Bab 1

Di suatu jalan perumahan yang cukup sepi, seseorang melempar lampu jalan dengan batu yang dilemparkan tepat ke lampu tersebut. Membuat jalanan perumahan tersebut menjadi gelap. Lalu orang yang sama mematikan lampu jalanan sebelahnya lagi dengan cara yang sama.

Orang yang berada di dalam rumah di sekitar lampu jalan tidak menyadari kejadian tersebut karena suasana sudah malam dan rata-rata mereka sudah tertidur.

Friska kemudian berjalan melewati jalanan gelap tersebut. Dengan ponsel yang masih menyala dan terhubung dengan Cleo, wanita berusia dua puluh satu tahun tersebut terus berjalan menelusuri jalanan kompleks menuju rumahnya.

Wanita yang terkenal di kampusnya tersebut sudah menaruh curiga dengan pecahan lampu yang berserakan di sekitar tiang lampu.

“What the ... kok lampu jalanan bisa pecah begini? Kamu sih, mengajakaku ke cafe kelamaan, aku jadi pulang larut ini,” ujar Friska mengeluh kepada Cleo.

“Halah, biasanya juga kamu pulang tengah malam. Makanya kalau ingin merencanakan sesuatu untuk Ica kita diskusinya siang saja. malamnya kita isi dengan bersenang-senang,” ujar Cleo di seberang sana.

“Shit!” pekik Friska. Ia kesakitan karena kakinya tergores pecahan

lampu.

“Ada apa?” tanya Cleo.

“Kakiku tergores pecahan lampu,” jawab Friska.

“Huft aku pikir apa. sudahlah aku mau mengedit video lagi. Biar cepat

selesai dan kita upload video Ica ini ke internet,” ujar Cleo, ia merupakan

sahabat Friska sejak SMA.

“Temani aku dong sampai aku ke rumah, sebentar lagi sampai ini, tadi

taksinya tidak bisa masuk ke dalam kompleks karena sudah lewat jam sepuluh

malam.” pinta Friska kepada sahabatnya tersebut.

“Oke, aku temani kamu,” ujar Cleo dari seberang sana.

Namun, baru beberapa langkah melewati tiang lampu yang mati, Friska dikejutkan dengan sosok seseorang yang memakai pakaian serba hitam dan menggunakan hoodie di kepalanya. Wajahnya tidak tampak jelas karena gelap.

Friska tertegun. “Hei, siapa di sana? Jangan macam-macam ya, nanti aku teriak para security pasti akan datang ke sini,” ujar Friska.

Tentu saja ucapan Fiska membuat Cleo menjadi khawatir. “Ada apa? kamu bicara dengan siapa?” tanya Cleo penasaran.

“Tidak tahu. Tiba-tiba ia sudah berdiri beberapa meter di depanku,” jawab Friska. Ia mulai ketakutan, mengingat ia hanyalah seorang wanita yang berada di jalanan kompleks sendirian dengan cahaya lampu remang-remang.

Sosok tersebut melangkah maju menghampiri Friska dan membuat nyalinya menjadi terjun bebas ke dasar.

Friska juga melangkah mundur untuk menjaga jarak dengan sosok tersebut.

“Hei, jangan macam-macam ya. Aku akan ....” belum juga Friska menyelesaikan ucapannya, sosok tersebut sudah menyerangnya dengan berlari dan menampar wajah Friska. Tubuhnya terjatuh ke kiri dan ponselnya terjatuh jauh dari tubuhnya.

Plak! Gubrak!

“Aahh!” teriak Friska. Sontak saja membuat Cleo juga menjadi panik.

“Friska! Friska!” teriak Cleo dari ponsel milik Friska.

“Ampun, jangan sakiti aku.” Friska berusaha menjauh dari sosok tersebut, ia merangkak menjauh, tapi dengan mudah sosok tersebut menarik rambut Friska dan membuatnya teriak kesakitan lagi.

“Aaaa!” teriak Friska, terdengar lirih dan menakutkan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Sosok tersebut menarik rambut panjang Friska hingga membuat tubuhnya mengikuti gerakan tangan sosok tersebut.

“Jangan sakiti aku, aku mohon.” pinta Friska sambil menangis ketakutan.

Namun, sosok tersebut tidak menghiraukan permintaan Friska. Sosok tersebut kembali menampar wajah Friska hingga wajahnya menyentuh aspal jalan.

Darah segar mengalir dari ujung bibirnya.

Kini Friska tidak berdaya untuk berteriak. Kepalanya terbentur ke aspal dengan cukup kencang. Lalu sosok tersebut mengikatkan sebuah kain hitam untuk menutupi mulut Friska.

Friska yang sudah lemas karena benturan di kepalanya, hanya pasrah menerima perlakuan sosok tersebut. Kemudian sosok tersebut mencengkeram leher Friska, hingga membuatnya kesulitan bernapas dan hilang kesadaran.

Tidak lama kemudian dua orang security dari arah depan kompleks terlihat berlari ke arah Friska.

“Woi! Sedang apa kamu?” teriak salah seorang security bernama Warno.

Lalu dari arah belakang terlihat Tedy berlari ke arah putrinya yang tergeletak di atas aspal.

“Friska!” teriak Tedy dari kejauhan. Dengan cepat sosok tersebut melepaskan cengkeramannya, lalu menjauh dari tubuh Friska dan menghilang di tengah gelapnya malam.

Tedy yang berlari menuju Friska sangat terkejut melihat kondisi putri semata wayangnya tersebut. Mulut,

kedua tangan dan kakinya diikat oleh kain hitam.

“Friska!” panggil Tedy sambil meraih tubuh putrinya tersebut yang sudah tidak sadarkan diri. “Friska,

sayang,” panggil Tedy lagi sambil membuka ikatan kain di mulut Friska.

Kedua security tersebut terkejut melihat kondisi Friska yang terluka di kaki, lebam di wajahnya dan darah yang keluar dari ujung bibir serta pelipisnya.

Lalu security satunya melihat lampu jalanan yang pecah dan berserakan di sekitar Friska.

“Ya ampun, siapa yang berani melakukan ini?” ujar Warno selaku petugas keamanan kompleks tersebut

sambil menyinari lokasi sekitar dengan senternya.

Satu jam setelah kejadian buruk menimpa Friska, di sebuah restoran di pusat kota.

Akbar dan Eve sedang makan malam berdua. Sepasang kekasih yang sedang menikmati kemesraan tersebut

harus rela diganggu dengan kehadiran Hanum, rekan kerja Akbar. Mereka berdua adalah seorang polisi yang sedang menyelidiki kasus orang yang terluka karena di aniaya oleh orang yang tidak dikenal.

“Maaf jika aku mengganggu kalian lagi,” ujar Hanum, lalu ia membungkukkan tubuhnya kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Akbar.

setelah mendengar ucapan dari Hanum, wajah Akbar menjadi serius.

“kita harus segera menuju tempat kejadian perkara sekarang.”

Melihat kehadiran Hanum, selera makan Eve menjadi hilang. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Akbar.

Melihat gelagat Eve yang tidak nyaman dengan kehadirannya, Hanum kembali berdiri tegak dan mundur beberapa langkah menjauh dari Akbar dan Eve. Ia memberikan waktu kepada sepasang kekasih itu untuk bicara.

“Sayang, maafkan aku. Aku harus pergi sekarang,” ujar akbar meminta izin kepada Eve, kekasihnya yang baru ia resmikan sebulan ini.

“Untuk apa kamu meminta izin? Kalau aku bilang tidak pun, kamu akan tetap berangkat ‘kan?” tanya Eve, lalu ia menatap Akbar dengan tatapan tajam.

Merasa berada di antara situasi yang tidak kondusif, Hanum memilih untuk meninggalkan mereka berdua.

“Aku tunggu di luar, kalian selesaikan masalah kalian, ya!” ujar Hanum, lalu ia meninggalkan

sepasang kekasih yang hampir bertengkar.

“Eve, kamu kan tahu pekerjaanku. Aku pasti tidak akan memiliki banyak waktu untuk kepentingan

pribadi. Maafkan aku, aku harus ke tempat kejadian perkara,” ujar Akbar.

“Lalu kapan kamu akan meluangkan waktu untuk aku? Atau aku ikut kamu saja? bagaimana?” pertanyaan dari Eve yang membuat Akbar menjadi bingung.

“Eve, kamu seharusnya mengerti pekerjaanku, aku tidak mungkin membawa pasanganku ke TKP,” ujar Akbar.

“Bukan sebagai pasanganmu, tapi sebagai psikiater yang mungkin di perlukan untuk korban,” ujar

Eve berusaha membujuk akbar agar mengajaknya.

Dengan wajah yang memelas, Eve membuat hati Akbar menjadi goyah.

“Baiklah, kamu boleh ikut. Tapi ingat, jangan bertindak tanpa persetujuanku!” Akbar akhirnya luluh.

Sedangkan Hanum sedang berdiri di samping mobil menunggu Akbar. Alangkah terkejutnya Hanum ketika

Akbar datang membawa serta Eve menghampirinya.

Tanpa basa-basi Akbar memasuki mobil. Eve menempati kursi di samping sopir. Kehadiran mereka berdua

membuat Hanum bingung.

“Kamu membawanya?” tanya Hanum yang sudah duduk di kursi baris kedua, tepat di belakang Akbar.

“Aku pikir ia akan berguna untuk mengetahui kondisi kejiwaan korban,” jawab Akbar.

“Alasan! Kita punya tim sendiri untuk hal itu. aku yakin karena kamu terlalu bucin, sehingga mudah

dikendalikan oleh Eve.” Hanum berbisik kepada Akbar.

Mulut Akbar sudah gatal ingin beradu argumen dengan Hanum, tapi jika ada Eve di sampingnya maka sikap

Akbar akan berusaha lebih tenang. Atau lebih tepatnya menyembunyikan sikapnya yang galak dan cerewet.

Selama Eve ada di sampingnya, Akbar terlihat berusaha menenangkan diri untuk tidak menghardik

rekan kerjanya tersebut.

Sedangkan Eve yang tidak menyadari percakapan antara Hanum dan Akbar hanya menatap serius ke depan.

Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi sepanjang perjalanan Eve terlihat terdiam.

Bab 2

Sementara itu, ketegangan juga dirasakan oleh keluarga Friska.

Di rumah sakit, Friska mendapatkan perawatan secara intensif di ruang unit gawat darurat. Tedy dan Monica menunggu dengan cemas hasil pemeriksaan Friska.

Tidak lama kemudian Cleo datang bersama pamannya, bernama David. Selama kuliah di Jakarta, Cleo tinggal bersama David, karena kedua orang tua Cleo tinggal di Singapura sejak ia lulus SMA.

Cleo berlari ke arah Tedy dan Monica. “Bagaimana keadaan Friska, Om?” tanya Cleo mengkhawatirkan sahabatnya tersebut.

“Belum sadarkan diri. Dokter masih menanganinya,” jawab Tedy sengan wajah sedih. “Cleo, terima kasih sudah menghubungi Om saat itu, kalau tidak ....” Tedy tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

“Pak. Sudah, jangan membayangkan hal-hal yang tidak baik. Setidaknya kini Friska sudah dalam penanganan tim medis,” ujar David berusaha menenangkan Tedy dan Monica.

“Aku mendengar teriakan Friska saat aku masih terhubung dengan Friska. Lalu, bagaimana kondisi Friska saat di temukan, Om?” tanya Cleo.

“Friska saat itu sudah tidak sadarkan diri, mulut, kedua tangan dan kakinya terikat kain hitam. Saat itu di pelipisnya mengalir darah segar. Dan beberapa luka di kaki dan tangan, mungkin karena terkena pecahan lampu yang berserakan.” Tedy menjelaskan kondisi anaknya ketika di temukan olehnya.

Mendengar penjelasan dari Tedy membuat Cleo tertegun. “Apa? mulut, tangan dan kakinya diikat kain hitam? Ini seperti ... Ica,” ujar Cleo dalam hatinya.

Tubuh Cleo seketika lemas dan ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tunggu rumah sakit tersebut.

Melihat Cleo terkejut setelah mendengar penjelasan dari Tedy, membuat David menanyakan sesuatu kepada keponakannya tersebut.

“Kenapa? Kamu tahu sesuatu mengenai siapa pelakunya?” tanya David.

“Siapa yang berani melakukan itu kepada anak kita? Friska anak yang baik, sangat penurut, ia tidak mungkin jahat kepada orang lain,” ujar Monica dengan air mata yang terus mengalir menangisi kondisi anaknya.

Mendengar ucapan Monica, Cleo menatapnya dengan tatapan kesedihan. “Maaf, Tante, Om,” ujar Cleo ikut menangis.

“Cleo ada apa? kenapa kamu menangis? Kamu tahu siapa pelakunya?” tanya Monica. Kini bukan hanya monica yang menatap ke arah Cleo, David dan Tedy juga menatap ke arahnya untuk menunggu jawaban darinya.

“Maaf, aku dan Friska ....” bibir Cleo bergetar ketika akan mengungkapkan hal yang sebenarnya.

“Cleo, jelaskan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi?” tanya David menatap keponakannya dengan tatapan serius. Namun Cleo tetap terdiam.

Namun, belum juga menjawab pertanyaan dari David, dua orang polisi menghampiri mereka semua.

“Selamat malam, kami dari kepolisian. Saya Hanum dan rekan saya Akbar. Kami mendapatkan laporan jika ada korban penganiayaan dan korban sedang berada di rumah sakit ini,” ujar Hanum memperkenalkan diri dan menunjukkan identitas mereka sebagai anggota polisi.

“Oh, Bu polisi. Untunglah kalian datang tepat waktu. Kami sedang mencoba bertanya kepada Cleo mengenai pelaku yang melakukan kejahatan ini kepada Friska,” ujar Tedy.

Perhatian Hanum dan Akbar langsung tertuju kepada Cleo. “Ini yang bernama Cleo? Kamu yang terakhir menghubungi korban?” tanya Hanum dengan tegas. Seorang polisi berpakaian bebas yang memiliki tubuh tinggi dan berambut pendek tersebut.

“I ... iya, bu Polisi,” jawab Cleo ketakutan. Ia tidak menyangka akan melibatkan kepolisian. Karena jika polisi mengetahui perbuatannya dan Friska, polisi tentu akan menindaknya juga.

“Tidak perlu takut, kamu ceritakan yang kamu tahu mengenai terduga pelaku atau orang yang kira-kira melakukan semua ini,” ujar Hanum, ia berjongkok di hadapan Cleo mencoba mendekatinya dengan lembut.

Sedangkan Eve berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Tatapan tajamnya tertuju kepada Cleo yang terlihat ketakutan. Ia mengeraskan rahangnya, terlihat jelas kebencian sedang menguasainya.

Namun tidak ada yang menyadari tatapan kebencian Eve kepada Cleo. Perhatian semua orang tertuju kepada Cleo, termasuk Akbar yang sedang mencoba mengambil informasi sebanyak mungkin dari Cleo.

“A ... aku rasa yang melakukan semua ini adalah I ... Ica,” jawab Cleo, perlahan air matanya juga mengalir.

“Ica? Siapa Ica? Teman kampus kalian?” tanya Tedy dan Monica kompak. Cleo menoleh dan mengangguk pelan.

“Kenapa kamu bisa mengira jika Ica yang melakukannya?” tanya Hanum lagi.

Cleo menatap satu persatu orang yang berada di sana, dadanya terasa sesak untuk mengakui perbuatannya bersama Friska.

“Cleo, ceritakan! Paman akan di sini mendampingi kamu,” ujar David sambil memegang tangan Cleo.

“Lihatlah, semua orang akan melindungi kamu. Tidak perlu takut menceritakan tentang Ica.” Akbar mencoba menenangkan Cleo yang terus menangis.

“Karena aku dan Friska melakukan hal yang sama kepada Ica. Memukulinya dan mengikat kedua tangan dan kakinya menggunakan kain hitam,” jawab Cleo, lalu ia menangis menutupi wajah dengan kedua tangannya.

Mendengar jawaban dari Cleo tentu saja membuat semua orang terkejut, terutama Tedy dan Monica yang mengira jika Friska merupakan anak yang baik dan penurut.

David mendengar cerita dari keponakannya juga ikut terkejut. Ia tidak menyangka jika Cleo tega melakukan kekerasan kepada Ica.

“Bagaimana bisa kamu melakukan itu, Cleo?” tanya David tidak percaya. Namun, bukan jawaban yang David terima, hanya tangisan Cleo yang semakin kencang.

“Sebaiknya kita beri waktu untuk Cleo, kita tanyakan lebih lengkapnya beberapa saat lagi,” ujar Hanum kepada David. Mendengar saran dari Hanum, lelaki berparas tampan tersebut menganggukkan kepalanya sambil membelai rambut Cleo. Rasa sedih juga marah menjadi satu.

Mendengar penjelasan dari Cleo membuat senyuman tipis di bibirnya, “Ceritakan semuanya pecundang! Biar semua orang tahu perbuatan kejam yang telah kamu lakukan kepada Ica,” ujar Eve dalam hatinya.

Eve teringat kembali ketika pertama kali Ica datang kepadanya untuk menyembuhkan depresi yang dialaminya. Kedua orang tua Ica mempercayakan kepada Eve tanpa ada rasa curiga.

Ica menceritakan perundungan yang di dapatnya dari Friska dan Cleo. Hampir setiap hari Ica selalu di bawa secara paksa ke tempat sepi oleh Friska dan Cleo untuk di pukuli tanpa tahu kesalahan apa yang telah Ica lakukan.

Tidak hanya di pukuli, Ica juga di ikat lalu secara bergantian Friska dan Cleo memukulinya sambil tertawa dan merekam aksi biadab mereka.

Dengan mudah Eve bisa membuat Ica menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi. Padahal selama ini ia tidak berani menceritakan perundungan yang ia alami kepada kedua orang tuanya.

Kedua orang tua Ica yang sering bertengkar selalu melibatkannya sebagai sasaran kemarahan Edward, ayah Ica. Ia sering mendapatkan kekerasan secara fisik atau verbal dari ayahnya. Ia juga melihat ibunya tersakiti secara fisik dan verbal oleh pria yang seharusnya menjaganya.

Setiap Ica berkonsultasi dengan Eve, kedua orang tua Ica tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangannya. Bukan hanya Ica yang datang kepadanya, ada tiga orang lagi yang merupakan korban dari Friska dan Cleo yang menjadi pasien Eve selama beberapa bulan ini.

Setelah mendapatkan keterangan dari Cleo, akhirnya Hanum dan Akbar memutuskan mendatangi rumah Ica. Cleo, David dan Tedy ikut serta mendatangi rumah Ica. Sedangkan Monica bertugas menunggu di rumah sakit hingga Friska tersadar.

Bab 3

Ica masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa-gesa. Wajahnya tampak ketakutan, ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu ia duduk dilantai dengan punggung bersandar di pintu kamarnya.

Napas Ica menderu, keringatnya membasahi wajah serta tubuhnya yang mungil. Wanita berusia dua puluh satu tahun itu sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, kini air matanya mulai mengalir deras melampiaskan rasa takut dalam dirinya.

Raungan tangisan Ica terdengar dari balik pintu. Edward dan Gina mengetuk dengan cemas pintu kamar anak tunggalnya itu. Setelah mereka menunggu lama kepulangan Ica dari kampus, untuk makan malam bersama, malah menjadi kecemasan yang sudah berulang kali terjadi.

“Ca, ica! Buka pintunya sayang,” pinta Gina dengan suara lembut. Namun, tidak dengan Edward, ia terlihat tidak sabar, bahkan sampai menggedor pintu kamar Ica dengan kasar.

“Buka Ica! Atau papa dobrak pintunya!” ancam Edward.

Melihat sikap kasar Edward yang kembali di tunjukkan, membuat Gina menepis tangan suaminya itu dari pintu kamar.

“Edward! Bukankah kamu sudah berjanji akan mengubah sikapmu terhadap Ica? Di depan Eve kamu sudah berjanji demi kesembuhan Ica,” Gina menyentak suaminya tersebut.

“Persetan dengan janji itu. aku hanya ingin anak kita menurut apa kata kita sebagai orang tuanya! Bukan kita yang dibuat kewalahan dengan sikapnya yang bodoh ini,” jawab Edward dengan suara yang lebih kencang.

Tentu saja ucapan serta volume suara Edward membuat Gina menjadi sedih, marah kemudian menangis. Dengan tatapan mata yang tajam ia menunjuk Edward.

“Semua salah kamu! Jika saja kamu tidak ringan tangan, jika saja kamu tidak kasar, jika saja kamu mau mengerti dan memahami Ica. Semua akan berjalan baik-baik saja!” ujar Gina dengan bibir yang bergetar. Ia tidak menyangka akan mengeluarkan kalimat yang sedari dulu ingin ia ungkapkan di hadapan suaminya tersebut.

Mendengar ucapan yang tajam dari Gina, wanita yang sudah ia nikahi selama dua puluh tiga tahun tersebut membuat Edward emosi. Ia bersiap mengangkat tangan kanannya untuk menampar Gina.

“Tampar saja mas! Tampar! Jika itu membuat kamu puas,” teriak Gina sambil menangis.

“Hentikaaan!” teriak Ica dari dalam kamarnya. Kemudian terdengar raungan tangisan Ica yang menyayat hati kedua orang tuanya.

Gina dan Edward terdiam setelah mendengar teriakan Ica. Lalu pintu kamar terbuka, terlihat Ica yang menunjukkan wajah marah, tapi berurai air mata kesedihan.

Lima tahun yang lalu, Marissa atau lebih sering di panggil Ica merupakan gadis yang normal. Ia pandai bergaul dan memiliki banyak teman. Tetapi sejak Edward mengalami tekanan di kantornya yang selalu menuntutnya bekerja lembur, jika tidak menuruti maka ia akan di pecat.

Perlahan sikap Edward mulai berubah, dengan mudahnya Edward membentak dan memukul Gina jika tidak menuruti perintahnya. Awalnya Gina memberontak dengan sikap kasar Edward, tapi ia membiarkan mendapat perlakukan kasar dari suaminya itu karena ancaman akan diceraikan.

Ancaman itu ternyata berhasil membuat Gina bungkam dengan sikap kasar Edward. Hingga akhirnya Ica melihat sendiri ketika Gina sedang di tampar oleh Edward hanya karena rasa masakannya yang kurang enak menurutnya.

Ica berusaha membela ibunya, tapi dengan kasar Edward malah mendorong dan menyeretnya ke dalam kamar. Semalaman Ica di kurung di dalam kamar. Hampir setiap hari perlakuan kasar Edward semakin menjadi-jadi, apalagi jika hasil kerjanya mendapatkan teguran dari atasannya.

“Diamlah Ica! Tutup mulut kamu dan makanlah. Setelah ini kamu minum obat!” ujar Edward dengan suara yang melunak. Lalu ia membalikkan badannya hendak menuju kamar.

“Aku tidak butuh obat penenang,” Ica berusaha memberontak kembali. Ucapan Ica membuat Edward menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Ica.

“Oh, rupanya ada yang mulai berani menentang ucapan Papa?” kedua mata Edward melotot.

Melihat gelagat Edward yang semakin menakutkan, Gina segera menenangkan Ica.

“Sudahlah Ica, jangan dibantah ucapan Papa kamu. Ini semua demi kebaikan kamu juga, sayang,” ujar Gina dengan suara yang lembut.

Namun, sayang Ica malah menepis tangan Gina yang memegang bahunya. “Benar ujar suara itu. kita harus melawan, kita harus memberontak terhadap penganiayaan,” Ica menoleh ke arah Gina. “Kita harus melawan, Ma,” sambung Ica dengan tatapan sedihnya.

“Dasar anak kurang ajar!” teriak Edward, lalu ia mendaratkan tamparan keras ke pipi kiri Ica.

PLAK!

Saking kuatnya tamparan Edward, tubuh Ica sampai oleng ke arah Gina.

Dengan sigap Gina menangkap tubuh Ica. “Sudah! Hentikan Edward!” teriak wanita yang selalu terlihat tertekan selama lima tahun belakangan.

Gina menangis memeluk anak semata wayangnya tersebut. “Hentikan, Edward! Tampar aku saja, jangan tampar anak kita. Aku mohon tampar aku saja jangan Ica,” Gina memohon dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya.

Edward yang sudah bersiap akan menampar lagi, berdiri tertegun melihat Ica yang berdiri terdiam dengan tanda merah di pipinya. Kini ia membenci dirinya sendiri. “Sialan!” teriak Edward kepada dirinya sendiri. Ia tidak sesungguhnya tidak ingin melukai kedua wanita yang sangat ia sayangi tersebut.

Perlahan ia menurunkan tangannya, kedua matanya berkaca-kaca menyesali perbuatannya. “Maafkan aku,” ujar Edward pelan. Kemudian ia pergi meninggalkan kedua wanita yang seharusnya ia lindungi dari orang lain yang ingin berbuat jahat kepada mereka.

“Setelah menyakiti kita, papa pergi begitu saja,” ujar Ica menatap Gina. “Kita harus melawan, Ma,” sambung Ica dengan air mata yang mulai mengalir.

Ica menangis bukan karena rasa sakit akibat tamparan dari Edward, melainkan menangisi nasib Gina yang selalu menjadi sasaran kemarahan Edward.

“Kita bisa apa, sayang? Jika kita berontak, papa akan menceraikan Mama. Lalu kita berdua akan hidup dibiayai oleh siapa?” Gina mengungkapkan alasannya selama ini bertahan hidup bersama Edward.

“Aku bisa mencari kerja untuk biaya kita makan, aku akan berjuang demi kelangsungan hidup kita berdua, Ma,” ujar Ica merayu Gina agar mau melawan terhadap sikap kasar Edward.

Gina terdiam setelah mendengar ucapan Ica, wajahnya tertunduk. Namun, Ica terus menerus mengucapkan untuk melawan kepada Edward.

“Kamu makan lalu minum obatmu, Mama ingin kamu cepat sembuh dari depresi yang kamu alami,” ujar Gina sambil memalingkan wajahnya.

Mendengar ucapan Gina membuat Ica mengerutkan dahinya. “Apa? Ma, ini sudah keterlaluan, sudah cukup selama lima tahun ini kita menerima sikap kasar dari papa, kita berdua harus ....” belum juga Ica menyelesaikan ucapannya, Gina menarik kedua tangan Ica untuk masuk ke dalam kamarnya.

“Masuk ke dalam kamarmu! Minum obatmu!” perintah Gina dengan suara yang bergetar.

“Ma, aku tidak butuh obat. Aku butuh keluarga yang harmonis, aku hanya butuh kasih sayang bukan kekerasan yang papa berikan selama ini, Ma.” Ica kembali memohon untuk tidak meminum obat yang sudah membuatnya muak.

Namun, ucapan Ica tidak ia dengarkan. Gina mengambil sebutir tablet dan menyodorkannya kepada anak semata wayangnya tersebut.

“Ma, aku mohon. Aku tidak mau minum obat.” Ica memohon kepada ibu kandungnya.

“Ica, Mama mau kamu cepat sembuh. Jika kamu sembuh, papa pasti akan mengubah sikap kasarnya,” ujar Gina merayu Ica.

Namun, bukannya menuruti perintah Gina, tangan kanan Gina yang berisi obat tersebut malah di tepis oleh Ica. Lalu wanita berusia empat puluh tiga tahun tersebut mengambil kembali obat dari dalam botol dan menyodorkan kembali ke Ica.

“Minumlah, Mama mohon,” pinta Gina dengan air mata yang kembali mengalir.

Ica menatap wajah sedih mamanya tersebut, hatinya begitu hancur melihat wajah sedih ibu kandungnya tersebut. Perlahan Ica mengambil obat tersebut dan meminumnya.

Setelah meminum obat tersebut, Gina menuntun Ica ke atas tempat tidurnya. Ia membantu Ica merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Setelah meminum obat tersebut biasanya Ica akan mengantuk dan tertidur pulas.

Ica kini sedang tidur terlentang, sedangkan Gina duduk di sampingnya sambil membelai lembut rambut Ica. Berkali-kali Gina mengecup dahi anak satu-satunya tersebut.

“Mama ingin kamu cepat sembuh, sayang. Mama ingin kamu cepat sembuh,” ujar Gina sambil terus membelai rambut dan mengecup dahi Ica, hingga akhirnya Ica tertidur pulas.

Setelah melihat anaknya tidur, Gina beranjak dari tempat tidur. Dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, ia berjalan gontai menuju ruang makan. Air matanya kembali mengalir jika mengingat tamparan yang dilayangkan oleh Edward ke wajah anak perempuannya.

Ia duduk lemas di kursi menangisi kehidupannya yang dipenuhi kekerasan hampir setiap hari. Belum lagi jika Ica sudah mengurung diri di kamarnya dan terkadang berteriak ketakutan hingga membuatnya panik. Ica sudah berobat ke psikolog tapi berhenti sebelum Ica sembuh karena masalah biaya.

“Maafkan mama karena tidak bisa menjaga kamu dari amukan papa. Maafkan mama, sayang,” ujar Gina yang menangis sendirian di ruang makan. Satu tangannya merogoh kantong celananya. Lalu ia mengeluarkan tablet Benzodiazepine. Obat tersebut merupakan obat penenang yang sudah ia konsumsi beberapa tahun ini untuk menenangkan pikirannya.

Gina masih menangis sedih, tapi ia berusaha meminum obat yang sudah berada di ujung bibirnya. Tanpa ragu ia meminum obat tersebut, tidak lama kemudian tangisannya perlahan berhenti dan ia duduk lemas. Kepalanya ia tidurkan di atas meja makan, perlahan kedua matanya terpejam.

Sebelum terpejam, samar-samar ia melihat sosok wanita yang sedang berdiri di pintu keluar. Karena sudah dalam pengaruh obat yang membuatnya mengantuk, akhirnya Gina memejamkan kedua matanya tanpa tahu siapa sosok wanita yang dilihatnya sebelum tertidur.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED