"Hafsaaa.....!" teriak Sesil dikamarnya yang mengundang ibunya mendatangi kamarnya.
"Sesil, ada apa? kenapa teriak-teriak?" tanya ibunya yang bernama Rahma.
"Ini Bu, baju aku bolong ini pasti ulah si Hafsa!" Sesil merengek memperlihatkan bajunya yang berlubang ditengahnya.
"Hahh... Sesil ini kan baju mahal!" Rahma melotot melihat baju anaknya.
"Iya Bu, padahal baju itu mau aku pake buat ikutan casting artis. huhu"
"Kurang ajar anak itu. Hafsaaa.....!" Sesil tersenyum melihat ibunya marah yang berarti akan memarahi Hafsa saudari tirinya.
"Iya Bu, ada apa?" Hafsa datang tergopoh-gopoh dirinya sedang memasak tapi sudah dikagetkan dengan suara ibunya sampai-sampai harus meninggalkan masakannya.
"Heh! lihat ini pekerjaanmu!" Rahma melempar baju Sesil ke wajah Hafsa.
Hafsa mengambilnya dan melihat kalau baju Sesil berlubang ditengahnya.
"Eh, kenapa bisa berlubang." Hafsa berfikir.
"Ya ampun maaf Sil, aku tidak sengaja!".
"Tidak sengaja kau bilang, ini baju mahal tau, mamah lihat tuh!" Sesil lagi-lagi merengek membuat Hafsa mendesis.
"Heh...!" Rahma menarik rambut Hafsa dengan erat sehingga membuat Hafsa kesakitan.
"Aduh sakit mah, jangan ditarik!" kata Hafsa meringis memegang ujung rambutnya supaya tidak ikut terbawa.
"Enak banget kamu yah! pokoknya kamu harus ganti baju Sesil, mamah tidak mau tau."
"Tapi mah ganti gimana? aku tidak punya baju dress yang seperti Sesil."
"Mangkanya kerja sana jangan merepotkan mulu huh." Sesil bersungut pada Hafsa.
"Aku juga sedang mencari pekerjaan, mah tolong lepaskan mah, ini sakit!" ucap Hafsa memohon dan Rahma langsung melepaskannya dengan kasar.
"Dasar anak tidak berguna sama seperti ayahmu tidak berguna."
Tiba-tiba tercium bau angus gosong didapur dengan asap yang mengepul mereka menciumnya.
"Hem.. mah bau apa ini?" ucap Sesil menutup hidungnya.
Hafsa baru teringat jika dia sedang menggoreng ikan dia pun langsung berlari panik kedapur diikuti Rahma dan Sesil.
Saat didapur ternyata ikannya gosong bahkan warnanya sangat hitam dan mengeluarkan asap yang beraroma gosong. Hafsa segera mematikan kompor dan mengangkat ikan itu yang sudah berubah warna menjadi hitam.
"Hah gosong." panik Hafsa.
"Benar-benar kau anak tidak berguna.!" Rahma marah besar hendak memukul tapi dihalang oleh Sesil.
Sesil membisikkan sesuatu pada mamahnya kemudian mereka tersenyum smirk.
"Bagus juga idemu!" Sesil mengacungkan jempolnya.
Rahma kembali kasar, "Heh karena kau sudah membuat ikanku gosong maka hukumanmu adalah kau harus memakan ikan gosong itu sampai habis tanpa nasi."
Hafsa membulat seketika tidak mungkin dia bisa memakan ikan gosong yang pasti rasanya pahit.
"Ayo cepat!" Rahma menarik Hafsa ke meja makan dan mendudukkannya paksa beserta ikan yang sudah didepannya.
"Cepat makan!" tambah Sesil membentak.
Hafsa masih tak bergerak dia tidak mau memakan ikan gosong itu dia sudah mual melihatnya saja.
"Cepat, kalau kau tidak mau makan maka malam ini kau harus tidur diluar! ayo cepat makan." ancam Rahma dan Sesil hanya tertawa sinis.
Karena Hafsa tidak mau merespon maka Rahma memaksanya memasukan ikan itu kedalam mulutnya yang tertutup rapat.
"Nih cepat makan!" Rahma terus memaksa dibantu Sesil membuka mulut Hafsa sehingga mau tidak mau ikan pahit itu masuk juga ke mulutnya dan mereka membekap mulut Hafsa, supaya dia tidak memuntahkan ikannya jadilah Hafsa menelannya langsung tidak dikunyah demi menghindari rasa mual dilidahnya.
Hafsa memberontak pun percuma karena mereka sangat kuat meskipun badan mereka langsing beda lagi dengan. Hafsa yang bertubuh mungil dan kekuatan fisiknya dibawah rata-rata.
Setelah Hafsa menelannya baru mereka melepaskan bekapannya, mereka tertawa terbahak-bahak sedangkan Hafsa mengap-mengap seperti ikan yang kehabisan oksigen.
"Kalian kenapa tega sekali denganku?" Lirih Hafsa menatap mereka yang masih tertawa.
Mereka tidak peduli, "Mangkanya bilang sama bapakmu yang tidak berguna itu untuk mencari uang yang banyak supaya kau tidak tersakiti." Rahma melirik sinis.
"Sudah Mah ayo mendingan kita pergi saja, kita belanja beli baju baru untuk aku casting besok." kata Sesil tersenyum menyeringai.
"Belanja, memangnya kamu punya uang." tanya Rahma setahunya putrinya itu tidak pernah punya uang meski simpanan sekalipun.
"Punya dong, aku simpan di lemari yang didalam kaleng." jawab Sesil tersenyum.
Hafsa langsung menengok panik, uang yang dilemari didalam kaleng. Hafsa langsung berlari ke kamarnya dan memeriksa lemarinya, ternyata lemarinya langsung terbuka dengan kunci yang sudah menggantung dan kaleng yang berisi uang tabungannya tandas tak bersisa. Kemana uangnya? apa uang yang dibilang Sesil itu uangnya.
Hafsa langsung berlari ibu tiri dan saudari tirinya yang kini sedang tersenyum menikmati kepanikannya.
"Sesil, yang kamu ambil itu uangku kembalikan." Hafsa mengguncang bahu Sesil tapi Sesil segera menepisnya.
"Heh, itu sudah jadi uangku karena aku melihatnya.
Dan apapun yang aku lihat didepan mataku itu berarti adalah milikku." kata Sesil tak tau diri.
"Sesil itu uang tabunganku untuk kuliahku." Hafsa terus memohon hingga Rahma mendorongnya kasar hingga terjatuh.
"Heh, kau pelit sekali ingat yah punya mu berarti punya Sesil juga. Lagian ini juga uang untuk ganti rugi bajunya Sesil yang kau rusak.!" sentaknya pada Hafsa yang sudah menangis.
"Eh lagian kau tidak perlu sekolah lagi cari saja uang yang banyak untuk kami.!"
"tapi mah...!"
"Sudahlah mah mendingan kita belanja sekarang tidak usah meladeni dia." kata Sesil menarik tangan ibunya.
Ibunya menurut saja sambil tersenyum meledek.
"Jangan Sil, mah mamah." Hafsa menangis karena uang tabungannya direbut oleh Sesil dan sekarang dia tidak punya uang lagi.
Memang seperti itu hidup Hafsa hidup bersama dengan ayah dan ibu serta adik tirinya bagai hidup dineraka.
Sebelum ibunya meninggal hidupnya sangat bahagia dan ayahnya tidak pernah main judi dan mabuk-mabukkan usaha ayahnya juga maju pesat sebagi juragan beras.
Namun semenjak ibunya meninggal dia langsung memutuskan menikah dengan Rahma karena sudah mengenal Rahma bahkan ketika ibunya masih hidup tapi ayahnya tidak berselingkuh hanya tertarik saja tapi ternyata setelah istrinya meninggal dia langsung menikahinya setelah 40 hari.
Rahma adalah janda beranak satu yang ditinggal oleh suaminya yang selingkuh dia mengincar Anton karena dia kaya raya waktu itu.
Tapi setelah Rahma memasuki kehidupan Anton semua berubah. Rahma dan anaknya Sesil yang boros membuat usahanya lambat laun merosot hingga bangkrut.
Anton pun frustasi dia jadi sering lari ke bar, mabuk-mabukkan dan bermain judi tidak peduli pada anak kandungnya yang sering disiksa oleh istri dan anak tirinya. Karena semenjak Anton jatuh bangkrut mereka jadi tidak bisa berbelanja lagi sehingga imbasnya kepada Hafsa yang tidak bersalah sama sekali.
Tapi itu semua sudah terlambat nasi sudah menjadi bubur dan Hafsa harus menerimanya hanya saja dia menyayangkan ayahnya yang telah berubah drastis dan dia selalu berdoa supaya ayahnya bisa kembali seperti dulu lagi.
PRANGGG...
Terdengar suara piring jatuh berserakan dilantai dengan makanan yang berceceran kemana-mana, disampingnya menunduk seorang pelayan yang gemetar ketakutan.
"Kenapa tidak ada yang becus, pecat mereka semua.!" suara tuan muda menggelegar didalam kamarnya yang luas karena tidak suka dengan kinerja pelayannya.
"Rey, cepat gantikan pelayan yang baru!" perintahnya kepada pengawal sekaligus asisten pribadinya yang sudah bekerja lama dengannya.
"Segera laksanakan tuan muda."
"Dan bawa mereka semua keluar, aku tidak mau melihat mereka lagi." kata tuan muda yang duduk dikursi roda.
"Baik tuan muda, mari saya antarkan kalian." Rey menuntun tiga pelayan baru yang baru bekerja sehari itu karena tuan muda tidak suka dengan kinerja mereka yang menurut tuan muda asal-asalan.
Tuan muda yang bernama Elang Rahardian yang berwajah tampan rupawan berusia 28 tahun yang sekarang sedang duduk dikursi roda, dia menderita lumpuh dan buta sudah satu tahun karena kecelakaan. Karena kecelakaan itu pula dirinya ditinggalkan oleh kekasihnya yang sudah bersamanya selama 3 tahun dan akan segera menikah tapi kekasihnya malah mengkhianatinya dan pergi bersama lelaki lain.
Elang merasa frustasi oleh sebab itu dia menjadi lelaki yang kejam dan dingin, dia juga jadi membenci wanita yang pura-pura baik padanya.
Rey menyimpulkan bahwa kecelakaan itu disengaja oleh seseorang yang ingin merebut harta kekayaannya.
Karena ayahnya sudah meninggal 2 tahun yang lalu dan meninggalkan banyak harta dan diwariskan pada Elang anak satu-satunya dan istri yang cantik.
Dan dia selalu berganti pelayan setiap harinya dan yang paling lama pun hanya tiga hari karena tidak kuat mengurusi permintaan tuan muda yang dingin dan kejam itu.
Pelayan lain yang mengurus rumah istana itu segera membereskan kekacauan yang dibuat si tuan muda lalu datanglah sang ibu.
"Elang, apa kau baru saja memecat pelayanmu?" tanya sang ibunda dengan lembut.
Elang tidak menjawab dia hanya menatap datar kehadapan jendela besar kamarnya.
"Elang.. harus berapa kali kau mengganti pelayanmu, apa kau tidak lelah?" kata ibunya yang bernama Nyonya Sinta.
"Aku tidak butuh pelayan penggoda dan tidak becus." Ya walaupun Elang buta dan lumpuh tapi dia sangat tampan dan kaya raya, siapa yang tidak mau dengannya hanya Diana saja yang tidak mau dengannya dikarena kan kekasihnya lebih kaya dan hot dari Elang.
Nyonya Sinta kemudian berfikir karena dia wanita karir yang juga diberi warisan dari suaminya dan dia mempunyai kegiatan sosial sendiri maka dia pun sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk mengurus anaknya yang sudah dewasa itu.
"Elang, bagaimana kalau untuk pencarian pelayan selanjutnya kita beri tes dia dulu." kata nyonya Sinta memberi ide.
Elang tertarik, dia lalu menghadap ibunya, "Maksud ibu apa?". tanyanya kemudian.
"Ya kita tes dia selama 1 bulan dan selama 1 bulan itu kita beri bonus yang tinggi, jika dia lulus maka dia akan menjadi pelayan pribadimu selama kau mau tapi jika dia tidak bisa atau menyerah ditengah jalan maka kita tidak akan memberikan apa-apa padanya. Bagaimana?" ucap nyonya Sinta sumringah.
"Ibu pikir aku orang pelit, tidak memberikan apapun pada mereka yang gagal" ucap Elang dirinya merasa terganggu harga dirinya karena ibunya berkata tidak memberikan apapun.
Nyonya Sinta hanya tersenyum mendengar Elang berkata seperti apa.
"Lalu apa yang akan kau lakukan.?".
"Aku menyetujui ide dari ibu tapi aku tidak akan membiarkan mereka yang keluar dari sini dengan kelaparan." ucapnya tegas, memang Elang termasuk pria yang royal meskipun dia banyak memecat tapi dia selalu memberikan uang pada mereka.
"Baiklah, kalau begitu akan ibu bicarakan dengan Rey."
Nyonya Sinta kemudian pergi meninggalkan kamar anaknya sebelum pintu ditutup dia memandang anaknya dengan sendu dan keluarlah air mata sialan yang sedari tadi ditahannya itu.
Karena sebenarnya nyonya Sinta sangat sedih melihat anak satu-satunya seperti ini dan semenjak ditinggal ayahnya hidupnya seperti tidak ada warna karena ayahnya sangat menyayanginya dan mengasihinya apalagi dia juga harus ditinggal oleh Diana pada saat dirinya sedang ditimpa kesakitan itu.
Ibunya pun berdoa semoga anaknya bisa bahagia dengan gadis yang mencintainya dengan tulus dan mau menerima Elang apa adanya.
Elang kembali memandangi jendela didepannya walaupun dia lumpuh dan buta tapi dia tetap bisa merasakan semuanya dan pendengarannya pun sangat tajam.
Elang tau ibunya tadi sedang menangisinya tapi Elang tidak mau dikasihani meskipun dia lumpuh dan buta.
"Diana, kenapa kau tega meninggalkan aku disaat aku seperti ini, tidak kah kau tau bahwa aku sangat mencintaimu bahkan aku akan menikahimu tapi kenapa kau malah memilihnya. Kenapa? kau jahat Diana aku sangat membencimu." ucap Elang matanya memerah dia geram sekali karena Diana mengkhianatinya apalagi dengan lelaki sahabatnya sendiri.
*****
Hafsa sedang menenteng sebuah map berisikan lamaran kerja seharian ini dia sudah berkeliling dari satu toko ketoko lain tapi tidak sama sekali tidak ada lowongan untuknya hingga siang hari, dia kehausan dan kelaparan dan sama sekali tidak membawa uang apalagi uangnya sudah diambil semua oleh ibu tirinya dan Sesil.
"Ya Allah ternyata cari pekerjaan itu tidak gampang yah! lelah sekali." Hafsa beristirahat di halte bus dia memijit kakinya yang bengkak akibat terus berjalan.
Hafsa melihat disampingnya ada seorang lelaki gendut yang sedang memakan roti dan minuman disampingnya, dia terlalu fokus dengan gadgetnya sehingga saat bus berhenti dia langsung terburu-buru berlari menyusul bus yang malah langsung jalan dan dia meninggalkan minuman itu disana.
Hafsa melihat minuman yang sepertinya belum disentuh karena sangat haus dia pun mengambil minuman itu dan langsung meminumnya.
"Alhamdulilah, dahaga ku sudah tersalurkan." ucap Hafsa setelah minum.
Tiba-tiba datanglah seorang pria dengan memakai pakaian rapih menyodorkan brosur kepadanya.
"Nona apa anda sedang mencari pekerjaan? ini bacalah mungkin nona tertarik."
Hafsa langsung menengok pria itu dia mengambil brosur itu dan membacanya, kemudian pria itu langsung pergi tanpa berbasa-basi lagi.
Matanya langsung berbinar dan tersenyum setelah dia selesai membaca brosur tersebut dia ingin bertanya pada pria itu tapi..
"Eh kemana pria itu, cepat sekali hilangnya!" gumam Hafsa karena dia tidak menemukan pria itu lagi.
"Tapi ini bagus juga, tidak apa-apa hanya untuk jadi pengasuh saja, aku pasti bisa dari pada aku menganggur lagian ini juga gajinya sangat besar. Tapi kenapa harus di tes segala yah! yasudah lah tidak apa-apa itu urusan mereka yang penting aku harus bisa dan harus lulus tes." ucap Hafsa menyemangatkan dirinya.
"Kalau gitu besok aku harus kesana dan sekarang mendingan aku pulang saja, aku lapar". ucapnya lagi kemudian dia beranjak dari sana menuju pulang dengan berjalan kaki, tadi dia lemas tapi sekarang dia merasa bersemangat sekali.
Saat Hafsa pulang dia mendengar suara keributan ayah, ibu dan adik tirinya di balik pintu dia tidak jadi masuk hanya berdiri diluar mendengarkan keributan mereka. Semua barang hancur berserakan karena dibanting dan dilempar oleh Anton.
Hafsa tidak berani masuk dia hanya mendengarkan diluar keributan yang terjadi antara mereka.
"Kau, memang istri yang tidak berguna bisanya hanya menghabiskan uangku saja sekarang aku menyesal telah menikahimu, begitu juga dengan anakmu yang sama-sama menyusahkan." Bentak Anton pada istri dan anak tirinya.
"Aku juga sama sangat menyesal telah menikah denganmu dan kau laki-laki yang tidak berguna yang bisanya hanya mabuk dan main judi." Bentak Rahma pula tak mau kalah. Sedangkan Sesil ketakutan dipojok tempat duduk.
PLAKKK
Anton menampar pipi Rahma dengan kencang sampai Rahma tersungkur ke lantai. Hafsa tak tahan dia langsung menerobos masuk untuk menghentikan ayahnya.
"Ayah hentikan, sudah cukup!" Hafsa merentangkan tangannya agar ayahnya berhenti.
"Ini lagi, anak tidak berguna percuma aku menyekolahkanmu lebih baik kau pergi dari sini!" Anton dengan teganya berteriak kepada anak kandungnya sendiri.
"Awas minggir, semua orang yang ada dirumah ini tidak ada yang berguna." Anton mendorong Hafsa kemudian melangkahkan kaki keluar rumah.
Hafsa sangat sedih melihat ayahnya yang berubah drastis seperti itu. bahkan seperti tidak mengenal putrinya itu.
"Kau, untuk apa pulang. Apa kau sudah mendapat pekerjaan?" tanya Rahma masih memegangi pipinya yang memerah.
"Aku, alhamdulilah sudah mendapat pekerjaan bu," jawab Hafsa tersenyum.
"Apa pekerjaanmu?" tanyanya lagi dengan dingin.
"Pekerjaanku sebagai pengasuh Bu." jawab Hafsa senang.
"Apa...? pengasuh. Yang benar saja apa tidak ada pekerjaan lain memalukan sekali." Rahma dan Sesil kini tersenyum sinis mengejek Hafsa yang hanya mendapat pekerjaan sebagai pengasuh.
"Tidak apa-apa yang penting halal dan dapat gaji." kata Hafsa tidak menceritakan detail.
"Ya sudah, tapi ingat gajimu berikan padaku 70 persen nya." ucap Rahma sadis membuat Hafsa menghela nafas.
"Iya...!" Hafsa hanya mengiyakan saja.
"Sekarang bereskan ini semua, aku dan Sesil akan pergi." perintahnya dengan kejam, rumah yang berantakan ia limpahkan pada Hafsa.
"Baik.!" jawabnya singkat karena memang sudah terbiasa begini, dirinya yang selalu kena. Padahal dia lapar sekali sekarang tapi ya sudahlah terima dengan ikhlas.
Kemudian tak lama mereka pergi. Dan Hafsa membereskan semuanya sendiri peluh keringat membanjiri tubuhnya dan perut yang melilit akibat dia menahan rasa laparnya.
Setelah semuanya selesai barulah ia kedapur mencari makanan tapi tak ada apapun. Nasi yang dia masak tadi pagi sudah habis beserta lauknya lalu dia menemukan satu mie instan yang terdapat didalam lemari lalu dia segera memasaknya.
"Alhamdulilah akhirnya aku bisa makan!" gumam Hafsa mensyukuri makanan yang ada.
*****
"Nyonya kami sudah melaksanakan perintah nyonya besok para pelamar akan datang kesini." Rey sang asisten tuan muda Elang melapor pada nyonya Sinta yang sedang meminum teh.
"Terimakasih Rey, lanjutkan dan usahakan cari yang benar-benar ingin bekerja." jawab sang nyonya tersenyum ramah pada Rey.
"Besok aku juga akan melihat mereka!" sambungnya lagi.
"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi." pamit Rey menundukkan kepala hormat.
Nyonya Sinta hanya mengangguk dan tersenyum kemudian melanjutkan meminum tehnya.
*****
Keesokan harinya Hafsa sudah bersiap untuk menuju ketempat pekerjaan barunya, dibrosur tidak diberi tahu mengasuh siapa hanya diberi tahu bekerja untuk mengasuh orang yang sedang sakit jadi Hafsa berfikir dia akan mengasuh lansia atau anak kecil.
"Mau kemana kau?" tanya Anton dalam keadaan berantakan karena baru bangun tidur, saat Hafsa ingin pergi.
"Aku ingin melamar pekerjaan ayah, doakan aku diterima ya yah!" jawab Hafsa tersenyum.
"ya ya cepat kau pergi dan jangan lupa bawa uang yang banyak.!" ucap Anton mengusir dengan mengibaskan tangannya.
"Baik yah, assalamualaikum." salam Hafsa tapi ayahnya hanya menjawab hmm saja.
*****
Hafsa sudah sampai dikediaman rumah besar yang sangat mewah dan megah seperti rumah sultan sampai dia ternganga melihatnya.
"Wah benarkah alamatnya disini? aku tidak salah kan." Hafsa melihat ke brosur lagi untuk memastikan.
"Benar kok tidak salah! aku coba tanya dulu deh!" Hafsa mendekati gerbang ya2ng menjulang tinggi dan terdapat lubang kecil
dipinggirnya. ini llllk
"Permisi pak,!" Hafsa berteriak diluar gerbang supaya ada orang yang membukakan.
Tak lama seorang penjaga membukakan pintu yang kecil dan Hafsa menghampiri.
"Iya ada apa?" tanya penjaga itu sopan.
"Pak, apa bener alamat ini yang tertera di brosur ini?. " Hafsa menyodorkan brosurnya pada penjaga dan diambil serta diteliti.
"Iya benar, apa nona pelamar disini?".
"Iya pak saya yang mau melamar!".
"Kalau begitu silahkan masuk! sudah ditunggu oleh nyonya dan sudah ada yang datang juga." penjaga itu membukakan pintu lebar-lebar agar Hafsa bisa masuk dengan tersenyum sopan Hafsa masuk.
"Terima kasih pak!"
"Sama-sama. lurus saja ya Nona nanti ada pengawal yang akan menunjukkan dimana tempatnya." kata penjaga itu lagi.
"Iya pak!"
Lalu Hafsa berjalan pelan sambil memandangi area sekitarnya, sungguh rumah yang seperti istana benar-benar besar dan indah dari luar saja sudah begini pasti dalamnya juga lebih wahh.. sampai dia bertemu dengan pengawal berdiri didepan pintu.
"Maaf nona, siapa anda?" kata pengawal menghentikan langkah Hafsa.
"Aku yang mau melamar pekerjaan ini!" Hafsa menyodorkan brosurnya pada pengawal dan pengawal menganggukan kepala lalu menyuruh Hafsa untuk masuk.
"Silahkan masuk anda sudah ditunggu!" kata pengawal yang lain mempersilahkan Hafsa masuk.
"Terimakasih."
Saat masuk kedalam rumah seperti istana itu mata Hafsa tak berhenti mengedip dia sangat kagum dan terpesona dengan barang-barang mewah dan berkelas.
Hafsa juga ingin menyentuh tapi tidak berani bagaimana nanti kalau rusak atau pecah bisa berabe urusannya, karena sudah pasti barang-barang orang kaya tidaklah murah.
"Kau, masuklah kedalam " suara lembut datang dari arah depannya.
Hafsa terdiam mendengar suara dari dalam dan dia kaget saat mendapati sudah banyak orang yang sama dengannya sedang melamar juga.
"Maaf kan saya nyonya saya terlambat."
"Tidak apa-apa silahkan masuk kebarisan." nyonya mempersilahkan Hafsa masuk ke barisan pelamar.
"Terimakasih nyonya."
"Apa semua sudah datang Rey." tanya nyonya Sinta.
"Sudah nyonya.!"
"Baik, mulai saja Rey!" perintah nyonya Sinta.
Rey mengangguk.
"Terima kasih, selamat datang dikediaman Rahardian Pratama. Perkenalkan saya Rey asisten tuan muda berkumpulnya kalian disini saya akan memberi tahukan beberapa tes yang harus kalian kerjakan untuk lulus dan menjadi pengasuh tuan muda." ucap Rey tegas dengan datar.
"Apa tuan muda? tuan mudanya sudah besar apa masih kecil." gumam Hafsa pelan.
"Baiklah kita mulai saja dari sini." titah Rey pada pelamar bagian depan dan dia pun menganggukan kepala dengan penuh percaya diri.