Part: 1
***
Sebuah apartemen mewah yang letaknya di pusat kota, hidup seorang wanita belia berparas paripurna. Lesung pipi di sebelah kirinya tercetak jelas saat dia menarik lekuk bibir untuk tersenyum.
Adriana Zulaikha adalah nama lengkapnya. Namun, dia lebih senang dipanggil Khana.
"Nona Khana ... seseorang tengah mencari Nona," ucap Mani, pelayan paruh baya.
"Siapa? Apa penting? Kau tahu sendiri bukan, bagi yang mau bertemu denganku harus bertujuan jelas saja," desisnya sambil memainkan rambut.
"Saya tahu, Nona. Namun, kali ini gawat! Wanita yang menunggu di luar itu mengaku sebagai istri Tuan Husein."
Wajah Mani pucat pasi ketika mengungkapkan hal itu pada sang majikan. Kedua kakinya terasa lemah membayangkan perang pertama akan dimulai.
"Bagaimana bisa? Hampir satu tahun sudah posisiku menjadi selir muda Tuan Husein, dan tak pernah sekali pun keberadaanku terekspos keluar. Lalu dari mana istri pertama suamiku bisa tahu tempat ini?" Intonasi suara Khana terdengar gemetar.
"Saya juga tidak tahu, Nona."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menghadapnya sekarang," ujar Khana berusaha tenang.
Mani serta dua dayang penjaga Khana ikut melangkah mengawal majikannya.
Khana, ia seorang wanita muda dengan status selir dari lelaki terkaya di kotanya. Sebelas bulan dua puluh tiga hari sudah ia menyandang gelar yang menurutnya membanggakan itu. Selir muda Tuan Husein.
Khana berjalan santai dengan gerakan lemah gemulai. Sebisa mungkin ia mencoba menyembunyikan kecemasannya untuk menghadap Nyonya utama.
Selama ini dirinya tak pernah bertatap muka secara langsung, hanya melihat dari gambar saja.
"Ternyata hidupmu sangat indah wahai jalang!" cibir istri pertama Husein.
Ketiga pelayan Khana saling melempar pandangan. Ini adalah kali pertama majikan mereka direndahkan.
Setetes keringat jatuh dari kening mulus Khana. Ia masih mencoba bersikap tenang, walau gemetar di tubuhnya mulai dapat terbaca oleh Nyonya utama.
"Tarik kembali ucapan kotormu itu, Nyonya Areta!" titah Khana.
"Wow, besar juga ternyata nyalimu anak kemarin sore," cibir Areta lagi.
"Hah!" Khana mendesah dengan menunjukkan ekspresi angkuh.
Istri pertama Husein yang bernama Areta itu semakin geram dan ingin sekali melayangkan pukulan. Namun, statusnya sebagai wanita terhormat yang setiap detik sikapnya menjadi sorotan media membuat ia menahan semua api kemarahan yang memuncak dan nyaris meledak.
Areta menarik napas panjang, kemudian menatap tajam pada ketiga pelayan Khana.
"Kalian pergilah! Saya ingin bicara empat mata pada jalang ini!" titah Areta.
Mani dan kedua pelayan yang lain menoleh ke arah Khana. Ketiganya menunggu perintah sang majikan.
Khana memberi isyarat dengan anggukan kepala. Mani dan yang lain segera berlalu meninggalkan Areta berdua saja dengan selir muda Tuan Husein.
"Saya takut Nona Khana kenapa-napa," bisik Mani pelan pada dua rekannya.
"Gimana kalau kita melapor pada Tuan Husein?" Saran yang lain.
"Jangan! Kita tunggu perintah selanjutnya dari Nona Khana," seru Mani.
***
Di teras apartemen yang didesain elegan dengan hiasan lampu bewarna ungu kesukaan wanita belia simpanan pengusaha kaya raya itu, ia diintrogasi oleh wanita yang berstatuskan istri pertama.
"Adriana Zulaikha, harus saya akui mencari keberadaanmu cukup membuang waktu saya," desis Areta sembari menyeringai sinis.
Tiga puluh lima tahun usianya, tapi setitik pun belum terlihat kerutan di wajahnya. Istri pertama Husein itu juga memiliki paras yang cukup menarik. Namun, jika dibandingkan dengan Khana, tentu kecantikannya tak seberapa. Selain menggoda, Khana juga lebih unggul dalam usia.
"Hm, sejujurnya aku tak suka berbasa-basi, Nyonya Areta! Jadi lebih baik dipersingkat saja! Katakan apa tujuanmu bersusah payah mencari keberadaanku?"
Khana memang berkarakter dingin dan tertutup pada orang yang tak dekat dengannya. Hal tersebut itu pula yang membuat dirinya mendapat julukan wanita muda terangkuh.
"Lancang kau, jalang!" hardik Areta sembari mengepalkan tangan geram.
Khana menanggapi dengan menghembuskan napas manja. Pembawaannya yang tenang membuat Areta semakin gelabakan menahan amarah.
"Dengarkan baik-baik peringatan saya ini, jalang! Tinggalkan Tuan Husein atau kau akan menyesal!" Areta berkata sambil berdiri mengitari tubuh mungil Khana.
Jemari tangannya yang lentik serta kuku panjang terawat milik Areta mulai bermain di area wajah mulus Khana.
"Kau tak mengenal saya, Khana. Akan tetapi, saya bisa pastikan wajah cantikmu ini segera lenyap hingga berubah menjadi buruk rupa, jika kau tak menuruti peringatan dari saya," bisiknya tepat di telinga Khana.
Khana menahan napas sesaat. Ancaman Areta memang bukan main-main. Ia tak mau gegabah kemudian celaka.
"Kau juga tak mengenal siapa Khana, bukan?" Tangan lembut Areta ditepisnya dengan kasar.
Mata Areta membelalak menerima respon menantang dari selir suaminya itu.
Semilir angin malam itu membuat suasana semakin menegang. Areta kalap mata, ia tak mampu lagi menahan api amarah yang semula memang sudah menyala.
"Apa kau bosan hidup, jalang?" teriaknya dengan gerakan tangan cepat menarik rambut panjang Khana yang tergerai.
Wajah Khana menegadah ke atas akibat tarikan keras dari Areta. Ia meringis pelan, tapi tetap seulas senyum terukir indah di bibir yang bagian bawah sedikit terbelah itu.
Areta menatap lekat bentuk wajah wanita yang berhasil melunturkan kesetiaan suaminya.
Tersirat satu kata dalam hatinya. 'Sempurna.'
Ya, tak bisa dipungkiri paras serta tubuh Khana nyaris sempurna. Setiap mata lelaki yang memandangnya tentu akan bertekuk lutut di hadapannya.
"Hati-hati, Nyonya Areta! Sikapmu yang lembut di media ternyata bertolak belakang dengan kehidupan nyata," desis Khana.
Areta semakin naik pitam.
Bugh!
Kepala Khana ia benturkan ke meja kaca yang ada di hadapannya. Darah segar mengalir di dahi wanita muda itu.
Namun, lagi-lagi respon Khana membuat Areta semakin gelabakan.
"Kau dalam masalah kali ini, Nyonya Areta!"
Dengan santai Khana menunjuk arah cctv yang terpasang di sudut ruangan teras.
Areta mundur selangkah dan melepaskan cengkramannya pada rambut Khana. Gerakan dadanya naik turun sebab terkejut dan menjadi sangat gelisah.
Namun, otak liciknya berfungsi dengan baik kali ini. "Hah! Itu bukan perkara sulit, Khana."
Sebuah ponsel mahal ia keluarkan dari tas jinjingnya. Kemudian panggilan telepon segera dilakukannya.
"Naik!" titahnya.
Hanya satu kata, kemudian telepon genggamnya kembali ia masukan ke dalam tas.
Tak berapa lama dua lelaki berbadan kekar muncul. Khana menyipitkan mata melihat kehadiran pesuruh Areta tersebut.
Darah yang masih mengalir di dahinya membuat kedua bodyguard Areta sedikit tercengang.
"Kami harus melakukan apa, Nyonya?" tanya salah satu dari bodyguard itu.
"Hancurkan cctv itu!" perintah Areta dengan senyum penuh kebanggaan.
"Siap laksanakan, Nyonya."
Dengan sigap keduanya menaiki kursi dan segera memusnahkan benda yang bisa membawa petaka untuk Areta.
Tanpa disadari, ternyata Khana jauh lebih cerdik. Ia meraih ponsel miliknya yang tadi sempat diletakan Mani di pas bunga sudut ruangan.
Ponsel tersebut sudah merekam semua kejadian. Khana menyudahi aksi rekam di telepon miliknya itu. Kemudian ia mengirimkan hasil rekamannya pada Husein.
Setelah berhasil terkirim, barulah ia memamerkan kepintarannya.
"Sekali lagi aku katakan padamu, Nyonya Areta ... kau tak mengenal siapa Khana," desisnya lembut sambil mengusap tetasan darah yang mengenai hidung runcingnya.
"Bedebah!" cecar Areta dengan merampas paksa ponsel di tangan Khana.
Brak!
Seketika saja benda mahal milik Khana itu dihempaskan Areta hingga hancur berkeping-keping.
"Musnah," lirihnya penuh kemenangan.
Khana masih tetap tersenyum tenang, walau sesungguhnya tubuh mungil itu sudah mulai goyah. Luka di keningnya membuat ia kehilangan banyak darah.
"Ayo kita pergi dari sini!" titah Areta pada kedua bodyguardnya.
Areta memutar tubuhnya untuk meninggalkan apartemen Willy City yang mempunyai harga paling fantastis itu. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sosok lelaki sudah berjalan penuh wibawa ke arahnya.
"Tuan Husein," lirih Areta dengan mata membesar.
Part: 2
***
Langkah Husein sangat cepat hingga berada tepat di hadapan Areta, istri pertamanya.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat sempurna di wajah Areta. Panas, itu yang dirasakan saat ini.
Air mata Areta menetes, untuk pertama kali suaminya bertindak kasar padanya.
"Tuan menamparku?" Tatapan mata Areta penuh dendam. Namun, ia tak kuasa melawan.
Plak!
Husein kembali melayangkan tamparan satu kali lagi, hingga membuat wajah Areta terasa semakin panas dan perih.
"Pulang!" titah Husein singkat.
Areta menelan ludah getir. Kedua tangannya gemetar hebat. Detik berikutnya ia bergegas meninggalkan apertemen.
"Tuan aku sudah tak kuat," lirih Khana, lalu tumbang.
Husein dengan sigap menggendong selir mudanya masuk ke dalam kamar. Sedangkan dokter pribadi yang bertugas khusus untuk Khana sudah sampai.
"Ya Tuhan ... pendarahannya cukup banyak," desis Dokter Hans.
Saat Dokter Hans ingin membersihkan darah yang ada di kening Khana, tiba-tiba Husein menghentikannya.
"Jangan sentuh! Biar saya yang membersihkan lukanya! Dokter cukup berikan resep obat, dan segera menyiapkan perban untuk menghentikan pendarahan Nona Khana!"
Dokter Hans mengangguk cepat. Ia sudah terbiasa dengan ini. Husein memang tak pernah mengizinkan lelaki lain menyentuh kulit istri mudanya.
Hal itu membuat Dokter Hans mencibir dalam hati. 'Egois.'
Balutan perban mulai dipasang Husein dengan penuh hati-hati. Wajah cantik sang istri membuatnya semakin tak tega melihat selirnya terbaring tak berdaya.
"Karena tugas saya sudah selesai, jadi saya pamit dulu, Tuan Husein!" Dokter Hans membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Hm, tunggu dulu, Dokter Hans! Sebaiknya Dokter tetap di sini sampai Nona Khana sadar! Saya takut ia kenapa-napa. Dokter boleh menempati apartemen sebelah, sampai Nona Khana benar-benar pulih!" papar Husein.
"Baik, Tuan."
Dokter Hans melangkah menuju kamar apartemen yang berada di paling ujung dari kamar Khana.
Sementara itu, Husein meminta Mani menjaga Khana 24 jam di dalam kamar, Karena ia akan segera pulang ke rumah utama untuk memberi pelajaran pada Areta.
"Mani, jangan tinggalkan Nona Khana sedetik pun! Beri kabar pada saya jika dia sudah siuman. Saya akan kembali besok pagi."
"Baik, Tuan. Saya pasti menjaga Nona Khana sepenuh hati."
"Bagus!"
Husein berlalu pergi dengan gumpalan amarah yang masih berapi-api. Ia sangat murka pada Areta untuk masalah ini.
***
Di istana mewah yang dihuni Areta, kini ia merasa cemas serta ketakutan.
Areta tak menduga kalau suaminya akan menyusul ke apartemen. Sebab, malam ini adalah jadwal kunjungan sesama pengusaha kaya di salah satu pertemuan penting.
Suara bel berbunyi membuat jantung Areta semakin berdetak kencang. Salah satu pelayan di rumah besar itu bergegas keluar untuk membukakan pintu.
Suara derap kaki mulai terdengar oleh Areta. Ia hafal betul ciri khas suaminya berjalan.
Tubuh Areta menegang karena sangat ketakutan. Keringan dingin membanjiri tubuh seksinya malam ini.
"Sejak kapan seorang istri dari Husein bisa bersikap sangat ceroboh begitu?" tanya Husein dengan tatapan menggerikan.
"A--aku ... aku hanya ingin memberi pelajaran pada gundikmu itu, Tuan. Aku tak menyangka kalau Tuan sanggup menduakan aku yang selama ini selalu setia mengabdikan hidup penuh sukarela," papar Areta diiringi air mata.
Husein menyeringai. Ia sebenarnya tak tega menyakiti Areta. Sesungguhnya Areta adalah cinta pertamanya, dan masih menempati relung terdalam di hatinya. Namun, pesona Khana juga tak mampu ditepisnya.
Sebagai seorang lelaki, Husein menganggap hal ini wajar dan sah-sah saja.
"Karena kau sudah tahu semuanya, maka saya peringatkan padamu agar tak mengulang perbuatan yang sama! Khana saat ini statusnya adalah istri kedua saya. Pernikahan kami memang hanya sebatas pernikahan sirih saja. Namun, bukan berarti kau bisa sesuka hati menyakitinya!" terang Husein.
Areta semakin merasa terluka dengan sikap sang suami. Ia tak rela jika harus berkongsi cinta. Akan tetapi, ia juga tak mungkin menggugat Husein. Sebab biar bagaimana pun, Husein adalah orang yang sangat ia cinta serta orang yang disegani di kota ini.
"Baiklah, Tuan. Aku akan mencoba menerima kenyataan pahit ini, tapi aku minta satu hal padamu," ujar Areta.
"Katakan!" titah Husein.
"Aku tak mau dunia tahu tentang status Khana. Aku tak sudi dia tampil di permukaan sebagai istri keduamu, Tuan."
"Tenang saja, Areta. Khana memang hanya untuk di belakang layar. Lagi pula saya bukan orang yang ceroboh sepertimu. Semua yang saya lakukan tentu sudah saya pertimbangkan."
Areta bergeming. Setidaknya saat ini ia sedikit merasa lega. Sebab status Khana tak akan pernah melampauinya.
***
Hari berganti. Khana sudah sadar dari pingsannya semalam. Mani dan dua pelayan lainnya sangat cemas menunggu kesadaran Khana semalaman.
"Syukurlah, Nona Akhirnya sudah siuman," ucap Mani.
"Dimana, Tuan Husein?" tanya Khana sembari memanjangkan lehernya mencari keberadaan sang suami.
"Tuan Husein pulang ke rumah utama, tapi beliau berpesan agar kami semua menjaga Nona."
"Hm, baiklah."
Tak lama kemudian Dokter Hans pun datang untuk kembali memeriksa keadaan Khana.
Dokter muda yang masih membujang itu sangatlah tampan. Dua pelayan muda teman Mani sering mencuri-curi pandang ke arahnya. Namun, Dokter Hans sangat cuek dan acuh tak acuh terhadap perempuan.
"Nona Khana sudah siuman? Bagaimana perasaan Nona sekarang? Apa masih terasa sakit luka di kening Nona itu?" tanya Dokter Hans.
"Sudah mendingan," jawab Khana cuek.
"Berarti saya sudah bisa pulang ke rumah sekarang?"
"Pulang? Aku berkata sudah mendingan. Bukan berarti aku sembuh total. Lukaku harus tetap dirawat. Aku tak mau luka ini meninggalkan bekas di keningku. Kau paham itu?" hardik Khana.
Ia memang sangat galak dan angkuh. Namun, hal itu pula yang membuat Husein bertekuk lutut padanya. Husein menikahinya sebab ia terlihat beda dari wanita pada umumnya.
Begitu pun bagi Dokter Hans. Khana sangat spesial, hingga membuat dirinya sering salah tingkah dan tak berani terlalu lama berdekatan. Detak di jantung Dokter Hans selalu tak terkendali setiap kali berhadapan dengan Khana.
Diam-diam ia mengagumi sosok istri Husein tersebut.
"Saya akan memberikan obat untuk Nona."
"Itu harus! Kau juga tak boleh ke mana-mana! Suamiku membayarmu bukan untuk makan gajih buta saja!"
"Baik, Nona."
Dokter Hans mengeluarkan salep untuk luka yang ada di kening Khana. Perlahan ia membuka perban, tapi seperti perintah Husein, tangannya tak boleh menyentuh langsung kulit Khana.
Setelah perban dibuka, Dokter Hans meminta Mani untuk mengoleskan salep ke kening Khana.
"Tolong oleskan obat ini!" titah Dokter Hans dengan sangat sopan.
Mani mengangguk.
"Tidak. Ini adalah tugasmu, Dokter Hans!" sanggah Khana.
"Hm, tapi saya dilarang menyentuh kulitmu, Nona Khana."
"Kau bisa melakukannya tanpa menyentuhku, bukan?"
"Bagaimana mungkin?" Dokter Hans sangat kebingungan kali ini.
"Gunakan sarung tangan! Kenapa otakmu tak berjalan?"
Tajam kalimat Khana membuat Dokter Hans sedikit merasa geram. Ia tak bisa membantah sebab kekuasaan memang dikendalikan oleh mereka yang miliki banyak uang.
Dengan berat hati Dokter Hans melakukan tugasnya sesuai seperti perintah Khana.
Khana menatap wajah Dokter Hans secara diam-diam. Ia sebenarnya mengakui ketampanan Dokter pribadinya itu dalam hati. Namun, wibawa serta karisma Husein tentu jauh lebih memikat baginya.
Saat Dokter Hans mengoleskan salep ke kening Khana, jarak mereka menjadi sangat dekat. Debar di dada Dokter Hans semakin kuat. Kedua tangannya gemetar hebat.
Khana dapat merasakan kegugupan Dokter Hans. Ia sengaja membuat suasana semakin menegang.
"Mani, tolong siapkan sarapan yang baru untukku! Aku tak mau makan nasi goreng. Jadi kau ganti dengan menu lain!" perintah Khana.
"Baik, Nona."
Mani segera keluar dari kamar Khana. Sementara dua pelayan lainnya juga disuruh keluar.
Hal tersebut tentu membuat Dokter Hans semakin merasa gugup.
Khana mengukir senyum manis. Kemudian ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi sebelah kiri Dokter Hans.
Dokter Hans menahan napas sesaat. Ia tak menduga akan tindakan Khana barusan.
Suasana membisu. Khana tak berkata apa-apa, begitu pun dengan Dokter Hans.
Lalu, pintu kamar terbuka. Husein telah tiba. Seketika Dokter Hans menarik tubuhnya menjauh dari Khana.
"Bagaimana keadaanmu, Nona Khana?" tanya Husein sembari mendekat.
"Aku sudah sedikit lebih baik, Tuan. Dokter Hans memberikan obat sangat mujarab," ujar Khana.
"Baguslah. Terima kasih, Dokter Hans. Anda bisa keluar sekarang!" titah Husein.
Dokter Hans mengangguk dan berlalu.
Part: 3
***
Dokter Hans masuk ke dalam apartemen yang ditempatinya. Degup di jantungnya masih berdetak kencang. Tindakan Khana tadi sungguh membuatnya nyaris pingsan.
Tanpa disadari, kedua tangan Dokter tampan itu gemetar. Tubuhnya sungguh tegang. Khana adalah wanita pertama yang pernah menciumnya.
"Nona Khana benar-benar gila. Jika tadi Tuan Husein melihat, maka aku pasti celaka," gumam Dokter Hans.
Ia sangat cemas, tapi di sisi lain dirinya juga merasa senang. Bunga cinta di hatinya seolah bermekaran. Namun, tentunya salah sasaran. Khana adalah seorang selir muda dari lelaki terkaya di kotanya berada.
-
-
"Saya sudah memberikan peringatan pada Areta. Nona tak perlu cemas lagi! Saya berjanji akan mengupayakan perlindungan terbaik untukmu, Nona Khana!" ujar Husein.
"Aku percaya, Tuan. Sedikit pun aku tak pernah meragukanmu. Masalah ini biarlah berlalu. Terpenting Tuan Husein masih berdiri di depanku untuk memberikan pembelaan," sahut Khana dengan manja.
Kacantikkan, serta kelembutan sikap Khana selalu berhasil membuat Husein mabuk kepayang. Selir mudanya itu tahu cara memanjakan pasangan. Husein nyaris menyerahkan kepalanya di bawah kaki Khana setiap kali ia berdekatan.
Namun, tiba-tiba sebuah siaran televisi yang sedang menyala di kamar apartemen mewah yang ditempati Khana mengejutkan Husein.
Sebuah berita menayangkan adegan seorang wanita menjambak rambut wanita lain. Orang itu tidak lain, tidak bukan ialah Areta dan Khana.
Terlihat begitu jelas kekerasan yang dilakukan Areta terhadap Khana itu. Husein membelalakkan mata tak percaya dengan berita yang sedang berlangsung di layar kaca tersebut.
Areta membenturkan keras kepala Khana ke meja kaca sampai Khana terluka. Kemudian dua lelaki pesuruh Areta merusak cctv. Semua adegan terekam di sana, lengkap dengan percakapan keduanya.
"Nona Khana ...," lirih Husein menatap tajam ke arah bola mata indah seperti batu emerald itu.
Khana menelan ludah getir. Ia tahu, pasti saat ini suaminya mengira dirinya telah menyebarkan video tersebut.
"Aku sama sekali tak mengerti kenapa video itu bisa beredar ke media, Tuan." Khana masih mencoba bersikap tenang. Padahal hatinya sungguh cemas dan sedikit takut.
"Saya selama ini selalu memanjakanmu dengan apa saja yang kamu mau, Nona Khana. Namun, tentunya Nona juga tahu kalau saya tak suka dikhianati. Saya sudah katakan, bahwa dirimu tak boleh terekspos keluar. Jika video ini bukan Nona yang menyebarkan, lalu siapa lagi? Bukankah yang menyimpan rekaman itu hanya Nona dan saya?"
Intonasi suara Husein kali ini terdengar penuh penekan. Khana menggelengkan kepala dengan cepat. Ia sama sekali tak melakukan perbuatan tersebut.
"Aku mengerti, Tuan Husein. Mana mungkin aku berani melakukannya," sanggah Khana.
"Berterus teranglah, Khana! Saya lebih suka kejujuranmu dari pada kebohongan yang harus kau karang demi menutupi satu kesalahan!" hardik Husein.
Air mata Khana menetes seketika. Ia tak suka dibentak, apalagi dibentak oleh lelaki yang dicintainya.
"Aku tidak berbohong, Tuan."
"Saya akan memaafkanmu, Nona Khana. Asal dirimu berkata jujur dan mengakui kesalahan kali ini."
"Bagaiman mungkin aku mengakui kesalahan yang tidak aku lakukan, Tuan Husein? Terserah jika Tuan tak mempercayai aku. Namun, aku beri saran agar Tuan segera mencaritahu kebenaran tentang masalah ini. Jangan menjadi buta hanya karena aku yang merekam kejadian itu. Gunakan kekuasaanmu untuk melacak pelaku sesungguhnya. Aku tak suka dibentak! Tuan harus camkan itu!"
Husein bergeming. Selama ini Khana selalu lembut dan penurut. Ia tak sekali pun pernah mengecewakan Husein. Seketika saja lelaki tampan yang usianya berbeda cukup jauh dari Khana itu menyadari akan sikapnya yang berlebihan.
"Maafkan saya, Nona Khana. Saya terbawa emosi karena berita yang tersebar ini. Saya bingung harus berkata apa nantinya pada media."
Khana memalingkan muka dan mengusap sudut matanya yang basah. Bentakan Husein telah menciptakan api dendam di hatinya.
-
-
Di sisi lain, Dokter Hans juga menyaksikan berita yang beredar di media.
"Nekat sekali Nona Khana melakukan hal itu," gumam Dokter Hans.
Sama halnya seperti Husein, Dokter Hans pun mengira Khana yang membocorkan tentang kekerasan yang dilakukan Areta.
Sementara kebenarannya belum terungkap siapa pelaku sesungguhnya.
Apa betul Khana sendiri?
Atau ada sosok lain yang mencoba mencari keuntungan dibalik pertikaian keluarga Husein yang terhormat.
-
-
Setelah cukup lama menenangkan tangisan Khana. Husein segera berpamitan pulang ke rumah utama.
"Nona Khana, saya harus kembali ke rumah. Tolong jangan menangis lagi! Saya mengaku salah tadi. Saya percaya padamu, Nona. Dan saya berjanji akan mengungkap pelaku sebenarnya," ujar Husein sembari mencium kedua pipi mulus selirnya itu.
Khana tetap membisu dan tak merespon sama sekali. Hal itu membuat hati Husein teriris. Ia menyesal telah berkata kasar pada Khana. Detik beriknya Husein berlalu.
Seperginya Husein, Khana memerintahkan Mani untuk memanggil Dokter Hans.
"Apa Nona Khana marasakan sakit lagi?" tanya Mani cemas.
"Iya. Segera suruh Dokter Hans ke mari! Setelah itu, kamu dan yang lain boleh beristirahat! Jangan menggangguku!" titah Khana dengan mata yang masih sedikit basah.
"Baik, Nona."
Mani dengan cepat menjalankan tugasnya.
Beberapa menit kemudian Dokter Hans datang.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Dokter Hans.
"Apa kau buta? Menurutmu apa aku baik-baik saja?" Sikap ketus Khana selalu membuat Dokter Hans kesal. Namun, tetap menggemaskan.
Ketika Dokter Hans ingin mendekat, Nona Khana kembali memberi perintah. "Tutup dulu pintu itu!"
Dokter Hans mengangguk dan segera menutup pintu.
Detak jantungnya kini mulai tak beraturan lagi. Suasana berduaan dengan Khana terasa menegangkan baginya. Selain pesona Khana yang tak bisa dipungkiri mata, Dokter Hans juga takut kalau sampai ada yang melihat kemudian mengadukan hal yang tidak-tidak pada Husein.
"Kenapa kau setegang itu, Dokter Hans?" tanya Khana sembari melingkarkan kedua tangannya di leher Dokter Hans.
Keringat dingin membanjiri wajah tampan dokter muda itu. Aksi Khana benar-benar membuatnya dalam masalah besar.
"Nona Khana ... tolong jangan begini! Saya tidak mau ada yang melihat, lalu salah paham."
"Ah, kau terlalu berlebihan! Memangnya aku melakukan hal apa? Jangan terlalu kepedean Dokter Hans," cibir Khana dengan suara lembutnya.
Dokter Hans menurunkan kedua tangan Khana, kemudian ia menatap bola mata indah itu dengan tajam. "Kalau begitu bersikaplah dengan sopan! Saya tidak merasa kepedean, hanya saja saya risih dengan perlakuanmu, Nona!"
Lagi-lagi hati Khana berdenyut nyeri hari ini. Sudah dua kali ia dibentak dengan lelaki yang berbeda.
Sisa air mata yang belum kering karena sikap Husein, kini malah bertambah menumpuk di pelupuk matanya. Khana menangis tanpa suara. Hal itu disaksikan langsung oleh Dokter Hans.
"Nona, apa yang sakit? Kenapa Nona menangis?" tanya Dokter Hans polos. Ia seketika menjadi panik.
Gerakan tangan Dokter Hans dengan sigap membuka kotak obat. Lalu, mencoba mencari sarung tangan untuk bisa menyentuh kening Khana.
Khana bergeming. Ia membiarkan Doker Hans melakukan tugasnya sesuai arahan sang suami. Kulit tangan Dokter Hans tak boleh menyentuh langsung bagian tubuh Khana.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Dokter Hans lagi.
"Iya. Bahkan sangat sakit. Hari ini sebuah pecahan kaca menusuk dua kali di hatiku. Rasanya perih dan sangat menyiksa," desis Khana.
Dokter Hans mencoba mencerna kalimat wanita cantik itu. Namun, ia tak bisa menebak apa maksud dari ucapan Khana.