" Tarraaa,,,pagi Ayah, ,bunda bawakan teh manis special dan roti bakar coklat bikinan Mbok Tarmi, biar hari-hari ayah jadi segar dan bugar. Silakan dinikmati!" celoteh istriku, Laswita atau panggilannya Wiwit begitu memasuki ruang kerjaku di lantai dua.
"Terima kasih Bunsay, tapi lain kali bisa nggak sebelum masuk ucapkan salam dulu, jangan langsung buka pintu"
Padahal aku sudah menempel stiker bertuliskan ucapkan salam sebelum masuk, tapi istri dan bocil-bocilku masih sering membuka pintu dan langsung menerobos masuk.
"Yaa kan bunda mau kasih surprise buat suami tercinta" lihat, dia malah ngeles.
"Yah, bunda boleh minta tambahan dana bulanan?. Soalnya uang belanja yang ayah kasih awal bulan tinggal sisa Rp. 200.000 mana bisa sampai tanggal 30" pinta istriku sambil menyandarkan kepalanya di bahuku, padahal aku sedang sibuk mengecek laporan penjualan melalui laptopku.
Mendengar permintaanya yang tidak biasa , aku bertanya "Lho Bunda, bulan-bulan lalu uang Rp. 4.000.000 kan selalu cukup. Kenapa sekarang baru tanggal 20 sudah hampir habis semuanya?" suaraku meninggi.
Bagaimana tidak bulan lalu uang belanja empat juta rupiah selalu cukup, untuk Tabungan keluarga , aku sebagai keluarga yang menanggungnya. Kuserahkan ATM kepada Wiwit agar ia dapat menggunakannya untuk keperluan rumah tangga.
Bibir Wiwit yang tipis dan pink alami itu menekuk, jujur, ia lebih seksi kalau sudah begitu.
"Ayah kan nggak tau aja kalo sekarang nilai duit hampir nggak ada. Beli barang kebutuhan pokok saja sudah nguras duit. Apalagi beli susu untuk Nizam yang baru disapih, keperluan sekolah untuk Nilam dan Sofie plus asupan gizi mereka. Aku nggak mau mereka tumbuh jadi anak yang pertumbuhannya terhambat atau stunting yah". Tandas istriku".
Hmmmh stunting? Bukan hanya sekali itu dia fasih mengucapkan kata-kata Bahasa Inggris. Ia juga pernah mengatakan branded bag, lux, please, latest fashion, work from home, healing, shopping, vacation . Darimana dia tau istilah Bahasa Inggris itu, kukira dari media social dan ibu-ibu sosialita penghuni komplek perumahan kami yang juga sering arisan bersama Wiwit. Istriku menikah ketika berusia delapan belas tahun, tepat ketika baru menerima ijazah SMAnya. Aku yang sudah berusia 27 tahun dengan mantap meminangnya setelah berpacaran selama dua tahun.
Namun dunia pacaran tentu saja berbeda jauuuhh dengan dunia rumah tangga. Awal-awal berumah tangga, Wiwit yang berasal dari keluarga sederhana nampak sekali gagap dalam mengatur keuangan keluarga. Ia boros tepatnya. Sebulan ia membeli baju tiga kali. Belum lagi ia doyan sekali makanan-makanan tersier yang lumayan menguras kocek seperti aneka buah, roti, biskuit kaleng dan es krim. Walhasil ruang makan dan kulkas kami sudah seperti toko. Tapi karena waktu itu belum ada anak maka uang bulanan yang kuberikan masih cukup.
"Ya sudah, ayah transfer Rp. 1.000.000 ya, cukup kan sampai akhir bulan?" akhirnya aku mengalah karena bagaimanapun Istriku yang lebih paham harga pasaran barang.
"Terima kasih Ayahh,,, muaah,," ia mendaratkan bibirnya di pipi kananku kemudian melangkah pergi.
Huufftt, hanya sendirian di ruangan ini, pandanganku menghadap satu titik dimana terdapat foto keluarga. Foto keluarga Bahagia yang diambil setahun lalu, wajah istriku sangat cantik dan jelita ,, yaahhh zaman sekarang gambar foto dan bahkan adegan video bisa diedit, entah dengan aplikasi atau filter. Aslinya Wiwit tampak lebih tua dari usianya yang masih 27 tahun. Mata pandanya bercerita jujur tentang perjuangannya mengorbankan waktu tidur untuk menjaga si bungsu agar tidak rewel. Pipinya yang makin chubby karena harus menampung makanan para bocil yang kerap tidak habis.
"Assalamualaikum ayah", Nilam anak keduaku yang bulan lalu merayakan ulang tahun ke 6 mengucap salam. Hehehe dia memang sudah paham soal aturan. Meski baru belajar ngaji Al-Qur'an tiga bulan. Roman romannya dia calon wanita solehah karena dari sekarang sudah hafal doa makan, ke toilet, akan tidur dan bangun tidur, paham adab dalam rumah.
" Ya sayang,, mana kak Sofie? Nilam nggak main sama teman-teman kompleks minggu ini?"
Jawaban Nilam membuatku tercenung, Kak Sofie masih nginep di rumah Eyang. Nilam mau bersepeda dengan ayah keliling perumahan. Mumpung minggu dan ayah di rumah. Boleh? Nilam udah lama nggak keluar bareng ayah. Kangen! Nilam seolah memelas. Batinku tercubit prihatin.
Bahkan aku tak tahu Sofie menginap di rumah eyangnya dari kemarin. Aku memang bukan CEO atau manager sebuah Perusahaan multinasional, tapi aku pemilik tiga toko yang menyediakan hand phone dan laptop. Tiga toko itu berada di kabupaten yang berbeda. Siapa yang bisa menyangkal eksistensi dua benda pipih ajaib yang kini telah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat luas terutama siswa, mahasiswa dan kaum professional. Tapi tentu saja aku tak bisa tinggal diam santai tanpa mengecek laporan keuangan dan arus keluar masuk barang. Sabtu minggu yang biasa dipakai bersantai pun seringkali kuhabiskan mengecek tokoku di ibukota kabupaten lain yang letaknya berjauhan.
"Paa,,, temenin Nilam,,, bete di rumah sendiri" rengeknya
"Lho, Mama kemana memangnya" tanyaku.
"Mama pergi ke pasar sama Dik Nizam. Katanya mau beli buah dan sayur"
Aku langsung menepuk jidat, kenapa ia tak meminta izin dulu padaku. Hmm, setelah ku lihat HPku ternyata ia meminta izin via whatupp aplikasi.
"Lho kok Nilam nggak mau ikut?"
"Nggak mau ah Pa, habis mama suka nggak boleh kalo beli jajanan pasar. Katanya nggak sehat. Cepet basi" mata bundar itu sendu menatapku.
"Okay okay,, jangan sedih anak Papa yang cantik, yuk kita tamasya keliling kompleks" kataku menjawil pipi chubbynya.
Aku menutup laptopku meski sebenarnya pekerjaanku belum selesai. Biarlah demi buah hati.. lain kali saja kukerjakan.
Kukeluarkan sepeda sport yang nyaris berdebu dari dalam Gudang, begitupun Nilam yang mulai menaiki sepeda mini imut warna pink dengan keranjang di depannya. Kubiarkan Nilam mendahului dengan sepedanya melesat melalui rumah-rumah gedong yang berada di sekitar kompleks perumahan grand mulia Mandiri. Wow ternyata banyak rumah-rumah baru berdiri di lingkungan belakang tempat tinggalku, semoga saja nantinya rumah-rumah itu ada yang menempati tidak dibiarkan kosong tanpa penghuni karena pemiliknya hanya menjadikan rumahnya asset masa depan.
Meski baru enam tahun ternyata Nilam sangat gesit membawa sepeda mininya ,, huuft aku saja dibuat ngos-ngosan. Ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, di sebuah persimpangan putriku melihat penjual mainan plastik sedang menjajakan barangnya bukan hanya itu Elan dan Fitria, anak kompleks sebaya Nilam juga tengah memilih-milih mainan untuk dibeli. " wah, gawat ini roman-romannya Nilam ingin beli mainan baru batinku.
Mereka serempak menyapa putriku ketika dilihatnya Nilam menghentikan sepeda dan ikut memilih-milih mainan. Waduhhh kacau mana aku tak membawa dompet lagi,, harusnya tadi sudah kularang ia mampir membeli mainan.
Hanya saja melihat wajah penjualnya yang sudah berusia lanjut dan terlihat jelas ia kehausan dan letih karena berjalan jauh, aku menjadi iba. Kuraba saku celanaku dan huupppp selembar uang nominal seratus ribu rupiah masih tersisa disana.. alhamdulilah selamat ucapku girang. Cukuplah membeli dua jenis mainan. Andai tak ada uang, aku akan memutar balik kerumah dan mengambil uang dulu di dompet.
" Ayah,,, Nilam mau beli mainan-mainan ini semua boleh?" Nilam menunjukkan tiga varian mainan dari lego, alat-alat masak plastic dan permainan dokter-dokteran.
Langsung saja aku geleng-geleng kepala, "Nggak nak ,,nilam pilih salah satu saja ya, bukannya sudah ada mainan lego di rumah, alat masak juga udah punya,,, permainan dokter-dokteran mahal" memcoba bernegosiasi agar Nilam memilih salah satu mainan saja.
"Nggak mauuuu ayah,,, mainan lego banyak baloknya banyak hilang, suka dipake maen sama Mbak Sofie dan temen-temennya"
"Trus, bukannya mainan masak-masakannya Nilam masih ada ya? Aku masih berupaya membujuk
"'ya,,, ayah. Mainan masak -masak Nilam udah banyak rusak" Putriku cemberut, duh gemesnya!
Akhirnya aku memintanya untuk membeli mainan dokter-dokteran yang kata penjualnya harganya enam puluh ribu rupiah. Saat aku menawar seharga lima puluh ribu rupiah, penjualnya menolak dengan alasan ia rugi banyak jika menjual dengan harga rendah. Akhirnya kuangsurkan juga selembar nominal senilai seratus ribu pada penjual mainan. Lagi-lagi aku harus tersenyum kecut ketika tak ada uang kembalian untukku dengan alasan masih pagi dan ia baru dapat pembeli pertama.
Karena ingin segera pulang dan juga alasan kemanusiaan, kuberi semua uang serratus ribuan padanya. Masya Allah, ucapan terima kasih tulus dan do'a terlafazkan dari lisannya.
Setelah berpamitan pada kedua temannya, sebelum Nilam melihat boneka barbie kw yang berambut lurus pirang diantara mainan robot, kuajak Putriku buru-buru pergi meninggalkan lapak dadakan. Hari sudah menjelang siang , siapa tahu Istriku sudah tiba di rumah.
"Assalamualaikum,,, kami puuulaaang' serempak aku dan Nilam mengucap salam begitu memasuki rumah.
"Walaikumussalam,,, " jawab istriku dari ruang makan.
Begitu sampai di ruang makan,,, baaa aku terkejut melihat aneka biscuit, permen, satu kotak air gelas, tiga botol sirup rasa cocopandan dan buah rambutan yang kutaksir lebih dua kilo . wah kenapa pula di akhir bulan ia belanja Borongan seperti ini ya?
"Bunda, buat apa beli makanan sebanyak ini. Emang mau ada kenduri di rumah, Bukannya Nizam sudah kenduri aqiqah ya?tanyaku heran.
"NNggggg ,, ayahhh ,,sebenarnya ini semua untuk konsumsi arisan besok tanggal 21 yang jatuhnya giliran dirumah kita" jawab Istriku.
"Aaappa, bukannya Bunda sudah arisan setiap hari minggu pertama tiap bulan, kenapa sekarang ada arisan lagi?" pantas aku terkejut dengan acara arisan yang tiba-tiba ini.
Istriku menjelaskan bahwa arisan tiap hari minggu pertama tiap bulan adalah arisan dengan ibu-ibu sosialita di kompleks perumahan kami, setiap tanggal 21 itu arisan keluarga besarnya dan tiap Jumat minggu ketiga akan ada arisan bagi ibu-ibu wali kelas anak sulung kami.
Dalam hati sebenarnya aku geram mendengar Wiwit seenak-enaknya menghamburkan uang yang susah payah kudapatkan hanya untuk arisan-arisan yang seringkali jadi ajang pamer dan bergosip ibu-ibu. Apa tadi dia bilang, besok acara arisan keluarga besarnya? Wuah aku sudah membayangkan adik-adik dan sepupunya datang dengan rombongan dari kampung lengkap dengan anak-anak dan suami mereka. Fix rumahku akan berubah jadi rumah makan gratis besok!.
"Tapi bunda, bisa nggak kalo tidak perlu banyak-banyak ikut arisan. Kalau arisan diadakan di rumah begini kan bunda dan Mbok Tarmi juga yang repot harus nyiapin konsumsi, beres-beres rumah"
"Aduuhhh ayahhh, bunda cuman ikut tiga aisan doang.,, lagian dulu pas arisan ibu-ibu kompleks memang giliran rumah kita yang dapat jatah tempat, naahhh kalo yang besok keluarga besarku mau supaya rumah kita yang dijadikan lokasi arisan seterusnya biar mereka punya kesempatan jalan-jalan ke kota tiap bulan. Trus arisan wali kelas Sofie juga bakal ada giliran jatah lokasi" istriku menjelaskan.
"What?",,, aku melongo tiap bulan akan ada arisan di rumahku,,,alaaamaak wah,, wah alamat harus mengeluarkan budget lebih kalau begini.
Perdebatan kami berakhir ketika anakku Nilam memanggil Bundanya meminta nasi dan lauk untuk makan siang. Istriku meminta maaf padanya dan berkata bahwa belum ada nasi dan lauk karena pagi-pagi sudah belanja ke pasar mencari makanan untuk konsumsi arisan besok.
Tentu saja Nilam murung. Raut wajah kecewanya tak mampu disembunyikan. Dengan Langkah gontai ia mengembalikan lagi piring dan sendok yang tadi diambilnya ke rak . Heeeeuuuh Minggu yang riweh. "Ayah, minta tolong ya belikan soto ayam di depan sekolah Sofie , disana sotonya gurih. Bunda mau gendong Nizam dulu" kata istriku sambil menenangkan anak bungsu kami yang rewel setelah bangun tidur.
"Bunda nanti malem ada yang mau ayah bicarakan" kataku ketika Wiwit belum terlalu jauh. Hmm ternyata Nasib belum mengizinkanku bersantai di hari Minggu ini. Setelah bersepeda keliling kompleks, sekarang aku harus mencari soto ayam untuk menu makan siang. Hadehhhh Wiwit,,, wiwit kenapa dia nggak beli saja sekalian dari pasar?? Apa dia hanya ingat konsumsi untuk keluarganya saja, tapi mengabaikan kebutuhan kami. Aku bergumam lirih.
Begitu sampai di depan kedai soto, aku termangu melihat pintu dan jendela yang tertutup rapat. Seorang pemuda yang duduk-duduk di teras kedai menyapaku.
"Mau nyari soto pak? Wah kalo minggu dan libur nasional tutup soalnya ngikutin jadwal sekolah dkantor"
Waduh, itu berarti aku harus mencari menu lain untuk menu makan siang kami. Setelah mengucapkan terima kasih Aku pergi mencari nasi goreng di rumah makan yang menjadi langganan staff toko laptopku meskiharus menempuh jarak l umayan jauh dari rumah.
Akhirnya huuffttt alhamdulilah , buka juga. Aku pun memesan tiga bungkus nasi goreng untuk dibawa pulang. Istriku suka nasi goreng seafood, aku nasi goreng special komplit dan Nilam nasi goreng pattaya. Hmm semoga saja setelah makan siang nanti aku bisa beristirahat dengan tenang agar tubuh fit karena besok harus mengunjungi toko laptop cabang ketiga di kabupaten Telogorejo.
Eh tapi tunggu,, tunggu,, bukannya besok akan ada arisan keluarga istriku. Wah mau tak mau aku harus menunda rencanaku karena sebagai tuan rumah harus mendampingi istriku dan agar nanti mengurangi beban istriku kalau -kalau terjadi internal chaos yang diakibatkan pertengkaran para bocil.
Sambil menatap lekat Mbak cantik penjual nasi goreng yang dengan lincah meracik bumbu dan mengaduk nasi goreng, aku mengkhayal andai istriku piawai memasak. Namun Impian hanya harapan kosong, selama sepuluh tahun pernikahan kami. Ia lebih banyak menyerahkan urusan dapur pada mbok Tarmi pembantu rumah tangga kami. Sementara Wiwit lebih banyak mengasuh anak, dan beres-beres rumah.
Oh ya, sekarang kebiasaanya arisan sana-sini. Hari ini dia ke pasar karena kalau Minggu Mbok Tarmi libur. Menu yang sering dikerap Wiwit hanya masakan sederhana seperti sup, oseng-oseng dan sayur bening. Hmm boro-boro mendirikan bisnis kuliner.
Drttt... drrrttt nada pengingat pesan whatupp ku bergetar. Ternyata dari Wiwit.
[Ayah , kok lama banget padahal beli sotonya dekat saja kan? Nilam dan aku udah laper banget nih]
[Warung sotonya tutup, aku beli nasi goreng di dekat toko laptop. Kamu sabar dulu ya ]
[ Ya sudah , buruan!]
Bah menyebalkan, asal main perintah doang. ia pikir menyajikan tiga porsi nasi goreng hanya satu menit saja.
Kejutan lain menungguku di rumah, Sofie , Putri sulung kami sudah tiba di rumah, diantar oleh Pak Bas, sopir keluargaku. Tumben dia pulang siang-siang biasanya sore. Aku geleng-geleng kepala dan mengalah. Memberikan jatah nasi gorengku pada Sofie setelah ia merajuk dan cemberut. Aku berinisiatif membuat mie goreng instan dan membiarkan keluarga kecilku menikmati nasi goreng yang dengan susah payah kubeli tadi.
Untung pak Bas langsung kembali ke rumah orang tuaku, jadi aku tak perlu menyajikan menu mie instan untuknya. Tidak etis.
"Bunda , kenapa nggak kasih tau ayah kalo Sofie sudah pulang sih? " snentakku. Aku sudah Lelah dengan riwehnya hari ini.
" Ayah bagaimana sih , bunda juga udah kirim pesan ke ayah tapi ayah belum baca" jawab Wiiwit balas nyolot.
Begitu kulihat gawaiku,,, lhaa pantas. Dia mengirim pesan ketika aku on the way home alias dalam perjalanan pulang sehingga luput dari perhatian.
Sore yang kuharapkan akan santai tapi ternyata istriku memintaku menggendong si Bungsu Nizam yang sedang aktif-aktifnya berceloteh mengenal kata-kata yang di kenalnya.
"Yahh,,, yahhh,,, tuu..tuu cing,,,cing" katanya sambil menunjuk Sissy,kucing kampung kesayangan Sofie yang sedang bermain di halaman rumah.
Hanya sebentar tenang, tapi kemudian ia menjerit-jerit ketakutan melihat Sissy yang menggeram -geram dan mendesis keras karena berhadapan dengan kucing liar.
Mendengar tangisan Nizam, istriku tergopoh-gopoh menghampiri kami dan mengambil Nizam, "Yah, ayah baru sebentar ngasuh anak, kok malah udah nangis sih. Bunda lagi sibuk bikin the anget juga" gerutunya
"Makanya lain kali lebih sering sempatkan waktu main sama anak biar terbiasa liat tampang ayahnya...." Dugh omelan Panjang lebar istriku benar-benar memukul batinku yang memang jarang mengasuh si bungsu.
"Bun, ayah mau nanya yang tadi siang ya soal arisan-arisan yang bunda ikutin" aku mencoba mengorek berapa budget yang istriku keluarkan hanya untuk kegiatan yang amat dinikmati oleh para wanita.
"Kenapa lagi sih yah,,,,tadi kan bunda udah kasih tau kalau hanya tiga arisan yang bunda ikuti. Masa bunda harus ngurus anak dan rumah terus. Bunda juga mau dong bergaul dengan orang luar biar ap tu det dan nggak terkucil karena sendiri nggak mau ikut kumpul-kumpul" Kentara sekali wiwit jengah.
Mencoba sabar aku merangkul dan menenangkan istriku yang duduk di sisi ranjang bisa gawat kalau dia ngambek.
"Gini bun, bukannya ayah melarang.. tapi wajar kan sebagai suami, ayah juga ingin tahu kegiatan bunda dengan circle pergaulan di luar. Itu tandanya ayah peduli dan masih sayang rayuku"
Begitu senyum Wiwit terbit lagi. Aku pun menanyakan berapa urunan dana yang dipakai di tiap-tiap arisan. Mataku terbelalak mendengar penuturan Wiwit bahwa ia mengeluarkan dana sejuta untuk arisan dengan ibu-ibu kompleks perumahan, serta masing-masing dua ratus ribu untuk arisan antar wali kelas dan arisan keluarga. Ternyata sejuta empat ratus uang melayang karena arisan. Arisan ibu -ibu kompleks memang mahal karena hampir semua wanita di sekitar rumah berprofesi sebagai pengusaha, anggota legislative dan content creator dengan ratusan ribu atau jutaan follower.
"Trus Bun, besok kan ada arisan keluarga. Berapa orang yang mau kesini dan jam berapa mulainya"?
"Rencana besok yang dateng 30 orang dan datengnya jam 11 setelah itu makan siang dan setelah makan siang kami mulai arisan. Tapi Bunda pesen porsi menu lebih untuk jaga-jaga"
Bah jam sebelas, itukan jam kerja ya? Tapi aku tidak heran keluarga besar istriku dikampung memang tak ada yang bekerja di sektor formal dengan jam kerja yang tertata. Mereka bekerja sebagai petani, peternak ayam dan pemilik toko kelontong yang tentu saja mereka lebih fleksibel mengatur waktu. Apa katanya tadi porsi menu lebih??
"Tapi masalah konsumsinya bagaimana bun, beres?"
Wiwit menjawab bahwa ia sudah memesan lima puluh porsi bakso komplit pada pak Mardi penjual bakso langganan kami supaya praktis, risoles, biscuit, serta kue lumpur untuk konsumsi sedangkan hidangan pencuci mulut dari sirup dan rambutan yang ia beli tadi pagi.
Bakso saja harus pesen, kenapa nggak bikin sendiri saja sih. begini nih punya istri nggak doyan masak. Nggak mau repot gerutuku dalam hati. Akhirnya setelah drama satu hari full aku tidur meski dengan pikiran letih setengah mati.
"Ayah,, ayah nanti mau pergi ke toko laptop nggak?' tanya wiwit begitu melihatku rapi berpakaian batik formal.
Belum lagi aku menjawab, ia sudah memintaku mengambil risoles dan kue lumpur di rumah bu Siti karena searah dengan tempat kerjaku. Hufft,, kuiyakan perintahnya agar masalah tak jadi panjang. Biasanya kalau kutolak ia akan beralasan capek dan menyebut semua tugasnya dari mengasuh anak, menemani Sofie dan Nilam belajar, beres-beres rumah, dan mengatakan aku suami tak peka.
Sesampai di toko, aku memasuki ruangan khusus yang tiap hari menjadi saksi bisu aku mengelola toko laptop dan hand phone yang kuberi nama" techno sejahtera "hingga menjadi besar dan memiliki dua cabang selain toko utama.
Kamal , wakilku masuk setelah lebih dulu mengetuk pintu.
" Boss, jadi nggak kamu hari ini ngecek cabang yang di telogo rejo. Udah lama lho kamu nggak kesana. Bayangin sebulan. Nanti kalo nggak diawasin bisa seenaknya saja mereka kerja" Kamal mengingatkan tugasku.
"Tadinya aku berniat ke telogorejo Mal, tapi hari ini ada arisan keluarga istriku di rumah. Jadinya aku juga harus hadir juga sebagai tuan rumah"
" please bro, yang arisan kan istrimu,,, ayolah bujuk dia supaya menghandle acaranya sendiri hari ini. Ini menyangkut bisnis dan janji kita bro... bukannya kamu udah janji ke Soni untuk datang hari ini. Mereka pasti udah nyiapin meeting dengan bossnya hari ini" Kamal menyentak kesadaranku bahwa janji harus ditunaikan.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang aku memutuskan untuk mengunjungi cabang ketiga, untuk itu aku minta izin pada Kamal untuk mengantarkan pesanan risol dan kue lumpur istriku ke rumah setelah itu baru meluncur ke kabupaten Telogorejo.
" Ayah,, yang benar saja masa nggak mau hadir di arisan perdana ini. Kan ini pertemuan keluarga. Nggak enak kalo cuman aku doang yang keliatan" wajah Wiwit Nampak memelas dan berair.