Bab 1

Penggerebekan berbuah luka

Selamat Membaca

"Enyahlah kalian dari dunia!"

Suara tembakan terdengar beberapa kali, membuat pasangan tersebut meninggal secara mengenaskan. Mata dari seorang pria itu tertembak juga dengan istrinya, bahkan mereka sudah tersiksa dari pria misterius tersebut. Air mata terakhir kali menetes membasahi pandangan, karena mereka harus berpisah dengan putranya, mereka selama-lama mungkin.

"Angkat tubuh mereka dan bakar!"

Seorang anak lelaki memandang tindakannya pria misterius bersama dengan rekannya dan mereka semua mulai meninggalkan tempat itu. Tidak pernah terduga, bahwa itu adalah malam terakhir gadis tersebut bertemu dengan orang tuanya. Anak lelaki itu keluar dan mengikuti mereka sampai dia menembus sebuah hutan dan disanalah orang tua kandung sang gadis terbakar.

"Ayah, Ibu!"

Suara itu bergema sampai ke telinganya seorang pria misterius, membuat pria itu memutarkan pandangan mencari suara itu. Pria itu berjalan menelusuri hutan itu dan semua percuma, dia tidak mendapat siapapun di sana. Anak lelaki berusia delapan tahun menangis memandang api merah bercampur biru dan orange itu. Akhirnya, debu didapatkan sang anak lelaki sesudah ia melihat mereka meninggalkan hutan itu.

"Ayah, Ibu!"

Dia pun menghapus air mata, kemudian menggali tanah untuk membuat kuburan dan menanam debu orang tuanya. Anak lelaki itu memberi tanda dengan dua batu dan dia mulai meninggalkan hutan tersebut, kemudian mencari cara untuk membuat laporan tindakan kriminal terhadap ayah dan juga sang ibu.

Berbagai cara dilakukan oleh anak lelaki kecil tersebut untuk mengungkap pelaku, tapi semua polisi menertawakan cerita sang anak lelaki itu sampai membuat dia menangis. Ia meninggalkan tempat tersebut, namun satu dari polisi Australia mendatanginya untuk memberitahukan sesuatu.

"Kamu mau menjadi seorang polisi untuk ungkapkan kematian orang tua kandungmu?"

***

Lima belas tahun kemudian..

Hari ini, aku dan tim meluncur ke daerah pinggiran untuk melakukan penggerebekan di sebuah rumah. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari informan yang aku tempatkan di lokasi, akan terjadi transaksi jual beli shabu dalam jumlah yang besar. Aku meyakini bahwa kelompok ini masih ada hubungannya dengan pelaku yang sedang ditahan di polres.

Memakai kaos lengan panjang berwarna navy, celana jeans dengan sedikit robekan di paha dan sepatu kets putih menjadi pilihanku saat ini. Setelah briefing dengan anggota tim yang berjumlah enam orang, kami bergegas memasuki mobil untuk menuju lokasi penggerebekan.

Di dalam mobil, kami kembali memeriksa perlengkapan yang akan dibutuhkan saat penggerebekan nanti. Aku memasang rompi anti peluru dan menyelipkan senjata revolver di pinggang serta tidak lupa memakai masker penutup wajah.

Operasi kali ini harus berhasil agar bisa memutus mata rantai kelompok ini dalam mengedarkan obat-obat terlarang. Aku prihatin melihat generasi muda yang rusak karena barang haram tersebut. Padahal, masa depan mereka masih panjang.

Akhirnya, kami sampai di tempat yang dituju setelah menempuh perjalanan hampir satu jam. Bara memarkirkan mobil di tempat yang agak tersembunyi agar kedatangan kami tidak diketahui oleh mereka.

Setelah memastikan keadaan aman, kami segera melangkah menuju rumah yang menjadi target penggerebekan. Aku membagi tim menjadi 2 kelompok. Kapten Bara, aku dan Arshaka tim yang membantu Aiptu Arshaka dan mereka akan masuk dari pintu belakang, sedangkan aku, Bara dan Arshaka mencoba menerobos dari pintu depan.

Aku pun memberikan aba-aba untuk melakukan pergerakan, Aiptu Arshaka langsung bergerak ke bagian belakang bersama Bara, aku dan Aditya . Tim yang dipimpin langsung mengambil posisi menuju pintu depan.

Sebelum mendobrak pintu, aku memberikan kode kepada Aiptu Arshaka melalui handy talky agar masuk secara bersamaan. Jadi, kesempatan mereka untuk melarikan diri sangat kecil.

Brak!

“Angkat tangan! Kalian sudah kami kepung,” teriakku sambil menodongkan senjata ke arah mereka.

Tampak kelompok yang terdiri dari tujuh orang itu terkejut melihat kedatanganku dan tim. Sempat kulihat, salah satu dari mereka berusaha menyembunyikan shabu yang akan diperjualbelikan.

“Jangan bergerak! Sekarang jongkok dan tangan tetap di atas!” perintahku sambil mendekati mereka.

Aku yang terlalu fokus mendekati pelaku, tidak menyadari ada pergerakan dari belakang.

“Awas, pak!” teriak Bara sambil berlari ke arahku. Aku yang terkejut, refleks mengikuti arah lari dan melihat seorang pria yang sudah bersiap menyerang.

Perkelahian pun tidak terhindar lagi, mereka yang tadi dalam posisi jongkok juga sudah bersiap untuk membantu temannya.

Bugh! Bugh! Bugh!

Suara pukulan menggema di seluruh ruangan, perlawanan yang mereka berikan cukup membuatku dan tim kewalahan. Beruntungnya aku dan anggotaku menguasai ilmu beladiri yang mumpuni.

Aku, Bara dan Arshaka , menguasai taekwondo serta muaythai. Sementara yang lain walaupun hanya menguasai satu ilmu beladiri, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk melindungi diri mereka sendiri.

Namun, terjadi sesuatu yang tidak terduga saat aku melihat Bara kewalahan menghadapi lawannya. Tampak banyak memar di sekitar wajahnya, sepertinya yang dia hadapi mempunyai ilmu beladiri yang lebih dari dia. Bara tersentak, ketika merasakan sebuah benda tajam menusuk perut sebelah kanan dan secara spontan Bara pun berteriak kesakitan.

Argh!

Sebelum tubuh Bara roboh ke lantai, pelaku itu mengeluarkan senjata dan menambahkannya ke arah Bara yang bersiap untuk bangun dari tempatnya terjatuh. Sasarannya tepat mengenai paha bagian samping sebelah kanan dan Bara pun langsung tersungkur.

Anggota timku langsung berjalan ke arah Bara,setelah mereka berhasil melumpuhkan para komplotan penjahat itu. Hampir tiga tahun aku bergabung di unit reserse, baru kali ini mengalami luka yang parah.

“Bertahan, Bara. Jangan tutup mata, kami akan segera membawa kamu ke rumah sakit,” ujar Aiptu Arshaka sambil membuka rompi anti peluru dan menekan tempat yang terkena tusukan.

“Hmm, tenang aja. Saya nggak apa-apa, ini cuma luka kecil,” ujar Bara.

Aiptu Arshaka segera membawaku menuju mobil setelah memberikan perintah kepada Aditya dan yang lainnya untuk mengamankan lokasi penggerebekan.

Bau obat-obatan tercium ketika kesadaran sudah Bara dapatkan. Mencoba menggerakkan badan, tetapi perutku terasa sakit. Tampak infus sudah terpasang di tangan kiri Bara. Memindai seluruh ruangan, tidak ditemukan seorang pun yang menemani Bara.

Bara kembali memikirkan kejadian penusukan itu, bagaimana aku bisa lengah dalam melaksanakan tugas?

Aku bersyukur Bara diberikan kesempatan hidup sekali lagi karena masih banyak kasus yang belum terselesaikan termasuk kecelakaan kakaknya Bara. Misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan.

Mamanya keluarga Bara sampai sekarang tidak tahu keberadaannya di mana. Seminggu setelah kedatanganku hari itu, aku kembali mengunjunginya. Akan tetapi, rumah sudah dalam keadaan kosong. Ketika dihubungi, nomornya pun tidak aktif. Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Mama soal kecelakaannya kakaknya Bara?.

Clek!

Bunyi kenop pintu yang dibuka mengembalikan kesadaran Bara akan lamunan tentang Mamanya Bara. Saat melihat ke arah samping, tampak kepala aku yang mengintip dari balik pintu.

“Bang, kenapa berdiri di situ aja? Kayak orang mau nagih utang tau, nggak,” gerutu Bara padaku.

“Nggak, Cuma mau pastikan masih hidup atau sudah lewat,” jawabku sambil berjalan mendekati brankar.

“Ih, jahat. Mendoakan adiknya mati, aku baik-baik aja, Bang. Ini mah belum seberapa,” ucapnya, yang langsung dihadiahi sentilan di kening Bara.

“Jangan takabur. Sekarang, kamu masih diberikan kesempatan hidup. Kita nggak tau apa yang akan terjadi besok. Janji sama Abang kalau kamu akan lebih waspada lagi dalam menjalani tugas.” Bara mengangguk sambil menggenggam tangannya yang berada di kepalaku.

“Begitu dapat kabar dari Arshaka , kami semua langsung shock. Mama sampai histeris, memikirkan nasib anak lelakinya itu semata wayangnya ini. Jangan mengulanginya lagi, ya!” tegasnya.

“Sekarang Mama di mana, kok nggak ke sini?” tanya Bara.

“Mama pulang istirahat sebentar, sudah dua hari Mama menjamu di sini. Takut kalau tiba-tiba kamu sadar.”

“Hah! Beneran Bara nggak sadarkan diri selama dua hari?”

“Iya, kamu nggak tau itu pingsan atau tidur? Nyenyak benar kayaknya.”

Bara tidak percaya kalau tidak sadarkan diri selama dua hari. Aku menceritakan kalau Bara banyak kehilangan darah dan luka tusukan pun terlalu dalam, sehingga merobek usus. Untungnya segera cepat ditangani karena itu bisa membahayakan nyawa Bara.

“Abang masih penasaran, sebenarnya apa yang kamu pikirkan sehingga bisa lengah seperti itu?”

“Aku melihat Aditya yang kewalahan menghadapi lawannya, Bang. Eh, malah nggak ingat kalau Aku juga lagi menghadapi pelaku yang lain.”

“Yakin cuma karena itu? Abang tau kamu lagi menyembunyikan suatu masalah karena beberapa minggu ini kamu sering melamun di kamar ataupun di gazebo belakang.”

Bara terkejut mendengar ucapanku barusan , ternyata dia memperhatikan segala tingkah laku Bara saat sedang berada di rumah.

“Belum saatnya Bara menceritakan masalah itu, Bang, sebelum bukti kuat ditemukan. Bara nggak mau gegabah dalam bertindak,” ujar Bara.

“Abang percaya sama kamu. Kalau memang butuh bantuan, nggak usah segan menghubungi Abang atau Mama dan Papa. Sudah cukup, kamu membuat mereka khawatir.”

“Siap, Pak,” ujar Bara sambil memberikan gerakan hormat. Aku hanya tersenyum melihat tingkah konyol Bara.

Bersambung

Bab 2

Selamat Membaca

Pov Rheinata

Pagi menjelang siang, aku dan Langit sampai di depan sebuah rumah. Bangunannya kecil, tetapi halam dan dinding-dinding rumah itu seolah terawat dengan rapi. Pemiliknya pasti begitu telaten.

Aku bisa merasakan kedamaian dengan hanya berdiri mematut sekeliling. Mataku menjamah setiap rumput dan bunga yang tertata rapi. Ingin rasanya kupetik setangkai mawar untuk diletakkan di kamar tidur.

"Ayo masuk." Ardi mengajakku untuk masuk ke kediaman keluarganya. Tepatnya, tempat dia dan sang ibu hidup dengan saling mengasihi.

Tanpa ragu, kuayun langkah santai. Aku akan bertemu dengan ibu dari laki-laki yang mungkin kusuka. Artinya, aku akan filihat sebagaimana yang orang tua harapkan untuk mendampingi putranya.

Wah, apa lagi yang bersarang di kepalaku. Pikiran-pikiran nakal tentang rencana hidup bersama Ardi. Aku harus sadar, bahkan Ardi tentu saja membawaku kemari karena ia selalu bercerita soal perempuan bernama Sera. Perluku ingat, ternyata aku itu pun bukan kekasihnya. Hal ini perlu digaris bawahi.

"Rheina?" Panggilan lembut Langit membuyarkan lamunan. Rupanya diriku belum melangkahkan kaki. Bagaimana bisa aku tidak menyadari.

"I, iya, Ardi ," balasku gugup. Sejujurnya aku dilema antara malu dan bingung.

"Kenapa melamun, Rhein " Kali ini Langit bertanya seraya mengernyitkan dahi.

"Eh, tidak apa-apa, kita jadi masuk?" Mlah aku yang bertanya. Padahal sedaei tadi Langit juga sudah mengajakku ke dalam. Kenapa tiba-tiba diriku jadi tidak jelas begini.

Setelah sepakat untuk masuk ke rumah, kami mulai menaiki satu per satu anak tangga. Sessekali kamu saling melempar senyum. Kemudian, aku mebghela napas panjang.

"Ciee, ibu sibuk-sibuk menyiapkan makanan. Sudah seperti menunggu calon mantu saja." Apa, aku mendengar Ardi sedang mencandai sang ibu. Dengan jenakan dirinya menggoba ibu. Dia bilang, ibusudah seperti menunggu calon mantu saja sampai sibuk-sibuk sendiri.

Aku tau bahwa wajahku sedang bersemu merah. Hal ini kusadari saat kurasakan hawa panas menjalar di kedua pipi. Andai saja itu benar.

"Eh, kalian sudah datang, ayo masuk dulu." Ibunda Ardi segera menyongsong kami ke pintu. Wajahnya berseri dihiasi senyum teramah yang pernah kutemui setelah orang tuaku. Paling tidak, senyum orang tuaku itu pernah kulihat semasa aku kecil. Sewaktu Ardi mengenalku sebagai gadis berkepang dua.

"Jadi ini yang namanya Rheinata ? Duh, cantik sekali." Ibunda Langit menangkup pipiku menggunakan dua telapan tangannya. Aku hanya tersenyum. Namun, dia seolah mengisyaratkan sesuatu pada Ardi . Pada saat mengatakan bahwa aku cantik, ibu memandang ke arah Langit dengan memainkan ekor mata.

"Terima kasih, Bu." Tidak sopan sekali aku jika setelah dipuji, tapi tidak mengucapkan terima kasih.

Kucium punggung tangan wanita itu saat kami bersalaman. Aku merasa sedang menyalami ibuku sendiri. Tidak hanya itu, kami berdua berpelukan begitu hangat. Aku tahu, di saat yang bersamaan, Langit justru terharu melihat aku dan ibunya berpelukan.

"Oh iya, Bu, Rhein punya sesuatu untuk ibu." Setelah melepaskan pelukan, kuserahkan sebuah bingkisan cantik.

"Apa ini, Nak?" tanyanya padaku.

"Ini khusus Rhein buatkan intuk ibu." Aku tersenyum manis.

"Ehm, jadi orang istimewa itu ibu, padahal aku sudah terlalu PD, lho." Kami berdua hampir lupa, bahwa di dekat kami berdiri, masih ada Ardi sebagai pengamat.

Aku dan ibu hanya tertawa mendengar celotehannya. Kami saling meledek. Pada akhirnya, lagi-lagi melahirkan tawa.

"Kita duduk dulu, yuk." Kami bertiga pun duduk. Tidak di sofa tamu. Bukan juga di meja makan. Akan tetapi, kami duduk di atas karpet yang terbentang. Di tengahnya terletak sebuah meja osin bundar.

Sederhana memang, tapi aku mememukan kenyamanan di tengah-tengah mereka. Hidup berdua, tetapi harmonis. Kurasa rumah ini jauh dari kata sepi, meskipun hanya dihuni dua makhluk Tuhan yang istimewa.

"Dibuka dong, Bu, hadiahnya. Itu Sera sendiri yang buat. Semoga ibu suka." Perlahan ibu membuka tutup kotak yang dihiasi bunga warna biru muda itu.

"Wah, bagusnya." Ibu mengeluarkan sebuah syal. Benda itulah yang kurajut semalam suntuk.

Kurain syal itu dari tangan wanita tua yang tidak lain adalah ibu dari lelaki terdekat denganku saat ini. Lipatannya kuurai. Setelah itu kupasangkan secara melingkar di lehernya. Kami tersenyum. Dia pun untuk kesekian kalinya membelai pipiku.

"Terima kasih ya, Cantik, ini sangat berguna bagi ibu yang sudah tua." ucapnya lembut.

"Rhein juga berterima kasih atas makanan-makanan yang ibu kirimkan di saat Rhein sakit. Makanan-makanan itu lezat, Bu." Sepantasnya aku berterima kasih atas makanan-makanan itu. Wanita yang kantung matanya sudah turun ini terlalu baik, bahkan di saat kamu belum pernah bertemu atau berkenalan secara langsung.

"Syukurlah kalau kamu suka masakan ibu, Nak. Oh iya, tadi ibu juga membuat beberapa camilan untuk kita." Bergegaslah wanita tua itu pun bergegas mengambil camilan-camilan yang ia maksud.

Wanita itu menyajikan makanan itu di meja osin tempat aku, ibu, dan Langit duduk. Baru saja terletak di meja, langung saja tangan Langit bersiap. Seketika itu pula ibu menahan tangannya.

"Biar tamu kita dulu yang ambil." Ibu melototi putra sematawayangnya. Melihal hal tersebut, aku jadi tertawa.

"Tidak apa-apa, Bu." Aku tidak keberatan jika Ardi ingin mengambilnya terlebih dahulu. Biarkan saja, sebab melihat kedekatan dan kehangatan antara ibu dan anak ini, aku jadi terhibur.

Diiringi canda tawa, kami asyik mengunyah dalam rangka menghabiskan kudapan yang disajikan ibu. Cerita-cerita kami tidak terlepas dari Ardi kecil, ayah yang meninggalkan keluarga , dan keluarga ini secara umum. Tidak ketinggalan juga ibu mengisahkan kenakalan kanak-kanak bernama Langit.

Kami tertawa geli ketika tiba pada momen-momen lucu yang dikisahkan dari mulut ibu. Sampai akhirnya, waktu makan siang hampir tiba. Ibu mngajakku ikut memasak di dapur bersama.

"Memangnya kamu bisa masak?" ledek Ardi seraya menjawil lenganku.

"Idih, belum tahu dia." Kami berdua tertawa. Duh, rumah ini nyatanya umpama bonaza bagi kehidupan siapa pun yang tinggal dan singgah.

Tidak membiarkan ibu menunggu, aku segera mengikutinya ke dapur. Dapurnya saja sebersih itu. Pantaslah ibu sangat senang melakoni aktivitas masak memasak.

Sambil memasak, kami mengobrolkan banyak hal. Aku juga merasa lapang setelah mengutarakan hal-hal pribadi dalam hidupku. Dia juga memintaku agar menganggapnya sebagai ibuku sendiri.

Setelah menu makan siang siap disajikan, kami menatanya sedemikian rupa pada meja yang tadinya ditempati kudapan. Ini untuk pertama kalinya kami makan bersama. Namun, hatiku merasa ingin momen ini tetap ada bersamanya.

Selesai makan siang dan sejenak mengobrol, satu kuapan hadir. Tidak lama kemudian, disusul lagi kuapan kedua. Oh, aku mulai mengantuk.

Awalnya aku ingin pulang saja. Namun, Ardi sedang pergi keluar. Katanya tadi hanya sebentar.

Seringnya kuapan dan didukung mata merah, ibu paham bahwa aku mengantuk. Sambil menunggu Langit, ibu menyilakanku beristirahan siang di sana. Wanita baik hati itu memperlakukanku bagai seorang anak gadisnya, bahkan aku sampai diambilkan bantal agar dapat beristirahat dengan nyaman.

Bersambung

Bab 3

Selamat Membaca

"Bagaimana keadaan sampean?" tanyaku setiba dalam ruangan.

"Alhamdulillah, mulai membaik."

Aku mengangguk mendengar jawaban temanku Bara. Selepas lelaki itu menyapa, aku urung meninggalkan bangsal rawat inap ini, memilih masuk ruangan, lalu berbasa-basi menanyakan keadaannya.

"Tidak ada sakit di bagian dalam? Area kepala? Bahu? Atau lainnya?" tanyaku lagi.

"Tidak ada. Kalau ada, hanya bekas benturan aja. Insya Allah saya baik-baik saja, Ar ... maaf. Bu Dokter." Bara tersenyum, pandangannya mengarah pada snelli di genggaman dokter wanita yang cantik itu.

Dokter wanita itu tersenyum simpul membalas, dalam hati bersyukur, setidaknya tak butuh waktu lama untuk Bara segera pulih. "Oh ya, saya benar-benar minta maaf soal kecelakaan itu. Saya ceroboh."

"Tidak apa, saya juga ceroboh karena tidak konsen bekerja ."

Dokter wanita cantik itu bergumam sambil mengangguk. Entah kenapa aku canggung, mungkin karena gaya bicara Bara yang singkat dan tenang membuatku mendadak kehabisan kosakata. Mungkin juga aku tidak biasa berbicara dengan orang baru apalagi lawan jenis.

Sekalipun pekerjaan dokter itu membawanya menemui banyak orang, tetapi mayoritas adalah kaum perempuan, bayi, balita juga remaja di bawah 18 tahun. Lagi-lagi gambaran masa lalu lah hal yang mendasarinya.

Bahkan untuk Bara, butuh satu tahun lebih membuatku percaya dia orang baik, dan menjadikannya teman. Selebihnya, untuk dokter wanita lain, aku menyapa formal dan bila ada kepentingan saja.

Tak lama, seorang suster datang membawa nampan berisi makan sore. Suster bernama Nia itu menyapa Bara sebelum meletakkan makanan di nakas. "Makan sorenya, Pak Bara," ucapnya.

Bara mengangguk dan berterima kasih. Setelahnya Suster Nia melakukan pengecekan tensi darah, infus dan luka di kepala Bara.

"Saya bisa pulang hari ini, Sus?" tanya Bara. Membuat Suster Nia mengerut dahi.

Aku sendiri tak kalah mengerut dahi, heran. Baru semalam dirawat sudah bertanya pulang? Aku meyakini keadaannya belum stabil, mengingat lukanya termasuk luka sedang. Lebam dan lecet di wajahnya saja masih kentara dan luka bekas tembakan di kakinya.

"Belum, Pak. Luka di kepala Pak Bara butuh pengawasan dokter biar tidak infeksi, juga bahu Pak Bara yang butuh terapi supaya kembali seperti semula. Kalau Pak Bara mau tanya kepastian kapan pulang, nanti nunggu dokter saja." Penjelasan Suster Nia membuat wajah Hayyid terlihat kecewa, ia mengembus napas.

"Ya, terima kasih, Sus."

Suster Nia berpamit bersamaan dengan dokter cantik itu. Tak lama, dering ponsel Bara terdengar, lelaki itu hanya menilik lalu memilih mengabai, mengamati sampai dering berakhir dengan sendirinya.

Tidak ingin terjebak situasi yang tidak enak, di mana Bara benar-benar tampak gelisah dan sepertinya mempunyai masalah, aku pun berdeham.

"Saya ... pamit dulu, Pak Bara. Saya harus bertugas," pamit dokter wanita cantik itu.

Pandangan Bars yang tadinya mengarah ke ponselnya beralih pada dokter itu. Ia mengangguk menanggapi. "Silakan, Bu Dokter," ucap Bara.

"Ya, cepat sembuh. Assalamualaikum."

"Aamiin. Waalaikum salam."

Dokter wanita itu meninggalkan ruang ini menuju ruangannya di lantai bawah. Sesampai poli, kudapati sudah ada beberapa pasien yang mengantre. Dokter itu mengangguk sebelum masuk ruangan.

Di dalam ada asisten dokter yang membantunya tengah menyiapkan dan menata alat-alat penunjang. Juga ada seorang lelaki.

"Hai," sapanya yang bangkit dari duduk di depan meja kerjaku.

"Hai," sapa ku. Lelaki tersenyum.

"Ditunggu Dokter Azlan dari tadi, Dok," ucap Yuna asisten dokter wanita sembari tersenyum.

"Kamu mau konsultasi apa, Azlan ? Perihal Gizi?" tanyanya sembari duduk, merapikan meja, memindahkan beberapa map ke sisi lain.

Dari ekor mata, dokter yang memakai snelli itu tertawa kecil. "Ini." Sesuatu Azlan letakkan di meja lalu menggeser ke hadapannya .

Gerakan tangannya terhenti, menatap sebuah kotak berukuran kurang lebih 10×9 senti. "Apa ini?" tanya dokter wanita.

"Open it!"

Dokter meraih kotak itu, membuka lalu melihat sebuah jam tangan merk ternama, yang harganya jangan ditanya berapa, pun untuk mendapatkannya harus memesan jauh-jauh hari. "Azlan , ini--"

"Yes. Just for you."

"Kamu -"

"Bintang . Jangan tanya kenapa. Untuk hari ini hanya itu yang bisa kuberikan."

Suasana mendadak hening, beberapa saat sempat terpecah saat Hanggini berpamit mengecek daftar pasien di luar. Setelah itu hening lagi.

"Azlan , sudah jam-nya aku bertugas, pasienku menunggu." Dokter wanita itu mengalihkan pembicaraan.

"Wait. Beri aku kesempatan bicara." Azlan menarik napas dalam. "Aku berharap segera tiba waktunya memberi hadiah yang bagiku sangat berarti. Di mana aku bisa memberikan cincin bukti--"

"Azlan . Udah, ini bukan waktunya bahas hal seperti itu."

"Aku bukan anak Kiai, Bin. Ayahku orang Semarang, Ibuku dari Jerman. Mungkin itu salah satu alasanmu tidak bisa menerimaku sampai hari ini."

"Bukan, Azlan . Aku juga bukan anak Kiai. Kamu tahu itu. Aku hanya anak seorang perempuan yang berhasil mendirikan pesantren dengan jerih payahnya sendiri, dengan keringat dan kekuatan tanpa siapa-siapa yang mendukung."

Azlan mengangguk, sedang aku langsung menunduk, merasai sesuatu di pelupuk hampir luruh. Dada dokter itu mendadak serasa menyempit hingga susah bernapas. Ingat perjuangan Ibu untuk sampai di titik ini.

Ini tidak seperti kisah Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso dan Candi Prambanannya yang bisa dibangun dalam satu malam. Butuh waktu nyaris 20 tahun bagi Ibu benar-benar melihat impiannya terwujud, mendirikan bangunan yang awalnya hanya musala tempat anak-anak mengaji berubah menjadi Pondok Pesantren Darussolah. Berbekal harta warisan kakek nenek, dan gaji yang dulunya beliau pernah menjadi seorang dosen Ibu berusaha.

Pesantren itu memang tidak besar, tidak banyak pula santrinya, sekitar 150 orang, putra dan putri, tapi setidaknya tempat itu alasan Ibu tetap bisa tersenyum sampai hari ini. Ganti dari Allah untuk kesabaran dan keikhlasan yang belum bisa kucontoh sampai hari ini.

"Bintang ." Panggilan Azlan terdengar. Aku lekas menyeka buliran air mata di pipi. "Maaf sudah membuatmu bersedih."

"Ya, tidak apa, Azlan ," sahut Bintang tanpa menatapnya.

"Aku masih menunggumu terbuka, Bin. Membagi alasan apa yang membuatmu bersedih seperti ini."

"Terima kasih, Azlan "

Tampak Azlan bangkit dari duduknya, ia mengucap salam sebelum meninggalkan ruangan ini. Bintang menatap punggung Azlan yang kemudian menghilang di balik pintu.

Bintang menghela napas, memejam sesaat merutuk diri. Sampai kapan aku akan seperti ini? Aku wanita normal, yang juga bisa merasai suka pada seseorang, tapi kenapa semuanya tertahan saat trauma itu datang? Seketika melebur semua dan berakhir pada sebuah kata 'pengkhianatan'.

Aku yang melihat semuanya itu tersenyum dan ada kesedihan mendalam pada dokter wanita itu.

Aku pun melanjutkan menengok Bara, dan membicarakan tentang penyelidikannya tentang sang bos mafia, Bara tertembak dan Ingin segera bertugas kembali, namun aku melarangnya untuk beristirahat dulu sampai keadaannya membaik.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED