Malam itu udara sangat dingin karena sedang turun salju. Seorang wanita berjubah merah marun tampak sedang berlarian di tengah kegelapan hutan. Dia tidak sendiri, di belakangnya tampak seorang pria berjubah hitam yang terus mengapit langkahnya.
Sembari mendekap tubuh mungil bayi laki-laki di dadanya, wanita itu terus berlari sebisanya. Napasnya terengah-engah. Dia sudah tak kuat lagi untuk berlari. Sedangkan kejaran para musuh masih mengintai mereka.
Dengan langkah yang sudah sempoyongan, wanita itu pun berhenti di bawah sebatang pohon maple yang daunnya cukup rindang. Cukup untuk menaungi dirinya dari serpihan putih yang terus turun semakin deras.
"Ayo, Yang Mulia. Kita harus segera pergi dari sini," tukas Guru Li, pria jubah hitam yang mengapitnya. Guru Li adalah perdana menteri di istana Dong Taiyang.
"Guru Li, aku sudah tak kuat lagi untuk berlari," lirih Fang Yin, wanita yang sedang kita bicarakan tadi. Rupanya dia adalah permaisuri raja di istana Dong Taiyang, kerajaan terbesar dan termasyur di Timur.
Lantas, apa yang membuat mereka berlari di hutan malam-malam begini?
Baiklah, mari kita mundurkan sedikit waktu, dimana lima jam yang lalu saat Guru Li dan beberapa petinggi istana sedang melakukan rapat penting di ruang rapat istana.
"Yang Mulia, bagaimana jika Anda setuju saja dengan saran Pangeran Delun? Itu tidak terlalu buruk, bukan?" gagas Hong Li-Jun, salah satu petinggi istana. Pria licik itu sedang menghasut sang raja untuk menaikan pajak.
"Tidak bisa. Jika pajak dinaikan lagi, bagaimana nasib rakyat kecil? Mereka hanya bisa menikmati panen dua kali saja dalam satu tahun. Aku tetap tidak setuju," jawab sang raja tegas. Pria bernama Lu Chia-Hao itu memang seorang pria yang sangat murah hati. Rakyat Dong Taiyang sangat makmur di bawah kepemimpinannya selama lima tahun terakhir ini.
Wajahnya yang tampan berkharisma, keahliannya bermain pedang, serta pengetahuannya yang luas, membuat pria berusia 35 tahun itu akhirnya terpilih untuk menggantikan ayahnya menjadi raja selanjutnya. Ternyata hal itu memicu rasa iri dan dengki di hati dua saudara tirinya yaitu; Pangeran Delun dan Pangeran Disung.
Dua saudara tirinya itu pun akhirnya menyusun konspirasi besar untuk menggulingkan sang raja. Mereka mengajak Yang Jingmi, jenderal kepercayaan raja untuk membantu mewujudkan cita-cita mereka.
"Hentikan, Lu Cia-Hao! Turunlah dari tahtamu itu! Kau tak pantas menjadi raja Dong Taiyang!" Suara bariton itu berasal dari mulut Pangeran Delun. Pria itu berdiri menunjuk lancang pada sang raja menggunakan mata pedangnya.
Tentu saja hal itu membuat semua pejabat istana tercengang melihatnya.
"Apa yang Anda lakukan, Pangeran? Anda sudah lancang pada Yang Mulia!" sambut Guru Li yang langsung menghunus pedangnya di depan Pangeran Delun.
"Diam kau, Guru Li! Ini bukan urusanmu! Raja harus turun dari tahtanya hari ini juga!" Kali ini Pangeran Disung yang berkoar. Pria itu juga sudah berdiri dengan pedang di tangannya. Bahkan mengarahkan pedang itu pada leher sang raja.
Sedangkan sang raja sangat terkejut melihat dua saudara tirinya itu yang tiba-tiba menyerangnya. Dia pun bangkit dan segera melawan mereka. Namun Jenderal Yang segera maju dan berhasil menusukkan pedangnya tepat pada jantung sang raja.
"Kalian ...," raung sang raja yang sudah terpulai bersimbah darah di bawah singgasananya.
"Harusnya dari dulu saja aku membunuhmu, Lu Chia-Hao!" Pangeran Disung dan Pangeran Delun tertawa senang melihat sang raja meregang nyawa. Namun tak disangka tiba-tiba Yang Jingmi menyerang mereka juga.
"Kalian juga harus mati!" Yang Jingmi segera menghunus pedangnya.
"Bedebah! Apa yang kau lakukan, Yang Jingmi?" Pangeran Delun yang pertama mendapat sabetan pedang dari Yang Jingmi tak bisa berkutik lagi. Pria arogan itu pun tumbang bersimbah darah.
"Bajingan, rasakan ini!" Pangeran Disung segera maju. Namun Yang Jingmi langsung menyambutnya dengan sabetan pedang yang bertubi-tubi.
Meski Disung dan Delun seorang pangeran, namun tehnik pedang mereka sangatlah payah. Jauh dari rasa serakah mereka yang begitu besar. Ingin menggulingkan raja dengan mengajak Jenderal Yang bekerja sama, tampaknya bukanlah ide yang bagus.
Lihat saja, kedua pangeran bodoh itu akhirnya gugur di tangan Jenderal Yang. Mungkin mereka tak tahu jika Yang Jingmi juga memiliki ambisi yang besar untuk menaiki tahta kerajaan Dong Taiyang.
Bahkan, Yang Jingmi sudah mempersiapkan semuanya. Hampir semua prajurit kerajaan sudah diancamnya untuk bergabung memberontak pada sang raja. Dan kebetulan sekali dua pangeran bodoh itu mengajaknya untuk bekerja sama. Akhirnya hari ini pun tiba.
"Matilah kalian semua, keturunan dinasti Lu!" Yang Jingmi mengangkat pedangnya dengan bangga. Dia pun menoleh pada semua petinggi istana yang tampak ketakutan melihatnya, termasuk Guru Li.
"Kalian pilih sekarang, takluk padaku atau mati?" tukas Yang Jingmi dengan tatapan tajam pada mereka.
Para petinggi istana pun saling pandang antara bingung dan ketakutan.
"Cepat pilih! Aku sudah tak sabar ingin menebas leher kalian!" Yang Jingmi menodongkan pedangnya pada wajah-wajah ketakutan para petinggi istana itu dengan tatapan geram.
"Aa--aku ikut denganmu, Jenderal! Aku setuju kau menggantikan Raja Lu. Ayo, naiklah pada tahtamu, Yang Mulia." Hong Li-Jun yang takut akan kematian segera berbaik hati pada Yang Jingmi. Bahkan ia mengantarkan pria itu untuk menduduki singgasana raja.
"Bagaimana dengan kalian?!" tegas Yang Jingmi pada semua petinggi istana yang lain.
"Aku setuju!"
"Aku juga setuju!"
"Hidup Yang Mulia Raja Yang Jingmi!"
"Hidup!"
Karena rasa takutnya, para petinggi istana pun mendukung Yang Jingmi sebagai raja baru mereka. Hal itu membuat Guru Li sangat geram. Namun dia tak mungkin bisa melawan penghianat itu seorang diri.
Saat semua orang sedang mengagungkan Yang Jingmi, Guru Li segera meninggalkan ruangan rapat. Dia berlari menuju kamar Permaisuri Fang Yin. Benar, istri sang raja pasti belum mengetahui kekacauan yang sedang terjadi di ruang rapat.
Dia harus menyelamatkan permaisuri dan pangeran sebelum Yang Jingmi datang untuk membunuh mereka.
"Yang Mulia!" Terhuyung-huyung Guru Li memasuki kamar Permaisuri Fang Yin.
"Guru Li, apa yang kau lakukan? Lancang sekali kau memasuki kamarku!" Sang permaisuri marah besar melihat pria itu memasuki kamarnya. Terlebih dirinya baru saja menidurkan puteranya yang baru berusia satu tahun.
"Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi kita harus segera meninggalkan istana sekarang!" jawab Guru Li dengan wajah diselimuti aura ketakutan.
Fang Yin menatapnya heran,"Apa maksudmu?" tanyanya sembari menggendong bayinya di dada.
"Yang Mulia, Jenderal Yang Jingmi telah membunuh Raja dan kedua Pangeran Lu. Sekarang pasti dia sedang menuju kemari untuk membunuh Anda dan juga Pangeran," jawab Guru Li tanpa memadamkan wajah cemasnya.
"Apa? Jenderal Yang sudah membunuh Yang Mulia Raja?" Fang Yin sangat terkejut mendengar berita buruk itu. Sepasang netranya membulat penuh hingga pudar berkaca-kaca menatap Guru Li.
"Benar, Yang Mulia. Ayo ikutlah dengan hamba. Kita harus segera pergi dari sini," ajak Guru Li meyakinkan permaisuri.
"Tapi aku belum melihat mayat suamiku, Guru Li."
"Tak ada waktu lagi, Yang Mulia. Ayo kita pergi."
Dengan tangisnya yang tak tertahankan, sang permaisuri pun menurut. Dia segera menggendong bayinya meninggalkan istana. Namun ternyata tak semudah itu, karena Yang Jingmi mengerahkan banyak pasukkannya untuk mengejar mereka.
"Cepat cari Permaisuri Fang Yin dan bunuh dia beserta puteranya!" teriak Yang Jingmi sembari duduk di atas kudanya. Dia sudah menaiki kudanya cukup jauh untuk mengejar Fang Yin dan Guru Li.
Malam yang sangat mengerikan bagi Peemaisuri Fang Yin. Dia sangat sedih atas kematian suaminya. Namun dia harus menyelamatkan pangeran.
Itulah sebabnya malam ini dirinya dan Guru Li berada di tengah hutan.
Fang Yin menatap wajah naif puteranya. Dia tersenyum pahit memandangi wajah mungil itu. Tangannya melepaskan kain yang mengikat sang putera dari tubuhnya.
"Guru Li, pergilah dan bawa Pangeran. Tinggalkan aku di sini. Aku sudah tak kuat lagi," guman sang permaisuri sembari menyodorkan bayinya pada Guru Li.
"Tidak, Yang Mulia. Anda tak boleh menyerah. Ayo kita pergi dari sini," balas Guru Li. Dengan wajah cemas diraihnya pangeran kecil itu dari tangan sang permaisuri, lantas mendekapnya erat di antara dada kekarnya.
"Jangan pikirkan diriku, Guru Li. Cepat kau bawa pangeran pergi. Besarkan dia bersamamu," lirih Fang Yin sembari menangis.
"Tapi, Yang Mulia ..." Guru Li tampak masih ragu untuk meninggalkan permaisuri seorang diri di tengah hutan begini. Nalurinya sebagai seorang pria terasa tercabar.
"Itu mereka!"
"Ayo tangkap mereka!"
Celaka! Para prajurit Yang Jingmi sepertinya berhasil menemukan Fang Yin dan Guru Li. Suara sepatu kuda mereka pun terdengar mulai mendekat. Fang Yin dan Guru Li semakin ketakutan karenanya.
"Cepat pergi, Guru Li. Cepat!" perintah sang permaisuri sembari mendorong bahu kekar Guru Li. Sementara tangisnya tak bisa diurungkan lagi.
Guru Li sangat kebingungan. Namun tak ada jalan lain lagi, dia harus menyelamatkan pangeran. Pria berambut abu-abu sepinggang itu pun membungkuk pada sang permaisuri, lantas segera berlari menembus kegelapan hutan.
Fang Yin menangis mendengar suara tangisan bayinya. Sedangkan Guru Li terus berlari hingga terbang rendah meninggalkan hutan. Dia mendekap erat sang pangeran kecil di dadanya. Pikirannya masih pada Fang Yin yang ia tinggalkan sendiri di tengah hutan.
Entah apa yang terjadi pada sang permaisuri. Guru Li menoleh sejenak pada sang pangeran kecil yang mulai tertidur di dadanya. Dia pun terbang semakin tinggi menuju Barat.
25 Year Later..
Seorang pemuda tampak sedang berbaring di tengah ranjang yang sudah usang dimakan waktu. Tubuhnya dibasahi peluh dingin dengan bibirnya yang gemetaran, mengigau. Matanya masih tertutup rapat, namun bibirnya tak henti bersuara.
"Ibu ... ibu ..."
Kata itu terus keluar dari mulutnya dengan suara yang gemetaran. Sepertinya dia sedang bermimpi buruk. Bisa dilihat dari posisi tidurnya yang tampak tidak tenang.
"IBU!!"
Dia berteriak kali ini. Sepasang netranya terbuka seketika. Tubuhnya bangkit mengambil posisi duduk di tengah ranjang dengan napasnya yang terengah-engah seperti habis berlari kencang.
"Astaga, mimpi itu lagi," gumannya pelan masih dengan napasnya yang terengah. Dia pun mengusap wajahnya. Mimpi itu. Kenapa ia selalu mengalami mimpi buruk itu?
Tak tahu sejak kapan. Seingatnya mimpi buruk itu selalu menghantui beberapa malam dalam satu pekan di tiap tidurnya. Apa arti mimpi itu? Kenapa dia sangat gelisah setiap kali terjaga dari mimpi itu?
"Lu Sicheng, kau bermimpi buruk lagi, hah?" tanya seorang pria paruh baya sembari memasuki kamarnya. Rambut dan janggutnya tampak sudah memutih, namun wajahnya masih terlihat segar dan lumayan tampan.
"Benar, Guru Li. Aku tak mengerti, kenapa mimpi itu selalu mengganggu tidurku," jawab pemuda bernama Lu Sicheng itu dengan wajah tampak cemas.
Pria yang dipanggilnya Guru Li itu pun tersenyum tipis, lantas ia mengayunkan sepasang tungkainya menghampiri pemuda dengan hanbok putih yang masih duduk di tengah ranjang.
"Lu Sicheng, apa yang kau lihat dalam mimpimu itu? Ceritakanlah," tukas Guru Li dengan tangan kanannya yang meremas satu bahu Lu Sicheng.
"Sudahlah, itu hanya mimpi. Aku tak ingin memikirkannya." Lu Sicheng tampak tak mau bercerita pada gurunya itu. Meski dia sendiri memang sangat penasaran akan mimpinya, namun Lu Sicheng memang bukan tipikal pria yang mudah menceritakan sesuatu pada orang lain. Termasuk pria yang ia panggil dengan sebutan Guru Li itu.
Guru Li tersenyum tipis. Dia menurunkan tangannya dari bahu Lu Sicheng. Ya, dia tahu persis bagaimana sipat anak muda di sampingnya itu. Dingin dan sedikit ketus.
Lu Sicheng ini orangnya bisa dibilang seperti batu es. Itu julukkan yang diberikan oleh penduduk desa Lan Hua, desa dimana mereka tinggal. Bagaimana tidak? Lu Sicheng sedari kecil tak mudah membuka hatinya untuk berteman dengan anak sebayanya.
Dia lebih suka menyendiri. Bahkan sampai sekarang pun tetap demikian. Meski sipatnya terkesan arogan, namun tetap saja dia terlihat sangat menawan. Apa lagi para gadis di desa Lan Hua ini, mereka selalu berusaha mendekati pria batu es itu. Bagi mereka, sipat Lu Sicheng yang terkesan misterius itu membuat mereka penasaran.
Terlebih wajah Lu Sicheng yang teramat tampan dengan postur tubuh tinggi kekar, berkulit putih, rambutnya hitam panjang hampir ke pinggang. Dia terlihat berkharisma dan memukau seperti para dewa. Sedangkan sikapnya yang dingin membuat pria berusia 26 tahun itu tampak sangat berkelas layaknya para bangsawan. Meski kadang bicaranya ketus, namun hal itu justru membuat para gadis semakin gemas padanya.
Mengagumkan!
"Lu Sicheng, aku sudah semakin tua. Sepertinya kau harus mengetahui sebuah rahasia yang selama ini aku simpan." Guru Li berkata sembari menoleh pada pemuda di sampingnya itu.
"Rahasia apa? Jangan bilang jika Guru akan menjodohkanku dengan Han Siah. Hh, gadis menor itu. Aku sama sekali tidak tertarik padanya," cela Lu Sicheng dengan nada sinisnya dan rasa percaya dirinya yang meninggi.
Guru Li terkekeh mendengar ucapan konyol muridnya itu.
"Kau ini. Siapa juga yang akan menjodohkanmu dengan gadis itu? Kau terlalu percaya diri, anak muda," ledek Guru Li masih enggan memadamkan tawanya.
Sedangkan Lu Sicheng hanya terdiam tampak mulai bosan.
"Lu Sicheng, kau tahu? Dulu aku adalah seorang Perdana Menteri di istana Dong Taiyang. Namun karena suatu pemberontakkan, aku harus meninggalkan istana dan hidup di desa terpencil ini," lanjut Guru Li kemudian.
Lu Sicheng tampak tidak tertarik dengan cerita masa lalunya itu. Pemuda itu tak bereaksi sedikit pun dari diamnya. Ekor mata Guru Li melirik pada Lu Sicheng. Sial! Bocah tengik ini tak mau mendengarkan ceritanya. Namun dia tetap melanjutkan.
"Malam itu aku dan Permaisuri Fang Yin berlarian di hutan Taiyang. Permaisuri menggendong puteranya yang baru berusia satu tahun. Setelah menjauh dari istana, Sang Permaisuri menyerah karena kelelahan dan tak kuat lagi untuk melanjutkan langkahnya. Dia pun menyerahkan puteranya itu kepadaku."
Ucapan Guru Li kali ini membuat Lu Sicheng sedikit terkesiap. Pemuda itu menoleh ke arahnya seketika.
"Apa? Kenapa ceritamu itu sangat mirip dengan apa yang ada di dalam mimpiku; seorang wanita menggendong bayinya dan berlarian di tengah hutan," ucapnya dengan wajah heran.
Guru Li tersenyum tipis lantas berkata,"Apa yang ada dalam mimpimu itu adalah bayangan masa lalumu, Lu Sicheng. Rupanya Dewa Agung sudah memberimu sebuah 'titah'," ucapnya tampak bersungguh menatap dalam pada jendela hati Lu Sicheng.
"Titah dewa? Maksudmu?" tanya Lu Sicheng masih belum bisa mencerna ucapan Guru Li padanya.
Sejenak Guru Li menarik napas. Pendar matanya kian meredup. Sesaat kemudian ia berkata lagi, "Lu Sicheng, kau adalah Pangeran Lu dari Dong Taiyang. Kau adalah putera Raja Lu Cia-Hao dan Permaisuri Fang Yin. Mimpi yang terus menghantuimu itu adalah suatu pertanda, bahwa sudah tiba saatnya bagimu membalas kematian Ayahmu dan penderitaan Ibumu," ringkas Guru Li.
"Apa? Aku seorang Pangeran? Apa kau tidak sedang bergurau, Guru?" Lu Sicheng tersenyum sembari menggelengkan kepalanya kemudian. Apa-apaan ini? Apakah si tua bangka itu sedang mabuk? Kenapa bicaranya meracau begitu? Celotehnya hanya dalam hati.
"Dasar anak bodoh! Kau pikir aku sedang bergurau, hah? Aku bicara serius, Lu Sicheng!" Guru Li tampak marah kali ini.
Lu Sicheng segera memadamkan senyumnya. Bagaimanapun si tua bangka di hadapannya itu adalah gurunya. Orang yang sudah mengajari banyak hal padanya selama ini, termasuk jurus dan tehnik pedang yang sudah ia kuasai sekarang.
"Maaf, Guru. Aku hanya tak habis pikir saja. Jika aku seorang Pangeran, lantas kenapa aku harus berada di desa terpencil ini?"
"Ceritanya panjang," jawab Guru Li. Dia menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya, "Dahulu kerajaan Dong Taiyang dipimpin oleh Ayahmu, Raja Lu Cia-Hao. Beliau adalah seorang raja yang sangat baik. Rakyat Dong Taiyang sangat makmur di bawah pemerintahannya. Namun, dua saudara tirinya yaitu, Pangeran Dilun dan Pangeran Disung telah berkhianat. Mereka mengatur sebuah pemberontakkan untuk menggulingkan Sang Raja." Guru Li menoleh pada Lu Sicheng.
Pemuda itu tampak menyimak ucapannya kali ini.
"Lantas?" tanyanya dengan wajah antusias.
Guru Li mengusap jangkutnya lantas melanjutkan ceritanya lagi,"Dua pangeran itu mengajak Jenderal Yang Jingmi untuk turut serta membantu mereka menggulingkan raja. Namun siapa sangka, ternyata Jenderal Yang juga menginginkan tahta Dong Taiyang. Setelah berhasil membunuh Sang Raja di depan semua petinggi istana, dia pun membunuh dua pangeran serakah itu dengan sadis." Guru Li mengakhiri ceritanya.
"Lantas apa yang terjadi pada Ibuku?" tanya Lu Sicheng lagi.
Guru Li menghela napas lantas berkata, "Setelah Permaisuri Fang Yin menyerahkan dirimu padaku di hutan, aku tak tahu lagi apa yang terjadi padanya. Yang aku dengar, kini Yang Jingmi telah menjadi Raja Dong Taiyang. Bisa saja Yang Jingmi menahan Ibumu di istana Dong Taiyang atau membunuhnya pada malam itu juga." Guru Li meremas bahu Lu Sicheng.
Pemuda itu tampak menunduk sembari memejamkan matanya menahan emosi.
"Lu Sicheng, esok pagi berangkatlah ke Timur. Bunuh Yang Jingmi dan rebut kembali tahta kerajaan Dong Taiyang," perintah Guru Li sembari menatapnya tegas.
Lu Sicheng mengepalkan buku-buku tangannya. Amarahnya terasa mendidih seketika. Membayangkan bagaimana pria bernama Yang Jingmi itu membunuh ayahnya dan membuatnya terpisah dari ibunya.
Ya, dia harus membunuh pria itu.
Harus!
Sang surya belum menunjukkan wajahnya. Namun Lu Sicheng sudah terjaga dari tidurnya sejak beberapa saat yang lalu. Jelas. Dia tak bisa tidur tenang malam ini. Sebuah kenyataan tentang dirinya sungguh membuatnya gelisah sepanjang malam.
Kenapa?
Kenapa nasib buruk ini harus menimpanya. Ayahnya dibunuh oleh orang kepercaannya sendiri. Sedangkan ibunya? Dimana dia sekarang? Apakah masih hidup atau sudah tiada di tangan penghianat bernama Yang Jingmi itu.
Lu Sicheng berdiri sembari menatap langit yang masih kelabu. Pikirannya sudah tak sabar menunggu pagi tiba. Kakinya sudah gatal ingin melangkah ke Timur saat ini juga. Sedangkan tangannya pun sudah menariknya untuk segera pergi. Memenggal kepala Yang Jingmi segera.
"Lu Sicheng, kau sudah terjaga rupanya." Suara Guru Li tak membuat pria batu es itu menoleh padanya. Dia tampak asik sendiri dengan tatapannya yang kosong.
Guru Li mengulas senyum tipis. Sepasang tungkainya melaju mendekat sekitar satu meter dari jarak punggung pemuda di hadapannya itu.
"Langit tampak murung. Sepertinya sinar bintang sedang menggodanya untuk tersenyum. Namun langit tak punya hati dan indera perasa. Dewa sudah merenggut semua itu darinya sejak lama. Karena para Dewa cemas, kalau langit akan menghasut manusia untuk memujanya." Guru Li menggunakan sebuah kiasan untuk membuka percakapan dengan muridnya itu.
Tapi sial! Lu Sicheng si batu es itu tak merespon sedikit pun. Apakah dia tuli? Atau dia sedang mengalami sindrom tidur berjalan? Guru Li yang penasaran segera mendekat pada pemuda dengan hanbok hitam itu. Dia mencondongkan tubuhnya untuk menengok wajah Lu Sicheng.
"Hentikan tingkah konyolmu itu, Guru Li."
Guru Li terkekeh geli dengan apa yang diucapkan Lu Sicheng barusan. Astaga, pemuda yang satu ini memang sangat istinewa. Dia bahkan berani berkata sinis pada pria yang sudah membesarkannya ini, pikir Guru Li masih terkekeh geli.
"Jangan tertawa. Aku tidak senang melihamu seperti itu. Sebagai Guru Besar, harusnya kau lebih beretika, bukan? Bagaimana kalau muridmu yang lain melihatnya? Mau kau taruh dimana mukamu itu?"
Sial! Ucapannya semakin berani saja. Guru Li segera mengatupkan bibirnya. Ya, bagaimanapun Lu Sicheng adalah pangeran dinasti Lu, satu-satunya keturunan raja besar Dong Taiyang. Pantas kalau pemuda ini sipatnya sangat menjengkelkan. Dia bahkan berani menasehati gurunya itu.
"Baiklah, Batu es. Kau memang sulit untuk tertawa. Aku saja bingung padamu. Apa benar menurut para gadis di desa Lan Hua ini? Hm, sepertinya itu menang benar," ucap Guru Li terdengar sedikit mengandung makna meledek secara tidak langsung.
"Memangnya apa yang para gadis bodoh itu katakan?" Lu Sicheng bertanya tanpa mau memutar tubuhnya pada Guru Li.
Guru Li tersenyum tipis, ternyata Lu Sicheng sangat sensitif terhadap image-nya. Dia pun berkata kemudian, "Ya, para gadis itu mengatakan kalau kau adalah pemuda yang sombong, keras kepala, menyebalkan seperti batu es." tidak tanggung-tanggung Guru Li berkata. Akibatnya Lu Sicheng mengulum senyumnya.
"Guru, sebaiknya kau tak perlu mendengarkan keluhan para gadis itu. Lagi pula, berapa usiamu sekarang? Apa pantas kau mendengarkan ocehan mereka?"
Sial!
Pemuda itu berkata seenaknya saja. Guru Li jadi sedikit geram mendengar ocehannya itu. Tapi ini bukan saatnya memberi hukuman pada murid menyebalkan yang satu ini. Niatnya tadi menemui Lu Sicheng untuk sebuah tujuan khusus. Ya, lupakan ucapan konyol pemuda itu. Guru Li menghela napas. Dia segera mendekat pada Lu Sicheng. Berdiri sejajar dengan pemuda itu.
"Lu Sicheng, aku menemuimu untuk mengajakmu ke sebuah tempat. Tutup mulutmu dan ikutilah aku sekarang. Mengerti?" tukas Guru Li. Ternyata sulit juga menyembunyikan rasa kesalnya pada muridnya itu.
"Untuk apa aku harus mengikutimu? Aku sedang menunggu pagi. Kau sendiri 'kan yang berkata, aku harus berangkat ke Timur pagi ini juga," balas Lu Sicheng acuh. Wajahnya masih memandangi langit hitam di atas sana.
"Lu Sicheng!" Guru Li mendengkus kesal. Namun Lu Sicheng hanya tersenyum tipis melihatnya. Dia memang selalu begitu. Dia seperti langit yang tak punya indera perasa.
"Jangan marah-marah. Lihat usiamu, pantaskah kau bersikap seperti itu?" cetus Lu Sicheng sembari melangkah menuju keluar kamar,"ayo! Katanya tadi kau mau mengajakku ke sebuah tempat," lanjutnya setelah melangkah keluar.
"Batu es itu! Ugh!" Guru Li mendengkus kesal. Langkah cepatnya segera menyusul Lu Sicheng.
"Mau kemana kita? Kenapa menuju dapur? Apa kau ingin aku buatkan pangsit sebelum aku berangkat?" tanya Lu Sicheng sembari tersenyum tipis saat dirinya tengah berjalan bersisian dengan Guru Li.
"Bodoh. Ikuti saja. Nanti juga kau akan mengetahuinya," balas Guru Li yang masih tampak kesal pada Lu Sicheng.
"Baiklah," ucap Lu Sicheng sembari tersenyum tipis. Tangannya menyatu di belakang pinggang dengan dadanya yang membusung. Dia tampak sangat gagah.
"Itu dia, Kakak Cheng!"
"Wah, tampan sekali!"
"Kakak Cheng!"
Suara para gadis yang kebetulan sedang berada di halaman dapur rumah Guru Li. Hh, para gadis itu memang selalu datang ke rumah Guru Li sesuka hati. Bahkan mereka juga sering memasak makanan untuk Guru Li. Semua itu mereka lakukan semata hanya untuk melihat Lu Sicheng.
Lu Sicheng tampak tidak tertarik sedikit pun dengan teriakan heboh para gadis itu. Baginya, tak ada satu gadis pun yang bisa menggetarkan hatinya. Dan menurutnya, para gadis hanya akan membuatnya kerepotan saja. Ya, sejauh ini begitulah pemikirannya. Namun, kita tak tahu hari esok dan seterusnya. Bisa saja Lu Sicheng jatuh hati pada seorang gadis.
Ya, kita lihat saja nanti.
Langkah Guru Li berhenti di dalam sebuah kuil Budha yang ada di halaman belakang dapur. Lu Sicheng hanya menatap heran dengan apa yang sedang si tua bangka itu lakukan. Guru Li tampak sedang mengusap-usap sebuah relief Budha pada dinding. Dia mengusapnya begitu teliti seperti sedang mencari sesuatu.
'Apa sebenarnya yang sedang si tua bangka ini lakukan? Konyol sekali,' bathin Lu Sicheng. Bibirnya mengulas senyum tipis melihat apa yang sedang gurunya itu lakukan.
BRAAKK!
Sepasang netra Lu Sicheng membulat sempurna melihat dinding di hadapannya itu terbuka bak sebuah pintu rahasia. Apa ini? Pintu rahasia, kah? Lu Sicheng bertanya-tanya dalam hati.
"Ayo masuk, Lu Sicheng." Guru Li segera melangkah memasuki ruangan yang baru saja terbuka di hadapannya itu.
Lu Sicheng masih tercengang heran. Dia pun segera menyusul gurunya itu. Manik hitam Lu Sicheng memindai seisi ruangan. Astaga, tampak puluhan, tidak, tapi ratusan pedang dilihatnya di ruangan itu.
Pedang-pedang itu tampak tertata rapi pada dudukannya masing-masing. Sepasang netranya kemudian terpusat pada sebilah pedang yang bertandang paling ujung ruangan itu. Pedang itu berada di bawah sebuah patung Budha.
Mata pedang itu berkilauan terkena sinar lentera pada ruangan itu. Pedang yang sangat memukau.
Lu Sicheng segera melangkah menghampirinya.
"Pedang Suci Tiga Elemen. Itu adalah pedang yang biasa mendiang Ayahmu gunakan untuk menghabisi para musuhnya di medan tempur," ucap Guru Li yang sudah berdiri di samping Lu Sicheng.
Sejenak Lu Sicheng menoleh pada gurunya itu. Namun pandangannya kembali pada pedang yang bertandang di hadapannya.
"Ambilah pedang itu, Lu Sicheng. Kau adalah satu-satunya keturunan dinasti Lu. Darah mendiang Raja Lu mengalir dalam tubuhmu. Hanya kau yang bisa mengangkat pedang suci itu dari dudukannya." Guru Li berkata lagi.
Lu Sicheng menoleh padanya. Guru Li mengangguk meyakinkannya. Pemuda itu pun mengembalikan pandangannya pada pedang di hadapannya. Dengan gerakkan mantap ia segera meraih pedang itu. Mengangkatnya.
"Bagus, Lu Sicheng. Dengan ini kau sudah membuktikan, kalau dirimu memang Pangeran Lu dari Dong Taiyang. Kau adalah putera Raja Lu Cia-Hao dan Permaisuri Fang Yin. Hanya kau yamg bisa mengendalikan pedang suci itu," tukas Guru Li. Dia tersenyum kagum melihat Lu Sicheng mengangkat pedang itu.
Lu Sicheng hanya tersenyum tipis. Dia bangga pula akan dirinya. Ternyata benar, dirinya memanglah seorang pangeran.