Bab 2

Bu Zunaira memegang daguku. Wajah dengan riasan tebal itu tersenyum tipis. "Aku mendapatkan keuntungan sangat besar dengan menjualmu," bisiknya.

"Kamu gila," umpatku.

"Sudah sejak lama aku gila, Kara. Sampai bertemu satu bulan lagi." Bu Zunaira masuk mobil, dia tega sekali. 

"Bawa Kara ke kamarku," perintah Angkasa.

Kali ini aku tidak melawan, menurut seperti bayi yang tidak punya tenaga. Toh percuma melawan dua lelaki kekar dan besar. 

Dengan kasar mereka mendorong tubuhku masuk kamar. Aku tersungkur di atas karpet, lantas pintu tertutup rapat. Langkah-langkah suara kaki mereka terdengar semakin menjauh.

Aku memukul-mukul dada sendiri, kepedihan yang luar biasa hebat. Terisak dalam, tamat sudah riwayatku--menjadi budak nafsu Angkasa. Impian pernikahan yang indah, suami yang setia, tinggal impian. Tidak ada yang tersisa. Dan, rasanya ingin mati saja.

"Apa yang kamu tangisi?" Angkasa berjongkok di depanku.

Aku melengos. Muak melihat wajah Angkasa. 

"Mandilah, ganti bajumu yang kotor." Angkasa meletakkan kaus dan celana training di pangkuanku. "Pakai kausku dulu, karena kamu tidak punya baju. Oh, ya, ini tasmu ...."

Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutku. Menyeka air mata yang terus menggenang.

"Andreas dan ibunya, mereka semacam germo. Yang menawarkan gadis-gadis perawan pada pengusaha dan penjabat. Tentu hanya kalangan kami yang tahu sepak terjangnya di bisnis dunia hitam," kata Angkasa, dia berdiri menjauh.

Ujung mataku sempat melihatnya tengah memakai jas, kemudian merapikan rambutnya.

"Bahkan mereka menawarkan gadis di bawah umur ...."

"Dan, kamu termasuk yang menikmati gadis-gadis di bawah umur itu," potongku sengit.

"Aku masih waras, aku tidak tertarik berhubungan dengan gadis kecil. Makanya, ketika Andreas menawarkan dirimu tiga hari yang lalu, aku langsung menerimanya," terang Angkasa.

Ternyata aku memang sudah diincar Andreas. Aku pun terjebak oleh pesonanya, masuk perangkap yang telah dia buat.

"Nikmatilah kamarku, Kara. Penjagaan di rumahku ketat. Tidak ada celah bagimu untuk kabur." Angkasa berlalu dari kamar.

Tubuh ini rebah di atas karpet. Aku benci dengan air mata yang terus merembes. Aku benci dengan tubuh yang kotor dan menjijikkan. Aku sekarang hanya seorang pelacur. 

Derit pintu terdengar terbuka, mungkin Angkasa yang masuk kamar. Ternyata bukan, seorang lelaki bertubuh tambun dan bermata sipit membawa baki makanan.

"Tuan Angkasa menyuruhmu makan," katanya.

"Aku tidak lapar," tolakku.

"Baiklah. Aku letakkan saja di sini." Baki berisi nasi goreng dan segelas teh ditaruh tepat di depan wajahku. 

"Bisakah kamu menolongku?" pintaku penuh harap. "Bantu aku kabur dari rumah tuanmu."

"Sayang sekali aku tidak bisa."

"Aku mohon." Aku menarik tubuhku menjadi posisi duduk.

"Aku tidak bisa mengkhianati majikanku sendiri," sahutnya.

"Tapi, dia lelaki kejam, tidak bermoral." Aku menatap tajam lelaki yang kira-kira berusia 40 tahun.

"Ya, Tuan Angkasa memang suka bermain dengan perempuan, keluar masuk club, kadang mabuk-mabukan. Tetapi, aku berutang budi padanya. Dia punya sisi lain di balik sikapnya yang menurutmu kejam," jelasnya. "Panggil aku Burhan, sepertinya kita akan sering bertemu."

Burhan pun meninggalkan kamar dan tidak lupa mengunci pintu dari luar. Aku beranjak dari duduk, tertatih menuju jendela besar yang terhubung dengan balkon. 

Aku menempelkan kening pada kaca jendela. "Aku harus keluar dari sini ...." gumamku. Meloncat dari balkon mungkin ide konyol, tetapi aku harus mencoba. 

