Bab 1

Jalan raya yang berdebu serta kemacetan yang hakiki tidak menghalangi Melodi Celena Wijaya untuk terus melajukan sepeda motor merah matic kesayangannya membelah jalan raya yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan saling berebut mendahului.

"Sialan! Macet lagi!" gumam Melodi dari balik helmnya. "Gue bisa terlambat datang ke acara ulang tahun si Lastri kalau begini caranya."

Melodi menghentikan sepeda motornya ketika tepat berada di bawah lampu merah. "Apes bener hidup gue, tadi macet sekarang lampu merah."

Dengan menghela napas panjang, Melodi duduk dengan penuh kesabaran di atas sepeda motor merah matic kesayangannya, menunggu lampu merah berganti hijau.

"Lama banget nih lampu," gerutu Melodi lantas melihat ke sekelilingnya, nampak beberapa kendaraan sepeda motor dan juga beberapa mobil di belakangnya.

Terhalang beberapa kendaraan beroda dua dari sepeda motor Melodi, pemilik sebuah mobil Fortuner hitam nampak duduk di belakang sedang memperhatikan Melodi.

"Tuan Cleon," panggil Mang Sugeng, sopir pribadinya melihat Bos besarnya sedang anteng melihat ke luar dari balik kaca mata hitamnya.

"Apa?"

"Kita akan ke mana? Tadi Tuan bilang tidak mau ke kantor," jawab Mang Sugeng.

"Entahlah," jawab Cleon malas.

Kening Mang Sugeng mengernyit mendengar jawaban Tuannya. "Lalu kita ke mana Tuan?"

"Terserah," jawab Cleon dengan pandangan tetap melihat ke arah Melodi yang sedang asik duduk di atas sepeda motornya.

"Kita pulang saja, bagaimana Tuan?" Mang Sugeng memberikan usul.

"Jangan!" Cleon langsung melihat sopirnya dari kaca spion dalam.

"Atau kita berkeliling saja, bagaimana Tuan? Mengukur jalan raya."

"Boleh, terserah!" Cleon kembali melihat ke arah Melodi, tapi gadis itu telah pergi dengan sepeda motornya. "Ke mana gadis imut itu?"

"Apa Tuan?" tanya Mang Sugeng menghidupkan kembali mesin mobilnya karena lampu rambu lalu lintas telah berganti hijau.

"Gadis imut?! Mana?" Cleon melihat ke depan, tapi Melodi telah hilang ditelan kendaraan lain.

Melodi segera melajukan sepeda motornya membelah jalan raya berharap tidak datang terlambat ke acara pesta ulang tahun temannya di sebuah restoran Chinese food yang cukup terkenal dikotanya.

"Akhirnya sampai juga," gumam Melodi begitu sampai di tempat parkir. "Mudah-mudahan acaranya belum dimulai."

Setelah selesai memarkirkan sepeda motornya dan merapikan penampilannya, Melodi dengan penuh percaya diri masuk ke dalam sebuah restoran yang khusus menyajikan makanan khas Chinese.

"Melodi!" Suara cempreng memanggil namanya. "Melodi!"

"Hai! Vina," Melodi langsung mendekati temannya.

"Kenapa loe datang terlambat?"

"Biasa, penyakit Ibukota," jawab Melodi. "Di mana yang lain? Kok loe sendirian?" Melodi tidak melihat teman-teman yang lain.

"Di dalam, mereka sudah datang dari tadi. Cuma loe doang yang belum datang," jawab Vina.

"Terus loe ngapain di sini?"

"Tadi habis telepon bokap, di dalam sinyal kurang bagus," jawab Vina memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Yuk, kita ke dalam!"

Melodi mengikuti Vina yang berjalan di depannya, pandangannya menyapu ke seluruh ruangan dengan hati bertanya-tanya. "Gila ini restoran. Gue yakin seyakin yakinnya, pasti mahal makan di sini. Hebat juga si Lastri, pesta ulang tahunnya dirayakan di sini."

Vina membuka pintu. "Teman-teman kita ada di dalam, yang punya hajat menyewa satu ruangan VVIP."

Balon berwarna warni menghiasi dinding dan juga terlihat teman-temannya sudah duduk mengitari meja bundar penuh makanan ketika Melodi melangkah masuk.

"Melodi! Darimana saja loe?!"

Melodi melihat Lastri, sang pemilik acara langsung berdiri begitu melihat dirinya. "Maaf gue datang terlambat, maklum kalau siang begini, lagi macet-macetnya."

"Makanya loe berangkat dari subuh biar tidak terlambat," celetuk Dion.

"Memangnya gue mau ke mesjid datang subuh," jawab Melodi melihat Dion kemudian mendekati Lastri.

"Ya sudah tidak apa-apa, yang penting loe datang."

Melodi langsung mengucapkan selamat ulang tahun dan memeluk sahabatnya dengan erat. "Semoga loe panjang umur dan banyak rejeki biar bisa traktir gue."

Lastri terbatuk saking eratnya pelukan Melodi. "Uhuk, uhukhhh, gila loe! Tenagamu gede banget, peluk gue kencang begitu."

Semua temannya tertawa begitu juga dengan Melodi. "Dasar bubur sumsum, begitu saja sudah kesakitan. He-he-he."

"Si Melodi jangan ditanya kalau urusan tenaga, jago taekwondo. Gue aja laki-laki kalah." Rio angkat bicara.

"Ah loe mah, jangankan sama gue, sama kucing juga loe kalah. Lihat kucing langsung lari terbirit-birit," jawab Melodi.

Semua temannya kembali tertawa terbahak-bahak melihat Rio yang mukanya merah karena malu, diledek takut dengan kucing.

"By the way busway, tamu undangan tidak disuruh duduk nih," ucap Melodi melihat Lastri yang juga masih berdiri.

"Eh iya, lupa. Sorry. He-he-he. Silahkan duduk Tuan putri Melodi," Lastri langsung menggeser kursi yang ada disebelahnya untuk Melodi duduk.

"Thank you."

Kurang lebih ada dua puluh orang temannya duduk mengitari meja bundar besar dengan hidangan Chinese food, ayam kung pao merupakan ayam pedas yang terbuat dari cabai kering ditambah kacang mete, Fuyunghai isi sayur dan seafood saos asam pedas serta tidak kalah lezat dari semuanya adalah nasi Hainan bercampur kaldu ayam dan rempah yang disajikan dengan ayam panggang.

Tatapan Melodi menyapu semua hidangan yang ada di atas meja. "Banyak banget hidangannya."

"Ini hari yang sangat spesial untuk buat gue, sweet seventeen masa peralihan dari bocah menjadi remaja, jadi gue sengaja memesan semua makanan ini agar kalian semua ikut merasakan kebahagiaanku," ujar Lastri dengan wajah yang ceria.

"So sweet. Sering-seringlah loe ulang tahun biar kita semua bisa makan enak dan gratis. Iya nggak teman-teman?" tanya Melodi melihat semua temannya.

"Iya betul!" jawab semuanya serempak diakhiri gelak tawa. "Ha-ha-ha."

Lastri mencibir. "Maunya. Kalian yang enak, gue yang bangkrut!"

"Kapan nih eksekusi?" tanya Vina ikut bicara. "Dari tadi ngobrol melulu."

"Sabar! Kita berdoa dulu sebelum menghabiskan ini semua," jawab Lastri.

"Pak ustadz Jefri, pimpin doa." Melodi melihat temannya yang terkenal rajin sholat di antara mereka semua, makanya semua memanggilnya Pak Ustadz.

Tanpa banyak bicara lagi, Jefri langsung memimpin doa untuk mendoakan yang ulang tahun agar selalu banyak rejeki, sehat dan menjadi anak yang berbakti pada orang tua.

....

Sementara itu, di restoran Chinese yang sama tapi tempat berbeda, Cleon baru saja turun dari mobilnya.

"Saya ikut masuk atau tidak Tuan?" tanya Mang Sugeng.

"Tidak usah," jawab Cleon lalu mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang warna biru pada sopirnya. "Cari tempat makan yang lain. Terakhir makan di sini, Mang Sugeng malah sakit perut."

Mang Sugeng terkekeh senang, matanya hijau melihat lembaran uang. "Maklum Tuan, perut saya, perut orang kampung yang biasa makan ubi rebus."

"Cari makan ditempat yang lain! Dan ponselnya selalu aktifkan!"

"Siap Bos!" Mang Sugeng langsung pergi dengan uang di tangan.

Cleon merapikan jasnya sebelum melangkah masuk ke dalam restoran Chinese food favoritnya yang disambut ramah para pelayan, apalagi kaum hawa yang tidak berkedip melihat wajah rupawan seorang Cleon Helios Lewis.

Bab 2

Dengan santainya Cleon melangkah menuju meja yang sudah menjadi tempat favoritnya.

"Selamat siang Tuan Cleon." Seorang pelayan wanita dengan seragam putih hitam berdiri di depan meja memberikan buku menu.

"Pesan seperti biasa," ucap Cleon tanpa melihat buku menu.

"Iya Tuan." Pelayan itu langsung pergi, sudah tahu menu apa saja yang selalu dipesan Cleon karena seringnya makan di restoran mereka.

Di ruangan yang lain, tapi masih di restoran yang sama, Melodi Celena Wijaya sedang merayakan ulang tahun sahabatnya Lastri bersama teman-temannya yang lain.

"Lastri, sekarang loe sudah 17 tahun, berarti boleh dong loe pacaran?" tanya Vina.

"Kagak tahu, orangtua gue sangat ketat urusan yang begitu mah. Ini saja, Ibu sampai tanya siapa yang akan diundang," jawab Lastri.

"Baguslah itu," timpal Melodi. "Memang harus begitu, secara loe itu anak tunggal jadi tentu saja orangtuamu pasti sangat khawatir."

"Loe mau tidak jadi cewek gue," celetuk Jefri, sang ustadz.

Lastri langsung melihat Jefri. "Jadi cewek loe? Ogah! Loe bukan selera gue."

"Gue bakalan jagain loe," jawab Jefri dengan percaya diri.

"Memangnya gue bayi yang harus dijagain! Gue butuh pacar, bukan baby sitter."

Semua temannya tertawa begitu mendengar jawaban Lastri.

Tidak lama kemudian Melodi merasakan panggilan alam dari dalam perutnya. "Kamar kecil di mana ya?"

"Kenapa? Loe sakit perut?" tanya Lastri.

"Kagak, gue pengen pipis." Melodi langsung berdiri.

"Tanya saja pelayan di luar. Gue juga kagak tahu kamar kecil di mana," jawab Lastri.

"Melodi, apa perlu gue antar?" Dion menawarkan diri.

Melodi mencibir. "Kagak usah! Nanti yang ada loe malah ngintip gue."

"Gue berbaik hati mau mengantar loe, tapi malah curiga," jawab Dion.

Melodi berjalan mendekati Dion. "Semua teman di Sekolahan sudah tahu siapa loe, otak mesum!"

"Eh, sembarangan!"

Melodi sedikit berjongkok untuk berbisik di telinga Dion. "Gue pernah melihat loe sedang mengintip si Elisa di kamar mandi."

"Jangan fitnah!"

Melodi kembali berdiri tegak. "Apa perlu gue kasih lihat videonya lalu gue berikan pada korbannya? He-he-he."

Wajah Dion langsung memerah dan terdiam tidak bisa bicara lagi. Kalau Melodi bicara seperti itu berarti memang benar ada bukti video.

"Gue ke kamar mandi dulu." Melodi tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Dion lalu bergegas pergi.

Seorang pelayan wanita datang mendekat begitu melihat Melodi seperti sedang mencari sesuatu. "Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?"

"Eh, iya. Kamar kecilnya di sebelah mana?" tanya Melodi.

"Dari sini lurus saja, nanti ada pot besar di depan, Nona belok ke kanan," jawab pelayan.

"Oh, ok! Thanks." Melodi langsung pergi ke arah yang ditunjuk pelayan.

"Sama-sama Nona."

Bergegas Melodi pergi, panggilan alam yang dari tadi ditahannya sudah tidak bisa dibendung lagi.

Dari jarak beberapa meter Melodi melangkah, Cleon baru saja menghabiskan semua pesanannya. Perutnya yang rata, sekarang terasa penuh. "Kenyang sekali."

Cleon melihat jam bermerk yang melingkar menghias tangan berbulunya. "Rasanya waktu berjalan sangat lambat hari ini atau jam tangan ini yang mati?"

Ponsel yang ada di dalam saku jasnya bergetar. "Siapa yang meneleponku?" gumamnya sambil merogoh ponsel.

Cleon ;

"Hallo, Gloria."

Gloria :

"Hallo Pak Presdir. Maaf menganggu Pak?"

Cleon :

"Ada apa?"

Gloria :

"Saya mau mengingatkan Pak, satu jam lagi ada meeting penting. Kenapa Bapak belum ke kantor juga?"

Cleon :

"Kamu saja yang tangani."

Gloria :

"Tidak bisa begitu Pak Presdir. Ini meeting yang sangat penting. Bapak harus hadir."

Cleon :

"Iya, baiklah! Cerewet!"

Cleon langsung menutup sambungan teleponnya. "Menganggu kesenangan orang saja," gumamnya sendiri menggerutu.

Tidak lama kemudian Cleon bangun dari tempat duduk, melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah belakang. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba tubuhnya diseruduk dari arah depan tubuh seseorang sehingga sukses membuat tubuhnya oleng dan jatuh ke lantai.

BRAKKK!!!

Bersamaan jatuhnya tubuh Cleon dan orang yang menabraknya terdengar suara teriakan.

"Aaaaa!!"

Dalam hitungan detik, tubuh keduanya telah berada di atas lantai dengan posisi tubuh Cleon berada di bawah.

"Aduh, sakit!" terdengar suara wanita yang meringis di atas tubuh Cleon dengan rambut panjang menutupi wajahnya.

Punggung Cleon sakit bukan kepalang, tubuhnya yang tinggi tiba-tiba jatuh langsung mencium lantai.

"Aduh, sakit." Rengek wanita itu, tapi kemudian langsung berteriak. "Ponsel, mana ponselku! Ponsel!"

"Aah," Cleon meringis bangun berusaha duduk dengan merasakan punggungnya yang sakit.

"Ponselku." Terdengar suara rengekan dari wanita itu begitu melihat ponselnya berserakan di lantai. "Ponselku hancur. Ya Tuhan."

Sambil duduk meringis, Cleon melihat wanita yang wajahnya masih tertutup rambutnya yang panjang sedang duduk bersimpuh meratapi ponselnya.

"Ponselku," rengeknya lalu tiba-tiba membalikkan tubuhnya melihat Cleon. "Ini semua gara-gara loe! Ponsel gue sampai terjatuh!"

Cleon tertegun, bukan karena bentakkan wanita itu, tapi karena melihat wajah yang begitu cantik dengan bulu mata lentik.

"Semua gara-gara loe!" Bentaknya galak. "Kalau jalan pakai mata! Lihat ponselku! Hancur!"

Cleon melihat ponsel yang sudah terbagi dua di tangan wanita itu. "Kamu yang menabrakku."

Wanita itu langsung berdiri. "Loe yang menabrak gue!"

Sambil meringis, Cleon berusaha berdiri. "Kamu yang menabrakku, tiba-tiba datang dan menubruk tubuhku seperti banteng!"

Tidak lama kemudian datang beberapa pelayan untuk melihat apa yang terjadi karena suara wanita yang menabrak Cleon terdengar kemana-mana.

"Ada apa ini?" tanya seorang pelayan wanita melihat Cleon.

Dari arah belakang terdengar suara. "Melodi! Ada apa?"

Melodi melihat Vina, temannya. "Lihat ponselku. Orang ini menjatuhkannya."

Vina kaget melihat ponsel Melodi yang telah rusak dengan layar retak. "Hah, ponselmu. Ya Tuhan."

"Tuan Cleon, anda tidak apa-apa?" tanya pelayan wanita melihat Cleon masih meringis.

"Tidak, tidak apa-apa," jawab Cleon menghindari tangan pelayan wanita untuk menyentuh dirinya lalu melihat Melodi. "Ponselmu jatuh karena dirimu sendiri yang tidak hati-hati, bukan jatuh karena aku."

"Kamu yang menjatuhkannya." Melodi tidak mau kalah, hatinya sangat kesal melihat ponsel yang telah dibelinya dengan hasil tabunganya selama bertahun-tahun sekarang tidak berbentuk.

Cleon melihat Melodi dari atas sampai bawah. Rasanya, gadis yang sedang menatapnya dengan marah ini tidak asing baginya.

"Bagaimana kejadiannya Nona?" tanya salah satu pelayan.

Ingatan Melodi langsung kembali ke kejadian beberapa menit yang lalu disaat baru saja ke luar dari kamar mandi. "Kecoa!"

"Hah?!" tanya Vina bingung. "Kecoa?"

"Iya." Melodi langsung melihat ke arah kamar kecil. "Tadi ada kecoa lalu aku berlari karena takut terus ... terus ...." Kalimat Melodi terhenti melihat Cleon.

Dengan kedua alis yang terangkat, Cleon menunggu Melodi melanjutkan kalimatnya. "Terus?"

Vina menghela napas, tanpa Melodi melanjutkan kalimatnya, sudah bisa ditebak siapa yang salah. "Yaelah, Melodi, Melodi. Terimalah nasib loe! Ponsel jatuh karena kesalahan loe sendiri!"

Semua pelayan pun menghela napas sambil menggelengkan kepala lalu membubarkan diri karena masalah sudah selesai.

"Tapi kalau tadi tidak ada dia yang menghalangi gue," tunjuk Melodi dengan matanya pada Cleon. "Ponsel gue tidak mungkin jatuh."

"Loe yang salah," jawab Vina pada Melodi.

"Kok jadi loe belain orang ini sih?!" tanya Melodi kesal. "Lihat, ponsel gue hancur begini. Loe malah belain dia."

Cleon melihat ponsel yang ada di tangan Melodi. "Semua juga tahu, kamu yang salah. Tapi kenapa kamu malah menyalahkan aku? Apa kamu minta ponselnya diganti?!"

Bab 3

Melodi melihat nanar ponsel rusak yang ada di tangannya. "Gue harus bertahun-tahun menabung agar bisa membeli ponsel ini, tapi sekarang malah hancur dalam hitungan detik."

"Lalu harus bagaimana lagi?! Loe yang salah," ucap Vina ikut merasakan kesedihan Melodi, tapi mau bagaimana lagi.

Cleon menatap Melodi yang tertunduk melihat ponselnya dengan hati bicara sendiri. "Gadis ini, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?"

Wajah sedih terlihat diraut muka Melodi. "Ya sudahlah, benar apa yang loe bilang, ini sudah nasibku."

"Nasi sudah menjadi bubur. Mudah-mudahan loe ketiban rejeki nomplok bisa beli ponsel baru." Vina memberi semangat.

Melodi tersenyum kecut, ponsel yang telah hancur dimasukkan dalam tas kecilnya lalu melihat Cleon.

"Kalau kamu mau, aku bisa mengganti ponselmu," ucap Cleon tersenyum.

Vina menyenggol lengan Melodi. "Mau, mau Melodi. Jawab mau."

"By the way, namaku Cleon Helios Lewis." Cleon mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.

Vina dengan antusias segera menyambut tangan Cleon. "Vina panduwinata, tapi gue bukan penyanyi "Burung Camar".

Cleon tersenyum menarik tangannya kembali lalu mengajak berkenalan Melodi. "Lalu siapa gadis manis berlesung pipi ini?"

Melodi tertegun, ternyata pria yang dari tadi dimarahinya punya wajah blasteran yang luar biasa tampan. Alis tebal, hidung mancung serta rahang tegas.

Melihat Melodi hanya tertegun, Vina segera menyenggol lengannya. "Malah bengong. Norak loe!"

"Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Cleon memegang wajahnya sendiri.

"Eh, tidak ... tidak. Wajah loe sangat sempurna. Pasti waktu Tuhan sedang menciptakan dirimu, hatinya sedang dalam keadaan senang sampai-sampai menciptakan wajah rupawan seperti ini," puji Melodi dengan polosnya.

Cleon terkekeh. "He-he-he. Kamu juga cantik dengan lesung pipimu itu. By the way, siapa namamu?"

"Melodi Celena."

"Wah, nama yang indah. Seindah wajahmu," puji Cleon senang ternyata gadis yang telah menarik perhatiannya bernama Melodi.

"Rupanya kalian di sini! Gue mencari kalian kemana-mana." Lastri datang dengan wajah khawatir. "Gue takut kalian nyasar."

Vina dan Melodi serta Cleon langsung melihat Lastri.

"Loe tadi katanya mau mencari Melodi malah ikut menghilang," ucap Lastri pada Vina lalu melihat Cleon.

"Tadi ada insiden," jawab Vina.

"Tuan Cleon." Lastri ternyata mengenal Cleon.

"Loe mengenalnya?" tanya Melodi dan Vina berbarengan.

"Tentu saja. Tuan Cleon Bos Papaku," jawab Lastri. "Apa kalian tidak pernah melihatnya?"

"Tidak!" jawab Melodi dan Vina serentak.

"Makanya sekali-kali lihat berita, jangan cuma lihat sinetron dan gosip," ledek Lastri.

Cleon tersenyum melihat ketiga gadis muda yang ada di depannya. Ada kesenangan tersendiri melihat mereka yang begitu polos berbicara.

"Ada masalah apa kalian dengan Tuan Cleon?" tanya Lastri.

"Tanya tuh si Melodi, dia yang punya masalah," jawab Vina.

Ponsel yang ada di dalam saku jas Cleon bergetar sehingga mau tidak mau harus menerima panggilan telepon. "Maaf, aku terima telepon dulu."

"Iya, silahkan Pak Cleon," jawab Lastri ramah karena biar bagaimanapun Cleon Bos Ayahnya.

Melihat Cleon sudah menjauh, Vina segera bertanya. "Lastri, Pak Cloen itu siapa? Apa dia orang penting? Apa dia itu politikus? Atau dia itu Aktor?"

"Dia makhluk bumi sama seperti kita, cuma nasibnya sedikit mujur dibandingkan dengan kita. Pak Cleon ini CEO VP Corp, pemilik perusahaan besar. Apa kalian tidak tahu sama sekali, dia itu seorang pengusaha sukses?" tanya Lastri menatap kedua temannya.

Melodi dan Vina saling menggelengkan kepala.

"Dasar kuper!"

Tidak lama Cleon sudah kembali lagi. "Maaf nona-nona manis, sepertinya aku harus cepat kembali ke kantor, masih banyak urusan."

"Iya Pak, silahkan," jawab Lastri.

Cleon mengeluarkan kartu nama dari saku jasnya. "Ini kartu namaku, jika ada perlu denganku. Jangan sungkan untuk menghubungiku."

"Iya, terima kasih." Lastri akan mengambil kartu nama dari tangan Cleon, tapi kartu nama diberikan pada Melodi.

Cleon tersenyum manis menatap wajah Melodi. "Sampai bertemu lagi Nona."

Jantung Melodi berdetak kencang, ada desiran aneh yang mengalir dalam darahnya sampai hatinya terasa tidak karuan dengan sejuta perasaan yang tidak bisa dilukiskan ketika iris matanya saling bertabrakan dengan iris mata hitam legam seorang Cleon Helios Lewis.

"Ayo kita kembali masuk, teman-teman sedang menunggu kita," ajak Lastri setelah Cleon pergi.

Cleon tersenyum senang ketika masuk ke dalam mobilnya sehingga mengundang rasa penasaran Mang Sugeng. "Sepertinya Chinese food membawa aura positif buat Bos."

"Maksudnya?"

"Bos ini jarang-jarang bisa tersenyum seperti tadi," jawab Mang Sugeng.

"Jadi selama ini tidak pernah tersenyum, begitu?!"

"He-he-he. Bukan begitu Bos, hanya saya merasa senang saja melihat Bos terlihat senang," jawab Mang Sugeng. "Sekarang tujuan kita ke mana Bos?"

"Kantor! Tadi si Gloria bilang ada meeting," jawab Cleon.

"Ok Bos, meluncur!"

Di restoran Chinese food, Melodi dan semua temannya bersiap akan pulang karena acara makan telah selesai.

"Gue pulang duluan ya! Mau ke butik ambil baju punya nyokap," ucap Vina.

"Ok bye, hati-hati di jalan." Lastri memeluk Vina sebagai tanda perpisahan.

"Gue juga mau cepat pulang. Kasihan nyokap sendirian di rumah." Melodi ikutan pamit.

"Ok." Lastri memeluk Melodi. "Thanks sudah datang."

"Thanks juga sudah ngundang gue," jawab Melodi lalu pamit pada semua temannya yang juga bersiap untuk pulang.

Jalan raya yang macet dan berdebu, Melodi jajaki kembali untuk pulang. Suara klakson yang saling bersahutan serta asap hitam yang dikeluarkan dari knalpot membuat lengkap sudah bagaimana suasana dan pemandangan sehari-hari jalan raya Ibukota tercinta kita ini.

"Akhirnya sampai juga gue di rumah," gumam Melodi turun dari sepeda motornya untuk membuka pintu pagar.

"Baru pulang kamu?"

"Iya Bu." Melodi membalikkan badan melihat Ibunya.

Pintu pagar segera dibuka Ibu agar Melodi bisa masuk dengan mudah.

Rumah sederhana yang terlihat asri dan cukup nyaman tempat Melodi dan Ibunya tinggal setelah 10 tahun yang lalu Ayahnya Melodi meninggal karena serangan jantung setelah tahu perusahaanya bangkrut karena hutang yang menumpuk.

Ibu Kasih, harus banting tulang mengambil alih semua tanggung jawab yang ditinggalkan suaminya. Memenuhi semua kebutuhan dan Sekolah putrinya, Melodi Celena Wijaya dengan berjualan kue-kue yang dititipkan ke setiap toko.

Melihat perjuangan Ibunya, menjadikan Melodi gadis yang pintar dan mandiri. Setiap pagi sebelum berangkat Sekolah akan mampir terlebih dahulu ke setiap toko untuk menitipkan kue yang telah dibuat Ibunya. Alhasil dari penghasilan yang tidak seberapa itu, Melodi dan Ibunya bisa bertahan dari kerasnya kehidupan Ibukota tanpa harus minta bantuan pada orang lain.

"Bagaimana acara ulang tahun temanmu?" tanya Ibu setelah masuk ke dalam rumah.

"Seru Bu. Lastri mengajak kita semua makan di tempat yang mewah," jawab Melodi sambil melepaskan sepatu sneakers nya.

"Wah, kamu makan enak dong," ucap Ibu ikut senang.

"Iya, tapi Bu ...." Melodi teringat dengan ponselnya yang jatuh.

"Tapi apa?"

Melodi melihat Ibunya, apa yang harus dikatakannya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED