“Sudah Fan, lo sudah minum banyak.” Karina mengambil gelas
kecil di tangan Fania.
“Sekali lagi, Rin. Gue janji ini gelas terakhir.” Fania
memegang gelas dengan erat meski Karina memaksa mengambilnya.
Karina memutar bola matanya. Dia sudah sangat jengah pada
sahabatnya ini.
“Terserah, lo! Kalo sampai ada apa-apa. Jangan bawa-bawa
gue. Gue males berurusan sama bokap, lo!” Karina mengancam Fania. Sedangkan,
Fania hanya tersenyum mengangguk.
Kesadaran Fania sudah sedikit hilang. Ia bahkan sampai
limbung.
“Nah ‘kan!” Karina langsung menangkap tubuh Fania yang mulai
sempoyongan. Karina bahkan sedikit panik, tetapi Fania malah tertawa
terbahak-bahak.
“G**a, lo, ya, Fan. Udah kaya gini masih bisa ketawa-tawa!”
seru Karina terheran.
“Udah, sih. Lo berisik banget. Lo senang lihat gue ketawa apa nangis sih?” sahut Fania.
“Iya, ketawalah. Tapi nggak gini juga, Fan. Makanya dengerin
orang tua kalo ngomong. Riko itu laki-laki nggak bener, udah tau ‘kan kalo dia
buaya darat. Masih aja ke makan omongannya. Heran gue sama lo,” gerutu Karina.
Badannya masih menahan Fania agar tetap berdiri tegak.
Fania terdiam.
“Gue udah berkali-kali ngomong sama lo, tapi nggak pernah di
dengerin. Cinta boleh, tapi g****k jangan,” cecar Karina lagi pada Fania yang duduk
di kursinya kembali.
Fania bukannya menimpali ia malah menangis. Membuat Karina mengusap wajahnya
dengan kasar.
“Maafin gue, Fan. Bukan maksud gue marahin lo. Gue bicara
kaya gitu, itu karena gue sayang sama lo. Gue peduli sama lo, Fan. Gue nggak
suka lihat lo disakiti kaya gini,” ucap Karina. Ia merasa bersalah sudah bicara
berlebihan pada sahabatnya. Namun, ia sendiri geram kepada sahabatnya yang masih
aja mau dikibulin oleh janji manis Riko—mantan kekasih Fania.
“Lo nggak salah, Rin. Lo bener, gue emang g****k. Riko sudah
berkali-kali khianati gue, tapi gue tetep aja percaya sama omongannya. Dan
sekarang gue nggak mau percaya sama Riko lagi. Gue benci sama dia!” Fania
mendongak menatap Karina. Dia langsung memeluk sahabatnya itu.
“Makasih, Rin. Lo baik banget sama gue. Dan lo juga peduli
banget sama gue,” ucap Fania lagi saat memeluk Karina.
Karina menepuk-nepuk punggung sahabatnya. “Iya, Fan. Gue
harap mata hati lo terbuka ya. Gue nggak mau lagi lihat lo kaya gini. Janji?” Karina
melepas pelukannya dan menunjukkan jari kelingkingnya.
“Janji.” Fania menautkan jari kelingkingnya ke jari Karina.
Perasaan Fania langsung lega. Fania juga berharap dirinya
akan lebih baik lagi dalam masalah percintaan. Dan pastinya tidak percaya
dengan janji manis yang Riko berikan padanya.
Ini sudah ke sekian kalinya Riko mengkhianati. Namun,
bukannya Fania meminta putus. Ia malah memaafkan kesalahannya. Dengan berjanji
tidak akan mengulangi lagi.
“Ingat, Fan. Selingkuh itu penyakit. Penyakitnya itu nggak
ada obatnya. Dan yang bisa ngobatin itu hanya dirinya sendiri.” Karina berkata
kembali pada Fania.
“Iya, Rin. Tau kok,” ujar Fania.
“Syukur, deh. Kalo lo tau sekarang.” Karina meminum soda
yang ia pesan. Setelah di tenggak habis dia mengajak Fania pulang.
“Lo mau ikut pulang atau di sini aja?” tanya Karina saat ia
sudah berdiri.
“Ikutlah, tapi kayanya gue nginep di tempat lo, ya. Nggak
mungkin ‘kan kalo gue pulang dengan keadaan begini!” timpal Fania sambil
mencoba berdiri.
“Iyalah, paham. Sini gue bantu berdiri.” Karina mengulurkan
tangannya ke hadapan Fania.
Fania menerima uluran tangan Karina. Lalu mereka berdua
berjalan keluar dari club.
Saat berjalan ke arah pintu keluar. Pandangan Karina melihat
ke arah gerombolan lawan jenis yang sedang bermesraan. Lalu tatapannya tertuju
pada laki-laki yang dia sangat kenali siapa lagi kalo bukan Riko—mantan kekasih
Fania.
Hatinya geram melihat Riko asik merangkul wanita seksi
dengan bercanda tawa.
‘B******k emang tuh laki, jangan harap Fania bisa kembali
sama lo. Nggak akan gue biarkan!’ batin Karina penuh amarah.
Untung saja Fania sedikit kehilangan kesadaran membuat
dirinya hanya fokus berjalan ke depan.
Sesampainya di depan club. Tiba-tiba perut Karina mulas.
“Aduh, Fan. Perut gue mules banget. Lo ke mobil dulu, ya,” ucap
Karina yang langsung diangguki oleh Fania.
“Ya, udah sana. Gue ke mobil sendiri aja.” Fania berkata
pada Karina yang memegang perut.
“Lo yakin bisa ke mobil sendiri?” tanya Karina cemas. Sebab,
Fania berjalan saja tertatih.
“Iya, bisa. Gue masih sadar Karina,” seru Fania melolotkan
matanya ke Karina. “Mobilmu urutan ke berapa?”
“Ketiga!” teriak Karina sambil berlari masuk ke dalam club.
“Iya, oke.” Fania mengacungkan jempolnya. Ia melangkahkan
kakinya ke parkiran.
Namun, saat sudah di parkiran. Ternyata ada dua mobil hitam
yang sama persis dengan mobil milik Karina.
Jika di hitung dari sebelah kanan dan kiri, mobil hitam yang
berjejer itu sama-sama di urutan nomor tiga.
Fania masuk ke mobil hitam sebelah kanan. Kebetulan mobil
tidak terkunci. Membuat dia sangat yakin jika itu mobil milik sahabatnya.
Apalagi Fania tidak paham dengan nomor plat mobil Karina.
Fania yang merasa pusing ia langsung tertidur tanpa melihat isi
dalam mobil itu.
Sedangkan di dalam club seorang laki-laki berbadan
atlentis sedang duduk santai sambil meneguk sebotol wine.
Ketampanan yang dimiliki olehnya membuat banyak wanita
datang menghampiri. Namun, ia tidak menggubris satu pun wanita yang
mendekatinya.
Pikirannya masih kalut dengan masalah yang sedang ia hadapi.
Apalagi seharian ia disibukkan oleh berbagai pekerjaan yang membuat dirinya
semakin terasa letih. Malam pun semakin larut, pria itu berdiri lalu meninggalkan tempat duduknya.
“Sepertinya berendam air panas, enak!” gumamnya dalam
hati. Lalu melangkahkan kakinya menuju parkiran.
Saat sudah sampai di depan mobilnya. Ternyata ia lupa tidak
menguncinya. Ia langsung membuka mobilnya karena takut ada orang yang jahat.
Namun, saat pintu terbuka dia malah dikejutkan oleh seorang
wanita yang tertidur pulas. Ya, wanita itu adalah Fania.
Pria itu mengguncangkan tubuh Fania.
“Hei ... Bangun!” kata pria itu.
Dia bahkan sudah membangunkan dengan guncangan keras. Namun,
usahanya sia-sia. Fania tetap tidak bangun.
“Ah, pasti dia m***k!”
Akhirnya pria itu melajukan mobilnya dan terpaksa membawa
Fania. Padahal ia bisa saja melaporkan ke penjaga club. Akan tetapi, dia
tidak ingin terjadi masalah. Apalagi tampilan Fania saat ini sangat berantakan.
Pasti orang akan curiga padanya.
Mobil hitam melaju meninggalkan parkiran club. Dan
saat mobil itu keluar area parkir. Disitulah Karina keluar dari dalam club.
Karina berjalan tergesa-gesa karena merasa tidak enak
berlama-lama di dalam. Padahal ia sudah keluar dari toilet sedari tadi. Namun,
ia dicegah oleh temannya yang baru datang.
Karina sempat menolak. Akan tetapi, temannya memaksa untuk
berbincang sebentar. Mau tidak mau. Karina mengiyakan.
Karina mempercepat langkahnya menuju parkiran. Saat sudah
sampai di samping mobilnya. Pintu mobil langsung dibuka oleh Karina. Ia kaget. Sebab,
Fania tidak ada di dalam mobilnya.
“Lho, Fania mana? Fan ... Fania ....”
Fania terbangun dan ia langsung terkejut melihat ke sekeliling
ruangan yang begitu asing.
“Hah! Gue di mana ini?” Fania mencoba bangun dengan memegang
kepalanya yang masih berputar-putar.
Ia menatap ke sekeliling untuk mencari ponselnya. Namun,
sayangnya tidak ketemu. Lalu ia mencoba berdiri dan berjalan menuju pintu
keluar.
Saat sudah keluar dari kamar. Ia melihat sosok lelaki yang
tertidur pulas di sofa depan televisi.
Ia mengendap-ngendap mendekat ke arah pria itu untuk memastikan
pria di depannya bukan orang jahat.
Namun, sialnya saat mendekat kakinya tersandung karpet. Membuat
tubuh Fania menjadi limbung dan terjatuh ke atas tubuh pria itu.
Ya. Pria itu adalah Elnathan Devandra—sang pemilik mobil.
Devan langsung terbangun dan menatap wanita yang berada di
atas tubuhnya.
“Kamu mau godain saya?” ucapnya menelisik. Devan bahkan
menatap Fania dengan tatapan tajam.
“Maaf, nggak sengaja!” Fania langsung berdiri dan merapikan
bajunya yang berantakan.
Devan terduduk lalu ia berdiri dan melangkah mendekat ke
arah Fania.
Fania mundur secara perlahan.
“Awas ya, kalo lo berani macem-macem sama gue. Gue bakalan
teriak!” ancam Fania. Namun, Devan tetap mendekat ke arahnya.
Devan menarik tangan Fania dengan keras. Membuat Fania kini
berada di dekapan Devan dengan jarak yang begitu dekat.
“Kenapa kamu berada di mobilku? Apa kamu sengaja, biar orang
mengira aku menculikmu? Iya, begitu!” hardik Devan sinis.
Fania pun mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Namun,
sialnya dia belum mengingat semua.
“Jadi benar kamu memang sengaja? Ada motif apa kamu sampai
masuk ke mobilku! Katakan? Kamu butuh uang? Lalu ingin menjebakku?” cecar Devan
membuat Fania tidak terima dikatakan seperti itu.
“Jangan nuduh sembarangan! Gue wanita baik-baik, ya. Dan gue
nggak ada maksud menjebak lo. Gue hanya—,” jeda Fania. Dia bahkan tidak bisa
mengingat semuanya. “Plis. Lo siapa? Kenapa gue bisa ada di sini!” sambung
Fania bertanya. Dia benar-benar tidak ingat.
Namun, Devan tidak semudah itu percaya. “Kamu kira aku
percaya dengan alasanmu?”
“Aku serius. Aku ti—,” ucapan Fania terhenti karena ada
suara bel dari luar.
Devan melangkahkan kakinya ke arah pintu. Lalu ia
membukanya.
Betapa terkejutnya Fania melihat siapa yang datang.
“Karina ....” teriak Fania senang ia bahkan berlari
menghampiri sahabatnya dan memeluknya.
“Lo nggak apa-apa kan, Fan?” tanya Karina cemas.
Fania menggeleng. “Lo kok bisa tahu gue ada di sini?” tanya Fania.
“Ceritanya panjang. Ya udah kita pulang ya. Lo pasti bakal kena
omel bokap lo, jam segini baru pulang!” cecar Karina. Fania pun mengangguk.
Karina menatap ke arah Devan. “Tuan Elnathan, maaf kami jadi
menganggumu dan maafkan teman saya!” ucap Karina tidak enak.
“Tidak masalah,” sahut Devan. Ia juga melirik ke assisten
pribadinya yang mengantar seorang wanita ke apartemennya. “Jadi dia pacarmu?”
tanya Devan yang langsung diangguki oleh Reihan.
“Maaf, Tuan. Fania ini,” unjuk Reihan ke arah Fania yang
berdiri di dekat Karina. “Dia adalah teman pacar saya.” Reihan memberi tahu.
Fania terdiam menatap tajam ke arah Devan. Ia bahkan merasa
malu dan bersalah.
Devan hanya mengangguk. “Ingat, Nona. Lain kali hati-hati.
Jangan sampai ceroboh!” kata Devan menghadap ke Fania dengan sorot mata yang tajam
juga.
Fania akhirnya meminta maaf atas kecerobohan dirinya. Meski
ia masih sangat kesal karena sudah dituduh sebagai wanita penggoda.
Mereka bertiga pun berpamitan. Fania mengambil tasnya yang
di sofa ruang tengah. Lalu ia berjalan keluar meninggalkan apartemen milik
Devan.
***
Satu jam kemudian. Mobil Karina kini berhenti di gerbang tinggi
berwarna hitam.
Fania berterima kasih kepada Karina dan Reihan yang sudah
menjemputnya. Fania turun lalu masuk ke dalam rumah setelah mobil sahabatnya
menghilang dari bayangan matanya.
Waktu sudah menunjuk pukul dua pagi. Fania sudah menduga
jika ayahnya pasti sudah tertidur. Ia berjalan pelan naik ke arah tangga.
Namun, saat baru naik beberapa tangga. Dirinya dipanggil oleh suara yang ia
sangat kenal.
“Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang?” tanya
Alnando—ayah Fania. Dia menatap tajam ke arah putrinya.
Langkah Fania langsung terhenti. Dan ia membalikkan badannya
ke arah Alnando yang berdiri tepat di depan anak tangga. Fania bahkan hanya
terdiam menatap wajah ayahnya yang penuh amarah.
“Mau jadi apa kamu Fania, jika kamu sering keluyuran tiap malam?
Contoh kakakmu. Dia tidak pernah keluar malam kalo bukan pekerjaan. Harusnya
kamu mencontoh dia, bukan malah seenaknya seperti ini!” cecar Alnando dengan
keras.
Dada Fania seketika memanas mendengar perbandingan dirinya
dengan kakak tirinya. Hal yang sangat ia benci.
“Terus aja, Pah. Apapun yang Fania lakukan selalu salah di
mata Papah!” Fania membela diri.
“Salah bagaimana? Sudah jelas kamu memang salah, Fania!”
geram Alnando semakin memuncak. Ia bahkan akan melayangkan tangan kanannya ke
arah putrinya.
Fania langsung memejamkan mata. Namun, tangan Alnando
langsung di cekal oleh Angela—ibu tiri Fania.
“Sudah, Mas. Jangan terlalu keras pada Fania,” ucap Angela
lembut. Ia juga mendekat ke arah Fania lalu mengusap rambut Fania dengan pelan.
“Fania hanya bermain dengan temannya, Mas. Kenapa kamu malah
mempermasalahkan?” sambung Angela lagi dengan bibir yang menyungging.
“Aku hanya ingin Fania bisa meniru kakaknya. Bukan malah
suka keluyuran tidak jelas seperti i—,”
“Sudah, tidak perlu diperpanjang,” sela Angela. Ia menatap
ke arah anak tirinya. “Fania dan Shanum mereka berbeda, Mas. Fania juga pasti
akan berubah seperti kakaknya. Iya ‘kan Fania?” tanya Angela dengan senyum
jahatnya.
Fania melolot ke arah ibu tirinya. Dia tidak menjawab.
Bahkan ia langsung berlari ke arah kamarnya meninggalkan ayah dan ibu tirinya.
Alnando mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa bersalah
karena sudah terlalu keras pada putri kandungnya. Namun, yang ia lakukan demi
kebaikan masa depan Fania.
“Terima kasih untuk sikapmu yang selalu baik pada putriku.
Meski ia belum mau menerimamu sampai detik ini!” ucap Alnando pada Angela yang
sudah berdiri di hadapannya ia bahkan langsung memeluk tubuh istrinya.
“Tidak masalah, Mas. Suatu saat Fania pasti akan menerimaku,
dan juga Shanum,” sahut Angela tersenyum setelah pelukannya terlepas.
Alnando mengusap pipi Angela. Lalu mengecup keningnya.
“Aku cinta kamu,” ucap Alnando. Lalu mereka kembali masuk ke
dalam kamar.
Angela tersenyum bahagia. Ia sudah menguasai hati Alnando.
Hanya saja Fania belum bisa menerima kehadirannya. Itu tidak masalah!
Sedangkan di tempat lain. Yakni kamar Fania. Fania sendiri
sedang menangis sesegukan. Semenjak Alnando menikah kembali, ayahnya sedikit
berubah. Ia pun sangat membenci sikap manis ibu tirinya. Pandai bermuka dua.
Menjijikan!
Fania mengambil sebuah foto di laci meja dan meraba foto
kecilnya yang begitu terlihat bahagia. Ia juga menatap ke arah seorang
perempuan yang sangat berarti di hidupnya. Ya dia adalah ibu kandung Fania.
“Bu, Fania kangen!”
Hari dengan cepat telah berganti. Fania pagi ini akan
bersiap-siap ke kampus. Sebagai mahasiswa akhir membuat ia sedikit sibuk
mempersiapkan untuk sidang skripsi.
Skripsi sudah ia mulai kerjakan meski belum sepenuhnya
selesai.
Fania keluar dari kamar menuruni anak tangga. Netranya
melihat ke sekeliling rumah yang sudah disulap menjadi taman bunga.
“Bi Iyas!” panggil Fania saat duduk di ruang makan.
“Iya, Non. Mau sarapan apa?” tanya Iyas yang mendekat ke
hadapan Fania.
Fania bukannya menjawab. Ia malah bertanya pada Bi Iyas.
“Mau ada acara apa, Bi? Rumah dihias begini?” Fania penasaran.
“Oh itu, Non. Non shanum mau kedatangan calon besan dan
calon suaminya.”
“Shanum? Calon suami?”
“Iya, Non. Tadi Tuan sudah berpesan. Nanti malam non Fania
tidak boleh pergi,” ucap Bi Iyas membuat Fania memutar bola matanya.
“Kan yang mau nikah Shanum, apa hubungannya sama aku!” cebik
Fania kesal.
Iyas hanya tersenyum. Ia sudah paham dengan anak majikannya.
“Ya udah, aku berangkat dulu, Bi.” Fania berpamitan. Iyas
mengangguk lalu membereskan gelas s**u yang sudah kosong.
Fania melangkahkan kakinya ke garasi mobil. Mobil berwarna
merah melaju meninggalkan halaman rumahnya.
Perjalanan dari rumah ke kampus memakan waktu tiga puluh
menit. Fania memarkirkan mobilnya di halaman parkir. Dan ia langsung masuk ke
dalam kelas untuk mengikuti bimbingan skripsi.
“Rin, lo hari ini mau kemana?” tanya Fania setelah kelas
selesai.
“Gue mau nganterin nyokap ke rumah sakit. Biasa mau check
up rutinan. Kenapa memang?”
“Enggak apa. Tanya aja!”
“Oh ya, Fan. Lo kemarin pas di apartemen Tuan Elnathan, lo
nggak diapa-apain ‘kan?” Karina bertanya karena penasaran.
“Enggak. Aman kok, Rin!” sahut Fania. “Gue baru tahu kalo
Reihan ternyata assiten om-om itu?” tanya Fania.
“Maksud lo, Elnathan?”
Fania mengangguk.
“Iya kalo itu, gue juga baru tahu. Eh, ya udah, gue duluan ya.
Mami dah telpon nih. Bay!” ucap Karina dan langsung berlari ke arah mobilnya.
Fania melambaikan tangan. Ia merasa jenuh membuat ia masuk
ke mobil dan melajukan mobilnya entah kemana.
“Masa jam segini pulang! Mana di rumah mau ada acara!
Tapi gue laper banget. Ah aku mampir ke resto itu aja deh!” Fania
memarkirkan mobilnya di halaman resto serba sambal yang tidak jauh dari kampus.
Setelah itu ia masuk lalu memesan ayam bakar madu, sambal matah
dan juga es teh manis bercampur lemon.
Ia mencari tempat duduk di dekat jendela. Lalu mengeluarkan
laptop dari tasnya. Ia akan menonton drakor untuk menemani rasa gabutnya
sendirian.
Hampir dua jam Fania betah di dalam resto. Ia memutuskan
untuk pulang ke rumah. Ia tidak mau kena omel bokapnya lagi.
“Berapa semua, Kak?” tanya Fania di depan kasir.
“Seratus dua puluh ribu, Kak!” sahut kasir wanita.
“Bentar, ya.” Fania merogoh tasnya. Namun, ia tidak menemukan
dompetnya.
“Waduh dompetku di mana ini?” Fania panik.
“Bentar ya, Kak. Dompetku hilang!” ucap Fania merasa malu.
Ia mencari ke tempat duduknya. Namun, tidak ada juga.
“Duh, di mana sih! Apa gue lupa bawa ya?” gerutu Fania.
Fania mendekat ke arah kasir kembali. “Maaf, kayanya
dompetku ketinggalan. Aku pulang ambil dompet dulu ya, Kak?” tanya Fania.
Namun, wajah kasir langsung berubah jadi kesal.
“Nggak bisa gitu, Kak! Nanti kalo kamu kabur, gimana? Aku
bisa kena omel dan ganti rugi!” sahut Kasir dengan nada tinggi.
Fania malah semakin kesal karena ia seakan-akan dianggap mau
kabur begitu saja. Padahal niat ia baik. Dan tidak mau kabur. Dia juga mau
membayar kalo bisa dua kali lipat juga dia akan bayar.
“Kak aku nggak ad—,”
“Totalnya berapa, Mbak? Sekalian sama ini!” unjuk pria
berjas hitam ke arah nota Fania.
Fania kaget saat melihat pria di sampingnya dan pria itu
juga membayarkan makanannya.
“Lo, pria yang kemarin ‘kan?” tunjuk Fania. Namun, pria itu
tidak merespon. Ya, pria itu ialah Devan.
“Makasih sebelumnya. Minta nomor lo, biar nanti gue ganti
uangnya?” Fania menadahkan tangannya seakan orang meminta.
Devan hanya menggeleng. Lalu melangkahkan kakinya keluar
dari resto. Fania mengejar, tetapi ia lupa tas laptopnya masih di meja. Ia pun
membalik untuk mengambil.
Fania kehilangan jejak. Devan dengan cepat menghilang. Dan
hal ini membuat Fania cukup kesal karena merasa ia hutang budi.
“Dia kan atasan Reihan. Pasti Reihan tahu nomor dia. Iya,
gue akan meminta ke Karina!” gumam Fania setelah berada di dalam mobil.
Lalu mobil melaju meninggalkan halaman resto.
***
Malam harinya. Fania sudah berada di rumah. Ia juga sudah
berdandan cantik karena malam ini adalah acara pertunangan Shanum—kakak
tirinya.
Ia memakai gaun berwarna pink, rambut hitamnya tergerai
dengan hiasan mutiara di kepalanya. Sangat anggun.
Fania keluar dari kamar. Ia berpapasan dengan Shanum yang
hendak turun ke bawah juga.
“Hai! Adikku!” sapa Shanum. Shanum terlihat sangat cantik
menggunakan kebaya warna maroon dengan model kekinian.
Fania hanya tersenyum miring. “Selamat, ya. Lo bakalan
secepatnya pergi dari rumah ini! Kenapa nggak dari dulu aja sih lo nikahnya!”
ucap Fania mengejek.
Shanum menatap Fanis tajam. “Gue memang menikah, tetapi gue
akan tetap akan tinggal di sini!”
Fania memutar bola matanya. “Kita lihat aja nanti!” Fania
langsung bergegas turun. Namun, ia kembali membalik ke arah Shanum yang masih
berdiri di ujung tangga. “Jangan pernah bermimpi ingin menguasahi rumah gue,
nggak akan gue biarkan! Dan gue akan membongkar niat busuk lo dan ibu lo secepat
mungkin! Ingat itu!” ancam Fania serius.
Shanum menatap punggung adik tirinya dengan tatapan penuh
amarah. Ia pun turun karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan calon suaminya.
Ia mengatur ekspresi terbaiknya. Lalu melangkah kakinya menuruni tangga menuju
ruang keluarga.
Fania duduk di samping Alnando. Alnando bahkan sudah
bersikap kembali seperti biasa. Ia bahkan merangkul bahu Fania sejak tadi dan
itu hal yang sangat bahagia untuk Fania.
“Tuan! Keluarga Tuan Samuel sudah datang!” ucap Joko salah
satu satpam rumah.
Alnando langsung berdiri dan menyambut kedatangan
Samuel—sahabat sekolahnya dulu waktu di perguruan tinggi.
“Selamat datang, Sam!” sapa Alnando yang langsung
berpelukan.
“Bagaimana kabarmu? Sam berbalik tanya.
“Seperti yang kamu lihat,” sahut Alnando. “Mana putramu?”
tanya Alnando melihat ke sekeliling Sam hanya datang seorang diri.
“Oh, dia masih di perjalanan. Bentar lagi juga sampai,”
jawab Sam. Alnando hanya mengangguk dan mengajak Sam masuk.
“Kenalkan ini istriku, Angela. Ini Shanum dan ini Fania.”
“Saya Samuel.”
Angela mengajak duduk di ruang makan. Karena ia sudah
menyiapkan jamuan yang enak untuk calon besan. Lalu Alnando langsung membahas mengenai
masalah pertunangan putra putri mereka.
“Jadi, yang mana yang akan bersanding dengan putra saya?”
tanya Sam melihat ke arah Shanum dan Fania.
“Ini, Tuan Sam. Shanum.” Angela menunjuk Shanum yang tampak
malu-malu. “Shanum bekerja sebagai model dan ia wanita yang sangat pemalu. Shanum
juga tidak suka bermain diluar, ia lebih suka di rumah selepas pulang
pemotretan,” sambung Angela membanggakan putri kandungnya.
Sam mengangguk dan tersenyum bahkan bangga.
Fania memutar bola matanya merasa jenggah. Ia merasa
tersindir.
“Sambil menunggu putramu datang. Bagaimana kalau kita makan
dulu aja, daripada nanti keburu dingin,” ajak Alnando yang langsung disetujui
oleh Sam dan semuanya.
Mereka menikmati makan malam dengan begitu hangat. Bahkan
Fania sesekali ditanyai oleh Sam. Membuat Fania merasa sungkan.
Namun, makan malam terhenti. Dikarenakan seorang pria masuk
ke dalam diantar oleh Joko.
“Maaf, saya telat!” ucap pria itu. Membuat Fania yang sedang
melahap dengan nikmat tersedak.
Fania membelalak tak percaya. Saat melihat pria itu. Ya,
pria itu adalah Devan. Pria yang tadi siang sudah menolongnya di resto. Bahkan
ia membayarkan pula.
“Kenalkan ini putra saya, Elnathan Devandra.” Samuel berkata
ke semua orang.
Devan menyalami semua. Dan saat tangan menyentuh telapak
tangan Fania. Devan menyapa biasa seperti orang yang tidak pernah saling
bertemu.
Devan duduk di hadapan Shanum. Akan tetapi, tatapannya
selalu mengarah ke arah Fania. Fania merasa risih di tatap oleh Devan seperti
itu.
“Dev, ini calon istrimu.” Sam menunjuk Shanum yang
memberikan senyuman terbaiknya. Shanum bahkan terpana akan ketampanan Devan
yang sangat berwibawa.
Devan menatap ke arah Shanum. Namun, ia langsung kembali
menatap Fania yang sedang menunduk.
“Bagaimana, Dev? Apa kamu setuju menikah dengan putri saya?”
tanya Angela lembut.
Devan mengangguk. Membuat senyum Shanum semakin melebar.
“Kapan? Pernikahan ini dilangsungkan?” tanya Devan sambil melihat
ke arah Alnando.
Alnando tersenyum senang. “Secepatnya kalau bisa!”
“Itu sangat bagus!” Sam juga antusias.
Angela dan Shanum. Mereka berdua saling memandang dengan
bahagia.
“Aku mau menikah. Tapi dengan dia?” tunjuk Devan mengarah ke
Fania.
Fania terkejut. Bukan hanya Fania tetapi semuanya.
“Apa?”