Sampul Novel Cinta Diantara

Cinta Diantara

8.9 / 10.0
Demi nama baik keluarga, Aisyah terpaksa menikah dengan seorang pria asing yang telah memiliki anak bernama Haidar. Saat rasa cinta mulai tumbuh di antara mereka, Aisyah justru menemukan rahasia kelam yang disembunyikan suaminya. Ketika bayang-bayang masa lalu mulai mengancam, ia kini dihadapkan pada pilihan sulit. Haruskah ia tetap bertahan mendampingi sang suami, menghadapi masa lalunya sendiri, atau memilih pergi dan hidup mandiri?

Cinta Diantara Bab 1

“Saya nikahkan, Aisyah binti Ahmad dengan mas kawin cincin lima gram, dibayar tunai.”

“Saya nikahkan, Aisyah binti Ahmad…”

Air mata menetes tanpa henti di wajah wanita berhijab biru dengan gaun putih yang begitu indah. Hati yang penuh dengan amarah menghasilkan tangan yang bergetar hebat, seakan siap merusak semua yang ada di hadapannya.

Gemuruh doa yang dipanjatkan pasca pengucapan akad, membuat matanya mengeluarkan air mata kepedihan yang terus mengalir.

“Aisyah?” ketukan pintu yang tak menuntut, mengisi keheningan di dalam kamar. “Nak, apa ibu boleh masuk?”

Tidak ada jawaban. Hanya isakan yang semakin kencang saat suara pintu terbuka, terdengar jelas di telinga.

Tanpa mengatakan apapun, sang ibu hanya duduk di samping wanita tersebut.

“Ibu tidak bisa melakukan apapun. Sebelum semua ini terjadi, ibu sudah bertanya, apa kau bersedia atau tidak melakukan semua ini, tapi kau bilang..” sang ibu menggenggam tangan anak perempuannya. “Sekarang, keputusan di tangan mu. Sebelum semua terlalu jauh, putuskan keinginan mu. Ibu tidak akan melarang, ibu tidak akan mengatakan apapun. Kebahagiaan mu adalah prioritas ibu saat ini.”

Sementara sang ibu menunggu jawaban anak perempuannya, di lantai satu mulai terdengar kekhawatiran dari keluarga mempelai pria.

“Zain,” seorang pria paruh baya menghampiri mempelai pria yang masih duduk di hadapan penghulu.

“Bagaimana jika ia tidak turun?” bisik pria paruh baya tersebut.

“Abi, pernikahan ini bukan sesuatu yang ia inginkan. Biarkan dia memutuskan apa yang ia mau. Aku akan menerimanya dengan lapang dada.”

Sang ayah hanya menepuk lembut pundak anak lelakinya. Entah apa yang terjadi di beberapa menit ke depan, tapi sang ayah tau bahwa anaknya telah siap menghadapi itu semua.

Hampir sejam berlalu, beberapa orang mulai bergunjing tentang mempelai wanita yang tidak kunjung datang meski akad telah selesai.

Merasa resah, Zain terus menatap jam di tangannya. Sesekali ia memeriksa ponsel yang tak lepas dari genggaman, seakan menanti panggilan dari seseorang.

“Abi,” belum sempat Zain menyelesaikan kalimatnya, wanita yang ia nikahi, melangkah turun dari lantai dua bersama ibu mertua.

Wanita itu tersenyum, adalah kalimat yang terlintas pertama kali di benak Zain. Tidak ada tanda-tanda perlawanan, ataupun sisa tangisan atas pernikahan ini.

Dengan di damping sang ibu, wanita bernama Aisyah itu duduk di samping Zain untuk menandatangani buku pernikahan di atas meja.

“Maaf, lama.” Bisik Aisyah yang di jawab gelengan dan senyuman lembut dari Zain.

Goresan tinta hitam telah terbentuk jelas di buku pernikahan mereka. Foto dengan latar belakang biru sudah terpasang, dan para tamu yang hadir mulai mengucapkan selamat kepada pengantin.

“Selamat Aisyah,” segerombol pria dan wanita menghampiri mereka dengan senyuman lebar.

“Kami buru-buru kemari saat mendengar pria jutek ini menikah.”

“Belum pernah aku membayangkan, ada wanita yang mau dengan pria jutek, pelit senyum, gila kerja dan galak ini. Bahkan sikapnya lebih dingin dari kulkas empat pintu.” Ejekan salah satu rekan kerja Zain mengundang tawa semua teman-temannya.

“Mba Aisyah, kalau mba mau curhat tentang sikap pak Zain, mampirlah ke kantor. Kami semua siap mendengarkan keluh kesahnya mba Aisyah.” Ujar salah satu wanita yang masih mengenakan kemeja dan celana bahan. Seperti baru pulang kerja.

“Jika kalian semua disini, siapa yang berjaga di kantor? Bagaimana kalau ada klien yang datang?” tegur Zain.

“Nah, apa ku bilang? Di momen seperti ini saja, dia masih memikirkan pekerjaan. Ibu Aisyah, jika ibu sudah tidak tahan dengannya, datanglah ke kantor, biar kami yang memberikan pelajaran kepadanya.”

Aisyah hanya tertawa kecil mendengar guyonan para karyawan yang bekerja di kantor Zain.

“Tapi, ngomong-ngomong, mba Aisyah terlihat cukup muda dibandingkan Zain. Berapa umurnya mba?”

“Dua puluh delapan tahun.” Jawab Aisyah malu-malu.

“Astaga,” semua serempak menatap Zain. “Apa kau menggodanya, pria tua? Umur kalian beda tujuh tahun. Dimana kalian bertemu?”

“Hei, jangan lupa aku boss kalian.” Tegur Zain.

“Ya, kalau di kantor kau memang boss. Kalau diluar, kau adalah teman kami. Itukan prinsip bekerja mu? Dasar pelupa.”

Semua orang terlihat begitu bahagia, dan menikmati momen penting ini. Akan tetapi, dimana ada kebahagiaan, disana ada kesedihan.

Di hari yang sama dengan pernikahan Aisyah, sang ayah harus dipanggil yang maha kuasa.

Tawa yang sejak tadi terdengar, tak lama berubah menjadi kesedihan saat abi berbisik kepada Zain mengenai kondisi ayah Aisyah di dalam kamarnya.

Pernikahan dengan pakaian yang penuh warna, harus berubah menjadi warna putih. Pemakaman digelar dalam kondisi hujan, seakan langit mengerti kesedihan yang dirasakan Aisyah.

Zain duduk -di atas bangku- di samping Aisyah yang termenung di taman belakang rumah.

“Aku mengizinkan mu tinggal disini selama yang kau mau.”

Aisyah menggeleng. “Aku akan ikut pulang dengan, mas.”

“Aisyah,” meski mereka sudah menikah, Zain masih merasa segan untuk menyentuh Aisyah meski itu hanya menggenggam tangannya.

“Kalau begitu, bagaimana kalau aku meminta mu tinggal disini selama seminggu?”

“Tidak, jika aku tetap disini, orang-orang akan bergunjing tentang keluarga ku.”

Zain berlutut di hadapan Aisyah yang tertunduk menahan air mata.

“Tidak akan ada yang bergunjing tentang keluarga mu. Aku disini sekarang, aku tidak akan membiarkan itu terjadi dengan keluarga mu. Jika kau mengizinkan, aku juga akan disini selama seminggu, dan abi dan umi-“

“Cukup..” potong Aisyah. “Cukup abi dan umi saja yang disini bersama ku dan ibu. Aku tidak mau mengganggu pekerjaan mas.”

Helaan nafas berat terdengar dari Zain. “Aisyah, jika kau ingin menangis maka menangislah. Tidak akan ada yang melarang mu melakukan itu.”

Dengan cepat air mata terbendung di pelupuk mata Aisyah. “Jika aku menangis, siapa yang akan menguatkan adik-adik serta ibu ku?”

“Jika kau terus bersikap kuat, lalu kapan kau mengutarakan semua yang kau rasakan?” air mata perlahan menetes membasahi pipi. “Setidaknya, jangan bersikap kuat di hadapanku. Jika kau ingin marah, marahlah di hadapanku. Jika kau ingin menangis, menangislah di hadapanku. Aku… Aku tidak suka ada orang yang menyembunyikan sesuatu dariku.”

Genggaman Aisyah pada bajunya mengerat setelah mendengar semua yang Zain katakan. Air mata sudah sepenuhnya membasahi wajah Aisyah. Isakannya terdengar memilukan di telinga Zain.

Apa yang harus ku lakukan? Menjadi pertanyaan yang tidak bisa Zain ucapkan saat ini. Sikapnya yang selalu terbuka akan isi kepalanya, kini harus tertahan agar tidak melukai atau menyinggung siapapun di situasi saat ini.

Zain hanya bisa menemani Aisyah di taman. Mendengar semua isakannya, tanpa melakukan apapun.

Setelah semua tamu pulang, Aisyah masuk ke kamar ibunya yang sejak tadi keluar kamar. Bahkan ibu tidak memakan nasi yang sudah di siapkan umi di depan kamarnya.

“Ibu,” Aisyah duduk di tepi tempat tidur.

“Lihat, ayah mu begitu bahagia,” Sebuah bingkai foto yang menunjukkan senyum cerah ayahnya, dipegang erat oleh sang ibu. “Sekarang pun, ia merasa bahagia atas pernikahan mu. Pengorbanan mu hari ini, tidak akan pernah ibu dan ayah lupakan sampai kapan pun. Ibu sungguh, beruntung memiliki mu dan adik-adik mu. Sungguh.”

Aisyah hanya mengangguk seraya menggenggam kedua tangan ibunya. Sepanjang hidupnya, Aisyah belajar seberapa penting keluarga di atas segala-galanya. Bahkan ia rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungi harga diri keluarga yang ia cintai. Dan karena alasan itulah, Aisyah berani bertindak sampai sejauh ini.

Hari sudah gelap. Bulan purnama bersinar terang hingga cahayanya masuk ke dalam kamar Zain yang sedang duduk di balkon dengan pikiran kosong.

‘Ku dengar kau menikah hari ini. Ku ucapkan selamat atas pernikahan mu, tapi apa keluarga mu tau tentang hal itu? Kau tau maksud ku.’

Begitu malas Zain membalas pesan yang muncul di layar ponselnya. Apa yang wanita itu harapkan dengan mengirim pesan seperti itu? Permintaan maaf? Penjelasan? Bahkan Zain tidak memiliki hak untuk melakukan itu semua kepadanya.

‘Kau sudah di rumah? Apa Aisyah ikut bersama mu? Apa kau masih di rumah Aisyah?’

Hanya pesan dari umi yang sanggup Zain balas.

‘Aku di rumah. Beri waktu seminggu, biarkan Aisyah disana untuk menenangkan diri atas apa yang terjadi.’

Tak lama, umi membalas kembali pesan dari Zain.

‘Baiklah, berkabar kepada umi jika Aisyah datang. Bagaimanapun, ia memiliki hak untuk mengetahui semuanya.’

Zain terdiam. Termenung membaca pesan yang dikirimkan umi. Ia tidak dapat menduga reaksi Aisyah yang mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Rasanya seperti menyimpan bom waktu yang akan meledak pada akhirnya.

Setelah seminggu kemudian, Aisyah dan Zain memutuskan untuk pergi ke rumah mereka yang berada cukup jauh dari kota.

“Apa kau tidak lelah dengan jarak sejauh ini dari kantor?” tanya Aisyah yang menatap jalanan kosong, penuh dengan jejeran pohon di tepinya.

“Tidak. Sudah terbiasa.”

Kembali keheningan yang berada di sekitar mereka. Bahkan radio pun tidak ada yang berani menyalakan, khawatir mengganggu satu sama lain.

“Aisyah,”

Untuk pertama kalinya sejak mereka pergi bersama, Aisyah menoleh ke arahnya.

“Ada seseorang yang ingin aku perkenalkan saat kita tiba di rumah,”

“Baiklah.”

“Tapi, hal yang perlu kamu ketahui. Aku tidak akan memaksakan apapun kepadamu. Jika, setelah kau mengenalnya, kau merasa tidak nyaman, maka kau boleh pergi dari rumah. Jadi, jangan merasa terbebani dengan hubungan kita saat ini.”

Aisyah tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap bingung pria yang kini duduk di sampingnya.

Apa maksudnya? Siapa yang akan dikenalkan oleh Zain?

Semua pertanyaan itu terjawab sudah saat Aisyah tiba di depan rumah mereka.

“Selamat datang,”

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cinta Diantara

Ch. 1
Ch. 2
Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Pasca panggilan video terakhir, suami Kayra lenyap tanpa jejak, meruntuhkan dunianya dan memaksanya menghidupi kedua buah hati sendirian. Di masa sulit ini, Damar hadir. Sang ipar menaruh dendam akibat skandal masa lalu yang melibatkan rahasia saudara kembar Kayra. Sempat menolak mengakui darah daging dari relasi itu, Damar akhirnya luluh melihat kemiripan sang bayi. Akankah takdir baru bersama Damar ini menjadi akhir dari penderitaan panjang Kayra?
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Demi menyelamatkan nyawa Kartika yang butuh biaya medis besar dan donor langka, Alya terpaksa menerima tawaran Niko. Pengusaha kaya yang mendambakan keturunan itu mengajukan perjanjian ibu pengganti. Meski awalnya ragu, Alya menyetujuinya demi sang ibu. Tak disangka, benih asmara justru tumbuh di antara mereka hingga memicu pergolakan batin. Ketika sebuah rahasia besar akhirnya terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali meminta cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru menurunkannya di jalan demi menjawab telepon sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan berani pergi. Dia tidak sadar bahwa pengabaiannya kali ini telah melewati batas. Di sisi lain, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera menyelesaikan perceraiannya dan pergi meninggalkan negara ini untuk selamanya.
Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil tanpa sengaja menemukan patung beruang di jalan dan membawanya pulang untuk dirawat dengan tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa benda mati tersebut sebenarnya adalah inkarnasi dari sosok dewa muda yang sangat kuat. Wujud beruang itu terus bertahan menemani Melinda hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang cantik. Namun, sebuah konflik menegangkan mendadak muncul dan menguji ikatan unik mereka. Akankah kisah cinta antara manusia dan dewa ini berujung pada kebahagiaan?
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam, Shila harus menahan rasa sakit saat Sam menyentuhnya dengan begitu intim. Di tengah situasi yang sangat berisiko ini, Sam berbisik setengah berbisik, meminta Shila agar tidak bersuara. Ia mengingatkan bahwa ayah dan ibu Shila bisa saja terbangun dan memergoki mereka. Ketegangan pun kian memuncak saat keduanya berusaha keras menyembunyikan hubungan rahasia ini dari jangkauan orang tua Shila yang berada di rumah yang sama.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela nekat hamil diam-diam dari Jeremy, walau tahu dia hanya dimanfaatkan. Demi lepas dari cengkeraman pria kejam itu, Angela sengaja memicu kemarahannya agar diusir. Namun, pelariannya gagal setelah Jeremy menemukan tempat persembunyiannya. Saat Angela pasrah memohon dibebaskan, situasi justru berbalik karena kehadiran anak mereka. Jeremy yang semula begitu dingin kini berubah drastis, bahkan menawarkan diri untuk melayani Angela serta buah hati mereka.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED