Bab 1

Pemandangan yang sungguh romantis, para penonton bersorak dan terlihat tersenyum melihat tontonan yang begitu menggelitik ulu hati.

Pasola restaurant menjadi saksi seorang lelaki tengah bertekuk lutut di depan perempuan cantik memakai dress biru tua, sedang menyatakan cinta kepada wanita pujaan hati.

"Damara Aurora, apakah kamu mau menjadi pacarku?"

Perempuan bernama Aurora lantas tersenyum senang menyaksikan sesuatu yang telah lama dinantikan.

"Aku mau," ucapnya sukses membuat tempat semakin riuh dengan sorakan penonton.

Aurora mengambil bunga mawar yang disodorkan oleh Gama Yoga Wardhana. Seorang pengusaha terkenal dari keluarga sangat terpandang.

Gama lantas berdiri dan langsung memeluk erat dengan perasaan gembira luar biasa karena cintanya telah diterima.

Pemandangan kota Jakarta di malam hari dari balik jendela besar juga ikut menjadi saksi bisu akan ketulusan cinta Gama. Namun, Gama tidak tahu jika Aurora hanya menjadikannya pion.                                                                               

"Akhirnya, kamu masuk dalam perangkapku, kak Gama. Kakakku," batinnya dalam pelukan dengan mata menyiratkan dendam.

***

Di sebuah kamar tidur nan luas dengan dinding bercorak cream dan coklat menjadi tempat ternyaman untuk menenangkan pikiran.

Namun, tidak berlaku dengan pikiran yang ke mana-mana. Ia mengambil ponsel, mencoba menelepon seseorang.

Tidak lama panggilan tersambung. Aurora segera to the point.

"Aku berhasil menjadikan Gama sebagai pacarku, Bi. Dengan begitu aku sudah semakin dekat dengan tujuan menghancurkan mereka."

Irena, dari seberang sana tersenyum senang mendengar keponakannya memberikan kabar amat memuaskan dan membahagiakan, ia tidak sabar menunggu semuanya terjadi.

"Bagus, sayang. Bagus. Bibi sangat bangga kepadamu, kamu sudah mendekatkan diri dengan target yang telah menghancurkan kehidupanmu serta ibumu."

Aurora memejamkan mata, dada bergemuruh hebat menahan dendam di hati. Bayangan kondisi ibunya menjadi kekuatan besar untuk membalas apa yang sudah dilakukan orang tak bertanggung jawab, selama 24 tahun.

"Aku tidak akan membiarkan mereka berbahagia di atas penderitaanku. Mereka harus membayar apa yang sudah mereka lakukan kepada ibu," ujarnya dengan suara membara.

Aurora tidak akan pernah lupa tujuan ke Jakarta setelah 24 tahun yang lalu. Padahal sebelumnya tinggal di Surabaya bersama dengan sang bibi yang telah membesarkan dari kecil.

Jika ditanya perihal ibu. Ia bahkan tidak mendapatkan belaian kasih sayang ataupun obrolan manis. Itulah yang membuat perih. Ibu bernama Salena Kirana Salsabila tidak mengenali sebagai anak.

Dua puluh empat tahun Aurora hidup dengan penuh luka. Dan semua ulah dari seorang lelaki bernama Elviro Aditya Nugraha, ayah kandungnya sendiri.

Setelah sambungan terputus, Aurora duduk di kursi rias, menatap wajah menyedihkan dengan ekspresi datar.

"Elviro, kamu harus membayar apa yang sudah kamu lakukan. Sebentar lagi kehancuranmu akan tiba," geramnya dengan tangan kiri mengepal.

Satu tangan yang masih memegang ponsel memutar sebuah video, membuat Aurora semakin muak.

Keluarga Nugraha sangat terkenal di kalangan masyarakat dan para pebisnis. Pengusaha properti sukses itu selalu menjadi incaran media untuk meliput kehidupan mereka, tak terkecuali liputan 24 tahun lalu ketika lelaki tersebut menangis di hadapan dua gundukan tanah merah.

Di situ seolah nampak jika lelaki itu tengah berduka atas kehilangan istri beserta anaknya. Salena dan Freya Anatasya Nugraha, bayi yang masih berusia enam bulan.

"Dasar pembohong," teriak Aurora menghentikan video tersebut. Begitu marah melihat wajah penuh kesedihan ditunjukkan di hadapan kamera.

"Tega sekali kamu memalsukan kematianku dan ibu demi agar kebusukanmu tidak tercium oleh media. Lelaki sepertimu bahkan tak pantas lagi disebut sebagai ayah."

"Lihatlah, Freya yang kamu anggap telah tiada sudah menjadi besar dan namanya bukan lagi Freya melainkan Aurora."

"Jika Aurora artinya adalah fajar yang berarti matahari terbit untuk menyinari kehidupan gelap. Maka Aurora yang ini tidak ingin menjadi seperti fajar, melainkan menjadi lambang kematian untukmu, Elviro." Ia memandang wajah penuh dendam pada pantulan cermin.

Perempuan itu kemudian membuka sebuah laci, mengeluarkan beberapa kertas print. Terlihat wajah-wajah orang yang berhubungan dengan Elviro.

Pertama, gambar lelaki dewasa. Meski di usia hampir mendekati kepala lima, ia terlihat tampan dan sangat berwibawa. Segera saja Aurora melingkari wajah Elviro dengan tinta merah lalu menuliskan kata 'penjahat'.

Selanjutnya beralih kepada gambar seorang wanita modis berpenampilan memukau dan menor. Walaupun sudah tak terlalu muda, dia masih cantik. Aurora melingkari wajah perempuan tersebut.

"Kamu, kamu juga bersalah karena telah bermain licik di belakang ibuku," tunjuknya pada gambar wanita itu, dia Hazel, istri Elviro. Alias ibu tiri dari Aurora.

Berikutnya, foto seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah Gama. Aurora juga melakukan hal sama, melingkari wajahnya.

"Kamu juga bersalah Gama. Karena kamu ada di antara mereka. Darah daging dari Elviro."

Aurora tertawa kecil.

"Aku juga darah dagingnya. Tapi tidak seberuntung kamu," lirihnya.

Mata itu mulai mengembun, iri dengan kehidupan yang dimiliki oleh kakaknya. Sedangkan ia terbuang. Dulu ketika kecil, Aurora harus terbiasa tegar ketika ditanya 'di mana ayahmu?'

Jika anak sudah tidak diakui dan dianggap meninggal, maka bukankah sepantasnya hal wajar Aurora menjawab ayahnya sudah tiada.

Bukan hanya itu demi menghindari bullying yang kerap kali didapatkan di sekolah, Aurora harus menjalani homeschooling demi menjaga mental tetap kuat di tengah keadaan memaksa untuk gila.

Aurora menatap lama foto terakhir, bukan foto terbaru seperti tiga foto lainnya, melainkan foto 24 tahun lalu. Jika pada foto tersebut perempuan itu sudah berusia 46 tahun, berarti sekarang dia telah berumur 70 tahun.

Dia adalah Windy Akila Marsha, nenek dari Aurora. Orang tua Elviro.

"Aku bingung, apakah nenek telah meninggal atau masih hidup. Dua puluh empat tahun lalu nenek diberitakan kecelakaan dalam pesawat yang ditumpangi, tetapi berita lain menyatakan jika nama nenek tidak ada dalam daftar penumpang pesawat."

"Maka kemungkinan bisa saja hari itu beliau tidak menaiki pesawat tersebut."

Bukan hal sulit mencari informasi keluarga Nugraha. Mereka sangat terkenal, wartawan selalu gencar mencari informasi tentang kehidupan keluarga itu.

"Ini sangat membingungkan. Jika nenek tidak ada di pesawat, maka beliau harusnya masih hidup dan kembali pulang ke rumah."

"Selama bertahun-tahun, tidak ada informasi di mana keberadaannya. Bahkan pencarian pun terpaksa dihentikan. Apakah nenek menghilang atau sudah tiada?"

"Sebenarnya, aku tidak punya masalah dengan nenek karena urusanku hanya kepada mereka bertiga, cuman aku penasaran apa yang terjadi sebenarnya?"

Akila bukan target dalam misi balas dendam, begitu berita terpampang di layar handphone, ia tidak bisa menahan diri untuk mencari tahu.

Jika telah buntu seperti ini, jalan pintasnya adalah bertanya langsung kepada Gama. Banyak hal harus dikorek dari sang kakak yang diterima menjadi pacar

Lucu sekali.

Andai Gama tahu, mungkin tidak akan pernah melabuhkan hati pada adiknya sendiri.                    

"Tunggulah kehadiranku di keluarga Nugraha. Akan kupastikan kalian semua hancur!"

Bab 2

Aurora mengoleskan selai strawberry ke roti tawar sembari pikiran melayang akan langkah selanjutnya. Setelah resmi menjadi pacar Gama, ia akan mencoba mendekat kepada keluarga Nugraha.

Aurora sudah enam bulan di Jakarta. Selama enam bulan itu fokus mengurus butik sang bibi yang sebelumnya dikelola oleh orang kepercayaan. Demi penyamaran semakin meyakinkan ia pun menjadi pengelola butik tersebut.

Selain butik, tentu saja melakukan berbagai cara untuk memikat Gama, usaha berjalan dengan mulus, lelaki tersebut jatuh dalam pelukannya.

Tok! Tok! Tok!

Kegiatan mengoles selai terpaksa dihentikan. Walaupun rumah itu lumayan besar tapi Aurora sama sekali tidak mempekerjakan orang lain sebagai pembantu.

"Tanpa melihat pun aku sudah tahu siapa yang sangat rajin datang di pagi hari," ucap Aurora dengan nada sedikit kesal.

Sebelum membuka pintu, ia menghela napas untuk memulai akting terlihat bahagia.

"Pagi, sayang," ucap Gama dengan senyuman lebar.

Aurora balas melempar senyum seolah senang menyambut kedatangan Gama.

"Brownies cokelat manis untuk pacarku yang manis." Gama menyodorkan sekotak brownies. Dia memang rutin datang di pagi hari dengan kejutan.

"Owh, makasih sayang. Pas banget aku lagi kepengen brownies nih. Yaudah ayok kita sarapan bareng," balas Aurora terkesan manja, padahal begitu risih dengan sikap Gama.

Ia akui lelaki itu sangat romantis, bisa meratukan seorang wanita. Walau bagaimana pun tetap saja, merasa jijik berperilaku seperti ini kepada kakaknya sendiri.

"Kamu memang baik kak Gama, tapi maaf aku hanya menjadikanmu alat balas dendam," batinnya. Menggandeng Gama ke ruang makan.

Aurora menyediakan roti, semenjak tadi lelaki tersebut terus memperhatikan dengan senyuman manis. Perempuan lain mungkin akan merasa beruntung dicintai oleh lelaki baik dan penuh perhatian seperti dirinya.

"Oh, ya sayang. Aku boleh nanya sesuatu, gak?" Tanya Aurora di tengah mereka menikmati brownies.

"Boleh dong, silahkan tanyakan apa yang mau kamu ketahui."

Aurora tersenyum, ini saatnya mengorek informasi.

"Hmm, kita sekarang kan sudah menjadi sepasang kekasih. Jadi aku ingin mengenal lebih jauh tentang kamu dan keluargamu."

Sebisa mungkin berhati-hati mengeluarkan setiap perkataan agar tidak terdengar mencurigakan. Identitasnya tidak boleh terbongkar dengan cepat.

"Iya, lalu apa yang ingin kamu tanyakan?" Gama seperti tertarik dengan obrolan mereka.

"Kemarin malam gak sengaja aku menemukan berita tentang nenek Akila. Dua puluh empat tahun lalu, nenekmu dikabarkan kecelakaan pesawat dengan tujuan ke Malang, tapi ada juga berita yang ...."

"Tidak ada data nenek sebagai penumpang pesawat," potongnya.

Lelaki itu meletakkan sendok dan menghela nafas panjang. Seperti ada beban yang ingin dibagikan.

"Aku juga bingung, sampai detik ini tidak ada kabar, apakah nenek masih hidup atau sudah meninggal. Papa telah menyuruh banyak orang untuk menemukan di mana keberadaan nenek. Mungkin karena papa tidak berhasil menemukannya. Dalam waktu sebulan, pencarian dihentikan."

"Apa! Secepat itu pencarian dihentikan? Sayang, aku bukannya bermaksud ikut campur dengan kehidupanmu. Keluargamu punya banyak uang, apa salahnya jika pencarian tetap dilanjutkan sampai beberapa bulan lagi. Satu bulan waktu yang terlalu cepat untuk menyerah."

Gama menatap Aurora, cara pikir mereka sama. Waktu itu ia masih belum mengerti karena terlalu kecil untuk berbuat sesuatu.

"Aku juga mengatakan hal serupa kepada papa. Percuma saja, papa tetap pada pendirian untuk tidak melanjutkan lagi pencarian nenek. Papa seperti yakin jika nenek sudah meninggal."

"Meskipun tak ada jasadnya?"

Gama terdiam, ada kondisi di mana ia tidak boleh terlalu jauh dalam mengambil langkah.

Aurora menggenggam tangan Gama. Menjadi semakin penasaran.

"Kalau kamu sendiri merasa bahwa nenek masih hidup, kenapa tidak kamu yang mencari secara diam-diam? Apa kamu tidak curiga, kalau di hari itu nenekmu tidak menaiki pesawat karena diculik? Bisa saja kan. Ada orang yang mendendam salah satu orang di keluargamu. Tidak ada yang tidak mungkin."

Dalam hati Aurora menyatakan jika dia adalah salah satu maut mereka. Senang sekali jika ternyata ada orang lain ikut bermasalah dengan keluarga Nugraha.

"Aku tidak punya hak untuk itu." Gama tiba-tiba berbicara datar dan kembali melanjutkan makan.

Dahi Aurora mengerut, apa maksud dari ucapan Gama? Kenapa tidak punya hak melakukan pencarian terhadap neneknya sendiri?

"Kamu cucunya, kamu berhak untuk melakukan pencarian tanpa sepengetahuan papamu."

"Sayang, aku mohon jangan terlalu ikut campur, kamu boleh mengetahui tentang keluargaku untuk lebih mengenal tapi bukan berarti semuanya harus diceritakan. Tolong jangan memaksa. Maaf kalau kamu tersinggung."

Atmosfer seakan berubah. Aurora harus menahan diri untuk memulihkan suasana yang mulai tidak enak. Meski banyak pertanyaan menyelinap dari perkataan Gama, ia harus bersabar untuk mengetahui secara perlahan-lahan.

"Maafkan aku sayang. Baiklah, kalau begitu kita berhenti membahas nenek. Bagaimana kalau kita bahas tentang ... aku gak enak ngomongnya tapi aku pengen tahu aja, gak papa sayang?"

Gama terkekeh dan mengacak rambut Aurora gemas.

"Tanyakan saja apapun itu, kalau aku bisa jawab, bakalan aku jawab."

Huh! Gama tidak tahu saja jika Aurora hanya berpura pura sungkan.

"Tentang tante Salena dan Freya. Apakah sampai detik ini papamu masih mengenang mereka?"

Gama yang telah selesai menghabiskan makanan, menegak air minum sampai tandas.

"Kenapa kamu ingin tahu tentang mereka?"

Gawat, Aurora tidak boleh membuat Gama curiga. Ia yang telah selesai menghabiskan roti beserta kue lekas menghadapkan wajah lalu berbicara sangat manja.

"Sayang, saking aku pengen mengenal keluargamu aku sampai menonton video ketika papamu menangis di pemakaman. Hari itu papamu pasti sangat berduka kehilangan dua orang sekaligus dalam kecelakaan.

"Aku sudah menceritakan semua tentang kehidupanku. Aku harap hubungan kita bukan hanya sekedar pacaran tapi sampai pada tahap pernikahan seperti apa katamu. Jadi gak papa kan kalau aku tanya tentang hal itu?"

Gama pernah menanyakan tentang keluarganya, Aurora harus mengarang cerita jika ia adalah yatim piatu sejak kecil. Dan hanya dirawat serta dibesarkan oleh sang bibi.

Gama sejak awal sangat tertarik dengan kemandirian Aurora ditambah wajah cantik natural dengan hidung mancung, kulit putih bersih dan tidak kalah penting adalah kebaikan hati Aurora yang senang berbagi kepada sesama membuat takjub, menyebabkan Gama semudah itu menaruh hati.

Padahal di balik itu semua telah direncanakan olehnya untuk menarik perhatian.

"Iya, tidak masalah. Baiklah aku akan menceritakan sedikit tentang ibu Salena dan Freya."

Inilah yang dinantikan. Meskipun harus menahan geram ingin berteriak bahwa dia dan ibunya masih hidup.

"Hari ketika ibu Salena dan Freya meninggal menjadi hari terburuk bagi papa. Bahkan sampai saat ini, meskipun sudah ada mami bersama papa. Papa masih sering merindukan ibu Salena dan Freya."

"Entah apa yang sangat spesial pada diri mereka sampai papa tak pernah bosan untuk mengenangnya."

Aurora tercekat. Ini tidak seperti yang dibayangkan. Harusnya mudah untuk Elviro melupakan mereka. Kenapa malah menjadi sebaliknya?

"Papa bilang, dia begitu mencintai ibu Salena dan Freya. Bahkan sampai kapanpun akan terus seperti itu. Meski papa sangat merindukan ibu Salena dan Freya. Sekalipun papa tidak pernah mau diajak ziarah ke makam mereka."

Aurora terkejut mendengar jika Elviro tidak pernah mau ziarah ke pemakaman. Ia menertawakan diri sendiri mudah sekali untuk terpengaruh. Elviro pasti telah membohongi Gama dengan memainkan peran sebagai suami yang mencintai istri dan anaknya.

"Cerita palsu dan kuburan palsu. Sekali seseorang berbohong maka akan kembali berbohong agar tidak terbongkar. Aku terlalu berharap jika Elviro baik. Sadar Aurora dia lelaki yang telah memberikan penderitaan," rutuknya dalam hati.

"Kenapa papamu tidak mau ke pemakaman mereka?"

"Aku juga tidak tahu, sepertinya papa tidak ingin kembali mengingat kematian ibu Salena dan Freya."

Aurora mengepalkan tangan, setiap kali dikatakan telah meninggal, ia harus berusaha menahan kekesalan agar tidak tumpah.

Gama melirik arloji di pergelangan tangan.

"Ya ampun sayang, gak kerasa udah jam delapan aja, aku sudah telat banget ke kantor nih. Aku langsung berangkat ya. Kamu mau barengan?"

Aurora dengan cepat menggeleng. Mana mungkin berangkat bersama Gama. Sekarang ada hal yang ingin dilakukan.

"Tidak sayang, tempat kita gak searah, aku gak mau nanti kamu malah makin telat. Aku agak siangan ke butik."

"Yaudah sayang, aku langsung berangkat ya."

"Iya, hati-hati di jalan."

Gama mengangguk. Aurora mengantarkan sampai teras. Selepas kepergian Gama, ia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang bernama Vezha.

"Halo, Vezha. Aku mau kamu mencari seorang perempuan penggoda cantik dan masih muda, berapapun akan kubayar dia. Selidiki juga keseharian Elviro serta Hazel dan dapatkan nomor mereka berdua."                                              

Wajah yang tadi banyak tersenyum kini berubah tajam dan nampak beringas, sisi kelembutan beberapa detik lalu telah hilang, hanya kedataran dan ekspresi tak terbaca.

Bab 3

Kebiasaan keluarga Nugraha pada malam hari adalah berkumpul di ruang keluarga sambil bersantai menyantap cemilan, mengobrol manis atau sekedar menonton film bersama.

Seperti saat ini ketiganya duduk di sofa besar dengan secangkir teh. Hazel bergelayut manja di lengan Elviro dan Gama duduk di samping ayahnya.

"Sekarang kamu sudah punya pacar ya?" Celetukan Elviro sukses membuat Gama yang fokus memperhatikan film seketika buyar dan langsung menoleh dengan keterkejutan.

"Papa tahu dari mana?"

"Kamu lupa, Gama? Keluarga kita ini tidak lepas dari publik, banyak orang yang ingin mengetahui kehidupan kita, makanya kalau nembak cewek jangan di tempat umum, itulah yang terjadi pasti langsung, bom ... viral," sambung Hazel menggebu.

Niat hati ingin suasana romantis, malah ternyata ada saja tangan usil yang memfoto mereka dan menyebarkan ke sosial media bahwa Gama Yoga Wardhana telah memiliki pacar setelah lama jomblo. Sekarang Aurora pun akan ikut disorot.

"Dia sangat cantik dan begitu menawan. Kapan mau mengenalkan kepada kami?" Tanya Elviro menggoda anak lelakinya.

Gama nampak malu ketika orang tuanya membahas tentang Aurora. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum dan rona di wajah.

"Iya, kapan mau dikenalkan ke papa dan mami?"

"Nanti akan Gama kenalkan Pa, Mi," jawabnya kemudian.

Elviro merangkul bahu Gama. "Jaga dia dan jangan pernah menyakitinya. Kalau bisa jangan terlalu lama pacaran, jika sudah merasa saling cocok segeralah nikahi dia. Laki-laki itu harus gentle,"  pesan Elviro yang diangguki Gama.

Ia sangat malu selalu digoda oleh orang tuanya. Suasana keluarga yang nampak bahagia. Saling bercanda kecil, kehangatan inilah yang bisa dirasakan di malam hari.

Tak berselang lama Gama segera pamit ke kamar. Setelah membicarakan Aurora ia tiba-tiba jadi merindukan gadis manis itu.

Gama lekas menelepon. Panggilan pertama gagal. Tetapi ia tetap mencoba sampai pada panggilan ke tiga kali masih belum terhubung juga.

"Sepertinya Aurora sudah tidur. Aku tidak boleh egois sampai mengganggu tidurnya. Ayolah Gama, tahan rindumu," ucapnya dengan tersenyum.

Padahal belum 24 jam, nama Aurora terus menggema di kepala. Mungkin inilah yang dinamakan lagi kasmaran. Selalu ingin setiap saat bersama wanita pujaan hati.

Segila ini Gama mencintai Aurora.

Wajar, karena ia bukanlah lelaki yang mudah jatuh cinta. Hanya Aurora yang mampu membuatnya terpikat begitu dalam, apalagi telah berhasil cinta pertamanya.

"I love you, sayang. Good night." Gama berbicara sendiri dalam posisi telentang. Menutup mata dengan bayangan wajah Aurora yang tersenyum kepadanya.

Di tempat lain Aurora juga tengah berbaring di tempat tidur. Sejak tadi ia mendengar bunyi ponsel, hanya memperhatikan saja tanpa ada niat ingin mengangkat. Melihat nama Gama yang terpampang di layar ia malas untuk mengangkat telepon tersebut.

Memikirkan Gama, Aurora jadi teringat sesuatu yang dulu sempat terpikirkan, tetapi karena ada hal lain yang lebih penting dilakukan, ia menunda rasa penasaran itu. Sekarang saatnya untuk menyelidiki.

"Bibi pernah mengatakan jika ibuku adalah istri pertama Elviro. Seharusnya umurku lebih tua daripada kak Gama, tapi kenyataannya kak Gama lebih tua dariku. Ada apa sebenarnya?"

Dia sempat terkejut ketika Gama mengatakan berusia 32 tahun sewaktu mereka PDKT. Padahal awalnya Aurora mengira usia Gama sangat jauh lebih muda, anggapan tersebut ternyata tidak benar. Ada perbedaan usia delapan tahun di antara mereka.

Ia yakin sekali bisa menemukan kebingungan ini di dalam media sosial. Aurora berselancar mencoba mengetahui apa yang terjadi. Siapa Gama sebenarnya?

"Bibi tidak mungkin berbohong, ada yang menjanggal tentang identitas Gama."

Perempuan itu terus fokus mencari berita yang diinginkan, berharap bisa menemukan yang dicari.

Ini sudah sangat lama pasti ada yang tenggelam dan telah dihapus. Aurora tidak menyerah sebelum apa yang diinginkan didapatkan. Saking gigihnya menjadi orang yang pantang untuk menyerah.

"Ketemu," ucapnya senang, menemukan sebuah berita klarifikasi Hazel mengenai Gama.

Secepat kilat Aurora membuka video tersebut. Wajah sedih Hazel begitu kentara. Tidak bisa dipastikan apakah itu benar atau hanya kepuraan Hazel semata.

"Menjawab dari banyaknya pertanyaan netizen mengenai Gama dan siapa saya sebenarnya. Kenapa tiba-tiba hadir setelah satu minggu kepergian istri dan anak mas Elviro. Kalian memang berhak mempertanyakan itu. Demi agar tidak ada kesalahpahaman saya akan menceritakan apa hubungan saya, Gama, dan Elviro."

Aurora menatap layar dengan sangat fokus, tidak sabar untuk mengetahuinya. Di video itu nampak Hazel menghembuskan nafas panjang sebelum kembali mulai bercerita.

"Saya adalah Hazel Maeva, saya istri pertama mas Elviro dan Gama adalah anak saya dan mas Elviro."

Deg!

Ia begitu terkejut mendengar cerita tersebut, sangat bertentangan dengan cerita Irena.

Selama ini Aurora hanya mengetahui dari cerita sang bibi. Baru sekarang mencoba mencari tahu sendiri. Ia menghabiskan banyak waktu memulai bisnis butik dan mendekati Gama. Serta beberapa informasi yang menurutnya penting saja.

Begitu ada video klarifikasi, Aurora sungguh kebingungan. Siapa yang benar?

"Kalian pasti bingung karena yang kalian tahu selama ini Salena lah istri pertama Elviro dan Freya anak satu-satunya."

"Kalian salah, Salena istri kedua mas Elviro yang dinikahi secara agama dan negara. Sedangkan saya hanya istri siri dari mas Elviro. Saya yang pertama tapi harus membesarkan hati untuk menerima jika hanya Salena yang diakui oleh negara sebagai istri mas Elviro." Hazel menangis, cerita yang cukup menyedihkan.

"Selama bertahun-tahun, saya dan Gama harus selalu mengalah, tapi tidak papa, saya ikhlas atas takdir yang harus dijalani. Mungkin kalian akan kembali bertanya kenapa saya hanya dinikahi secara siri oleh mas Elviro"

"Kami berdua saling mencintai. Bahkan telah berjanji akan selalu bersama selamanya. Cinta kami tidak berjalan mulus. Ibu mas Elviro, Akila tidak pernah menyetujui hubungan kami. Maka dari itu mas Elviro memaksa untuk menikahi saya secara diam-diam."

"Awalnya saya tidak mau, tapi mas Elviro terlihat begitu sedih, dia mengatakan dia tidak bisa hidup tanpa saya. Saya pun juga tak bisa hidup tanpa dirinya itulah kenapa kami akhirnya menikah hanya di mata agama saja agar pernikahan ini tidak terendus oleh media dan diketahui oleh tante Akila."

Aurora mengusap wajah, cerita Hazel sangat masuk akal. Semakin ke sini entah kejutan apalagi yang harus diterima.

Hanya ada tiga kemungkinan, bibinya berbohong, Hazel yang berbohong atau bibinya juga tidak tahu tentang Hazel sebagai istri pertama Elviro. Ia memijit kepala, pusing sekali memikirkan banyak hal dalam satu waktu.

Aurora kembali mendengar kelanjutan cerita Hazel. Semuanya akan ditonton tanpa ada yang di skip.

"Salena mengetahui kebenaran itu bahkan sebelum menikah dengan mas Elviro. Dia tetap nekad meski telah dijelaskan jika mas Elviro sama sekali tidak menyukai dan mencintainya. Akila lah yang menjodohkan Salena dengan mas Elviro."

"Saya pikir Salena begitu mencintai mas Elviro, maka dari itulah saya menyuruhnya menikah lagi demi memenuhi keinginan ibunya. Lagi dan lagi saya dan Gama harus mengalah. Kadang sedih ketika mas Elviro harus memberikan waktu lebih banyak untuk Salena dan Gama sering merindukan ayahnya."

"Saya berusaha ikhlas karena memiliki mas Elviro sebagai suaminya saya sudah lebih dari cukup. Hidup ini begitu berwarna dengan kehadiran Gama meski mas Elviro tidak bisa sering menghabiskan waktu bersama kami dan saya mencoba mengerti akan hal itu."

Hazel mengelap air mata dengan tisu, sangat terlihat begitu sedih. Aurora tidak bisa mempercayai begitu saja cerita Hazel, ia harus memastikan terlebih dulu.

"Saya pikir Salena tulus mencintai mas Elviro, ternyata dia hanya menginginkan harta mas Elviro."

Aurora membuka mulut dengan penuh keterkejutan. "Apa-apaan ini. Ibuku tidak mungkin seperti itu," gumamnya kesal.                          

Ada keraguan muncul, seandainya cerita itu benar apakah dia mesti berbalik arah mendendam ibunya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED