Seorang anak laki-laki, berusia sekitar dua belas tahun menggeliat dan menguap di jok belakang sebuah mobil. Dia mengerjab-ngerjabkan matanya, merasa asing dengan jalanan yang mereka lewati. Pulas sekali tidurnya, sampai tak sadar kalau mobil yang membawanya telah keluar dari perkotaan.
"Mas. Kamu nggak papa, sayang?"
Seorang wanita menegur dari jok depan. Raut wajahnya keibuan, seirama dengan usianya yang menginjak kepala tiga.
"Nggak papa, bu" jawab Yudi.
"Halah boong" tukas seorang perempuan di sebelahnya.
"Mas Yudi sih dari awal sedih bu, pisah sama Hartati" lanjutnya.
"Aduh"
Dia mengeluh, mendapatkan cubitan di pahanya.
"Kenapa nyubit sih, mas?" Protesnya. Suara cemprengnya membahana khas anak umur sepuluh tahunan.
"Yudi!"
Seorang laki-laki, yang sedang menyetir mobil itu, menegur Yudi. Sontak Yudi bersedekap dan membuang muka dari perempuan di sebelahnya.
"Cie cie. Tu kan, yah. Alesan doang, takut sama kakung. Aslinya sih, takut kehilangan, "
"Aduuh ... "
"Yudi!"
Untuk kedua kalinya Yudi mendapat teguran karena pekikan si anak perempuan itu.
"Sama adeknya kok nyubitin?" Tanya laki-laki yang tadi dipanggil ayah.
"Tengil sih" jawab Yudi.
Jawaban Yudi rupanya sanggup memancing rasa geli bagi kedua orang dewasa di jok depan. Mereka tertawa. Bagi mereka jawaban itu lugas dan lucu.
"Emang si Hartati itu cantik ya, dek?" Tanya si Laki-laki.
"Slepet nih!" Ancam Yudi.
"Hempf. Ha ha ha"
Anak perempuan itu tergelak dan tak jadi menjawab karena ancaman Yudi. Ancaman itu malah terasa lucu sekali baginya.
"Di sana juga banyak yang cantik" kata si laki-laki.
"Masa? Beneran, yah?" Tanya anak perempuan itu.
Ekspresinya yang serius cenderung takut membuat si laki-laki dan perempuan di depan saling memandang, bingung.
"Lah. Emangnya ibu masih kalah cantik, sama si Hartati itu?"
"Hempf"
Si anak perempuan itu tergelak sembari melihat ke arah Yudi. Di saat yang sama Yudi juga menatapnya sambil menahan tawa.
"Ha ha ha ha"
Si anak perempuan itu tertawa sangat lepas, membuat kedua orang dewasa di depannya kebingungan. Tak ada jawaban yang keluar saat dia ditanya maksudnya apa. Dia terus tertawa saking gelinya.
Yudipun malah melempar ke anak perempuan di sebelahnya, saat dia giliran ditanya. Membuat anak perempuan itu tak berhenti tertawa.
Walaupun bingung, namun kedua orang dewasa di depan itu tampak tersenyum lega. Seolah kekhawatiran yang sedari tadi menggelayuti hati, sirna oleh tawa si anak perempuan.
Memasuki jalanan kampung yang lebih sempit, tawa anak perempuan itu berhenti. Dia merasa tertarik dengan deretan rumah-rumah yang masih menggunakan arsitektur jaman dulu. Ada yang sudah permanen, namun ada juga yang belum permanen. Namun terlihat kokoh.
Beberapa anak sebayaannya menggentikan langkah jalannya dan menatap ke arahnya. Seolah-olah mobil yang membawanya ini adalah kendaraan mewah. Beberapa warga juga tampak berjalan beriringan pulang dari sawah.
Kedua orang dewasa di depan menyapa para penduduk yang berpapasan dengan mereka. Hingga pada akhirnya mereka berbelok ke halaman sebuah rumah. Di depan rumah, sudah menunggu, beberapa orang. Mereka beranjak mendekat begitu melihat ada mobil yang memasuki halaman.
"Purwoko"
Seorang laki-laki paruh baya berseru senang, menyambut kedatangan keluarga itu. Dia berhenti satu meter di depan mobil itu, menanti seisi mobil keluar.
"Mas Purboyo" seru laki-laki yang menyetir itu. Dia keluar dari mobil dengan wajah tersenyum.
