Sampul Novel I Love My Mother's Ex Lover

I Love My Mother's Ex Lover

8.0 / 10.0
Hampir dua dekade Song Dasom mengagumi aktor Yoo Junsu dalam diam. Impiannya seolah nyata saat sang idola membalas cintanya dan mereka mulai berpacaran. Namun, Junsu menyimpan niat terselubung. Ia hanya memanfaatkan Dasom yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya, yang tak lain adalah ibu kandung Dasom. Begitu kedoknya terbongkar, Junsu harus bersujud memohon maaf. Kini, di tengah kepedihan mendalam, keduanya mencoba bertahan dan saling menyembuhkan luka.
Ringkasan I Love My Mother's Ex Lover
Hampir dua dekade Song Dasom mengagumi aktor Yoo Junsu dalam diam. Impiannya seolah nyata saat sang idola membalas cintanya dan mereka mulai berpacaran. Namun, Junsu menyimpan niat terselubung. Ia hanya memanfaatkan Dasom yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya, yang tak lain adalah ibu kandung Dasom. Begitu kedoknya terbongkar, Junsu harus bersujud memohon maaf. Kini, di tengah kepedihan mendalam, keduanya mencoba bertahan dan saling menyembuhkan luka.
Baca Selengkapnya

I Love My Mother's Ex Lover Bab 1

"Ah, maafkan ak—" Dasom menggantungkan kalimat, lehernya berkontraksi, kepalanya kini menengadah, membuat dua manik mata cokelatnya menatap jelas wajah itu. "Ahjussi," ujarnya lirih, terpesona sekaligus tak percaya. Orang itu orang yang disukainya sejak ia masih orok. Kebetulan yang indah sekali bisa bertemu dengannya satu banding satu seperti ini, pada waktu yang tak terduga, tempat yang terduga namun sulit menemukan momennya, Dasom bertemu dengan lelaki yang ia puja dengan seluruh kata manisnya.

Yang dipanggil langsung membuka matanya lebar-lebar. "Ahjussi?" tanya pria itu sedikit sebal. Kedua alis tebalnya naik ke atas, sungguh pemandangan yang mematikan untuk Dasom. Belum lagi tubuh kokohnya yang dibalut kemeja dan sweter merah marun. Betul-betul mengajak Song Dasom untuk menjadi gila mendadak!

"Junsu Ahjussi! Aku penggem—" Lelaki itu meletakkan jari telunjuk di bibir Dasom, menghentikan si gadis menyelesaikan kalimatnya. Apaaa? Tangannya menyentuh bibir Dasom pada kali pertama bertemu? Astaga. Kalau begini, Dasom tidak akan fokus bertemu laki-laki di 'dunia nyatanya'. Di pikirannya hanya akan bertengger Yoo Junsu seorang. Tak lekang oleh waktu. Dibuktikan dengan 17 tahun rasanya yang tak memudar, justru semakin menguat, mengakar. Hampir seumuran dengan umur pernikahan orang tua Dasom—21 tahun—ia menyukai aktor kebanggaan negara itu, Yoo Junsu.

"Pertama-tama, aku bukan ahjussi-ahjussi," jelas Junsu sambil menyilangkan tangan di depan dada. Imut sekali kalau kata Dasom. Ah, ia akan selalu mengatakan imut kalau itu Yoo Junsu. Selain imut, kata yang bisa ia keluarkan hanyalah kata-kata pujian lainnya. Begitulah kalau sudah menjadi budak cinta namun tak menyadari bahwa ia telah menjadi budak.

"Tapi umur Ahjus ... ah, maksudnya, umur Oppa sudah tu ... 36 tahun," cicit Dasom. Agak berdebar juga jantungnya melihat idola yang sangat disukai berdiri tepat di hadapannya. Meski 183 cm tinggi lelaki itu sedikit mengintimidasinya—yang cuma 159 cm—ia tak apa.

Junsu mendekatkan wajahnya ke wajah Dasom. Gadis itu salah tingkah, ia tak tahu ternyata idolanya bisa bersikap gila seperti ini. Melihat Dasom bertingkah aneh, Junsu yang tadinya mau berucap, mendadak mengurungkan niatnya, lalu tersenyum dengan bibir kecil itu. Senyum yang selalu membayang-bayangi Dasom setiap waktu.

"Mau minta tanda tangan boleh?" tanya Dasom gagap.

Junsu mengerjapkan kelopak matanya dua kali, sebelum akhirnya tertawa renyah. "Kau hidup di tahun berapa, sih? Memang masih zaman meminta tanda tangan?" tanya pria itu meremehkan.

"Tidak boleh, ya?" Dasom balik bertanya dengan polos. Junsu langsung tertawa lagi. Ah, lelaki itu tak hentinya membuat jantung Dasom berdebar tak karuan. Kurang ajar.

"Junsu-ssi?" Suara sekumpulan wanita menghentikan scene senyum-senyum manis ala Yoo Junsu.

Junsu berbalik membelakangi Dasom. Diam-diam, Dasom mengintip dari balik punggung lebar Junsu. Mentang-mentang kecil, penglihatan Dasom ditutup layaknya tembok yang ditempeli kertas wallpaper saja.

"Hai! Mau foto?" tanya Junsu ramah kepada sekumpulan anak SMA itu. Gadis-gadis langsung menyerbunya, membuat Dasom tersingkir.

Setelah sesi foto-foto dadakan selesai, gadis-gadis itu pergi dengan senyum merekah di wajah mereka. Kalau dipikir-pikir lagi, sungguh beruntung para penggemar itu tidak memcerca Junsu dengan ribuan pertanyaan ketika melihat Dasom ada di sana.

Junsu berbalik, menatap intens Dasom yang masih bengong melihat kepergian gadis-gadis SMA tadi. "Hei? Jadi minta tanda tangan?" tanyanya.

"Eh? Oh, iya, jadi. Ini ..." Dasom mengeluarkan buku dan pensil dari dalam ranselnya—lebih tepatnya ransel adiknya, "di sini," katanya ragu.

Sama dengan Dasom, Junsu menerima buku dan pensil itu dengan ragu. "Yakin kau mau aku menggunakan pensil saja?" tanya Junsu, menimang pensil kecil dalam tangannya yang besar nan kokoh. Pelan, Dasom mengangguk. Ia baru pulang dari menjemput adiknya yang masih TK, jadi tak membawa alat tulis lain selain pensil dan krayon. Masa iya Junsu ia suruh menandatangani kertas dengan krayon?

"Padahal ini bisa cepat hilang." Junsu mengangguk paham. Lelaki itu membuka-buka buku tulis yang Dasom serahkan padanya. Ia terus membuka, mencari halaman yang kosong, tetapi tidak ada. "Penuh," komentarnya sambil menampakkan setiap kertas yang terisi tulisan adik Dasom yang tidak rapi sama sekali.

Sembari menghela napas kecewa, Dasom berniat mengambil buku itu dari tangan Junsu, tetapi pria itu mendadak mengangkat tangannya. Otomatis, Dasom tak mampu menggapainya.

"Ada buku lain?" tanya Junsu masih dengan satu tangan mengudara. Dasom menggeleng.

"Kita hapus saja tulisan di salah satu lembarnya," usul Junsu. Menurut, Dasom langsung mengambil penghapus.

Junsu menyerahkan buku itu kepada gadis dengan rambut sebahu di hadapannya. Dasom dengan sigap menghapus tulisan cakar ayam adiknya sebanyak dua halaman sekaligus, lalu menyerahkannya kepada Junsu.

"Hmm, masih ada bekasnya," ujar Junsu.

Dasom mendesah pelan. "Adikku memang seperti itu. Dia menekan tangannya sekuat tenaga waktu menulis," katanya putus asa.

Junsu tersenyum. "Tidak masalah," katanya.

"Ya?" Dasom membelalakkan mata melihat bagaimana kebaikan Junsu yang di luar batas normal itu terlihat.

"Balik badan," suruh Junsu.

"Hah?" Dasom melongo.

Junsu tak menghiraukan kekeongan Dasom, langsung memegang pundak gadis yang seperti anak kecil di hadapannya itu, membalikkannya. Ia sedikit menunduk, meletakkan buku di punggung Dasom, menjadikannya meja dadakan. Ia membubuhkan tanda tangan sebelum akhirnya berkomentar, "Mejanya sempit."

"Di rumah ada meja," ujar Dasom, menyembunyikan detak jantungnya yang setiap saat mungkin bisa saja terdengar oleh Junsu.

"Jadi aku harus mampir ke rumahmu?" Junsu menyeringai.

"Ahjussi sembarangan. Tapi tidak apa-apa, sih," Dasom berucap. Dia seperti orang gila sekarang karena sikap Junsu.

Seperti saat pertama mereka bertemu beberapa waktu yang lalu, kedua mata Junsu terbuka lebar begitu Dasom menyebutnya ahjussi. "Sudah kubilang, aku bukan ahjussi," belanya.

"Tapi Kakak lahir tahun 1984," cicit Dasom takut-takut.

Junsu berdecak. "Memang kau lahirnya tahun berapa? 1990?" tebaknya.

"2001." Dasom mengatupkan mulut cepat-cepat selesai menyebut tahun lahirnya.

Junsu terdiam mendengarnya. Detik berikutnya, ia berseloroh, "Tapi kau terlihat seperti ahjumma-ahjumma," kilahnya. Semua orang yang punya mata tidak akan setuju dengan pernyataan Junsu. Nyatanya, Dasom masih terlihat seperti anak kecil.

"Ih, saya masih muda!" gerutu Dasom.

"Aigoo, kalau marah langsung berbahasa formal, ya? Tadi waktu pertama ketemu saja kau tidak sopan," goda Junsu.

"Eh, aku tidak sopan, Ahj ... maksudku, Oppa?" Dasom memukul pelan mulutnya.

"Aku-ahjussi. Itu tidak sopan. Harusnya saya-Anda," kata Junsu meledek.

"Oke. Saya minta maaf. Terima kasih, ya, untuk tanda tangan ini. Saya minta maaf sudah mengganggu waktu Anda. Hati-hati ke mana pun Anda pergi, ya. Saya penggemar Anda," ujar Dasom penuh senyum tulus. Ia lalu berjalan pergi meninggalkan Junsu tanpa persetujuan lelaki itu.

"Eh, tunggu dulu! Mau ke mana?" Pertanyaan Junsu membuat Dasom berhenti melangkah, lalu berbalik.

"Kita belum berfoto," ujar Junsu sambil mengeluarkan ponselnya. Kali ini gantian, tanpa menunggu persetujuan Dasom, Junsu sudah berjalan pasti ke arahnya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi I Love My Mother's Ex Lover

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali meminta cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru menurunkannya di jalan demi menjawab telepon sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan berani pergi. Dia tidak sadar bahwa pengabaiannya kali ini telah melewati batas. Di sisi lain, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera menyelesaikan perceraiannya dan pergi meninggalkan negara ini untuk selamanya.
Sampul Novel Derita Menantu Jelita
9.1
Kehidupan dalam novel modern ini berubah drastis setelah kecelakaan membuat sang suami lumpuh. Situasi kian rumit saat ayah mertua pindah tinggal bersama mereka. Didorong obsesi memiliki keturunan demi meneruskan garis keluarga, sang suami nekat memasukkan obat secara diam-diam ke dalam minuman istri dan ayahnya sendiri. Sejak peristiwa tersebut, hubungan mereka berubah menjadi misteri penuh ketegangan, di mana segala sesuatunya mulai berjalan di luar kendali dan tanpa arah.
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
8.4
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica harus menelan pil pahit di hari ulang tahun pernikahannya. Alih-alih merayakan momen spesial, dia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam suaminya, Rio Aditya. Rio ternyata berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa rasa cinta yang tersisa dan waktu yang kian menipis, Jessica memutuskan untuk merelakan semuanya, bersiap pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali dengan membawa wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menawarkan janji pernikahan palsu demi menikahi perempuan itu. Sebagai putri bangsawan sekaligus menantu dari dinasti konglomerat, aku menolak menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan ini, aku akan memastikan dia jatuh miskin tanpa sisa.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menguak sisi kehidupan tersembunyi yang jarang dibahas. Di balik topeng kesucian, terdapat luka mendalam, dilema, serta kerinduan emosional yang rumit. Melalui penyampaian yang realistis dan eksplisit, Anda diajak merenungkan jati diri di tengah kegelapan demi meraih titik terang. Sebuah bacaan penuh makna tentang pencarian hakikat hidup dan cinta yang berliku, siap memberikan sudut pandang baru yang mendalam bagi pembacanya.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota, pemuda malas berumur dua puluh tahun, lebih memilih menganggur dan bermain gawai meski otaknya sangat licik. Tabiat buruk ini membuat ibunya, Artisa, merasa sangat khawatir. Sebagai pekerja keras yang juga punya sisi licik, Artisa bertekad merombak total kepribadian putranya. Ia pun memilih cara ekstrem dengan mengubah wujud fisik Sota. Akankah rencana drastis sang ibu berhasil mengubah jati diri Sota melalui transformasi tubuh tersebut?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED