"Ah, maafkan ak—" Dasom menggantungkan kalimat, lehernya berkontraksi, kepalanya kini menengadah, membuat dua manik mata cokelatnya menatap jelas wajah itu. "Ahjussi," ujarnya lirih, terpesona sekaligus tak percaya. Orang itu orang yang disukainya sejak ia masih orok. Kebetulan yang indah sekali bisa bertemu dengannya satu banding satu seperti ini, pada waktu yang tak terduga, tempat yang terduga namun sulit menemukan momennya, Dasom bertemu dengan lelaki yang ia puja dengan seluruh kata manisnya.
Yang dipanggil langsung membuka matanya lebar-lebar. "Ahjussi?" tanya pria itu sedikit sebal. Kedua alis tebalnya naik ke atas, sungguh pemandangan yang mematikan untuk Dasom. Belum lagi tubuh kokohnya yang dibalut kemeja dan sweter merah marun. Betul-betul mengajak Song Dasom untuk menjadi gila mendadak!
"Junsu Ahjussi! Aku penggem—" Lelaki itu meletakkan jari telunjuk di bibir Dasom, menghentikan si gadis menyelesaikan kalimatnya. Apaaa? Tangannya menyentuh bibir Dasom pada kali pertama bertemu? Astaga. Kalau begini, Dasom tidak akan fokus bertemu laki-laki di 'dunia nyatanya'. Di pikirannya hanya akan bertengger Yoo Junsu seorang. Tak lekang oleh waktu. Dibuktikan dengan 17 tahun rasanya yang tak memudar, justru semakin menguat, mengakar. Hampir seumuran dengan umur pernikahan orang tua Dasom—21 tahun—ia menyukai aktor kebanggaan negara itu, Yoo Junsu.
"Pertama-tama, aku bukan ahjussi-ahjussi," jelas Junsu sambil menyilangkan tangan di depan dada. Imut sekali kalau kata Dasom. Ah, ia akan selalu mengatakan imut kalau itu Yoo Junsu. Selain imut, kata yang bisa ia keluarkan hanyalah kata-kata pujian lainnya. Begitulah kalau sudah menjadi budak cinta namun tak menyadari bahwa ia telah menjadi budak.
"Tapi umur Ahjus ... ah, maksudnya, umur Oppa sudah tu ... 36 tahun," cicit Dasom. Agak berdebar juga jantungnya melihat idola yang sangat disukai berdiri tepat di hadapannya. Meski 183 cm tinggi lelaki itu sedikit mengintimidasinya—yang cuma 159 cm—ia tak apa.
Junsu mendekatkan wajahnya ke wajah Dasom. Gadis itu salah tingkah, ia tak tahu ternyata idolanya bisa bersikap gila seperti ini. Melihat Dasom bertingkah aneh, Junsu yang tadinya mau berucap, mendadak mengurungkan niatnya, lalu tersenyum dengan bibir kecil itu. Senyum yang selalu membayang-bayangi Dasom setiap waktu.
"Mau minta tanda tangan boleh?" tanya Dasom gagap.
Junsu mengerjapkan kelopak matanya dua kali, sebelum akhirnya tertawa renyah. "Kau hidup di tahun berapa, sih? Memang masih zaman meminta tanda tangan?" tanya pria itu meremehkan.
"Tidak boleh, ya?" Dasom balik bertanya dengan polos. Junsu langsung tertawa lagi. Ah, lelaki itu tak hentinya membuat jantung Dasom berdebar tak karuan. Kurang ajar.
"Junsu-ssi?" Suara sekumpulan wanita menghentikan scene senyum-senyum manis ala Yoo Junsu.
Junsu berbalik membelakangi Dasom. Diam-diam, Dasom mengintip dari balik punggung lebar Junsu. Mentang-mentang kecil, penglihatan Dasom ditutup layaknya tembok yang ditempeli kertas wallpaper saja.
"Hai! Mau foto?" tanya Junsu ramah kepada sekumpulan anak SMA itu. Gadis-gadis langsung menyerbunya, membuat Dasom tersingkir.
Setelah sesi foto-foto dadakan selesai, gadis-gadis itu pergi dengan senyum merekah di wajah mereka. Kalau dipikir-pikir lagi, sungguh beruntung para penggemar itu tidak memcerca Junsu dengan ribuan pertanyaan ketika melihat Dasom ada di sana.
Junsu berbalik, menatap intens Dasom yang masih bengong melihat kepergian gadis-gadis SMA tadi. "Hei? Jadi minta tanda tangan?" tanyanya.
"Eh? Oh, iya, jadi. Ini ..." Dasom mengeluarkan buku dan pensil dari dalam ranselnya—lebih tepatnya ransel adiknya, "di sini," katanya ragu.
Sama dengan Dasom, Junsu menerima buku dan pensil itu dengan ragu. "Yakin kau mau aku menggunakan pensil saja?" tanya Junsu, menimang pensil kecil dalam tangannya yang besar nan kokoh. Pelan, Dasom mengangguk. Ia baru pulang dari menjemput adiknya yang masih TK, jadi tak membawa alat tulis lain selain pensil dan krayon. Masa iya Junsu ia suruh menandatangani kertas dengan krayon?
"Padahal ini bisa cepat hilang." Junsu mengangguk paham. Lelaki itu membuka-buka buku tulis yang Dasom serahkan padanya. Ia terus membuka, mencari halaman yang kosong, tetapi tidak ada. "Penuh," komentarnya sambil menampakkan setiap kertas yang terisi tulisan adik Dasom yang tidak rapi sama sekali.
Sembari menghela napas kecewa, Dasom berniat mengambil buku itu dari tangan Junsu, tetapi pria itu mendadak mengangkat tangannya. Otomatis, Dasom tak mampu menggapainya.
"Ada buku lain?" tanya Junsu masih dengan satu tangan mengudara. Dasom menggeleng.
"Kita hapus saja tulisan di salah satu lembarnya," usul Junsu. Menurut, Dasom langsung mengambil penghapus.
Junsu menyerahkan buku itu kepada gadis dengan rambut sebahu di hadapannya. Dasom dengan sigap menghapus tulisan cakar ayam adiknya sebanyak dua halaman sekaligus, lalu menyerahkannya kepada Junsu.
"Hmm, masih ada bekasnya," ujar Junsu.
Dasom mendesah pelan. "Adikku memang seperti itu. Dia menekan tangannya sekuat tenaga waktu menulis," katanya putus asa.
Junsu tersenyum. "Tidak masalah," katanya.
"Ya?" Dasom membelalakkan mata melihat bagaimana kebaikan Junsu yang di luar batas normal itu terlihat.
"Balik badan," suruh Junsu.
"Hah?" Dasom melongo.
Junsu tak menghiraukan kekeongan Dasom, langsung memegang pundak gadis yang seperti anak kecil di hadapannya itu, membalikkannya. Ia sedikit menunduk, meletakkan buku di punggung Dasom, menjadikannya meja dadakan. Ia membubuhkan tanda tangan sebelum akhirnya berkomentar, "Mejanya sempit."
"Di rumah ada meja," ujar Dasom, menyembunyikan detak jantungnya yang setiap saat mungkin bisa saja terdengar oleh Junsu.
"Jadi aku harus mampir ke rumahmu?" Junsu menyeringai.
"Ahjussi sembarangan. Tapi tidak apa-apa, sih," Dasom berucap. Dia seperti orang gila sekarang karena sikap Junsu.
Seperti saat pertama mereka bertemu beberapa waktu yang lalu, kedua mata Junsu terbuka lebar begitu Dasom menyebutnya ahjussi. "Sudah kubilang, aku bukan ahjussi," belanya.
"Tapi Kakak lahir tahun 1984," cicit Dasom takut-takut.
Junsu berdecak. "Memang kau lahirnya tahun berapa? 1990?" tebaknya.
"2001." Dasom mengatupkan mulut cepat-cepat selesai menyebut tahun lahirnya.
Junsu terdiam mendengarnya. Detik berikutnya, ia berseloroh, "Tapi kau terlihat seperti ahjumma-ahjumma," kilahnya. Semua orang yang punya mata tidak akan setuju dengan pernyataan Junsu. Nyatanya, Dasom masih terlihat seperti anak kecil.
"Ih, saya masih muda!" gerutu Dasom.
"Aigoo, kalau marah langsung berbahasa formal, ya? Tadi waktu pertama ketemu saja kau tidak sopan," goda Junsu.
"Eh, aku tidak sopan, Ahj ... maksudku, Oppa?" Dasom memukul pelan mulutnya.
"Aku-ahjussi. Itu tidak sopan. Harusnya saya-Anda," kata Junsu meledek.
"Oke. Saya minta maaf. Terima kasih, ya, untuk tanda tangan ini. Saya minta maaf sudah mengganggu waktu Anda. Hati-hati ke mana pun Anda pergi, ya. Saya penggemar Anda," ujar Dasom penuh senyum tulus. Ia lalu berjalan pergi meninggalkan Junsu tanpa persetujuan lelaki itu.
"Eh, tunggu dulu! Mau ke mana?" Pertanyaan Junsu membuat Dasom berhenti melangkah, lalu berbalik.
"Kita belum berfoto," ujar Junsu sambil mengeluarkan ponselnya. Kali ini gantian, tanpa menunggu persetujuan Dasom, Junsu sudah berjalan pasti ke arahnya.
"Say cheese!" ujar Junsu dengan posisi tangan kanannya memegang ponsel, sementara tangan kirinya merangkul bahu Dasom. Kepalanya sedikit dimiringkan ke bawah untuk menyamai tinggi Dasom.
Melihat Dasom tidak banyak bergaya, Junsu kemudian berhenti mengambil gambar dan menatap gadis itu lekat-lekat, bertanya, "Apakah kau suka sekali padaku? Kenapa kau bahkan tidak mampu berkutik sama sekali?" Ia terkekeh menatap pipi merah merona Dasom.
Gadis itu tergagap menjawab, "A-aku hanya ... ak-aku c-cuma y-ya, bagaimana, ya, menjelaskannya? Kau tau, kau pasti akan gugu ... gugup bukan kalau tiba-tiba bertemu dengan idolamu?" Ia menaikkan satu alisnya, seolah berusaha memperkuat argumentasi soal ketidakmampuannya mengimbangi seorang Yoo Junsu.
Alih-alih menanggapi dengan serius, Junsu tertawa mendengar jawaban Dasom. "Kau polos sekali. Aku belum pernah menemukan penggemar yang sepertimu. Apakah kau limited edition?" tanyanya menggoda sembari menunduk, mendekatkan wajahnya dengan wajah Dasom.
Gadis itu sontak menyingkir, memundurkan wajahnya, takut kalau-kalau ada yang memperhatikan mereka. Padahal sejak tadi memang ada yang memperhatikan! Siapa lagi kalau bukan masternim alias fans berat yang selalu membawa kamera besar ke mana-mana demi mendapatkan foto-foto HD idola untuk disebar dalam fansite-nya? Fyuh, rupanya itu tidak hanya berlaku untuk member-member grup saja, tapi juga untuk aktor dan aktris, bahkan beberapa model dan atlet.
"Junsu Ahjussi, sepertinya kau tidak boleh terlalu banyak mengajakku bicara," desis Dasom. Ia melirik ke arah salah satu lensa lebar kamera masternim di belakang semak hias, menunjuknya dengan ekor matanya dan berkata, "Lihatlah. Kau akan mendapati foto-foto beresolusi tinggi ketika sedang berbicara dengan orang sepertiku di sini. Apakah tidak masalah untukmu?"
Junsu mengikuti arah pandang Dasom, kemudian tersenyum dan memasang berbagai pose supaya kamera itu bisa mendapatkan banyak jepretan gambar yang bagus. Terhitung oleh Dasom, sembilan belas kali Yoo Junsu melakukan pose yang berbeda, kemudian kembali fokus dengannya dan berkata dengan amat enteng, "Tentu tidak jadi masalah buatku." Belum lagi ia tersenyum seolah yang barusan ia lakukan itu adalah hal yang amat biasa untuk dilakukan oleh seorang idola. Yoo Junsu benar-benar sesuatu di mata Dasom.
Junsu melihat Dasom terdiam menatapnya selama beberapa saat, dan sungguh, ia sudah bosan dipandang seperti itu. Dasom seperti gadis yang melihat malaikat berkali-kali, tapi tidak bosan dan terus-menerus ternganga, seperti tersihir dan langsung jatuh cinta. Aduh, Dasom, Dasom.
Junsu bertanya sembari menyibakkan tangannya di depan wajah Dasom, "Kau mau terus melamun seperti itu atau mengambil beberapa foto denganku?"
Dasom belum sempat menjawab—bahkan mencerna perkataan pria itu saja belum—saat Junsu dengan paksa menarik gadis itu mendekat dan mulai mengeluarkan jurus swafoto monumentalnya.
Junsu terlihat begitu santai mengambil beberapa foto, sementara Dasom berkutat dengan perasaannya sendiri, menahan diri untuk tidak bersikap agresif. Dalam hatinya, ada sesuatu yang membuncah-buncah. Rasanya ia sudah dekaaat sekali, dan bisa langsung memeluk tubuh pria di sebelahnya atau mencium pipi Junsu yang hanya beberapa senti dari wajahnya. Pemikiran itu sudah lama berkecamuk dalam benaknya. Selama bertahun-tahun, ia sudah menghalusinasikan momen ini ribuan kali setiap malam sebelum tidur. Dasom benar-benar punya kesempatan sekarang kalau ia emmang nekat dan mau. Benar, kan? Hanya saja, kewarasan Dasom menahannya untuk melakukan kegiatan-kegitan di atas ambang batas wajar. Dasom memang punya banyak keinginan, tapi ia cuma penggemar, tak boleh kurang ajar. Ia harus tahu tempatnya. Ia harus menahannya, meski itu berarti ia hanya akan kembali mengandai-andaikan berbagai hal tak mungkin sepuluh menit sebelum tidurnya di malam hari yang panjang.
Junsu menatap layar ponselnya sejenak, lalu tersadar bahwa jangankan mengatakan 'cheese', tersenyum pun Dasom tidak. "Senyum," suruhnya kepada Dasom, tentunya dengan menatap langsung wajah gadis itu. Dasom kemudian tersenyum tulus sekali, mengabaikan detak-detak abnormal dalam dadanya.
"Ke kamera," ujar Junsu menahan tawanya. Dasom yang sebelumnya tersenyum menatap keindahan Junsu buru-buru menatap kamera. Ia malu sekali ketahuan tidak konsentrasi seperti ini. Senyumnya juga jadi kelihatan aneh dan ia menyadari, juga amat menyesalinya. Ia berharap Junsu tidak akan ambil serius soal foto itu, dan cuma menggunakannya sebagai hiburan biasa untuk penggemar yang lewat.
Belum sempat foto terbaik itu diambil, beberapa suara kembali menginterupsi ....
"Junsu-ssi! Kami juga mau fotooo!"
Untuk pertama kalinya, Dasom benar-benar merasa lega ketika penggemar lain—yang tentu merupakan 'saingannya'—datang dan membuat ricuh momen antaranya dengan Junsu. Paling tidak, kamera ponsel Junsu batal menangkap gambarnya yang tengah tersenyum dengan tidak sempurna itu—menurut penilaiannya.
Junsu tersenyum mendapati kedatangan gadis-gadis yang jumlahnya dua kali lipat dari sebelumnya. Dasom menatap wajah yang tersenyum beberapa senti dari wajahnya itu dengan teliti. Wajah dengan tulang rahang yang jelas, tulang hidung yang tinggi, dan tulang mata yang indah. Ah, Dasom ini pecinta tulang? Bukan hanya itu. Alisnya yang tebal, telinganya yang lebar, pipinya yang tirus dan lucu—buat Dasom. Terakhir dan paling spesial, bibir kecilnya yang selalu menyenangkan untuk dilihat saat tersenyum.
"Kenapa?" tanya Junsu yang menyadari tatapan Dasom beberapa senti di bawah dagunya. Dasom menggeleng kikuk seketika, membuat Junsu tertawa. Poninya yang kala itu terbelah dua karena karakteristik rambutnya, tersibak sedikit. Dahi ituuu! Dahi yang membuat Dasom hampir pingsan saking shining, shimmering, splendid-nya! Sudah, kita bisa memastikan bahwa Dasom sudah mabuk kepayang gara-gara Junsu.
"Aku berfoto dengan mereka dulu, ya," pamit Junsu. Dasom buru-buru mengangguk. Dalam batin, ia bertanya-tanya, mengapa juga Junsu harus meminta izin padanya?
Setelah sesi foto-foto dadakan part 2 selesai, Junsu kembali mendatangi Dasom yang berdiri kikuk di depan gedung salah satu agensi aktor terbesar, agensi tempat Junsu dikontrak.
"Dasom Eonni!" Seruan itu sontak membuat Dasom membalik badan.
"Ayo pulang!" seru anak kecil itu, Ddalgi, adik Dasom.
"Yuk," kata Dasom begitu Ddalgi sampai di sampingnya.
Anak dengan seragam TK itu menggandeng tangan Dasom dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya membawa es krim. Ia menatap Junsu yang masih berjalan mendekati mereka selama beberapa saat, sebelum akhirnya membuka mulutnya yang berlepotan krim. "Ini Junsu Ahjussi yang sering membuat Eonni senyum-senyum sendiri seperti orang gali, kan, Ahjussi?"
Junsu tertawa mendengarnya, sementara Dasom menyikut pelan adiknya. "Diam," bisiknya.
"Gali? Gila mungkin maksudnya," ujar Junsu membetulkan perkataan Ddalgi.
Gadis kecil itu berpikir sejenak, kemudian mengangguk membenarkan. "Iya. Lupa. Terima kasih, Ahjussi. Ternyata selain bisa membuat Kak Dasom gali, Ahjussi juga pandai," ujarnya sembari mengacungkan jempol.
"Gila, bukan gali." Junsu tertawa lepas, lalu mencubit pipi Ddalgi pelan. Ddalgi ikut tertawa.
Tanpa mereka sadari, orang-orang yang lewat memperhatikan mereka. Junsu adalah aktor, mana mungkin ia bisa sebebas itu berbicara dengan lawan jenis di luar pekerjaannya. Dasom sadar akan hal itu. Jadi, sebelum urusannya semakin panjang, ia memohon undur diri.
"Tapi kita belum jadi berfoto," kata Junsu.
"Ah, besok lagi," lirih Dasom.
Junsu tersenyum miris. Ini yang tokoh publik siapa, sih? Kok, malah seperti ia yang mengemis untuk berfoto bersama Dasom?
"Sampai ketemu lagi," kata Junsu kemudian berlalu. Ia mau jadi yang pertama meninggalkan. Masa iya aktor terkenal ditinggal seorang gadis di depan kantornya? Sungguh memalukan. Karenanya, Junsu mengambil langkah awal pencegahan.
"Tapi ...." Dasom membalikkan badannya, melihat punggung lebar Junsu yang semakin menjauh darinya, masuk ke dalam gedung.
"Dasom, sudahkah kau mendapat pekerjaan?" tanya bibinya begitu ia melepas sepatu untuk masuk ke dalam rumah. Dasom menggeleng putus asa. Beberapa hari ini ia memang keluyuran ke sana kemari mencari pekerjaan, tapi ditolak melulu dan berujung ia hanya pulang dengan membawa Ddalgi dari sekolahnya.
"Masuklah," perintah Joohyun kepada Ddalgi. Anak itu berlari masuk dengan ceria.
"Makanlah. Sudah bibi siapkan di meja makan," seru Joohyun.
"Iyaa Bii!" Ddalgi membalas dengan teriakan lucunya. Joohyun tertawa.
Tawa Joohyun berubah menjadi senyum lembut kala matanya melihat kelesuan di wajah Dasom. Ia mendekati keponakannya itu, mengelus pelan puncak kepalanya. "Bibi ada kenalan," ujarnya. Yang dimaksud kenalan oleh Joohyun tentunya orang yang bisa memberikan pekerjaan untuk Dasom.
Dasom langsung berbinar mendengar perkataan bibinya. "Boleh, Bi!" serunya penuh antusias. Joohyun tersenyum senang mendengar tawarannya langsung disetujui.
"Di mana, Bi?" tanya Dasom masih dengan antusiasmenya, mendekati Joohyun.
Joohyun menyodorkan gawainya, dengan posisi layar membuka sebuah halaman di internet. "Yang penting masih sama seperti profesimu dulu, kan? Editor," ujar Joohyun.
Dasom menerima uluran gawai dari bibinya itu, membaca tiap kata menyusun kalimat dalam laman itu. Benar saja, pekerjaannya serupa, tentang penyuntingan. Itulah yang paling ia kuasai semenjak lulus dari jurusan sastra. Ia mengangguk mantap. "Iya, Bi!" katanya penuh dedikasi.
Joohyun mengelus kembali puncak kepala Dasom. Ponakannya itu begitu penurut, dan ia sangat menyukainya. "Bagus. Langsung saja isi formulirnya."
"Kerjanya juga dari rumah, Bi. Lebih enak daripada kemarin," kata Dasom dengan mata berbinar, masih membolak-balik gulir layar dalam ponsel pintarnya, mencoba membaca semua informasi tanpa melewatkan apa pun juga.
"Betul. Hanya saja kadang tetap harus ke sana," ralat Joohyun.
"Tak masalah, Bi. Tidak mungkin juga aku di rumah terus, kan? Aku tentu juga perlu berjalan-jalan ke luar, merasakan bekerja di luar sana daripada terus terkungkung di rumah. Nanti aku bosan," sahut Dasom dengan akhir kalimat yang dibisikkan. Dasom tersenyum, kali ini manis sekali, bukan senyum tawar penuh keputusasaan.
Setelah itu, Dasom memohon undur diri kepada bibinya. Untuk apa lagi kalau bukan untuk mengisi formulir pelamaran kerjaan? Ia pergi ke kamar, mengunci pintunya dan menyetel musik. Workaholic oleh BOL4. Cocok sekali dengan kondisinya sekarang yang sangat ambisius untuk mendapatkan pekerjaan.
Dasom awalnya bekerja sebagai seorang editor naskah di penerbit buku pelajaran terbesar di kotanya. Sayang, karena ke-workaholic-annya, editor lain sering kali kena tegur oleh atasan. Atasan selalu membandingkan editor lain dengan Dasom. Itu sebabnya ia kemudian diganggu dengan berbagai cara, sampai akhirnya memilih resign mandiri. Direktur penerbitan sangat menyayangkan kepergian editor yang teramat berbakat dan berdedikasi itu dari perusahaannya, tetapi apa mau dikata? Kalau Dasom sudah memutuskan, tidak ada yang bisa menyambungkannya kembali.
Pekerjaan yang beberapa saat lalu Joohyun tawarkan kepada Dasom juga sebagai editor. Namun, kali ini berbeda. Kali ini, bila Dasom diterima, ia akan menyunting skrip. Awalnya Dasom agak mempertanyakan, apa perlunya skrip direvisi? Bukankah salah ketik satu-dua kata tidak masalah? Aktor dan aktris tentu cukup cerdas untuk memperkirakan kata yang benar, bukan? Tetapi itu semua akhirnya tak menjadi masalah untuk Dasom. Selama ia dapat pekerjaan, selama itulah semua tidak akan menjadi masalah untuknya.
Di lain tempat, Junsu masih merebahkan badan di sofa di ruangan manajernya, memejamkan mata sebab semalaman ia tak tertidur, insomnia.
"Ya, Junsu! Bangunlah. Ayo, kita harus syuting." Manajer Junsu, Goo Yeonghwa, memukul-mukul pelan pipi aktornya.
"Hyung, aku capek," kata Junsu sambil meregangkan badan di sofa, wajahnya berbalik ke sandaran sofa untuk melindungi pipi dari ketidaksopanan tangan Yeonghwa.
"Makanya, malam itu tidur, bukan main medsos tidak jelas," tegur Yeonghwa sambil menariki kerah baju Junsu.
"Itu bukan main medsos. Itu namanya memantau perkembangan ketenaran," kilah Junsu sambil menyingkirkan tangan Yeonghwa dari kerahnya.
"Cih. Kebanyakan gaya," desis Yeonghwa. Ia memang sangat membenci kelakuan Junsu yang satu itu—bermain medsos dengan akun cadangan saat ia insomnia di malam hari. Kata Junsu, itu untuk memantau ketenarannya, padahal menurut Yeonghwa, Junsu hanya menghabiskan waktu istirahatnya sendiri.
"Sudah, jangan banyak alasan. Ayo, bangun! Kali ini skripnya tidak akan banyak tipo." Yeonghwa mengambili barang-barang yang Junsu biasa perlukan di tempat syuting.
Mendengar perkataan Yeonghwa barusan, kedua mata Junsu langsung terbuka lebar. "Sungguh?" katanya lalu terduduk tegak di sofa. Yeonghwa menatapnya sekilas sambil mengambil mantel, lalu mengangguk.
"Baguslah," Junsu merapikan rambut dengan jemarinya, "mereka suka pelit sekali biasanya. Skrip hasil ketikan malam-malam sambil mengantuk disodorkan ke aku. Aku yang malam tidak tidur, kan, jadi pusing," keluhnya. Ia berdiri dan berjalan ke luar kamar. "Sudah begitu, disuruh akting bagus lagi," imbuhnya penuh kekesalan.
"Tapi kau senang, kan, Ferguso?" Yeonghwa mengikuti langkah Junsu.
"Itu passion-ku, Hyung," kekeh Junsu.
Apartemen besar itu tidak banyak berisi barang-barang. Junsu tidak menyukainya. Berbeda dengan situasi lain di rumah Joohyun, bibi Dasom, perabotan di sana-sini, lengkap. Dan semua pandangan Joohyun terhadap perabotan itu—perabotan dapur utamanya—teralihkan begitu melihat keponakannya keluar dari kamar.
"Mau ke mana, Dasom? Kau berdandan cantik sekali," puji Joohyun ketika melihat keponakannya sudah rapi sekali. Suatu pemandangan yang aneh untuk dilihat pada sore hari seperti ini, yang mana Dasom biasanya cuma menggunakan kemeja ala kadarnya—ya, Dasom tidak suka kaus, sukanya kemeja. Ia letakkan mangkuk sop yang dibawanya dari dapur ke meja terdekat, kemudian didatanginya Dasom yang melihatnya dengan senyum merekah.
Dasom meraih kedua tangan bibinya, menggenggamnya di depan dada. "Bibi, terima kasih banyak. Aku ... hampir diterima! Aku sekarang hendak ke lokasi syuting. Kata kenalan Bibi, Manajer Goo Yeonghwa, dia ingin bertemu denganku di sana. Portofolioku bagus, mungkinkah dia ingin melihat sikapku?"
Joohyun tersenyum senang. "Oke. Hati-hati, ya. Kalau cuma soal sikap, kau pasti lolos," katanya. Dasom mengangguk mantap. Ia keluar rumah, mengambil sepatu dan mulai memakainya.
"Dasom," panggil Joohyun.
"Iya, Bi?" Dasom berdiri di depan teras rumahnya.
"Titip salam untuk Yeonghwa, ya," lirih Joohyun sambil tersenyum singkat.
Dasom mengangguk. "Siap, Bi!"
Gadis itu bergegas ke halte bus terdekat. Tidak cuma jalan, ia berlari. Langkah kakinya terasa ringan sekali. Ia merasa seolah terbang alih-alih menggunakan telapakannya. Jantungnya berdegup kencang sekali. Ia tahu ke mana kakinya akan melangkah. Ia harus lulus dan mendapat pekerjaan. Bukan hanya karena Dasom seorang workaholic, tetapi karena Dasom tahu siapa Goo Yeonghwa. Karena Dasom tahu, siapa yang Yeonghwa manajeri. Karena Dasom tahu, skrip untuk siapa yang akan ia sunting. Ke sanalah Dasom sekarang, ke tempat di mana orang yang paling menarik dirinya sejak tahun 2003. Ke tempat orang yang siang tadi ditemuinya ketika menjemput Ddalgi. Yoo Junsu.