Sampai pada tepian balkon, aku melihat ke bawah. Ada dua penjaga duduk, lelaki berkepala plontos mendongak. "Ada yang bisa dibantu?"

Ucapan Angkasa benar adanya, banyak penjaga di rumah ini. Aku malah tertawa getir, hanya untuk menjaga supaya aku tidak kabur, Angkasa mungkin mengerahkan satu batalyon penjaga. Aku juga melihat anjing di pos satpam. Pagar tinggi mengelilingi rumah. 

Penjaga, anjing, dan pagar tinggi. Ah, bagaimana aku bisa kabur?

***

Aku berada di bawah pancuran air hangat cukup lama. Berharap air bisa meluruhkan kotor di badanku dan sabun bisa membuat wangi. 

Andreas ... aku masih menangisi lelaki itu, yang membuatku patah hati dan tersakiti. Masih sulit memercayai bahwa aku telah terpedaya oleh cinta. 

Perlahan aku meraih handuk, memakai kaus dan celana training yang kebesaran sehingga aku harus menggulung bagian bawah. Mematut diri di depan kaca, melihat wajahku yang ... mengerikan. Mata cekung dengan lingkaran hitam karena kebanyakan menangis.

Setelah mandi aku kembali meringkuk di atas karpet. Kamar hanya diterangi lampu di atas meja. Suara gemuruh hujan berdentang di telinga. Seharian aku hanya tergolek tanpa tenaga. Makanan yang diantar Burhan masih utuh. Satu jam yang lalu dia mengantar roti dan susu. Aku hanya mencuil sedikit, rasanya tenggorokanku tidak mampu menelan. Untuk apa aku makan?

Sang monster belum pulang. Aku berharap dia tertelan bumi selamanya. Keinginan terburukku, dia kecelakaan, dirampok, atau ditusuk penjahat. Termasuk Andreas dan Bu Zunaira, aku ingin mereka berdua terbakar api neraka.

Sayang sekali, tidak berselang lama, aku mendengar pintu terbuka. Langkah kaki, kemudian suara gemericik air di kamar mandi. 

"Apa seharian kamu hanya berbaring di situ?" tanya sang monster yang baru keluar dari kamar mandi.

"Apalagi yang bisa dilakukan seorang tawanan ...." 

"Kamu juga tidak makan. Apa tidak enak masakan si Burhan?" tanyanya lagi.

"Apa pedulimu kalau aku tidak mau makan?"

"Tidurlah di ranjang," perintah Angkasa.

"Aku tidur di sini saja."

Sang monster tidak menerima penolakan, dia menggendong tubuhku dan merebahkan pelan di ranjang. Apakah aku akan melalui malam laknat lagi? Aku harus menerima seandainya terjadi. Bukankah sekarang aku perempuan penjaja cinta?

Angkasa menyelimuti tubuhku sambil berujar, "Setiap malam kamu harus tidur di sampingku."

Monster itu tidak menjamahku, dia duduk di balik meja. Kacamata bertengger di hidungnya. Serius dengan tumpukan berkas dan laptop. Mendadak dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum.

Buru-buru aku membalikkan badan. Aku ingin terlelap dan tidak terbangun lagi. Betapa putus asanya diri ini. 

Aku terbangun pada dini hari, terkejut mendapati tangan Angkasa yang melingkar di atas perut. Dengan sangat perlahan, aku mendorong tangannya. Kerongkongan terasa kering hingga kuputuskan turun dari ranjang. Mengambil segelas air putih di meja dan meminumnya sampai habis.

Kemudian aku mengambil ponsel Angkasa, sayangnya terkunci. Oh, aku bisa menggunakan laptopnya. Entah mengapa aku ingin mencari tahu tentang Angkasa, Andreas, dan keluarganya. 

Aku mencari di kolom pencarian. Mengetik nama Angkasa. Banyak sekali nama Angkasa, aku tidak tahu nama belakangnya. Aku berpindah mencari nama Andreas Danuarta. Dia aktif di Facebook dan Instagram, namun di privat. Lalu, ada ulasan berita tentang istrinya yang meninggal akibat kecelakaan. Rem mobil tidak berfungsi hingga menabrak pembatas jalan. Pada profil, tampak wajah perempuan manis bernama Meina Yahya, tumbuh di panti asuhan dan mendedikasikan dirinya menjadi guru SD. 

Aku tercenung sebentar, lalu men-scroll berita demi berita tentang Andreas. Rupanya dia pernah bertunangan dengan perempuan bernama Rista sebelum menikahi Meina. Rista menghilang, sampai sekarang belum diketemukan. 

Kenapa perempuan yang punya hubungan dengan Andreas meninggal dan  yang satunya menghilang? Aku membaca lagi, Rista menghilang setelah pulang dari pesta ulang tahun. Tidak ada jejak, mobilnya pun ikut raib.

Apa mereka sebenarnya disingkirkan Andreas? Setelah keinginan Andreas tercapai dia kemudian membungkam perempuan-perempuan malang itu? 

Aku menutup bibir sendiri, rasa takut menyergap. Apakah setelah ini giliranku?  Mati di tangan Andreas?

***

Angkasa mengajakku ke mal untuk membeli pakaian. Dua anak buahnya berjalan di belakang kami. Rasanya mustahil aku kabur. Kami memasuki toko pakaian, kemudian pintu toko ditutup oleh salah satu pegawai toko.

"Pilih sesukamu. Sebanyak yang kau mau, toko ini hanya melayani kita untuk dua jam ke depan," ujar Angkasa, dia duduk di bangku.

Aku menjelajahi toko, mengambil kaus, kemeja, celana panjang dari bahan kain maupun jeans. Aku ambil begitu saja tanpa mencoba. Lalu, berjalan ke kasir.

Angkasa beranjak dari duduknya, dia berkomentar, "Cepat sekali." Tubuhnya tepat di belakangku. 

Aku bergeming, bisa kurasakan embusan napasnya di tengkukku.

"Pakaian dalam? Sepertinya kamu tidak punya," bisiknya, "pilihlah yang seksi."

Pipiku mungkin memerah karena malu, akhirnya aku melangkah menuju bagian pakaian dalam wanita. Aku pun mengambil secukupnya. 

"Sudah cukup?" tanya Angkasa.

Aku mengangguk kecil sembari menaruh beberapa pakaian dalam di meja kasir. 

Setelah membayar, Angkasa mengajakku nonton di bioskop. Sementara kantong belanjaan dibawa oleh anak buah Angkasa.

Angkasa memilih film action, dia juga membeli popcorn dan minuman ringan. Kami duduk di bagian paling belakang. Aku sama sekali tidak menikmati film. Pikiran entah ke mana. Beberapa kali aku menarik napas.

"Tidak suka filmnya?" Tubuh Angkasa condong ke arahku.

"Aku tidak suka. Membosankan. Memuakkan. Menjijikkan. Memalukan ...."

Ucapanku terhenti, Angkasa meraih tengkukku dan mencium bibirku dengan lembut, aku bisa merasakan rasa manis popcorn. Aku mendorong tubuh Angkasa.

"Ini tempat umum," hardikku.

"Baik, nanti kita lanjutkan di rumah." Dia tersenyum.

Aku menegakkan tubuh. Mulai merasa gelisah. Aku harus melayani Angkasa, mau tidak mau. Aku semakin tidak bisa menikmati film.

***

Sampai di rumah, Angkasa sibuk dengan tamu yang berkunjung. Aku pun terkunci di dalam kamar lagi. Berdiri memandangi kalender di meja. Ini hari ketiga aku berada di rumah mewah ini.

Kaki ini bergerak ke kamar mandi, mencuci wajah di wastafel. Kemudian berendam air hangat di bathtub. Hanya sepuluh menitan, aku lekas keluar dari bathtub. Meraih handuk. Sial. Aku lupa tidak membawa baju ganti.

Aku membuka pintu kamar mandi, kepala melongok keluar, Angkasa belum berada di kamar. Kaki ini berjingkat ke lemari, mengambil kaus dan celana.

"Aku suka wangi mawar di rambutmu," ucap Angkasa, memeluk dari belakang, menjelajahi bahuku yang terbuka.

Seketika aku membeku. Mempererat handuk yang melilit di tubuh. Tetapi percuma, Angkasa menarik handuk yang kukenakan. Dia menarik tubuhku ke dalam dekapannya.

"Seperti yang kubilang tadi, kita akan melanjutkan di rumah," bisiknya di telingaku.

"To-tolong jangan." Aku memohon, tapi percuma.

Angkasa tidak peduli, dia butuh pelepasan. Dia tidak sekasar waktu kali pertama menyentuhku. Dia mulai menandai tubuhku yang tidak berkutik. Detik jam berputar, terasa sangat lama. Akhirnya dia selesai bergerilya, menuntaskan hasrat dan menyisakan napas yang tidak beraturan.

"Thanks." Angkasa mengecup pipiku, lalu bibirku. Dia kemudian mendekapku.

Aku tersenyum masam, untuk apa dia mengucapkan terima kasih pada barang dagangan seperti diriku. Aku menarik selimut, menutupi tubuh telanjang kami.

Bab 3

Sudah tujuh belas hari, aku terpenjara di rumah Angkasa. Melayaninya di atas tempat tidur, mendengarkan keluh kesahnya mengenai perusahaan atau kolega yang menjengkelkan, dan menemaninya sarapan seperti pagi ini. Dia tampak segar dengan kemeja biru muda.

"Setelah selesai masa sewa, tolong jangan kembalikan aku pada Andreas." Sudah empat kali aku mengatakannya pada Angkasa, berharap dia menyimpan sedikit belas kasihan.

"Aku menyewamu layaknya barang, jadi aku harus mengembalikanmu pada empunya," sahut Angkasa. "Jangan bahas ini lagi, Kara."

"Mungkin aku akan berakhir di kuburan ...." Aku mengesah.

"Tidak ada bukti istrinya yang terdahulu dibunuh, itu hanya pradugamu saja." Angkasa membanting serbet, dia beranjak dari kursi.

Cepat-cepat aku mengikutinya yang melangkah menaiki anak tangga. Aku akan terus membujuknya.

"Aku mohon."

"Tidak bisa," tandas Angkasa, mulai terlihat jengkel. "Arghh, lihat ini, kancing kemejaku lepas."

"Tolong, pikirkan kembali." Aku mengulas senyum seraya menarik laci meja, tempat Angkasa menyimpan kotak kecil berisi benang dan jarum. Saking tidak punya kerjaan, aku pernah menggeledah satu per satu laci. Jadi tahu barang-barang yang disimpan Angkasa. "Mana kancing bajunya?"

Angkasa meletakkan kancing di atas telapak tanganku.

"Tidak perlu dilepas kemejanya, tidak akan memakan waktu lama," ujarku.

Kancing yang terlepas tepat di depan bagian dada Angkasa. Setelah memilih warna benang yang sama dengan kemeja, aku berdiri begitu dekat dengannya.

"Seharusnya kamu menikah. Carilah perempuan, jatuh cinta, dan habiskan waktu bersama. Apa selamanya kamu akan terus seperti ini?" kataku mulai menjahit perlahan kancing pada kemeja.

"Apa pedulimu?"

"Aku memang tidak peduli. Hanya menyarankan, dari pada kamu berbuat dosa terus." Aku mengembuskan napas.

"Kita berdua berbuat dosa, karena akhir-akhir ini kamu menurut dan sepertinya menikmati setiap kali kita bercinta," ucap Angkasa.

Aku mendongak sebentar untuk melihat wajahnya, kemudian tertawa kecil. "Aku terpaksa menikmati, bukankah aku tidak punya pilihan? Bukankah aku hanya perempuan sewaan yang harus melayanimu? Kalaupun aku menolak, pasti kamu memaksa dengan kasar. Apa yang bisa kuperbuat selain pasrah pada keadaan?" Air mata menitik dari ujung mata. Aku sama sekali tidak menikmatinya, tidak sedikit pun.

Kepalaku mendekat untuk menggigit benang, lalu berucap, "Sudah selesai."

"Terima kasih."

"Hanya hal kecil tidak perlu mengucapkan terima kasih." Jemariku menyusut air mata.

Tangan Angkasa menangkup wajahku, dia merunduk. Menatap lekat. Aku hendak mundur, tapi satu tangannya meraih pinggangku. Sepersekian detik kemudian, dia membungkam bibirku dengan perlahan dan dalam. Berubah tergesa, hingga tidak memberiku kesempatan untuk bernapas.

"Tuan Angkasa ... oh, maaf."

Angkasa melepaskan tubuhku, segera aku menarik diri--menaruh kembali wadah benang dan jarum di laci.

"Ada apa, Burhan?" tanya Angkasa sambil meraih tas laptop.

"Di bawah ada Kakak Anda," jawab Burhan.

"Ah, dia pasti membawa foto-foto perempuan dan memaksaku memilihnya ...." keluh Angkasa berlalu dari kamar.

"Maaf, Kara, aku harus mengunci pintunya. Nanti setelah Nona Gissela pulang, kamu boleh keluyuran lagi," kata Burhan.

Ternyata Angkasa punya saudara perempuan. "Tidak apa-apa, Burhan. Aku sudah terbiasa di kamar ini."

***

Aku berjalan sepanjang pagar, mungkin sudah puluhan kali aku memutari pagar--mencari celah untuk kabur. Tinggi pagar kira-kira tiga meter. Aku berhenti, menghela napas kecewa.

Angkasa tidak lagi mengunci kamar, membiarkan aku menjelajahi tiap jengkal rumah kecuali dapur.

"Apa yang sedang kamu pikirkan? Mencoba kabur?"

Aku memutar badan, tampak Burhan berdiri dekat pintu kecil pagar. "Ya, begitulah ...."

"Sebentar lagi kamu akan ke luar dari rumah ini, Kara." Lelaki itu mengeluarkan rokok dari saku bajunya, menyalakan dengan korek api elektrik.

"Aku tidak ingin kembali ke tangan suamiku." Aku bersandar pada tembok pagar, melihat langit biru yang mulai disusupi warna hitam. Angin berembus kencang.

"Karena akan berakhir dengan kematian," tebak Burhan. "Aku mendengar pembicaraanmu dengan Tuan Angkasa."

"Bukan hanya tentang itu saja, seandainya aku tidak mati aku akan terjebak dalam dunia hitam selamanya. Melayani para lelaki hidung belang seperti tuanmu," paparku.

"Mungkin kamu harus belajar menerimanya dari sekarang," sahut Burhan, sinis.

"Hahaha, kamu benar sekali, Burhan."

Menerima sesuatu yang pahit dan menyakitkan. Menghabiskan hidup di dalam kubangan dosa. Apa aku sanggup bertahan?

"Apa kamu membutuhkan sesuatu? Baju mungkin atau apa?" tanya Burhan.

Aku menggeleng. "Bajuku sudah cukup banyak. Bahkan ada yang belum aku pakai."

"Masuklah, sebentar lagi badai." Burhan berjalan masuk rumah, meninggalkan asap rokok yang pupus di udara.

Sementara aku, membiarkan air hujan luruh di kepala. Menangis bersama hujan, sehingga tidak ada yang melihat air mata yang menetes.

***

Angkasa memutar video rekaman dari masa kecilnya sampai dia remaja. Mau tidak mau aku menemaninya di ruang perpustakaan yang temaram. Aku duduk di sofa, bersedekap.

"Aku merindukan masa-masa itu ...." Setelah lama diam, akhirnya Angkasa bicara.

Sebagai pendengar yang baik aku tidak menyahut. Mata ini melihat rekaman seorang anak lelaki sedang dipeluk ibunya dalam pangkuan. Tertawa sangat bahagia.

"Kedua orang tuaku bercerai dengan penuh drama." Terdengar helaan napas Angkasa yang cukup panjang. "Saling tuding selingkuh."

Aku beralih memandang wajah Angkasa, seolah ada awan hitam menaunginya. Anak korban perceraian biasanya menyimpan duka tersendiri.

"Di mana orang tuamu, Kara. Apa mereka tidak mencarimu?"

"Kedua orang tuaku meninggal sepuluh tahun yang lalu, korban tanah longsor." Kali ini aku yang menghela napas. Ingatanku kembali pada malam yang gelap, suara gemuruh, hujan badai. Aku selamat karena menginap di rumah teman. Aku mengais-ngais tanah mencari kedua orang tuaku. Meraung kencang.

"Maaf, aku tidak tahu."

Aku tersenyum masam, Angkasa meminta maaf atas ketidaktahuannya. Namun, dia tidak minta maaf atas sikapnya yang jahat. Rekaman berputar terus, sekarang terlihat Angkasa remaja bermain gitar. Lebih tepatnya dia sedang belajar gitar. Dia berada di ruangan bercat abu-abu, berdua dengan pengajarnya. Dia melambai ke arah kamera.

Angkasa mematikan rekaman. "Aku punya orang tua, tapi kesepian. Setelah berpisah, mereka menikah lagi. Mamaku tinggal di lain kota bersama keluarga barunya, aku merasa tercampakkan."

"Menyedihkan kisah hidupmu ...."

"Tidak perlu mengasihi aku."

"Aku tidak perlu merasa iba pada lelaki monster sepertimu," timpalku.

"Aku monster?"

"Ya."

Angkasa tergelak.

"Aku bisa membuatmu tertawa," ujarku. Selama tinggal bersamanya, aku jarang melihatnya tertawa. Beku seperti es.

"Kau teman yang menyenangkan," tutur Angkasa.

"Kau orang yang paling kubenci setelah Andreas dan ibunya," ungkapku, berani melawan tatapan Angkasa yang tajam.

"Oh, begitu." Angkasa mendekatkan wajahnya. "Aku akan membuatmu semakin benci padaku."

Suara ketukan pintu menyelamatkan aku dari Angkasa. "Tuan." Suara Burhan. "Ada berita penting."

Angkasa segera berdiri. Dia bergerak membuka pintu. "Ada apa?"

"Papa Anda terkena serangan jantung. Sekarang dirawat di RS Edelweis." Jawaban dari Burhan membuat Angkasa berlari ke kamar.

Aku yang berdiri di tengah pintu perpustakaan bisa melihat kekhawatiran berkelebat di wajah Angkasa. Tidak lama, Angkasa keluar kamar. Dia memakai jaket untuk menutupi kaus oblongnya yang lusuh.

"Kembalilah ke kamar Tuan, Kara," perintah Burhan sebelum melangkah pergi.

***

Sinar mentari merambat pada dinding kamar. Pagi ini cuaca cerah dan aku masih di dalam selimut. Tanpa Angkasa. Aku tidak melihatnya selama lima hari karena dari yang kudengar dari Burhan, dia ke luar negeri--mengantar papanya berobat.

"Kara!" Burhan mengetuk pintu.

Dengan langkah terseret aku membuka pintu. "Ya ...?"

"Andreas menjemputmu."

"Apa!?" Refleks aku mundur satu langkah.

"Sepertinya Tuan Angkasa akan berada di luar negeri cukup lama. Jadi, dia memutuskan ...."

"Aku mohon, Burhan. Bantu aku." Aku mengiba.

"Kamu ingin diseret paksa?"ancam Burhan.

Jantungku menderu tidak keruan. Aku sangat ketakutan. Burhan mengambilkan tas, lantas mencekal lenganku dengan kuat.

"Biarkan aku bicara dengan Angkasa lewat telepon."

"Kamu hanya perempuan rendahan, jangan berharap lebih," sahut Burhan.

"Tapi, masa sewa belum habis ...."

Burhan tidak mendengarkan, dia menyeretku sampai pintu luar. Andreas sudah menunggu. Dulu aku begitu mencintainya, sekarang aku ingin sekali menusuk paru-parunya.

"Hei, Sayang," sapanya tersenyum lebar.

Cuh.

Aku meludahinya.

"Kara!" geram Andreas, dia menarik rambutku dengan kasar. "Kamu akan menerima akibatnya."

"Aku tidak takut," desisku, menahan rasa sakit.

"Burhan, kami pergi dulu," pamit Andreas.

Di dalam mobil, aku diapit dua pengawal. Mobil meluncur meninggalkan penjara mewah menuju penjara satunya lagi. Ke luar dari mulut monster masuk ke mulut serigala. Mati-matian aku meredam rasa takut.

Sampai di rumah Andreas, dia menggelandang diriku ke kamar. Dia meluapkan kemarahannya, dua tamparan mendarat di pipi. Mendorong kuat tubuhku, hingga aku tersungkur, kepala mengenai ujung meja rias. Darah mengalir melewati alis. Aku tidak berdaya, seolah hendak masuk lubang hitam yang mengerikan.

"Andreas, cukup!" cegah Bu Zunaira.

Aku memejamkan mata, pura-pura pingsan. Berharap tidak ada lagi siksaan.

"Lebih baik kita singkirkan Kara sekarang." Satu tendangan dari Andreas mendarat di kaki.

"Kita pikirkan cara lain. Akan mencurigakan jika kedua istrimu meninggal. Apalagi kita juga melenyapkan si Rista yang ingin lapor ke pihak berwajib," kata Bu Zunaira.

"Cara apa, Ma?"

"Entahlah. Biar Mama pikirkan dulu. Pindahkan Kara di ruang bawah tanah," perintah Bu Zunaira. "Apa dia pingsan?"

"Iya," sahut Andreas.

"Semoga Kara tidak mendengar percakapan kita."

"Bungkam saja, Ma. Kita kubur di samping Rista."

"Mama bilang tidak!" seru Bu Zunaira.

Aku mendengar. Aku juga merasakan saat tubuh ini digendong Andreas, kemudian dilempar ke lantai ruang bawah tanah yang dingin--penjara baru untukku. Apakah esok hari aku masih bernapas?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED