Bab 1

(Assalamualaikum Nia, apa kabar? ini Hana, kamu di mana ni?) Rania kaget dengan panggilan yang diterimanya sore itu, tumben Suhana menghubunginya jam segini. Dia juga masih di kantor sedang menyiapkan laporan hasil meeting dengan manager bagian di perusahaan suaminya karena seminggu ini suaminya, Harris Iskandar harus pergi ke Kuala Lumpur untuk meeting dengan klien serta relasi bisnisnya, sekalian pulang kerumah keluarganya yang berada di kota itu.

"Waalaikumussalam Hana, Alhamdulillah aku sehat, ada di kantor, eh tumben call aku jam segini, kamu gimana kabarnya?" Rania menghentikan tarian jarinya di keyboard dan duduk bersandar fokus pada obrolannya dengan Suhana, sepupu Harris suaminya.

(Alhamdulillah i sehat, sengaja ingin tanya kabar mu, kenapa tak ikut Abang Is balik KL nih?)

"Mmmmm, banyak banget kerjaan di kantor, tahu sendirilah perusahaan IMF group tengah ada dipuncak kejayaan. Jadi kami bagi tugas, biar Abang Is yang meeting dan ketemu klien di sana, aku yang urus di sini."

(Baguslah kamu ni, btw tak ada plan datang sini ya? Tengah ramai tau kumpul di rumah Uncle Jamal, Nenda dan Atuk pun ada) 

Rania mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari, seingatnya sudah enam bulan dia belum pulang ke rumah mertuanya di Kuala Lumpur. Bisa juga rasanya kalau pulang kesana dalam beberapa hari. Memberi suaminya kejutan.

"Entahlah, nanti aku kabari ya kalau bisa pulang, tapi jangan kasih tau laki aku dong, aku mau buat surprise buat dia." Rania tersenyum sendiri membayangkan wajah kaget suaminya karena dia menyusul tiba-tiba.

(Oke, bawa oleh-oleh dari Jakarta buat ku tau)

"Beres itu. Aku masih ada kerja sedikit lagi, aku end call nggak apa kan?"

(Tidak masalahlah, oke see you soon Nia, assalamualaikum)

"Waalaikumussalam Hana." Panggilan diakhiri dan Rania meneruskan pekerjaan yang masih bejibun banyaknya.

Dia adalah PA dari suaminya tapi karena Harris harus pergi keluar negeri jadi dia yang merangkap memimpin perusahaan, mengagendakan dan memimpin meeting harian dan membuat laporannya, selalunya kalau ada meeting diluar kantor pasti dia akan ikut pergi, tapi sekarang tidak mungkin karena banyak urusan diperusahaan dalam minggu ini. 

Tiga tahun sudah Rania Hani berumah tangga dengan seorang pengusaha muda dan sukses dari negara Malaysia, Harris Iskandar anak dari pasangan Dato' Jamal dan Datin Maria yang tenyata masih ada darah bangsawan dari kesultanan Brunei.

Dia yang pernah terluka karena masa lalu akhirnya bisa menerima Harris sebagai pasangan hidupnya, karena kebaikan dan ketulusan Harris tentunya. Keluarga mertuanya yang memang kaya raya awalnya sangat baik dan menerima dia apa adanya, harta bukan ukuran, tapi akhir-akhir ini sikap sinis ditunjukkan lagi oleh pihak keluarga Harris, karena sebab dia belum bisa memberi waris buat mereka.

Tok tok tok

"Masuk."

"Wow, sibuk nampak." Muncul seorang lelaki muda berparas tampan, ada iras lelaki Arab kalau diperhatikan, dia adalah Zaidan sepupu Harris yang bekerja di perusahaan suaminya. 

"Zai, masuk lah."

"Aku datang mau minta tanda tangan Bu boss." 

Rania tertawa dan menggelengkan kepala mendengar ucapan Zaidan itu, sepupu ipar merangkap teman seuniversitasnya itu memang pintar bercanda.

Zaidan duduk di depan Rania dan meletakkan fail di atas meja. Rania mengangkat wajah menatap sahabat merangkap sepupu iparnya.

“Abang Is ke KL berapa hari sih Nia, sibuk amat kulihat kau ini. Jangan lupa makan pula, entar pingsan tuh laki lihat bini dia kurus kering, hehehe.”

Rania berdecak kecil, memang diakui dia sering telat makan selama seminggu ini. Ucapan Zaidan tidak salah sama sekali.

“Katanya seminggu atau dua Minggu gitu, bagaimana audit internalnya berjalan lancarkan?” Rania duduk tegak dan membuat regangan ringan, terdengar tulang-tulang dipunggungnya berbunyi gemeretuk. 

“Semua oke, team auditornya gerak cepat tau, baguslah kamu pilih team yang solid gitu.”

“Ya jelaslah, aku nggak mau main-main soal perusahaan ini, apalagi laki kagak ada di sisi, aku malas buat kerja dua kali, buang waktu aja.”

“Semua sudah clear, produksi juga bagus bulan ini, banyak permintaan dari hotel-hotel yang baru naik daun, semua mau produk kita.” laporan dari Zaidan itu membuat wajah Rania terlihat puas, tidak sabar untuk mengabarkan ini pada suaminya.

“Kalau keadaan perusahaan sudah bisa di handle aku mau ke Kuala Lumpur besok malam, gimana menurutmu Zai?”

“Wah, ada yang lagi kangen nih. Cieee... ”

“Istri mana tak kangen suami, sebenarnya aku ada urus visa seminggu lalu, rencana ikut pulang kesana sekalian aja aku nengokin mertua,” Rania membuka fail yang dibawa oleh Zaidan, dia mulai membaca sebelum memberi tanda tangan.

“Tapi besok itu mendadak sangat buk,”

“Nggak mau tahu soal itu, tidak ada bantahan di sini, siapkan tiket ku aja, untuk visa sebenarnya aku sudah memohon setelah Harris membuatnya, kupikir aku mau ikut pergi tapi Harris melarang, katanya di sini banyak kerjaan, visaku sudah jadi dan ingat tiket harus dapat tau, hubungi temen mu yang kerja di agen tiket pasti dapat.”

“Hei, udah tertular galaknya Abang Is aja kau ni.”

“Kan bini dia, ya jelaslah. Hahaha.. ” 

“Iyalah, nanti aku carikan tiket. Aku balik keruanganku dulu, bye Bu boss, Jangan suka marah nanti cepat tua, keriput, jelek. Hahaha... ”  

“Kurang asam! ngatain orang keriput.” Rania menggumpal kertas dan melemparnya pada Zaidan yang masih tertawa sambil melangkah keluar. 

Malam itu Zaidan menghubungi Rania untuk memberikan tiketnya, dan Rania segera mengirim chat pada Suhana memberitahu kalau dia besok datang ke Kuala Lumpur, Suhana menawarkan diri untuk menjemputnya, seperti orang ngantuk disorong bantal Rania langsung setuju. Dengan syarat Suhana harus merahasiakan kedatangannya, Suhana setuju-setuju saja toh dia juga tidak repot banget untuk tutup mulut karena dia sekarang tinggal di apartemennya sendiri, hadiah dari ayah tirinya Dato' Azhari, paman dari Harris Iskandar. Lagian penerbangan Rania sore hari jadi dia pasti sudah pulang dari toko bunga miliknya. Bisa menjemput istri sepupunya itu di KLIA.

“Assalamualaikum, Pa,”

Rania langsung menghubungi papanya yang tinggal di Semarang, pak Heru Pradana. 

(Waalaikumussalam Nia, gimana kabarmu nduk?)

“Alhdulillah Nia sehat pa, Papa pa kabar?”

(Papa sehat, bahkan makin awet muda. Hehehe..)

“Alhamdulillah, Alexa dimana pa?”

(Tadi keluar mau dinner dengan Haikal dan Bara)

“Bara sekarang sudah bisa apa Pa? Kangen banget sama dia.”

(Bara sudah belajar jalan, Harris mana?)

“Begini pa, besok Nia mau ke Kuala Lumpur, suami Nia sudah seminggu disana, Nia call papa mau pamitan juga.”

(Jaga diri disana ya sayang, ingat kalau sedih dan ada masalah, buka mushaf dan mengaji, biar tenang)

“Iya pa, Papa jaga kesehatan ya, salam buat mama Gisel dan Lexa. Assalamualaikum, Pa.”

(Waalaikumussalam, kamu juga hati-hati di sana).

Rania mengakhiri panggilan dan menurunkan travel bag lalu memasukkan barang-barang yang mau dibawanya. 

********

Kuala Lumpur  22.00

“Is harus nikahi dia, papa dan mama tak ingin dengar alasan lagi,” Dato' Jamal berjalan mondar mandir di ruang tamu utama rumahnya, suaranya keras membahana membuat semua yang ada disana terdiam, dia marah karena putranya buat masalah sangat besar kali ini, Harris Iskandar berdecak dan duduk tegak disebelah Nenda. Wajahnya yang selalu tampan dan rapi, sekarang tampak lesu dan kusut.

“Is sudah ada istri Ma, Pa, jangan lupa itu.”

“Apa Is juga lupa, nama keluarga kita bisa rusak kalau sampai media tahu tentang semua ini,” Dato' Jamal semakin meninggikan suaranya.

“Apa kata keluarga Safina kalau Is tak mau bertanggung jawab? bisa hancur nama kedua keluarga, pikirkan juga tentang masa depan Safina, tentang kerjasama kedua keluarga. Berita tangkap khalwat(penggerebekan) ini cepat sangat tercium oleh awak media.” Nenda mulai ikut angkat bicara.

Sementara Harris cuma diam tertunduk, wajahnya kusut. Kejadian beberapa jam lalu kembali berputar di kepalanya, wajah istrinya yang ada di Jakarta terbayang, dia semakin merasa bersalah. Dia terlalu terbawa kenangan lalu hingga jatuh ke dalam pelukan Safina lagi, mantan tunangannya dulu. Menjebak dia dalam masalah besar seperti sekarang ini.

“Pa, kita boleh bayar denda kan? tak perlu ada pernikahan. Nanti Is bicara dengan Fina. Berunding tentang ini semua,”

“Mama mau Is kahwin dengan Safina, Is mampu kalau ada istri lebih dari satu, apa kata Tan Sri Ja'far kalau tahu tentang ini.” ucapan Datin Maria di sahut dengan anggukan kepala Nenda dan yang lain. Menyetujui pemikiran Datin Maria.

“Tapi ma, Is tak mau dan tak bisa sakiti hati istri Is,” Harris masih membela diri. Enggan menurut kata keluarganya.

“Lalu ditangkap oleh JAIS (Jabatan Agama Islam Selangor) dengan keadaan setengah bugil dan memalukan tadi apa tak menyakiti hati istri Is?” ucap Atuk penuh penekanan. Harris terdiam.

“Lagipun Nenda suka dengan Safina tu, kita dah lama tunggu Is ada waris dari istri Is, sudah lama pun Is berumah tangga, tiga tahun Is kahwin tapi tidak ada anak, entah-entah istri Is itu mandul agaknya. Tak boleh kasih keturunan.” 

Di luar, tepatnya di dekat pintu utama, airmata Rania tidak mampu ditahan lagi, banjir tiada henti, sudah lima belas menit dia berdiri kaku disana tidak bisa melangkah, setelah mendengarkan semua pertikaian orang-orang diruang tamu itu, pembicaraan itu mampu meluluhlantakkan hidup dan hatinya kini,  Suhana meremas tangan Rania memberi kekuatan pada gadis itu, dia kasihan melihat gadis disampingnya, niat hati datang untuk memberi kejutan pada suami, tapi sekarang dia pula yang dapat kejutan sebesar itu.

‘Sampai hati Abang, sampai hati buat Nia seperti ini.’

Bab 2

Suhana masih menggenggam erat tangan Rania, bahu gadis itu bergetar menahan tangis, memang suara tangisnya tidak terdengar, dia mati-matian menahannya, tapi air mata tidak mampu lagi untuk disembunyikan, kecewa jangan ditanya, sakit jangan lagi dikira, pertikaian orang-orang itu membuat tulang-tulang Rania seakan lembek tanpa tenaga. 'Sampai hati kamu Abang, sampai hati.' rintih hatinya.

“Nia, sabar.” ucapan lirih dari Suhana membuat Rania semakin pilu, dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk mengadu kecuali Suhana.

“Hana, bawa aku pergi dari sini.” Rania memohon pada Suhana.

“Tidak Nia, Abang Harris harus tahu kamu ada dekat sini, takkan kamu tak mau bicara dengan dia? lebih baik minta penjelasan dengan dia langsung. Biar semua jelas dan clear.”

“Dia nggak perlu tahu sekarang, aku tak ingin ketemu dia saat ini, sakit Hana, sakit.”  Rania memukul dadanya berulang kali untuk meredakan sakit hatinya, air mata yang gugur bak air hujan derasnya, menunjukkan kalau hatinya benar-benar hancur saat ini. Suaminya kena tangkap khalwat dengan wanita lain. Baru tadi pagi dia menghubunginya mengatakan rindu padanya, mengucapkan kata cintanya untuk sang istri, betapa ironis hidup gadis itu. 

Suhana mengelus bahu Rania, lalu menarik lengannya, travel bag yang dibawa memang berukuran kecil jadi tidak terlalu berat. 

“Ayo, ikut aku. Kamu perlu tenangkan diri.” Rania hanya mengangguk, mengikuti langkah Suhana menuju ke mobil gadis itu. 

“Kamu tinggal dengan saya, tenangkan diri dulu. Besok baru kita pikir apa yang patut kamu buat. Bersabar, saya yakin kamu bisa lalui ini.” sekali lagi Rania hanya mengangguk, seperti ada yang hilang dari dirinya, semangat untuk hidup. Suara-suara tadi kembali terngiang, tangannya dikepal dengan kuat, benci dengan Harris benci dengan kebohongannya. 

Tiga puluh menit berlalu, mobil Suhana masuk di kawasan parkir sebuah restoran, dia menekan break dan menoleh pada Rania.  Air mata gadis itu membuatnya tersentuh. Tidak pernah menyangka kalau sepupunya bisa menyakiti istrinya sedemikian rupa.

“Kamu mau makan apa-apa, tak? Cakaplah, biar aku beli.”

Rania menggeleng pelan, selera makannya sudah hilang sejak tiba di rumah mewah mertuanya tadi. 

“Nia, duduk dekat sini sebentar ya, aku mau beli makanan, di rumah tidak masak. Takut lapar saat malam.”

Suhana meninggalkan Rania di dalam mobil, dia tahu Rania belum makan seharian ini, Rania lalu mencari ponselnya di dalam tas, dan  segera set mode silent. 

Kenangan pertama kali bertemu dengan Harris kembali berlayar di ingatan. Manisnya saat mereka mulai saling jatuh cinta membuat  Rania dikelilingi kebahagiaan, Harris begitu baik padanya dulu, selalu ada saat dia butuh, selalu menjadi dewa penolong ketika gadis itu sedang dalam kesulitan, suaminya selalu mendukung ketika keluarga mertuanya memojokkan tentang keturunan. Rania tidak tahu kenapa sudah tiga tahun menikah belum juga ada keturunan, padahal dia dan Harris aktif dalam hubungan suami-isteri, bahkan dulu hampir tiap hari, mungkin rizeki belum miliknya, dan dia selalu berfikiran positif pada takdirnya. 

Harris dan Rania sudah ke dokter untuk melakukan berbagai macam pemeriksaan kesehatan, hasilnya bagus. Kata dokter mereka cuma butuh kesabaran saja.

Pintu mobil kembali terbuka, Suhana masuk dengan beberapa bungkus makanan membuyarkan lamunan gadis itu. 

“Sorry, agak lama. Pelanggan di sana agak padat tadi.”

“Nggak apa, Hana.” Rania tersenyum pada Suhana.

Gadis berjilbab krem itu meletakkan barang-barang bawaannya di jok belakang, dan kembali membawa mobil keluar dari parkiran. Pikiran Rania masih dipenuhi dengan tanda tanya besar, apa benar yang didengar tadi, Harris ada hubungan dengan bekas tunangannya, Safina.

Rania ingat, beberapa kali dia bertemu dengan Safina, nama itu dulu pernah meniti di bibir ibu mertuanya, tapi dulu Datin Maria tidak suka dengan Safina karena dia meninggalkan Harris, saat mereka ada rencana mau menikah. Harris juga sempat terpuruk karena itu. Sempat membawa luka hati ke tempat yang jauh.

Pertama bertemu dengan Safina, dia sudah tidak menyukai Rania, dari cara dia memandangnya seperti Rania tidak layak untuk Harris, dia sudah pernah bertanya dengan Harris tentang siapa Safina, jawabnya juga bisa sedikit menenangkan hatinya. Tapi kenapa kini kenyataan pahit yang harus ditelan. Apa Harris memang belum bisa move on dari dia. Ya Allah, ujian apa ini? Rania teringat nasehat papanya kemarin malam. Seolah Pak Heru bisa merasakan apa yang akan terjadi padanya. Sebutir air mata yang mau jatuh dikesat dengan lengan baju. Dia melayangkan pandangan kedepan menikmati pemandangan kota Kuala Lumpur di malam hari. 

“Kita sudah sampai.” mobil berhenti di depan rumah yang berukuran lumayan besar, bagus juga lingkungannya, hanya dua tingkat dan menghadap area taman, ini cocok banget untuk membesarkan anak-anak, malam makin sepi, sudah hampir tengah malam, Rania merasa sangat capek saat ini. Setelah mobil berhenti di tempat parkir, mereka keluar dan Suhana mengajak untuk masuk kedalam rumah. 

“Ini kamarmu Nia, jangan segan tahu, anggap aje ini rumah sendiri. Meskipun tidak semewah di Jakarta.”

“Kamu tinggal sendiri ya, rumahnya masih bersih banget. Tidak perlu mewah Hana, yang penting nyaman.” 

“Tahun lalu papa hadiahkan rumah ini buatku, bertepatan hari pembukaan usaha kedai bunga milikku, dan tahun kemarin juga aku mulai tinggal di sini, balik ke Sabah beberapa bulan sekali saja.” Suhana menarik travel bag Rania masuk ke dalam sebuah kamar yang rapi tata ruangnya. 

“Sorry kalau agak berantakan, aku belum ada asisten rumah tangga, hanya bayar orang untuk kemas dua minggu sekali.”

“Ini sudah cukup kok, terima kasih.” Suhana mengangguk dan menepuk bahu Rania.

“Cari aku kalau kamu butuh teman cerita, aku ada.” ketulusan di balik ucapan Suhana meruntuhkan tembok pertahanan Rania, dia menangis lagi akhirnya, Suhana menarik Rania dalam dekapannya, menepuk pelan punggung gadis itu.

“Aku tidak tahu apa yang membuat suamiku melakukan itu Hana, ini terlalu mendadak, apa karena kami belum punya keturunan, atau karena Harris masih cinta sama dia, aku merasa gagal sebagai istri, aku tidak berguna.”

Suhana menggosok bahu Rania perlahan berusaha menenangkannya. 

“Sssstttt, tidak benar itu, bukan kamu yang gagal dalam hal ini Nia, yang gagal itu Abang Harris, dia gagal menjaga hati istrinya, dia gagal menolak godaan Safina, sabar dan yakinlah kalau ini ujian yang bisa kamu lalui.” 

Rania melepaskan pelukan dia membuka jilbab yang dipakainya, Suhana membuka lemari dan mengambil handuk, lalu memberikannya pada Rania. 

“Bersihkan diri, ada shower air panas, kalau mau makan ke dapur ya, aku juga mau bersihkan badan.”

“Sepertinya aku tidak lapar,”

“Ya sudah, kalau gitu makanannya aku simpan di kulkas saja.”

Ponsel Rania bergetar, ada panggilan wa*ttsap masuk dari suaminya. Rania membiarkannya tidak mau menjawab, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, lelahnya agak berkurang setelah dia membersihkan diri, dia memejamkan matanya, tidak mau bicara dengan Harris meskipun hanya lewat panggilan telepon. Dia butuh ketenangan juga ruang untuk sendiri. 

Harris tidak akan menyangka kalau Rania sudah mendengar semuanya. 

*****

“Tadi malam itu saya seperti melihat Rania disini Mak,” Art yang bernama Tuti itu memberitahu Mak Bedah yang sedang sibuk membuat cucur udang. Tuti tidak tahu ada Harris yang sedang mengambil air di dalam kulkas, Harris langsung menoleh pada Tuti.

“Kak Tuti salah lihat kali. Istri saya ada di Jakarta sekarang.” Ucapan Harris itu seolah menenangkan hatinya sendiri, bagaiman jika yang dikatakan Tuti itu benar. 

“Iya Tuan Is, saya ndak mungkin salah lihat. Wong dia datang dengan Non Suhana.” 

Harris segera meninggalkan dapur dan kembali naik ke kamarnya, ‘Matilah aku kalau yang dikatakan Tuti itu benar.’

Sekali lagi Harris menghubungi nomor istrinya, tersambung tapi tidak diangkat, sudah lebih dari 30 kali tapi tidak dijawab. Harris nekad menghubungi sepupunya Zaidan, dia yakin Zaidan tahu sesuatu. 

(Assalamu'alaikum, pengantin baru stok lama, sudah jumpa bini tercinta kan?)

Keringat dingin tiba-tiba keluar dari tubuh Harris. 

“Maksud nya apa Zai?”

(Rania menyusul Abang kemarin, buat-buat bodoh pula)

“What? Jadi benar Rania datang tadi malam,”

Harris jatuh terduduk di atas tempat tidur. 

‘Maafkan Abang sayang, maafkan abang. Abang kalah dengan nafsu.’

Bab 3

Harris menghubungi Suhana, dia yakin Rania sedang marah padanya sekarang, dan dia juga yakin Suhana tahu tentang keberadaan istrinya di mana.

Setelah beberapa kali deringan, panggilan diangkat.

(Assalamu'alaikum, iya Abang, ada apa?)

“Waalikumussalam, Rania mana, istri aku mana?”

(Wait Abang, itukan istri Abang, kenapa tanya pada Su?)

“Jangan berpura-pura tidak tahulah Su, malam tadi Su ada bawa Nia ke sini kan?”

(Kata siapa Abang?)

“Abang tak butuh bantahan, yang Abang ingin jawaban, di mana Rania sekarang!” Suhana tertawa kecil.

(Mana Su tahu? Nia 'kan istri Abang, call ponsel dia, ada nomor dia kan? Atau Abang yang terlalu asik enjoy dengan itu betina sampai Abang Is lupa bini sendiri dimana!) Suara Suhana semakin meninggi. 

“Jangan kurang ajar dengan Abang Su, ini last warning! Di-ma-na-is-te-ri-Abang?”

Tut Tut Tut...

Panggilan diakhiri, Harris melempar ponselnya di atas kasur, dia kusut saat ini, telepon istrinya tidak bisa dihubungi dan sepupunya tidak mau berterus terang padanya. Akhirnya Harris bersiap untuk kerumah Suhana. Pria itu turun dan mencari ibunya di dapur, tapi Datin Maria tidak ada di sana. Harris ke taman belakang, sore hari begini pasti ibunya ada di taman bunga Orchid kesayangannya. 

“Is mau kemana terburu-buru begitu?”

“Is mau ke luar sebentar Ma, ada urusan.”

“Hei, urusan pernikahan Is dan Fina bagaimana? Kenapa belum buat persiapan sama sekali, 3 hari lagi Is, singkat sangat tuh waktunya.”

Harris memejamkan mata seketika, pikirannya semakin kalut. Dia memegang kepalanya. Pusing.

“Ma, kita bicara tentang itu nanti, biar Is selesaikan urusan Is dulu.”

“Okay, take care. Dan ingat! Jangan kecewakan Mama.”

“Is akan coba ma,” Harris mencium tangan Datin Maria lalu menuju pintu utama.

Datin Maria mengerutkan dahi, ada urusan apa sebenarnya, kelihatan masalahnya sangat besar. Putra sulungnya itu kelihatan kusut dan banyak pikiran. Datin Maria kembali fokus pada bunga-bunga kesayangannya. Tangannya kembali memotong daun-daun yang mulai menguning.

****

Di rumah Suhana

Harris sedang berdiri di ruang tamu, tegang seolah sedang menunggu panggilan dari hakim mahkamah. Ponselnya dari tadi berdering, Safina terus menelpon sejak dia keluar rumah tadi, tapi karena pikirannya kusut dia tidak mau menjawab panggilan itu.

Masalahnya dengan sang istri harus diselesaikan dulu.

“Assalamualaikum.” Rania meraih tangan Harris dan menciumnya seperti selalu. Hatinya sakit membayangkan tangan itu sudah menyentuh wanita lain. 

“Waalaikumussalam Sayang, Sayang kemana saja, Abang call kenapa tidak diangkat, chat juga tidak dibalas?” Harris membawa Rania dalam dekapan hangatnya. 

“Nia ada Abang, Nia ada bahkan bisa mendengar pertikaian besar keluarga di rumah orang tua Abang tadi malam.” Rania meleraikan pelukan, wajahnya memerah, ada kesedihan di sana.

Rania mencoba menyembunyikan air matanya. Dia mempersilakan suaminya untuk duduk. Setelah Harris duduk, ia pergi ke dapur mengambil air untuk suaminya. Dan kembali dalam beberapa menit sambil membawa air dan biskuit. Rania duduk di depan Harris dan menatap suaminya yang kini juga menatapnya lekat. 

“Kenapa datang tak kasih tahu Abang? Sayang sehat?”

“Niat Nia mau kasih Abang surprise, tapi siapa sangka Nia yang dapat surprise sebesar ini.”

Rania menyindir dengan tersenyum pahit.

Harris tidak mampu menatap mata istrinya. Ada lautan kekecewaan di sana. 

“Kita pulang ke rumah mama setelah ini.”

“Tidak, sebelum Nia dapat penjelasan dari bibir Abang.”

“Nanti Abang akan jelaskan di sana.” 

“Nia mau penjelasan itu sekarang Abang, give me explanation Abang.”

“Maafkan Abang, Abang khilaf.”

Rania berdiri lalu berbalik dan membelakangi suaminya, airmata yang mengalir diusap dengan jarinya, dia tidak siap mendengar cerita yang akan menghancurkan kepercayaannya pada sang suami, tapi dia ingin kejujuran Harris padanya.

Harris mendekati Rania, dia berlutut di belakangnya. Tubuh istrinya itu bergetar menahan tangis, menahan luka hatinya yang sangat perih saat ini. Kepercayaannya sudah dinodai, pernikahannya sudah dicemari. 

“Abang khilaf, Abang terlena dengan rayuan Safina, maafkan Abang, Sayang.” Harris merayu, suaranya terdengar lirih dan penuh sesal. 

“Jadi benar Abang tidur dengan dia? Abang lupa dengan janji Abang pada Nia dulu, sampai hati Abang, sampai hati Abang menodai kepercayaan Nia sama Abang, kenapa Abang, kenapa?” akhirnya tangis Rania pecah juga, jantungnya seolah diperas, sakit. Hatinya seperti dicincang halus, hancur menjadi potongan-potongan kecil. Cinta dan kesetiaannya disia-siakan oleh sang suami. 

“Maafkan Abang, tolong maafkan Abang,”

“Sekarang Abang pilih, Pernikahan kita atau dia.” Rania berkata masih belum menoleh pada suaminya, dia membiarkan Harris tetap berlutut di belakangnya, tangannya yang tadi ada dalam genggaman sang suami ditarik paksa. Mengepal kencang dan dilipat di depan dada. Tidak Sudi disentuh.

“Tolong mengerti Abang, jangan beri Abang pilihan sulit,”

“Maksud Abang apa?” 

“Abang harus menikahinya, atau Abang di coret dari daftar keluarga.” seperti batu besar yang menindih dadanya, napas Rania sesak. Udara di dalam ruangan itu seperti tidak cukup untuk bernapas. Airmata semakin deras mengalir, sebenarnya kakinya lemah setelah mendengar ucapan suaminya tadi, kesalahan sebesar itu dibilang khilaf. Hatinya sakit!

‘Semudah itu kau minta maaf, setelah kesalahan sebesar itu Abang, sampai hati.’

“Semua sudah jelas sekarang, Abang boleh pergi. Biarkan Nia tenang di sini.”

“Tidak, Nia harus ikut Abang pulang, Nia istri Abang, tempat Nia di sisi suami,”

“Abang ditunggu semua orang di rumah sekarang, mereka menunggu keputusan dari Abang.”  suara Rania begitu lemah. Dia tidak berdaya, dia tidak sanggup melihat suaminya harus berada dalam pilihan yang sulit, keluarga mertuanya sangat membencinya. Dan dia sadar kebencian itu semakin parah setelah usia pernikahannya masuk di tahun ketiga. 

“Abang cinta Nia, Abang tidak akan tinggalkan Nia, meskipun harus menikahi Safina.”

“Bohong, itu bukan cinta, itu egois namanya.”

“Tidak! Abang tidak bohong Sayang, Abang cinta Nia sampai kapanpun. Nia akan tetap jadi istri Abang.”

“Nia tidak mau dengar apapun lagi saat ini, biarkan Nia sendiri.”

Rania meninggalkan Harris yang masih berlutut di atas lantai, dia melangkah tanpa menoleh dan masuk kedalam kamar. Tangisannya kembali pecah di sana.  

“Kenapa Abang, kenapa buat Nia seperti ini.” rintihan Rania begitu memilukan hati.

Rania terus menangis di dalam kamar tamu rumah Suhana, sementara di luar kamar, Harris masih berlutut dan mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Bohong jika hatinya tidak tersentuh, bahkan cintanya masih untuk istrinya itu, ingin sekali Harris masuk ke dalam kamar itu dan memeluk istrinya, memberinya ketenangan, tapi dia tahu saat ini istrinya itu tidak mau diganggu. Kekesalan hatinya adalah kenapa dia gagal melawan godaan, kesalahannya dia tidak mampu menjaga kesetiaan pada istrinya. 

Harris berdiri ketika melihat Suhana keluar dari kamarnya. 

“Untuk apa menangis di sini? semua orang di rumah Uncle sudah menunggu kepulangan Abang. Mau Abang menangis darah pun, tidak akan mampu mengubah kenyataan.” Harris mengangkat wajahnya yang sembab dan menatap wajah Suhana, gadis manis itu mengulurkan kotak tisu padanya.

“Su tahu darimana?”

“Tadi Suhaiza call sebelum Abang sampai, dia tanya Abang kesini tak? semua orang tengah cari Abang, Tan Sri Ja'afar dan keluarga juga ada disana.”

Harris mengeluh perlahan, Tan Sri Ja'afar adalah papa Safina, pasti kabar ini sudah sampai di pihaknya. Tadi malam saat penggerebekan memalukan itu Tan Sri dan istrinya masih berada di London tidak bisa datang ke pejabat JAIS. Dan sekarang sepertinya dia baru saja sampai dari luar negeri.

“Baliklah Abang, biarkan Nia di sini, dia butuh ketenangan.”

“Abang yang tak tenang Su, Abang sudah gagal menjadi seorang suami, Abang sudah menyakitinya.” wajah Harris penuh penyesalan.

“Kapan Abang menikah dengan Safina,”

“Tanggalnya belum jelas, tapi harus dalam Minggu ini,”

“Kenapa family Uncle tidak bayar denda saja?”

“Abang sudah minta dengan mama, tapi mama bersikeras untuk Abang menikahi Safina.”

“Dan Abang lemah, apa Abang harus ikuti kemauan mereka?”

Suhana berdecak kecil, kesal dengan sikap sepupunya yang tidak bisa memilih. Terlalu menuruti ucapan Datin Maria.

“Semua karena anak, Nenda dan mama selalu menuntut Abang dan Nia agar ada waris, tapi belum ada rezeki kami.”

“Itu bukan salah Rania Abang, masih boleh usaha kan?”

“Papa ada projek besar dengan Tan Sri Ja'afar, dan jika dibatalkan akan mengalami kerugian besar, bernilai milyaran, Tan Sri tidak mau malu karena media sudah tahu tentang penggerebekan itu. Nama besar Tan Sri bisa hancur kalau putrinya tidak jadi menikah.” 

“Ini bukan lagi soal anak Bang, tapi lebih pada bisnis, pada jual beli, dan Safina mengambil keuntungan dari keadaan ini. Perempuan ular!” 

Suhana mulai marah besar. 

“Cukup Su, dia calon istri Abang sekarang. Mungkin 3 hari lagi kami menikah.”

“What??”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED