"Ran, antar ke meja nomor delapan."
Rania meraih nampan berisi makanan yang dipesan pelanggan di meja nomor delapan. Ia segera mengantarkan nampan tersebut pada meja yang ada di samping dinding.
"Selamat menikmati," ucap Rania sembari tersenyum ramah pada pelanggan. Lalu membawa kembali nampan kosong menuju dapur restoran.
Rania Pramadita, seorang wanita yang saat ini menginjak usia 24 tahun. Dirinya sudah bekerja di restoran tersebut selama dua tahun. Rania terpaksa berhenti kuliah dan merantau ke Jakarta untuk bekerja sejak empat tahun yang lalu karena ibunya meninggal.
Rania merupakan anak tunggal dari sepasang keluarga sederhana yang tinggal di sebuah kampung kecil di Jawa Tengah. Sedangkan ayahnya meninggal sejak ia menginjak sekolah menengah atas di tahun pertama.
Usai meletakkan nampan di dapur, Rania pergi ke arah lain karena mendapatkan sebuah telepon. Keningnya mengernyit melihat nama kontak David yang tertera pada layar. Ia merasa bingung karena David tidak pernah menelpon di saat jam kerja.
"Ini masih jam empat. Tumben banget dia udah nelpon," gumam Rania lalu berdehem sebelum menempelkan ponselnya ke arah telinga.
"Halo," sapa Rania.
"Selamat sore." Rania tertegun mendengar suara wanita yang menyahut sapaannya. "Apakah Anda mengenal saudara David Bimantara?"
"Ya," jawab Rania ragu. "Ada apa yah? Ini siapa?" tanyanya penasaran.
"Kami dari Rumah sakit Umum Dr. Hermawan ingin menginformasikan bahwa pasien atas nama David Bimantara tengah dirawat di rumah sakit kami. Pasien menjadi korban kecelakaan dan kondisinya sedang kritis. Kami membutuhkan informasi mengenai pasien dan walinya untuk penanganan lebih lanjut."
"Astaga." Rania menutup mulutnya sedang kedua matanya berkaca-kaca. Kakinya menjadi lemas dalam sekejap membuatnya hampir terjatuh. "A-apa belum ada keluarga … yang datang?" tanya Rania terbata-bata. Bibirnya bergetar ketika air matanya tidak sanggup dibendung lebih lama.
"Kami sudah mencoba menghubungi kontak keluarga pasien dan belum ada jawaban. Mohon untuk segera menginformasikannya pada keluarga pasien karena kondisi pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut."
Suara penelepon begitu lancar memberikan informasi tetapi tidak bisa didengar jelas oleh Rania. Wanita itu hanya dapat menahan tangisnya sembari tidak berhenti membayangkan kondisi sang kekasih.
Perlahan tangan Rania menjauhkan ponsel dari telinga. Ia bergegas pergi ke ruangan manager yang letaknya tak jauh dari dapur. Rania tampak gugup saat hendak mengetuk pintu. Pasalnya manager di cabang restoran itu cukup sulit untuk diajak bicara jika ingin meminta izin.
Usai mengetuk daun pintu, Rania membukanya perlahan membuat perhatian sang manager langsung tertuju padanya.
"Permisi, Pak," ucap Rania. Suaranya sedikit bergetar karena menahan rasa cemas yang membelenggu.
"Ada apa, Rania?" tanya manajer tersebut.
Rania melangkah masuk, lalu menutup pintu. Kakinya bergerak menuju meja sang manajer. Rania berhenti tepat di depan meja tersebut.
"Maaf Pak, saya … ingin minta izin." Rania menundukkan kepalanya. Jujur saja ia tidak berani jika harus bertatapan dengan manajernya yang sudah dikenal cukup galak.
"Izin untuk apa? Ini sudah sore. Dua jam lagi sudah waktunya kau pulang." Manajer itu langsung memalingkan muka seolah enggan mendengarkan alasan dari Rania.
"Tapi, Pak," Rania meremas jari-jari tangannya yang sudah basah karena keringat dingin. "Pak, saya mohon diberikan izin. Tunangan saya sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. Keluarganya belum ada yang datang. Keadaan tunangan saya sangat kritis dan butuh—"
"Rania," tegas sang manajer lalu menatap tajam pada Rania membuat wanita itu semakin beringsut. "Aku sudah pernah mengatakan padamu dan karyawan yang lain. Aku tidak ingin mendengar alasan pribadi apapun kecuali jika musibah orang tua meninggal dunia. Apalagi ini, tunanganmu! Heh! Dengar ya," manajer itu mengarahkan pulpen yang ada di tangannya pada Rania. "Tunanganmu masih memiliki keluarga lengkap bukan? Kenapa tidak keluarganya saja yang datang ke rumah sakit? Kamu disini kerja, bukan main!" Lalu kembali memalingkan muka. "Sudah sana pergi. Balik kerja lagi," perintahnya seraya mengusir Rania.
Rania menggigit bibirnya. Air matanya sudah berada di ujung seolah siap menetes saat itu juga. Dirinya pergi tanpa mengatakan apapun pada manajer itu.
Ketika sudah berada di luar ruangan manajer, Rania berusaha menghubungi nomor telepon keluarga David. Dua kali panggilan ke nomor telepon ibu David dan tidak ada jawaban. Rania menghubungi adiknya David hingga tiga kali dan tetap tidak ada jawaban.
"Ya Tuhan. Kenapa mereka tidak menjawab teleponku?" gumam Rania lalu mengusap air matanya yang mulai menetes.
"Rania!"
Rania menyembunyikan ponsel di balik punggung. Tubuhnya terlonjak saat melihat Bertrand—sang manajer yang keluar dari ruangannya. Bertrand menghampiri Rania dengan raut muka seramnya.
"Kenapa kamu masih ada di sini?! Apa kamu tuli? Aku menyuruhmu balik kerja bukan main handphone!" gertak Bertrand membuat beberapa karyawan mendengarnya.
"Maaf, Pak," cicit Rania dengan kepala tertunduk.
"Balik kerja sekarang!" perintahnya membuat Rania pergi dari tempatnya dengan tatapan ke bawah.
Rania memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dirinya diam sejenak saat berada di dapur untuk menetralkan perasaan yang sedang berkecamuk di hatinya. Ia juga berusaha mengusir pikiran-pikiran buruk yang muncul di kepala.
"Ran, kamu kenapa?" tanya Gea, salah satu teman di tempat kerjanya.
Rania hanya menoleh dan berusaha untuk tersenyum. "Nggak papa," jawabnya lalu pergi ke arah meja dapur untuk kembali membawakan makanan-makanan yang dipesan oleh pelanggan.
***
Rania berlari memasuki gedung rumah sakit usai turun dari ojek online. Air matanya kembali mengalir membuat pandangannya kunang-kunang. Rania segera pergi ke ruangan yang sebelumnya dikirimkan oleh Selvi, adiknya David.
"Ibu," panggil Rania saat memasuki ruangan rawat inap ketika melihat Bu Dewi, calon mertuanya.
"Rania," panggil Bu Dewi dan langsung memeluknya.
Rania tidak bisa lagi menahan tangis. Ia membalas pelukan Bu Dewi sembari sesenggukan. Bu Dewi pun ikut menangis mengingat kondisi putra sulungnya yang masih kritis.
"Gimana keadaan David, Bu?" tanya Rania ketika pelukan mereka terlepas.
Rania menatap David yang terbaring tak berdaya dengan banyak alat rumah sakit yang menempel di tubuhnya.
"Kata dokter keadaan David kritis, Ran. Dia harus segera di operasi. Limpanya pecah karena benturan keras saat kecelakaan. Tapi," Bu Dewi tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Terus kenapa nggak langsung dioperasi, Bu?" tanya Rania melihat wajah David yang semakin pucat.
"Bapak sedang berusaha mencari pinjaman untuk biaya operasi. Usaha Bapak sedang bangkrut, Ran. Kami gak punya tabungan."
"Memangnya … berapa biayanya, Bu?" tanya Rania ragu.
"Dokter menyuruh kami untuk menyiapkan biaya operasi sebesar seratus lima puluh juta, Ran," lirih Bu Dewi disusul tangisnya mengingat sangat sulit mendapatkan uang sebesar itu karena hutangnya pun sudah banyak untuk biaya membayar gaji karyawan.
Rania tercengang mendengar nominal yang sangat besar. Kakinya lemas membuat Bu Dewi memegang kedua tangannya.
"Ran, kamu kenapa?" tanya Bu Dewi cemas.
"Terus … gimana Bu? Bapak sudah ada kabar?" tanya Rania tanpa menjawab pertanyaan Bu Dewi.
Gelengan kepala Bu Dewi membuat Rania semakin tidak karuan. Dirinya merasa bingung sekaligus cemas. Kemana ia akan mendapatkan uang sebesar itu dalam waktu cepat?
Langit semakin gelap. Malam ini mendung sehingga tidak terlihat satupun bintang. Bahkan awan hitam tampak menghalangi sinar bulan.
Rania duduk melamun di salah satu kursi besi yang ada di lorong rumah sakit. Samar-samar ia mendengar suara kedua calon mertuanya yang sedang berunding untuk menjual rumah demi mendapatkan uang.
Rania mengambil ponsel di dalam tas selempang miliknya. Ia diam sejenak menatap benda itu sebelum akhirnya mengetik sebuah kalimat di status pesan online. Dirinya tidak berharap banyak akan ada orang yang membantu, tetapi setidaknya ia bisa memberikan sedikit bantuan untuk pengobatan David.
Belum ada satu menit Rania mengetik pesan itu, ia mendapatkan sebuah telepon dari salah satu teman. Rania tampak ragu untuk menjawab panggilan tersebut karena ia sangat tahu siapa orang itu. Tetapi kepalanya berpikir lain, mungkin saja temannya tersebut hendak meminjamkan uang.
"Halo," sapa Rania saat menerima panggilan tersebut.
"Kamu lagi butuh uang?" tanya wanita itu to the point membuat Rania hanya bergumam menjawabnya. "Aku bisa ngasih uang dalam waktu cepat."
"Kamu mau meminjamkan uang untukku?" tanya Rania. Keningnya berkerut mendengar ucapan temannya itu.
"Kamu dimana sekarang? Kita ketemu saja biar gampang."
"Aku lagi di rumah sakit," jawab Rania.
"Share aja lokasinya. Nanti aku jemput kamu di depan rumah sakit," ucap wanita itu dan langsung memutuskan sambungan telepon.
"Halo!" Rania sedikit berteriak. Ia kesal karena temannya itu memutuskan sambungan telepon begitu saja.
Rania menggigit bibirnya merasa gelisah ketika temannya itu memaksa untuk dirinya mengirimkan lokasi rumah sakit tempatnya berada. Namun Rania mengabaikan pesan itu. Ia mengalihkan perhatiannya dari benda yang terus bergetar ketika ada pesan masuk.
Kyle atau nama aslinya Ayu, adalah salah satu teman sekolahnya di SMA dulu. Dirinya dan Kyle bertemu di restoran tempatnya bekerja sekitar tiga bulan yang lalu. Saat itu Kyle meminta nomor teleponnya dengan alasan ingin saling memberi kabar karena teman satu desa.
Ayu mengganti namanya menjadi Kyle sejak dirinya terjun ke dunia gelap yang tidak ingin Rania dekati. Awalnya Rania tidak tahu apa pekerjaan Kyle hingga membuatnya memiliki banyak barang-barang mahal. Hingga akhirnya Rania tahu kalau temannya itu adalah seorang mucikari sekaligus seorang barista di salah satu klub di Jakarta.
"Rania."
Lamunan Rania teralihkan ketika mendengar suara Bu Dewi memanggil. Rania mencoba tersenyum saat Bu Dewi duduk di sampingnya.
"Ibu mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Bu Dewi sungkan.
"Kenapa, Bu?" tanya Rania menatap lekat calon mertuanya tersebut.
"Pernikahanmu dengan David, Ibu sama Bapak berencana untuk menundanya dulu, Ran. Kamu kan tahu kondisi ekonomi kami yang sedang memburuk. Kami akan menjual rumah untuk biaya pengobatan David. Dan uang tabungan untuk pernikahan kalian pun, Ibu minta maaf banget harus Ibu gunakan buat tambahan biaya pengobatan David. Kamu … nggak papa kan?" tanya Bu Dewi.
Rania tersenyum lalu mengangguk. "Nggak papa Bu. Lagipula ini untuk David juga. Biaya pernikahan kami, nanti biar kami menabung lagi. Yang penting keadaan David membaik dan cepat sehat, Bu."
"Iya, Ran … Ibu juga berharap David cepat pulih," timpal Bu Dewi.
"Memangnya," Rania diam sejenak memberikan jeda pada ucapannya. "Kalau Bapak dan Ibu menjual rumah, nanti kalian tinggal dimana?"
"Kami bisa tinggal di kontrakan."
Kepala Rania tertunduk. Hatinya semakin bergejolak. Mengapa dirinya tidak bisa membantu?
"Bu, aku pamit dulu ya. Mau ada urusan." Tiba-tiba Rania bangkit berdiri. "Ibu, jangan jual rumah dulu. Aku mau coba tanyain teman, siapa tahu mereka bisa bantu."
"Tapi, Ran—"
"Tadi ada temanku yang bilang katanya dia bisa meminjamkan uang. Ibu jangan jual rumah ya. Kasihan Delia sama Gisel nanti," pinta Rania.
Delia dan Gisel, dua adik kembar David masih berusia enam tahun. Rania tidak bisa membayangkan jika keluarga David harus tinggal di kontrakan. Dirinya juga tidak ingin Selvi sampai putus kuliah sepertinya dulu.
Rania meraih tangan Bu Dewi untuk bersalaman. Tidak lupa ia mencium punggung tangan calon mertua yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.
"Aku pergi dulu ya, Bu," pamit Rania.
"Hati-hati ya, Ran."
"Iya, Bu," jawabnya lalu melenggang pergi.
***
Usai mengirimkan lokasi terkininya pada Kyle, Rania memilih menunggu temannya tersebut di seberang jalan. Ia tidak ingin keluarga David melihatnya. Rania hanya cemas kalau-kalau Kyle akan datang bersama om-om simpanannya seperti yang biasa dilakukan setiap kali pergi ke restoran tempat Rania bekerja.
Rania menarik napas dalam-dalam. Jantungnya semakin berdebar-debar setiap detik. Ada rasa cemas sekaligus ragu untuk bertemu dengan Kyle meskipun niatnya hanyalah untuk meminjam uang.
Setelah hampir sepuluh menit berdiri di tepi jalan, Rania tertegun melihat sebuah mobil berwarna putih berhenti di hadapannya. Pandangannya tertuju pada kaca jendela mobil yang terbuka perlahan.
"Ayo masuk."
Rania menatap ragu ke arah mobil serta sekeliling. Ia menelan saliva sebelum akhirnya menarik pintu mobil. Rania masuk ke dalam dan duduk di jok depan, tepat di samping Kyle yang ada di jok pengemudi.
"Sudah nunggu lama?" Kyle membuka obrolan saat mulai melajukan mobil.
"Nggak," jawab Rania gelisah. Sesekali matanya melirik ke arah Kyle.
"Kamu itu kalau butuh uang tinggal hubungi aku saja. Nggak perlu bikin status kaya gitu. Mending hapus saja statusmu," ucap Kyle dengan mulut mengunyah permen karet.
Rania tidak menjawab. Tetapi ia menuruti ucapan Kyle untuk menghapus pesan status di ponselnya.
"Memangnya kamu butuh uang berapa?"
"Dua … ratus juta," gumam Rania. Setidaknya uang sebesar itu sudah termasuk biaya pengobatan David. Sehingga dirinya dan kedua orangtua David tidak perlu mencari banyak uang untuk sisa kekurangannya nanti.
"Oh."
Rania menoleh ke arah Kyle ketika wanita itu memberikan respon yang sangat enteng. Seolah menganggap mencari yang sebesar itu adalah hal yang sangat mudah. Padahal jika harus bekerja di restoran, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.
"Jadi, kamu bisa pinjamkan uang sebesar itu padaku?" tanya Rania penuh harap.
Namun Kyle justru tertawa. Sontak Rania pun tertegun karena tidak tahu alasan dibalik tawa temannya tersebut.
"Memangnya apa jaminanmu meminjam uang sebanyak itu, Ran? Hmm?" Kyle menaikkan kedua alis saat menatap Rania membuat pandangan Rania tertunduk.
"Kalau kamu mau pinjam uang, aku nggak bisa memberimu uang sebanyak itu. Aku memang punya uang banyak, tapi apa jaminannya? Kalau mau pinjam uang, aku bisa memberikan sekitar lima sampai sepuluh juta, nggak lebih."
Tidak ada respon dari Rania. Hatinya merasa kecewa mendengar jawaban Kyle. Temannya itu seolah memberikan harapan tetapi menghempaskannya jauh dari harapan itu.
"Kamu masih perawan kan?"
Tiba-tiba pertanyaan Kyle menggertak hati Rania. Apa maksudnya bertanya masalah itu? Keningnya mengernyit menatap Kyle.
"Aku bisa memberikan uang sebanyak itu. Tapi caranya kamu harus jual keperawananmu. Kali ini aku mendapatkan klien yang menginginkan seorang wanita yang masih perawan."
"Aku bukan seorang pelacur sepertimu, Yu!" sentak Rania. Matanya sudah memerah. Dirinya tidak menyangka temannya tersebut sangat tega memberikan jalan keluar yang menghancurkan harga dirinya.
Rania memaksa Ayu atau biasa dipanggil Kyle untuk menghentikan mobilnya. Rania turun dari dalam mobil. Ia bahkan membanting pintu saat menutupnya.
Ketika Rania baru melangkah hendak berjalan di tepi jalan, Kyle justru melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan dirinya. Kedua kaki Rania berhenti berjalan. Ia berjongkok lalu menelungkupkan kepalanya.
Tangis yang samar-samar terdengar menarik perhatian orang yang berjalan melewati Rania. Bahkan ada wanita paruh baya yang menegur dan bertanya mengapa Rania menangis. Tetapi Rania tidak menjawab membuat wanita itu pun pergi meninggalkannya.
Rania tidak bertahan lama di posisi itu. Ia segera bangkit dan menghentikan tangisnya karena tidak ingin semakin menjadi pusat perhatian. Ketika baru berjalan lima menit menuju halte busway, Rania tertegun mendapatkan sebuah telepon.
"Halo, Bu," sapa Rania ketika langsung menerima panggilan tersebut.
"Ran, kamu dimana? Gimana teman kamu? Kondisi David tambah kritis dan dokter menyuruh untuk segera melakukan operasi." Suara Bu Dewi terdengar sesenggukan seperti sedang menangis.
Rania terpaku. Kepalanya seperti hampir pecah mendengar penuturan Bu Dewi. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Se-sebentar ya, Bu. Aku masih nunggu teman aku." Rania tergagap.
"Cepat ya, Ran. Kalau nggak ada langsung kabarin ya biar Ibu kasih tahu Bapak buat deal-in jual rumahnya," pinta Bu Dewi.
"I-iya, Bu," jawab Rania lemas.
Airmata Rania kembali menetes saat menjauhkan ponsel dari telinganya. Hatinya bergejolak. Pikirannya kalang kabut. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa.
Satu sisi Rania tidak ingin calon ibu mertuanya menjual rumah demi pengobatan David, tapi sisi lain dirinya tidak memiliki jalan keluar selain dari Kyle.
Rania mengusap airmatanya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk membuatnya sedikit tenang. Menangis tidak akan membuatnya memiliki uang dua ratus juga dalam sekejap. Ia harus melakukan sesuatu.
Perhatian Rania mulai tertuju ke arah ponsel. Ia mencoba menghubungi Gea dan teman-temannya yang lain untuk meminta bantuan. Siapa tahu jika dirinya mengumpulkan masing-masing satu orang sepuluh juta, uangnya dapat terkumpul. Dan Rania akan memikirkan bagaimana caranya membayar hutangnya nanti.
Namun sepertinya keberuntungan sedang tidak ada di pihaknya. Rania sudah berusaha menghubungi hampir semua kontak di ponsel tetapi tidak mendapatkan keinginannya. Hanya ada satu dua orang yang bersedia membantunya meminjamkan uang hanya dengan nominal tidak kurang dari lima juta.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" desah Rania dengan satu tangan menyingkap rambut poni yang menutupi kening.
Rania mendesah kasar ketika nama kontak Bu Dewi tertera pada layar. Rania membuang napas kasar sebelum menerima panggilan dari Bu Dewi.
"Halo, Bu."
"Gimana, Ran? Ini dokter tanya sama Ibu karena David harus segera di operasi. Kamu sudah dapat uangnya belum?" desak Bu Dewi.
Rania diam sejenak. Ia masih berpikir. Keputusan apa yang harus diambilnya sekarang?
"Ran? Halo! Rania." Bu Dewi memanggil-manggil karena tidak ada respon dari Rania.
"Halo. Iya, Bu," jawab Rania pelan.
"Gimana Ran? Ada nggak? Ini Bapak juga dapat telepon dari orang yang mau beli rumah. Dia nanyain jadi nggak rumahnya dijual."
'Mak, maafin Rania. Nggak ada jalan lain lagi untuk menyelamatkan David. Rania nggak mau kehilangan David, Mak. Maafin Rania, Pak,' batin Rania.
"A-ada, Bu. Ada. Nanti aku langsung transfer ke rekening Ibu, ya," jawab Rania.
"Syukurlah. Terima kasih banyak ya, Ran."
"Iya, Bu," gumam Rania.
Setelah telepon dari Bu Dewi terputus. Rania langsung menghubungi Kyle. Rania tidak berhenti merutuki dirinya sendiri atas keputusan yang diambil.
"Apa?!" ketus Kyle saat menjawab telepon dari Rania. Wanita itu pasti masih marah dengan Rania.
"Aku … menerima tawaranmu," gumam Rania. Kepalanya menunduk merasa malu pada dirinya sendiri karena sudah menjilat ludah.
Seketika tawa Kyle terdengar nyaring. "Jadi, kamu mau jadi pelacur kaya aku?" tanya Kyle dengan nada menyindir.
"Aku hanya harus menjual keperawananku untuk mendapatkan uang sebesar itu, bukan?" Rania balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Kyle. Ia tidak berniat menjadi seorang pelacur. Rania hanya ingin melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya hanya satu kali. Dirinya pun tidak ingin masalah ini diketahui oleh David.
"Ya. Tapi tunggu dulu. Aku telpon klienku untuk menanyakan apakah dia sudah dapat perawan atau belum. Soalnya tadi aku sempat membatalkan pesanannya," ucap Kyle.
"Aku ingin pembayaran dimuka sekarang," pinta Rania.
Lagi-lagi Kyle tertawa. Tetapi tawanya tidak sekeras sebelumnya. "Okay, tunggu sebentar. Kirim saja nomor rekeningmu. Nanti kalau deal, aku langsung transfer," ucap Kyle dan langsung memutuskan sambungan telepon.
Sedetik kemudian Rania langsung mengirimkan pesan pada Kyle. Ia memberikan informasi rekeningnya pada temannya tersebut.
Rania menunggu dengan cemas. Matanya tidak berhenti memperhatikan layar ponsel sedang hatinya terus berharap akan mendapatkan kabar dari Kyle. Hingga satu menit kemudian kedua mata Rania membelalak saat mendapatkan sebuah pesan notifikasi dari Kyle.
Wanita itu mengirimkan bukti transfer dengan nominal yang diinginkan Rania. Saat hendak menutup kotak pesan dari Kyle, Kyle kembali mengirimkan pesan singkat berisikan alamat hotel yang harus Rania datangi. Kyle juga mengancam akan melaporkannya ke polisi jika melarikan diri.
Namun Rania tidak membalas satu pun pesan dari Kyle. Ia langsung menghentikan sebuah taksi hendak pergi ke rumah sakit. Tidak lupa Rania langsung mentransfer uang tersebut ke rekening ibu mertuanya.
Mobil berwarna biru yang dinaiki Rania mulai melaju menuju rumah sakit tempat David dirawat. Sembari menunggu mobil itu sampai di tempat tujuan, Rania mencoba menghubungi Bu Dewi.
"Halo, Bu," sapa Rania.
"Iya, Ran. Gimana?"
"Aku sudah transfer ya ke rekening Ibu. Ini aku lagi di dalam taksi, mau pergi ke rumah sakit," jelas Rania.
"Syukurlah. Terima kasih banyak ya, Ran. Kamu hati-hati di jalan."
"Iya, Bu. Aku tutup teleponnya ya."
Usai mendengar jawaban dari Bu Dewi, Rania langsung memutuskan sambungan telepon. Dirinya bersandar di jok mobil seraya menarik napas panjang. Rania sangat ingin mendapatkan kelegaan, tetapi masalah lain justru menjeratnya hingga membuat Rania sulit bernapas dalam sekejap.
Rania membuka pesan dari Kyle. Ia menatap alamat hotel yang harus didatanginya malam ini. Rania menggelengkan kepala saat bayangan-bayangan buruk justru merayap masuk ke dalam pikiran. Dirinya menutup pesan dari Kyle dan menoleh ke arah luar kaca mobil untuk mengalihkan pikiran.
Beberapa menit kemudian mobil taksi itu berhenti di depan gedung rumah sakit. Rania segera turun dari dalam taksi usai membayar ongkosnya. Dirinya berjalan menuju tempat Bu Dewi berada.
"Rania."
Langkah Rania dihentikan oleh suara Bu Dewi yang memanggil dari arah lain. Bu Dewi tersenyum lebar dan langsung menghampiri Rania. Dirinya memeluk Rania membuat wanita itu membalasnya.
"David dimana sekarang, Bu?" tanya Rania.
"Dia ada di ruang operasi. Tadi setelah ibu menyelesaikan biaya operasinya, David langsung dibawa ke ruang operasi. Dan Bapak yang lagi ada di sana."
"Syukurlah." Rania mendesah lega. Ia tersenyum dan mengusap airmata yang tiba-tiba menetes. Sejenak hatinya merasa lega dan bahagia karena David langsung mendapatkan penanganan operasi.
"Ngomong-ngomong." Rania menatap Bu Dewi saat mendengar ucapan calon mertuanya tersebut. "Darimana kamu dapat uang sebanyak itu dalam waktu cepat?" tanya Bu Dewi.
Rania terpaku. Ia menjadi gugup. Tidak mungkin jika dirinya menjawab dengan jujur kalau ia baru saja mendapatkan uang dari menjual keperawanannya.
"Siapa teman kamu yang meminjamkan uang sebanyak itu sama kamu?"
Rasanya memang aneh ada orang yang mau meminjamkan uang sebanyak itu dalam waktu cepat. Bahkan tanpa jaminan apapun karena Rania memang tidak memiliki harta yang cukup digunakan sebagai jaminan.
"Teman sekolahku yang dari kampung, Bu. Kebetulan dia punya usaha di Jakarta," jawab Rania sembari tersenyum. Ia berusaha sebisa mungkin menutupi kebohongannya.