"Apa kabar, Pur?" Tanya Purboyo sambil menyalami Purwoko. Wanita di sebelahnya ikut keluar.
"Duo Pur ketemu lagi" celetuk seorang wanita.
Wanita yang baru keluar mobil itu tersenyum pada wanita yang menghampirinya.
"Alhamdulillah, sehat mas Purbo" kata Purwoko, menjawab pertanyaan Purboyo.
"Dan kayaknya akan terus bersama, mbak" kata wanita yang baru keluar dari Mobil.
"AMIRAAA"
Seorang anak perempuan, seumuran anak oerempuan tadi, memanggil dengan cukup kencang dari teras rumah. Dia berlari menghampiri mobil itu.
"Mbak Ristaaaa"
Anak perempuan yang disebelah Yudi tadi juga berseru memanggil nama anak perempuan yang menghampirnya. Keduanya berpelukan.
"Apa kabar, Ifa?" Tanya wanita tadi.
"Ya, beginilah mbak Wati" jawab wanita yang dipanggil Ifa.
"Aku nggak dipeluk?" Protes Yudi.
"Bodo" jawab Amira dan Rista kompak.
"Ha?"
"Ha ha ha ha"
Mereka berdua tertawa menyaksikan ekspresi tak percaya Yudi pada kekompakan mereka. Para orang tua menatap mereka dan ikut tertawa sejenak. Terlebih disaat Yudi pura-pura merajuk dan kembali masuk ke dalam mobil.
Mereka tertawa lagi disaat pada akhirnya ketiganya bercanda bersama, walau Yudi masih pura-pura merajuk.
"Semua ada hikmahnya, Fa. Nggak mungkin Gusti Alloh nimpain musibah tanpa ada maksud dan jalan keluar" hibur wanita yang dipanggil Wati. Ifa menoleh. Dia menghela nafas berat.
"Ya. Mungkin Alloh pengen mas Pur baikan lagi sama bapak"
"Itu lebih mahal dari apapun, Fa" komentar Wati.
"Mas Purbo sampai rela selipan beras dimiliki Purwoko, asal Purwoko mau baikan sama bapak" lanjut Wati.
"Laki-laki, mana ada yang mau ngalah. Yudi aja nggak pernah mau dikalahin temennya. Padahal cuman rebutan pengakuan, siapa yang paling dilirik primadona sekolah. Apalagi biangnya"
"Hempf. Yudi udah ngerti cewek? Bahaya tuh, kaya bapaknya. Ha ha ha ha"
Keduanya tertawa. Saling bertanya kabarpun berlanjut. Kali ini antar ipar. Sempat Ifa terharu, mendapat sambutan hangat dari kakak iparnya. Merekapun melanjutkan langkah ke teras rumah. Sudah ada sepasang orang tua yang menanti kedatangan mereka.
Pak Purwoko melangkah dengan gestur takut-takut. Seperti menghadapi seorang raja, pak Purwoko berjalan sambil menunduk. Dia menegakkan kepalanya setelah disenggol Wati.
Terlihat bapaknya tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Di belakang para orang dewasa, Yudi dan Rista saling senggol. Mereka berbicara dengan bahasa isyarat. Rista bertanya ada apa, Yudi mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.
"Bapak marah bukan karena benci" kata orang tua yang dihadapi pak Purwoko.
"Bapak marah itu karena takut. Takut kalau anak bapak dikadalin. Karena buah jatuh, itu nggak pernah jauh dari pohonnya" lanjut orang tua itu.
Pak Purwoko belun bergeming. Dia masih merasa takut, seperti sedang menjalani persidangan. Ada rasa malu juga yang menyeruak di sanubarinya.
"Kalau anak-anak bapak sukses, bapak cuman ikut senang. Bapak nggak berharap apapun dari kalian. Tapi kalau ada yang gagal, ya pulang aja. Aku tetep bapakmu, dan rumah ini tetep rumahmu"
"Bapaak"
Pak Purwoko mendekat sambil merendahkan tubuhnya. Dia hendak sujud di kaki orang tua itu, namun dicegah. Akhirnya dia hanya memeluk kaki orang tua itu. Dia tumpahkan segala rasa bersalah dan malunya dalam tangisnya.
"Udah, udah! Nggak baik dilihat Yudi, Amira" tegur orang tua itu.
Pak Purwoko beralih sungkem pada wanita sepuh di sebelah orang tua tadi. Tak ada kata yang terucap, hanya tangis yang kembali melanda. Butuh beberapa lama sampai tangis pak Purwoko mereda.
"Wah, mbah Har. Itu tadi Purwoko, ya?"
Seseorang berseru dari pinggir jalan. Semua perhatian tertuju padanya.
"Iya, pak RT. Anak ragilku ini, pulang" jawab orang tua yang dipanggil mbah Har itu.
"Ya syukurlah" komentar pak RT. Dia berjalan mendekat.
"Emang udah waktunya kamu pulang, Pur. Kasihan mbah Hari sama mbah Tin. Udah sepuh masih ngurusin sawah segitu luasnya" lanjut pak RT. Dia menyalami Ifa, dan yang lain. Termasuk pak Purwoko sendiri.
"Iya mas Pri. Mungkin emang Gusti Alloh nyuruh aku pulang" jawab pak Purwoko sambil menyalami pak RT.
"Ya sudah. Saya langsung pamit, mbah Har. Cuman lewat aja ini tadi" pamit pak RT.
"Ngopi dulu, Pri! Ayo tak bikinin!" Tawar mbah Tin.
"Makasih, mbah Tin. Saya mau beli suket gajah dulu. Sapi-sapiku sudah demo ini tadi"
"Oh. Beneran nggak ngopi dulu?" Tanya pak Purboyo.
"Lain waktu aja, gan" tolak pak RT lagi.
Pak RTpun pamit undur diri. Dan keluarga besar ini masuk ke dalam rumah. Rumah limasan yang masih kokoh meski masih full kayu dan papan. Tak tampak ada yang lapuk sekalipun sudah berdiri sejak pak Purwoko belum lahir.
"Nah. Yudi sama Amira, pake bekas kamarnya bude aja, ya? Udah dikasih ranjang satu lagi sama simbah" kata mbah Har, saat membagi kamar.
"Ada popoknya mbak Rista dong, kung?" Tanya Yudi sambil tersenyum.
"Eh, pesek. Aku udah lama yo, nggak pake popok lagi" seru Amira.
"Aduh iya iya iya iya" Yudi memekik terkena cubitan di pinggangnya.
"Ta!" Tegur pak Purboyo.
"Sembarangan banget" sungut Amira.
"Ha ha ha ha"
Walau dicubit, Yudi malah tertawa melihat sepupunya merajuk.
Yudi dan Amira masuk diiringi Rista. Walau merajuk tapi dia tetap membantu keduanya membawakan koper.
"Barangmu cuman segini, Yud? Ps mu?" Tanya Rista.
"Di titipin di rumah eyang" sahut Amira. Rista menoleh ke arah Amira.
"Kalau bisa bawa sih, Hartati juga dibawa sama mas Yudi"
"Selepet beneran, nih" ancam Yudi.
"Hempf. Ha ha ha" Amira tertawa menghindar.
"Mana boleh dibawa, Mira? Kamu kata anak kucing, main bawa aja?" Seru Rista.
"Hempf. Ha ha ha ha ha"
Amira malah semakin kencang tertawanya. Terlebih disaat sang kakak meliriknya sembari membuka lemari.
Di kamar sebelah, bu Ifa tampak melamun di saat memasukkan pakaian ke dalam lemari. Dia masih tidak menyangka, akan kembali ke rumah ini dalam keadaan tak punya apa-apa.
"Bu" tegur pak Purwoko. Bu Ifa menoleh.
"Maafin ayah ya, bu! Ayah akan berusaha merebut semua yang udah dia rampas dari kita" lanjut pak Purwoko, sambil menggamit jemari bu Ifa.
"Udahlah, yah! Yang penting kita udah sama-sama sadar dan sama-sama tahu. Sakit emang, tapi ibu nggak pengen kehilangan ayah. Nggak usah nerjang bahaya, ya! Kita mulai lagi aja dari awal" jawab bu Ifa.
"Maafin ayah ya, bu!"
"Iya, yah" jawab bu Ifa sambil tersenyum.
Pak Purwoko merengkuh bu Ifa ke dalam pelukannya. Keduanya berpelukan saling menguatkan.
Setelah membongkar muatan dari dalam mobil, mbah Tin mengajak semuanya makan. Kebetulan juga sudah sangat sore. Bude Wati, yang tinggal di rumah sebelah, rupanya telah memasak untuk semuanya. Tak ada yang menolak ajakan mbah Tin. Semuanya telah bersedia di meja makan. Hanya saja, pak Purwoko tampak tidak berselera makan. Dia tertegun, pikirannya melayang entah kemana.
"Udah, le! Yang hilang jangan terus disesali!" Tegur mbah Tin. Pak Purwoko tersentak dari lamunannya.
"Harta benda bahkan nyawa kita sekalipun adalah milik Gusti Pengeran. Jangan disesali banget-banget! Iklaskan, le! InsyaAlloh nanti ada gantinya" lanjut mbah Ti.
"Iya, mak" jawab pak Purwoko.
"Pur cuman nggak habis pikir mak, apa salah Pur, sampai dia sejahat itu sama Pur?" Lanjut pak Purwoko.
Bu Ifa tanpak salah tingkah melihat suaminya bertanya tentang kesalahannya.
"Namanya orang rakus, ngger. Nggak mandang siapa" kata mbah Har.
"Iya pak" jawab pak Purwoko mengalah.
Merekapun akhirnya memulai acara makan. Mbah Har juga menyempatkan bertanya jawab dengan cucu-cucunya di sela-sela makannya. Candaan-candaan ringan dia lemparkan untuk mencairkan suasana.
"Yudi, Amira" panggil mbah Har, setelah acar makan selesai.
"Nanti ikut Rista ke mushola, ya! Ikutan ngaji sama ustad ghofur, sekalian kenalan sama temen-temen baru" lanjut mbah Har.
"Iya, mbah" jawab keduanya kompak.
"Ya udah, pada mandi, gih!"
"Ya, mbah"
Keduanya lantas pergi ke kamar mereka. Begitu juga dengan Rista. Mereka bersiap mandi. Kebetulan kamar mandi rumah ini masih model terpisah dari bangunan utama. Posisinya ada di belakang rumah. Rupanya rumahnya Rista juga belum ada kamar mandinya. Mereka masih menumpang di kamar mandi rumah ini.
Surup telah turun, tapi Yudi masih belum siap. Dia masih sibuk mencari sarungnya yang ternyata ada di tumpukan paling bawah. Jadi dia harus membongkar semua isi tas pakaiannya.
"Mas Yud, ayo! Udah surup ini" teriak Amira dari luar kamar.
"Iya, bawel" sahut Yudi.
Cklek
Krieeet
Blam
Yudipun keluar kamar tak lama setelah berseru. Di depannya, Amira masih berdiri menatapnya dengan raut wajah cemberut.
"Apa lagi?" Tanya Yudi bingung.
"Kirain mau oake jubah lebaran kemarin, nggak tahunya sarungan doang. Lama amat, sih?"
"Bawel ah" sungut Yudi.
"Mas Yudiii"
Amira memekik terkejut disaat Yudi menyelipkan lengan kanannya ke sela-sela lengan kanan dan badannya, mengapit lengan kanannya, lalu menariknya sambil berjalan. Tak ayal, diapun sempat oleng karena tidak siap. Di depan rumah, ternyata Amira sudah menunggu. Ada teman-temannya juga rupanya. Satu orang perempuan dan dua orang laki-laki.
"Ayo Yud!" Ajak Rista.
"Buru-buru amat? Musholanya kan deket" tanya Yudi.
"Bukan yang di situ, Yud. Yang si seberang kali. Jawab Rista.
"Ha? Seberang mana?"
"Udah! Kenalan dulu nih! Ini Santi, ini Rendi, ini Rafi" tukas Risa, lalu mengenalkan ketiga temannya.
"Halo aku Yudi" kata Yudi sambil menyalami ketiganya satu per satu.
"Aku Amira" gantian Amira yang mengenalkan diri.
"Yuk berangkat!" Ajak Rista.
"Yuk yuk yuk" jawab mereka kompak.
Merekapun pamitan kepada bu Ifa dan bude Wati.
"Ati-ati di jalan!" Pesan bu Ifa.
"Iya. Assalamu'laikum" seru mereka.
"Wa'alaikum salam"
Keenamnya langsung berlari seolah berlomba dengan waktu. Tawa riang membahana mengiringi canda renyah mereka.
"Assalamu'alaikum"
Terdengar sapaan dari arah depan rumah. Tepat di saat pak Purwoko keluar dari dalam rumah.
"Wa'alaikum salam" jawab bu Ifa dan bude Wati bersamaan.
"Mbah Topo" seru pak Purwoko.
Bu Ifa dan bude Wati menoleh saat mendengar seruan dari belakang mereka. Pak Purwoko setengah berlari menyongsong orang yang mengucap salam tadi.
"Apa kabar mbah, sehat?" Tanya pak Purwoko sembari salim.
"Alhamdulillah. Sehat" jawab orang yang dipanggil mbah Topo itu. Sebuah mobil muncul dan berhenti di depan rumah.
"Monggo masuk, mbah! Bapak ada di dalem" ajak pak Purwoko.
"Entar aja, Pur" tolak mbah Topo.
Bu Ifa dan bude Wati turun dari teras bersamaan dengan keluarnya seorang perempuan dari mobil yang berhenti tadi.
"Aku cuman mampir. Tadi di Krajan, Arum bilang Purwoko pulang. Nah, pengen mastiin aja, beneran apa enggak"
"Sini dululah! Kaya nggak pernah nginep aja"
Sebuah seruan membuat semuanya menoleh. Ternyata mbah Har. Dia turun dari teras, menghampiri mbah Topo.
"Tuh, mbah. Kalah sepuh, jangan mbantah! Ha ha ha" goda pak Purwoko.
"Ha ha ha. Iya, deh" jawab mbah Topo sembari menyalami mbah Har.
"Ini siapa, Po?" Tanya mbah Har, merujuk kepada wanita yang tadi turun dari mobil.
"Anaknya Sigitlah, yang pertama" jawab mbah Topo.
"Icha to, mbah?" Seru bude Wati.
"He he. Kirain" seru mbah Har sembari menyalami wanita itu.
"Maafin simbah ya nduk! Simbah pangling liat kamu gamisan begini" lanjut mbah Har sembari menyalami wanita itu.
"Udah pantes kamu jadi lurah, Cha. Minimal kamituwo" seru bude Wati lagi.
"Ketinggian, bude. Jadi warga yang baik aja dulu" jawab wanita itu sembari salim ke bude Wati.
"Ini, siapa?" Tanya mbah Topo merujuk ke bu Ifa.
"Ya Ifalah mbah, istriku" jawab ak Purwoko.
"Ooh" seru mbah Topo sembari tertawa.
"Gitu amat, ketawanya?" Goda mbah Har.
"Ha ha ha. Aku yang lupa, mbah. Pikirku ganti lagi" jawab mbah Topo.
"Maaf ya nduk, bercanda ini" kata mbah Topo sembari menyalami bu Ifa.
"Beneran lupa, aku" lanjut mbah Topo.
"Iya, mbah. Ifa maklum kok. Ketemu juga setahun sekali. Itu juga nggak lama"
"Ha ha ha. Itu"
"Kamu nggak salim, sama idolamu masa kecil?" Seru bude Wati kepada Icha.
"Ha?" Icha terkesiap mendengar pertanyaan itu. Di balik maskernya, dia tersenyum malu-malu.
"Apa kabar pak, Pur?" Tanya Icha sembari salim.
"Ha ha ha. Sehat, Cha. Suamimu mana? Kata bude Wati kamu udah nikah" sahut pak Purwoko.
"He he. Iya, pak. Lagi sama bapak" jawab Icha.
"Nah. Ini kan, yang bikin kamu nggak mau maen ke sini lagi?" Seru bude wati lagi, sembari menunjuk bu Ifa.
"Enggak kok bu" tolak Icha.
"Bude ih. Malah begitu" lanjutnya.
"Ha ha ha" bude Wati tertawa melihat ekspresi kikuk Icha. Bu Ifa ikut tertawa.
"Apa kabar mbak Icha?" Tanya bu Ifa sembari mengulurkan tangannya.
"Alhamdulillah, sehat bu" jawab Icha sembari salim.
"Ha... "
Icha seperti terkejut akan sesuatu. Dia memekik lirih bagai dicubit saat salim.
"Mbak Icha?" Tegur bu Ifa, saat Icha terlihat termenung.
"Mbak?"
"Ha?" Icha terperanjat.
"Mbak Icha kenapa?" Tanya bu Ifa bingung.
"Oh, enggak. Nggak papa. Maaf, bu" jawab Icha tergagap.
"Ayo, ngeteh dulu!" Ajak mbah Har, mengalihkan suasana.
"Waduh, ngapurane mbah Har, ini Icha harus balik lagi ke pasar. Suaminya udah nunggu. Pamitnya tadi cuman nganterin aku" tolak mbah Topo halus.
"Walah. Ngono, to? Ya udah kalau gitu. Tapi kalau ada waktu longgar, maen sini ya nduk!" Sahut mbah Har.
"Insya Alloh, mbah Har" jawab Icha.
"Aku pamit dulu, mbah Har" ijin mbah Topo.
"Nggeh, nggeh. Monggo" jawab mbah Har. Keduanya lantas masuk kembali ke dalam mobil dan berlalu pergi.
"Yah. Mbah Topo itu kerja sama bapak juga, ya?" Tanya bu Ifa. Pak Purwoko dan mbah Har menoleh sambil tersenyum.
"Bukan, Fa" mbah Har yang menjawab.
"Dia dulu kerja sama juragan bebek Sido Dadi. Tapi semenjak jadi besan, mbah Topo disuruh istirahat"
"Oh. Kirain. Soalnya dulu Ifa pernah liat, mbah Topo kaya laporan gitu sama bapak"
"He he. Bapak emang suka minta tolong sama dia, kalau berkaitan sama yang nggak keliatan. Dia ngerti sih, soal begituan"
"Kalau cucunya tadi, tahu soal gaib juga, pak?"
"Kenapa emang?" Mbah Har balik bertanya sembari tergelak.
"Ya kan tadi pas salim sama Ifa, dianya sampe bengong gitu. Memangnya ada yang salah sama Ifa, pak?" Jawab bu Ifa.
"Kamu abis pegang-pegang Purwoko, ya?" Goda bude Wati. Bu Ifa menoleh dengan ekspresi bingung setengah cemburu.
"Nggak bau, kok" kata bu Ifa sembari mencium jemari kanannya.
"Mas Pur kan keringetnya nggak bau" lanjutnya.
"Purwoko sih, iya. Juniornya?"
"Ha?"
Bu Ifa terkesiap mendengar ucapan bude Wati. Dia menoleh ke arah pak Purwoko.
"Ha ha ha. Hayo loh. Ketahuan bapak, kan? Ha ha ha"
"Wati!"
Mbah Har menegur anak sulungnya. Bu Ifapun mencubit pak Purwoko sebagai ekspresi malu.
"Ha ha ha ha"
Bude Wati masih tertawa meliat ekspresi malu-malu bu Ifa. Baginya, adik iparnya itu layaknya anak remaja yang ketahuan pacaran.
"Mandi gih! Entar kita jamaah" pinta bude Wati kepada bu Ifa.
"I, iya mbak" jawab bu Ifa.
Bude Wati tertawa lagi saat keempatnya beranjak kembali menuju rumah.
Anak-anak tadi sudah kelelahan berlari dan bercanda. Mereka lantas berjalan santai. Mereka berbincang tentang sekolah Yudi dan Amira sebelumnya di kota.
"Loh. Kita lewat kebun jagung?" Tanya Yudi.
"Iya, Yud. Kalau lewat jalan gede, kejauhan. Harus pakai motor" jawab Rendi.
"Iya. Tiga kiloan" tambah Santi.
"Oke" kata Yudi mengalah.
Langit sudah hampir gelap disaat mereka menyusuri jalan di tengah-tengah kebun jagung. Kalau di kotanya, saat surup masih ada sisa sinar mentari, di sini lebih gelap lagi. Karena sinar mentarinya tertutup gunung yang menjulang tinggi.
Pohon jagung yang sudah berbuah itu praktis tingginya lebih tinggi dari badan anak-anak itu. Memberikan kesan berbeda.
"Buruan Yud! Lelet amat sih?" Seru Rista.
"Ampun dah mbak Rista. Jalan kecil begini gimana bisa lari, coba?" Sahut Yudi.
"Segini lebarnya dibilang sempit. alesan aja. Ya udah, kamu belakang aja! Nggak tahu sih, surup-surup gini banyak demit. Tahu-tahu ciluk baa gitu gimana?" Sungut Rista.
Dia mendahului Yudi. Amira yang ditarik Rista ikut menyalip Yudi. Begitupun Santi. Tapi tidak dengan Rendi dan Rafi. Mereka mempersilakan Yudi untuk berjalan duluan.
Buat Yudi, jalannya memang lebar, tapi pencahayaan yang sangat minim dari langit itu membuatnya takut salah menapak.
"Eh eh. Kita nyeberang kali, ini?" Tanya Yudi.
"Iya. Makanya kita jalan kaki, nggak pake sepeda" jawab Rafi.
"Lah. Kalau airnya tinggi?"
"Ya nggak ngaji"
Yudi hanya geleng-geleng kepala saja. Di depan, Rista menyalakan senter kecil yang dia ambil dari saku celananya. Walau kecil namun cukup terang. Mereka menaikkan celana sampai ke lutut. Mereka menuruni tangga dari batu.
"Slaman slumun slamet, kulonuwun, assalamualaikum" ucap Yudi, saat menapaki aliran sungai.
"Lah. Tahu slaman slumun slamet, si Yudi" komentar Rafi.
"Di sana juga banyak orang jawa kali. Ngomongnya masih campur-campur" jawab Yudi.
"Bisa misuh-misuh, nggak?" Goda Rendi.
"Enggak, lah. Anak baik kok" kilah Yudi.
"Jiah. Cah lanang kok nggak bisa misuh. Gimana sih, Yud, Yud?"
"Ya baguslah, sepupuku nggak bisa misuh-musuh" suara Rista membahana dari arah depan.
"Awas kalau diajari misuh!" Ancam Rista sambil mengangkat tangannya seperti ingin menabok.
"Ha ha ha"
Ketiga cowok itu nalah tertawa melihat Rista keluar galaknya. Merekapun naik menapaki tangga batu di seberang sungai.
"Masih jauh, ini?" Tanya Yudi.
"Enggak. Tinggal ngelewatin rumpun bambu aja" jawab Rafi.
"Waduh. Perasaanku kok nggak enak, ya?" Komentar Yudi.
"Makanya ayo cepet! Cowok-cowok kok jalannya lelet" seru Rista.
Merekapun mempercepat langkah jalan mereka. Angin bertiup menyapu daun-daun bambu. Menciptakan suara gemerisik yang khas.
Namun di suasana menjelang maghrib begini, rumpun bambu yang berjajar seakan tak berujung itu malah menciptakan perasaan takut. Ditambah tak adanya lampu penerangan jalan, yang membuat suasana bertambah mencekam.
Krieeeet
Kratak kratak kratak
Krieeeet
Kratak kratak kratak
Terdengar suara bambu bergerak di atas kepala bocah-bocah itu. Serentak para cewek berhenti dan balik kanan mendekati para cowok.
Krieeeet
Kratak kratak kratak
"Apa itu, Fi?" Tanya Yudi.
"Nggak keliatan, Yud" jawab Rafi.
"Senterin coba, Ta!" Perintah Rendi.
"Kamu aja, ah!" Tolak Rista. Dia berikan senternya pada Rendi. Sedangkan dia sendiri bersembunyi di balik punggung Rafi.
Krieeeet
Kratak kratak kratak
"Mas, itu apa?"
Amira ikut ketakutan. Dia bersembunyi di balik punggung Yudi. Rendi mengarahan senter Rista ke atas. Dan terlihat ada sebatang bambu yang berayun-ayun seolah mendapat beban berat.
"Kun, kun, "
Rafi tergagap menyebut sesuatu tapi tak lengkap. Matanya nanar menatap sesuatu berwarna putih di ujung pohon bambu berayun itu.
"Hi hi hi hi hi"
"Kuntilanaaaaak"
"AAAAAAAA"
Rafi berteriak lalu berlari seketika. Sontak Rista yang bersembunyi dipunggungnya terkejut dan terbawa. Rista sempat menangkap tangan Amira. Jadilah mereka bertiga berlari bersamaan. Bahkan Rendi juga ikut-ikutan berlari.
"Hi hi hi hi"
Tapi tidak dengan Yudi. Dia malah terpaku melihat kuntilanak di ujung pohon bambu itu. Rasa rakutnya membuat kakinya lemas dan tak bisa beranjak.