Bab 1

Liora menatap cermin besar di ruang ganti, matanya kosong, hampir seperti memandang diri sendiri dalam keheningan yang suram. Gaun pengantin putih yang menutupi tubuhnya terasa begitu berat, bukan karena berat kainnya, tetapi karena beban yang tak terlihat-beban yang tumbuh sejak saat dia dipaksa untuk mengikat janji dengan pria yang bukan pilihannya. Suaminya, Arvid, berdiri di sampingnya, namun rasa kekosongan di antara mereka lebih terasa daripada jarak fisik yang ada. Setiap detik yang berlalu terasa seperti sebuah siksaan yang tak bisa dihindari. Pernikahan ini adalah langkah yang dia pilih sebagai jalan keluar dari belenggu keluarganya. Namun, apa yang tidak dia ketahui adalah bahwa kebebasannya hanya akan membawa lebih banyak penderitaan.

Saat upacara dimulai, Liora dapat merasakan tatapan keluarga dan tamu yang terfokus padanya. Wajah-wajah penuh harapan, penuh kebanggaan pada gadis yang dipilih untuk menikahi Arvid, pewaris kekayaan dan kekuasaan keluarga Atwood. Namun, jauh di dalam hatinya, Liora tahu bahwa mereka semua salah. Mereka tidak melihat ke dalam dirinya, mereka tidak memahami perasaan yang melingkupi setiap langkahnya, setiap kata yang diucapkannya.

Keluarganya, terutama ayahnya, Lord Delvin, menganggap Liora sebagai alat untuk menjaga nama baik keluarga mereka. Tidak ada cinta, tidak ada perhatian, hanya tugas untuk mengukuhkan status keluarga mereka di masyarakat. Dan Eveline, adiknya, adalah putri yang selalu dimanja-sempurna dalam segala hal yang dilakukan. Semua orang mencintai Eveline, dan Liora, meski memiliki segalanya, selalu terabaikan. Mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya hidup dalam bayang-bayang adik yang lebih muda, yang selalu berhasil membuat semua orang tersenyum sementara dirinya terpuruk dalam kehampaan yang tak terlihat.

Liora menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dalam sekejap, dia keluar dari ruangan itu, berjalan menuju altar di depan keluarga yang penuh harap. Namun, sebelum dia benar-benar mencapai ujung koridor, matanya bertemu dengan sosok yang membuat seluruh tubuhnya beku. Eveline.

Adiknya berdiri di sisi ruang pelaminan, mengenakan gaun biru lembut yang memancarkan kesan tak bersalah. Senyumnya yang lembut dan sinar di matanya tidak pernah tampak lebih mempesona. Liora tahu-sebuah rasa pahit mengalir di tenggorokannya-bahwa Eveline adalah gadis yang selalu dicintai oleh semua orang. Namun, saat ini, dia bukan hanya seseorang yang membuat semua orang tersenyum. Saat itu, Eveline bukan hanya adiknya. Dia adalah kekasih Arvid.

Liora merasa dunia seakan runtuh di sekelilingnya. Setiap percakapan, setiap sentuhan yang mereka bagikan di hadapan orang-orang selama beberapa minggu terakhir, tiba-tiba terasa sangat berbeda. Seolah Arvid bukan lagi tunangannya-seolah dia bukan lagi orang yang telah dia harapkan untuk membebaskannya dari belenggu keluarganya. Liora ingin berlari, tapi kakinya terasa seperti terikat pada tanah, tak mampu bergerak.

"Kenapa kamu di sini?" Suara Eveline terdengar lembut, namun tajam. Tidak ada yang bisa mengabaikan nada itu-sebuah nada yang penuh dengan makna. Tidak ada senyum di wajahnya saat menatap Liora. Hanya sebuah tatapan yang penuh penyesalan, namun juga keengganan.

Liora menelan ludah. "Aku... aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar," jawabnya, berusaha menahan air matanya yang ingin jatuh.

"Berjalan lancar?" Eveline mengulang kata-kata itu dengan sinis. "Apakah kamu benar-benar berpikir kamu bisa keluar dari semua ini dengan mudah, Liora?"

Tanyaannya menggema dalam benaknya. Kenapa? Kenapa dia harus menjadi orang yang harus menjalani hidup seperti ini? Kenapa harus dia yang terjebak dalam pernikahan ini? Dan di mana Arvid? Mengapa dia membiarkan semua ini terjadi?

Liora hanya bisa mengalihkan pandangannya, mencoba menghindari tatapan tajam adiknya. Tetapi, kenyataan itu sudah jelas-Arvid, pria yang dipilih untuk membantunya keluar dari segala kekangan keluarganya, ternyata memilih adiknya untuk menjalin cinta diam-diam. Arvid dan Eveline telah menjalin hubungan yang lebih dalam daripada sekadar pertunangan yang mereka perlihatkan ke dunia luar. Mereka adalah dua orang yang saling mencintai, dan Liora hanyalah pion dalam permainan mereka. Pemain yang dipaksa bertahan hidup di atas penderitaannya.

Senyum Eveline semakin lebar, dan Liora merasa hatinya pecah. "Aku tahu kamu berpikir menikah dengan Arvid akan memberimu kebebasan, tapi kamu salah. Selama ini, kamu hanya menjadi alat. Alat untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya ada di antara kami." Eveline menambahkan dengan penuh ketegasan.

Liora merasakan dadanya terhimpit. Setiap kata Eveline adalah cambukan yang membuat luka lama semakin dalam. Selama ini dia hanya dianggap sebagai orang luar dalam keluarga, dan kali ini, dia benar-benar merasa seperti orang yang tak diinginkan.

Arvid akhirnya muncul dari balik pintu, wajahnya tampak kosong, seperti biasa. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada penyesalan yang terlihat di wajahnya. Hanya ekspresi yang biasa-terlatih, seperti seorang aktor yang selalu berusaha tampil sempurna. Namun, di dalam matanya, Liora bisa melihat keraguan yang tidak bisa dia tutupi.

"Apakah kamu baik-baik saja, Liora?" Arvid bertanya, meskipun nada suaranya terdengar jauh dan tak peduli.

Liora menatap Arvid, menahan perasaan amarah yang mulai membengkak. "Aku baik-baik saja," jawabnya dengan suara rendah, namun penuh kebencian. "Aku akan baik-baik saja, meskipun aku tahu bahwa pernikahan ini hanyalah tipuan belaka."

Arvid terdiam sejenak, seolah tidak tahu apa yang harus dikatakan. Di sisi lain, Eveline hanya berdiri, menatap Liora dengan penuh penilaian, seolah semua yang terjadi adalah takdir yang tak bisa diubah.

Liora merasa tubuhnya lemas. Di hadapan semua orang, dia harus menjalani pernikahan ini-pernikahan yang tidak pernah dia inginkan, dengan suami yang lebih tertarik pada adiknya daripada dirinya sendiri. Cinta yang hilang, dan pengkhianatan yang membekas di hatinya, membuat langkahnya terasa lebih berat. Dunia yang tampaknya sempurna di luar sana ternyata adalah dunia yang penuh dengan kebohongan dan rahasia.

Namun, dalam hatinya, Liora bertekad. Dia tidak akan membiarkan dirinya dihancurkan oleh takdir ini. Jika keluarganya telah mengkhianatinya, dan jika Arvid tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri, maka dia akan menemukan caranya untuk membalas semua ini. Kekuatan dalam dirinya sudah mulai tumbuh, dan dia tahu bahwa permainan ini baru saja dimulai.

Bab 2

Setelah upacara selesai, Liora merasa dunia seakan terbalik. Hari yang seharusnya menjadi titik awal dari kebebasannya, justru terasa seperti malam terpanjang dalam hidupnya. Setiap detik yang berlalu membawa rasa cemas yang semakin dalam. Gaun pengantin yang semula indah kini terasa kaku dan berat, seolah mengikatnya pada kehidupan yang tidak dia inginkan. Ketika pesta dimulai, tawa dan musik menghiasi ruang ballroom yang megah, namun Liora hanya bisa berdiri di sudut ruangan, mencoba menahan air mata yang hampir tidak bisa dia tahan.

Arvid, suaminya yang sah, berbaur dengan para tamu. Wajahnya tampak ceria, tersenyum ramah kepada semua orang, namun Liora tahu bahwa senyuman itu bukanlah untuknya. Tidak ada tatapan penuh kasih yang biasa diterima oleh pasangan pengantin baru. Tidak ada sentuhan lembut, tidak ada isyarat perhatian-hanya sekadar formalitas.

Liora memaksa dirinya untuk tetap tenang. Sebuah permainan besar sedang dimulai, dan dia tidak bisa mundur begitu saja. Jika dia ingin mendapatkan kebebasannya, dia harus memainkan peranannya dengan cermat. Tapi, semakin dia mencoba untuk mengabaikan kenyataan, semakin jelas bahwa apa yang dia hadapi jauh lebih gelap dari yang dia bayangkan.

Saat dia melangkah menuju meja minuman, tak sengaja dia melihat Eveline, adiknya yang begitu manis, sedang duduk di meja dekat jendela. Eveline tampak memikat, mengenakan gaun biru yang menyentuh lantai dengan sempurna, rambutnya diikat dengan elegan. Di sampingnya, duduk Arvid, berbicara dengan suara rendah yang hanya bisa Liora dengar jika dia mendekat.

"Tentu saja, aku ingin kamu bahagia, Eveline," Arvid berkata dengan nada yang penuh perhatian, namun Liora bisa merasakan adanya sesuatu yang lebih. Ada keintiman dalam cara mereka berbicara, sesuatu yang lebih dari sekadar pertunangan formal. Liora bisa melihatnya jelas, meskipun dia berusaha untuk tidak mengakui kenyataan itu.

Eveline tersenyum, matanya bersinar dengan cahaya yang berbeda dari biasanya. "Aku hanya ingin semuanya berjalan lancar, Arvid. Aku tahu ini bukan situasi yang mudah, tapi aku percaya kita bisa melewatinya."

Liora mendengus perlahan, merasakan luka yang mengiris di hatinya. Mereka berbicara seolah-olah dia tidak ada di sana, seolah-olah dia hanyalah penonton dalam drama yang tak diinginkannya. Hatinya tercekik oleh perasaan sakit yang tak terungkapkan. Apa yang sedang terjadi di depan matanya adalah pengkhianatan yang lebih besar dari apa pun yang pernah dia bayangkan.

Dia mencoba untuk berjalan melewati meja itu tanpa menarik perhatian, namun tanpa sengaja kakinya tersandung pada karpet yang sedikit terangkat, membuat dirinya terhuyung. Arvid dan Eveline langsung menoleh, keduanya terkejut melihatnya. Namun, yang paling mencolok adalah tatapan Eveline yang tidak dapat disembunyikan-tatapan yang seolah berkata, "Kamu tahu apa yang terjadi."

Liora merasa panas menyebar ke wajahnya. Dia ingin berteriak, meluapkan segala amarah yang sudah lama terpendam, namun dia hanya bisa menatap mereka dengan mata penuh kebencian. "Apa yang kalian bicarakan?" Liora bertanya dengan suara rendah, namun tajam. Setiap kata keluar dari mulutnya seperti pisau yang mengiris.

Eveline tersenyum pahit, namun tidak ada kebahagiaan di matanya. "Tidak ada yang penting, Liora. Kami hanya berbicara tentang bagaimana mengatur semuanya dengan baik," jawabnya dengan suara yang penuh dengan nada yang sulit dipahami.

Liora merasa darahnya mendidih. "Mengatur semuanya?" Liora mengulang kata-kata itu dengan sarkastis. "Apa yang harus diatur? Atau... mungkin aku hanya bagian dari permainan kalian yang tidak berarti?" dia hampir tidak bisa menahan kata-kata itu.

Arvid tampak terkejut, namun hanya sejenak. "Liora, kita perlu bicara," katanya dengan suara lebih serius. "Tidak ada yang terjadi antara kami berdua. Eveline dan aku hanya..."

"Tunggu!" Liora memotong, suara itu lebih keras dari yang dia inginkan. "Aku tidak butuh penjelasan. Aku sudah cukup melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri." Tatapan tajamnya menyapu ke arah Eveline, yang tampaknya terperangah. "Kamu... kamu sudah lama tahu, kan?"

Eveline tidak menjawab. Wajahnya yang dulu selalu penuh kelembutan kini berubah menjadi datar, seolah-olah dia memilih untuk tidak mengungkapkan kebenaran yang terlalu menyakitkan. Liora bisa merasakan ketegangan di udara, namun dia tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja. Dia harus tahu segalanya.

"Apa yang sedang terjadi di antara kalian berdua?" tanya Liora, suaranya hampir seperti bisikan yang dipenuhi kebencian. "Berani kalian berbohong di hadapanku? Beraninya kalian..."

Arvid tampak cemas, namun Eveline justru berdiri dan berjalan mendekat, matanya yang lembut kini terpatri dengan sesuatu yang lebih keras. "Liora, aku tidak ingin membuatmu terluka," kata Eveline, suara yang begitu penuh penyesalan, meskipun dia tahu bahwa penyesalan itu tidak akan mengubah apa pun. "Aku tahu aku telah melukai kamu, tetapi aku tidak bisa menahan perasaanku."

Liora terpaku. Kata-kata itu, meski penuh dengan penyesalan, hanya membuat luka di hatinya semakin dalam. "Kalian... kalian saling mencintai, kan?" tanya Liora, suaranya hampir pecah.

Eveline menunduk, tidak bisa menatap Liora. Arvid menghela napas, tak tahu bagaimana menjelaskan situasi yang begitu sulit ini. Namun, keheningan itu sudah cukup bagi Liora untuk mengetahui jawabannya.

Dia merasa dunia seakan gelap. Semua yang dia lakukan, semua yang dia jalani, hanya untuk menjadi bagian dari permainan yang lebih besar dari dirinya. Dalam pernikahan ini, dia hanyalah sebuah alat-sebuah alat yang digunakan oleh keluarganya untuk menjaga status mereka, sebuah alat yang tidak pernah dimaksudkan untuk merasakan cinta atau kebahagiaan.

Liora mundur selangkah, perasaan hancur dalam dadanya semakin dalam. "Aku sudah cukup," katanya, suaranya serak. "Aku sudah cukup menjadi boneka. Kalian boleh berpura-pura, tapi aku tidak akan lagi diam."

Dia berbalik, berjalan menjauh dengan langkah yang cepat, tidak peduli lagi dengan pandangan Arvid dan Eveline yang membuntutinya. Liora tahu, dia tidak bisa lagi terjebak dalam ilusi ini. Permainan baru saja dimulai, dan dia akan membuat mereka membayar atas apa yang telah mereka lakukan.

Bab 3

Liora berjalan keluar dari ballroom, napasnya tersengal di antara kemarahan dan kekecewaan. Udara malam yang dingin membelai kulitnya, tetapi tidak cukup untuk meredakan bara yang berkobar dalam dadanya. Pengkhianatan ini bukan sekadar luka biasa. Ini adalah belati yang ditikamkan tepat ke jantungnya oleh dua orang yang seharusnya paling dekat dengannya.

Dia menengadah, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Sejak kecil, dia selalu percaya bahwa bintang adalah saksi atas segala ketidakadilan di dunia. Malam ini, bintang-bintang itu terasa seperti menertawainya.

"Aku tidak akan membiarkan mereka menang."

Tekad itu mengalir dalam nadinya, menggantikan rasa sakit dengan api yang membakar lebih dalam. Jika mereka menganggapnya sebagai rintangan yang bisa disingkirkan dengan mudah, maka mereka telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mereka.

Langkahnya terhenti saat suara langkah lain mendekatinya. Dia berbalik dan mendapati Arvid berdiri di sana, masih mengenakan jas pernikahan yang sempurna, seolah-olah semuanya baik-baik saja.

"Liora, kita perlu bicara," katanya dengan nada lebih lembut dari yang seharusnya.

Liora tertawa kecil, namun tawa itu penuh kepahitan. "Bicara? Sekarang kau ingin bicara?" Matanya berkilat dalam cahaya bulan. "Setelah aku melihat sendiri betapa mesranya kau dan Eveline?"

Arvid menghela napas. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan."

"Jangan berani-beraninya kau menganggap aku bodoh, Arvid," suara Liora tajam. "Aku tidak buta, aku tidak tuli. Kau ingin Eveline, bukan aku."

Arvid terdiam, tetapi keheningannya adalah jawaban yang lebih keras dari kata-kata.

"Katakan sesuatu," desak Liora, suaranya nyaris bergetar. "Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri. Apa aku hanya pion dalam permainan ini? Apa aku hanya alat untuk menyelamatkan reputasi keluarga kalian?"

Arvid menatapnya dengan ekspresi rumit. "Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Tidak denganku, dan aku yakin tidak denganmu."

Kalimat itu bagaikan hantaman keras di dada Liora.

"Kau tahu apa yang lebih buruk daripada menikah dengan seseorang yang tidak mencintaimu?" Liora mendekat, suaranya berbisik tajam di udara malam. "Menikah dengan seseorang yang mencintai orang lain."

Arvid tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi Liora tidak memberinya kesempatan. Dia berbalik dan berjalan pergi. Malam ini bukanlah akhir dari penderitaannya. Tapi ini juga bukan akhir dari dirinya.

Ini adalah awal.

Awal dari sesuatu yang akan membuat mereka menyesali semua yang telah mereka lakukan padanya.

Pagi berikutnya, di kediaman keluarga Voltaire.

Liora duduk di meja makan besar, berhadapan dengan ibu dan ayahnya. Wajah mereka dingin, penuh perhitungan. Sementara itu, Eveline duduk di samping ibunya, wajahnya berpura-pura tenang, tetapi matanya tak bisa menyembunyikan kecemasannya.

"Apa maksudmu ingin berpisah dari Arvid?" suara ibunya, Catherine Voltaire, memecah kesunyian.

"Aku tidak ingin menjadi istri dari pria yang mencintai orang lain." Liora menjawab tanpa ragu.

Ayahnya, Theodore Voltaire, menatapnya tajam. "Kau bukan siapa-siapa untuk menentukan jalan hidupmu sendiri."

Liora terkekeh, menatap ayahnya tanpa rasa takut. "Oh, jadi aku hanya alat keluarga ini, ya? Aku sudah tahu, tapi mendengarnya langsung dari mulutmu benar-benar membuka mataku."

Catherine menatapnya dengan dingin. "Eveline adalah calon tunangan Arvid sebelum kecelakaan itu. Kau harusnya tahu posisi keluargamu dalam perjodohan ini, Liora. Kau hanya pengganti."

Liora mendengus, menatap Eveline yang duduk diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Dan kalian berharap aku menerimanya begitu saja?"

Eveline menggigit bibirnya. "Liora... aku tidak pernah ingin ini terjadi. Aku hanya..."

"Kau hanya apa, Eveline?" suara Liora penuh cemoohan. "Hanya tidak bisa menolak? Hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak merayu pria yang sudah menikah denganku?"

Wajah Eveline memucat.

"Cukup," Theodore menegaskan. "Pernikahan ini tidak akan berakhir hanya karena emosimu yang kekanak-kanakan. Kau akan tetap bersama Arvid."

Liora menatap mereka semua, satu per satu.

"Tidak," katanya dengan suara tenang tapi mematikan. "Aku tidak akan menjadi boneka kalian lagi."

Catherine menyipitkan mata. "Dan apa yang akan kau lakukan? Meninggalkan segalanya? Kau pikir kau bisa bertahan tanpa dukungan keluarga ini?"

Liora tersenyum tipis. "Aku mungkin kehilangan segalanya, tapi setidaknya aku masih memiliki harga diri."

Dia berdiri, meninggalkan meja makan, meninggalkan keluarganya, meninggalkan masa lalunya.

Mereka telah meremehkannya terlalu lama.

Sekarang, dia akan menunjukkan pada mereka siapa sebenarnya Liora Voltaire.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED