawarkan diri untuk melayani Angela serta buah hati mereka.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota, pemuda malas berumur dua puluh tahun, lebih memilih menganggur dan bermain gawai meski otaknya sangat licik. Tabiat buruk ini membuat ibunya, Artisa, merasa sangat khawatir. Sebagai pekerja keras yang juga punya sisi licik, Artisa bertekad merombak total kepribadian putranya. Ia pun memilih cara ekstrem dengan mengubah wujud fisik Sota. Akankah rencana drastis sang ibu berhasil mengubah jati diri Sota melalui transformasi tubuh tersebut?
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED