Suasana terik siang hari di kota Jakarta. Hiruk-pikuk kendaraan ketika jam makan siang menjadi hal biasa bagi sebagian besar masyarakat. Tetapi tidak dengan wanita anggun bernama Stella, yang tengah duduk di sebuah bangku taman sambil mengipasi diri dengan kipas genggam.
“Sayang, tolong dong cepet dateng. Aku udah panas banget tau gak, nungguin kamu dari tadi,“ rutuk Stella dengan ponsel genggamnya, wanita itu terus saja menggerutu bahkan berteriak pada ponselnya sendiri. Andai saja ponsel itu memiliki tangan, mungkin saja Stella sudah dibungkam dengan satu pukulan.
Siapa yang dia hubungi wanita itu? Tentu saja suaminya.
Kaisar Andelon.
Pengusaha sukses di bidang properti yang nama perusahaannya sudah bukan kaleng-kaleng lagi di pendengaran jajaran pengusaha.
Mendengar nama K.A Property saja sudah akan banyak perusahaan yang mundur teratur jika sedang sama-sama sedang memperjuangkan tander.
Kepiawaiannya dalam mengelola bisnis menjadikan sosok Kaisar begitu dijadikan panutan dan contoh baik dalam kegigihan hidup.
Dimana dirinya berhasil membangun kembali perusahaan orang tuanya yang sempat bangkrut dalam kurun waktu empat tahun.
Pria berdarah campuran Asia-Eropa ini benar-benar begitu sempurna di mata para wanita. Hingga tak jarang banyak sekali model terkenal Nasional atau bahkan Internasional hingga putri pejabat yang datang secara terang-terangan menawarkan diri untuk menjadi istri sosok Kaisar Andelon ini.
Namun, semua harapan gadis-gadis pemuja Kaisar itu harus patah sejak pernikahannya dengan Stella, model Internasional yang memiliki segudang bakat. Hal itu diumumkan beberapa bulan yang lalu.
Bahkan hari pernikahan mereka disebut sebagai, ‘HARI PATAH HATI SEDUNIA.’
“Tunggu aku!” kata Kaisar dari balik telepon.
Mendengar dari suaranya yang dingin, sepertinya Kaisar tengah kesal terhadap Stella.
Ya....
Kaisar benar-benar dibuat kesal dengan Stella, bisa-bisanya dia memaksa untuk segera dijemput di tempat pemotretan, padahal Kaisar sedang dalam meeting penting hari ini. Orang bilang, kesempatan tidak datang dua kali.
Tak mau kehilangan kesempatan memenangkan tander besar pembangunan rumah sakit milik Tuan Raffael Smith yang akan mulai digarap dua bulan ke depan. Akhirnya Kaisar menunda waktu menjemput istri materialisnya setelah meeting selesai, meskipun berulang kali Stella menelpon.
Masa bodoh, pekerjaan adalah nomor-1.
Mobil Kaisar membelah jalanan ibu kota yang cukup padat dengan kuda besi yang berlalu lalang keluar dari kandangnya. Mungkin karena jam makan siang, jadi banyak manusia yang berebut jalan untuk sampai di tempat makan sebelum jam istirahat berakhir.
Panas terik dan suara klakson saling bersahutan di tengah macetnya jalanan. Asap kendaraan yang mengepul menjadi polusi dan juga lampu hijau benar-benar terasa begitu lama, apalagi dengan keadaan perutnya yang sudah meronta-ronta minta diisi. Kaisar benar-benar ingin mengabsen setiap nama hewan hari ini.
“Kenapa lama sekali,” rutuk Kaisar. Pria itu berulang kali memencet klakson dan memukul-mukul stir mobilnya.
Di tengah kegundahan dan kelaparan Kaisar, Ada hal lain lagi yang membuatnya bertambah kesal.
Tok … tok … tok ....
Kaca mobil Kaisar diketuk dari samping, seorang gadis cilik berusia tiga tahunan meloncat loncat melihat ke arah dalam mobil Kaisar. Tentu saja dirinya begitu risih dengan gadis kecil itu.
Tok ... tok ... tok ....
Berulang kali anak itu mengetuk kaca mobil Kaisar meskipun sudah diabaikan, seolah gigih dalam membangunkan kemarahan pria emosional tersebut.
Dengan sangat terpaksa dan rasa kesal yang luar biasa, Kaisar pun menurunkan kaca mobilnya. Menatap anak kecil yang begitu lusuh itu dengan tatapan jijik. Bau matahari dan pakaian kotornya benar-benar membuat Kaisar berasa ingin muntah.
“Hey, bocah kecil? Kenapa kau mengotori mobilku?” Sentak Kaisar pada gadis kecil itu.
Gadis kecil yang membawa sebuah kecrekan dan kantung plastik untuk mengamen itu mendongak. Dalam hati, Kaisar mengutuk ayah dari anak ini. Ayah yang sudah tega membiarkan anak sekecil ini untuk berjuang di jalanan.
“Hay, Uncle! Namaku Amoera, Apa kau mau mendengarkan suaraku? Aku bisa menghibur hatimu yang sedang kesal,“ celetuk anak kecil berwajah imut itu.
Jika dilihat dari postur wajahnya, Anak bernama Amoera ini terlihat seperti blasteran Eropa dan Asia sama seperti dirinya.
Apa mungkin jika Amoera adalah anak dari wanita malam yang sering menjajakan tubuhnya pada orang orang kaya di club malam?
“Justru kau yang membuatku kesal. Pergilah anak kecil!” Kaisar mengibaskan tangannya, mengusir anak kecil itu untuk pergi.
Namun bukannya pergi, Amoera justru mulai menyanyikan sebuah lagu untuk Kaisar.
Aku hanya memanggilmu .....
Ayah ....
Jika aku kehilangan ....
Arah ....
Aku hanya mengingatmu ....
Ayah ....
Jika aku telah jauh darimu ....
Sebait lagu dilantunkan anak itu dengan begitu apik, Suara merdu dipadukan dengan lagu yang akan menyayat hati pendengarnya.
Entah sihir apa yang anak itu gunakan. Namun, tiba-tiba hati Kaisar berdesir. Perasaannya seperti dejavu, dengan pikiran seperti sedang mengingat sesuatu.
Masa lalu.
Apakah mungkin? Jika itu terjadi? Anaknya sudah sebesar ini?
Persetan! Kaisar menampik pemikiran bodohnya dan mengembalikan kesadaran dengan segera.
Yang lalu biarlah sudah berlalu!
“Hay, siapa yang memintamu menyanyi? Aku tidak punya uang kecil untuk membayarmu,” sentak Kaisar lagi.
Niat hati menakut-nakuti, gadis kecil tersebut justru tersenyum dengan begitu manis. Lesung pipi dan gigi gingsulnya benar-benar membuat Kaisar merasa sesak nafas.
Wajahnya benar-benar mirip.
“Mommy bilang, setidaknya dengarkan sebuah lagu untuk membuatmu sedikit tenang. Alunan indahnya bisa membuat kupu-kupu di hatimu kembali terbang. “
Kaisar tertohok, terdiam dalam pikiran yang melanglang buana.
“Kai, dengarkan sebuah lagu jika kau sedang bersedih. Karena setidaknya itu akan membuatmu sedikit tenang dan kupu-kupu di hatimu pun akan kembali terbang.“ Suara sayup-sayup dari kilasan masa lalu seperti sedang berbisik lirih di telinganya.
Kaisar sudah kehilangan kewarasan.
Tubuh Kaisar bergetar.
Otaknya kembali ke alam sadar. Lampu berubah menjadi hijau dan mobil-mobil di belakangnya membunyikan klakson secara bersamaan.
Kaisar tak peduli, dia harus segera mengejar gadis kecil yang mulai menyingkir dari jalanan karena banyak mobil yang mulai berjalan.
Menepikan mobil di pinggir jalan setelah Kaisar sempat melawan arus, Kaisar mengejar Amoera dengan setengah berlari.
“Nak? Tunggu!“ teriak Kaisar. Amoera benar-benar sudah jauh dan tak mendengarkan teriakannya.
Gadis kecil yang dia kejar berlari begitu jauh dari mobilnya, Kaisar masih belum dapat mengejar laju anak kecil bernama Amoera itu.
“Anak itu, pasti putri Sheila,” gumam Kaisar.
Ingin sekali Kaisar kembali mengejar anak kecil itu. Namun, apakah nanti jika sudah bertemu Kaisar bisa menahan diri?
Hatinya benar-benar meyakini jika Amoera adalah putri dari Sheila.
Sheila Arthana, mantan istri sekaligus musuh yang sudah dihancurkan Kaisar hingga tandas tak tersisa..
Semua berawal dari kejadian 6 tahun yang lalu. Ketika orang tua Kaisar menjemput ajal di perbatasan kota, dan Sheila adalah penyebabnya.
Pesta besar yang diadakan keluarga Arthana menjadi titik balik di mana dunia Kaisar seketika hancur berantakan.
Kehidupan yang semula baik-baik saja berubah seketika menjadi sebuah neraka. Kebahagiaan yang sudah dipupuk hancur lebur bersama remahan tubuh orang tua dan adiknya yang terbakar dalam gedung megah yang dianggap sebagai jebakan itu. Kaisar kehilangan segalanya. Keluarga, adik dan bahkan harta dan kekayaannya. Semua sirna begitu saja karena pesta makan malam keluarga Arthana.
Awalnya keluarga Andelon dan Arthana adalah sahabat baik, dimana ibu mereka adalah sahabat sejak masih duduk di bangku SMA.
Undangan makan malam biasanya memang dilakukan untuk sekadar reunian. Namun, enam tahun lalu, acara tahunan itu berubah menjadi bencana.
Dimana orang tua Kaisar terjebak di dalam rumah keluarga Arthana yang sudah habis dilahap oleh si jago merah.
Entah bagaimana awal mulanya. Namun ketika Kaisar datang, kondisi orang tua serta adiknya yang sepantaran dengan Sheila, Putri keluarga Arthana sudah hangus terbakar, kondisinya sungguh memprihatinkan hingga Kaisar mengalami depresi berat selama beberapa bulan.
Dan secara mengejutkan pula, tiba-tiba keluarga Arthana menghilang begitu saja saat kejadian ini berlangsung. Hanya menyisakan Sheila yang sedang menempuh pendidikannya di kota London.
Dengan dendam membara, Kaisar menjemput sosok Sheila di negeri orang dan menikahinya secara paksa dengan tujuan menghancurkan Sheila hingga tandas.
Menghancurkan hati dan kehidupannya adalah cita-cita Kaisar. Dan setelah semuanya tercapai, Kaisar pun membuang Sheila Cuma-Cuma seperti barang rongsokan.
“Kehilangan sesuatu, jangan sampai menjadikan dirimu buta! Karena percayalah, ketika semua itu terbukti tidak nyata. Kau adalah orang pertama yang akan menghancurkan dirimu sendiri dalam jurang yang disebut dengan sebuah penyesalan.“ Itu adalah kata-kata terakhir Sheila, ketika dirinya dicampakkan oleh Kaisar empat tahun yang lalu.
Tidak ada tangis atau kesedihan dalam wajah Sheila ketika kakinya menginjak keluar dari Mansion. Akan tetapi gadis itu tersenyum merekah yang menunjukkan seolah dirinya sudah terbebas dari beban besar yang selama ini menghimpitnya.
“Selamat tinggal, Suamiku.”
*** To Be Continued ***
Empat tahun sebelumnya.
Sheila Arthana, gadis ceria dengan sikap sopan dan sedikit bar-bar itu tengah membereskan sisa sampah makan dan beberapa jajanan hasil kawan-kawannya yang baru saja pulang.
Mengerjakan tugas kelompok di apartemen Sheila adalah oase tersendiri bagi kawan-kawannya.
Merekaka sangat bersemangat seperti pejuang kala mendengar tugas kelompok dikerjakan di kediaman Sheila.
Selain banyak makanan, di Apartemen Sheila juga bebas dan luas. Tidak ada orang tua, atau orang lain yang akan memarahi mereka ketika mengacak-acak isi apartemen tersebut. Karena Sheila akan selalu bersikap biasa-biasa saja.
“Aisshh, mereka ini benar-benar! Sudah menghancurkan apartemenku, meninggalkan sampah sebanyak ini dan juga menghabiskan camilanku. Untung saja aku tidak akan bangkrut dalam seketika,” rutuk Sheila.
“Jangan banyak mengeluh, nanti kau jadi keriput,“ ucap seseorang mengejutkan Sheila yang tengah sibuk membereskan sisa pertempuran absurd kawan-kawannya.
“Kak Raya? Kapan kau datang?“ ucap Sheila matanya berbinar bahagia.
“Aku baru saja tiba, kau tau? Aku punya satu kabar untukmu!“ kata Raya.
“Apa?“
“Um, sebenarnya ibumu menitipkan salam dan sepucuk surat ini untukmu.” Raya memberikan sebuah lembaran kertas berwarna merah muda kepada Sheila.
Menjadi hal biasa jika Sheila dan ibunya bertukar kabar melalui surat dan itu bukan hal aneh bagi Raya yang notabene adalah sepupu Sheila sendiri.
Sheila mulai membaca dari kalimat sapa yang ditulis ibunya paling atas.
[Dear Sheila.
Putriku Sheila, apa kabar? Mommy harap kau dalam keadaan baik.
Mommy ingin memberi sebuah informasi, bahwa nanti ketika pulang dari London, kau akan segera kami nikahkan dengan pangeran berkudamu.
Mom dan daddy sudah menyiapkan segalanya!
Tinggal menunggumu kembali dari London dan bersiap memberi kami cucu.
Nak? Boleh mommy meminta tolong?
Bisakah kau menerima apapun keadaannya nanti? Mommy dan daddy mungkin tidak akan bisa menemanimu hingga pelaminan.
Love mommy untuk Sheila. ]
Sheila menghela napas berat. Pikirannya selalu saja seperti ini, tahun lalu mommy tidak datang di pesta ulang tahunnya karena jadwal meeting yang padat dan sekarang? Dia yang mengatur pernikahan Sheila dia sendiri yang tidak datang.
Sheila benar-benar sudah hafal dengan ayah dan ibunya ini.
“Mom dan daddymu memiliki perusahaan baru di Nigeria, Jadi dalam kurun waktu yang lama dia tidak akan kembali. Kemungkinan ayahku nanti yang akan menjadi walimu,” kata Raya.
“Aku ini sebenarnya anak siapa? Kenapa selalu paman Joshua yang menjadi waliku.” Sheila memberengut kesal.
“Sudahlah, kau ini seperti tidak biasa saja,” cibir Raya.
Keduanya pun bersama-sama membersihkan apartemen Sheila hingga jam makan malam tiba.
Sheila kemudian meraih ponselnya dan memesan makanan online, di London akan cukup sulit mendapatkan makanan makanan Asia seperti kesukaannya. Jadi lebih baik order via kurir saja! Jauh lebih mudah bukan.
“Kau mau makan apa, Kak?“ tanya Sheila pada Raya yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
“Rica-rica kemangi sama ayam goreng,” jawab Raya.
“Baik, aku sudah pesankan.”
Setelah menyelesaikan pesanan. Kurir pasti memerlukan waktu untuk mengantar pesanannya. Cukup waktu bagi gadis cantik itu untuk mandi. Sheila bergegas membersihkan diri di kamar mandi.
Tubuhnya terasa lengket, apalagi kegiatan bersih-bersih tentu saja juga meninggalkan debu di pakaian dan tubuhnya.
Ritual mandi berjalan selama hampir satu jam.
Jika bell tidak berbunyi berulang kali, Sheila bisa menghabiskan sisa hidupnya dalam bak mandi untuk berendam.
“Kenapa Kak Raya tidak membuka pintu? Apa Kakak tidak dengar bell terus berbunyi?“ teriak Sheila sambil menuruni tangga.
‘Raya benar-benar kelewatan, padahal dia yang berada di bawah tapi mengapa tidak mau membukakan pintu? Apa dia tidak lapar?’ monolog Sheila.
“Eh, kemana Kak Raya?“ Sheila menoleh kanan kiri mencari keberadaan Raya yang tidak terlihat batang hidungnya.
“Kebiasaan. Dia selalu pergi setelah aku memesan makanan. Pada akhirnya aku akan makan sendiri dengan porsi berdua. Terus-terusan saja seperti ini setiap hari. Aku yakin, setelah tiga tahun aku akan menjadi bulat seperti bola volly,” gerutu Sheila.
Ting ... tong ....
Bell pintu kembali berbunyi dengan tak sabaran.
Orang di luar bahkan lebih mirip dengan perampok daripada seorang kurir.
Dengan sedikit menggerutu, Sheila akhirnya membuka pintu.
“Iya, sebentar dong. Sab--.” Sheila menggantungkan ucapannya kala melihat orang yang berdiri di depan pintu bukanlah kurir pengantar makanan. Melainkan sosok tampan yang menatapnya dengan begitu dingin.
“Maaf, cari siapa, ya?“ kata Sheila gugup. Bagaimana tidak? Orang setampan ini bisa nyasar di apartemennya. Entah ini musibah atau bahkan berkah.
“Nona Sheila. Akhirnya aku menemukan tempat persembunyianmu,“ kata pria itu menyeringai.
Sheila hanya mengerjapkan mata beberapa kali, Tak mengerti dengan ucapan yang pria ini keluarkan barusan.
“Maaf, maksud anda apa, ya? Saya tidak merasa punya hutang dengan Debtcolector.“ Sheila membeo bodoh.
Pria itu menaikkan alisnya heran. Bisa-bisanya dia dikatakan penagih hutang.
“Apa aku terlihat seperti itu di matamu? “
“Um, sebenarnya di mataku kau sangat tampan.” Sheila terkekeh geli. Otaknya benar-benar nakal sekali.
“Bagus, Kalau begitu ikut aku.”
Tanpa menunggu jawaban Sheila, pria misterius itu menarik paksa gadis bermata biru itu seperti binatang.
“Tunggu, kau mau membawaku kemana? Lepaskan aku. Aku mohon.” Sheila berteriak kencang.
“Berteriaklah sesukamu, karena di tempat ini tidak akan ada satu orang pun yang akan membantumu. Takdirmu adalah aku. Dan aku adalah kematianmu,” ancam pria itu.
Sheila benar-benar tak mengerti, berusaha memberontak pun sudah Sheila lakukan. Namun dirinya yang wanita tentu saja kalah dengan pria berbadan tegap ini.
“Masuk!” Pria itu mendorong tubuh Sheila kedalam mobil dengan paksa, kemudian meminta supir melajukan mobilnya secepat mungkin.
“Tolong ... tolong, lepaskan aku dari sini, tolong.” Sheila kembali berteriak dan bahkan menendang-nendang pintu mobil dengan kakinya yang pendek itu. Tak menghiraukan ucapan pria di samping, Sheila hanya berharap akan ada pangeran berkuda yang datang menyelamatkannya hari ini. Maka dirinya akan berhutang seumur hidup.
“Berteriaklah sampai kau lelah, dan setelah itu kau bisa tidur, karena perjalanan kita masih panjang,“ kata pria itu.
“Sebenarnya siapa kau? Apa maumu, hah?“
“Nona, turunkan nada bicaramu,” sahut sang sopir. Jika dari penampilannya, sopir ini lebih mirip dengan asisten CEO daripada seorang supir.
“Kau, sebenarnya siapa kalian. Kenapa kalian menculikku? Apa salahku, ha?“
“Salahmu hanya satu, Kau hidup dan terlahir dari seorang penjahat.”
Detik berikutnya, Sheila tidak bisa lagi mendengar atau melihat apapun. Karena pria itu menutup hidung gadis malang itu dengan menggunakan sebuah sapu tangan.
Sheila pingsan dalam pengaruh obat bius dosis tinggi. Tujuannya adalah, supaya gadis ini tidak menyusahkan mereka selama perjalanan.
Dari sinilah semuanya bermula. Hal-hal indah Sheila, kebebasannya, waktunya? Semua akan terbuang sia-sia ....
Ini adalah kehidupan Sheila, neraka yang diciptakan oleh seorang KAISAR ANDELON.
#Selamat berjuang Sheila#
Seorang gadis cantik tengah duduk di sebuah hamparan rumput hijau yang begitu luas nan indah.
Nuansa rumput dan bunga-bunga yang mekar menambah aksen pemandangan semakin menyejukkan. Namun, kenapa gadis manis itu malah terlihat murung?
Seorang wanita dewasa menghampiri, mengusap lembut rambut indah itu dengan penuh kasih sayang.
“Nak, Kenapa kau bersedih? Apa kau sedang memikirkan pangeran berkudamu?“ goda wanita itu, yang tak lain adalah ibunya.
Mereka berdua terlihat benar-benar seperti grub marawis yang memakai pakaian serba putih dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Balutan warna putih dalam hamparan hijaunya pemandangan terlihat begitu bersinar di bawah sang surya yang memancarkan cahaya kekuningan di ufuk barat.
“Kenapa? Kalian meninggalkan aku tanpa kabar? Aku ini sebenarnya anakmu atau apa? “ teriaknya pada sang ibu. Emosinya seolah sudah berada di ubun-ubun saat ini.
Ada dendam dalam diri kala dirinya merasa tak dianggap dan dipedulikan oleh orang tua kandungnya.
“Nak? Maafkan aku! Jika saja aku bisa memutar waktu. Mungkin, aku akan memberikan sisa hidupku untuk menebus dosa yang tidak bisa mendampingi tumbuh kembangmu. Aku sudah melakukan semua yang aku bisa untukmu dan untuk kebahagiaanmu. Tapi, nak? Sekarang semuanya sudah berakhir. Benar-benar berakhir dan aku pun tak akan bisa mengulang bahkan membantumu. Anakku, kau akan mulai berjuang sendiri tanpaku atau siapapun. Disini, kehidupanmu akan benar-benar dimulai.”
“Kau mau kemana lagi memangnya?“ ketus anak itu.
“Aku akan pergi. Pergi ke tempat yang jauh bersama ayahmu,” ucap wanita itu. Ia menoleh pada suaminya yang berdiri tak jauh dari mereka. Laki-laki itu tersenyum pada anak dan istrinya.
“Bolehkah aku ikut Bersama kalian? Aku takut sendirian,“ pinta si gadis.
Gadis itu mengiba pada orang tuanya. Hidup bertahun-tahun di perantauan menjadikannya begitu rindu suasana keluarga. Namun, sekarang orang tuanya bahkan hendak pergi?
Apa yang bisa dia lakukan tanpa orang tuanya?
“Tidak bisa. Kau harus tetap disini dan melanjutkan perjuanganmu. Ingat pesanku ya! Ini adalah pesan terakhir dari Mommy dan Daddy. Hiduplah diatas prinsip, dan tetaplah menjadi orang baik meskipun kebaikanmu tidak dihargai orang lain.”
Perkataan menohok yang mengandung ribuan makna tersirat di dalamnya.
Sheila hanya menatap langkah ibunya yang kian mundur dan sedikit demi sedikit menjauh dari jangkauannya.
Setelah mengatakan itu, sang ibu pun berjalan mendekati suaminya. Melambaikan tangan pada sang putri tercinta, dan mulai berjalan menuju setitik cahaya terang yang berada di ujung sana.
Ini adalah awal, sekaligus akhir dari sebuah cerita duka dan bahagia.
Awal dan juga akhir dari sebuah perjuangan.
Antara maju atau menyerah bersama dengan kekalahan.
“Mommy.“
“Daddy.”
“Mommy.”
“Daddy.“
Langkah kedua orang itu semakin menjauh dan terlihat semakin kecil di pupil mata sang putri. Gadis malang itu mencoba mengejar. Namun, langkah orang tuanya terasa seperti rollercoaster yang melesat dengan cepat dan tak dapat dijangkau oleh manusia.
“Mommy, Daddy! Jangan tinggalkan aku. Aku mohon!“ Sheila seketika terbangun dari tidurnya setelah mimpi mengerikan itu. Napasnya berat dan memburu, juga keringat dingin yang mengucur di dahinya. Sheila sudah mirip dengan orang pulang dari sawah ketimbang bangun tidur.
Mimpi yang buruk, sangat-sangat buruk dan bahkan lebih buruk dari perlakuan seorang ibu tiri.
Mengerjap linglung, Sheila sampai melupakan tentang kisah penculikan tadi. Menganggap jika semuanya adalah murni sebatas mimpi.
Gadis itu menepuk-nepuk pipinya berulang kali hingga membuat orang yang tengah memandanginya dengan serius itu keheranan, “Apa aku bermimpi?”
“Kau kenapa?“ Sheila berjingkat kaget ketika suara bariton itu menyapa dari samping tempat tidur.
Suara yang terdengar seperti tak asing. Sheila kemudian menoleh dan terkejut saat mendapati pria itu ada di sampingnya.
Dengan santainya, Kaisar duduk bersandar di headboard dan menatap Sheila dengan tatapan heran.
“Ka-kau? Kenapa kau ada di kamarku?“ teriak Sheila histeris.
Ya, tentu saja gadis itu histeris karena ada pria asing di dalam kamarnya, bagaimana jika ketahuan oleh warga? Kan tidak lucu.
Mata Kaisar memicing, lalu detik kemudian dia terbahak-bahak menyadari jika gadis ini tengah mengigau atau bahkan belum menyadari tempat dirinya berada saat ini.
“Kamarmu? Heh, buka dulu matamu baru sarkas orang. Dengar! Ini adalah kamarku,” kata Kai tegas.
Sheila baru tersadar setelah melirik sekeliling. Benar, ini bukan kamarnya. Rupanya penculikan tadi bukanlah mimpi melainkan kenyataan, Dan sekarang?
“Aku di mana?“
“Ini kamarku, selamat datang di neraka ciptaanku,” kata pria angkuh tersebut.
Setelah memberi Sheila obat bius, pria ini dengan liciknya membawa Sheila terbang menuju ke negara darimana Kaisar berasal, yaitu Indonesia. Untung saja mereka menggunakan landasan pesawat pribadi. Maka jika tidak, Kaisar akan di anggap sebagai penjahat yang tengah menculik gadis muda untuk dinikahi secara paksa. Meskipun pada dasarnya, itu memang benar.
Kaisar berdiri dan berjalan ke arah cermin besar di samping tempat tidur, kemudian memutarnya hingga cermin tersebut menghadap dengan sempurna ke arah Sheila.
Pantulan gadis manis dengan gaun pengantin yang tengah duduk di atas tempat tidur itu terlihat begitu cantik.
Gadis dengan riasan natural di wajahnya yang dipadukan dengan hiasan kepala yang begitu indah. Tiara kecil dengan berlian mahal tertata rapi di sana menambah kesan sempurna dalam penampilan gadis itu.
“Kenapa gambar itu mirip denganku, Tuan?“ tanya Sheila bodoh.
Kaisar berkacak pinggang. Bukankah sudah terpampang nyata jika pantulan gadis di cermin itu adalah dirinya? Lalu mengapa gadis ini masih saja bertanya? Apa otaknya terbalik? Atau bahkan tertinggal di dalam pesawat tadi?
Belum juga Kaisar menjawab, Seorang wanita paru baya masuk dan menunduk hormat.
“Tuan? Penghulu sudah menunggu di luar,“ kata orang tersebut yang tak lain adalah kepala pelayanan di kediaman Kaisar.
“Bagus, bawa istriku turun. Aku akan menemui Matt terlebih dulu,“ Kaisar kemudian berjalan keluar meninggalkan Sheila dan kepala pelayan di dalam kamar.
Sheila sedikit bernafas lega kala Kaisar menyebutkan kata istri. Itu artinya pria itu sudah beristri bukan, ini kesempatan Sheila untuk mengadu pada Istri pria jahat itu nanti.
“Mari Nyonya,“ ajak maid tersebut pada Sheila yang sedang menyusun rencana mengadunya nanti.
“Kemana?“
“Loh, tentu saja ke bawah. Anda ‘kan akan menikah,“ kata maid itu lagi.
Sheila yang masih shock hanya diam sambil berpikir, apakah dirinya akan menikah? Dan sekarang dia pun memakai gaun pengantin. Apa itu artinya dia yang akan menikah?
“Tunggu? Apa maksudmu aku yang akan menikah? Dengan siapa?”
Sheila terkejut bukan main, dirinya sama sekali tidak memiliki agenda untuk syuting film menikah dadakan. Kenapa tiba-tiba saja dia akan menikah.
Otak pandainya memerintah untuk menoleh ke kanan dan kiri, memindai seluruh penjuru kamar dan menerka-nerka keberadaan kamera tersembunyi.
Siapa tahu saja jika semua ini hanyalah sebuah Prank.
“Dengan tuan Kaisar,“ jawab seseorang yang menyembul dari balik pintu.
Dia adalah Matteo, asisten pribadi sekaligus supir dan juga sahabat Kaisar.
“Kaisar? Maksudmu aku menikah dengan seorang raja? Apa kau pikir aku bisa dibodohi, ini bukan jaman kerajaan, ya!“ sentak Sheila.
Karena kepandaian dan kecerdasan Sheila yang di atas rata-rata, akhirnya terjadi perdebatan panjang antara gadis itu dan asisten Matt yang menjelaskan tentang pernikahan paksa ini.
Sedangkan di sisi lain, Kaisar sudah duduk rapi di depan penghulu dan mulai mengucapkan ijab-qobul pernikahan.
“Bagaimana? Apa pernikahan sudah bisa dimulai?” tanya penghulu pada Kaisar.
“Silahkan, mempelai wanita sedang tidak enak badan. Jadi biarkan dia istirahat sejenak karena sempat pingsan tadi.” Salah seorang saksi mencoba menjelaskan.
Penghulu pun percaya karena memang benar, dirinya sempat melihat mempelai wanita yang dibopong oleh beberapa orang menuju kamar.
Kelelahan adalah faktor utama, dan stress adalah faktor kedua.
Melihat dari pamor mempelai pria, dirinya tidak mungkin melakukan pemaksaan pada orang lain apalagi perihal sakral seperti pernikahan.
Penghulu pun mengulurkan tangannya dan memulai acara ijab dengan mempelai prianya.
“Saudara Kaisar Andelon, Saya nikahkan dan saya kawinkan saudara, dengan mempelai wanita bernama Sheila Arthana dengan maskawin uang tunai seratus juta rupiah dibayar tunai.”
Kaisar pun menjawab dengan lantang, cepat dan tepat qobulnya, “Saya Terima nikah dan kawinnya Sheila Arthana dengan maskawin uang tunai sebesar seratus juta rupiah dibayar tunai.“
“Bagaimana para saksi? Sah?“
“Tidak ....“